Mengenal Hakikat Wakaf

Wakaf adalah hadiah atau pemberian yang disediakan untuk keperluan umum. Contohnya Pak Haji mewakafkan tanahnya untuk pembangunan masjid.
Biasanya sering kita mendengar kebanyakan tanah wakaf diperuntukkan selain masjid juga untuk madrasah atau makam, setuju? Ternyata bukan sesempit itu pengertian wakaf.


Kunjungan ke Kebun Indonesia Berdaya Subang, Jawa Barat membuat saya pribadi mengerti apa arti wakaf yang sebenarnya, pemaparan dari dompet dhuafa sangat jelas bahwa hakikat wakaf tidak mululu berputar pada Masjid, Makam dan Madrasah saja namun lebih luas lagi tentang kegiatan yang produktif. Bagaimana wakaf dari wakif (pemberi wakaf) menjadi lebih bermanfaat untuk banyak kaum dhuafa, inilah yang mendasari dompet dhuafa memilih pembebasan lahan untuk menyalurkan kepercayaan wakif.


Di perkebunan ini saya melihat sendiri, sejauh mata memandang terhidang pohon buah naga yang tertata rapi, sayangnya belum berbuah, jadi ga bisa ngrasain panen deh. Ada dua jenis buah naga yang ditanam di sini, buah naga putih dan merah, oh ya ga cuma itu saja, ternyata di sela-selanya ada buah nanas loh, untuk pemanfaatan lahan kosong, begitu kata pemandu.


Makan buah naga sih pernah, tapi liat pohonnya baru kali ini, bener deh serius. Kalian udah tahu kalau ternyata pohon naga butuh penyangga? Iya, jadi tuh sebelum ditanam benih, ada penyangga buatan (semen dan pasir) setinggi 200 cm yang ditanam dulu sedalam 50 cm. Kenapa harus semen? Karena ternyata kayu tak cukup kuat menopang buah naga.


Nah, tak cuma buah naga dan nanas yang ada di tanah seluas 10 hektar ini loh, ada juga sentra ternak kambing dengan kapasitas 300-500 ekor yang dipersiapkan untuk qurban, boleh juga untuk aqiqah. Pemeliharaannya ga main-main loh, sekiranya berat hewan ternak belum layak untuk dijadikan hewan qurban maka ya tidak akan dijual, akan ditinggal dan nantinya pendapatkan perawatan untuk penggemukan.



Oiya, 10 hektar perkebunan ini jelas tidak kami jelajahi seluruhnya, dan yang utama ternyata terlewat. Apa tebak? Perkebunan nanas. Iyaaa, nanas bukan hanya ditanam di antara pohon naga saja, namun memiliki lahan tersendiri, sebab inilah yang menjadi inti dari lahan produktifitas dompet dhuafa di Subang.

Kemarau panjang jelas berdampak pada perkebunan ini, nantinya masalah irigasi akan segera diatasi dengan penambahan sumur. Doakan segera terealisasi yaa kawan, aamiin.


Perjalanan tiga tahun yang mengharu biru menguatkan langkah dompet dhuafa mengolah perkebunan hingga menjadi seperti ini. Dengan total luas sekitar 10 hektar ada 30 keluarga yang diberdayakan. Saya ikut berkaca-kaca menyaksikan Pak Eman, salah seorang petani yang begitu terbantu dengan kerjasama ini. Beliau menjadi petani nanas yang ikut mengolah lahan ini, tidak perlu lagi khawatir tentang biaya produksi juga hasil produksi, semuanya sudah diatur baik dan dibeli dengan harga tinggi oleh dompet dhuafa.


Kenapa dompet dhuafa berani membeli dengan harga tinggi? Ingin mensejahterakan petani tentu saja, hal ini juga karena hasil perkebunan diolah dan dipasarkan sendiri oleh dompet dhuafa. Dari mulai penanaman, produksi hingga distribusi, jelas ini mampu menjaga harga agar tetap tinggi.

Ini serius loh, setelah puas melihat perkebunan, kami diajak melihat rumah industri pengolahan nanas. Baru 80% jadi, rencananya awal tahun 2020 akan mulai beroperasi. Nanas yang sudah dikupas bersih akan di olah menjadi sari buah dan selai. Pasar sudah dibidik, dan siap untuk dipenuhi.


Belum, belum mencukupi seluruh pasar tentu saja. Target untuk memenuhi market industri adalah 6 ton per hari sedangkan sekarang baru mampu menghasilkan 1 ton per hari dari 1 rumah pengupasan nanas. Jadi masih butuh 5 rumah pengupasan untuk mencapai target.

Fiuuuhhh.... sebentar, saya ambil nafas dulu. Ngomongin dompet dhuafa memang ga ada habisnya. Salut, takjub, terpesona, Barakallah... Masya Allah.

Tentang 5 rumah pengupasan nanas tadi, ini tugas kita untuk menjadikannya terealisasi.

Haaa? Wakaf tanah?

Tenang... tenang... haduuh, saya paham kita belum menjadi tuan tanah. Tidak harus seperti itu untuk wakaf. Cukup 10 ribu untuk pembebasan lahan dan mewujudkan lima rumah pengupasan nanas.

Yuii... 10 ribu. Yang buat beli kuota aja ga cukup. Tapi ini serius, hubungi saya aja klo ragu. Berjamaah semua lebih mudah. Ajak keluarga, teman-teman dan komunitas untuk mengumpulkannya, taraaaa.... kita bisa takjub dengan totalnya. Ga percaya? Yuk kita rame-rame wakaf produktif.

Satu hal yang membuat saya tergugu cukup lama, mencoba mencerna makna dan akhirnya mengangguk setuju. Bagaimana 10 ribu mampu memperbaiki taraf hidup keluarga dhuafa, mengamankan tanah dari gerusan pembangunan komersil, dan menjadi alasan Allah Ta'ala untuk menambahkan timbangan amal sholih untuk kita, Insya Allah.

Tidak berat jika kita melihat lebih dekat, bagaimana orang-orang begitu terbantu dengan wakaf kolaborasi ini. Saya pribadi mengucapkan terima kasih kepada dompet dhuafa yang telah menyajikan pemandangan haru, sepuluh ribu mampu menghapus pilu.

Tetap semangat berbagi, semangat memberi arti.


#WakeUpWakaf2019

Pacaran di Semak-Semak

"Boleh kan sekali-sekali kita pacaran di taman?"

"Ahh, males ahh, nanggung di taman itu, cuma bisa pegangan tangan doang."

Eh, memangnya dia mau apa?

"Nanti kuajak ke suatu tempat yang indah."

Benar saja, sore itu pukul lima kurang sepuluh menit dia kembali mengajakku ke tempat yang siang tadi dijanjikan. Setelah melewati jalan beraspal yang berkelok kami berhenti di sebuah lahan kiri jalan. Sudah ada tiga anak perempuan di situ, tapi anehnya cuma ada satu motor. Aku menunjuk ke arah depan, memberikan isyarat untuk memarkir motor tidak di sekitar mereka, bahkan di depan pun ada dua anak laki-laki yang lebih kecil sedang berjongkok, salah tingkah dengan kedatangan kami.

"Di sini?" tanyaku.

Dia mengangguk, kemudian menggandeng lenganku melewati pecahan botol warna hijau, ada juga bungkus snack dan putung rokok.

"Eh, kemana?" Aku mulai panik sebab dia tak berhenti berjalan, sekeliling kulihat pepohonan yang terbakar, seluruh daunnya menguning, entah sengaja atau akibat kemarau panjang.

Tak ada jawaban, aku cemas memikirkan nasib motor yang sudah tidak terlihat mata.

"Ke sini, Dek. Letakkan saja tas dan jaketmu."

Aku mengikuti isyarat tangannya dan meletakkan segala yang disebutkan di atas sisa pohon yang terbakar.

"Bagus kan?"

Aku mengangguk setuju, pohon-pohon yang menjulang ini berwarna coklat, daun-daun berserakan di tanah, eksotis seperti yang sering kulihat tentang musim gugur di eropa sana. Di depan mata, tentu dengan jarak yang lumayan jauh, hutan cemara hijau menghampar, perpaduan sore yang mengagumkan sempurna dengan warna langit yang cerah.



"Hey, wajah khawatirmu itu bisa tidak dihilangkan?"

Aku mencoba tenang, tersenyum simpul. Baiklah, kita terlalu jauh masuk ke dalam kebun ini. Ada banyak hal yang aku khawatirkan, eh dia malah tenang saja.

Tangannya menggenggam jemariku, tersenyum menatap lekat mataku,"Agak dekat denganku," bisiknya. Jantungku berdegub.

Cekrek... cekreekk... cekreeekkk....

Belasan foto diabadikan lewat lensa kamera. Aku sudah tenggelam menikmati hingga sedikit terkejut menyadari bahwa ada empat laki-laki yang sudah bergabung bersama perempuan tadi. Aku mulai tak nyaman, beruntung dia segera mengajakku pulang mengingat senja sebentar lagi datang.

Setelah melewati perkampungan, aku menoleh ke kanan dan kiri memastikan tak ada orang kemudian memeluknya, berbisik lembut hampir menyentuh daun telingannya yang tidak menggunakan helm, mengucapkan terima kasih telah mengajakku jalan-jalan. Dia memelankan laju motor sembari kami bercanda mesra, tiba-tiba ada motor yang mendahului dan melambat tak jauh di depan kami, menggelengkan kepalanya kemudian menancap gas menghilang dengan cepat. Aku terlejut, duh, ketangkep basah.

"Pasti orang itu beristighfar dalam hati yah liat kita."

Aku mengangguk menanggapi.

"Dasar anak muda jaman sekarang."

Kami tertawa, tapi tentu saja aku sudah melepaskan pelukanku.

"Eh, jangan berburuk sangka."

"Hhaa... habis dilihat dari situasi dan kondisi juga gerak tubuhnya sih begitu maksudnya."

Kembali kami tertawa.

Ini keberkian kalinya kami mengalami situasi semacam ini. Merasa di awasi banyak pihak setiap berkunjung ke suatu tempat, entah semak-semak, kebun teh, bahkan obyek wisata sekalipun. Tidak nyaman melihat tatapan mereka.

Dulu tidak nyaman dengan tatapan laki-laki setiap berjalan sendirian, kukira cincin yang melingkar di jari manis menjadi solusinya eh sekarang sudah jalan berdua pun menjadi korban dari orang-orang yang terlanjur menilai rata setiap pasangan muda-mudi yang berboncengan, duh, tetiba pengen punya dedek kecil aja kalau gini.

Lagian kami juga hanya ingin berfoto, mengabadikan lukisan alam yang Tuhan cipta. Kami sudah menikah dan kami ingin pacaran.

Hhaa, menggelikan memang. Harusnya tak perlu was-was toh jika digrebek kami bisa menunjukkan bukti, tapi entahlah, memandang semua sama masih menjadi pekerjaan besar untuk kita, menilai dari kaca mata sendiri, sesuka hati menghakimi. Mungkin yang bisa kami lakukan adalah tidak membiarkan orang lain menerka kami yang tidak-tidak, kami sepakat berpegangan tangan hanya saat berfoto saja, selebihnya jika ditempat umum ya biasa saja, aku bahkan menolak jika dia hendak mengenggam untuk membantu melewati jalanan terjal, duh, kenapa kami terlalu khawatir orang menilai tidak baik kepada kami? Allah... jaga kami, jaga anak-anak kami.

Tulisan ini menjadi pelarian dari kekecewaan saya, hhaa... entah harus bagaimana, setidaknya dengan menulis suasana hatiku membaik.

Teman... bukankah kita tak bisa diam saja? Bukankah harusnya kita jadi pelopor? Lebih berhati-hati dalam berbuat agar kelak orang lain tidak merasakan dampak buruknya.

Semangat berbagi... semangat memberi arti.