Modal Nulis Dapat Barang Gratis

Hai, hai... gimana sensasi baca judul di atas? Hhii, percaya ga? Harus percaya dong. Nih aku kasih bukti nyata.

Awalnya aku mau buka bisnis, kan seru tuh mandiri dan bergelut dengan inovasi eh tapi tahu sendiri kalau bisnis itu ga semudah menjentikkan jari, perlu tekad bulat dan mental yang kuat. Yah, akhirnya karena tidak bersungguh-sungguh jadi kesel sendiri deh lalu mulai aja curhat kesana kemari. Lama kelamaan malu juga, kelihatan jadi tukang ngeluh gitu. Nah akhirnya segala resah dan gelisah yang tak bisa ditahan sendiri ini aku tulis di sebuah diary digital alias blog, hhee. Pinter-pinter aja menyisipkan ke dalam tulisan jadi pembaca ga perlu tahu kalau ternyata itu curahan hati, hhii.

Ternyata kreasiku ini bisa dapat barang gratis dari Blibli.com loh, ih iya serius. Ini jadi awal aku belanja online, agak parno sih sebelumnya tapi karena dapat gratis ya coba aja eh ternyata ketagihan.

Kreasi Blibli.com
Jaket gratis dari Blibli.com

Mulai deh kepikiran kalau dari nulis aja bisa dapat barang gratis kenapa ga nulis tiap hari? Bayangin kalau setiap kita nulis terus barang-barang yang dibutuhkan bisa didapat tanpa bayar apa ga asyik? Asyik banget pasti yah. Bukan cuma itu aja, pasti ada kepuasan tersendiri memiliki barang hasil jerih payah sendiri. Wahhh, seru nih.

Mengisi blog dengan tulisan setiap hari nyatanya ga mudah loh, awal-awal memang ide mengalir lancar, gampang aja nulis tapi kesibukan harian lainnya bisa jadi tembok penghalang. Ide udah ketok pintu, kita muter mikir mengubahnya menjadi tulisan eh giliran mau nulis ada pesan masuk, buyar deh semua. Apalagi nih ya, aku termasuk orang yang susah fokus, harus benar-benar hening. Giliran waktu mendukung, tak ada suara menganggu eh aku juga udah pulas di balik selimut hangat, hhaa. Apalagi badan udah lelah gegara seharian muterin lapangan. Sempurna sudah alasan untuk memaafkan diri.

Esok hari ketika semangat sudah terisi, pikiran jernih menatap mentari pagi, tekad muncul untuk kembali membangun mimpi, hari ini pokoknya harus nulis. Titik.

Hasilnya?

Nulis dong. Ga semudah itu mematahkan mimpi, ciee.

Ternyata memulai bisnis dengan sesuatu yang disukai itu lebih mudah ya? Setuju?

Eh tunggu, seperti bisnis lainnya bahwa kita harus terus belajar agar prakteknya ga salah jalur. Belajar materi itu perlu dan mempraktekannya adalah sebuah bukti nyata dari kesungguhan. Mustahil sukses tanpa praktek, buang waktu jika tak mempelajari materi, mau praktekin apa coba?

Sebab aku ingin menjadikan menulis sebagai bisnis maka mencari teman seperjuangan adalah hal terpenting. Teman seperjuangan itu banyak manfaatnya loh, mereka bisa jadi guru, memberitahu hal yang kita tidah tahu. Bisa juga jadi teman bersaing yang sehat, kan kalau ada lomba jadi semangat yah kalau ada yang ngajakin. Jadi pemberi informasi juga, waah pokoknya banyak teman banyak manfaat deh. Intinya kita merasa tidak sendiri, ini nih pentingnya biar tumbuh rasa tenang jadi bisa nyaman deh saat nulis.

 Terkadang ide bisnis itu bisa muncul dari hal yang tidak terduga, inget kata senior untuk banyakin persiapan agar saat kesempatan datang kita siap untuk mengambilnya. Giat belajar sebab dunia terus berputar, jangan berhenti jika tak mau ketinggalan. Percayalah kita tidak sendiri, di luar sana banyak pejuang yang sedang tertatih meraih mimpi-mimpi besar mereka. Aku mau jadi bagian dari mereka. Yuk semangat.

Tolong, Jauhi Calon Suami Saya

"Mba saya mohon dengan sungguh, tolong jauhi calon suami saya mba. Maaf seperti memaksa sebab saya tidak bisa meminta ini darinya."

-----------
Aku melirik lelaki yang duduk di seberang, tangannya sibuk melengkapi kotak tts surat kabar tadi pagi. Sesekali menulis, mengerutkan dahi, menarik napas panjang, bahkan melempar pandangan pada jalan berbatu di depan rumah.

"Pulang gih"

"Dih ngusir."

"Aku kan ada kerjaan."

"Ya sana masuk. Ngapain di teras?"

Kami kembali terdiam. Angin siang membawa tetes air yang terasa sejuk menerpa wajahku, tapi tidak mampu menenangkan gemuruh hati di dalam.

"Ngomong aja lagi. Jangan suka dipendem sendiri. Noh, jerawat bukannya berkurang malah nambah."

Ihh sok tahu, emangnya dia ngitungin. Kembali aku mencuri pandang sedang dia masih menekuri kotak-kotak yang hampir terisi separuhnya.

Lelaki yang sejak belasan tahun silam mengisi pagi dengan denting batu kecil mengenai sepeda anginku, enam tahun. Pernah aku memarahinya, bisa-bisa sepedaku berlubang karena ulahnya. Eh dia berkelit, "Yee, itu aku bidik tepat di ruji, berbeda tempat tiap harinya. Ga perlu khawatir."

Seingatku pernah juga kuadukan pada ayah, bukannya membelaku ayah malah tertawa karena ulahnya. Ibu juga hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Jadi anak yang sopan dong. Kalau mau ngajak berangkat ke sekolah bareng ya ketuk pintu bukan lempar batu. Ngerti ga?"

"Ahh lama, nanti klo aku mampir bisa disuruh sarapan sekalian lagi."

Begitulah. Ayah dan ibu mungkin menginginkan anak laki-laki dengan segala tingkah polahnya maka selama masih batas wajar mereka tidak pernah protes. Puffftt..

"Pulang sana," seruku kesekian kali.

"Pusing ahh di rumah."

"Udah mau ujan tahu."

"Lah, rumah ga ada seratus meter ini. Lagian masak kamu tega ga pinjemin payung?"

Ya Tuhan... ini anak siapa sih. Susah bener disuruh pulang. Ahh ya, selalu begitu. Teras rumahku adalah tempat pelarian setiap dia pusing mengerjakan tugas. Terlebih kali ini pekerjaan sebagai arsitek menguras otaknya.

Aku diam saja.

"Masuk sana, masuk angin kamu nanti."

Lah, giliran dia yang bawel. Yah, seringnya begitu. Sejak kami bertetangga dan bersekolah di tempat yang sama semasa putih biru seolah dia menjelma sebagai pengawal yang memastikan aku harus baik-baik saja.

"Hhaa... pengawal? Aku tuan putri dong," timpalku ketika sepeda angin kami beriringan di sepanjang jalan pulang di bulan ketiga setelah perkenalan.

"Belum tentu. Kamu tetep temennya pengawal. Hhaa. Pengawal itu tugasnya mengabdi, mana boleh sakit. Dasar kepedean."

Kami tertawa bersama.

"Mau sampai kapan begini?", pancingku yang berhasil membuat tatapannya beralih dari surat kabar ke arahku, meski hanya beberapa detik.

"To the point aja sih. Susah amat."

"Ram, semisal Fatma deket sama cowok. Temenan doang. Kamu gimana?"

"Ya ga boleh dong."

"Ga boleh gimana? Kan cuma temenan?"

"Hhaa. Aku kok tahu arah pembicaraanmu."

Aku terdiam. Rama, nama lelaki itu. Memang cepat menangkap apa yang ingin aku sampaikan, menyederhanakan segala kerumitan ucapanku.

"Tahu apa?"

"Cewek itu ga bisa nahan cemburu."

"Lalu?"

"Hla kamu pikir cowok bisa?"

"Kelamaan ahh."

"Cowok juga sama, pada dasarnya setiap orang ingin agar dirinya spesial di mata pasangannya. Bedanya cowok bisa menahan rasa cemburunya, kebanyakan ga seekspresif cewek. Begitu."

"Tuh tahu."

"Hhee.. kapan Fatma ke sini?"

"Kemarin pagi."

"Kok ga langsung bilang ke aku?"

"Emang dia ga cerita ke kamu?

"Engga."

"Ya udah. Kamu lah jadi cowok perhatian. Peka kek. Udah mau nikah juga. Jaga perasaan."

"Wuiihh, panjang bener ceramahnya."

"Kan aku cewek juga dih."

"Jadi, ini hari terakhir aku diijinin main ke sini sesukan hatiku?"

"Iya."

"Karena Fatma?"

"Bukan. Karena kelak aku juga ga mau lelakiku menjalin hubungan dengan wanita di luar sana."

"Oke. Aku pulang. Bapak sama ibu mana?"

"Sana pulang, aku pamitin nanti."

Entah apa yang akan terjadi selanjutnya tentang hubunganku dengan teman masa kecil yang telah menyetujui permintaan bapak untuk menjagaku, anak kecil yang baru pindah dari kota ke sebuah desa ini.

Kata orang tak ada yang benar-benar murni dari persahabatan antara lelaki dan wanita, aku tak sepenuhnya setuju. Toh kita bisa. Tapi aku sangat setuju bila ada yang berkata bahwa wanita tak mampu menyembunyikan rasa cemburunya.

😊😊

Menemukan Ide Bisnis dengan Mudah

Sebagian besar orang memiliki impian menjadi pengusaha, memiliki bisnis sendiri dan membuka lowongan pekerjaan bagi orang-orang yang membutuhkan. Aku pun begitu, namun bingung hendak memulai dari mana, baru sebatas keinginan tanpa tahu hendak berbuat bagaimana. Bahkan, memulai bisnis apa masih belum memiliki ide.

Suatu hari aku hendak menghadiri sebuah acara, wah berhubung undangan bukan untuk umum maka bisa diperkirakan yang datang pun bukan sembarang orang, nah, penampilan menjadi ajang untuk menunjukkan diri di kesan pertama. Tahu kan repotnya perempuan kalau soal beginian? Segala dari ujung kepala ke ujung kaki harus cocok, entah gimana caranya. Mulailah bergerilya dari satu lemari ke lemari yang lain, lemari saudara maksudnya, hhee.

Baju dapat, sepatu oke, tas cocok, nah lo seharian cari jilbabnya kok ga ada yang serasi ya? pinjem lemari sebelah warnanya masuk sih tapi pasmina, aku ga bisa pakai. Ada lagi yang warnya serupa tapi terlalu tipis, harus memakai dua lembar agar tidak menerawang, uuurrrggggh, gemes. Coba inget-inget lagi punya ga ya model jilbab yang dibutuhkan. Nihil.

Baiklah, solusinya beli baru, yuhuuu. Eh ternyata ga semudah milih dan tinggal bayar loh. Satu toko ke toko lainnya ga ada yang sesuai dengan keinginan hati, seolah semua toko sepakat mengatakan pemasok sedang kehabisan barang dengan warna yang aku cari. Memangnya kalian, maksudku puluhan toko di kota ini mengambil barang dari supplier yang sama?

Aneh ya, kok bisa ga ada atau jangan-jangan seleraku yang tidak seperti kebanyakan orang? Wah kesempatan nih. Kesempatan apa? Berbisnis.Tapi kalau orang-orang aja ga ada yang nyari masak iya ada yang mau beli barangku?

Akhirnya di sisa-sisa waktu aku menemukan satu toko di pojok jalan yang memiliki model jilbab seperti yang aku butuhkan, alhamdulillah. Ide tentang bisnis ini masih terus mengantung di pikiranku hingga suatu hari aku iseng tes pasar. Pada sebuah acara aku memakai kembali jilbab yang penuh perjuangan untuk ditemukan itu lalu mulai membuka percakapan dengan siapa saja yang sedang berbicara denganku.

"Kamu tahu yang jual jilbab kayak gini ga?" pancingku seraya menunjukkan jilbab yang aku pakai.

"Wah ga tahu, susah carinya."

Masuk perangkap.

"Aku pengen cari, jilbabnya enak, gampang dibentuk, ga mudah kusut, terlebih ga nerawang lagi."

Dia menyentuh jilbabku, bak seorang desainer sedang menilai sebuah kain.

"Iya ihh, adem ya? Mau juga dong, tapi yang ukurannya panjangan dikit ada?"

"Nah loh, kan tadi sama-sama bingung mau cari di mana."

Kami berdua tertawa dan dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya bukan cuma aku yang membutuhkan jilbab dengan model seperti ini.

Yeaaahh, strategi di atur, kertas putih dihamparkan, tinta pena siap menuliskan.

Perjalanan menuju pusat kain terbesar di Kota Solo menjadi awal mewujudkan mimpi. Seharian berkunjung dari satu toko ke toko lain seakan jalur yang mengantar ke puncak dengan bekal harapan yang menjulang. Hingga selesai semua toko hanya berhasil menenteng plastik hitam tak lebih dari dua kilo. Lelah mulai mendominasi memutuskan semangat.

Tak semudah itu mencari kain untuk jilbab impian. Pantas saja tak banyak toko yang menjual jika kainnya saja begini sulit didapat.

Belum menyerah, putar otak, melihat daftar kontak dalam gawai, berselancar perlahan sembari memutar memori tentang siapa-siapa saja nama yang tertulis di sana. Ahh, dapat beberapa. Bertanya tentang penjual kain kepada mereka dan tak menunda lama untuk mendatangi satu persatu dari saran yang di dapat. Hasilnya? Mereka tidak menjual kain yang aku cari, hu huuu.

Baiklah. Tarik nafas. istirahat sebentar. Iya, beberapa hari maksudku. Mendapat rintangan di awal memulai bisnis itu sangat menguras kepercayaan diri.

Ketika semangat kembali muncul akhirnya kuputuskan untuk mencoba mencari online saja, berkelana di dunia maya yang luas ini butuh waktu berhari-hari lagi, hasilnya? Yah, ternyata memang jenis bahan tersebut susah di cari, tapi untungnya belum musnah dari peredaran, hhee. Iya, aku menemukannya, asyiiikkk.

Wah, jadi nih mulai bisnisnya. Eh tapi kan masih butuh banyak peralatan pendukung lainnya? Tenang, kalau untuk itu mah ga perlu ngabisin waktu berminggu-minggu, aku percaya memilih Ralali.com untuk membantu mewujudkan mimpi membuka usaha di tahun 2019 ini.

Sudah lengkap nih persiapan, tinggal eksekusi, bantu doa ya :)

Tafakur Hobi Para Nabi

Tafakur alam adalah hobinya para nabi, begitu garis besar yang aku tangkap ketika mendengar ceramah online ustad gaul, idola anak muda, yang punya ribuan follower, yang suka ngebully para jomlo, founder pemuda hijrah shift, siapa hayo? Yupp, Ustadz Hanan Attaki.

Teringat cerita bagaimana Nabi Zakaria panik karena Yahya kecil belum kembali ke rumah, ternyata Yahya sedang menyendiri menatap lubang yang ia buat sendiri. Sedang apa? Membayangkan bagaimana jika ia meninggal kelak, berada di lubang tersebut sendirian.

Kemudian kisah Nabi Ibrahim yang tertuang dalam kitab suci Al-Quran bagaimana beliau menunjukkan bukti kepada kaumnya bahwa Allah bukanlah benda-benda langit yang timbul tenggelam dan juga bukan berhala yang diciptakan oleh tangan manusia sendiri.

Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan.”

Demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.”

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (QS. al-An’am: 74 – 78)

Merenungi penciptaan langit, bumi dan seisinya dapat mengetuk hati bahwa betapa kecilnya kita sebagai manusia, tak sepatutnya menyombongkan diri hingga lupa semuanya bisa berakhir kapan saja. Jika hati terasa keras, penyakit hati terlihat jelas seperti iri, dengki, sulit menerima nasehat, mungkin waktu untuk bertafakur kita kurang atau jangan-jangan tak ada waktu yang diluangkan untuk melakukannya?

Tidak mudah memang, tak memiliki ilmu tentu mempengaruhi cara pandang kita terhadap apa yang sudah Allah cipta, itulah kenapa aku mencoba berbaik sangka terhadap apa yang alam tunjukkan di depan mata.

Sejak pekan kemarin sepeda motorku tidak ada di rumah, jadi harus menggunakan mana yang ada saja, berhubung keluar rumah paling pagi tentu dong aku pilih yang sudah siap pakai, sudah dipanasi mesinnya oleh bapak maksudku, hhee. Tapi karena itulah, ritual pagi sebelum berangkat pasti terlewat, seperti mengecek ketersediaan jas hujan di dalam jok.

Benar saja, sore pulang kerja hujan turun. Ahh, tak apa-apa kehujanan sehari, Insya Allah sehat. Sepanjang jalan bertekad esok pagi harus mengecek semuanya. Eeehh, besoknya lupa lagi, hujan turun lagi dan doa yang sama dipanjatkan berulang kali. Insya Allah sehat. Insya Allah sehat. Insya Allah sehat.

Hari ketiga, apa yang terjadi?

Sedari subuh hujan turun hingga waktu aku keluar rumah pun masih gerimis, yah, mau ga mau harus pakai jas hujan, kan ga seru kalau sampai tempat kerja basah.

Sorenya? Hujan turun lagi. Yeaay, aman bawa jas hujan.

Perjalanan sore hari ketiga aku tidak langsung pulang, ada tempat yang harus dikunjungi. Coba kalau lupa bawa jas hujan lagi, pasti batal deh. Alhamdulillah selamat sampai tujuan, beberapa teman yang sudah lebih dulu sampai menatapku cemas, terlebih beliau, bahkan hingga menawarkan baju ganti. Aku menolak halus, lagi pula hanya bagian bawah saja yang basah, tidak masalah. Berada di majelis ilmu dikelilingi orang-orang yang juga mengharap RahmatNya sudah membuatku hangat.

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam).” HSR al-Bukhari (no. 2948) dan Muslim (no. 1037).

Senja menjelang, kali ini menuju rumah masih ditemani hujan. Sepanjang jalan mulai merenung. Allah sayang banget yah. Gimana Dia mengingatkanku untuk memakai jas hujan sedari pagi, dimudahkan untuk beraktifitas seperti biasa, mungkin jika hari ketiga basah kuyup lagi sekarang sedang di bawah selimut, demam.

Di musim hujan ini wajar jika air langit jatuh ke bumi, tapi setelah sekian lama berlalu mengapa Allah turunkan di pagi hari? Saat aku hendak berangkat kerja? Masya Allah. Alhamdulillah. Allahu Akbar. Laa haula wala quwwata illa billah.

Rezeki Enggak Kemana


Pekan lalu saat suasana hening temanku nyeletuk, "Eh mba, coconut delight masak sepuluh ribu dapet empat."

Aku yang biasanya fokus ga mau diganggu kalau lagi pegang kerjaan tergoda juga, "Ah masa? Kok bisa?"

"Iya, kadaluarsanya maret 2019."

"Mau dong mau."

"Tapi yang posting temenku ngawi, hhee."

Dih, menyebalkan. Udah semangat yang respons ternyata beda provinsi, heemm. Eh tunggu.

"Besok akhir pekan kan kamu pulang?"

"Eh iya bener. Mau?"

"Iya mau, mau. Dua puluh ribu deh."

"Santai dong. Banyak amat?"

"Keluargaku kan banyak. Enam orang."

"Oh iya bener."

"Bisa bawanya?"

"Tenang aja."

Oke, tak apa menunggu sepekan lumayan kan bisa minum susu harga miring gitu, jarang-jarang, hhaa. Sebenarnya aku ga begitu tahu pasti harga asli jika tidak ada promo, maklum saja perut rada rewel sama susu sapi, mungkin di atas lima ribu rupiah kali yah harga aslinya. Alhamdulillah cuma aku seorang, keluargaku yang lain menerima segala jenis makanan.

Rencanya aku dan temanku akan bertemu hari selasa, tapi ternyata hari selasa urusannya belum beres. Yah mundur sehari lagi deh.

Oiya, niat awal beli susu itu sebenernya buat adik bungsu. Yah, perbaikan gizi anak kos. Udah kebayang bakal ngasih dia lebih banyak dari yang lain. Ehh tapi hari senin dia harus balik ke perantauan, ada kelas katanya. Ya udah deh. Disimpen dulu bisa kali ya.

Sesuai jadwal, senin ragil balik ke semarang.

Rabu sore akhirnya pesananku datang, yeaaay. Dapet delapan, banyak ternyata. Berasa emak-emak bawa buah tangan buat anak-anaknya di rumah, hhee. Sore itu hujan dan saya tidak bawa jas hujan, taraaa basah-basahan selama dua puluh menit, insya Allah sehat ga masuk angin. Aman, semua susu terselamatkan di dalam jok motor.

Sepanjang perjalanan ga sempet mikir apa-apa selain banyakin doa biar selamat sampai rumah (dilema pengguna kaca mata). Alhamdulillah, sesampainya di depan rumah ada kejutaaaaann...

Ragil berdiri di depan pintu.

Eh. Kok?

Ternyata dia pulang, ada tugas terjun lapangan. Baru sampai juga. Belum masuk rumah, masih pakai jas hujan. Allahu Akbar.

Rezekimu dek 😊

“Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku” – Umar bin Khattab

------
Ragil : anak paling akhir

Jangan Nilai Buku dari Judulnya

Related image 

 Don't judge a book by its cover. Baiklah sesuai dengan terjemahan dari kata mutiara tersebut, jangan menilai buku dari sampulnya. Hhii, maafkan sebelumnya karena cerita ini akan dimulai dengan tertawa sebab saya malu sendiri ketika memikirkan kejadian yang membuat saya gemas untuk tidak membagikannya.

Beberapa waktu yang lalu saya pernah menyampaikan keinginan hati untuk berhenti bekerja di sebuah perusahaan kepada kakak sulung saya, dia yang sudah memutuskan untuk berhenti menjadi karyawan menyambut baik niat baik saya tapi ya itu pilihan untuk menyambung hidup selanjutnya masih menjadi pertimbangan yang rumit. Berulang kali saya galau, antara iya dan tidak, mungkin kakak saya kesel juga liat adiknya terombang-ambing ga jelas, hhaa. Sayangnya dia juga tidak bisa mengambil andil besar dalam keputusan hidup saya yang dinilai sudah dewasa ini.

Suatu hari dia mengirimkan saya sebuah pesan, entah lewat whatsapp, email atau akun yang lain (lupa-lupa ingat) sebuah buku cooming soon. Waaaahh, tumben bener, biasanya juga kitab-kitab dengan hard cover. Belum jelas apa isinya tapi dilihat dari judul dan Blurb sih seperti sebuah novel yang menceritakan tentang pertaruhan antar karyawan untuk adu cepat mengajukan Resign. Hhee, kalian pasti udah paham novel apa yang saya maksudkan.

Segera saya membalas pesannya untuk membelikan buku tersebut, tapi nihil, dibalaspun tidak, hhaa. Eh berarti bukan lewat whatsapp dulu kirim gambarnya.

Waktu berlalu dan teman satu komunitas mereview buku tersebut. Waah, tanpa pikir panjang aku langsung aja colek, dan taraaa dapet, hhee.

Tahu ga apa isinya?

Novel Percintaan.

Hhaaa, mau ketawa guling-guling deh rasanya. Mungkin kakak sulung berpikir ini buku yang bisa memotivasiku untuk segera ambil langkah, menentukan pilihan mau gimana. Tapi ternyata jauh dari harapan, hhaa. Duh, udah deh takut kualat.
Kakak sulungku bukan orang yang hobi membaca novel, bahkan ketika adiknya ini menerbitkan novela pun dia cuma komentarin sampul dan hasil cetakan terus bilang, "Besok aku aja yang cetak."

Nah Mas, teruntukmu juga aku, jangan asal komentar terhadap sebuah buku yah sebelum membaca dan memahami pesan yang ingin disampaikan oleh penulisnya.

By the way, makasih loh yah sudah memberikan pengalaman tentang arti sesungguhnya dari kata mutiara di atas :)
 
---------------------------------

Sumber foto : http://ualbertalibrarynews.blogspot.com/2018/02/dont-judge-book-by-its-cover-is-back.html

Penggunaan Kata "Antum"

Besok ujian bahasa arab.

Gleg. Pemberitahuan dari temen menghentikan kinerja otakku sebentar, blank. Waduh, gimana ini.

Ya iyalah jelas aku kalang kabut. Bayangin aja, penggunaan kata "Antum" aja aku masih bingung, hla kok ini disuruh ujian. Panas dingin, meriang, kalau ijin ga masuk mah bukan solusi. Ujian susulannya malah semakin horor karena ga ada temen yang bisa dicontek, eh.

Inget banget waktu ustadzah bilang, "Kenapa ga ada yang tanya? Gimana ustadzah bisa tahu kalian paham atau engga kalau diem semua?"

Duh, itu suasana mencekam banget. Semua kepala menunduk, ga ada yang berani bergerak, kesemutan deh, mana intonasi ustadzah agak meninggi. Keliatan banget beliau kecewa karena kita ga ada yang berhasil mengerjakan kuis dadakan. Sejak itu aku entah dengan yang lain, bertekad untuk segera bertanya sebelum kami menghabiskan waktu sia-sia menanti keajaiban yang mustahil datang karena tak paham materi.

Oh iya, kembali lagi tentang penggunaan kata "Antum". Dalam bahasa arab terdapat kata ganti yang disebut dengan dhamir, ialah sebagai berikut :

هُوَ
(Dia [laki-laki]): untuk orang ketiga (yang dibicarakan), tunggal (mufrad), mudzakkar.

هُمَا
(Mereka berdua [laki-laki/perempuan]): untuk orang ketiga, ganda (mutsanna), baik mudzakkar maupun muannats.

هُمْ
(Mereka [banyak laki-laki]): untuk orang ketiga, jamak, mudzakkar.

هِيَ
(Dia [perempuan]): untuk orang ketiga, mufrad, muannats.

هُنَّ
(Mereka [banyak perempuan]): untuk orang ketiga, jamak, muannats.

أَنْتَ
(Kamu [laki-laki]): untuk orang kedua (lawan bicara), mufrad, mudzakkar.

أَنْتُمَا
(Kalian berdua [laki-laki/perempuan]): untuk orang kedua, mutsanna, baik mudzakkar maupun muannats.

أَنْتُمْ
(Kalian [banyak laki-laki]): untuk orang kedua, jamak, mudzakkar.

أَنْتِ
(Kamu [perempuan]): untuk orang kedua, mufrad, muannats.

أَنْتُنَّ
(Kalian [banyak perempuan]): untuk orang kedua, jamak, muannats.

أَنَا
(Saya [laki-laki/perempuan]): untuk orang pertama (si pembicara) mufrad, baik mudzakkar maupun muannats.

نَحْنُ
(Kami [laki-laki/perempuan]): untuk orang pertama, jamak, baik mudzakkar maupun muannats; digunakan juga untuk orang pertama tunggal (mufrad) yang mengagungkan dirinya.

Nah, sudah jelas kan? Tapi sering loh aku denger bahkan dipanggil "Antum" sama ustadzah. Bukannya "Antum" sebagai kata ganti dari (Kalian [banyak laki-laki]): untuk orang kedua, jamak, mudzakkar ya?

Inilah kesalahan yang saya akui, tidak langsung menanyakannya malah pusing sendiri, kapok deh, ga boleh lagi menerima begitu saja. Ga tahu ya tanya, malu? Ya elah. Malu mana sama ga tahu dan hanya menduga-duga? Bukan begitu adab penuntut ilmu kan? Bukankah penuntut ilmu harusnya haus akan keingintahuan yang dapat memperluas wawasannya?

Sekian lama diam akhirnya ustadzah menjelaskan apa yang malu aku tanyakan.

Antum adalah panggilan penghormatan kepada orang yang diajak berbicara, meskipun yang diajak bicara cuma satu orang.

Dalam budaya arab, laki-laki dianggap lebih tinggi dari perempuan, itulah kenapa kata "Antum" bisa digunakan sebagai kata ganti kepada perempuan, pun jika terdapat banyak orang yang di dalamnya terdapat perempuan dan laki-laki maka kata ganti yang digunakan adalah kata ganti laki-laki.

Oooo begitu ternyata. Jadi senyum-senyum sendiri, bagaimana beliau begitu menghargai meskipun kepada anak didiknya.

Penggunaan kata "Antum" hanya boleh digunakan dalam bahasa komunikasi yang dimaksudkan untuk penghormatan. Jika dalam bahasa tulis tidak boleh, harus sesuai dengan kaidah yang telah ditentukan.

Begitu, paham tak?

Fiuh, satu kata loh. Cuma satu kata aja pusingnya, hhaa. Yuk ahh semangat belajar, jangan lupa tanya kalau ga tahu, buang tuh gengsi.

Paragraf terakhir ditujukan kepada penulis semata 😂.

-----------
Penjelasan dhamir diambil dari :
http://qonitah.com/kata-kata-ganti-الضَّمَائِرُ/

Pendaftaran Menjadi Wanita, Istri dan Ibu Shalihah


Menjadi muslimah bukanlah perkara mudah, terlebih kelak akan menjadi seorang ibu di mana tanggung jawab anak-anak dan keluarga ada di pundak. Lalu apa yang harus dipersiapkan? Jelas mencari bekal dong, mengemban tugas rumah tangga juga pendidik pertama buah hati tentu memerlukan ilmu yang tidak boleh diabaikan.

Alhamdulillah, untuk warga solo raya ada sekolah yang menyediakan apa yang muslimah butuhkan loh. Madrasah Ishlahul Ummah merupakan lembaga pendidikan islam non formal khusus muslimah. Membekali para muslimah agar siap mengemban tugas sebagai zaujah shalihah dan pendidik generasi Rabbani, medrasah ula bagi anak-anaknya.

Tujuan pembelajaran ini diharapkan nantinya santriwati dapat menjadi muslimah yang berilmu dan bertaqwa. Memiliki tashawwur yang benar dan iradah yang lurus. Beraqidah salimah, beribadah shahihah dan berakhlak karimah.

Lalu apa saja materi yang dipelajari?
1. Aqidah
2. Tahsin
3. Tahfidz
4. Tafsir
5. Ulumul Quran
6. Hadist
7. Musthalah Hadist
8. Tarbiyah Syakhhsiyah
9. Fiqih
10. Faraidh
11. Sirah Nabawiyah
12. Bahasa Arab

Wuih, sebanyak itu berapa lama? Pembelajaran ditempuh selama 3 tahun (6 semester). Setiap ahad pukul 07.15 - 12.00 WIB.

Lama? Sabar, bukankah mencari ilmu itu dari buaian hingga liang lahat? hayoo, udah lupa ya?

Semua materi di atas itu akan disampaikan oleh pengajar yang terdiri dari para ustadz dan ustadzah lulusan perguruan tinggi (Ma'had 'Ali An-Nur, Ma'had 'Ali Al-Islam Bekasi, LIPIA, UMS, UNS) dan beberapa pondok pesantren di nusantara.

Biaya pendidikannya berapa? Murah banget pokoknya mah. Cuma tiga puluh ribu per bulan, iya Rp 30.000 ,- aja.

Yuk, masih ada sepekan untuk mendaftar. Pendaftaran ditutup tanggal 27 Januari 2019 loh. Bonus gantungan kunci kayak gini nih, boleh pilih salah satu.



Begitulah, yuk teman-teman yang di soloraya manfaatkan kemudahan yang Allah berikan, belum tentu di tempat lain dimudahkan seperti kita.

Oiya, kalau mau tanya lebih lanjut bolehlah ke saya, dengan senang hati Insya Allah dibantu jawab yah.

Kekonyolan Sebagai Blogger



Semenjak memutuskan membeli domain, saya memang berniat untuk serius menggarap blog, yah blogger profesional gitu intinya. Nah, pastinya harus dong belajar gimana menjadi blogger yang bisa menebar banyak manfaat? Ketemulah satu dari sekian banyak cara. Apa itu?

Menulis minimal 300 kata.

Iya, soalnya artikel yang terdiri dari 300 kata barulah dianggap bagus oleh google, mesin pencarian yang masih menjadi rujukan pertama bagi sebagian besar pengguna jaringan internet. Dianggap bagus karena kepanjangan artikel yang dirasa cukup memuat hal-hal yang berhubungan dengan keyword.

Kenalkan saya blogger yang masih belajar, hhii. Jadilah segala macam hal manual dilakukan, bukan karena apa-apa tapi karena belum paham cara yang lebih keren untuk memanfaatkan teknologi, hhoo.

Saya mendownload aplikasi blogger di gawai, untuk memudahkan nulis di mana pun berada. Tapi eh tapi kok saat saya menulis tidak ada jumlah kata di layar yah? Jadi kan saya bingung sudah cukup belum memenuhi aturan sesuai yang google syaratkan, hhee. Jangan-jangan saya yang ga tahu lagi gimana pengaturannya? Kasih tahu dong kalau misal memang ada yah.

Lalu bagaimana? Ya terpaksa pake cara manual deh. Eitss, bukan dihitung satu satu loh ya, itu mah kurang kerjaan banget, hhee. Bisa jadi satu artikel lagi saking lamanya ngitung, belum lagi kalau lupa di tengah jalan, duh berabe. Pusing, pening dan ga masuk akal.

Begini rahasianya.

Saya copy semua tulisan kemudian paste di wordpress. Iya serius, jangan ketawa. Saya punya blog juga di wordpress, tapi mencoba fokus satu dulu di sini. Nah,  dari pada nganggur ya dipakai lah buat ngecek jumlah kata, hhii. Berasa ibu tiri, kejam gini duh.

Baiklah... ini konyol memang. Tapi saya percaya kalian juga punya cerita konyol sebagai blogger kan? Hayoo ngaku, inget-inget dulu, ga usah malu gitu. Coba cerita, nanti saya dengarkan :D

Gambar di atas itu pakai laptop, soalnya gawai lagi di charger. Kalau ditunda biasanya ga jadi nulis, hhaa. Oiya jadi inget sama artikel yang pernah saya baca namun lupa siapa penulisnya, intinya bahwa kebanyakan blogger itu pemalas. Nah lo nah lo, cung yang kesindir, saya temenin kok.

Sekian curhatan saya. Semoga menghibur.

Blogger atau Bloger?




Jadi "G" nya berapa, satu apa dua?

Nah, bingungkan? sama dong kayak saya, hhee. Tenang, yuk cari artinya masing-masing. Silahkan ketik keyword di  google. Apa yang keluar?

Blogger adalah sebuah layanan publikasi blog yang dibuat oleh Pyra Labs dan diakuisisi oleh Google pada tahun 2003. Secara umum, blog yang dihost oleh Google berada di bawah subdomain blogspot.com. Blogger memperbolehkan penggunanya untuk mempublikasikan blognya di server lain, melalui FTP hingga 1 Mei 2010.


Hasil gambar untuk blogger


Sedangkan kalau kita ketik Bloger, maka hasil yang muncul adalah sebagai berikut

Mungkin maksud Anda adalah: blogger

Akan berbeda hasilnya jika kita mencari arti dari dua kata tersebut di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Hasilnya adalah :

blo.ger /blogêr/

  • n cak sebutan untuk orang yang mengeblog; pengeblog; narablog

blogger

Entri tidak ditemukan.

Jika Anda mengetahui makna entri [blogger], silakan memberikan usulan kepada redaksi melalui tautan di bawah (bertuliskan Usulkan Entri Baru). Usulan Anda akan langsung masuk ke meja redaksi. Jika usulan Anda telah diluluskan, usulan tersebut akan ditemukan di dalam KBBI Daring. 

Sejujurnya ini adalah masalah yang saya hadapi, maklum sebagai anak baru di dunia maya sering bingung dengan orang yang mengenalkan diri sebagai blogger, eh waktu dicari tahu artinya ternyata sebuah layanan publikasi blog? ga nyambung kan? Terus waktu cek di KBBI  ga ketemu, nah lo.

Setelah bersemedi cukup lama ternyata ketemulah kesimpulan bahwa Blogger memiliki dua arti, yang pertama jelas sebagai penyedia layanan publikasi blog, sedangkan yang kedua benar juga digunakan untuk menyebut orang yang mengeblog. Pernah ga denger pengeblog atau narablog? jarang kan yah, lebih famliar dengan blogger.

Sudah tidak perlu dipusingkan, toh sudah menjadi rahasia umum apa yang dikenal masyrakat luas itulah yang kita pakai. Ga perlu khawatir juga kalau ternyata kita pakai kata yang tidak baku karena tidak muncul saat di cari di KBBI, kan kita bisa usul biar diloloskan, yeahh.

 Satu lagi, kalian pernah tahu ga ada yang menggunakan kata Bloger? Iya, "G" nya satu? Jangan lupa kasih tahu saya yah, saya kan juga pengen tahu.

Ibu, Kisahkan Sebuah Cerita

Menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak dianjurkan melalui sebuah cerita, sebab menurut para ahli itu lebih mudah untuk diterima. Itulah kenapa penting bagi orang tua maupun pendidik untuk menceritakan kisah-kisah yang di dalamnya terkandung nilai-nilai moral juga pelajaran yang nantinya bisa ditiru oleh si anak.

Sudahkah sampai padamu kisah Abdullah, anak kesayangan Abdul Mutthalib, pemuda tampan yang dicintai kaum Quraisy, lelaki yang ditebus dengan 100 ekor unta? Pemuda Hasyim yang menahan diri untuk tidak segera meminang "bunga Quraisy"?

Bukti bagaimana cerita tentang sebuah kisah begitu membentuk pribadi seseorang.

Setelah berhasil memegang wewenang distribusi air Zamzam untuk para jemaah haji, tanpa disaingi oleh seorang pun dari kaumnya, Abdul Mutthalib bernazar bahwa ia akan menyembelih salah satu di antara anak-anaknya di dekat Ka'bah jika ia memiliki sepuluh anak yang bisa melindunginya, ketika itu ia baru memiliki satu anak laki-laki. Waktu berjalan hingga Allah mengabulkan pintanya, dan ketika tiba saat pengundian, Ka'bah memilih Abdullah untuk disembelih.

Duka yang dalam tidak hanya menyelimuti hatinya, seluruh penduduk Mekah pun merasakan hal yang serupa. Namun janji harus ditepati terlebih kepada Pemilik Ka'bah.

Ketika sang ayah hendak menyembelih anak bungsunya itu, orang-orang Quraisy menghampirinya dan memberikan nasehat tentang sikapnya yang ditakutkan akan dicontoh oleh lelaki-lelaki lain yang kelak akan menyembelih anaknya di kemudian hari. Mereka menawarkan untuk menebus dengan harta benda yang mereka miliki.

Kemudian kaum tua Quraisy menyarankan agar Abdul Mutthalib pergi menemui seorang peramal wanita di Khaibar. Menanyakan perihal ini.

Kepergian ayah dan anak beserta rombongan ini meninggalkan harapan-harapan di setiap jiwa penduduk Mekah. Doa-doa yang tiada henti dilantunkan untuk kebaikan si lelaki sabar yang sebentar lagi akan menemui ajalnya, Abdullah, hiasan kaum muda dari Bani Hasyim.

Dua puluh hari kepergian mereka, selama itu pula seolah kehidupan ikut berhenti, para hamba sahaya sibuk mencari informasi kesana-kemari hingga rombongan yang pergi akhirnya kembali.

Si peramal wanita mengatakan untuk mengundi Abdullah dengan sepuluh ekor unta dengan anak panah. Jika undian yang keluar adalah Abdullah, maka tambahilah sepuluh ekor unta lagi hingga undian yang keluar adalah unta, maka sembelihlah unta itu sebagai gantinya, karena Rabb kalian sudah rida dan Abdullah selamat.

Setelah melakukan pengundian, akhirnya seratus ekor unta disembelih, lalu daging-dagingnya dibiarkan begitu saja. Siapa pun manusia ataupun hewan liar yang datang menghampiri, tidak dihalangi sedikit pun.

Kisah penebusan nyawa Abdullah sangat mengguncang hati orang-orang mekah karena merasa iba kepada seorang pemuda saat ujung parang sudah menyentuh lehernya. Kesabaran, ketenangan dan kerelaannya menerima takdir kemudian disambungkan oleh bangsa Arab dengan kisah Ismail  yang hendak disembelih oleh Nabi Ibrahim as sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah Allah SWT. Lalu Allah menebusnya dengan seekor domba besar setelah kematian sudah dekat seukuran dua busur panah, atau bahkan lebih dekat lagi.

Cerita yang dikisahkan secara turun-temurun oleh para leluhur mereka dari generasi ke generasi nyatanya membekas ke dalam hati.

Kepatuhan, ketundukan, kerelaan terbentuk melalui proses yang panjang, dan orang tua memiliki andil besar dalam membentuk kepribadian buah hatinya.

Abdullah, orang terpilih yang segera setelah penebusan dirinya ia bersama ayahnya meminang "bunga Quraisy", yang dari pernikahan tersebut lahirlah pemimpin umat ini, Nabi Muhammad SAW.

Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad

-----
Sumber : Biografi Istri dan Putri Nabi SAW

Musim Hujan Bukan Penghalang

Sedia payung sebelum hujan, sepertinya peribahasa yang sejak sekolah dasar diajarkan begitu melekat hingga kini, persiapan nomer satu, begitulah intinya menurutku.

Sebagai muslimah yang pagi di mana, siang ke mana eh sorenya udah sampe mana, sungguh butuh payung di musim hujan ini. Harus banget nih dipersiapkan sebagai muslimah aktif yang enggan menganggap hujan sebagai penghambat, hla jelas-jelas hujan itu rahmat, ya to?

Payung di sini kalau diartikan secara denotasi ya payung, hhee.  Maksudnya ya kalau beraktifitas naik mobil pribadi atau kendaraan umum ya kudu wajib bawa payung dong. Beda cerita kalau bawa sepeda motor, payungnya diganti dengan jas hujan. Nah aman deh sementara, siap sedia kalau tiba-tiba hujan turun.

Kok sementara?

Iya sih kalau menurut pengalaman aku, soalnya bisa jadi kita kehujanan waktu terjebak kemacetan, posisi di tengah pula, mau ngambil jas hujan kok ya motor saling mepet, mau minggir udah penuh manusia, hhii. Pasrah doang deh. Bisa juga hujannya sudah reda, terang benderang, pelangi di ujung cakrawala, eeehh genangan air yang beriak tanda tak dalam itu menyembur akibat gesekan dengan ban kendaraan pengendara lain, fiuhhh, tahan, banyakin istighfar.

Terus gimana?

Tenang, seorang muslimah ga boleh pundung, ngambek sama keadaan, sampai ngebatalin acara cuma gegara hal seperti ini. Rugi itu namanya. Apa yang sudah tertulis harus sekuat tenaga untuk di ceklis nanti malam, kan seru tuh. Berhasil melewati hari dengan target tercapai. Kereeen.

Bawa baju ganti. Titik. Ga pake alesan bagasi penuh, tas berat, repot dan segerobak alasan lainnya.

Itu ide brilian banget deh, lagi-lagi menurutku. Ga boleh ditawar. Harga pas.

Iya sih maklum, bawa baju ganti itu berarti ya semuanya, kaos kaki, jilbab, baju atau gamis, banyak yah? Iya memang. Tapi sebanding lah dengan kenyamanan menggunakan baju kering kan?

Jadi sebenarnya ada solusi di setiap masalah, coba diam sebentar, berpikir, jangan buru-buru menyerah dan kalah. Jadilah tangguh dengan bersungguh-sungguh. Yuk ceria meski hujan tak kunjung reda :D

Apa Jadinya Tanpa Ada yang Peduli?

Begini, jadi dari sekian banyak grup yang saya ikuti ada satu yang ga pernah sepi, iya ada aja yang muncul, entah bahas hal penting sampai hal-hal yang biasa aja. Dari pagi sampai malem terus ke pagi lagi, hhee, ga tidur apa ya mereka?

Nah, karena ini grup, maka banyak penghuni yang memiliki pandangan berbeda, wajarlah namanya juga banyak kepala kan? Pro dan kontra tentang fungsi grup yang sesungguhnya.

Nah lagi, yang buat saya salut adalah ada saja orang yang mau menengahi. Kenapa tebak?

Karena mereka peduli. Orang-orang yang memperhatikan supaya grup tetap nyaman bagi para penghuninya, juga tidak melenceng dari fungsi awal pembentukan.

Lalu saya bergidik ketika membayangkan apa jadinya tanpa kehadiran orang-orang yang peduli?

Tak ada lagi guru yang tulus menekankan bahwa fokus terpenting dari ilmu adalah pengamalan.

Entah bagaimana para pasien melewati masa kritis mereka tanpa pengawalan dari ahli medis yang lemah lembut melayani.

Masa depan bangsa yang akan diusung oleh para generasi hebat di mana orang tua yang membimbing sepenuh hati, menjadi negara yang kuat mental dan berdikari.

Tumpukan sampah yang menyengat andai kata petugas kebersihan asal-asalan mengerjakan tugasnya.

Jalanan rusak, penuh lubang, berbahaya bahkan bisa merenggut nyawa jika saja pemerintah tidak cepat aksi dalam memperbaikinya.

Saudara-saudara kita yang kelaparan, kekeringan, berjuang bangkit kembali dari cobaan bencana alam. Sungguh butuh kita untuk memperhatikannya.

Jeritan orang-orang yang mempertahankan keyakinan mereka, meski jauh dari jangkauan tangan pun tak luput untuk minta dipedulikan.

Jangan diam begitu, jangan nyaman dengan keadaan yang sekarang. Kita bisa menjadi bagian dari orang-orang yang peduli loh, pejuang keadaan untuk mencapai kedamaian bersama.

Satu lagi, seseorang yang begitu peduli dengan segenap jiwa raga beliau, menanti, mendoakan, memintakan ampunan, menyediakan air kehidupan kelak, sungguh telah jelas dari siapa suri tauladan sifat peduli yang menggetarkan jagad raya itu, Al-Musthafa Al-Hasyimi, penutup para nabi, Rasulullah SAW.

Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad.

Bersama Blibli Wujudkan Mimpi

Wah, ga terasa hampir seminggu yah kita memulai tahun 2019, semoga apa yang diharapkan di tahun ini tercapai, oiya masih boleh loh untuk yang belum memiliki resolusi, yuk rancang sekarang. Entah  perlu atau tidak tapi sudah menjadi tradisi membuat resolusi setiap memasuki awal tahun, pun begitu dengan saya. Harus ada yang berubah menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya dan mulai tahun 2019 ini, saya bertekad untuk menjadi muslimah mandiri. Mandiri? Iya mandiri, keadaan di mana saya dapat berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain, syukur bisa memberikan manfaat yang lebih banyak untuk orang-orang di lingkungan sekitar.

Yup, saya harus jadi Muslimah Preneur, pengusaha perempuan. Wiiihh, keren ga tuh? Keren banget kan? Oleh sebab itu saya butuh kamera. Buat apa hayo?

Bentuk visual memiliki keunggulan dibandingkan dengan audio, meningkatnya pengguna sosial media seperti facebook, instagram, youtube dan akun sosial media lainnya membuktikan bahwa sekarang kita berada di mana menatap lebih mengasyikkan dibanding mendengar. Terlebih ada juga yang berpendapat bahwa gambar dapat berbicara lebih dari pada tulisan, setuju ga?

Kamera menjadi alat penunjang bisnis yang sangat penting, oleh sebab itu kehadirannya sangat dibutuhkan sebagai modal awal menyebarkan berita pada dunia bahwa saya punya produk. Simpelnya gini, orang ga perlu datang ke toko untuk melihat barang yang dicari, kita juga ga perlu punya toko offline jika terasa berat saat di awal. Nah, untuk menunjang kepercayaan calon pelanggan maka kita harus menampilkan gambar yang sesuai dengan produk aslinya, kalau pelanggan senang maka orderan akan terus datang, hhee.

Ternyata kamera itu bermacam-macam jenisnya loh, ada Kamera Saku, Kamera Mirrorless, Kamera Aksi, DSLR, Kamera Video dan banyak lainnya. Terus saya kudu gimana nih? Kata temen suruh beli aja di Blibli, segala macam kamera tersedia, tinggal pilih mau yang mana gitu. 

Kenapa harus Blibli?

Ternyata saran temen saya itu bukan tanpa alasan loh, setiap harinya ada promo menarik, waw, setiap hari? Iya. Sepertinya Blibli serius nih menjadi pelopor mal online terbesar dan terlengkap di Indonesia dengan beragam kategori pilihan untuk memenuhi kebutuhan keseharian. Baiklah saya jatuh cinta di awal, mari lanjutkan untuk mengenal lebih dalam, eh.

Saya langsung meluncur buka aplikasi, daftar dan pilih kategori kamera. Wah, senang sekali karena ada promo "Superb Hot Deals" setiap hari senin sampai jumat mulai pukul 10.00-17.00 WIB yang menawarkan flash sale dan ekstra diskon terbaik setiap harinya untuk kategori kamera. Duh, siapa sih yang ga suka diskon, hhee. Benar saja beragam kamera tersedia, tinggal pilih mau yang mana.








Eitss, bukan itu aja, ada lagi nih promo spesial jika berbelanja online menggunakan kartu kredit maka akan mendapatkan keuntungan cicilan 0% untuk 3,6,12 hingga 24 bulan (khusus BRI). Kalau ga punya kartu kredit gimana dong? Tenang, kita bisa pilih satu dari sekian banyak kemudahan cara pembayaran, Cash On Delivery/COD, internet banking, transfer melalui ATM, pembayaran uang elektronik dan pembayaran melalui offline store (Indomaret dan Pos Indonesia). Gampang banget kan?

Oiya, ini nih yang paling penting. Keamanan dan kenyamanan berbelanja online di Blibli pasti terjamin soalnya ada Customer Care yang siap membantu 24 jam. Wuihh. Mau belanja jam berapa pun ga masalah dong ya. Kerennya super nih Blibli.

Terima kasih ya Blibli sudah bantu mewujudkan mimpi.

Ummu Musa, Ibu yang Menghanyutkan Bayinya

Sosok ibu selalu digambarkan dengan kekuatan menahan lara, menutupi duka dengan senyum bahagia. Kelembutan dan sifat penyayang yang menjadikannya rela berkorban demi buah hati tercinta.

Bukan sebuah kebetulan jika para nabi terpilih merupakan hasil didikan ibu mereka yang luar biasa hingga mampu mengemban risalah untuk umat.

Kisah Nabi Musa as yang dihanyutkan sudah sering kita dengar, sekarang marilah kita tengok saudarinya yang juga menjadi bukti betapa sosok Ummu Musa begitu menginspirasi, berhasil mendidik anak-anaknya, menjadi wanita terpilih yang mendapat ilham dari Allah SWT.

Dari buku Masterpice Ummahatul Mukminin, Biografi Istri dan Putri Nabi SAW, nama saudara perempuan Musa ialah Maryam. Bagaimana sikapnya melewati kegentingan saat itu, ketika Fir'aun mengeluarkan perintah untuk membunuh semua bayi laki-laki Bani Israil dan ternyata ibunya melahirkan bayi laki-laki?

Sifat Fir'aun yang telah melampaui batas tertulis jelas dalam Al-Qur'an dan ia tidak pernah main-main jika telah mengeluarkan perintah. Tujuh puluh ribu bayi lelaki telah dibunuh hanya karena takut singgasanya direbut. Bidan dengan jumlah banyak dikirim ke berbagai penjuru kerajaan, setiap bidan telah diawasi oleh prajurit. Maka akan sangat sulit sekali mengelak.

Ketenangan Ummu Musa yang saat itu segera menyimpan Bayi Musa di dalam tungku perapian menjalar pada Maryam, anak perempuan yang sejak awal membisiki ibunya dengan kehadiran prajurit di depan pintu.

Satu masalah berlalu, hingga tiba saatnya Ilham dari Allah kembali turun untuk menghanyutkan Musa ke sungai Nil. Hampa hati Ummu Musa, bayi yang baru saja dilahirkan kini harus terpisah. Maka ia meminta Maryam untuk mengikuti kemana aliran sungai membawa Bayi Musa.

Hasil didikan Ummu Musa begitu membekas dan terlihat jelas dengan keberanian yang ditunjukkan Maryam ketika memasuki istana dan mengatakan hal yang tanpa ketenangan maka semua rahasia akan terbongkar.

"Maukah aku tunjukkan kepadamu, keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik padanya?" (Al-Qashash:12)

Kecurigaan orang-orang istana dengan hadirnya orang asing yang tiba-tiba menjanjikan sesuatu nyatanya mampu dijawab Maryam tanpa menimbulkan tanya lebih jauh lagi.

Keberhasilan Maryam membawa pulang Musa membuat gembira hati Ummu Musa.

Sungguh, tiada muncul sosok Maryam yang begitu pemberani dengan ketenangan dan kecerdasan tinggi tanpa didikan wanita yang luar biasa pula.

Sekali lagi bukan kebetulan jika Allah memilih Ummu Musa untuk melahirkan dan menjaga hamba pilihan-Nya, seorang nabi pengemban risalah.

Nanti Deh

Nah, apa yang terlintas ketika membaca judul tersebut? Kalau aku sih sebuah ungkapan penundaan yah.

Apa itu penundaan? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia penundaan itu berarti cara mengundurkan waktu pelaksanaan.

Aku sendiri sering melakukan itu, hhoo. Aib ini sebenarnya, wkwkwk. Gini contohnya.

"Ci, makan yuk."
"Nanti aja klo punya uang."

"Ci, berenang yuk."
"Nanti aja siangan dikit biar ga dingin."

Eh, jadi keinget kan sama iklan susu peninggi badan? hhii.

Semisal nih kita ngajak temen tapi dianya nanti-nanti jawabnya kan kesel ya, gemes rasanya, tapi kitanya sendiri hobi nunda, hhaa. Begitulah manusia, hhoo.

Manusia itu seringnya menuntut orang lain menjadi apa yang dia inginkan tapi ga tegas terhadap diri sendiri bahwa sebenarnya dirinyalah yang harus lebih dulu melakukan itu, memberi contoh.

Percaya deh menunda itu ga ada baiknya jika hanya didasari oleh rasa malas, justru akan menghilangkan kesempatan untuk dapat berbuat lebih. Iya sih kesempatan akan datang berkali-kali tapi yakin bisa memanfaatkan kesempatan yang datang kalau kitanya masih nanti-nanti?

Inget kan kita harus berlomba-lomba dalam kebaikan? dan yang namanya lomba ga ada yang pake nanti-nanti.

Misal kita lomba lari, terus peluit berbunyi eh kita bilang, "Nanti deh biar lawan duluan yang lari."
Nah yang paling nyebelin setelah lawan mencapai garis finish lebih dulu eh kita baru buka suara, "Kalau tadi aku mulainya barengan pasti aku yang juara." Hufft.

Ada juga nih pengalaman tersering waktu sekolah, saat guru melontarkan pertanyaan maka mendadak kelas sunyi, ketika guru memberi tahu jawaban, dengung lebah dimana-mana.

"Aku tadi mau jawab itu."
"Tuh kan bener kayak yang aku pikirin."

Dan banyak ungkapan pembenaran lainnya, berguna kah? sayangnya terlambat.

Saatnya pengakuan, kesel tahu nulis begini, tapi lebih gemes lagi bahwa ternyata aku sedang ngomongin diri sendiri, huahahah.

Baiklah, kita sudahi saja ini semua. Cerita tentang kekurangan diri tidak cukup sekadar ditertawakan, ada tanggung jawab untuk menjadikannya pelajaran, terlebih kita manusia, makhluk sempurna yang Allah ciptakan memiliki akal.

Tuntutan menjadi pribadi yang lebih baik tidak menunggu nanti sebab manusia tak pernah tahu kapan akan dipanggil ilahi. Terus belajar, banyak membaca, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.

#30HBC1901
#30haribercerita
@30haribercerita

Modal Nulis Dapat Barang Gratis

Hai, hai... gimana sensasi baca judul di atas? Hhii, percaya ga? Harus percaya dong. Nih aku kasih bukti nyata. Awalnya aku mau buka bisni...