apa

Kepingan Rasa Puzzle 12

Puzzle sebelumnya silahkan baca di sini


Terkuras sudah energiku untuk sekadar mengetahui bahwa ayah datang dan mendapatiku tidak di tempat semestinya. Beliau menegur Gilang, Sang Ketua Kelas yang harus bertanggung jawab atas ini semua, aku benci dia, benci sekali.

Tubuh lemahku kini di atas ranjang UKS, Anita, anggota PMR yang bertugas hari ini sedikit memaksaku untuk meminum teh panas. Wajahku menunduk, mana berani memandang ayah yang pasti malu atas ulahku. Gilang, aku benci kamu. Bagaimana bisa seseorang seperti dia terpilih menjadi ketua kelas? ahh, aku masih tak habis pikir.

"Mau dibuka jilbabnya?"

Aku menggeleng cepat, peluh yang membanjiri wajahku belum menjadi alasan kuat untuk melakukan hal itu. Terlebih di ruangan ini masih ada ketua kelas menyebalkan itu. Mau apa di sini? Kumohon siapa pun, usir dia.

Ayah mendekatiku, memegang dahiku, "Masih ada yang sakit?"

Ingin rasanya menangis, ini hari kedua dan aku sudah mempermalukan ayah.

"Boleh aku ijin pulang, Yah?"

"Istirahatlah dulu di sini, nanti Ayah akan kembali."

Ayah berjalan keluar UKS bersamaan dengan bunyi bel tanda masuk kelas, Anita menyelesaikan tugasnya menyelimutiku juga mendekatkan teh manis di atas meja kecil sebelah ranjang.

"Akan ada guru piket di ruang sebelah, kamu bisa memanggil beliau jika membutuhkan bantuan."

"Terima kasih," balasku dengan senyum lemah.

Anita pun berlalu menuju kelasnya, tak ingin terlambat mengikuti pelajaran pertama.

Gilang mendekatiku, berdiri di samping ranjang. Kutarik selimut dan terpejam menghadap tembok.

Satu menit... dua menit... lima menit... Hei, apa dia tidak berniat untuk masuk kelas? Sungguh tidak patut untuk di tiru. Kembali aku menanyakan kesadaran teman-teman yang telah memilihnya menjadi ketua kelas.

Entah menit keberapa akhirnya dia meninggalkanku setelah lirih berujar, "Cili, cepat sembuh ya. Maafkan aku."

Tak ayal aku tertegun sejenak, bisa juga yah dia minta maaf. Akan kumaafkan jika ini bisa menyelesaikan semuanya.

Hening ruang UKS menerbangkan pikiranku menangkap kemungkinan-kemungkinan setelah ini. Ayah, maafkan aku.

Sepuluh menit sebelum jam pertama usai aku telah berbenah, merapikan seragam dan bersiap untuk masuk kelas. Aku tidak mau tertinggal banyak jadi kupaksakan diri untuk hadir di kelas.

Semua mata memandang saat aku mengetuk pintu kelas, Bu Erlin guru fisika mempersilahkan untuk masuk. Ekor mataku menangkap tatapan Gilang yang sepertinya khawatir, sudahlah, jangan perdulikan dia.

"Kamu nggak bilang kalau alergi pedas?"

Aku akui kebodohanku yang mudah sekali terperdaya muslihat Gilang, "Agni, aku fikir semua murid baru harus taat untuk misi rahasia ini."

"Misi rahasia?"

"Iya, Gilang bilang ini misi rahasia."

Agni menepuk pelan dahinya, "Jangan pernah percaya dia lagi, tak pernah ada misi rahasia semacam itu."

"Tunggu, jadi menurutmu aku dibohongi?"

Bu Erlin melirik kami yang sejak tadi kasak-kusuk sendiri. Setelah beliau kembali menerangkan rumus vektor di whiteboard, Agni menjawab pertanyaanku, "Benar sekali. Anak itu kurang waras."

"Emm.. tapi kenapa kalian memilihnya menjadi ketua kelas?"

"Apa yang kaubilang? Muklis ketua kelas kita bukan Gilang. Ayolah Ci, masak orang nggak jelas kayak gitu kita pilih jadi ketua kelas, sih."

Sempurna sudah, aku merutuki berulang kesalahan fatal mengenal orang asing seperti dia. Ahh, bagaimana bisa.

Kelas Bu Erlin usai, Pak Tono menggantikan beliau untuk mengenalkan kami tentang nama-nama latin virus. Kelas berjalan sedikit gaduh sebab kami diharuskan menirukan ucapan beliau menyebutkan istilah ilmiah tersebut yang sudah jelas tak lazim di ucapkan.

Paramyxovirus,  Vacciniavirus, Orthomyxovirus...

Sembilan puluh menit waktu beliau harus terpotong lima belas menit istirahat, semua penghuni kelas berlomba untuk tercepat meninggalkan ruangan.

"Beneran nggak mau jajan?" tawar Agni

"Aku mau istirahat aja yah di dalam kelas," tolakku ramah saat ia mengajakku ke kantin.

Gilang menjadi satu-satunya murid di kelas ini selain aku, dia beranjak dari kursinya mendekatiku. Tak lama Bayu teriak dari ambang pintu.

"Gilang, Cili... Kalian disuruh ke kantor guru, sekarang."

Kak Awie Bukan Pengangguran

Oh jadi Kak Awie ngasih tantangan tentang pandangan kita nih? Dih, sok terkenal amat sih, hhaa.

Eh tapi memang bener loh, member odop yang sejak awal eksis banget sampe aku nggak percaya kalau orangnya ternyata bukan pengangguran. Orang pertama yang tiba-tiba telpon dan langsung ngajak ngobrol panjang lebar. Nggak ada masalah sih, tapi malem banget dia telpon. Kayaknya aku dimanfaatin deh suruh nemenin kerja, hhaa.

Dilema kalau di telpon Kak Awie tuh, mata udah ga kuat melek tapi tiba-tiba ga jadi ngantuk soalnya pasti ngakak. Ada aja hal yang dibahas, mungkin karena kita sama-sama wanita kali yah? Urusan kerjaan, jalan-jalan, beberapa orang yang ternyata kita berdua kenal, sampai urusan akhirat belajar agama.

Nggak tahu deh gimana kalau ketemu langsung, bisa begadang kita, hhaa.

Kembali lagi bahas eksisnya Kak Awie yah, kalau buka sosmed nih terutama facebook pasti akan selalu ada postingan dia. Heran deh, tuh status kalau digabungin bisa loh buat ngisi blog yang lumutan, bersawang juga mungkin sudah dihuni kelelawar, hhaa.

Masih nggak percaya? coba aja kirim pesan, fast respon banget lah, maklum sih yang dulu pernah jualan online, hhii.

Kak Awie bukan pengangguran, percaya saya. Karyanya bertebaran dimana-mana dan itu bukan sesuatu yang bisa di dapat dengan duduk nglamun aja loh. Tanya apa aja coba sama dia, pasti tahu, kalau nggak tahu itu Kak Awie cuma pura-pura, dia orangnya gitu kadang suka merendah pantesan hobi duduk di atas rumput, nggak nyambung, hhaa.

Masih banyak sih yang mau aku sampein tentang Kak Awie tapi males ahh ntar dikira ghost writer biografinya dia lagi, bukan apa-apa, nggak dapet royalti, hhaa becanda eh beneran eh, ahh gitu deh.

Sekian dulu pandangan aku tentang Kak Awie sengaja nggak di kasih foto, ntar dia tambah terkenal lagi, biar sekarang giliran aku yang terkenal, hhaa.

Kak Awie, kenapa jarang telpon? Udah inget tidur? :v

Sehat selalu Kak, semoga Allah memberikan kita kesempatan untuk bertemu di dunia nyata, aamiin.

Satu lagi, nggak papa klo nggak bisa ninggalin komentar di blog, paham kok, kuota limit kan? hhiii.




Ditulis dengan tulus juga hati riang.

Kenangan Mandi Air Panas

Seminggu ini keadaanku sedang tidak asyik untuk di ajak beraktifitas cepat, yah sedikit kelelahan. Tiga hari di luar kota sukses membuat kepalaku berdenyut ringan. Lalu janji bertualang dengan teman kerja sempurna membuat tubuhku ingin bedrest.

Ahh tapi tidak juga, jiwa muda yang masih menggelora memulihkan segera lelah meski malas kadang tertinggal. Kalau malas sepertinya bawaan orok, hhii.

Bergelut dengan debu jalanan mengharuskan aku untuk mandi agar gatal tak mengganggu lelap tidur malam nanti. Tapi yah, jujur dari dalam hati malas masih meraja hingga niat untuk beranjak ke kamar mandi nyaris tak ada.

Adzan magrib membuyarkan segalanya, keputusan harus segera di ambil. Baiklah aku mandi dengan air panas. Bukan air mendidih yang langsung aku guyurkan, logikaku masih jalan untuk mengingat aku hanya manusia biasa yang tak tahan panas yang terlalu.

Kawan, tak usahlah berdebat tentang baik buruknya mandi menggunakan air panas, ada yang lebih penting dari itu semua. Iya, kenangan.

Saat air hangat menjalari seluruh tubuh otakku langsung menarik segala kenangan di masa kecil, ahh aku tak bisa lupa. Kala itu saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak aku yang bandel sering kali berkilah jika disuruh tidur siang, kalau sekarang tak perlu dipaksa pasti kulakukan dengan senang hati, hhe. Akibatnya aku tertidur menjelang sore dan terbangun saat matahari baru saja tenggelam.

Mamah selalu menyuruhku mandi agar tak lemas badanku sehingga bisa belajar dan mengaji, air sudah dijerang jadi tak perlu takut kedinginan.

Itulah, mandi air panas selalu mengingatkanku tentang kasih sayang mamah, perhatiannya yang tak mampu dibalas dengan emas permata. Terlebih saat semakin dewasa interaksiku dengan mamah tak seperti dulu, sehat selalu ya Mah.

:)



Ingat-ingat ini saat kesabaran di ujung batas ngajarin mamah pake whatsapp.

 

Kepingan Rasa puzzle 10

Baca puzzle sebelumnya di sini


Sambungan telpon terputus, masih belum sepenuhnya paham tentang apa yang dibicarakan Gilang tadi. Lama aku pandangi foto Agni dan Raiya yang berdiri menghimpitku di taman sekolah, foto yang aku jadikan wallpaper tersebut di ambil hari ini saat mereka mengajakku berkeliling mengenalkan bagian-bagian sekolah.

Mereka menyambutku dengan baik membuatku sedikit merasa nyaman memulai hari. Bandung masih bagian indonesia kan? Dimana kata orang penduduknya ramah-ramah dan aku percaya sebab telah membuktikannya sendiri.

"Ayah, eemmm... Kenal Gilang nggak?"

Ayah meletakkan koran dari tangannya ke atas meja, pandangannya beralih kepadaku.

"Apa dia mengganggumu, nak?" Ibu yang datang dari arah dapur rupanya mendengar pertanyaanku.

"En... Enggaak kok Bu, Gilang itu teman sekelasku."

"Gilang ya, dia memang cukup unik tapi tidak berbahaya."

"Unik seperti apa yang Ayah maksud?"

"Pada dasarnya setiap murid memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan siapa dirinya, seperti apa dia ingin dikenal."

Jika Ayah bilang kalau dia baik berarti memang tak ada yang perlu dikhawatirkan, Agni dan Raiya juga tidak memperingatkanku tentang Gilang, jadi kesimpulan awal anak itu memang aman.

"Memang murid yang punya nama Gilang cuma satu, yah?"

Ahh, pertanyaan ibu membuatku terkejut, iya ya bagaimana kalau Gilang yang ayah maksud berbeda dengan teman satu kelasku?

"Seingat ayah sih iya, yang terkenal cuma satu, hhee."

"Kenapa nada bicara ayah gitu sih?"

"Sudahlah nak, memangnya ada apa dengan Gilang?"

"Emm.. Ayah tau tentang.. Emm.."

Aku mengurungkan niat untuk menanyakan tentang misi rahasia, belum saatnya untuk khawatir.

"Ada masalah, Sayang?"

"Tidak ada bu," aku memeluk lengan ibu dan menyenderkan kepalaku, meyakinkannya bahwa dihari pertama putrinya masuk sekolah, semuanya berjalan baik.

"Ayah, besok boleh aku berangkat sekolah sendiri? Jam 6 pagi harus sampai."

Ayah memandangku penuh selidik, "Ada apa? Satpam pun belum datang."

"Tugas kelas, Yah. Boleh ya?"

"Memang sudah hafal jalan?"

"Sudah dong Bu, kan tidak sulit, tidak terlalu jauh juga."

Ibu memandang ayah, meminta persetujuan dalam isyarat tatapan mata. Aku menunggu dengan cemas, jika ayah tak mengijinkan maka dipastikan aku akan dapat masalah dari ketua kelas.

"Kamu yakin?"

Anggukan mantap aku tunjukkan dan ayah akhirnya memberikan ijinnya. Ijin ayah sudah sepaket dengan restu ibu sebab beliau selalu yakin dengan keputusan yang ayah ambil.

Aku menuju kamar setelah mendapat persetujuan dari ayah dan ibu.

Sekolah ini aneh, dulu di Solo tak ada misi rahasia seingatku. Heem, baiklah aku tidak sabar untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan misi rahasia yang disampaikan sang ketua kelas.

Pacar Baru

08:04

Fiuhh... terlambat. Aku sudah berangkat tiga puluh menit lebih awal tapi ada sedikit masalah di minimarket dimana aku harus melakukan transaksi ATM terlebih dahulu, antri, lalu truk truk pengangkut pasir berjalan seperti keong, tak apa-apa sebenarnya itu aman tapi maaf setengah dari badan jalan terpakai, hhee.

Saat aku tengah memasukkan tas ke dalam loker, Tya menghampiri, "Ciee.. pacar baru."

Aku hanya tersenyum, dasar.

Mendengar hal yang tak biasa di pagi hari teman-teman langsung melongokkan kepalanya, tertuju padaku.

"Mana-mana?"

"Memang tadi dianter, Ci?"

"Hhaa sabar dong kalian."

"Lihat mana."

Terpaksa aku duduk dulu untuk menuntaskan rasa penasaran mereka, tersenyum dan menunjukkan hal yang mereka inginkan.

"Cakep nggak?"

Gita mengerutkan dahi seolah sedang berpikir, Lesli manggut-manggut masih memperhatikan, Tya senyum-senyum nggak jelas.

"Hei, gimana?"

"Cocok.. cocok kok sama kamu."

"Eh beneran?"

"Iya, serasi."

Aku melenggang penuh dengan senyuman, rasanya hari ini akan aku lalui dengan percaya diri, hhii, pacar baru... bahagianya terlebih teman-teman mendukung.

Di lantai dua saat aku tengah sibuk memandang angka, Tya datang dengan berkas di tangan, menghampiri senior untuk meminta persetujuan.

"Ciee... yang punya pacar baru semangat banget kerjanya."

Tak begitu kuindahkan, hanya sebaris senyum tipis menjadi respon akan sapaannya.

"Pacar baru?" tanya senior dengan mata sibuk mencerna isi berkas.

"Tuh mbak, si Cili."

"Hhaa, dasar kurang kerjaan, gitu aja pake disebarin ke semua orang," jawabku.

Di kantor ini sedikit informasi sangat penting disebar agar semua tahu info terbaru, dan Tya adalah seseorang yang bertanggung jawab atas itu.

Senior memandangku, ia lebih waspada akan nasibku ke depan. Setiap informasi menjadi gerbang terbukanya kemungkinan Galau Syndrome dimana sangat berbahaya dan mempengaruhi kinerja kami.

"Kasih tahu lah Ci," desak Tya.

Baiklah sebelum senior berfikir aku sedang jatuh cinta.

Kelima jari kiriku menggantung ke udara, menggeliat seperti cacing di tanah dan pertunjukan ini ditutup dengan senyum manis bahwa aku baik-baik saja dan senior kena perangkap Tya yang pandai merangkai kata.

Aku melihat ekspresinya yang ingin memindahkan broadmarker dari tempatnya di  ujung whiteboard ke kepala masing-masing dari kami. Pacarku berwarna merah bata dan menempel indah pada kuku-kuku, ada lima jumlahnya.

Hhii...


_____

*Di Indonesia, Henna lebih dikenal dengan innai atau paci atau pacar yaitu bahan pewarna alami dari daun tanaman pacar.

 

Sayapku Telah Patah


Malam itu aku tengah menekuni baris demi baris untuk merampungkan sebuah novel, yah kalian harus paham dan kupaksa mengerti jika "tidak" adalah jawabannya. Aku benci bising yang tercipta di sekitarku, itu berbahaya untuk fokus yang susah tercipta.

Getar ponsel membuyarkan konsentrasi yang telah tiga puluh menit bertahan, menunggu nama seseorang muncul di layar sebelum mengangkatnya. Hanya nomor, siapa ya?

Menunggu beberapa detik agar yakin bahwa itu tidak sekadar salah tekan.

"Halo"

Tak ada sahutan.

Aku diam. Ahh masa seperti ini sudah lewat, jika sekarang aku masih menggunakan putih abu-abu di hari senin hingga kamis maka akan segera aku kirimi pesan bertanya siapa gerangan. Sekarang? sudah malas. Silahkan memperkenalkan diri sebab anda yang berkepentingan, batinku.

Masih banyak halaman yang harus segera aku kunjungi jika tak mau berlama-lama terkekang akan rasa penasaran. Ponselku bergetar lagi, nomor yang sama. Angkat tidak ya?

Tak ada suara dari seberang, aku memang menggeser simbol hijau namun tak bersuara. Baiklah hatiku berdesir, otak mulai mengerimkan sinyal hingga jantung berdegup tak beraturan, sempurna, hilang sudah minat bacaku.

Panggilan ketiga terabaikan, betapa engkau tak mengijinkan aku untuk sejenak bercumbu dengan bunga azalea milik Miss Maudie.

Sengaja tidak diangkat dan semoga maksudku kautangkap dengan baik.

Terima kasih telah cukup sopan untuk tak menelpon lagi, dan sebuah pesan dua layar menjadi sembilu yang bukan hanya kau saja tapi aku juga yang perih karena teriris takdir.

Bisikanmu mengatakan
Ada seseorang di balik bukit sana 
Menunggumu dengan setia
Menghargai apa arti cinta

Hati terjatuh dan terluka 
Merobek malam menoreh seribu duka

Kukepakkan sayap-sayap patahku
Mengikuti hembusan angin yang berlalu
Menancapkan rindu... 
Ingin kurengkuh

Kugapai kepingan di sudut hati 
Namun hanya bayangan yang kudapat

Ia menghilang saat mentari turun dari peraduannya
Tak sanggup kukepakkan kembali sayap ini
Ia telah patah

Tak peduli betapa ingin kau belai lembut anakan rambut pada keningku, sungguh aku tak ingin terpejam. Bisakah dirimu berhenti membuatku merasa berdosa?



----

Label "Abadi" akan digunakan untuk menyimpan segala kenangan tentang seseorang dari seberang, yang rasa tulusnya aku hargai, curahan kasihnya aku rindukan meski terkadang perhatian berlebihnya menenggelamkan. Tulus doa aku lantunkan kelak segera engkau temukan seseorang lain yang mampu menyempurnakan hidup unikmu, semoga bukan aku.

Maafkan aku, jika engkau tak berkenan dengan ini, berhentilah sekarang juga untuk mengerimkan hal semacamnya padaku.

Salam bahagia dariku, harusnya memang kita hanya berteman.




*Pesan darimu kala gelap malam mulai menyapa, 19 Januari 2017


Menangis di Kantor

Tak perlu lonceng untuk memberitahukan bahwa jam istirahat tiba, kami bukan lagi murid sekolah yang berpatokan pada denting bel, lebih dari itu ada radar yang semakin menguat saat mendekati jam makan siang, ya perut keroncongan, apalagi.

Kecepatan makan kami luar biasa, hanya butuh lima belas menit untuk membuka bekal, mengunyah, menelan, minum, mengulangi hal itu beberapa kali lalu membersihkan tempat makan. Tidak, kami melewatkan setiap makan siang dengan berbicara santai sesaat setelah menelan makanan, bukan diam saja dan terburu-buru untuk segera usai.

Ritual selanjutnya adalah kembali ke meja masing-masing dan tenggelam dalam dunia pribadi. Lampu utama selalu dimatikan begitu juga komputer dan laptop, menghadirkan ketenangan sesaat untuk memaksimalkan waktu rehat. Sesekali terdengar dua atau tiga teman berbicara pelan tentang sosial media, film korea terbaru, hingga info terupdate lainnya. Mereka akan segera berpisah mengingat banyak hal yang harus segera dikerjakan, tugas kampus misalnya, posting iklan online bahkan tidur.

Tidur menjadi kenikmatan luar biasa meski hanya beberapa menit, mengembalikan kesegaran untuk mulai berkutat dengan data dan mengusir sikap menguap berulang pada pukul tiga yang sangat mengganggu.

Siang ini hening, begitu juga aku yang terkantuk-kantuk mencermati rangkaian kata dalam novel setebal lima ratus tiga puluh tiga halaman. Baru sepertiga halaman padahal sudah dimulai seminggu yang lalu, ahh payah sekali aku.

Membaca novel bagiku harus didukung dengan suasana hening tanpa banyak suara-suara di sekitar dan jam istirahat adalah waktu yang sangat tepat juga setiap ekspresi yang akan tercipta. Pelan aku merambat menuju loker untuk mengambil tissue hingga tiba-tiba seniorku muncul dari ruangan sebelah dan memergokiku.

"Loh, kamu nangis, Ci?"

"Eh, eng... enggakkk.... cuma pilek aja."

"Yakin?"

Sontak pembicaraan kami mengundang perhatian teman-teman untuk menoleh, muka-muka tak sepenuhnya sadar menatapku meminta penjelasan, ahh kalian terlalu berlebihan mengkhawatirkanku.

Mata merah, hidung kembang kempis ditambah sisa aliran air yang mengacaukan raut wajahku menjadi bukti kuat bahwa aku tak sekadar pilek.

"Ada apa?"

Senior dan yang lain menunggu jawabanku. Kenyataan bahwa aku selalu ceria bahkan saat ditegur pak bos (baca:dimarahi habis-habisan) menjadikan alasan kuat bahwa ada sesuatu yang tidak biasa hingga membuatku mengeluarkan air mata.

Memang hal luar biasa penyebabnya dan jika kalian juga sama penasarannya dengan mereka baca alasan lengkapku di sini


-----

Rumah kedua, siang hari saat mendung menggantung, 18 Januari 2017

Kepingan Rasa Puzzle 8

Silahkan baca dulu puzzle sebelumnya di sini


Sebagai siswa baru aku harus benar-benar menjaga sikap juga prasangka terhadap orang-orang yang ke depan akan lebih sering berinteraksi, teman satu kelas.

Oh ya, murid laki-laki yang tadi pagi mengataiku kini berdiam diri di kelas, tak ada tanda-tanda ia akan keluar untuk sejenak melepas penat. Aku sendiri menolak ajakan Agni untuk ke kantin sebab ibu sudah membawakan bekal, ini pelan-pelan ibu kenalkan engkau pada makanan Bandung, begitu kata beliau. Bukan aku termasuk orang yang pilih-pilih makanan namun yah seorang ibu akan memberikan hal terbaik untuk anaknya bukan?

Saat di kelas hanya ada kami berdua, tak ada yang bisa aku lakukan, jikalau ia berniat untuk melakukan hal aneh terhadapku maka aku akan berteriak keras, pasti tak lama teman-teman di luar kelas akan segera membantuku. Ahh, pikiran buruk ini kenapa harus datang.

Bekal yang ibu bawa aku letakkan di atas meja, lupa apa saja nama makanan ini padahal baru saja tadi pagi ibu memperkenalkannya padaku. Ada beberapa, terbuat dari singkong namun di dalamnya berisi sambel oncom, lalu ada juga parutan singkong yang berisi gula merah. Sebenarnya makanan ini tak jauh berbeda dengan jajanan pasar yang sering nenek belikan. Tapi tetap saja rasanya tidak sama.

Takjub akan makanan di depanku hingga tak kusadari murid laki-laki itu sudah berada di bangku depanku, mau apa ya?

Bukan tak segera membalas sapaannya namun aku benar-benar sedang berpikir kapan ia beranjak kemari. Detik berikutnya ia mulai dengan sikap yang tak kalah menjengkelkan, niat hati tak ingin meladeni tapi rupanya ia gigih membuatku kesal.

Bayangkan saja dengan modus aku yang meminta ia memperkenalkan diri, Gilang. Nama yang bagus tapi tidak untuk sikap menyebalkannya. Tak berhenti disitu dalih aku yang memaksanya untuk mencicipi bekal malah dengan lahap ia tak meyisakan apa pun untukku.

“Laper apa doyan?”

Ia mendongakkan kepalanya lalu menjawab tanpa malu, “"Bekal makanmu lumayan enak."

Aku tersenyum, entah firasatku mengatakan bahwa ia anak baik-baik mungkin hanya bingung bagaimana cara memulai untuk bersosialisasi. Melihatnya terpejam sebentar sebelum mencicipi makanan namun akhirnya ia tandaskan kukira ia sedang berdoa juga saat ia terdiam menikmati makanan dengan lahap, adab makan yang mengharuskan untuk tidak berbicara selagi mulut terisi.

Ya Allah, semoga ke depan ia tidak menjengkelkan, semoga.

Gilang, sang ketua kelas sedikitlah ramah terhadapku.



*** 
Nantikan kelanjutan cerita pada puzzle berikutnya...

Kepingan Rasa Puzzle 6



Baca puzzle sebelumnya di sini


Sudah sering aku mendengar ayah bercerita tentang sekolah dimana beliau mengabdi tapi baru sekarang benar-benar melihat sendiri dan menjadi bagian di dalamnya

"Titip Ciani ya Pak Dito," ujar ayah kepada guru yang katanya akan menjadi wali kelasku.

"Tenang saja Pak, Ciani sepertinya murid penurut."

Aku tersenyum, ahh pasti beliau hanya sungkan terhadap ayah.

Sejak nenek meninggal tak ada lagi alasan tetap tinggal di Solo jadi aku menerima tawaran ayah pindah ke Bandung. Keluarga kecil kami utuh setelah enam tahun aku bersama nenek yang sebatang kara.

Entah kenapa nenek memilihku untuk menemani masa tuanya tak lama setelah kakek meninggal, dari informasi tetangga yang beredar mereka hanya bilang kalau aku cucu kesayangan nenek, hhee jadi malu. Ayah dan ibu meski berat hati menginjinkan, jadi mereka sering bolak-balik Bandung-Solo hanya untuk bertemu dan memastikan aku baik-baik saja.

Langkah kaki mengayun perlahan mengikuti Pak Dito menuju deretan ruang kelas, ya memang benar ayahku guru di sini tapi itu tak membantu sedikitpun akan degup jantung juga rasa dingin yang tiba-tiba menjalar ke ujung jari-jari. Selain ayah semua terasa asing.

Suasana kelas yang riuh mendadak hening saat Pak Dito melangkah masuk, ingin rasanya terus menunduk tapi ini bukan permulaan yang baik bagi siswa baru jadi semoga senyum yang dipaksakan tidak membuat aneh raut wajahku.

Aku memperkenalkan diri setelah Pak Dito mempersilahkan, dan kalian tahu belum juga aku sempurna mengatur napas seorang murid laki-laki mengacungkan jarinya, pertanda tidak baik menghampiri dan firasatku benar adanya.

Baiklah, abaikan saja sebutan yang ia sematkan untukku, maaf ya aku di sini untuk belajar bukan cari musuh.


*** 
Nantikan kelanjutan cerita pada puzzle berikutnya...

Campur Tangan Satpam

A180

Pengeras suara di area teller menyebutkan nomer antrian, beberapa detik berselang pemanggilan nomer tersebut di ulang dan tidak ada nasabah satu pun yang berdiri.

A181

Belum genap tiga menit tiba aku harus segera bangkit menuju teller 2, pandanganku lurus ke depan dan tersenyum. Paham betul bagaimana reaksi nasabah lain di belakangku, aku tak perduli, hhaa.

“Tadi dari mana, mbak?”

“Dari tempat kerja.”

Aku menangkap kecurigaan di matanya, ahh ya hampir semua pegawai bank ini mengenal baik diriku. Bagaimana tidak jika setiap hari aku mengunjungi mereka untuk melakukan transaksi. Itulah mengapa terkadang mereka tidak menyapaku dengan ucapan salam, hanya kadang-kadang saja jika ada kepala teller di belakang mereka.

“Kok bisa?”

Binggo. Ternyata ia mengamati aku yang baru datang dan langsung maju ke depan teller, padahal jelas-jelas banyak nasabah yang lebih dulu dan belum terpanggil.

Senyum termanis aku suguhkan, “Ayo mbak buru ih, tugas numpuk nih.”

Kasih tahu siapa calonya.”

Aku tertawa kecil, dalam hati jelas menolak, rahasia dong.

Udah buruan ahh, yang penting kan ada bukti otentik.”

Membiarkan si embak teller melanjutkan tugas dipenuhi rasa penasaran membuatku tak henti untuk tertawa, dan mau tak mau harus mengajaknya beralih topik agar ia tak menekanku dengan pertanyaan yang terus berulang itu.

Hanya lima belas menit waktu yang dihabiskan untuk menyelesaikan transaksi, segera aku bergegas untuk kembali ke rumah kedua dengan banyak telur yang harus dihitung, ayam yang harus diperhatikan juga es teh hijau yang harus segera dihabiskan.

Turun ke lantai satu, melewati area customer service dan bertemu dengan satpam penjaga pintu.

Sudah, mbak?”

Aku mengangguk dengan senyuman.

Ia membukakan pintu tak lupa mengucapkan terima kasih.

Di area parkir sembari menggunakan masker dan kaos tangan aku memandang langit sore, cerah berawan dengan sinar mentari yang tak lagi garang. Lirih aku berujar tidak kepada siapa-siapa, makasih ya pak satpam.


18 menit yang lalu

Selamat datang.”

Aku tersenyum.

Mau ngantri atau yang cepat?”

Cepat dong.”

Tangan pak satpam tidak menekan layar touchscreen melainkan menghilang di balik mesin lalu muncul dengan kertas antrian, aku tersenyum lagi. 13:26 waktu yang tertera, itu berarti tiga puluh menit yang lalu. Sudah disimpankan, ahh sering sekali ia menyiapkan hal ini untukku.

Aku tak mau ambil pusing, anggap ini bagian dari pelayanan :).


sore hari di sebuah bank swasta - January 10th, 2017

 

Into the Wild



"Itu apa?"

"A Magic Bus."

"Sedang apa?"

"Kemarilah, akan aku tunjukkan."

Malam itu saat semua telah terlelap, Ben, sepupuku mengetuk pintu kamar untuk mengajak ke ruang keluarga dan menyaksikan film ini. Ia berusia lima tahun lebih tua dariku dan aku tak pernah menolak setiap ia menunjukkan hal apa pun.

Ada sesuatu saat film dimulai dan tulisan-tulisan bermunculan, "Meninggalkan peradaban?"

"Ssssstttt....."

Ketenangan hanya berjalan sesaat hingga lelah menurut untuk diam saja saat seorang lelaki menyerahkan sepatu boot dan berujar, "Jika kau kembali dengan selamat, hubungi aku."

"Berhenti."

Ben terlonjak dari duduknya, menoleh dan meminta penjelasan atas sikapku.

"Aku takut, Ben."

Bukan tanpa alasan aku mengatakan itu, Ben bukanlah seperti kebanyakan orang. Ia akan dengan mudah mencari pelampiasan dari emosi tertahan selama ini, mungkin banyak yang tidak melihatnya tapi sungguh aku tahu dengan pasti apa yang terjadi dengan dirinya.

Ben tersenyum, "Lihat dulu hingga akhir, ya?"

Film berlanjut dan aku diam memegang janji untuk tidak bersuara, sesekali berekspresi sebagai respon bahwa aku menghayati film ini. Bergidik saat ulat bulu melenggang di Pasific Crest Trail, Northern, California. Ikut menggigil saat malam menjelang di depan api unggun dan merasakan debur ombak pagi hari.

"Ben, jadi kau ingin disebut apa? Leather Tramp atau Rubber Tramp?"

"Rubber Tramp saja ya? sebab kau pasti tak kuat jika harus bertualang dengan berjalan kaki."

"Sungguh kau akan mengajakku?"

Ben mengangguk, ia sepupu terbaik di dunia.

Film berakhir dan ketakutanku memenuhi udara malam yang dingin juga sunyi.

"Ben, kumohon jangan bertindak bodoh."

Kesamaan konflik yang terjadi antara aktor dan Ben menjawab segala pertanyaan di awal.

"Kau sungguh akan kehilangan aku?"

"Jika kau berani melangkahkan kaki untuk menyatu dengan alam sendirian, maka kuanggap itu sebagai hukuman dari Allah untukku."

"Kau berlebihan."

"Kumohon jangan."

"Baiklah aku berjanji."

Tak lama Ben pulang ke rumahnya yang hanya berjarak 500 meter, kini kupastikan tak mampu terlelap hingga pagi.

Ben, jangan membahayakan dirimu. Sekuat, setangguh bahkan seyakin apa pun dirimu, alam tak pernah bisa tepat untuk diprediksi oleh manusia.






----++++--------

Pesan yang sama kusampaikan untuk dirimu kawan, seseorang yang memohon  untuk menonton film ini. Aku tak pernah mengijinkan, apapun alasannya.


Ada Dia di Bandara

Aku bersandar malas pada bantal-bantal yang bertumpuk di tengah ruangan, memandang ke segala penjuru dengan enggan, tak ada buku dalam genggaman.

Ibumu dimana, De?”

Merasa berbicara denganku aku menoleh dengan sengit, “Hei, tinggiku 163 cm.”

Ok baiklah jika menurutmu kedewasaan diukur dari tinggi badan, Nona.”

Hiiihh.. menyebalkan.

Mau kemana, Nona manis?”

Kemana?,” ujarku tak paham. Bukankah kita sedang di perpustakaan sekarang?

Ahh, aku paham. Dirimu tak akan kemana-mana sebab ponsel yang kau pegang bukan buku.”

Eh.

Maksudmu apa sih?” tanyaku sedikit ketus.

Sederhananya begini, di perpustakaan kau bisa memutuskan hendak pergi kemana saja, tiket tersedia gratis, tak perlu takut untuk mabuk perjalanan, hhaa,” dia terdengar geli setelah melontarkan kata terakhir.

Kalau engkau sendiri, mau kemana?,” suaraku sudah cukup lunak berhadapan dengan makhluk asing ini.

Mau ke London.”

Aku melirik sekilas buku yang terbuka di tangannya, setengah halaman sudah ia jelajahi itu berarti konflik sudah dimulai.

Aku sedang berusaha memecahkan kasus bersama Sherlock Holmes.”

Hati-hati, lawan detektif tak pernah main-main.”

Iya aku tahu, sekarang aku sedang bersembunyi di Indonesia. Aku curiga ada seseorang yang sedang mengikutiku.”

Hampir saja aku tertawa jika tidak menyadari sedang berada di mana.

Jadi mau pilih tiket penerbangan kemana, Nona?”

Indonesia.”

Kenapa?”

Karena cintaku ada di negara ini.”

Bingo. Ini alasanmu pergi kemari.”

Aku menunduk, lupa berbicara dengan siapa. Pernah mendengar jika orang yang suka membaca memiliki beribu cara unik untuk mengetahui sebuah jawaban untuk menuntaskan rasa ingin tahunya.

Sudah terlanjur engkau tahu, hhee. Aku melakukan kesalahan.”

Dia tersenyum menang, “Kesalahan apa?”

Aku menyakiti seseorang, sungguh tak ada maksud sedikitpun.”

Maaf, bisa diperjelas?”

Aku mengatakan padanya bahwa ada seseorang yang menyukaiku, ia marah.”

Oke, paham.”

Hah, secepat itu kau paham? Tak ingin mendengar ceritaku lebih banyak?”

Kau sudah mengatakannya bukan.”

Baiklah, apa pendapatmu?”

Lelaki.. heemmm... turunan adam ya, jika ia sudah menjatuhkan pilihan pada wanita maka ia tak ingin wanitanya membicarakan lelaki selain dirinya.”

Tapi, bukankah seharusnya ia bangga, telah mendapatkan posisi dimana banyak yang menginginkannya?”

Itu menyakitinya.”

Yang benar?”

Tanya saja.”

Ahh tidak. Ia masih marah.”

Baikla, Nona, tunggu disini, kucarikan tiket yang cocok untukmu.”

Aku termangu, mau dibawa kemana aku olehnya? Tak lama dia datang dengan sebuah buku di tangan kirinya. Sherlock Holmes sejenak ia titipkan padaku.

Ini,” katanya.

Tanganku enggan menerimanya, namun tak enak jika menolak kebaikannya.

Itu tiket internasional, keputusan ada ditanganmu nona.”

Tunggu,” seruku sebelum ia semakin jauh meninggalkanku.

Apa?”

Mau kemana?”

Kembali ke London, Mr. Holmes membutuhkanku.”

Aku tersenyum, sombong sekali.



Ganesa Library, 8th January 2017 - 14:45

 

Balas Rasa Kak Frans

Sungguh aku tak tahu sedalam apa rasa sakit yang dialami Kak Frans. Seharusnya akhir cerita Menuntaskan Rindu berakhir bahagia, bukan?

***


Aku masih di ruang seminar, mengikuti serangkaian acara tentang penanggulangan virus Ai pada ternak saat ponselku di atas meja bergetar.

Gadis kecilmu sudah ada yang memiliki.”

Tak susah mencerna maksud pesan tersebut, satu-satunya orang yang kusebut gadis kecil adalah wanita terakhir yang mengantar ke stasiun purwosari dua hari lalu.

Siapakah lelaki beruntung yang memenangkan hatinya? Bagaimana bisa? Aku yang bertahun telah berusaha tak jua berhasil mendekatinya.

Perlahan tak lagi kudengar pembicara yang sibuk melemparkan sensor merah ke layar, suasana riuh mendadak hening. Aku tersedot ke dalam lubang kesunyian, kesepian dan terancam sendirian.

Gadis kecil,
Aku lelah dengar bingar
Aku takut mengatakan rindu
Tapi aku lebih takut untuk menjawab,
Kemanakah akhir pencarian?

Diguratan beku malam
Kutorehkan sketsa sebuah wajah
Tapi aku takut jika yang nampak bukanlah wajahmu nantinya
Lalu aku bertanya dalam heningku,
Namun tetap saja tiada kata untuk merangkai namamu

Aku semakin takut,
Dimana seluruh aliran nafas tak lagi bisa menangkap makna
Tetapi mengapa selalu ada gema yang terbaca oleh angin untuk sebuah bayangan dirimu?

Oh hasrat sua yang tertunda dalam jiwa
Jika benar ini rindu
Padamkanlah hati ini untuk mencinta selain kepadamu
Karena engkaulah kekasih yang selalu aku tunggu
Dan tiada hentinya aku cari

 ***

Kak Frans maafkan gadis kecilmu.

Kepingan Rasa puzzle 4


Baca puzzle sebelumnya di sini

Tak terdengar lagi bising kendaraan yang lalu lalang di jalan aspal depan rumah, aktivitas warga desa seperti berhenti total. Saatnya makhluk nocturnal mengambil kuasa.

Hampir tengah malam saat aku berjalan menuju kamar nenek, di dalam ada bulek-sebutan untuk adik kandung orang tuaku juga ayah dan ibu di aamping tubuh nenek yang semakin lemah. Mereka sedang berbicara dengan suara pelan. Aku tak mendengarnya.

Ibu...,” seruku lirih.

Semua perhatian beralih padaku.

Aku ingin tidur berdua dengan nenek malam ini.”

Bulek menghentikan pijatannya pada kaki nenek, ayah dan ibu terdiam.

Ijinkan aku.”

Mereka berdiri bersamaan, meninggalkan kamar nenek satu persatu, bulek mengusap kepalaku yang kemudian diikuti oleh ayah dan ibu. Aku bergeming.

Nenek tidak tidur di atas dipan, beliau tidur di atas kasur yang di bawahnya dilapisi karpet agar dingin lantai tidak membuatnya menggigil. Ini agar mudah baginya jika hendak ke kamar mandi, begitu kata ibu saat kutanya mengapa.

Seingatku sudah sebulan ini nenek hanya di atas kasur saja, tidak kemana-mana, segala aktivitas dilakukan di atas kasur. Itu sejak dokter dimana dulu nenek pernah dirawat angkat tangan terhadap penyakit beliau.

Aku merebahkan tubuhku di samping nenek, mengamati seksama tubuh orang paling bijak yang kini tengah terpejam, napasnya berat dan pendek-pendek. Entah apa yang mendorongku untuk tidak terlelap, aku ingin malam ini menjaga nenek namun akhirnya aku tertidur dan sayup suara adzan subuh mengejutkanku. Harusnya aku tidak ketiduran.

Lega menjalar saat kulihat dadanya masih naik turun meski matanya tetap terpejam. Dalam sujud terakhir kulangitkan doa untuk nenek. Tidak tahu lagi mana yang terbaik untuk nenek, yang pasti terbaring seperti ini jelas sangat tersiksa.

Tuhan, kiranya Engkau hapuskan dosa-dosa nenek dengan penyakitnya.

Fajar mulai menyingsing saat aku menyadari ada yang berbeda dari nenek. Matanya terpejam namun tak ada suara napas berat yang selalu terdengar. Tangannya masih hangat saat aku memegangnya namun telapak kakinya sudah dingin.

Tak boleh ada air mata, kubisikkan perlahan kalimat tahlil pada telinga beliau, ketika tangannya dingin aku membelai lembut wajahnya dan berhenti saat wajah beliau juga terasa dingin dan pucat.

Inikah yang terbaik untuk nenekku?

Gontai aku keluar dari kamar nenek, bagaimana aku akan mengabarkan pada semua?

Bulek adalah orang pertama yang aku temui. Beliau membawa baskom berisi air hangat yang rencananya akan digunakan untuk membersihkan tubuh nenek. Dibelakangnya Om Burhan-suami bulek menyusul, sepertinya bulek lupa membawa handuk.

Tanpa kata aku mengambil baskom dari bulek.

“Buat sibing nenek, De.”

Aku memaksanya hingga bulek menyerahkan, mungkin dia masih berpikir bahwa aku yang akan melakukannya.

Tapi kecurigaan muncul saat aku tak berbalik ke kamar nenek.

“Airnya mau dibawa kemana, De?”

Aku membisu. Bagaimana ini?

“De..,” kali ini Om Burhan menegaskan pertanyaan bulek.

“Nenek butuh lebih banyak air untuk mandi.”

Segalanya lalu berjalan cepat, bulek berlari ke kamar nenek, sedetik kemudian Om Burhan memaksa bulek keluar dari kamar, kulihat bulek menjerit dan meronta.

Ayah mencengkram erat pundak ibu. Ibu adalah putri sulung nenek dan mungkin ayah berharap bahwa seharusnya ia lebih kuat menghadapi kenyataan ini. Ibu terduduk di kursi, perlahan aliran air membasahi wajahnya. Ayah menuntunku untuk mendekati ibu lalu berbisik, “Ayah percayakan ibu kepadamu.”

Tak ada sahutan dariku, erat kugenggam kedua tangan ibu saat ayah pergi ke luar rumah. Tak lama para tetangga sibuk menenangkan ibu dan bulek. Aku hanya diam.

*** 

Nantikan kelanjutan cerita pada puzzle berikutnya...


Bukan Kancil Biasa

Kancil termenung di ujung gubuk seorang petani yang sedang menjaga kebunnya. Perutnya keroncongan namun ia tak sampai hati untuk mencuri timun yang mulai masak di kebun petani tersebut. Setiap pagi petani selalu datang ke kebun, memotong rumput liar, menyirami cabai, tomat, terong, timun dan berbagai tanaman lainnya.

Siang harinya istri petani datang bersama dua anaknya yang masih kecil-kecil, membawa bekal dan mereka makan bersama di gubuk ini. Biasanya sebelum sore mereka telah bersama kembali ke rumah, namun akhir-akhir ini situasi desa sedang ruwet. Banyak hewan yang turun dari hutan untuk menjarah kebun mereka. Ini semua disebabkan karena hutan telah dibakar oleh sekelompok orang dari kota, untuk mendirikan pabrik begitu kata mereka. Petani hampir selalu menjaganya hingga petang.

Dilema yang dirasakan kancil membuatnya sedih, apa yang harus ia lakukan? Sebenarnya bukan salah dirinya juga teman-temannya yang hanya ingin mengisi perut mereka sebab tempat tinggal mereka telah dipersempit. Tapi sekali lagi ia tak tega melihat para petani harus gagal panen karena ulah dirinya juga teman-temannya.

Saat Kancil tengah tenggelam dalam lamunannya ia dikejutkan oleh sebuah timun yang diangsurkan petani tepat di hadapannya, ingin rasanya lari namun air liurnya hampir menetes melihat makanan lezat terhidang di depan mata.

Apakah ini jebakan?

Kancil adalah hewan cerdik, ia sering melihat teman-temannya seperti kera, babi, dan lainnya yang seringkali masuk perangkap petani di desa dan setiap yang masuk dalam jebakan tak pernah terdengar lagi kabarnya.

Makanlah.

Mungkin seperti itu yang ditangkap Kancil melihat petani tersenyum dan meletakkan timun di atas tanah lalu kembali menerawang jauh ke dalam hutan. Bisa saja petani merasakan dilema yang sama dengannya, alam sudah sedemikian tertata dengan rantai makanan yang terjaga namun seringnya manusia dengan dalih meningkatkan kemakmuran merusaknya semena-mena.

Timun itu segar sekali, Kancil melahapnya perlahan hingga tak ada sisa. Tiba-tiba ia tahu apa yang harus ia lakukan.

Kancil melompat ke hadapan petani hingga mengaggetkannya, lalu melompat-lompat kecil di samping obor yang berada di samping gubuk kemudian mengitari kebun di mana Kancil berhenti sejenak di beberapa titik kemudian melompat-lompat.

Semoga petani mengerti maksudku.

Setelah itu ia pergi masuk hutan dengan kecepatan tinggi, perutnya sudah terisi dan ia tidak akan membiarkan teman-temannya kelaparan. Tujuannya satu berlari masuk ke dalam hutan, jauh, jauh lebih dalam, dimana tempat tersebut tak diketahui oleh manusia. Ia akan mengajak teman-temannya untuk memulai hidup baru di sana. Tak apa gelap dan terasa lebih lembab dari tempat tingglnya dulu yang penting orang dari kota itu tak mengusik mereka.

Di gubuk petani tersenyum, ia membunyikan kentongan hingga warga desa berkumpul.

“Aku punya cara agar hewan-hewan dari hutan tak menjarah kebun kita.”

“Tembaki saja mereka.”

“Buat perangkap yang mematikan, biar jera.”

“Kita lempari batu.”

Sahut-sahutan warga yang geram akan ulah hewan hutan terdengar memenuhi langit yang gelap tanpa bintang.

“Tenang saudara-saudara, kita akan memasang banyak obor di sepanjang batas dekat hutan dan bergantian untuk menjaganya hingga panen menjelang.”

“Benar. Hewan hutan takut pada api.”

“Apa akan berhasil?”

“Saya yakin ini akan berhasil. Mari kita coba.”

Malam itu penduduk desa bergotong royong mencari bambu untuk membuat obor, sedang jauh di dalam hutan kancil tersenyum lega sebab ia telah menemukan kawasan hutan di bawah air terjun yang tersembunyi, sepertinya cocok untuk tempat tinggal baru ia dan kawan-kawannya. Kobaran api dari desa menyempurnakan rasa bahagianya, petani tahu apa yang ia maksudkan.


#UbahEnding

Kata Tuhanku

Ada manusia yang sedang merasa tersudut, segala usaha untuk mencari solusi terbentur keadaan, tak ada jalan lain kecuali meminta pertolon...