Dipinang Hafizh - 2

"Kenapa? Kenapa mau mencarikan aku?"

Sesaat ia terdiam. Kutaksir sedang mengumpulkan sejuta alasan dari pertanyaanku tersebut.

"Kau mau yang seperti apa?" tanyanya tenang. Aku menghela napas kesal, pertanyaan macam apa ini, jelas sekali jawabannya kan.

"Yang sepertimu", kataku tegas.

Ia tertawa kecil, renyah, aku suka. Ahh, aku suka setiap detail dari dirinya.

Perlahan air wajahnya berubah. Tak ada tawa, lalu tak kalah mantap ia berujar, "Kau harus mundur."

Apa aku sedih? kecewa? Terpuruk? Sayangnya tidak secepat itu membuatku lesu. Aku menangkap ia tidak sungguh-sungguh mengatakan itu, alasan penolakan yang tidak berdasar, yah semacam hanya emosi sesaat yang butuh untuk dikeluarkan.

Maka senyum menjadi respons awal dariku, "Maaf Nona, kau tidak bisa memaksa hati seseorang untuk menuruti kehendakmu, tidak bisa."

Matanya membuka lebar, dua biji mata hitam itu tepat di tengah, terlindungi oleh kaca dalam bingkai berwarna ungu. Ia memalingkan wajah, aku mengusap dahi, Oh Allah bahkan aku suka melihatnya ketika menolak untuk kuajak beradu tatap.

**

Ahad bada dhuhur adalah waktu sempurna jika kau ingin ke perpustakaan. Jika beruntung maka akan kau dapati ruangan penuh rak buku ini sepi tanpa pengunjung. Hanya kau dan berjuta buku. Tenggelam dalam keheningan yang syahdu.

Lantai dua ruang dewasa selalu memikat bagi jiwa-jiwa yang dipenuhi imajinasi untuk terbang sesuai khayal. Aku baru melayang dan ingin mendarat di Kota Atlantis saat dia berdiri di sampingku.

"Assalamu'alaikum," penuh senyum ia melemparkan salam.

Tergagap aku kembali mendarat ke dunia nyata, tak sempat menjawab salamnya dan ahh, pasti ia menghapal betul jadwal kunjunganku ke perpustakaan daerah ini.

"Tunggu sebentar, aku hendak ke kamar kecil."

Ia segera menuruni tangga, kamar kecil ada di lantai bawah dan kembali sekitar lima menit setelahnya.

Di tengah ruangan, di apit olah rak-rak kayu yang menjulang dengan beragam jenis buku kami duduk beralaskan karpet biru. Ada buku di tanganku, kaki kusembunyikan pada kolong meja dengan tinggi 30 sentimeter itu. Ia melakukan yang sama.

"Mau pinjem buku?" tanyaku basa-basi. Perutku mual, yah mungkin akibat pendaratan yang mendadak dari penerbangan khayalku tadi dan heemmm, aroma wangi lembut menusuk hidungku, bukan dari pengharum ruangan tapi kuduga dari ia yang tergopoh dari kamar kecil tadi.

Ia menggeleng, aku mengangguk. Lebih besar dari ini perpustakaan yang biasa ia kunjungi. Setiap dari buku tebal di sana dituliskan dengan bahasa Arab, jadi mungkin yah, buku di sini tak ada yang menarik di matanya.

"Mau ketemu kamu," balasnya tanpa basa-basi.

"Oh," aku kehilangan kata.

"Katakan, apa yang salah dari diriku, kenapa aku merasa seolah kau tak menginginkan pertemuan denganku?"

Aku mencengkram buku dalam genggaman. Bagaimana bisa ia masih mempertanyakan tentang itu? Padahal ia tahu benar jawabannya.

"Aku akan menunggu, satu, dua bahkan tiga tahun lagi."

Dingin menjalari dari ujung kaki, dan kini sampai pada jari-jari tangan. Pendingin ruangan bahkan tak mampu membuatnya seperti itu.

Di hadapanku kini dengan wajah tak mau mendengar kata "tidak" ada seseorang yang terima saja untuk disakiti hatinya.

Penantian sepanjang apa yang sanggup ia buktikan? Dan ahh ya, alasan kuat apa yang menjadikannya hilang akal seperti ini?



Bersambung...


No comments:

Post a Comment

Yuk sampaikan dengan santun :D

Paket Umroh Murah

Rukun islam yang ke lima adalah naik haji (bagi yang mampu), namun sebagai umat islam tentu keinginan mengunjungi Baitullah adalah sesuatu y...