Sabtu, 11 Juli 2020

Perpustakaan Segala Ada

Juli 11, 2020 0

Ada hal-hal menakjubkan ketika keinginan yang terbersit dalam hati Allah wujudkan menjadi nyata.

Ini berawal ketika lulus SMA dan aku kehilangan sumber buku gratis, hhee. Ya kemampuan membeli buku masih sangat minim, apalagi belum bekerja kan. Nah, mana pula kutahu ternyata ada ipusnas yang bisa diakses online, etapi mata minus sering jadi kendala dalam menikmati ebook. Hingga akhirnya ada informasi dari seorang teman tentang sebuah perpustakaan yang dibuka untuk umum. Cuss ga pake lama dong ya.

Taraaa... Berada di lantai dua, perpustakaan yang dilengkapi dengan pendingin ruangan ini menyediakan ribuan buku yang sudah dipisah berdasar kategorinya. Huaaa... Pengen nangis terharu coba, oh Allah, sweet banget sih. Buku anak-anak, teknologi, novel, biografi, kamus, sok lah mau cari apa pasti ada bahkan ada buku-buku yang khusus dibawa dari Amerika, kalau ga ada kita bisa tulis permintaan di buku yang telah disediakan. Nantinya pihak perpustakaan akan membelikan dan menjadikan kita peminjam pertama. Ya Allah, ini nikmat ga tanggung-tanggung. Masya Allah.

Biasanya hari Minggu aku akan datang, jika senggang ya berdiam diri cukup lama. Sejak saat itu kemampuan bacaku meningkat, keinginan plus fasilitas yang mendukung, sempurna.

Hingga aku bertemu dengan sebuah buku karya Tasaro GK, dari sinopsisnya menceritakan tentang kisah Nabi Muhammad SAW, cusss ambil. Eh ternyata ini jilid ke 2, tak apa lah. Selesai melahap habis, segera aku mencari jilid pertama, tapi sayang yang ada justru jilid ke 3. Ya sudah, tetap diambil, hhee.

Ada kejadian lucu nih, ternyata jilid 1 sudah lama tidak dikembalikan oleh peminjam, ketika ditagih beribu alasan jadi tameng, waaah keterlaluan.

Saking seringnya aku datang, ada kedekatan antara aku dan semua pegawai perpustakaan, jadilah akhirnya aku punya akses untuk membantu menjemput buku tersebut, wkwkwk, beda cerita kalo ini buku ga aku incer kali ya. Eetapi akhirnya pegawai perpustakaan tersebut memberi tahu kalo buku tersebut kembali dengan selamat, yeeee, padahal pengen sedikit ada drama kalo aku yang ambil.

Sampai saat ini belum ada penulis buku yang menjadi favoritku pun begitu juga buku favorit, mungkin masih harus banyak baca buku lagi ya. Setiap karya yang sempat terbaca memiliki tempat tersendiri di dalam hati dan fikiran, termasuk novel tetralogi karya Tasaro GK ini.

Jadi kisah Rasulullah dan empat Khalifah di sajikan dalam bentuk novel ringan dengan sudut pandang kedua, ada tokoh tambahan yang sengaja diciptakan agar cerita ini semakin menarik. Penulis sangat berhati-hati, setiap kejadian didasarkan pada hadis yang riwayatnya terpercaya.

Seru banget sih, bisa belajar Sirah dengan lebih ringan. Harapanku sih semoga dengan membaca novel ini ada keinginan dalam diri untuk membaca Sirah Nabawiyah versi non fiksi ya, hhee.

Kenapa begitu? Hhee, di kata pengantarnya penulis sudah menyadari akan ada perselisihan ketika beliau menerbitkan novel ini dan saat terbit benarlah, muncul pro dan kontra, hheee. Ada yang tahu atau pernah dengar? Yuk lah kita bahas di beda kesempatan, Insya Allah.

Hingga akhirnya satu buku karya duet dengan suami (awalnya sesama member ODOP) nangkring di perpustakaan tersebut, hhee, yaa sebagai souvenir perpisahan karena aku harus pindah kota.

Terima kasih untuk beliau, suami istri warga Amerika yang memiliki pabrik batik di Laweyan yang telah mendirikan perpustakaan dengan fasilitas luar biasa untuk masyarakat solo raya. Allah yang akan membalas setiap niat dan tindakan Anda dengan kebaikan yang lebih lagi.

Membaca buku tak melulu menyenangkan, ada bosan, malas pun kadang abai tentang pentingnya mengisi otak dengan nutrisi yang positif. Investasi yang ga akan rugi ini perlu kemauan kuat untuk terus berada di jalur. Ada banyak cara kok, tinggal kitanya mau ga kita cari tahu, hhee.

Sekian deh ya, semoga sedikit curahan ini bermanfaat. Tulisan ringan ini semoga menjadi pelecut untuk tulisan-tulisan yang lebih berisi kedepannya.

Semangat berbagi, semangat memberi arti.

Selasa, 30 Juni 2020

First Solo Hiking - 4

Juni 30, 2020 0
Sepertinya usahaku untuk memblokir kontaknya berhasil, tak ada lagi komunikasi di antara kami yaaahh walau kadang rindu juga tapi buru-buru kutepis perasaan itu.

Sekian waktu berlalu, aku mulai berdamai dengan masa lalu, kubuka kembali sehingga kontaknya tidak lagi terblokir. Aman hingga suatu malam, dering khusus itu berbunyi, oh tentu aku sudah menyiapkan hati. Tidak, apa pun nanti yang dia katakan sudah tak sama lagi.

"Hai.." sapanya singkat.

"Hai juga.." tak kalah singkat.

"Apa kabar?"

"Baik."

Sudah kuputuskan aku tak akan bermain-main lagi dengannya.

"Mari kita bicara baik-baik."

"Oh dengan senang hati."

"Cukup jawab pertanyaanku ya."

"Oke."

"Kenapa dulu mau aku ajak nonton bioskop?"

Aku akan jujur kali ini, tak ada yang perlu ditutupi lagi.

"Yah, aku berharap sesuatu darimu, tentu saja."

"Sekarang?"

"Kesempatanmu sudah habis."

"Mau tahu alasanku tidak?"

"Tidak."

"Oke."

Tak aku balas, hingga menit selanjutnya dia kembali mengirim pesan.

"Maafkan aku yang dulu."

"Tentu saja."

"Apa benar tak ada harapanmu padaku lagi?"

"Maafkan aku, mari kita sudahi saja segala prasangka yang membumbungkan  harap di antara kita. Memulai kembali sebagai teman sekolah kurasa jalan terbaik."

"Jadi benar katamu?"

"Iya."

"Oke."

Malam itu selesai sudah masa lalu, tak ingin aku mengoreknya lebih dalam lagi, apa pun yang terpendam dalam hatinya sungguh tak ingin aku ketahui. Tersakiti? Sudah lama aku mengikhlaskan. Biarkan dia masih dalam prasangkanya bahwa aku sudah tak sendiri lagi.


Bersambung ...


Senin, 29 Juni 2020

Debar Melihat Istri Meregang Nyawa

Juni 29, 2020 3
Istri melahirkan

Akhirnyaaa.... aku menghembuskan napas lega beribu kali, menghapus mata yang mulai mengembun dan menggantinya segera dengan senyum bahagia di depan para tamu undangan. Setahun sejak aku meminta ibu meminang Nadia, kini kami sudah duduk bersanding bak raja dan ratu semalam, yah itu kata orang namun dalam hati aku telah berjanji untuk selalu menjadikannya Ratu seumur hidupku dalam istana rumah tangga kami. Niat itu semakin teguh kala dengan mata kepala sendiri aku melihat permaisuriku terbaring tak berdaya memperjuangkan jagoan kecil kami.

Melewati masa ngidam yang alhamdulillah tak ada kendala berarti, aku selalu menjadi suami siaga. Memijatnya lembut kala pegal sudah menjalari seluruh tubuhnya, bahkan tangisan yang kadang muncul saat ia teringat akan sesuatu yang tidak masuk akal, aku selalu pasang badan menenangkannya, mengingatkannya untuk selalu ingat kepada Allah Ta'ala dan mengabaikan segala mitos tentang ibu hamil.

Malam itu, Nadia merasakan kontraksi yang tidak biasa, kata ibu mertua sebaiknya aku membawanya ke klinik bersalin segera. Setelah diperiksa, perawat menyuruh kami untuk kembali pulang sebab masih lama menunggu bukaan sempurna, terlebih ini anak pertama. Ya, manut saja to aku. Sesampai di rumah, justru ibu mertua yang menanti dengan cemas memarahiku dan berujung kami kembali ke klinik bertiga, sebelumnya hanya aku dan istriku. Mereka menggunakan becak sedang aku mengikutinya dari belakang, kebetulan klinik tersebut tidak terlalu jauh dari rumah.

Bertemulah ibu mertua dengan perawat yang tadi menangani istriku, lalu mereka mulai berdebat dan akhirnya istriku diijinkan untuk rawat inap di klinik tersebut.

Kalian pasti bingung ya? Hhhee, jadi ketika aku sampai di rumah, ibuku langsung naik pitam (ya begitulah gambarannya, pokoknya aku baru pertama ini lihat raut wajah beliau merah padam seperti ingin mengumpat, tapi tidak mungkin, ibu mertua orangnya tidak pemarah) karena melihat putrinya yang sudah lemas tak berdaya dan mengeluarkan darah dari organ vitalnya. Hey, jangan dulu kalian salahkan aku, ya mana aku tahu, tadi kan perawat memintaku untuk pulang, ya walaupun selama perjalanan istriku tidak menyahut sedikitpun candaan-candaanku.

Sejak opname, istriku mulai tak berbicara, hanya isyarat lemah yang ia tunjukkan setiap menjawab pertanyaan. Naluri suamiku tumbuh, maka dengan lembut aku menyuapinya dengan potongan-potongan roti lembut sebab mulutnya hanya mau terbuka sedikit. Kalian tahu, jauh setelah proses melahirkan terlewati, istrinya meluapkan kekesalannya sebab aku tak memberinya minum, malah tak henti menyuapi, katanya tenggorokannya kering, namun tak ada daya untuk meminta. Duh, maaf yaa sayaang.

Malam itu istriku kembali kontraksi, baru kali ini aku melihat cahaya hilang dari wajahnya, takut segera menyerap seluruh energiku, namun sungguh aku ingin terus menggenggam tangannya melewati perjuangan ini, untung saja bidan mengijinkan aku untuk berada di samping istriku. Melihat peluh yang tak henti menetes, erangan yang sekuat tenaga ia keluarkan, perintah bidan semua menjadi satu membuat ruangan ini seolah menghimpitku, aku kehabisan napas, rasanya tak ada kekuatan untuk berdiri, namun cengkeraman istriku mengembalikan kesadaran.

Tangis bayi memenuhi udara, aku mengecup kening istriku, menunggunya membalas senyumku namun justru ia terpejam. Bidan memisahkan aku dengan istriku, dengan cepat ia meminta perawat menyiapkan mobil ambulan menuju rumah sakit, eh, ada apa?

Kembali aku limbung, bahkan ketika bidan mengajak bicara aku seperti tidak sadar, untung saja ibu mertua segera datang dan mengiyakan perkataan bidan, eh bidan bilang apa memang?

Tenang, istriku hanya kelelahan saja, ada sedikit tindakan medis yang harus segera dilakukan untuk memulihkan istriku, juga beberapa kantong darah yang harus segera ditranfusikan, klinik bersalin ini punya stok darah? hebat benar, atau sudah dipersiapkan? Ahh, nanti kutanya ibu mertua.

Ambulan yang diminta bidan justru disiapkan untuk anakku, ibu mertua ikut mengantar si kecil ke rumah sakit, sedang aku duduk di lantai koridor rumah sakit sementara istriku di ruangan entah.

Hhaa, ini kenapa seolah aku yang kehilangan akal sehat ya? Ibu mertua hanya menepuk pundakku lembut sembari berkata bahwa sebentar lagi ada keluarga yang datang, jangan khawatir.

Beberapa minggu setelah kejadian memalukan di klinik tersebut, aku selalu menjadi bahan olokan para saudara, berbagai macam candaan konyol ditujukan tanpa tedeng aling-aling, lalu tawa menggelegar memenuhi rumah kami, biasanya dan seterusnya aku hanya diam sembari tersenyum malu, yah memang memalukan sih, tapi coba saja nanti kalian rasakan sendiri bagaimana melewati pengalaman pertama istri melahirkan .

Berbeda hal dengan istriku yang selalu mengucap terima kasih karena mau menemaninya berjuang walau harus mengalahkan phobiaku sendiri dengan jarum, darah, dan bau obat. Ahh, jagoan kecilku sangat tampan, bahkan nanti ketika dia memiliki adik, aku akan melakukan hal yang sama. Semisal yang kedua aku masih mengulangi hal memalukan itu lagi ya mungkin akan menjadi biasa saja di kali ketiga, keempat, atau kelima, bisa saja kan?

Baiklah, kalian ingin membully-ku juga? Ahh, silahkan tapi lebih baik tolong aku untuk menyembuhkan phobia ini, hhee. Terima kasih ya sudah membaca yaaaah walaupun tak memberi semangat, hhaa, bercanda.

Salam untuk calon ayah di luar sana juga calon ibu hebat, dari kita semoga lahir generasi penerus bangsa yang luar biasa membanggakan dunia dan akhirat, aamiin.