Ungkapan Pengakuan

6 komentar


“Dania... apa menurutmu semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua?”
Di ufuk barat bola besar dengan sinar yang tak lagi menyengat perlahan tenggelam dalam debur ombak.

“Iya,” jawabku singkat.

“Sebesar apapun kesalahan di masa lalunya?”

“Aku berfikir itulah kenapa kita masih dibangunkan setiap pagi.”

Kami berdua terdiam, membiarkan air pantai menjilati telapak kaki. Pantai Parangtritis tidak begitu ramai di hari senin, jika senja menyapa maka pengunjung akan segera menepi, membersihkan diri dan beristirahat namun berbeda jika akhir pekan pantai ini akan hidup hingga minggu selesai. Penikmat senja berjejalan menikmati matahari ditelan laut selatan lalu kembali muncul untuk memberi tanda bahwa kehidupan masih berlanjut.

Jejak-jejak kaki kami menghilang tersapu ombak, semakin gelap semakin ombak bergulung hebat. Di pantai ini sebenarnya dilarang untuk berenang, tapi kini, keberadaan Nyi Roro Kidul bukan lagi hal yang mampu membungkam keegoisan manusia modern, lebih dari itu pantai selatan terdiri dari palung-jurang yang berada di dasar laut- seharusnya sudah cukup menjadi pengingat diri.

Aku menggenggam erat tangan lelakiku, aku tahu dia tak kan melakukannya. Entah bagaimana bisa aku bertahan dengan seseorang yang mengkhianatiku sejak pernikahan kami belum genap memasuki usia tiga bulan.

Pandangannya menerawang jauh ke tengah laut, membayangkan seseorang disana tersenyum dan melambai, sedikit gerakan kaki untuk menuju kesana namun aku menolak mengijinkannya, “Mulai pasang, Sayang.”

Perkataanku diabaikan, kekuatan laki-laki berparas menawan itu tak mampu kulawan, ia berjalan ke tengah laut dan meninggalkanku sendiri di tepi pantai. De javu. Inikah balasan perbuatanku setahun yang lalu?

*
“Halo. Siapa ini?”

“Halo Dania, aku Eka.”

“Hai Eka, sedang menikmati pemandangan Lembang?”

“Berhentilah berbicara dan dengarkan aku.”

Aku tersentak, wanita yang menjadi sekretaris lelakiku di kantor tidak pernah membentakku, “Ada apa?”

“Maaf, apa kau memulai pernikahan dengan baik-baik saja?”

“Tunggu, lancang sekali bicaramu.”

“Maafkan aku jika harus memintamu berangkat sekarang juga ke Pantai Parangtritis.”

“Ada apa?”

“Akan kujelaskan di sini.”

“Bukankah kau di Bandung?”

“Kemarilah sebelum kaumenyesalinya.”

Beku, Eka menopang tubuhku yang limbung. Di tengah keramaian pengunjung pantai kulihat lelakiku bersama seorang wanita, mereka bahagia, berlarian dan saling menenggelamkan diri di air asin, muncul lalu berpelukan. Tertawa seolah pantai ini sengaja diciptakan untuk mereka memadu kasih.

“Siapa?”

“Kamelia, mantan kekasihnya.”

Eka menuntunku menjauh, kurutuki diri yang tak mampu berbuat apa pun, bukan, aku tak mau mempermalukan lelakiku di depan banyak orang tapi tentang wanita itu lain cerita, otakku sedang menyusun rencana untuk membuatnya membayar mahal atas semua ini.

Mataku memanas melihat mereka berdua menuju pantai, berpegangan tangan dan berhenti di depan kamar mandi. Wanita itu menggelayut manja di tangan lelakiku, hei kauharam melakukan itu, jeritku dalam hati, membisikkan sesuatu-sangat dekat- di telinga dan tersenyum mengantarkan lelakiku pergi meninggalkannya.

Bergegas aku menghampirinya, berlagak antri.

Maaf Nona, anda turis ya?”

Wanita itu ramah menanggapiku, aku muak melihatnya, “Ahh, anda berlebihan. Rambut pirang ini tidak asli, aku khusus mewarnainya agar kekasihku tertarik.”

Tunggu, lelaki tadi kekasih anda?”

Mata bulat wanita itu mengerjap, terkejut akan intonasiku yang tiba-tiba meninggi, “Ada apa?”

Kulihat ia berenang menuju tengah laut, oh Nona kau harus memberitahunya bahwa laut mulai pasang.”

Benarkah? Aku memintanya untuk mengambilkan baju bukan untuk berenang, kau bercanda ya?”

Sudahlah, saya hanya memperingatkan,” aku berlalu meninggalkan wanita yang sesaat ragu kemudian berlari menabraki apapun yang menghalangi jalannya.

Teriakan-teriakan pengunjung mengantarnya sampai ke tengah laut, hingga laut selatan menunjukkan kuasanya, sekejap ia menghilang bersama ombak yang bergulung. Tim sar setempat mulai disibukkan atas ulahnya, namun hingga tengah malam tak ada tanda-tanda tubuhnya di temukan.
*

Jika memang ini karma maka aku menolak, masing-masing dari kami merasakan perih atas perselingkuhan itu dan jika di akhir aku yang harus menanggung semua bebannya maka lebih baik aku mati.

Segenap kekuatan yang tersisa aku menyusul lelakiku, menghentikannya saat berhasil menyentuhnya. Ombak bergulung di depan kami, semburat jingga menyilaukan, aku menyerah.

“Kaumau apa?” tanyaku

Ia memandangiku namun tak bersuara.

“Ayo kembali,”ajakku namun ia tak memutar arah.

“Tunggu disini, biar aku yang berjalan ke tengah sana, kaumau aku ambilkan apa?” parau suaraku membuatnya berbalik.

Di tempat yang sama aku melihatnya perlahan mendekati bibir pantai, tubuhku sendiri sudah dihantam ombak hingga dada. Aku menggigil, menangis, pasrah, jika memang lelakiku hanya menginginkan wanita itu maka tidak ada alasan bagiku untuk tetap hidup. Aku memejamkan mata, sebentar lagi mungkin wanita itu akan tertawa mencibirku karena ia yang menang, toh nyatanya hidup kami berakhir sama. Tidak aku yang lebih mengenaskan, wanita itu mendapatkan cinta lelakiku sedang aku tidak sedikitpun.

Satu hempasan ombak menenggelamkanku, selamat tinggal lelakiku.

Uhuuuk... uhukk...
Kurasakan pening luar biasa, dadaku di sesaki air yang sekarang sedang berusaha aku muntahkan, perlahan mataku terbuka.

Lelakiku berlinang air mata sedang mendekapku, tak henti menciumiku saat mengetahui aku telah sadar. Dari balik tubuh kekarnya aku melihat matahari sempurna tenggelam.

“Jangan pergi, aku mencintaimu,” katanya serak.

Kalimat inikah yang selama ini aku nantikan?

Pada petang yang perlahan meluruhkan jingga
Sederhana... suaramu adalah penawarnya


end

Ciani Limaran
Haloo... selamat bertualang bersama memo-memo yang tersaji dari sudut pandang seorang muslimah.

Related Posts

6 komentar

Posting Komentar