First Solo Hiking

Saat hewan malam berkuasa atas hening, nada dering khusus yang aku pasang hanya untukmu berbunyi nyaring. Sebuah alarm bagi hati yang merindu sebuah kehadiran, aku menyambar gawai dengan senyum beribu arti.

"Haloo?" sapaku membuka percakapan, ahh sungguh andai dia tahu betapa jantungku seolah baru saja berlari dua kilometer tiada henti.

"Aku mau ndaki sendirian," ujarmu dingin, datar, tanpa membalas sapaan lembutku.

"Ga boleh."

"Kenapa?"

"Bahaya."

"Toh di sana juga pasti bakalan ketemu temen."

"Gunung mana?"

"Lawu mungkin atau engga ya merbabu."

"Ga boleh. Jangan aneh-aneh deh."

"Sama kamu kalau gitu, mau?"

Aku ternganga, kenapa mudah baginya membuatku selalu terkejut?

Ini sama ketika sore itu dia menelponku, menanyakan waktuku esok hari dan ketika jawabannya kosong maka dua tiket bioskop menjadi perantara kami untuk duduk di depan layar.

"Kamu baik-baik saja?" tanyaku sebab hampir dua puluh menit dia meninggalkan gedung padahal film tengah mencapai konflik.

"Iya. Tadi ngabisin popcorn di luar," jawabnya santai dengan tatapan lurus ke arah para aktor yang sedang bermain peran.

Sejak itu aku mulai curiga pada laki-laki yang pendiam itu. Tak banyak bicara saat bersama namun akan panjang lebar ketika berkomunikasi lewat sambungan telepon.

"Mau makan atau pulang?"

Aku memutuskan untuk pulang, sebab prasangkaku di dalam gedung bioskop menimbulkan rasa tidak nyaman.

Dia berjalan di depan, membuatku terpaksa menatap lebar punggunya. Ahh, benarkah seperti ini yang aku mau?

Malam itu berlalu. Dia telah kembali ke tanah perantauan. Kami sesekali berkomunikasi lewat dunia maya, saling bertanya kabar, bercerita banyak hal, dan terkadang juga menemaninya yang pulang larut sebab ada tugas kantor yang harus segera dituntaskan. Aku menikmatinya, bahkan selalu berharap dia akan pulang setiap akhir pekan tapi yah itu jarang terjadi. Toh akan sangat melelahkan jika setiap minggu harus bolak-balik jakarta solo kan?

Terdengar suara orang mendengkur di seberang, aku tersadar akan sebuah sindiran.

"Kapan?"

"Ya belum tahu, siap-siap aja."

"Ooh ya, kabarinnya jangan mendadak yah."

"Ya mungkin memang kurasa perlu sekali seumur hidup ndaki sendirian."

"Baiklah-baiklah... jangan mengancam."

Telepon tertutup setelah satu dua kalimat pemaksaan lagi darinya.

Aku tertidur dengan membawa imajinasi yang luar biasa indah, hamparan edelweis yang tengah mekar, sinar hangat mentari terbit, gumpalan-gumpalan awan putih bersih, juga jalur pendakian yang terjal dan berkelok.

Manusia, makhluk yang diciptakan bersifat tergesa-gesa, bahwa segalanya terjadi bukan atas dasar keinginan diri tapi ada kehendak-Nya yang berkuasa namun seringnya kita lupa.


Bersambung...


No comments:

Post a Comment

Yuk sampaikan dengan santun :D