Kamis, 06 Agustus 2020

Menanti Buah Hati

Agustus 06, 2020 0
19 September 2019

Hari ulang tahunku yang ke 27, tak hanya bahagia kurasa namun ada haru yang menyeruak kala saksi dan para hadirin mengucap kata "sah" secara berjamaah. Iya, ditanggal cantik itu kamu memberikan kado ulang tahun yang tiada dua, menghalalkan aku setelah sekian lama meminta dalam doa.

Perjalanan honeymoon sesuai rencana, berkeliling kota Jogja, Solo dan Klaten selama seminggu lalu kita melanjutkan hidup di kota asalmu, Bandung.

Malam berganti malam kemudian bulan menjelang hingga perkataan para teman dan juga keluarga membuatku panik, iya apalagi kalau bukan buah hati. Setiap ada yang bertanya maka sigap kau genggam tanganku, menatap jauh ke dalam netra dan berujar, "Jangan dimasukkan hati ya, aku masih ingin menghabiskan banyak waktu berdua." Sejujurnya aku tidak terlalu panik, toh pernikahan kami masih hitungan bulan dan waktu ini bisa kami gunakan untuk saling mengenal lebih dekat sama sama lain.

Suatu hari, entah kenapa aku mulai berpikir untuk segera memiliki buah hati, entah itu karena omongan orang lain atau teman-teman yang tanggal menikahnya tak jauh dariku sudah mulai mengandung, Oh Alllah segitu dahsyatnya kah perkataan orang lain mempengaruhiku? Namun aku masih menahan diri untuk tak mengutarakannya pada suami, sungguh tak ingin ia khawatir denganku yang masih sering rindu kampung halaman, takutnya ia justru menganggap aku tak betah di sini. Sekuat tenaga aku ingin membuat ia nyaman bahwa aku bahagia hidup dengannya.

Sejak gadis aku selalu menandai hari haidku, untuk mengontrol dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, Alhamdulillah jadwal haidku termasuk yang teratur dengan maju beberapa hari setiap bulannya. Ada harap setiap mendekata tanggal haid, meski kecewa jika ternyata tetap mendapat tamu bulanan aku tak pernah mengatakannya pada suami. Hingga bulan Juni, aku setengah ragu karena haid tak kunjung datang, inikah pertanda?

Aku masih menunggu hingga tanggal 30, sesuai dengan tanggal bulan sebelumnya, nihil. Tak ingin terlalu dini bergembira aku mulai membaca banyak artikel tentang tanda-tanda awal kehamilan. Tak ada mual, mood tetap stabil, hanya telat haid saja. Lucunya aku mulai mencari cara lain mengecek kehamilan selain menggunakan test pack. Tebak kenapa? Takut jika hasilnya negatif kemudian akan muncul kecewa. Ini juga menurut artikel yang kubaca bahwa waktu terbaik untuk menggunakan test pack minimal dua minggu setelah telat haid.

Akhirnya ada beberapa cara lain untuk mengecek kehamilan, salah satu yang aku coba adalah mencampurkan garam ke dalam air seni. Bangun tidur, waktu terbaik untuk mengecek hormon human chorionic gonadotropin (hCG)  kulakukan dengan hati berdebar. Hasilnya?

Jadi jika positir maka akan berubah mengental, kalau tidak ada perubahan ya berarti negatif.

Hasilnya negatif. Nah kan kecewa, hhaa. Kemudian menjelang siang, saat kewarasanku membaik aku mulai menyadari bahwa ini tak bisa dijadikan patokan, sebab tak ada ukuran pasti berapa ml air seni juga berapa banyak garam yang harus dicampurkan.

Ternyata suamiku sadar akan tanggal haidku dan mulai bertanya, yah ga jadi kasih kejutan deh. Mengakulah aku namun masih belum percaya diri untuk membeli test pack karena telat haid baru beberapa hari saja, suamiku menenangkan dan berulang kali mengatakan tak ada masalah apa pun hasilnya nanti. Alhamdulillah yah, punya suami yang pengertian.

Gemasnya dalam hati untuk segera tahu, maka ketika suami bekerja dan aku pulang dari tempat les mampirlah ke apotek. Paginya melakukan test sesuai dengan petunjuk. Sekejap saja hasilnya keluar, taraaaa....

Test Pack

Iyuuup, alhamdulillah aku positif. Hasil ini membuat suami jelas terkejut, kan ia tahunya aku belum beli test pack, hhee. Maaf ya itu aku foto setelah satu bulan, jadi garisnya ga jelas dan memudar.

Setelah ini akan banyak cerita seru lainnya yang membersamai waktu-waktu menanti buah hati. Insya Allah tulisan ini sebagai rekam jejak kelak dan sedikit berbagi informasi untuk para calon ibu yang tenagh menanti buah hati.

Salam sayang dari saya.

Sabtu, 01 Agustus 2020

Lemonilo, Produk Makanan Sehat Bebas 3P

Agustus 01, 2020 0
[SP] Sudah lama saya mendengar produk mie instan lemonilo, yang bungkusnya hijau dan harganya sedikit lebih mahal dibanding mie instan lainnya. Katanya sih makanan sehat gitu, ya udah sekadar tahu saja. Eh ternyata, saya diberi kesempatan untuk ikut menghadiri Online Press Conference Brand Ambassador Lemonilo pada hari selasa, 28 Juli 2020. Di sinilah baru terbuka lebih jelas tentang lemonilo.

mie instan

Lemonilo merupakan startup yang dibentuk oleh tiga orang anak muda Indonesia: Johannes Ardiant (Chief Product & Technology), Ronald Wijaya (Co-CEO) dan Shinta Nurfauzia (Co-CEO). Nah, sesuai dengan flyer di atas jelas sekali bahwa Lemonilo menggandeng The Baldys sebagai Brand Ambasador mereka. Kenapa ya? Menurut Ibu Sinta Nurfauzia, keluarga The Baldys dapat menjadi representasi keluarga hebat Indonesia serta rekan yang tepat untuk menyampaikan gagasan Lemonilo akan pentingnya menerapkan hidup sehat kepada masyarakat Indonesia. “Lemonilo sangat senang dapat berkolaborasi dengan keluarga The Baldys. Keluarga ini memiliki misi yang selaras dengan Lemonilo sebagai brand yang ingin membuat gaya hidup sehat bisa diakses oleh siapa saja dan menjadikan hidup sehat sebagai sesuatu yang normal.”

Kalian kenal dong siapa The Baldys? The Baldys adalah nama keluarga dari pasangan Baldy Mulia Putra dan Nola ‘Be3’ beserta ketiga putra-putri mereka yaitu, Naura, Bevan, dan Neona. Naura dan Neona sendiri adalah penyanyi anak Indonesia yang menjadi idola bagi anak-anak dan juga para orang tua. Keluarga The Baldys terjun ke dunia hiburan tanah air sebagai grup penyanyi sejak tahun 2017 lalu. Mereka pertama kali tampil di atas panggung pada pergelaran Konser Dongeng Naura 2 pada 2018 lalu, sekaligus meluncurkan single pertama berjudul ‘Dunia Kita Penuh Cinta’. Kehadiran keluarga The Baldys disambut sangat positif oleh masyarakat Indonesia, tak hanya di panggung musik namun juga sebagai ikon keluarga yang kompak dan penuh keseruan setiap harinya.

Oke, sekarang balik lagi ke produk Lemonilo. Ya, mungkin kalian sama atau aku aja gitu yang baru tahu klo ternyata produk Lemonilo bukan hanya mie instan saja loh, ada 40 varian produk lain juga, mulai dari bumbu-bumbu dapur hingga camilan dan yang terbaru rilis adalah kecap. Semua produk dibuat tanpa pengawet, penguat rasa dan pewarna buatan. Wow, langsung emak-emak terkejut nih pasti.

Iya dong, ini selaras dengan misi Lemonilo sebagai brand healthy lifestyle consumer goods. Lemonilo ingin menjembatani masyarakat Indonesia melakukan pola hidup yang lebih sehat dengan mudah, enak, dan terjangkau dengan menyediakan produk yang sehat juga tentunya.

Produk andalan Lemonilo adalah mie instan, cung yang hobi makan mie instan (saya ikutan angkat jari).

mie instan lemonilo

Silakan dipilih, suka yang goreng atau kuah dengan rasa kari ayam dan ayam bawang. Oh iya, jadi kenapa harga mie instan Lemonilo sedikit lebih mahal dari mie instan lainnya ternyata karena :

1. Produk ini terbuat dari bahan alami, bahkan pewarna mienya saja dari sari pati sayur. Warna hijau terbuat dari ekstrak bayam dan warna kuning terbuat dari ekstrak kunyit.

2. Bebas 3P, mie instan Lemonilo dibuat tanpa pengawet, penguat rasa dan pewarna buatan. Sebenarnya bukan itu saja, sudah dilakukan penelitian mendalam untuk tidak juga memasukkan 100+ bahan kimia lainnya ke dalam produk.

3. Dipanggang, jika biasanya mie instan dikeringkan melalui proses penggorengan maka Lemonilo justru memilih untuk memanggang produknya.

Waw banget ga sih? ternyata bener ya kita harus mengenali dulu sebuah produk sebelum memutuskan untuk mengonsumsinya.

Nah berita baiknya nih Lemonilo ga akan berhenti sampai di sini, akan ada terus produk-produk baru yang tentunya menyehatkan hadir untuk memenuhi kebutuhan harian masyarakat Indonesia. Makanan yang menyehatkan akan berpengaruh terhadap pola pikir dan mental juga loh, dengan mengonsumsi makanan sehat akan membuat kita bahagia dan tentunya kita tidak ingin bahagia sendiri dong ya, yuk ajak saudara juga orang sekitar untuk bahagia bersama.

Terima kasih Lemonilo sudah mengedukasi kami untuk sadar betapa pentingnya gaya hidup sehat itu. Sukses selalu dan kami tunggu inovasi-inovasi yang menginspirasi.

lemoniloxthebaldys
Tebak saya yang mana :D


Selasa, 28 Juli 2020

Bukti Cinta Di Hari Raya

Juli 28, 2020 0
Takbir menggema di seluruh penjuru, saling bersahutan dengan desa seberang, anak-anak mulai berlarian mengikuti dengan senyum ceria setiap hewan yang hendak dibawa ke masjid, semua bersuka cita, tak ada yang berduka, begitupun denganku yang tak henti memikirkanmu.

Tepat di hari raya Idul Adha tahun lalu, engkau kembali ke kotamu setelah sebelumnya melintasi ratusan kilometer untuk meminta Bapak mempercayakan anak gadisnya. Degub jantung mungkin teredam oleh suara hewan qurban namun senyuman ini tak ada yang mampu menutupinya. Aku bahagia menjelang hari raya di tahun ini akhirnya kita bersama.

Nyatanya pernikahan bukanlah gula-gula yang hanya memiliki rasa manis saja namun berbalut begitu banyak ujian yang justru menjadikannya sempurna dengan segala rasa. Allah Ta'ala Sang Maha Cinta telah memberikan kisah cinta menarik yang tertulis dalam surat cinta-Nya sebagai pedoman bagaimana sepasang kekasih yang berada dalam ikatan suci pernikahan menyikapi setiap ujian yang datang menerpa rumah tangga.

Nabi Ibrahim as mendapatkan wahyu untuk membawa istrinya menuju tanah tandus tak berpenghuni. Disinilah ketaatan seorang istri yang Ibunda Hajar tunjukkan terhadap suaminya. Malam-malam dingin dan panas terik yang selalu menemani perjalan mereka tak menjadikan beliau ragu dengan tujuan suaminya, padahal saat itu Nabi Ibrahim tidak memberitahukan tujuan dari perjalan mereka. Ada rasa percaya bahwa suaminya tidak akan membawanya ke sesuatu yang salah.

Hingga tibalah mereka di padang pasir, Allah Ta'ala memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggalkan Ibunda Hajar bersama dengan Ismail yang kala itu masih bayi. Coba bayangkan andai kau seorang Hajar, ditinggal di tanah antah berantah tanpa ada orang, juga bekal yang sebentar lagi akan habis. Sanggupkah?

Setelah lama berdiam diri, akhirnya Ibunda Hajar bertanya kepada suaminya yang telah berjalan menjauh darinya.

"Apakah Tuan akan meninggalkan kami di sini?"

Nabi Ibrahim as menghentikan langkah, namun tidak ada jawaban yang keluar bahkan hingga Ibunda Hajar bertanya untuk kedua kalinya.

Melihat suaminya tak bersuara maka Ibunda Hajar paham benar apa yang terjadi, menjadi istri seorang Nabi Allah tentu berbeda dengan manusia lainnya. Maka beliau merubah kalimat pertanyaan kepada suaminya, "Allah kah yang perintahkan?"

"Iya, Allah Ta'ala yang perintahkan."

Maka dengan kelapangan hati yang luar biasa, Ibunda Hajar merelakan suaminya pergi. Sebelum itu beliau mengantar kepergian suaminya dengan kata-kata yang menentramkan hati, "Jika memang Allah yang perintahkan, maka Dia tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya."

Masya Allah, nangis deh bener denger kisah ini. Setegar dan sekuat itu Ibunda Hajar.

Maha Besar Allah yang tidak mungkin meninggalkan hamba-Nya, Ibunda Hajar menciptakan peradaban di tanah suci Mekah dengan air zam-zam yang mengalir di bawah kaki anaknya, Ismail.

Bertahun-tahun berlalu, Ismail telah dewasa dan pertemuan dengan ayahnya menghadirkan haru. Bukan cacian dan makian namun sambutan hangat penuh hormat dari Ismail untuk Nabi Ibrahim as. Ibunda Hajar telah berhasil menanamkan rasa cinta kasih yang berdasarkan iman kepada ananda tercinta, bahwa jika semua berlandaskan iman kepada Allah maka tak ada yang perlu diragukan, itulah yang menjadi dasar Ismail membenarkan dan menerima mimpi Nabi Ibrahim as untuk menyembelihnya.

Kesekian kalinya Allah Ta'ala menunjukkan cinta-Nya, Ismail yang terbaring diganti dengan seekor domba yang hingga kini menjadi syariat dilaksanakannya Idul Adha.

Jadi, beranikah kita mengatakan, "aku adalah ismail?"

Pedoman hidup yang telah tertulis sempurna dalam kitab suci Al-Quran selayaknya menjadi rujukan kita dalam menghadapi setiap masalah dalam kehidupan. Mari semangat belajar. Berusaha mencontoh teladan Ibunda Hajar untuk melahirkan ismail-ismail yang kelak berguna bagi agama, keluarga, bangsa dan negaranya.

Oh Allah, sungguh Engkau telah memberikan tauladan terbaik dari nabi-nabi pilihan.

Allahumma sholli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad kama shollaita 'ala Ibrahim wa 'ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid. ... Ya Allah, berilah keberkahan kepada Muhammad dan kerabatnya karena engkau memberi keberkahan kepada Ibrahim dan kerabatnya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.