Pesan Pak Guru Tentang Jaket Siswinya

Angin siang ini menerbangkan pikiranku jauh ke masa lalu, mungkin karena hamparan sawah yang mulai menguning hampir sama dengan pemandangan belasan tahun silam.

"Mulai sekarang pakai jaket niatnya diganti mbak, bukan sekadar biar ga kena sinar matahari aja, tapi juga untuk menutup aurat."

Guru agamaku bilang seperti itu, dalam hati aku mengiyakan saja. Lembut sekali bahasa beliau. Tidak serta merta mengatakan, "Wanita itu masuk neraka kalau ga pake jilbab." Wiihh, kebayang kan gimana respons yang denger? jengkel pasti, bisa-bisa ngomong ga sopan sama guru sendiri.

Jadi setiap pulang sekolah dan mengenakan jaket selalu terngiang-ngiang pesan beliau, niatin nutup aurat, Ci.

Tapi manusia tak punya kuasa, Allah lah yang memilih siapa diantara hamba-Nya yang Dia beri hidayah. Aku masih melenggang nyaman dengan rok selutut memasuki dunia putih abu-abu. Waktu berjalan cepat dan siang ini aku sadar bahwa ada yang kurang tepat. Bukan tentang hijab, tapi tentang pesan tersirat yang Pak Guru ingin sampaikan.

NIAT.

Yah, baru kumengerti tentang arti niat yang sesungguhnya. Sebegitu tingginya nilai niat dalam setiap hal.

Niat menjadi salah satu syarat diterimanya amal perbuatan. Semua perbuatan baik jika diiringi niat mencari ridha ﷲ maka perbuatan tersebut bernilai ibadah. Bukan, bukan aku yang bilang tapi junjungan kita Nabi Muhammad, Al-Musthafa Al-Hasyimi, penutup para nabi.

"Sesungguhnya semua perbuatan tentu didasari oleh niat, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Oleh karena itu barangsiapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya (bernilai) karena Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya karena harta dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya (bernilai) sesuai dengan yang diniatkannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Nah, segenting itu arti niat dalam agama islam. Sebagai muslimah yang sedang berhijrah tentu akan sangat berhati-hati setiap hendak meniatkan sesuatu. Ini tidak mudah, memerlukan proses jangka panjang namun dengan terus memperbaiki diri, banyak mencari ilmu, semoga ﷲ mudahkan kita untuk meluruskan niat hanya kepada-Nya.

Memang apa bahayanya berniat selain untuk mencari ridha ﷲ?

Wuiiihhh, berat nih pertanyaannya. Insya Allah pada tulisan selanjutnya yah. Semoga ﷲ mudahkan.

Muslimah Rajin Berolahraga

Semangat menyambut hari, yeayy... sudah apa pagi ini?

Sarapan? Beberes rumah? Bangun siang?

Kalau olahraga?

Hhii, agak berat yah memang buat olahraga, terlebih suasana mendung gini, enakan juga males-malesan di atas kasur. Eitss,  tunggu dulu kenapa juga harus berolahraga coba? emang apa manfaatnya?

Olahraga menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti gerak badan untuk menguatkan dan meyehatkan tubuh. Nah, tujuan utama dari berolahraga adalah agar tubuh kuat dan sehat, dengan begitu pasti kita lebih produktif dalam menjalani hari. Setuju ga?

Wanita muslimah pun seharusnya sadar betul manfaat berolahraga bagi dirinya, karena ia tidak akan pernah lupa untuk memelihara kelayakan tubuhnya, kegairahan dan kesehatannya secara umum, terlebih ini merupakan hal yang diserukan oleh agama islam.

Nah, dengan memiliki tubuh yang kuat dan sehat tentunya kita dapat lebih banyak berbuat sesuatu yang bermanfat, bukan? Bayangin aja kalau baru sebentar jalan udah lemes? duh ga asyik ya. Maka dari itu olahraga merupakan suatu kebutuhan.

Yuk, sadari bahwa kita ini mengemban misi yang tidak ringan. Semangat berolahraga kawan agar semangat pula kita untuk berbagi dan memberi arti.

Cinta Pada Pandangan Pertama

Kepalaku masih menunduk, khawatir tiara yang berada di atas kepala terjatuh jika aku banyak menoleh. Faya menyenggol bahuku untuk kesekian kalinya, aku mendongak dan tersenyum, agak canggung, cemas kalau-kalau lipstik di bibirku kemana-mana, hhaa. Belum lagi maskara ini, duh aku benar-benar harus jaga sikap jika tidak mau merusak suasana hari bahagia ini.

"Wi, pulang sekolah ada acara?"

"Mau buat laporan acara milad kemarin Ris, kenapa?"

"Ikut aku sebentar yuk?"

"Kemana?"

"Ada yang mau ketemu sama kamu."

"Hhaa, becanda kamu, siapa?"

"Mas Yusuf."

Aku mengerutkan dahi, siapa pula orang itu, "Wali murid, Ris?"

"Bukan, guru sosiologi SMA Mutiara."

"Eh, satu yayasan sama kita?"

"Iya."

"Mau apa cari aku?"

Risa mendekatiku, menepuk bahuku yang terlihat berat memikirkan percakapan kita.

"Ayo ahh, keburu dia nunggu."

Anehnya aku ngekor saja saat Risa menarik lenganku menuju ruang tamu kantor SMP Mutiara. Angin siang yang semilir menerbangkan daun-daun kering, menjadi satu-satunya pemandangan yang bergerak, sekolah sudah sepi.

Di sofa berwarna marun telah menunggu dua orang laki-laki yang aku yakin salah satunya adalah Mas Yusuf. Duh, ada apa ini sebenarnya?

"Assalamu'alaikum," Risa membuka percakapan sembari kami duduk, bersebrangan dengan mereka.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh," kompak keduanya menjawab salam Risa, dan satu diantara mereka kutangkap melirik kearahku kemudian menunduk.

"Langsung saja ini Mba Dewi sudah di sini, silahkan sampaikan keperluan kedatangan kalian."

Hening, tak ada yang memulai percakapan. Aku semakin tak paham dengan keadaan, kenapa namaku yang disebut?

Dua hari berlalu dan aku malu-malu berbicara pada ibu. Respons Bapak membuatku semakin kelu, "Yakin Nduk?" Aku mengangguk.

Lalu di sinilah aku. Tak henti berdoa semoga Allah lancarkan lisannya. Ucapan suci yang mengubah segalanya.

Aku tak pernah ragu tentang jodoh, yang membuatku terharu adalah cara Allah menuntunmu untuk bertemu denganku.

Aku mendapat tugas untuk menjadi pembawa acara milad yayasan, dan kamu yang saat itu hadir terpaku melihatku di panggung. Mencari informasi tentang statusku dan tersenyum lega mengetahui aku belum terikat oleh siapa pun, selanjutnya seperti yang kalian tahu tentang pertemuan kami di ruang tamu sekolah.

Pagi ini, aku tersipu dengan cara-Nya yang menjadikan aku dan kamu menjadi kita.

Muslimah Berilmu

Bismillah..

Sejak awal-awal kedatangan Islam, wanita Muslimah telah mengetahui nilai ilmu. Inilah yang menjadi dasar wanita-wanita Anshar meminta waktu khusus untuk menuntut ilmu langsung dari Rasulullah SAW. Beliau akhirnya memberikan sehari dalam seminggu untuk datang lalu memberikan nasihat, mengingatkan dan mengajari mereka.

Saat ini syukur alhamdulillah kita telah dimudahkan, nikmat sempat dan sehat semoga tidak melalaikan kita terhadap kewajiban menuntut ilmu.

Islam telah mewajibkan kaum wanita untuk menuntut ilmu seperti halnya telah diwajibkan kepada kaum laki-laki.

Lalu, ilmu apa saja yang harus dipelajari oleh wanita muslimah?
1. Kitabullah, Al-Qur'an : baik bacaan, tajwid, maupun penafsirannya.
2. Ilmu hadist, sirah, kisah para sahabat dan tabiin dan kalangan tokoh wanita.
3. Ilmu fikih dalam rangka memperbaiki ibadah dan mu'amalahnya.
4. Ilmu tentang mengurus rumah, suami, keluarga dan anak-anaknya.

Dalam sejarah para tokoh wanita Muslimah terdapat banyak contoh tentang kegigihannya menuntut ilmu dan menggali berbagai bidang ilmu, diantaranya :
1. Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah ra merupakan rujukan pertama dalam ilmu hadist dan sunnah nabi dan sebagai ahli fiqih pertama, yang pada saat it beliau masih berusia sangat muda, yaitu menginjak sembilan belas tahun.

Imam Az-Zuhri mengatakan,"Seandainya ilmu Aisyah dibandingkan dengan ilmu semua istri Nabi SAW dan ilmu semua wanita, niscaya ilmu Aisyah itu lebih unggul." (HR. Imam Baihaqi)

2. Wazirah binti Muhammad bin Umar bin As'ad bin Al-Munja At-Tanukhiyah dan Karimah binti Ahmad Al-Muruziyah, keduanya disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalam dalam mukadimah bukunya yang berjudul Fathul-Bari juga di antara nama-nama perawi hadist yang terdapat dalam buku Shahih Bukhari.

Wanita Muslimah yang benar-benar sadar akan ajaran agamanya mengetahui bahwa membaca dan menelaah merupakan sumber yang menyirami akal dengan ilmu pengetahuan, dan memberinya makanan yang menghantarkannya kepada keterbukaan, kematangan, perkembangan, dan kecemerlangan.

Bagaimana dengan kita? Sekarang saatnya berbenah. Yuk belajar, jangan mudah jengah.

Kenapa harus menuntut ilmu? Kesempurnaan syariat islam tentu tidak diragukan lagi, kewajiban ini sejalan dengan tugas mulia yang diemban wanita dalam islam yaitu menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya, mendidik generasi penerus, pembentuk jiwa-jiwa pahlawan, serta melahirkan insan-insan yang memiliki otak cemerlang.

Kesadaran inilah yang semoga menjadi motivasi kuat untuk selalu bersemangat dalam menuntut ilmu.

"Dan katakanlah, 'Wahai Rabb-ku, tambahkanlah ilmu kepadaku'." (Thaha:14)

-------------

Dirangkum dari buku Jati Diri Wanita Muslimah karya DR. Muhammad Ali Al-Hasyimi

Paxel Antarkan Kebaikan

Bismillah...




"Sebagai muslim kita itu harus bermanfaat untuk orang lain."

Wuihhh, satu kalimat yang langsung menarik fokus saya pada beliau. Perkenalkan, beliau Bapak Djohari Zein, Founder GBMI (Global Basket Mulia Investama) / Holding Paxel yang sedang berbicara di depan kami. Usianya sudah tak muda lagi namun semangatnya luar biasa, menampar kami yang masih muda namun enggan untuk berbuat sesuatu.



Sabtu, 24 November 2018 saya diberi kesempatan untuk bertemu beliau bersama dengan puluhan blogger yogya lainnya dalam acara Yogyakarta Blogger Gathering Paxel bertempat di Ling-Lung Kopi & Eatery. Berangkat dong pastinya meskipun belum tahu mau ngapain di sana.

Paxel? Apaan sih itu? kok baru denger ini?

Jangan Lupain Proses

Setiap harinya ada saja kabar baik dari teman tentang kesuksesan mereka, lolos lomba menulis tingkat nasional, bisnis yang laris, nilai ujian memuaskan, diterima kerja di perusahaan idaman dan banyak hal lainnya. Senang? Tentu saja.

Keberhasilan sebenarnya terlalu sempit jika melulu soal yang saya sebutkan di atas, masih banyak hal yang bisa dikategorikan sebagai sebuah keberhasilan,misal : Menurunkan berat badan, menaikkan berat badan, lolos segala rangkaian tes untuk dapat donor darah, disiplin menjalankan jadwal yang telah di susun, dan hal-hal kecil yang untuk mencapainya juga butuh perjuangan.

Ada yang perlu digaris bawahi tentang keberhasilan, iya, perjuangan atau bisa juga disebut proses. Banyak yang lupa bahwa proses yang kita jalani untuk mencapai apa yang kita impikan adalah hal yang perlu kita takhlukan setelah rasa malas untuk mulai melangkah berhasil diselesaikan.

Contohnya gini,

Jadi Mamah

Libur telah tiba... libur telah tiba... hatiku gembira... yeay...

Sejujurnya yang membuat bahagia adalah ketika hari libur dan ga punya janji yang harus ditepati. Me time. Bener-bener me time. Iya serius di rumah sendiri.

Maka iseng aku mencoba untuk jadi mamah. Maksudnya melakukan apa yang biasa mamah lakukan.

Bangun usai subuh biasanya mamah mulai ngecek kesiapan untuk sarapan. Masak nasi terutama, kan waktunya paling lama tuh. Eh, ini dua tempat rice cooker kotor. Kalau udah gitu mamah bakal masak di kompor. Tapi aku males, hhaa.

Sarapan pagi ini pakai roti tawar dikasih susu coklat sama parutan keju, ga usah dibakar keburu adik sama bapak pergi. Bukan gaya sok sarapan sehat sih apalagi ala bule jujur aja yah namanya perut indonesia kalau belum kesentuh nasi ya belum kenyang, hhii.

Udah rumah hening, mamah mulai cuci baju, tenang bapakku yang diam-diam cinta sama mamah udah sediain mesin cuci, ciyee ga ngucek-ngucek lagi deh. Karena pake mesin jadi bisa ditinggal buat ngerjain yang lain. Kalau mamah biasa nyapu aku balik ke gadget, wkwkwk.

Mamah itu kalau nyapu lamaaaa... aku hitungan detik aja kelar. Bedanya apa? Yang tampak dan sering dilewati saja yang kusapu, hhii.

Eh entah mesin cucinya yang magic atau gadgetku yang ajaib, tetiba udah selesai aja nyucinya. Yah merasa terpanggil buat njemurin, mungkin masih pagi biar nanti siangan kering.

Cuci baju ke dua, tenang bukan pemakaian baju yang boros, kemarin ga ada orang di rumah jadi ga ada yang nyuci baju.

Aku mulai sadar, ini kalau dikit-dikit pegang gadget yang ada sampe sore ga beres kerjaan. Maka aku selimuti benda tersayang itu tak lupa mengubahnya agar tak berisik. Damai.

Sembari mesin cuci baju bekerja aku menyelesaikan cucian piring yang menggunung, iyuh, hhaa. Udah dibilangin kemarin ga ada orang di rumah pake protes lagi, wkwkwk.

Cucian piring selesai hampir bersamaan dengan tanda mesin cuci baju juga usai. Njemurin lagi.

Beres. Beres. Dua pekerjaan paling berat, yuhuuu.

Mau masak nasi, eh berasnya abis. Mau ke warung belum mandi, duh kan ga cantik tapi laper. Galau deh.

Hhaa... aku tetep mandi dulu dong sebelum keluar rumah meski cuma lima langkah.

Taraaa.... percaya deh, waktu yang berlalu dengan mengesampingkan gadget terasa lebih bermanfaat. Lalu tetiba saya seperti kesindir omongan sendiri, hhaa.

Nasi kelar. Lauknya apa? Tinggal goreng aja apa yang ada. Untuk hari ini libur dulu makan sayurnya yah. Sehari doang. Ga papa mah makan goreng-gorengan, hhii.

Nyatanya nasi mateng toh ga segera aku makan... ada kasur menggoda dan gadget yang membuai mata untuk dibersamai.

Kesimpulan tulisan ini adalah.... ada sesuatu yang menciptakan kekuatan dimana setiap ibu rumah tangga mampu melakukan pekerjaan yang tiada habisnya dan berulang setiap hari.

Mamah, cepet pulang, Ani laper.

Lalu selintas teringat seorang guru berujar, "Anak muda jangan sombong kamu, jangan mentang-mentang ngaji, nasehatin orang tua pakai dalil. Apa kamu lupa, baju yang yah mungkin kamu beli pakai uangmu, apa juga kau cuci sendiri? Kau setrika sendiri? Hidangan yang kau santap usai lelah mengaji apa kau masak sendiri? Lalu ketika Allah berikan luang untuk menuntut ilmu dien, kau lupa dan melampaui batas."

Banyak yang terlewat dari rutinitas mamah sebenarnya. Bagaimana beliau rajin menyirami agar tanaman cabenya tidak kering, membalik baju agar warnanya tak pudar sebelah, mengaduk nasi yang masak agar tak kering, dan aku menyerah untuk menyebutkannya satu persatu.

Cepet pulang ya Mah... itu ayam sama kucing ga dateng kalau mamah ga di rumah 😊

Sekian. Saya mau bobok siang.



First Solo Hiking - 3

Angin sore ini lumayan kencang, menerbangkan daun-daun kering yang berserak, debu-debu menganggu penglihatan… tapi ternyata, bukan alam saja yang sedang kacau, hatimu pun juga.

“Bapak ada di rumah?”

“Mau apa?”

“Mau tanya tentang kebenaran informasimu barusan.”

Matanya menghujam tajam, napasnya menderu, angin mengorak-abrik rambut ikalnya ke sembarang arah.

Kamu, kemana saja selama ini?

Siang itu setelah menghadiri acara pernikahan teman sekelas, kamu mengantarku pulang. Kenapa harus diantar pulang? Aku mulai tersenyum sepanjang perjalanan, menatapmu yang melaju dengan kecepatan sedang. Dua puluh menit khayalanku membumbung ke angkasa, semakin dekat jarak menuju rumah semakin tak terkendali debaran di dada. Inikah saat itu? Inikah?

Berulang kali aku menguatkan hati, menyiapkan jawaban terlembut agar tidak terlonjak ketika pertanyaan itu terlontar darimu. Sulit menerima kenyataan bahwa saatnya tiba juga. Yah, aku yakin seratus persen, apa lagi yang perlu diragukan? Dengan baik kamu tahu bahwa pukul sepuluh malampun aku berani pulang melewati hamparan sawah yang minim penerangan, sekarang, saat matahari bersinar garang? Ahh, tubuhku semakin panas dingin.

Aku terburu-buru memarkirkan sepeda motor, menghampirimu yang tersenyum di balik balutan hitam jaket polos tanpa ada satu tulisanpun di sana.

“Mampir dulu?”

“Aku langsung aja yah.”

Cleeenggg…. Khayalanku ternyata mimpi di siang bolong. Bangunan harapan setinggi langit itu merubuhiku seketika. Bergetar, lunglai, tak berdaya.

“Bapak nggak ada di rumah. Sana pulang.”

“Aku ragu.”

“Ya sudah kalau tidak percaya.”

“Kenapa tidak memakai cincin kalau sudah bertunangan? Siapa nama calon suamimu? Kau berbohong.”

Aku memejamkan mata, baru kali ini kamu berbicara dengan nada tinggi di hadapanku.

Kesempatanmu ada tiga tahun yang lalu, sekarang aku tak berani lagi untuk berharap sekalipun kali ini mungkin kau serius. Aku… aku… aku tak mau memberikan hati padamu. Tak mau lagi.

“Maaf yah, aku kasar.”

Aku mengangguk.

“Aku pulang yah. Kamu istirahat, nanti aku telpon sampai rumah.”

Setelah tubuhnya hilang dibalik tikungan aku segera menghapus nomor kontaknya, oh tidak-tidak itu sama saja, badanku gemetar, lalu kuputuskan untuk mematikan gawai dalam genggaman.

Sore ini, kamu menyatakan hal yang aku impikan tiga tahun lalu, yang masih terus aku pertahankan untuk tetap sabar menanti setiap harinya, hingga lemah tertatih untuk memendam harap. Sayang sekali semua tak lagi sama, cintaku masih ada, bersemayam di sudut hati yang khusus kusiapkan untukmu namun keyakinanku hilang bersama waktu-waktu yang terbang.



Bersambung…


First Solo Hiking - 2

Aku melihatmu laksana fatamorgana di tanah datar yang disangka air oleh orang yang dahaga.

Begitulah...

Entah...

Aku mulai sadar diri.

Sering terlintas berulang kali kenangan saat pertama dengan malu-malu kau meminta nomor pribadi. Kita sempat membuat drama untuk sekadar memanjangkan durasi agar percakapan tak segera berakhir.

Sore itu, ingat tidak sewaktu kau tiba-tiba ada di depan rumahku?

"Hai?" sapamu sewaktu aku muncul di depan pintu.

"Terima kasih ya tidak berbohong tentang alamat rumah," lanjutmu dengan senyum yang menampakkan deretan gigi rapi.

Aku mengangguk, masih mencerna kejadian dihadapan.

Sore indah itu yang kemudian hampir setiap sore kau datang, hingga jam pelajaran ditambah dan kita sudah tidak punya sore yang tersisa.

Mungkin aku salah terka, tidak semua masa putih abu-abu bercerita tentang cinta.

Sekarang di tanah rantaumu, adakah ingat diriku? Pernahkan terlintas untuk kembali pulang? Kau kan mau mengajakku mendaki, iya kan?

Merbabu atau lawu, aku suka keduanya. Masih ada edelweis di sana. Dari merbabu kita bisa melihat merapi di depan mata, sedang di lawu, dingin yang menusuk kita nikmati bersama secangkir coklat panas, yah, yang pasti kamu akan memesan kopi, lalu melihat bentang alam dari pos lima, berdoa saja kabut belum turun, tak ada badai, jadi kita bisa menanti matahari terbit dengan sinarnya yang menghangatkan.

Oh ya, kamu boleh lupa menghubungiku tapi jangan lupa makan juga potong rambut, ahh kenapa aku harus khawatir jelas kau risih jika rambut sudah menutupi dahi.

Selamat malam. Aku tidur lebih dulu. Dan kamu, ya, bisa tidak tugas kantor dikerjakan esok lagi saja?

Bersambung...

First Solo Hiking

Saat hewan malam berkuasa atas hening, nada dering khusus yang aku pasang hanya untukmu berbunyi nyaring. Sebuah alarm bagi hati yang merindu sebuah kehadiran, aku menyambar gawai dengan senyum beribu arti.

"Haloo?" sapaku membuka percakapan, ahh sungguh andai dia tahu betapa jantungku seolah baru saja berlari dua kilometer tiada henti.

"Aku mau ndaki sendirian," ujarmu dingin, datar, tanpa membalas sapaan lembutku.

"Ga boleh."

"Kenapa?"

"Bahaya."

"Toh di sana juga pasti bakalan ketemu temen."

"Gunung mana?"

"Lawu mungkin atau engga ya merbabu."

"Ga boleh. Jangan aneh-aneh deh."

"Sama kamu kalau gitu, mau?"

Aku ternganga, kenapa mudah baginya membuatku selalu terkejut?

Ini sama ketika sore itu dia menelponku, menanyakan waktuku esok hari dan ketika jawabannya kosong maka dua tiket bioskop menjadi perantara kami untuk duduk di depan layar.

"Kamu baik-baik saja?" tanyaku sebab hampir dua puluh menit dia meninggalkan gedung padahal film tengah mencapai konflik.

"Iya. Tadi ngabisin popcorn di luar," jawabnya santai dengan tatapan lurus ke arah para aktor yang sedang bermain peran.

Sejak itu aku mulai curiga pada laki-laki yang pendiam itu. Tak banyak bicara saat bersama namun akan panjang lebar ketika berkomunikasi lewat sambungan telepon.

"Mau makan atau pulang?"

Aku memutuskan untuk pulang, sebab prasangkaku di dalam gedung bioskop menimbulkan rasa tidak nyaman.

Dia berjalan di depan, membuatku terpaksa menatap lebar punggunya. Ahh, benarkah seperti ini yang aku mau?

Malam itu berlalu. Dia telah kembali ke tanah perantauan. Kami sesekali berkomunikasi lewat dunia maya, saling bertanya kabar, bercerita banyak hal, dan terkadang juga menemaninya yang pulang larut sebab ada tugas kantor yang harus segera dituntaskan. Aku menikmatinya, bahkan selalu berharap dia akan pulang setiap akhir pekan tapi yah itu jarang terjadi. Toh akan sangat melelahkan jika setiap minggu harus bolak-balik jakarta solo kan?

Terdengar suara orang mendengkur di seberang, aku tersadar akan sebuah sindiran.

"Kapan?"

"Ya belum tahu, siap-siap aja."

"Ooh ya, kabarinnya jangan mendadak yah."

"Ya mungkin memang kurasa perlu sekali seumur hidup ndaki sendirian."

"Baiklah-baiklah... jangan mengancam."

Telepon tertutup setelah satu dua kalimat pemaksaan lagi darinya.

Aku tertidur dengan membawa imajinasi yang luar biasa indah, hamparan edelweis yang tengah mekar, sinar hangat mentari terbit, gumpalan-gumpalan awan putih bersih, juga jalur pendakian yang terjal dan berkelok.

Manusia, makhluk yang diciptakan bersifat tergesa-gesa, bahwa segalanya terjadi bukan atas dasar keinginan diri tapi ada kehendak-Nya yang berkuasa namun seringnya kita lupa.


Bersambung...


Jabatan Gagah di Divisi RCO

Tetiba panggung yang awalnya gelap gulita memancarkan cahaya yang menyorot satu titik. Berdirilah dengan anggun tuan putri dengan senyum manisnya.

Taraaa... itu saya, hhaaa.

Baiklah... itu hanya pendahuluan. Terserah saya mau jadi apa aja kan?

Termasuk memegang jabatan penting dalam salah satu program ODOP yang selalu keren ini.

Reading Challenge Odop adalah program dimana membiasakan para anggota untuk membaca setiap harinya. Tujuan utama bukan banyaknya lembar yang telah dibaca namun seberapa kita mampu menyerap makna dari buku yang dibaca.

Keren kan?

Nah... asyiknya lagi. Grup ini adalah grup terhening. Semacam perpustakaan yang minim suara. Tidak boleh ada percakapan di luar zona buku.

Bukan itu saja. Jika biasanya kita hanya bisa membaca blurb untuk memutuskan membeli buku atau tidak di sini kita bisa membaca kutipan-kutipan terbaik dari isi buku, beragam buku, banyak sekali. Dari berbagai genre.

Mau apa lagi?

Bertebaran ebook yang tinggal bilang minta tema apa, nanti tinggal unduh.

Banyak banget pokoknya.
Semua anggota antusias mengikuti program ini, beberapa yang gugur mungkin hanya lupa laporan yang bukan berarti mereka tidak membaca, yah, kebiasaan melaporkan bacaan belum umum. Wajar jika lupa.

Tantangan yang diberikan setiap tingkatnya juga bukan sesuatu yang sulit. Basic penulis yang sudah tertanam pasti mudah menyelesaikannya.

Tidak ada rintangan berarti dalam RCO. Semua aman terkendali.

Ada yang penasaran apa aja tugas penanggung jawab RCO?

Cuma rekap laporan harian, ngasih tantangan, terus mengantar ke pintu gerbang anggota yang tidak menuntaskan syarat.

Itu aja. Mudah kan?

So, siapa mau mengisi jabatan gagah di RCO selanjutnya?

Sesederhana Itupun Susah

Membaca buku asing? Aha.


Saya langsung menuju rak kayu setinggi kurang lebih dua meter di perpustakaan. Banyak buku berjajar, warna-warni seperti pelangi. Pilih lalu pulang.

Iyup, saya pilih buku cerita untuk anak-anak. Ga sembarang pilih loh, nih 3 alasannya :
1. Bukunya tipis, jadi ga kehabisan waktu buat nyleseinnya, hhaa.
2. Banyak gambar  yang otomatis sedikit tulisan, hhaa.
3. Nah, ini alesannya agak bener. Saya penasaran aja sama cerita anak. Ternyata ga ada perbedaan cerita anak di indonesia dengan di luar. Sederhana.

Tapi ya itu... sesederhana itu saja ga bisa buat, hikss... sederhana di sini tidak sembarang sederhana ternyata.

Menulis cerita anak sama seperti menulis novel. Mendalami karakter tokoh. Jadi ya harus berpikir layaknya anak kecil, ga perlu blibet pakai diksi yang tinggi. Metafora segala macem. Muter-muter ga jelas ujungnya. Satu kalimat aja bisa satu paragraf nulisnya, hhiii.. ga gitu.

Cerita anak, dalam satu kalimat bahkan dilarang terlalu panjang. Iya, kan yang bakal baca anak-anak. Kalaupun orang tua, mereka juga bacain untuk anaknya kan? Puyeng deh klo disodorin tulisan panjang yang entah dimana ujungnya buat ketemu titik, hhee.

Ya begitulah... setiap karya ada ilmunya. Dan ilmu itu harus dicari, dipelajari, ditekuni baru bisa jadi ahli. Setuju gengs??

#RCO
#OneDayOnePost

Menyelesaikan Rasa


Entah kenapa hujan selalu menjadi latar perjumpaan kita, namun aku bersyukur akan hal itu.
Rintiknya mampu menyamarkan degup jantung yang berloncatan, tumbukan tetes air dengan benda padat lainnya bak melodi yang mengiringi setiap cerita kita.

Pun sore ini. Kamu hadir di hadapanku bersama senyum manis di wajah.

"Apa kabar?"

"Baik."

"Untukmu."

Aku menahan diri untuk tak berprasangka. Sebungkus bubur kacang hijau hangat akhirnya berpindah tangan. Menjalar sensasi yang tak terucapkan jauh di dalam dada, ada yang bergolak.

"Lagi apa di sini?"

Aku menoleh lalu buru-buru memalingkan wajah. Kesalahan fatal ketika masih teringat jelas rupa lelaki pemilik rahang kokoh itu.

"Hey, ada yang salah denganku?"

Hujan membuat kami berdua terperangkap di dalam warung angkringan yang belum buka. Jutaan air langit yang menghujam bumi merisaukanku akan detak yang masih sama seperti tiga tahun lalu. Semoga kamu tidak menyadari perubahan wajahku.

"Aku besok kembali merantau."

"Eh, cepat sekali."
Sungguh aku basa-basi ketika mengatakannya, sejujurnya kehadirannya kini menghancurkan dinding yang telah aku ciptakan dengan susah payah.

"Ada yang mau aku selesaikan."

Aku mengangguk, bagaimana bisa tiga tahun tanpa pertemuan nyatanya tak mampu meluruhkan rasa ini?

"Hhhaa... ngomong dong, dikira gila aku ngomong sendiri."

"Eh, maaf. Udah selesai urusannya?"

"Tergantung."

"Eh?"

"Urusanku adalah kamu."

Itulah saat di mana kurasa bumi berputar, aku takut sungguh takut dia mengungkit rasa yang berusaha aku kubur dalam.

"Boleh aku bertanya?"

"Silahkan."

"Tentang malam itu, apa kau merasakan sesuatu?"

Hujan semakin deras, beberapa mulai menerpa wajah. Kamu mulai membuka jaket namun aku menolak untuk menerima kebaikanmu lagi.

"Emm... ya."

Kamu tersenyum, ada binar di matamu. Sedang aku mulai gelisah.

"Tapi itu tiga tahun lalu," lanjutku sebelum kau mengatakan hal yang bisa menghentikan denyut nadiku.

"Sekarang?"

Aku tahu, ada harap yang terpancar. Namun tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk menata hati. Kilat menyambar, gemuruh guntur nyatanya tak banyak berpengaruh, ada hening di antara kita.

Aku menggeleng pelan, kukuatkan hati untuk melihat wajahnya.

"Sekarang, aku tak bisa mengembalikan rasa yang tiga tahun lalu kau abaikan."

Sunyi. Tak ada suara, kecuali hujan.

"Aku berdoa untuk kebaikanmu. Tak perlu menyesali apa pun, mungkin memang beginilah cara takdir bekerja."

Aku menembus hujan, membiarkan diri menggigil juga gigi gemeretak. Tak ada tangis. Hidupku tak boleh mundur, sebab di depan sana ada seseorang menungguku dan tak mungkin kupatahkan dia untuk yang kedua kalinya.




#RCOChallenge
#ODOP

Inginku Sekarang


Cita-citaku adalah menjadi manusia yang aktif, sibuk dengan berbagai kegiatan dan menebar banyak manfaat. Sekarang sudah terwujud, akhirnya tercapai apa yang dulu hanya di angan saja.

Interaksi yang terjadi memunculkan percikan-percikan rasa dalam dada. Entah siapa yang memulai atau mencoba melempar getaran semacam itu. Aku tak paham, sepertinya semua sesuai jalur tapi nyatanya ada hati yang nyaman seiring kebersamaan.

Memintanya mundur, sungguh hati tak semudah itu diperintah. Maju berdua tak ada hasrat untuk mewujudkannya.

Ketika bimbang meraja, galau membuat sesak maka kubulatkan tekad. Wanita, segala darinya indah. Tak ingin lebih banyak menyebar fitnah, aku ingin ikuti sunnah. Bismillah.


--------

Teruntuk kamu yang jika aku tak salah tebak, sedang tersenyum membaca keputusanku ini. Iya kan?

Tak Mau Tuhanku Cemburu


Untuk kamu...
Jika Dia memanggil, maka tinggalkan aku
Segerakan, dan tak perlu risau

Untuk kamu...
Saat Dia meminta perhatianmu
Jangan tunda hanya karena aku
Luangkan waktu tanpa ragu

Meski lantang kau bilang cinta aku
Mengumumkan pada dunia sekalipun
Sungguh aku tak mau
Jika caramu membuat Tuhanku cemburu

Kita hanyalah hamba
Yang tak miliki kuasa apa-apa
Jika kelak ingin bersama
Yuk, belajar percaya pada-Nya


Revisi Resolusi



Memasuki pekan kedua januari akhirnya aku harus merevisi resolusi, yah siapa lagi, gara-gara kamu tentunya.

Apa yang tertulis sebenarnya sudah kupikirkan matang, menimbang banyak hal tapi mungkin sifat dasar manusia yang tergesa-gesa dan lupa bahwa ada hal gaib yang bekerja di luar setiap rencana. Kamu termasuk yang Tuhan hadirkan untuk menunjukkan betapa besar kuasa-Nya.

Lalu aku harus apa?

Awalnya ragu namun ada bisikan yang mengatakan, hey kau hanya perlu meminta bukan? Tak perlu pusing memikirkan caranya atau bagaimana semua bisa terealisasi.

Kumantapkan hati, aku sedang merayu Tuhanku. Kamu? Jangan lupa untuk merayu juga 😊


Selesaikan Dulu Masa Lalumu


Terakhir aku melihatnya melingkarkan cincin di jari manis seorang wanita, wajah keduanya merona, kilatan kegembiraan terpancar jelas, aura bahagia membumbung ke angkasa, lengkap sudah.

Tak ada respons apa pun, aku menahan diri dari sekadar mengucapkan turut bersuka cita. Kenapa? Karena aku wanita, merasakan sesuatu yang tak perlu semua tahu.

Kami berteman di sosial media, wajar jika sedikit tahu kisah cinta dia ditambah informasi dari teman kerjanya. Aku tak meminta, tapi temannya yang entah sengaja atau tidak sering bercerita dan yup, aku tak pernah berminat untuk mendengarkannya. Kenapa? Karena aku wanita, merasakan sesuatu yang tak perlu semua tahu.

Sudah lama tidak terjalin komunikasi di antara kami nomernya sudah hilang bersama rusaknya gawaiku, tapi entah bagaimana dengan dia. Tak sekalipum aku mencoba mencari tahu. Pertemuan terakhir kami harus ditutup dengan segala prasangka yang aku tak pernah mau untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ahh lelaki, bagaimana bisa kau sesuka hati menjatuhkan vonis?

Siang itu di dalam ruangan kubus, sendirian, hampir saja aku terjatuh dari kursi. Ada pemberitahuan bahwa dia mengirim sesuatu. Selarik kata dan dua buah gambar. Tak butuh waktu lama untuk mengingat di mana gambar itu diambil.

Kecewa? Iya.

Hey, sebentar lagi kau berucap janji suci. Jangan main-main dengan hati.

Aku wanita, merasakan sesuatu yang tak perlu semua tahu.


Review Insecure



Lama sekali aku menanti kehadiranmu....

Eh salah, itu lirik lagu. Duh, padahal ini mau ngulas buku.

Teenlit adalab genre yang sudah lama tidak tersentuh. Yah, ada prioritas lain dalam menentukan genre buku untuk dibaca. Tapi, minggu ini keadaan tubuh sedang melayang, ga ada tenaga, pikiran entah kemana, yah begitulah. Kalau dipaksain baca buku yang pake mikir pasti pusing, mata berkunang-kunang dan tidur, hhaa.

Eh, ada buku tergeletak di atas kasur. Liat covernya yang warna merah langsung buat semangat (aku suka warna merah), balik halaman belakang sepertinya menarik, baca sepintas ending cerita dan yah udah tahu gimana alurnya.

Novel setebal 237 halaman itu akhirnya aku buka juga. Awal cerita masih pake mikir, soalnya nama tokohnya zee, aku kira cowok tapi ternyata cewek.

Bercerita tentang kekerasan dalam rumah tangga. Kalau sebelumnya aku baca bukunya bunda asmanadia yang Catatan Hati Seorang Istri kan diulas dari sudut pandang istri nah ini dibahas dari sudut pandang anak. Ngeri ga tuh?  Berasa nyambung sama buku sebelumnya terusin lah yang baca.

Teenlit itu hiburan, kita ga perlu mikir keras, ikuti saja alur cerita. Gemes itu pasti ada, sedikit rutukan sih saat Zee terima aja di "habisi" sama mamanya cuma gara-gara wajahnya mirip sama mantan suaminya. Wanita yah, sukanya emosian, lagian pernikahan kok buat perjanjian, padahal mah hati wanita mudah banget luluh, ga papa bu, pelajaran buat saya, hhaa.

Kalau urusan cinta di sekolah saya sudah khatam gimana awal mereka kenalan, saling berprasangka eh ujung-ujungnya jatuh cinta, hhaa. Manis sih, anak SMA mah belum pelik konflik cintanya.

Tebak, aku nylesein novel ini ga sampe empat jam (semoga ga salah inget). Sekali duduk. Yeay, prok... prokk...

Dan pertanyaan terbesarnya adalah apa yang menarik hingga aku ga branjak sampai halaman terakhir??

Balik lagi, teenlit itu hiburan. Dan aku terhibur dari penatnya rutinitas juga panasnya otak.

Jadi gengs... ayo beri dirimu hiburan. Hidup jangan melulu berpikir berat. Kita butuh keseimbangan, kan?

#ReadingChallengeOdop
#OneDayOnePost

Jangan Dulu Rindu Aku



"Ini hati seenaknya aja ngasih perintah."

Aku tertawa mendengar ia keberatan. Lagi pula siapa yang mau ngasih perintah tapi itu kalimat berita.

"Kalau kalimat berita kok akhirnya bukan tanda titik?"

Eh, bisa gitu baca pikiran aku, hhaa. Kalau kalimat perintah juga harus pake tanda seru dong.

"Kebaca dari raut mukamu."

Yupp... cause visual speaks louder. Mungkin begitulah ungkapan yang sesuai.

"Aku ga mau."

Terserah. Ga maksa.

"Nyebelin."

Aku perlahan menjauh, satu dua langkah lalu memperlebar jarak hingga ratusan kilometer.

"Maunya apa sih?"

Tunggu, kenapa suaranya masih terngiang dan terdengar jelas?

Aku lupa. Ada bahasa cinta mengetuk relung jiwa, menembus batas.

Inginku menjawab, namun maafkan, mulutku terkunci.

Adakah kau mau mengerti?


Nikah Yuk, Ci



_Nikah yuk, Ci._

Aku melongo. Serius. Tapi melongo kece gitulah. Melongo ga keliatan giginya.

_Aku yakin sama kamu saat pertama kali ketemu._

Kali ini sedikit meringis.

Sudah cukup, hhee. Nanti kebongkar lagi redaksi aslinya, hhoo.

Sudah lama aku bebas baper ketika banyak undangan pesta pernikahan berdatangan, ga ada lagi hasrat yang muncul ketika membaca waktu akad. Berlalu dengan senyum dan doa tulus untuk kedua mempelai.

Apa sebab?

Aku mengalami titik balik di mana pernikahan menjadi sesuatu yang membuatku tiba-tiba tersudut.

Apa itu?

Tidak akan aku ceritakan. Sebab apa pun itu kebanyakan kalian akan menasehati, yah dan sayangnya untuk saat ini nasehat justru akan membuatku semakin menarik diri. Tolong hormati, ada saatnya manusia memiliki peliknya sendiri.

Lagi pula tak usah kalian, teror datang dari mana-mana. Biar kujabarkan satu-satu.

Saat di tempat kerja, larik-larik dangdut memenuhi udara.

_Yen gelem tak jak rabi yen rak gelem tak jagongi. Sing ra penting pikir keri_

Lah... hal yang aku anggap penting belum tentu sama dengan dia, kan?

_Mangan karo telo penting aku karo koe. Tuku lombok utang neng tonggo penting aku karo koe. Opo wae aku lilo penting aku karo koe..._

Hhii... ini ga masuk akal, jangan tanya kenapa dan tolong tidak usah diresapi pula maknanya.

Satu lagi. Dilarang bertanya kenapa saya sampai hafal lirik lagu tersebut.

Sosial media pun gencar memunculkan gerakan nikah muda.

Baper? Enggak. Pengen unfollow tapi ga jadi, masih banyak hal bermanfaat yang mereka posting sih.

Eh, entah karena apa pak ustad lagi ceramah.

_Jika datang kepada kalian lelaki sholeh untuk meminang putri kalian maka jangan ditolak_

Nah... ada yang mau coba? Silahkan. Tapi ya terima aja kalau bapak belum kasih restu.

Apa pun yang orang lain lihat sungguh aku sedang menutupi banyak hal.

Jadi kumohon... berhentilah mengajakku untuk menikah. Karena hal baik yang harus disegerakan tersebut tidak menjadi resolusiku di tahun 2018.

Bagaimana dengan tahun depan?

Coba saja. Itupun jika aku masih ada di dunia.

---------------

Silahkan berkomentar dilarang melempar pertanyaan, hhaa.


Paket Umroh Murah

Rukun islam yang ke lima adalah naik haji (bagi yang mampu), namun sebagai umat islam tentu keinginan mengunjungi Baitullah adalah sesuatu y...