2013 Terakhir Kita Bersua

Malam belum larut, mata masih terjaga namun tak ada niatan untuk melakukan sesuatu. Ahh, malam minggu pasti tak masalah jika bermalas-malasan, meringankan kinerja otak setelah sepekan harus berputar dengan banyak hal yang memusingkan. Anggaplah ini hadiah untuk diri sendiri.

Gawai aku letakkan di sebelah tubuh, hening, tak ada pemberitahuan apa pun sedari tadi. Hmmm, begitulah. Mereka yang sering muncul pun akan diam jika sabtu malam menjelang.

Aku meletakkan guling menyender pada tembok lalu memposisikan tubuh sedemikian rupa agar nyaman beberapa jam ke depan. Lembaran-lembaran buku tebal yang sejak bulan lalu belum juga rampung kembali kujelajahi. Dua puluh menit berlalu hingga gawaiku bergetar. Melirik sejenak untuk memastikan dan memutuskan harus bertindak atau biarkan saja. Bukan sekadar tersenyum bahkan aku melonjak melihat siapa nama yang tertera di layar.

Namamu.

Hhii, sudahlah tak perlu kusebutkan siapa namamu. Kenapa? Nanti alasannya ada di paragraf mendekati ending dari tulisan ini.

Balas segera atau menunggu beberapa waktu? Hendak membalas bagaimana ya?

Pesan belum sepenuhnya aku buka. Hanya baris awal yang justru semakin membuatku penasaran dengan kelanjutannya.

"Dik, sekarang dimana ... "

Apa yah lanjutannya? Lama sekali menunggu detik jarum berpindah tempat. Aku sudah tak sabar untuk membaca lanjutannya.

Baiklah. Sepuluh menit kurasa cukup.

Kalian tahu apa pesan utuhnya? Hanya spasi kemudian tanda tanya, hhaa. Iya benar, tak ada kelanjutan selain yang sudah terpampang di layar tanpa perlu aku membuka seluruhnya. Itu saja sudah membuatku tak henti tersenyum. Belum... tak segera aku membalasnya. Aku justru melihat pesan-pesan sebelumnya dan yahh April 2013 sejak dia tahu bahwa aku adik dari teman satu organisasinya.

Tahun 2013 saat aku malu-malu mengurung diri di kamar saat dia datang untuk membahas program kerja dengan teman satu organisasinya, kakak sulungku. Di lain hari aku terpaksa mengintipnya dari balik tembok saat dia tiba-tiba muncul untuk menangkap kelinci Bapak yang lepas dari kandang, Bapak saat itu sedang pergi dan Kakak entah di mana, pokoknya cuma dia laki-laki yang ada di rumah.

Kekagumanku sebatas itu hingga suatu hari kami berpapasan di SMA. Aku sudah mencoba bersembunyi di balik badan teman, namun dia justru memanggil. Eh, tahu dari mana yah namaku? Terpaksa aku berhenti dan mengangguk canggung. Perlahan dia menghampiri dan jantungku berdegub tak beraturan. Genggaman tanganku mencengkram erat jemari teman, takut kalau-kalau dia pergi dan membiarkanku sendirian dalam situasi ini.

Dengan senyum yang membuatku tak berkutik dia menyerahkan sebuah buku, "Ini dibaca yah, minggu depan aku ambil ke rumah. Ingat, itu pinjam lo."

Semua berlalu dengan cepat dan temanku melongo sesaat setelah dia menghilang dari balik parkiran motor.

"Kok bisa kenal?" (Baiklah, temanku termasuk adik kelas yang panas dingin jika bertemu dengan kakak kelas yang seorang aktifis, hmmm)

Aku masih belum bisa berbicara. Rasanya pengen cepat-cepat ke kelas dan melihat buku yang dipinjamkan.

Oiya, kenapa aku bersikap seperti itu? Kakak sulungku akan bersikap dingin jika aku dekat-dekat dengan laki-laki. Aku tidak mau mendapat perlakuan seperti itu makannya lebih baik bersikap tak peduli daripada kehilangan perhatian kakak, kan? Pengen protes sebenarnya, harusnya kakak tidak mengajak pulang laki-laki ke rumah dong. Hmmm, merepotkan.

Aku terkikik geli melihat history messenger yang tata bahasanya sangat berlebihan. Yah, ternyata aku bisa alay juga ya. Menulis satu kata dengan banyak huruf mubadzir, alay beut deuh.

Menjelang kelulusan tak ada kabar berita hingga aku lupa rasa debar yang pernah menjalar.

Sekarang, setelah sembilan tahun berlalu dan dia kembali. Aku harus bagaimana?

Kakak... lihatlah. Bagaimana susah payah adik perempuanmu ini menjaga diri.

Kemudian aku tersadar. Ini sudah tengah malam. Untuk apa aku berkomunikasi dengan laki-laki asing di waktu yang tidak wajar?

Kuputuskan untuk tidak menjawabnya. Kemudian mencoba untuk memejamkan mata. Nihil. Aku masih tak ingin tidur.

Terngiang pesan ustadzah tadi siang. Salah satu cara wanita menjaga diri adalah dengan tidak membuat laki-laki jatuh cinta padanya (terlebih untuk yang sudah bersuami).

Baiklah. Jangan memancing.

Kakak... tolong doakan agar kelak tidak merepotkan suamiku karena secara sadar atau tidak telah membuat laki-laki lain jatuh cinta padaku.

Doakan aku di multazam, di kota suci Mekah yang tak lama lagi segera kau kunjungi. Tak henti lantunan doa mengiringi langkahmu menuju panggilan-Nya.

Susahnya Mencapai Khusyuk Dalam Shalat

Alhamdulillah masih inget sama janji buat nulis pengalaman shalat jamak yah, hhii. Sebenernya bukan karena lupa sih tapi lebih ke males aja, duh jangan ditiru.

Shalat adalah ibadah penting, tiang agama yang akan dihisab pertama kali. Itulah sebab kenapa Nabi SAW mewanti-wanti umatnya untuk menghadirkan hati ketika mendirikan shalat. Masalahnya kita ini jangankan shalat, suruh baca buku aja susah fokus, betul? Eh apa cuma aku aja?

Teringat kisah tentang sahabat Nabi SAW, Ali bin Abi Thalib saat diuji shalatnya. Beliau menjanjikan akan memberikan sorban jika Ali ra berhasil khusuk dalam shalatnya, boleh memilih warna biru atau merah. Nah, Ali ra menjalankan shalat dengan khusyuk, menurutnya. Lalu setelah selesai segera ia menyebut salah satu warna sorban karena yakin lolos dari tantangan Nabi SAW.

Apa kata Nabi SAW?

Ternyata Ali ra belum khusyuk dalam shalatnya sebab masih memikirkan hal lain, ini terlihat jelas saat Ali ra sudah memutuskan sorban apa yang hendak dipilihnya.

Siapa yang meragukan keimanan Ali ra? Jika Ali ra saja masih belum sepenuhnya khusyuk dalam shalat lalu bagaimana dengan kita?

Susah memang mencapai khusyuk itu, terlebih di kepala kita masih berputar urusan duniawi yang tiada habisnya. Seperti pengalaman yang belum lama ini.

Sekitar pukul 18.00 WIB aku sudah bersiap di dalam mushola stasiun, hendak menjalankan shalat magrib, tenang saja sebab jadwal kereta masih pukul 18.30 WIB. Namun tetiba ketenanganku terusik ketika terdengar dari pengeras suara bahwa kereta yang akan membawaku ke Jakarta sudah tiba di stasiun. Bersamaan dengan itu iqamat dikumandangkan dengan cepat. Ingin hati shalat munfarid namun apa daya sudah berada di tengah shaf makmum yang saling berdempet di dalam mushala kecil ini.

Alhamdulillah, imam membaca surat pendek seolah mengerti keadaan hati kami yang tidak tenang. Di dalam otak aku sudah menyusun rencana sehabis magrib segera masuk gerbong. Shalat isyanya bagaimana? Nanti gampang lah bisa di dalam gerbong atau di stasiun tujuan, sebab jadwal tiba belum menemui waktu shalat subuh.

Namun yang akhirnya tidak seperti itu. Tak lama usai salam imam segera beranjak berdiri kembali, ahh pasti ini jamak shalat isya. Baiklah, semoga tidak lama-lama, hatiku sudah tak tenang mengingat waktu yang cukup lama berlalu sejak pengumuman dari pengeras suara terdengar. Alhamdulillah ternyata imam meng-qashar shalat isya. Menjadikan yang empat dua. Segera, tak ada dzikir, tak ada doa, aku beranjak memasuki gerbong kereta.

Taraaa....

Kereta berangkat sesuai jadwal yang tertera. Memang datang lebih awal namun menunggu di stasiun hingga tiba saatnya untuk kembali berangkat.

Aku? Maluu... Astaghfirullahal 'adzim... ampuni hamba Ya Allah.

Bagaimana tentang pahala shalatku tadi? Wallahu 'alam.

Sebenarnya lebih banyak hal lagi yang aku pikirkan sedari shalat tadi, seperti tuntutan kepada pihak KAI jika sampai aku ketinggalan kereta karena tidak sesuai jadwal.

Baiklah, banyak hal yang bisa diambil pelajaran dari setiap pengalaman. Terharu aku terhadap imam shalat, aku berfikir mungkin beliau juga salah satu penumpang kereta yang menunggu waktu keberangkatan. Beliau memahami betul tentang syariat islam yang memberikan keringanan bagi musafir untuk mendirikan shalat wajib. Aturan menjamak dan mengqashar shalat juga surat-surat pendek yang menjadi pilihan.

Dan ... sombongnya aku yang berlalu begitu saja, meninggalkan tempat sujud tanpa lebih dulu meminta perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Terlupa bahwa sembilan jam perjalanan berada dalam genggaman-Nya.

Tak boleh terlena, ini menjelaskan tentang ilmu yang belum seberapa, saatnya menyadari untuk terus mempelajari, syariat-syariat islam itu mudah dan dengan berpegang teguh padanya ketenangan juga kenyamanan baru akan didapat.

"Sesungguhnya seseorang ketika selesai dari shalatnya hanya tercatat baginya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, separuh dari shalatnya." [HR. Abu Daud no. 796 dan Ahmad (4/321), dari 'Ammar bin Yasir. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadist ini hasan.]

2013 Terakhir Kita Bersua

Malam belum larut, mata masih terjaga namun tak ada niatan untuk melakukan sesuatu. Ahh, malam minggu pasti tak masalah jika bermalas-malasa...