Kesan Membaca CHSI

Hallo asmanadians....

Yup, betul. Memang sekarang saya sedang berhadapan dengan karya asma nadia yah walaupun ga up date ngikutin. Secara buku dengan judul Catatan Hati Seorang Istri terbit april 2011 lah saya baru baca sekarang. Lupa-lupa ingat sebenernya, perasaan sudah pernah baca tapi kok ada cerita yang kelewat? Ahh ya sudah baca ulang ga ada ruginya.

Di awal Bunda Asma Nadia udah mewanti-wanti bahwa buku ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar menjadi pelajaran bagi banyak orang.

Saya? Jujur takut, hhii.

Isinya konflik semua gimana ga ngeri coba, hhaa.

Ini yang membuat saya ga begitu baper-an, nah ini tips boleh di catat, hhaaa.

Lalu saya mikir. Sepertinya kaum "J" harus baca buku ini dulu deh. Eh tahu kan ya yang saya maksud? Mau bilang jomblo cuma takut banyak yang kesindir.

Pernikahan itu awal dari penghargaan cinta. Dan cinta itu bukan sekadar suka sebatas fisik semata tapi pengertian juga pengorbanan agar menjadi paket lengkap.

Sudah siapkah saya?

Ga usah protes kenapa saya tanya diri sendiri soalnya serius galau loh abis baca buku ini. Saya orangnya cemburuan, ga suka liat kekasih deket sama cewek lain meskipun udah ibu-ibu juga, hhaa. Pengennya di manja, dibisikin kata-kata romantis gitu.

Pikiran saya masih egois kah?

Itu yang membuat saya mundur sementara waktu dari urusan sakral ini. Banyak hal... banyaaaaaak sekali hal yang kudu dipersiapkan sebelum mengiyakan janji suci nanti.

Tapi tenang, aku tentu saja percaya bahwa kamu... iya kamu yang sedang berjuang untuk menghalalkanku, bahwa apa pun yang kelak terjadi nanti, konflik dalam rumah tangga tak boleh keluar dari rumah kita. Pun terdengar oleh anak-anak kita.

Saatnya menunggu tanpa bertopang dagu... memantaskan diri agar nantinya kamu tak malu menjadikanku sebagai istri.

#ReadingChallengeODOP
#OneDayOnePost

Nonton Tivi

Pagi buka mata aku sudah menonton tivi, siangnya masih di depan tivi sembari menikmati makan siang buatan simbok, malam menjelang masih sibuk dengan tivi hingga terlelap pun tivi adalah hal terakhir sebelum memejamkan mata.

"Ga ono enteke nduk, ben dino kok jer ndeleng tivi ae."

Aku abaikan nasehat simbok, meski begitu tetap saja segala keperluan harianku disiapkan. Makan tinggal ambil, tanpa perlu berbelanja atau masak dulu. Ahh, simbok memang juara.

Mataku berkedip cepat setiap tayangan seru itu memainkan perannya, sungguh tak tertebak alur cerita juga konflik apa lagi yang dimunculkan. Pemirsanya semakin banyak, ratingnya pasti terus menaik tajam.

"Urung rampung nduk?"

Simbok kembali bertanya, mungkin heran dengan tingkah lakuku yang tak mau beranjak dari depan tivi. Ahh, andai simbok mengerti, ia pasti juga akan menikmati keseruan tayangan ini.

"Mbok..."

Langkah tuanya terhenti, menoleh ke arahku dan duduk di sampingku setelah membaca isyarat yang kuberikan.

"Simbok percaya kiamat?"

Sengaja aku bertanya menggunakan bahasa indonesia, malu menjalar ketika nanti salah ucap sebab luput dari unggah-ungguh.

"Yo percoyo to nduk," jawab simbok dengan dahi berkerut, seolah mempertanyakan kewarasanku.

Nah. Ketemu. Ini... ini yang aku cari. Simbok menjawab segala pertanyaanku tentang tayangan di tivi yang belakangan ini mengguncang jagat raya. Tentang seseorang yang berperan dengan apiknya tanpa cela, meski seribu komentator menghujam ia tak terusik.

Ternyata....

Akhirnya aku beranjak. Mendampingi simbok menuju dapur. Tivi aku matikan. Sudah cukup. Terjawab sudah.

Selama aktor itu masih memainkan perannya maka selama itu pula ia menebar virus ke-tidak-waras-an.

Satu kebohongan akan memunculkan kebohongan-kebohongan yang lain, mau sampai kapan?

Sampai nanti, ketika tidak ada lagi kepura-puraan yang bisa ditunjukkan.

Hidup Simbok.

Uang Saku Pacaran

Pagi ini aku masih menikmati kantuk kala Si Om, adik ipar bapak datang. Ia membawa beberapa makanan untuk sarapan dan mulai rusuh menggoda keponakannya.

"Ci, pacaran sana. Tak kasih uang saku minimal seratus ribu."

Suara biasa namun terdengar keras karena pagi yang masih hening itu seolah sebuah perintah untukku menghilang.

Cling....

Si Om akhirnya ngobrol sama guling, hhhaaa.

Aku tahu bagaimana sayangnya Si Om pada kami. Aroma kekhawatiran jelas sekali, tapi pagi ini harum kepel mengalahkan semuanya. Segera aku membuka bungkusan plastik putih dan mulai memasukkan satu persatu tepung goreng itu ke dalam mulut.

"Kamu minta berapa deh? Tak kasih."

Eh loh, kok Si Om muncul lagi sih. Perlahan dengan dalih mengambil gelas aku mlipir ke dapur.

Bagaimana yah cara menjelaskannya. Perbedaan keyakinan dalam pengambilan keputusan pasti akan memperuncing masalah ini. Jika seratus ribu bagi Si Om menjadi jalan keluar, maka menurutku itu justru memperumit hasil akhir.

Dua rekaat penentu akan aku tunaikan nanti, ketika diri telah siap dengan segala konsekuensi. Semoga tak ada hati yang merasa didzalimi.

Dan uang seratus ribu Si Om... sini, tak pake nya beli kepel buat teman-teman satu pabrik, hhhaaa.


Romansa di Pabrik Injeksi

Aku dapat shift 2 hari ini, dan itu berarti hanya satu jam kesempatan untuk dapat berada bersamamu di ruangan yang sama.

Aku suka memperhatikanmu diam-diam. Kepala yang menunduk sembari lincah tangan bekerja. Terkadang seulas senyum terlempar kala teman-teman menggodamu, ahh salah, menggoda kita.

Aku suka mendengar mereka menyebut-nyebut namaku yang bersanding dengan namamu, aku amin-kan setiap doa-doa baik mereka untuk masa depan kita. Tapi, apa kau juga merasakan hal yang sama?

Sungguh, katakan saja jika semua ini menganggumu. Aku akan meminta mereka untuk berhenti. Apalah arti sanjungan jika itu membuatmu tak nyaman.

Satu jam berlalu begitu cepat, engkau hilang dari pandangan.

Kini, saat tak ada lagi yang menarik untuk dilirik sepenuhnya aku fokus pada pekerjaan, terkadang bibir ini lirih menyandungkan bait-bait lagu syahdu, paling tidak mewakili rasa dalam dada.



Kau pasti paham, berisik mesin ini adalah penolong bagiku, peredam detak jantung setiap kita beradu tatap. Terkadang ada canda tawa di sini. Semua tentangmu adalah indah asal kau tahu.

Mesin raksasa ini mampu menghasilkan sekitar 315 buah sendok sop dalam satu jamnya. Namun tak segagah nampaknya, dia akan meraung bahkan meski satu shoot saja lolos tanpa terdeteksi sensor.

Begitupun aku yang juga makhluk ciptaan, akan bereaksi sama ketika kamu pergi, menghilang dan tiada berkabar. Jadi tolong, bisakah temui aku sebelum engkau pulang? Ijinkan aku menggantungkan harapan kepada Yang Memiliki-mu dalam bait-bait doa yang terbungkus abadi dalam bingkai senyum manismu hari ini.

Hati-hati di jalan, Dek.

--------------------------------
Pabrik injeksi, pada sudut hati yang penuh harap.

Mulai Sekarang, Jangan Berharap Padaku Lagi

Seumpama aku yang tersesat dalam labirin. Setiap kelokan serupa namun justru menuju sudut-sudut, terperangkap, tak ada harap.

Tuhan hadirkan engkau, mengenggam erat jemari, menuntun lembut, perlahan menuju gerbang cahaya. Kembali menghirup udara segar, sekeliling tak hanya tembok hijau namun ada juga bunga berwarna-warni.

Gerimis membuatku gigil, membiru sudah bibir, memucat kulit wajah, keriput setiap ujung-ujung jari. Kau pergi untuk mencarikan kehangatan. Di saat itulah Tuhan kirimkan ia.

Mentari bersinar, pelangi menghiasi langit cerah. Kupu-kupu berterbangan indah, dengung kumbang terdengar merdu.

Hingga saat kau kembali, tersadar aku akan sesuatu yang tidak semestinya terjadi. Tuhan tidak kirimkan malaikat yang tanpa hasrat, Dia kirimkan manusia dengan segala keinginan dan ego diri sendiri.

Jika di belakangku adalah jurang, maka aku memilihnya untuk terjun. Gelapnya mungkin membuatku takut, namun tiada kuasa aku membuat satu diantara kalian semakin kalut.

Sekarang, lepaskan aku. Jangan lagi berharap padaku. Tak usahlah bertikai siapa yang lebih pantas, siapa yang lebih dahulu, siapa yang lebih berhak.

Tolong, ini hati yang juga tak ingin disakiti.

Kutitipkan pesan,  mungkin memang hanya sesaat kebersamaan kita. Tuhanku lebih tahu tentang masa depan.

Aku mundur. Aku ingin kembali tersesat dalam labirin sembari belajar untuk mengucap doa.


Dipinang Hafizh - 2

"Kenapa? Kenapa mau mencarikan aku?"

Sesaat ia terdiam. Kutaksir sedang mengumpulkan sejuta alasan dari pertanyaanku tersebut.

"Kau mau yang seperti apa?" tanyanya tenang. Aku menghela napas kesal, pertanyaan macam apa ini, jelas sekali jawabannya kan.

"Yang sepertimu", kataku tegas.

Ia tertawa kecil, renyah, aku suka. Ahh, aku suka setiap detail dari dirinya.

Perlahan air wajahnya berubah. Tak ada tawa, lalu tak kalah mantap ia berujar, "Kau harus mundur."

Apa aku sedih? kecewa? Terpuruk? Sayangnya tidak secepat itu membuatku lesu. Aku menangkap ia tidak sungguh-sungguh mengatakan itu, alasan penolakan yang tidak berdasar, yah semacam hanya emosi sesaat yang butuh untuk dikeluarkan.

Maka senyum menjadi respons awal dariku, "Maaf Nona, kau tidak bisa memaksa hati seseorang untuk menuruti kehendakmu, tidak bisa."

Matanya membuka lebar, dua biji mata hitam itu tepat di tengah, terlindungi oleh kaca dalam bingkai berwarna ungu. Ia memalingkan wajah, aku mengusap dahi, Oh Allah bahkan aku suka melihatnya ketika menolak untuk kuajak beradu tatap.

**

Ahad bada dhuhur adalah waktu sempurna jika kau ingin ke perpustakaan. Jika beruntung maka akan kau dapati ruangan penuh rak buku ini sepi tanpa pengunjung. Hanya kau dan berjuta buku. Tenggelam dalam keheningan yang syahdu.

Lantai dua ruang dewasa selalu memikat bagi jiwa-jiwa yang dipenuhi imajinasi untuk terbang sesuai khayal. Aku baru melayang dan ingin mendarat di Kota Atlantis saat dia berdiri di sampingku.

"Assalamu'alaikum," penuh senyum ia melemparkan salam.

Tergagap aku kembali mendarat ke dunia nyata, tak sempat menjawab salamnya dan ahh, pasti ia menghapal betul jadwal kunjunganku ke perpustakaan daerah ini.

"Tunggu sebentar, aku hendak ke kamar kecil."

Ia segera menuruni tangga, kamar kecil ada di lantai bawah dan kembali sekitar lima menit setelahnya.

Di tengah ruangan, di apit olah rak-rak kayu yang menjulang dengan beragam jenis buku kami duduk beralaskan karpet biru. Ada buku di tanganku, kaki kusembunyikan pada kolong meja dengan tinggi 30 sentimeter itu. Ia melakukan yang sama.

"Mau pinjem buku?" tanyaku basa-basi. Perutku mual, yah mungkin akibat pendaratan yang mendadak dari penerbangan khayalku tadi dan heemmm, aroma wangi lembut menusuk hidungku, bukan dari pengharum ruangan tapi kuduga dari ia yang tergopoh dari kamar kecil tadi.

Ia menggeleng, aku mengangguk. Lebih besar dari ini perpustakaan yang biasa ia kunjungi. Setiap dari buku tebal di sana dituliskan dengan bahasa Arab, jadi mungkin yah, buku di sini tak ada yang menarik di matanya.

"Mau ketemu kamu," balasnya tanpa basa-basi.

"Oh," aku kehilangan kata.

"Katakan, apa yang salah dari diriku, kenapa aku merasa seolah kau tak menginginkan pertemuan denganku?"

Aku mencengkram buku dalam genggaman. Bagaimana bisa ia masih mempertanyakan tentang itu? Padahal ia tahu benar jawabannya.

"Aku akan menunggu, satu, dua bahkan tiga tahun lagi."

Dingin menjalari dari ujung kaki, dan kini sampai pada jari-jari tangan. Pendingin ruangan bahkan tak mampu membuatnya seperti itu.

Di hadapanku kini dengan wajah tak mau mendengar kata "tidak" ada seseorang yang terima saja untuk disakiti hatinya.

Penantian sepanjang apa yang sanggup ia buktikan? Dan ahh ya, alasan kuat apa yang menjadikannya hilang akal seperti ini?



Bersambung...


Dipinang Hafizh

┏πŸ“ƒWahai muslimah
πŸ“šImam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

❖ Pilihlah lelaki yang baik agamanya

❖ Jika ia marah tidak akan menghina

❖ Bila cinta akan memuliakan

πŸ”–Menikahlah karna Allah, Menikahlah karna menjalankan sunnah Rosulullah

Sengaja di kala subuh yang syahdu aku kirimkan pesan ini padanya, agar perlahan ia paham tentang seseorang yang datang dengan niat baik. Dedekku mahbuubatii.

**

Adzan subuh telah berlalu, waktu suci bagi yang mengerti dan menunggu. Aku mengucek mata, mengusap wajah sembari berdoa. Menghilangkan kantuk juga godaan kembali terlelap dari makhluk terkutuk.

Saat dua rekaat telah tertunaikan, kembali aku ke peraduan. Membuka kitab suci, membaca satu persatu huruf hijaiyah yang terangkai indah. Penuh nasehat dan dalam maknanya.

Bunyi pesan masuk mengalihkan sebentar fokusku, Oh Allah maafkan hamba yang seharusnya mengagungkan firman-Mu, namun dengan mudah berpaling demi terpuaskan rasa penasaran akan dunia.

Dia lagi...

Di saat aku tertatih mengeja ayat, menjaga panjang pendek bacaan, mengingat setiap tajwid agar tak merubah arti, perlahan menggumam agar huruf sesuai dengan makhrajnya.

Lirih hati menggumam. Mudah menebak niat dibalik pesan yang dia kirimkan. Mudah sekali. Sayang tak semudah itu mengiyakan niat baiknya.


Bersambung...





Kelemahanku Adalah Kekuatanku (Habibie Afsyah)


Membaca biografi bisa menjadi motivasi, bahwa semua orang hebat melewati perjalanan yang tak mudah juga berliku.

Buku yang ditulis oleh Habibie Afsyah ini menceritakan kisah hidupnya sebagai pengidap penyakit muscular dystrophy. Kelemahan dan kelumpuhan fisik toh nyatanya tak harus berujung pada pelumpuhan diri.

Membaca buku ini seakan menampar saya dengan fisik sempurna tiada kurang suatu apa.

Noh lihat Habibie yang pakai kursi roda sejak usia empat tahun aja semangat belajar. Memutuskan untuk membuang malu dan terus berkarya, kegagalan satu tidak menghentikannya, mencoba lagi, gagal lagi, terus mencoba hingga ia dilihat dunia karena preatasinya.

Gaya bahasa ringan memudahkan pembaca untuk memahami  isi buku, menangkap pesan yang tertuang gamblang di dalam setiap rangkaian kata. Seratus halaman dapat dilahap sekali duduk sebab ceritanya mengalir dan menggunakan kata-kata yang sederhana.

#Digesting
#ReadingChallengeODOP

Peringatan Untuk Orang Jawa


Orang jawa adalah orang yang tinggal di jawa, hhaa. Maaf bercanda, orang jawa adalah mereka yang berasal dari provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kenapa orang jakarta disebut orang betawi dan orang garut disebut urang sunda? Padahal kan ya mereka berasal dan tinggal di pulau jawa juga. Provinsi Jawa Barat memang tidak disebut orang jawa mungkin karena bahasa yang mereka pakai adalah bahasa betawi, bahasa sunda bukan bahasa jawa.

Nah, ada hubungannya dengan acara Ragam Indonesia yang tadi pagi disiarkan oleh Trans 7 (alhamdulilillah masih ada acara tv yang mendidik πŸ˜„πŸ˜„). Sambil nyetrika baju kerja telinga saya cermat mendengarkan apa yang disampaikan, kalau mata jelas harus berbagi tugas.

Kali ini selama setengah jam khusus membahas kota khatulistiwa, hayo tebak di mana?

Yap. Pontianak.

Dari wisata air di Sungai Kapuas, tari tradisional pasca panen, hingga suku asli Kalimantan yaitu Suku Dayak dengan sumpit ajaibnya. Kenapa ajaib, karena sumpit yang panjangnya sekitar 1,5 meter itu digunakan untuk berburu. Sumpit itu sebelumnya telah diolesi racun sebuah tanaman yang bisa membuat hewan buruan mati dalam hitungan menit saja, hiiiii.... sereeem. Sumpit menjadi senjata andalan yang ditakuti oleh penjajah, makannya dulu siapa yang tinggal di pedalaman hutan terbebas dari penjajah.

Pembuatan sumpit sekarang lebih mudah karena menggunakan bor, dulu butuh waktu berminggu-minggu loh sebab mengandalkan derasnya air terjun untuk membolongi sumpit, wuidddiiihhh.

Pokoknya mengenal budaya indonesia yang beragam ini keren banget deh.

Yang membuat saya menyinggung orang jawa diatas karena acara Ragam Indonesia tadi pagi disampaikan dengan bahasa ngoko alus.

Hayolohhh... buat kita-kita yang ngaku orang jawa dan masih pake mikir saat tadi liat Ragam Indonesia berarti alarm bahaya tuh. Ini  ngoko loh, ga heran kalau pemirsa stasiun tivi nasional yang menyiarkan acara dengan bahasa kromo inggil sepi peminat, hhoo.

You know lah kids jaman now ngomong sama temen sebaya yang sama-sama dari kampung aja pake bahasa indonesia. Pelajaran bahasa jawa di sekolah juga cuma satu jam dalam sepekan.

Yukk mari... kita yang sadar punya kewajiban untuk melestarikan budaya daerah biar Indonesia tercinta ini tetap beragam.

-----------
Uraian di atas ditujukan untuk penulis semata, bagi yang terlanjur membaca dan tidak berkenan mohon jangan dilaporkan.


Romansa di Pabrik Injeksi



Aku sudah tak perduli lagi apa kata orang. Terserah mereka mau bilang kalau aku kurang kerjaan (padahal ini jelas di tempat kerja). Aku alay sok artis (alhamdulillah kalau jadi artis beneran, bisa ajak kamu keliling nusantara). Sok cari perhatian (memang iya).

Satu yang kupedulikan, ada orang yang diam-diam berada di balik setiap tingkah polahku, ada orang yang diam-diam tersenyum malu akan kekonyolanku, ada orang yang menjadi alasan aku dengan segala kreativitas tanpa batas ini.

Sungguh, melihatmu membekapkan kedua tangan untuk menutup mulut adalah sebuah keindahan. Melihat sisi anggun yang terjaga dalam setiap perilaku.

Aku tak perduli yang lain. Terserah mereka mau berkata apa. Aku hanya perduli kamu.

Yah... begitulah, apa yang tertuang dalam kata-kata tak semudah terucapkan mesti begitu ingin.

Kamu, paham kan Dek?



----------
Keterangan foto : diambil dari akun resmi tokoh utama πŸ˜„πŸ˜„

#KisahMereka
#Injection
#Cieeee

Resensi Buku "Keajaiban Ikhlas"



Ikhlas adalah sesuatu yang harus dipelajari bahkan tak akan pernah berhenti untuk dipelajari sebab sebagai manusia selalu terselip sedikit riya. Riya berbahaya, kenapa? Riya termasuk syirik yang tidak tampak dan syirik adalah dosa besar yang tidak diampuni oleh Allah SWT.

Dengan hadirnya buku ini kita bisa belajar untuk mengenal "ikhlas" lalu menerapkannya dalam kehidupan sehingga menjadi pribadi yang terus memperbaiki diri dari hari ke hari.

Ikhlas menyimpan banyak keajaiban yang merupakan pondasi awal tercapainya kesuksesan dan kebahagiaan seorang hamba Allah.

Buku setebal 143 halaman yang ditulis oleh Muhammad Gatot Aryo ini berisi tentang Pengertian ikhlas dalam Al-qur'an, Hadist dan menurut Ulama.Ikhlas dan bagiannya, Manfaat-manfaat ikhlas juga terdapat Aplikasi Pengendalian Ruhani Keikhlasan dan banyak lainnya.

Buku ini sangat bermanfaat dan saya sangat merekomendasikannya. Jadi tunggu apalagi? Yuk dibaca.

Mengungkap Rahasia Allah SWT dalam DNA Manusia




Dalam seminar nasional yang diadakan pada hari Minggu, tanggal 1 Oktober 2017 di Universitas Muhammadiyah Surakarta DR. drTauhid Nur Azhar, M.Kes menjadi pemateri pertama. Selain sebagai dokter beliau juga seorang trainer dan penulis buku. Dalam kesempatan tersebut beliau menyampaikan tentang bukti kebesaran Allah SWT ditilik dari ilmu kedokteran, yaitu DNA. DNA adalah bahan penyusun gen yang membawa informasi penurunan sifat yang terletak dalam inti sel yang membentuk kromosom.
Allah menjadikan makhluknya berpasang-pasangan agar menghasilkan keseimbangan sebab manusia menerima setengah pasang kromosom dari ayah dan setengah pasang kromosom dari ibu, sehingga individu membawa sifat yang diturunkan dari orang tuanya.
Menurut Kazuo Murakami (2017), ada beberapa hal yang dapat mengubah gen :
1. Saling berbagi informasi/kerjasama
2. Niat yang mulia
3. Hidup dengan rasa terima kasih
4. Berpikir positif
Setiap orang memiliki keunggulan dan kekurangan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Karakter tercipta dari kebiasaan yang diulang-ulang, untuk itu sangat dianjurkan untuk memperhatikan apa yang kita pikirkan karena akan menjadi kata-kata yang kemudian menjadi perbuatan hingga kita terbiasa.
Perilaku adalah perbuatan atau tindakan seseorang yang dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut :
1. Keturunan
2. Sikap
3. Norma Sosial
4. Makanan. Nutrien yang terkandung dalam bahan makanan merupakan variabel penting dalam ekspresi gen (defisiensi dari nutrient esensial dapat menganggu metabolisme dan struktur DNA, Kaput J Et Al, 2004)
Nah... Islam telah mengajarkan untuk hanya memakan makanan yang halal juga baik untuk tubuh. Yuk jaga segala yang masuk dalam tubuh kita.
Dalam materi berbentuk pdf ini dijelaskan pula secara singkat tentang Komposisi Perkembangan Otak, Manfaat Riset Biopsikologi Bagi Kesejahteraan Manusia, 7 Divisi Utama dari Biopsikologi. Hanya 68 halaman dengan gambar-gambar penunjang.


Ada yang mau? Saya Kasih :)


Musikalisasi Puisi

" … Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi ia akan memberimu minyak wangi, atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapat bau harum darinya. … “
 
Potongan hadist di atas berarti bahwa teman/lingkungan akan sangat mempengaruhi. Begitupun saat saya berteman dengan mahasiswa Pendidikan dan Sastra Bahasa Indonesia. Kami dipertemukan dalam sebuah komunitas menulis, One Day One Post, lalu akhirnya saling memberi masukan dan saran tentang hasil karya masing-masing. Tidak usah bertanya siapa yang lebih ahli pada kasus ini, hhaaa.
 
Jauh kemampuan dengannya, karya sastra yang saya tahu hanya sebatas cerpen datar tanpa konflik menggigit apalagi diksi yang memikat, sedang ia sudah menemukan jenis tulisan yang sesuai. Bukan niat membandingkan tapi memang begitu kenyataannya, hhaa.
 
Karya sastra yang ia perkenalkan adalah puisi. Larik-larik pendek yang berima. Puisi lebih rumit lagi.
Ada konvensi yang manyatakan bahwa kalau ada karangan yang oleh pengarangnya disebut puisi, kita pegang saja apa yang dikatakannya. (Bilang Begini Maksudnya Begitu, hal 8).
Berulang ia mengingatkan,”Karya yang sudah ditulis itu hak pembaca dalam mengapresiasikannya, jadi ya ga usah ngotot kalau beda pandangan.”
Hhaa... tapi berbeda dengan puisi, banyak penafsiran itu semakin bagus.
Tak ada penyangkalan atas indahnya puisi, kemampuan memadatkan kalimat menjadi sajak-sajak perlu pemahaman tinggi. Tapi ternyata, puisi masih bisa lebih memikat loh.
Puisi yang dibaca dalam hati tentu akan sangat berbeda ketika dibaca lantang. Kemungkinan besar makna yang terkandung dalam puisi baru akan ditangkap sepenuhnya katika dilisankan. Oleh karenanya dalam usaha kita untuk meningkatkan apresiasi, melisankan puisi sangat dianjurkan. Setidaknya, setelah membaca atau mendengar puisi kita akan lebih menyadari bahwa bunyi merupakan salah satu daya pikat puisi, di samping merupakan faktor yang menentukan dalam menyusu makna. Pentingnya bunyi dalam puisi menyebabkan banyak pihak kemudian menggubahnya menjadi nyanyian yang disebut dengan musikalisasi puisi. (Bilang Begini Maksudnya Begitu, hal 24).
Nah … Sempurna sudah keindahan puisi.
Coba klik Mengintip Bidadari, ini adalah puisi karangannya. Baca dulu perlahan. Ia telah menggubahnya menjadi nyanyian sebagai contoh dari musikalisasi puisi.
Terima kasih Aa Nychken, sudah mau mengajarkan banyak hal.
Oh ya, ada yang mau mendengar lagunya? (Nanti saya minta ijin dulu tapi, harusnya sih kalau odop-ers boleh, kan kita satu keluarga :D).


1. Bilang Begini Maksudnya Begitu oleh Sapardi Djoko Damono

Jawabnya

Di taman ini aku terpana
Indah nian, bertebaran bunga-bunga
Lalu padamu aku terpesona
Karya Tuhan yang menyejukkan mata

Di mana ibumu, Nak?

Kerja.

Aku tersenyum mendengarnya
Ia menggelayut manja pada tangan wanita tua

Lalu ayahmu?

Dahinya mengkerut
Tangan kecil itu mulai sibuk
Menarik kain abaya wanita tua yang telah keriput

Sinar mata sayu
Air muka yang meredup
Itu jawabnya
Maaf, aku telah salah bertanya


------------------
Pagi yang mendung di Kota Bersinar
29 September 2017

Lima Menit

Apa kau tahu
Saat lima menit mata kita beradu
Mesin dengan kemampuan menghasilkan tiga ribu sembilan ratus buah sendok itu seperti hening tak berlagu

Apa kau tahu
Saat lima menit seolah waktu tak melaju
itulah saat terlama dan tak ingin rasanya untuk berlalu

Apa kau tahu
Saat lima menit setiap pagi
Pergantian waktu kerja aku dan kamu
Telah tumbuh rasa dalam hati?


------------
Pabrik injeksi, Parangjoro
7 Muharam 1439 H

Debat Baca Dengan Penguji

Senyum tetap kujaga, penguji ada di depan mata.

Berulang kali Belva keukeuh bahwa ia tak mau membaca, "Ngerjain soal aja to, mbak."

Nah... bagaimana bisa menjawab pertanyaan jika tak membaca materi? Di sinilah ke-jeniusan pengujiku, hhaa.

Akhirnya perjanjian dibuat. Setiap soal yang tidak bisa dijawab harus dicari sendiri dalam buku lks atau buku paket. Setuju.

Kena jebakan kau sayang πŸ˜‚

Tiba saatnya ia menggaruk kepala, dan menarik buku lks, aku tersenyum penuh kemenangan membantunya membuka buku paket.

Masalah hadir lagi ketika kami telah menemukan judul yang sesuai dengan pertanyaan, sesuai janji ia mau membaca tapi... melewatkan judul, langsung isi.

Nah... nah... baiklah saya pusing.

"Judulnya dibaca yang keras."

"Ga usah mbak, udah tahu."

"Udah tahu apa?"

Geregetan ia menunjuk sebaris kalimat yang tercetak tebal dan membacanya dengan sedikit menggerutu.

"Tuh kan, mbak mah, aku jadi baca kan."

Aku tertawa.

Tiada heran bagaimana Belva ingin segera menyelesaikan setiap materi yang ia baca. Membaca baginya membosankan sedang menghitung sangat memusingkan.

Belva bukan satu-satunya, ia adalah gambaran dari sebagian besar anak-anak yang nantinya memegang peranan penting dalam kemajuan bangsa.

Apa yang kalian lakukan jika diposisiku?


Harus Bagaimana

Bagai kemarau panjang
Retakan tanah kering terpampang
Disegala sisi terhampar fatamorgana
Lalu sosokmu membuatku terpana

Tersenyum membawa bejana
Menawarkan air kehidupan
Tak kuminum aku mati
Kuminum aku hutang budi


----
Kota Bersinar, 5 Muharram 1439 H

Jangan Bandingkan Aku

Di atas meja makan ukuran dua meter persegi ini aku tengah menanti, sebuah komentar tentang apa yang baru saja terhidang.

"Bagaimana?"

Mungkin raut wajahku kentara akan cemas yang berlebih, ia hanya tersenyum, belum juga menyentuh makanan di atas piring.

"Tidak mau dimakan ya?" Tanyaku melihatnya tak juga berniat untuk mencicipi.

Ia menggeleng, tersenyum, mengangguk.

"Apaan sih, ga jelas deh."

"Dulu ibuku..."

"Jangan bandingkan aku dengan ibumu," lirih aku berujar dalam tunduk malu.

"Eh bukan... bukan."

Ia kebingungan melihat reaksiku dari kalimat yang belum selesai terucap itu.

"Kamu sama dengan ibuku.".

Aku menatapnya, mana mungkin sama. Tentu ia hanya bergurau.

"Tersenyum dulu dong."

"Mana bisa, kau saja tidak mau menyentuhnya apalagi memakannya, kan? Biar aku bawa ke belakang."

Sigap tangannya menahanku berdiri, "Duduk dulu Dek, jangan ngambekan dong."

Aku bersungut. Ia tak mungkin paham, untuk menghidangkan ini saja aku harus berusaha keras. Memasak bukan keahlianku bahkan dapur adalah tempat yang mampu dihitung jari berapa banyak aku memasukinya.

"Dulu ibuku juga goreng tempe."

Diam aku mendengarkan dengan malas. Rayuan macam apa lagi ini.

"Sama sepertimu, tempenya diiris sedang tidak terlalu tebal, adonan tepung pun cukup saja, tidak encer. Sama dek, kamu menggorengbtempe yang sama dengan ibu."

Tak ada komentar, aku menatap tempe goreng yang masih hangat itu.

"Dan kamu juga melakukan hal yang tidak seharusnya, yang juga dilakukan oleh ibu. Itu mengapa aku tertawa, ini seperti de javu Dek, kamu mirip ibu. Aku sayang Ibu, juga sayang kamu."

Sayangnya aku tidak tersipu. Jika ia masih berbelit-belit maka aku akan segera membawa tempe goreng ini ke belakang. Akan aku habiskan sendiri.

"Tidak tanya apa hal yang tidak seharusnya itu?"

Aku diam saja. Memandang tempe goreng yang kurasa warna lecoklatannya saja seharusnya menggoda ia yang doyan makan.

"Duh, besok aku mau les cara menghadapi wanita ngambek, hhaa."

Nah kan... nah kan... bukannya segera menjelaskan ia malah muter ke sana ke mari. Aku beranjak. Ia kembali menahan.

"Dek, maaf yah. Sungguh aku hanya teringat ibu. Kamu mirip dengan ibu."

Aku bergeming.

"Hhaa, baiklah... baiklah... jadi istriku tersayang, menggoreng tempe itu tidak perlu kau tambahkan telur. Nanti adonan tepungnya lembek."

Aku menepuk dahi, menunduk.

"Maafkan aku."

Telunjuknya mengangkat daguku, senyum itu mengatakan bahwa tak ada yang perlu dimaafkan.

Aku melirik sepiring tempe goreng gagal di atas meja. Lalu dalam hitungan detik sebuah tangan mengambilnya, memasukkannya dalam mulut dan menikmatinya. Aku menggigit bibir melihat pemandangan di depan mata.

"Maafkan aku."

"Hhaaa. Kamu dihukum."

Aku mengangguk pasrah.

"Sini suapin aku. Aku mau makan tempe goreng banyak."

Dua garis lengkung menghiasi wajah. Ada haru dalam dada.

Katanya Tentang Makan

Sekali aku pergi ke pasar. Banyak orang ngobrol ngalor-ngidul. Tapi selalu saja lelaki tua kumal di depan pintu masuk pasar itu jadi salah satu topiknya.

"Dia gila.. dia gila."

Satu dua berbisik sambil menunjuk-nunjuk ke arah lelaki tua dengan kaki ditekuk itu.

"Katanya tidak perlu makan."

Aku tertarik dan mendekat, mencoba menguping pembicaraan.

"Makan menyebabkan orang mati."

"Dia gila... dia gila."

"Maklum saja, mana pernah orang macam itu mengeyam bangku pendidikan.

"Dia gila... dia gila."

Dahiku mengkerut. Makan bisa membuat orang mati? Iya benar jika makan racun.

"Katanya makan tidak bisa menghapus lapar."

"Dia gila... dia gila..."

Dahiku semakin mengkerut. Makan tentu agar tidak lapar bukan?

"Katanya makan hanya membuat orang tidak menjadi manusia."

"Dia gila... dia gila..."

Aku sudah tidak tahan. Maka kuhampiri lelaki tua itu, yang kakinya tertekuk, duduk bersimpuh di depan pintu masuk pasar.

Ada piring plastik di sana. Di hadapannya. Kutaksir dulu warnanya biru cerah, kini pudar seiring berlalunya zaman.

Ada piring, alat makan, pasti lelaki tua itu makan, setidaknya dulu, mungkin saja. Kini... lelaki tua itu mencoba peruntungan. Ya, lelaki tua itu makan laba-laba yang mencoba membuat sarang di atas piringnya.

"Dia gila... dia gila..."

Percaya Saja

Bola mata hitam itu membesar, "Benarkah?"

Aku mengangguk.

"Siapa... siapa?"

"Dia, satu diantara pengikut semua akun sosial mediamu."

Wajahnya menunduk, "Teman-teman penulis, kami saling mengikuti."

Berdiri dia dari bangku panjang di sudut warung makan siang ini, sudah lewat jam istirahat pabrik, suasana sunyi. Tiga langkah ke depan balik kanan dua langkah maju. Telapak tangan kanannya menopang dagu, tangan kiri berkacak pinggang.

"Tolong sampaikan padanya."

"Apa?" Tanyaku antusias.

"Jangan lupa minum obat, semoga lekas sembuh."

Tawa membahana di warung makan, hanya ada kami berdua dan Budhe Muji yang sedikit melonjak dengan polah kami.

Kenalkan, Laya, temanku, pengarang yang selalu tak percaya bahwa ada-di luar sana- yang mengagumi karya juga sosok riangnya.

Hai Laya, percaya saja, kau punya penggemar.

Kamu Adalah

Kamu...
Adalah apa yang sering membuatku takut
Takut tak sebanding untuk bersanding

Kamu...
Adalah apa yang terukir dalam doa
Untuk kebersamaan kita kelak

Kamu...
Adalah apa yang sedang aku perjuangkan
Berpeluh untuk memantaskan menjadi sosok terdekat

Kamu...
Adalah bintang yang berpijar terang
Menyinari hidupku hingga tua dan mati

Kamu...
Adalah apa yang membuatku bangga
Menjadi sosok sempurna akan amanah tentangmu

Kamu...
Adalah apa yang aku minta pada Tuhan
Tak segera, tapi di waktu yang tepat

Lalu, emaknya Rafa berbisik perlahan, "Ga usah muluk-muluk, cari pejantannya dulu aja."

Aaarrrrggghhh.... kadang aku berpikir alangkah damai jika emak satu ini tidak selalu muncul tiba-tiba. Doa untuk Rafa, semoga hari ini ia mau masuk sekolah, bravo jagoan.

Ranggin Kaman

Mulut kecil itu ternganga
Matanya mengerjap tak percaya

Aku tersenyum menatapnya

Ombak menggulung
Angin pantai bergemuruh

Terpesona aku pada wajah cantiknya

Kau suka? Tanyaku

Anggukan itu saja sempurna sudah meluruhkan hatiku

Pembiasaan oleh alam yang menguraikan spektrum warna merah untuk senyum merekahmu, jingga untuk lesung pipimu, kuning untuk kerut dahimu, hijau untuk kedip matamu, biru untuk harum tubuhmu, nila untuk patah-patah napasmu dan ungu untuk jilbab melambaimu.

Khayalku ...

Nanti ...

Kelak ...

Di suatu senja
Kita melihat pelangi

Aku Bisa Saja Tidur

Sudah kubilang aku mau tidur
Tapi ia malah bernyanyi lembut
Mengusap anak-anak rambut di dahiku dengan lembut

Sudah kubilang aku mau tidur
Tapi ia tak henti bercerita
Berbagi kisah yang bahkan tak bisa diterima logika

Sudah kubilang aku mau tidur
Tapi ia terus menatapku
Memaksa mata kami beradu

Sudah kubilang aku mau tidur
Tapi ia membuat bunyi-bunyian tak jelas
Menjadikan bising ruangan

Sudah kubilang aku mau tidur
Tapi apa saja yang ia lakukan jadi perhatianku

Sudah kubilang aku mau tidur
Tapi tetap saja ... ia mengganggu

Sudah kubilang aku mau tidur
Ia tak peduli, ia tak punya hati

Sudah kubilang aku mau tidur
Aaarrrggghhh... suara-suara dalam kepala meronta

Sungguh, aku bisa saja tidur
Jika ia... yang tersenyum satir itu mati

Tanyakan Pada Mereka

Beberapa orang memiliki apa yang sering disebut dengan firasat, suatu kemampuan diri untuk merasakan sesuatu yang akan terjadi, kurang lebih seperti itu maknanya.

Mungkin bukan sekadar firasat, ada campur tangan ratusan malam yang dilewati bersama untuk memunculkan desiran aneh dalam dada.

Bisa juga pada tempat-tempat luas yang bentang alamnya menjadi saksi bisu akan waktu yang abadi dalam ingatan.

Atau gesekan-gesekan kecil di mana bara api menjadikan celah antara satu sama lain.

Tunggu, tentang sebuah ruangan bawah tanah, whiteboard, modul?

Petikan gitar dengan lirik-lirik yang tak utuh dihapal?

Susu segar yang lebih banyak komposisi santannya? Tusuk sate? Berbagai macam rupa gorengan? Pisang karamel?

Tanyakan pada mereka karena apa.

Satu dua memori terekam abadi, beberapa terpanggil saat desau angin membisiki cuping telinga.

Apalagi? Coba tanyakan pada mereka karena apa.

Ratusan kilometer yang telah ditekuri? Pasir-pasir pantai yang menempel? Matahari yang terbit juga tenggelam?

Apalagi? Coba tanyakan pada mereka karena apa. Aku menyerah sampai di sini. Logikaku tetiba berhenti. Hangat menjalar ke seluruh tubuh.

Tak sama banyaknya dengan dulu, berkurang lebih waktu yang dihabiskan bersama. Kembali lagi tentang firasat, benarkah tak ada hal lain yang mendukungnya untuk terjadi?

Tanyakan pada mereka, sebab apa meyapaku di hari yang sama di saat seluruh raga terselimuti rasa panas dan mata memerah?

Baiklah. Kusudahi segala praduga ini. Ijinkan aku menikmati kehadiran mereka meski tak bertatap muka.

Tuhan, jaga mereka. Sampaikan rasa terima kasihku atas hal-hal kecil yang karenanya aku merasa ada yang memperhatikanku di dunia ini.





Lebam ini Kukira Kelelahan, Ternyata

Aku menemukan lebam di kaki kiri ketika berwudhu suatu sore itu. Warnanya biru pekat. Tak perlu lama untuk menyimpulkan bahwa yah ini mungkin efek kelelahan semata.

Karena tahu bahwa tidak berbahaya maka aku abaikan sedikit rasa sakit yang tidak terlalu menganggu itu.

Hasil reaksi konversi dari hemoglobin menjadi bilirubin itu perlahan memudar. Lalu aku tersadar akan kejadian yang sesungguhnya lebih masuk akal untuk menciptakan lebam ini.

Beberapa hari yang lalu sebelum aku menemukan lebam di kaki, suasana kerjaan sedang meningkat tajam. Mobilitas tinggi. Berlari ke sana ke mari untuk memaksimalkan waktu kerja yang tersedia, pahamlah yah jika perusahaan sedang babat alas, kadang nganggur kadang kepontal-pontal.

Nah... aku lupa bahwa bukan burung yang bisa melewati meja yang melintang di tengah ruang. Jadilah tumbukan tersebut sesaat membuatku berjongkok dan meringis, hhaa.

Begitulah, manusia sering tergesa-gesa. Menduga sekehendak hatinya. Menutup telinga untuk setiap nasehat yang masuk juga terkadang menganggap dirinya pastilah lebih benar.

Kacaunya lagi, itu terulang, duh.

Bukan lebam namun panas tubuh. Aku hanya mengira sakit flu mengingat banyak di sekelilingku juga tumbang. Hampir seminggu dan aku baru terhenyak akan ingatan yang melintas.

Baiklah. Saatnya tes laboraturium. Doakan saya 😊


Istri Panutan

Belva sudah menghilang entah ke mana, tapi kutebak ia menuju lapangan voli di samping rumah.

Nyonya rumah menghampiriku, ini waktu berharga baginya untuk menghilangkan lima puluh persen kegundahan hati dan lebih dari itu prosentaseku untuk menimba ilmu kehidupan dari beliau.

"Gimana mbak, Belva nakal?"

Aku tersenyum dengan sedikit gelengan kepala.

Ada yang berbeda, tadi dua jam yang lalu saat menyambutku beliau memakai daster ala kadarnya sekarang ketika malam kian sunyi penampilannya sempurna.

"Mau pergi, Bu?"

"Eh, enggak mbak."

Obrolan kami biasanya fokus dan saling menatap namun kali ini beliau tengah sibuk dengan hamparan krim, minyak wangi dan lipstik di depannya. Wajar jika kukira beliau hendak pergi.

Luwes jari kelingking itu menyapukan pewarna bibir dengan warna merah lembut, tidak mencolok, sangat cocok.

Aku masih bertanya-tanya, apa mungkin beliau sungkan sebab masih ada aku di sini? Ahh kiranya aku harus pamit segera.

Botol berkaca dengan cairan bening menguapkan aroma yang membuat tenang. Diratakannya mulai pergelangan tangan hingga tengkuk. 

Gerakan tubuhku kikuk, hendak pamit namun sungkan, satu dua kalimat masih beliau lontarkan sembari memoles wajah dengan segala macam kosmetik itu.

Lalu selintas ingatan menyadarkanku, ingatan yang membuatku malu, yang meyakini bahwa sekarang harus segera beranjak pulang. Untung saja beliau masih sibuk jika tidak akan kentara rona merah di wajahku.

Tiga puluh menit yang lalu Belva bertanya pada beliau kapan ayahnya akan pulang. Anak itu meskipun takut tapi selalu merindukan kehadiran sosok pahlawan keluarganya.

"Bu, saya hendak pamit."

Beliau menghentikan segala aktivitas. Senyumnya merekah menyiratkan rasa terima kasih yang teramat, lalu ucapan doa keselamatan mengiringi langkah kakiku meninggalkan teras.

Hingga belasan meter, aroma wangi masih tercium, wajahku panas, jika tidak tertutup masker maka akan terlihat bahwa masih ada senyum di wajahku.

Beliau tidak akan pergi ke mana pun. Segala bentuk mempercantik diri itu untuk seseorang yang dengan gagah telah mengambil alih tanggung jawab atas dirinya dari ayah kandungnya.

πŸ˜‰πŸ˜‰

Guru Tidak Harus Lebih Tua

Bagiku dia adalah guru yang pura-pura bertanya untuk menguji kemampuan, seolah tak paham apapun agar aku menjelaskan, bertingkah kesana kemari hanya untuk melihat cara aku menenangkan.

Malam ini sunyi, hanya ada aku dan dia di beranda rumah. Kertas-kertas berserakan, tumpukan tebal buku-buku menjulang di atas meja. Kami baru saja mencari sesuatu atas jawaban pertanyaan yang mengganggunya sedari tadi.

"Sudah ketemu?," tanyanya dengan raut muka masih antusias.

Aku tersenyum. Entah bagaimana jika jawabanku mengecewakannya, terlebih faktor yang mendukung belum begitu banyak kukantongi.

"Jadi kenapa manusia itu yang menjadi nabi?"

Matanya mengerjap, ada keingintahuan yang teramat.

Kami baru saja berdiskusi tentang nama-nama nabi. Dalam keheranannya dia bertanya kenapa Musa bisa menjadi Nabi? Kenapa harus Sulaiman yang bisa berbicara dengan hewan dan juga jin, kenapa?

Terus dia mendesakku sedang aku tak banyak tahu perihal ini. Tak mungkin mengecewakannya dengan menggelengkan kepala, maka kususun jawaban yang jika tidak memuaskannya bisa meredam sebentar rasa penasarannya.

"Menjadi nabi itu bukan sembarang orang loh. Hanya yang terpilih saja dan yang memilih itu langsung Allah."

Diam aku sejenak, menunggu dia bereaksi. Bola matanya masih tepat di tengah, menantiku untuk melanjutkan.

"Tugas Nabi itu beraaaaatt sekali."

"Kayak Nabi Ibrahim ya? Yang dibakar hidup-hidup?"

"Nah... klo bukan orang pilihan tidak mungkin akan menerima yang seperti itu dengan ikhlas kan?"

"Iya, terus kata Pak guru, waktu pasukan Nabi Sulaiman lewat ketua semut bilang klo semua semut harus masuk ke sarang jika tidak mau diinjak."

Aku mengulum senyum, dia memperagakan gerakan kaki pasukan yang berjalan beraturan. Pipi gembulnya membuatku gemas. Lalu disusul dengan mengangkat tangan kanan bak seorang pemimpin yang menggunakan pengeras suara, mengomandokan pasukan untuk segera menuju tempat aman.

Benarkan, apa kubilang. Dia hanya menguji ingatanku saja. Hanya menguji.

Dialah Belva anak kelas tiga sekolah dasar yang membuatku banyak belajar 😊😊

Berita Orang Hilang

Aku hendak merantau dan banyak orang memberitahu tempat terbaik untuk mengejar jabatan, meniti karier atau jelasnya menimbun harta. Maka dari mereka sampailah aku di kota ini, siang saat matahari sedang terik-teriknya.
Bersandar pada sebuah pohon beringin yang berbatang besar membuatku tertidur untuk beberapa saat.
Tak lama aku terbangun sebab selembar kertas mengejutkanku. Ohh, berita orang hilang yang sudah lama. Pasti lemnya sudah tak rekat.
Melangkah kini melewati pematang sawah dengan gemericik air sungai, kanan kiri pemandangan tanaman padi yang mulai menguning menimbulkan rasa haru akan masa panen di depan mata.
Tunggu, suasana seperti ini tak ubah pedesaan dengan segala kesederhanaannya. Bukankah aku sedang merantau ke kota?
Maka segera aku bergegas untuk memasuki area pemukiman warga. Tak ada orang lalu lalang yang dapat ditanya, aku meneruskan langkah hingga di sebuah persimpangan terdapat warung es kelapa muda yang tengah ramai oleh pembeli. Bagus, aku bisa istirahat sembari bertanya tentang keganjilan ini.
Penjual tersenyum ramah menerimaku, menanyakan gula pasir atau gula merah untuk ditambahkan dalam minuman. “Gula merah,” jawabku singkat.
Lalu aku bergabung dengan para pengunjung yang tengah bersantai di gelaran karpet di pinggir jalan utama tak jauh dari persawahan.
“Apa nama daerah ini. Pak?”
“Desa Nrimo, Nak.”
Sendiri aku mencerna maksud dari penamaan desa ini, jika dilihat dari bahasa jawa Nrimo berarti menerima, pasrah atas ketentuan Yang di Atas.
Sungkan aku menanyakan kebenarannya, terlebih statusku sebagai pendatang.
“Oh ya pak, apa kabar anak kecil yang hilang itu, sekarang?” teringat aku akan selebaran yang membuatku terbangun.
“Oh, Budi? Dia belum ditemukan.”
Dahiku mengkerut, kukira itu sudah lama berlalu sebab kertasnya menguning dan tulisannya mengabur.
“Iya belum kembali sejak lima tahun lalu,” ujar seorang pemuda lain setelah menandaskan kelapa muda di gelasnya.
“Bagaimana dengan keluarganya?”
“Ya mau bagaimana lagi.”
“Kasihan.”
“Beginilah hidup anak muda, bukankah semua sudah di atur oleh Tuhan, terima saja.”
Sebentar, aku menangkap hal ganjil dari intonasi Bapak berkumis itu saat mengatakan pendapatnya.
“Maksud Bapak?”
“Ya, mungkin memang takdirnya Budi hilang dan tidak kembali.”
Sebenarnya pertanyaan ini ingin sekali aku simpan rapat-rapat, namun melihat gelagat tak ada perubahan raut wajah saat membicarakan Budi membuatku ingin memastikan sesuatu.
“Sudah pernah mencoba untuk dicari, Pak?”
Si Bapak menghela napas, aku masih berharap sesuatu yang akan ia ucapkan bukan sesuai prasangkaku.
“Usaha kami ya menempel selebaran itu. Jika Tuhan menakdirkan Budi kembali pasti akan kembali.”
Lemas sudah aku mendengarnya. Bukan seperti ini arti menerima.
Tak ada kata pamit, aku berdiri dan segera menjauh dari orang-orang yang meniadakan usaha, menghapus rasa peduli atas dasar takdir Illahi. Namun kakiku tersandung batu bata dan terjerembab.
Batu kerikil menimpa kepalaku, membuatku meringis dan mengusap tempat yang sedikit benjol itu. Seorang anak kecil tertawa terkikik dari seberang.
Aku terbangun dari mimpi yang menyeramkan.
“Paman, jangan memasuki kota ini, kembalilah.”

Aku tertegun. Anak kecil itu seperti aku pernah melihatnya, samar, siapa ia?

Balasan Senyumku Darimu

Mata kita beradu, sepersekian detik di sebuah ruangan dengan banyak tamu undangan. Aku tahu kau pasti datang, sebab ini acara pernikahan sepupumu yang juga teman kerjaku.

Aku baru saja hendak menarik dua garis lesung setelah sebelumnya terpesona oleh karya Tuhan yang terindah, kamu.

Lalu lalang orang menjadi figuran, kita sebagai pemeran utama. Tak ada yang beranjak untuk saling menghampiri hanya melempar pandangan satu sama lain.

Andaisaja aku tahu apa yang akan terjadi... tapi masa depan selalu menjadi misteri kan?

Suara pembawa acara menggema di panggung, menjadi pengawal dari kebahagiaan dua mempelai. Tak jelas ia berkata apa, duniaku sudah berpusat di satu titik, kamu.

Belasan pemuda dengan baju seragam hilir mudik dengan nampan di tangan. Jamuan untuk tamu mengalir mengisi meja-meja. Ucapan silahkan menikmati menjadi keharusan berbasa-basi.

Dalam gerakan lambat, setelah menata hati yang berdetak cepat, aku tersenyum. Mengerahkan segala upaya agar kamu yakin bahwa ada seseorang yang mengamatimu sedari tadi.

Tidak... aku tidak meminta lebih. Balas saja senyumku dengan senyummu atau sekadar anggukan agar aku yakin bahwa sejak tadi pun kamu memperhatikanku.

Riuh suara alat musik mengiringi penyanyi menyuarakan lirik. Dalam keramaian yang penuh rasa haru aku tergugu.

Kamu menjawab senyumku dengan memalingkan muka.


Bukan Begini Seharusnya

Rantang berisi nasi dan bermacam lauk menghambur di pematang sawah. Tempe dan tahu goreng satu dua berloncatan mendekati tanaman padi yang baru saja dibenamkan. Luapan emosi membuka rangkaian erat bekal yang sedianya akan aku persembahkan untuk dirimu.

Raut muka itu berubah pasi pun dengan sosok di sampingmu yang dengan cepat pergi tunggang langgang menjauhi gubuk di pinggir aliran sungai ini.

Aku masih terpaku, tidak percaya tepatnya.

Ada akar yang menghujam kuat di mana aku berpijak. Mataku menggenang, tak ada yang tertahan, apa yang ingin keluar sungguh aku ijinkan.

Siang ini kejadian itu berlalu cepat namun menjelang malam waktu melambat hingga enggan untuk beranjak.

Pagi sekali kau datang ke rumah, mengetuk pintu dengan serentetan kata yang hendak menjadi tameng sebuah kesalahpahaman.

Semua sudah jelas, tiada takut orang yang tidak bersalah. Terbiritnya ia membuatku bukan hanya menuduh bahwa ada sesuatu yang sudah kalian lakukan, tanpa sepengatuanku tentunya.

"Aku mundur," lirih dalam getar aku bersuara.

Cangkul yang tergenggam oleh tangan kananmu engkau letakkan bersiap untuk menepis kata-kataku.

"Baiklah, maafkan aku."

Tersenyum aku ada dalam getir.

"Ini tidak akan terulang."

Aku menggeleng, tak ada yang bisa memastikan terlebih ada kecewa yang menyesakkan.

"Aku melepaskanmu dari segala bentuk pengekangan."

Kini ia yang menggeleng, ke kanan ke kiri, lebih kuat.

Mungkin ia lupa akan janji-janji yang terucap untuk menemani hidupku, kelak.

Aku mengaku kalah, menjadi manusia lemah yang memperturutkan nafsu semata, terburu-buru menilai makna cinta, kita tidak boleh saling menyakiti terlebih sebelum ada ikatan yang dibenarkan agama. Bukan begini seharusnya.



Ganesa, Perpustakaan Impian

Halloo warga dunia maya... sudah baca buku hari ini? Yukk mulai kebiasaan membaca sekarang juga πŸ˜„

Eh tapi Ci...

Kenapa? Ada masalah?

Tentang jutaan manfaat dari membaca itu sudah jelas tidak ada penyangkalan, nah, masalah justru ada pada media yang mau dibaca. Tahu kan harga buku yang melangit? Apalagi baru-baru ini hangat berita bahwa penulis belasan buku best seller bakal menghentikan cetak buku karena beberapa alasan.

Ohh itu... tenang... ada kabar baik untuk warga solo dan sekitarnya.

Begini, kemarin saya baru aja ambil buku dari ganesa, iya ganesa-perpustakaan- yang beralamat di Jl. Raya Songgolangit No. 30 Gentan, Baki, Sukoharjo.

Buku yang saya ambil adalah buku yang ingin saya baca tapi ragu untuk membeli (yahh, ini hitung menghitung anggaran bulanan). Nah ganesa membelikannya untuk saya, loh. Iya serius.


Jadi kalau kalian berkunjung ke ganesa dan tidak menemukan judul buku dari puluhan rak kayu silahkan tulis saja di tempat yang sudah disediakan, lengkapi formatnya dan tersenyum. Mudah kan?

Ganesa akan belikan. Dan kamu akan jadi peminjam pertama. Peminjam ya tolong diingat, jadi ada kewajiban mengembalikan.

Emoji senyum di kanan atas adalah simbol bahwa buku tersebut baru. Jadi hanya diijinkan untuk dipinjam selama satu periode, yaitu sepuluh hari.


Tanggal di bagian belakang buku adalah batas peminjaman, mari jadi pribadi yang bertanggung jawab. Setiap buku dari perpustakaan ada hak orang lain untuk menjadi pembaca berikutnya, setuju?

Apa syarat meminjam? Cuma buat kartu anggota, gratis lagi. Tenang ga usah panik kalau misalkan kartu anggota hilang. Ganesa ganti.


Jadi kalian warga soloraya, nggak ada lagi alasan untuk malas membaca dong. Yuk manfaatkan fasilitas mewah ganesa yang belum tentu di lain tempat tersedia.

Selamat membaca. Salam literasi.

Selayaknya Saudara



Malam ini bulan tertutup awan, tak ada bintang juga cahaya apa pun, langit kelam tapi tidak mendung. Sendiri aku duduk di beranda menatap lengang jalan raya beraspal, persisnya ada dua hektar sawah hijau menghampar yang memisahkan rumahku dengan jalan raya.

Semilir angin menerpa wajah, membekukan sejenak dan perlahan membuat pucat.

Semesta mengirimkan cerita tentang seorang anak belasan tahun yang baru saja terperosok ke dalam parit saat bermain sepeda sore tadi.

Ibu, kenapa tidak marah?”

Sang ibu hanya tersenyum, cekatan tangannya membersihkan luka menganga yang darinya mengucur deras cairan kental berbau anyir dan mulai mengoleskan apa pun yang bisa mengobati dan menghentikannya. Bagaimana bisa ia marah kepada buah hatinya? Seseorang yang berpijar di tengah kemelut kalut dunia.

Jika ibu marah apakah kamu akan mengatakan jujur jika kelak terjatuh lagi?”

Si anak mengangguk, matanya berbinar, ia melupakan segala rasa sakit di sekujur tubuhnya, memeluk raga yang menularkan rasa hangat yang teramat.

Apa lukaku akan sembuh, Bu?”

Iya Nak.”

Apakah setiap luka akan sembuh, Bu?”

Si Ibu terdiam, ditatapnya lamat kedua mata kecil itu, ada harapan di sana yang membara.

Pasti sembuh, Nak.”

Harapan tak boleh padam, si Ibu meyakini itu.

Meskipun tidak ada obat untuk mengoles luka?”

Kali ini tak ada jawaban, mata si Ibu menggenang, kuat ia menahan agar tak terbentuk sungai yang membelah pipinya.

Meskipun tidak ada tangan Ibu yang kelak membersihkan luka?”

Mendongak si Ibu, cara terakhir menahan bendungan di pelupuk mata,

Kenapa Ibu harus menahan diri untuk tidak menangis? Menangis saja.”

Kali ini hancur sudah dinding pertahanan yang lama dibangun, retakan kecil yang tercipta meruntuhkan keyakinan kokoh selama ini.

Akan ada penganti Ibu yang mengoles lukamu, akan ada seseorang yang mengantar obat untuk menyembuhkan lukamu.”

Ibu, boleh aku bertanya lagi?”

Anggukan kecil menjadi jawaban, sibuk tangan tua itu menyeka air mata yang sulit dihentikan.

Apa itu benar akan terjadi, Bu?”

Si Ibu mengangguk mantap, “Saudara kita banyak Nak, mereka tidak akan diam melihat kita terluka, mereka peduli kita, mereka akan segera menolong kita.”

Ibu, aku hendak berkata jujur sebab aku tahu engkau tak akan marah.”

Senyum mengubah air muka si Ibu, “Katakan, Nak.”

Ibu tahu aku tidak punya sepeda, dan luka ini...”

Pelukan erat si Ibu membungkam si anak. Ia tahu, ia tahu apa yang terjadi.

Malam ini saat aku menyesapi keheningan di desaku yang aman mungkin saja si Anak dan si Ibu tengah kembali membangun keyakinan akan saudara-saudaranya yang datang untuk melukiskan senyum kembali di wajah mereka, kelak. Asap tebal membumbung, ledakan memekikkan telinga, jerit ketakutan memenuhi angkasa.

Pertolongan akan datang. Dengan ijin Allah.


#IslamBersaudara
#SaveRohingya

Akhirnya Bersuara

Bising suara mesin sudah menjadi rutinitas harian. Petikan manual sendok plastik hanya irama tambahan di sela nyaring gesekan pita suara empat manusia.

Aku muncul untuk ikut meramaikan kegiatan yang berpusat di dua meja besar ukuran tiga meter persegi yang dikelilingi tujuh kursi plastik warna biru langit. Selain itu ada yang harus aku kerjakan.

Dia pemuda dengan tinggi hampir mencapai seratus tujuh puluh centimeter, pendiam dan paling pertama mendiami mushola saat panggilan shalat berkumandang. Sebab tak banyak bicara itulah banyak dari orang-orang sering menggodanya, berbuat apa pun yang membuat dia membuka suara atau paling tidak tersenyum meski masker tak pernah lepas dari wajahnya.

Aku ikut barisan terkikik saat Mia, satu-satunya orang yang berjuang keras agar dia bersuara.

"Loh... loh.. cocok kan cocok."

Aku tahu akulah yang menjadi sasarannya kali ini. Biasanya aku hanya diam saja, tak mau melanjutkan hal semacam ini dan dia masih tidak bersuara.

Ketergantungan yang mengharuskan aku berkomunikasi dengan dia menjadikan Mia mendapat ide untuk mengumpankanku. Baiklah, sesuka hatinya saja, liat berapa lama Mia akan bertahan meladeni kediaman dia.

Hari ini lain, berbeda dari hari biasanya. Mia kembali berulah. Aku kembali hanya tersenyum tapi dia... bersuara.

"Loh kan cocok.. cocok..."

Dia hanya bersuara satu kata dan itu mendapatkan banyak respons, tentang keberhasilan Mia... akhirnya... dan gosip yang akan melebar secepat api yang menjalar dedaunan kering di musim kemarau.

"Cocok loh Mas sama Cili," semangat Mia menampilkan deretan gigi diantara dua garis bibir yang terpoles gincu merah muda.

"Aamiin..."

Satu kata itu saja, dan cukup membuatku menegang dan terpaku dalam beberapa detik berikutnya.

Kenapa Tidak Datang ?



Semilir angin bulan agustus terasa menusuk, ada gigil juga gemeretuk gigi.

"Kenapa tidak datang?" tanya seorang pemuda yang duduk dengan memeluk lutut.

"Untuk menyaksikan kau akan pergi?" lirih suara yang menyimpan pedih meski berusaha sekeras mungkin untuk menutupi.

"Lihat lampion dari kami?" rupanya pemuda itu mencoba untuk mengubah suasana sendu meski terdengar ragu.

"Bagus."

Singkat saja. Ada yang tertahan namun tersangkut hingga tak mampu untuk terucap.

"Ada namamu di sana."

Sedikit kepala gadis sayu itu bergerak, urung untuk mencari tahu kebenaran perkataan lawan bicaranya.

"Tapi rupanya ia tak mau terbang."

"Suatu pertanda."

"Baik."

"Tidak. Jelas buruk."

Suara hewan malam mengambil alih keheningan. Gesekan dedaunan, bunyi kodok turut meramaikan malam yang rupanya melambat untuk beranjak.

"Hatiku tertinggal di sini. Tak mau ia pergi jauh meninggalkan desa ini."

"Aku tak mau terbang bersamamu."

"Kenapa?"

"Jas birumu."

Terjawab semua. Nyatanya pendidikan masih menjadi dinding penghalang.

Setiap perpisahan meninggalkan duka, sedalam apa pun luka yang tercipta semoga waktu turut serta untuk memulihkannya.

Pendar cahaya bulan mulai menghilang, langit tertutup awan. Hening. Suara hewan malam mendominasi, selain gesekan dedaunan dan bunyi kodok tak ada suara lain.

Gunung Api Purba Nglanggeran

Pulang kampung menjadi sesuatu yang begitu dinantikan oleh seorang perantau, begitupun dengan kakak perempuan saya. Maka saat ahad pagi ia bersikeras untuk keluar rumah dan mengunjungi tempat-tempat wisata sebelum kembali dalam hiruk pikuk ibu kota.

Jujur, enggan rasanya beranjak dari rumah mengingat raga masih butuh waktu setelah berjuang dengan demam tinggi juga sakit kepala berhari-hari. Namun tak tega juga jika harapan kakak harus pupus begitu saja. Maka jalan tengah dari masalah ini adalah mencari tempat yang tidak terlalu jauh namun meninggalkan kesan yang mendalam.

Gunung Api Purba Nglanggeran menjadi tujuan kami.

Obyek wisata yang terletak di gunung kidul tersebut dapat ditempuh sekitar satu setengah jam dari rumah dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. Meski ini kali kedua bagi saya namun soal mengingat jalur saya bukan ahlinya. Mengandalkan aplikasi map kami meluncur menuju Gunung Kidul.

Jalur yang kami pilih adalah jalan utama solo-jogja hingga lampu merah prambanan belok kiri. Setelah itu mengikuti petunjuk jalan yang mengarah ke Wonosari. Hingga tak berapa lama jelas tertera arah menuju obyek wisata yang kami tuju pada papan petunjuk jalan.

Mudah sekali, kami hanya mengikuti petunjuk jalan tersebut dan sampai tempat tujuan tanpa tersesat bahkan tanpa meminta bantuan google maps. Luar biasa.

Sesampai di sana, para penunggu basecamp membantu memarkirkan sepeda motor dan memberikan arahan untuk pendaftaran. Semua tertata dan cepat dilakukan. Semua petugas menggunakan seragam, sangat terorganisir.



Setelah melaksanakan shalat dhuhur kami mulai menapaki jalur pendakian yang di sambut dengan bangunan beratap joglo. Awal pendakian info-info seputar Gunung Api Purba terpampang dalam pengumuman berkaca. Petunjuk-petunjuk jelas berdiri di pinggir-pinggir jalur. Semua ajakan untuk menjaga kebersihan, ucapan selamat datang, petunjuk pos berikutnya tertulis rapi dan terangkum dalam bahasa yang anak muda banget.

Mungkin ini dikarenakan pengelola Gunung Api Purba dipegang oleh pemuda di sekitar obyek wisata, mereka sangat tahu apa yang membuat pendaki tertarik bahkan mengulum senyum hanya dengan membaca petunjuk yang kekinian.

Dalam papan pengumuman tertera bahwa pendakian normal hanya satu sampai satu setengah jam namun nyatanya kami menghabiskan waktu hampir dua jam. Tempat-tempat unik yang sengaja diciptakan tak mungkin kami abaikan tanpa terbingkai dalam kamera.


Jalur-jalur unik banyak kami temui seperti jalur sempit yang seolah terbelahnya bukit batu menjadi dua, sangat sempit dan gelap. Ada rasa was-was saat melewatinya untung saja tidak terlalu panjang hingga sinar matahari kembali menerpa wajah. Lorong sempit yang kedua lebih panjang dan dilengkapi dengan tangga yang terbuat dari bambu sebab jalur mendaki. Tak kalah was-was namun tak ada jalur lain lagi.

Berbagai pernak-pernik sengaja di buat untuk menarik pengunjung seperti sarang burung raksasa yang bisa diisi lima orang dewasa, suasana purba yang membakar hewan buruan, terlepas dari itu pemandangan alam gunung kidul yang didominasi oleh bukit-bukit hijau sudah membuat diri tak henti berdecak kagum.


Bendera merah putih berkibar oleh angin di puncak gunung. Suasana yang tak begitu ramai membuat kami tak kesulitan untuk mengabadikan moment. Sempurna sudah perjalanan kali ini terlebih kami menemukan jalur cepat saat menuruni Gunung Api Purba yang hanya 700 mdpl ini, kurang dari tiga puluh menit kami sudah kembali ke basecamp.

Tubuh tidak begitu lelah, hari masih cerah saat akhirnya kami pulang ke rumah. Ratusan foto menyimpan sejuta kenangan dan menjadi saksi bahwa alam Indonesia, anugerah Tuhan yang luar biasa.




Obyek wisata ini tak ada cela, semua diperbaiki seiring waktu, memberikan kenyamanan bagi setiap pengunjung. Tak heran siapa pun yang sudah pernah datang akan kembali untuk mengulang.







Satu lagi yang aku suka saat mendaki yang jarang bahkan tidak ditemui di lain tempat yaitu bertemu dan akhirnya mendapat teman baru saat di jalur pendakian atau di puncak :)

Happy hiking.

Review Salah Profesi

Ijinkan saya garuk-garuk kepala dulu, lalu memijat kening yang mengerut kemudian menutup tab, eh yang terakhir diralat nanti ga jadi nulis lagi.

Menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, fiuuuhhh... masih ada yang ganjel.

Haloo odopers, kalian tentu menyimpan satu kata jika kusebutkan nama seseorang, Aa Gilang. Baru juga mendengar nama tersebut alam bawah sadar teman-teman yang telah lama bercengkrama segera memunculkan sinyal, ini orang kocak banget. Iya ga?

Penggemar Raditya Dika ini memiliki ciri khas kuat dalam setiap tulisannya, bahkan jika itu cerita sedih pun akan terselip humor yang membuat pembaca terbahak atau minimal mengulum senyum. Tapi ketika ada tantangan untuk meniru gaya penulis yang mempengaruhi, Aa tidak mencontoh Raditya Dika, kenapa? Menurut pengakuannya Raditya Dika berbicara tak jauh dari cinta. Jadi mungkin bisa disimpulkan jika Aa bosan membahas cinta, hhaa. Coba buka blognya di awal tahun 2016, ratusan tulisannya tak jauh dari bumbu patah hati dengan ending yang hampir selalu memilukan, wkwkwk, sabar ya Aa.

Nah, inilah kenapa akhirnya saya menjadi pembaca setia tulisan Aa. Ada unsur menghibur  yang menguapkan sebagian lelah kegiatan sehari-hari. Tulisan ringan yang tersirat banyak makna, dibungkus dalam humor agar pembaca tertawa tanpa perlu tahu seberapa menusuk kejadian aslinya.

Dalam tulisan berjudul Salah Profesi ini dibuka dengan lelucon yang menjadi daya tarik dari setiap karya Aa.

Aku adalah seorang guru baru, baru dalam dua hal lebih tepatnya. Baru dipecat sebagai sales produk kecantikan karena tertukar antara pelembab dan balsam.

Kalimat selanjutnya adalah sebuah ungkapan hati kepada pihak lain.

Seolah menjadi sebuah sindiran, seorang pengganguran diangkat menjadi guru kewirausahaan. Rasanya ada yang salah dengan negeri ini, eh yang salah aku deh. So so-an menyalahkan negeri padahal diriku sendiri yang tidak mampu bersaing dalam dunia yang lebih keras dari batu bata.


Saya suka saat segala yang tersimpan dalam dada diucapkan dengan cara yang berbeda, tidak serius hingga tersulut, namun mengangguk dalam senyum sebagai tanda persetujuan.


Kepercayaan diri yang tinggi membuat pembaca harus menggeleng-gelengkan kepalanya, berniat untuk melemparkan batu kepada penulisnya. Simak kalimat berikut,


"Putri Pak, Rasanya saya pernah bertemu bapak sebelumnya." Siswa itu bertanya sambil memamerkan wajah heran.

"Mungkin banyak yang mirip dengan saya," aku membayangkan dia bertemu Nicholas Saputra sebelumnya.



Hhaa... bisa yah timbul pemikiran semacam ini.


Loncatan emosi yang tiba-tiba sebenarnya sedikit membuat pembaca, khususnya saya harus mengulang lagi sebelum memahami maksud yang ingin disampaikan penulis. Tapi ini tidak mengurangi keunikan karya Aa, ending yang tak terduga juga menjadi andalan untuk membuat pembaca tertegun sebab tak pernah memikirkan cerita akan berakhir seperti ini.

Bahasa ringan yang jelas membuat pembaca mudah untuk mengikuti jalan cerita, sisipan humor yang selalu membuat senyum menjadi nilai lebih. Tulisan ini juga tulisan Aa yang lainnya harus dibaca, nikmati setiap kata yang terangkai dan temukan tanganmu menutup mulut jika tidak ingin tawamu mengundang tanya orang lain :)

Terakhir, ini yang membuat ganjel. Apakah review saya bermanfaat? Saya kira iya meski mungkin hanya seujung kuku. Pembaca tidak bisa disamaratakan, ada yang paham tentang segala jenis tulisan, banyak yang hanya membaca untuk mencari hiburan. Bukankah hal yang membuat penulis berbahagia adalah ketika tulisannya dibaca? dan berbahagialah Aa karena tulisanmu memiliki penggemar.

Writer's Block adalah Penyakit Keren

Selamat!

Jika Anda membuka tulisan ini berarti Anda keren. Yap. Baiklah, langsung saja saya utarakan kenapa writer's block termasuk dalam jajaran penyakit keren.

Pertama, istilah apapun yang ditulis dalam bahasa inggris adalah keren karena levelnya sudah internasional. Setuju?

Kedua, writer's block hanya melanda para penulis. Nah, penulis itu keren kan? Oke, sepakat.

Tunggu dulu, lalu kenapa banyak penulis yang melebih-lebihkan writer's block ini? Ya karena itu penyakit keren, hhaa. Enggak bercanda, sebenarnya mau sekeren apa pun toh tetap penyakit, tak ada yang mau terjangkit. Gejalanya seperti ada tembok yang menghalangi keluarnya ide. Hayoloh, ngeri ga tuh? Penulis tanpa ide? Jangan dibayangin!

Tenang, nih saya kasih tips efektif untuk merubuhkan tembok penghalang tersebut, caranya mudah, pancing saja dengan satu kalimat.

Eittsss... santai, ga perlu ngeluarin sabit untuk mendebat. Udah praktekin aja dulu. Contoh nih ya nulis status di facebook. 

Aaarrrgggghhhh... sebel banget deh kena writer's block.

Tunggu beberapa saat, komentar-komentar dari temen diharap bisa memicu ide untuk menyusup lewat pori-pori dinding. Lebih bagus kalau ada yang berbaik hati memberi semangat bahkan tips, perlu dihargai tuh.

Terus kalau ga ada yang komentar gimana? Ya sudah, sedih pasti, hhaa.

Percaya deh, writer's block itu ga dateng sekali atau dua kali aja, bisa ribuan bahkan sesering niat kita untuk menulis muncul. Maka, satu-satunya cara ya nulis, pancing satu kalimat apa saja. Pokoknya Nulis.

Udah gitu aja. Kalau misal kamu lagi kena writer's block terus ga mau coba nulis satu kalimat pun, jangan berharap sembuh! Bye! (mode galak).

Orangtua yang Membunuh Potensi Anak



Memiliki buah hati adalah keinginan bagi setiap pasangan suami istri, oleh sebab itu pastilah hal terbaik akan diberikan. Sayangnya banyak orangtua yang belum mempersiapkan bekal untuk menuntun putra-putri yang diamanahi oleh Tuhan, merasa sok tahu dan enggan untuk belajar.

Ayah Bunda, anak bukanlah obyek coba-coba, masa kanak-kanak adalah fase perkembangan manusia yang sangat istimewa. Namun pada kenyataannya orangtualah yang justru menghancurkan potensi emas anak. Satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa jangan pernah menilai kesalahan anak dari sudut pandang orang dewasa sebab dunia anak-anak berbeda dengan dunia orang dewasa.

Dirangkum dari buku Keajaiban Mendongeng karya Heru Kurniawan, berikut hal-hal yang seharusnya dipahami oleh orangtua agar tidak membunuh potensi anak pada masa perkembangannya :

1. Menghentikan anak dari dunia permainan sama seperti menghentikan perkembangan intelektualnya atau potensi yang berkaitan dengan kecerdasan.

2. Persahabatan anak dan orangtua terlihat ketika bermain bersama anak. Sayangnya, orangtua sering tidak mau bermain dengan berbagai alasan. Anak-anak pun dibiarkan tidak punya teman. Inilah kegagalan awal orangtua dalam meningkatkan potensi sosial anak.

3. Anak memahami persoalan moral melalui proses peniruan, maka orangtua harus berhati-hati ketika berperilaku di depan anak karena mereka pasti akan menirunya.

4. Ayah Bunda seringlah bercerita dengan menggunakan benda/properti dari benda-benda di sekitar untuk membentuk imajinasi pada anak sebab anak yang memiliki daya imajinasi yang baik akan menjadi pribadi yang kreatif. Ia bisa berkreasi dengan benda, peristiwa, dan realitas yang dijumpainya. Anakpun menjadi produktif dan tidak jenuh dalam menghadapi setiap peristiwa. Selalu ada ide-ide baru dan menakjubkan yang muncul di kepalanya. Maka, anak kreatif cenderung manjadi anak yang pintar.

5. Berbahagialah orangtua jika anaknya memiliki emosi tingkat tinggi karena itu pertanda anak cerdas dan kreatif. Namun, anak harus tetap dibimbing dalam mengekspresikan emosinya agar tidak merugikan diri danoranglain.

6. Ketakwaan anak tergantung pada orangtuanya. Idealnya, orangtua mengondisikan anak untuk meningkatkan potensi spiritualnya yaitu dengan menjalankan seluruh perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya.

7. Anak memulai perkembangan lingualnya dengan menyimak/mendengarkan. Jangan beranggapan bayi tidak mendengar, ia mendengar dan menyimpan setiap kata yang ia dapatkan dari lingkungannya.

Demikian tujuh poin penting perilaku orangtua yang mempengarui perkembangan potensi anak. Ingat, setiap anak berhak mendapatkan hal terbaik dari orangtuanya!

Yuk, jadi orangtua yang baik bagi anak-anak kita.




Biar Aku yang Berjuang

Bruggg...

Hening malam membuat suara tubuhku yang berdebam terdengar jelas. Semoga saja ini tidak memancing orang-orang untuk keluar rumah dan menuju sumber suara. Semoga saja lelap tidur mereka hingga suara sekeras apapun tidak mampu mengusik.

Ngilu di tangan kiri terabaikan, ada sesuatu yang lebih penting untuk dipikirkan, seseorang yang mungkin saja akan menyusul kepergianku. Aku mencoba mencari jalan lain agar tak mudah untuk ditemukan. Namun rasa gugup juga takut membuatku tidak benar-benar memperhatikan jalan tikus yang licin penuh lumut.

Kerlip bintang bertebaran di langit malam yang semakin kelam namun tidak dengan semangatku yang justru menyala terang. Maka kecelakaan kecil semacam ini tidak boleh menjadi penghalang. Harus bangkit dan kembali bergegas dan melupakan rasa sakit.

Kenapa terburu-buru?”

Sebuah tangan terulur untuk membantuku namun persendianku lumpuh seketika, bahkan sekadar untuk mendongakpun tak ada daya. Suaranya mencoba tenang dengan desah napas tertahan. Ia ada di sini, berhasil menyusulku.

Sosok itu berjongkok, telunjukkannya mengangkat daguku, sedikit memaksa agar tatapan mata kami beradu namun aku memalingkan wajah ke arah aliran sungai yang tersumbat banyak sampah. Bahkan itu lebih baik daripada melihat dula bola hitam di matanya.

Ayo pulang.”

Genggaman tangannya mencengkram pergelangan tangan kananku, semakin mengencang seiring aku memberontak. Kini kedua tangannya berada di pundakku siap mengangkat tubuhku yang jatuh terduduk. Aku menggeleng, lelehan air mata membanjiri pipi, tatapan memohon coba aku hadirkan namun kini giliran ia yang membuang muka.

Mau sampai kapan?”

Suaraku tercekat, jelas itu hanya pertanyaan retorika. Sebab apapun yang coba aku ungkapkan hasil akhirnya harus sama, kembali pulang menuju rumah berdinding anyaman bambu dengan alas tanah yang bergelombang juga atap yang siap diterbangkan angin jika ribut sedikit saja.

Aku tak akan pernah mengijinkanmu untuk melakukan ini,” ibu jari kanannya menghapus warna merah menggoda yang tertempel di bibirku lalu jemarinya merapikan anak rambut yang berhamburan menutupi wajah, rok miniku yang tersobek, juga berbagai peralatan rias yang menghambur dari dalam tas.

Kamulah kehormatanku, apapun alasanmu melakukan ini aku tidak ijinkan. Kita pulang, biar aku yang berjuang.”

Semakin dalam aku terisak, bagaimana bisa aku bertahan hidup dalam gubuk reot dengan seorang pria bodoh yang penyayang ini? Berjuang? Hah, bertahun-tahun ia terus saja mengatakan hal itu namun kenyataannya tak sesuai. Cukup. Aku muak.

Baiklah sekarang pulang, nanti akan aku pikirkan lagi cara untuk kabur dan menjemput kehidupan yang aku impikan.



#TugasKelasFiksi4


Modal Nulis Dapat Barang Gratis

Hai, hai... gimana sensasi baca judul di atas? Hhii, percaya ga? Harus percaya dong. Nih aku kasih bukti nyata. Awalnya aku mau buka bisni...