Paket Umroh Murah

Rukun islam yang ke lima adalah naik haji (bagi yang mampu), namun sebagai umat islam tentu keinginan mengunjungi Baitullah adalah sesuatu yang diimpikan. Syariat islam itu meringankan, tak ada pengecualian untuk siapa pun yang jiwanya terpanggil untuk mengunjungi kota suci Mekah, jika menunaikan ibadah haji masih begitu memberatkan maka ada ibadah umroh yang meringankan.

Nyatanya masih banyak orang yang kesulitan untuk benar-benar menjalankan ibadah umroh meski keinginan dalam hati begitu menggebu, salah satunya ialah menentukan travel umroh yang terpercaya, mengingat banyak kasus penipuan yang membuat kecewa jemaah. Blibli.com sebagai pelopor toko online di indonesia berkomitmen untuk menyediakan segala apa yang diperlukan termasuk paket umroh yang berkualitas sehingga kita tidak perlu khawatir.

Ketenangan, kenyamanan dan kepuasan pelanggan benar-benar menjadi perhatian Blibli dalam menyediakan travel umroh terpercaya sehingga hanya bekerja sama dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh yang terdaftar di Kementerian Agama. Keinginan yang berbeda-beda dari setiap orang pun menjadi pertimbangan, banyaknya pilihan paket umroh memudahkan jemaah yang ingin menyesuaikan dengan keadaan masing-masing, ditambah lagi banyak promosi yang ditawarkan saat membeli paket umroh menjadikan keinginan untuk berangkat umroh terbuka lebar di depan mata.

Sekarang ketika semua ini menjadi mudah masih banyak hal yang perlu dipertimbangkan lagi. Bagaimana caranya untuk mengumpulkan uang? Uang adalah sesuatu yang mendapatkannya butuh perjuangan namun mudah sekali lepas dalam genggaman, belum lagi keinginan yang sulit dikendalikan ketika gajian tiba. Menabung di bank? takut dengan ancaman riba, padahal inginnya ibadah ke tanah suci harus dengan jalan yang suci pula, menjauhi hal-hal yang sifatnya syubhat. Beda cerita jika di simpan di rumah, ini tambah berbahaya sebab ada saja alasan menunda untuk sesuatu yang sebenarnya bukan kebutuhan mendesak, belum lagi melihat diskon belanja, duh emak-emak.

Harus gimana dong?

Kelapangan riski dan keluangan waktu tentu akan dimudahkan oleh Allah SWT bagi siapa saja hamba-Nya yang berniat mengunjungi ka'bah.Travel umroh yang tersedia di Blibli pun mendukung terwujudnya niat suci ini, para agen mengadakan tabungan umroh dengan jumlah setoran yang bervariasi setiap bulannya, bahkan ada agen yang membebaskan besaran setoran sesuai kemampuan calon jemaah umroh. Semakin sering dan semakin besar jumlah uang yang disetorkan tiap bulan, tentu saja akan semakin cepat berangkat menuju Baitullah.

Biasanya umroh dilaksanakan selama sembilan hari, namun beberapa travel menambahkan tour untuk mengunjungi tempat-tempat suci lainnya, yah mumpung sudah di sana. Jika Anda berminat maka silahkan mengambil paket umroh plus, selain melakukan perjalanan ibadah juga berwisata untuk mempelajari jejak-jejak peradaban islam di berbagai negara di penjuru dunia.

Niat baik memang seharunya disegerakan, percaya ada Allah yang Maha Kuasa dan Maha Mengabulkan segala pinta, kepergian menuju ka'bah akan memberikan pengalaman spiritual yang membekas sepanjang hidup. Akan sangat berbeda bagi yang belum pernah dengan mereka yang melihat langsung bukti nyata diutusnya Muhammad sebagai penutup para nabi. Menyeka air mata ketika menyaksikan bahwa di pemakaman Baqi terbujur jasad-jasad para ummahatul mukminin juga para sahabat, bergetar membayangkan perjuangan mereka dalam membela islam, menegakkan syariat di seluruh penjuru dunia. Menikmati kesegaran air zam-zam dengan lintasan pikiran yang berlari ke zaman ibunda hajar berjuang mendapatkan air demi bayi Ismail yang menangis kehausan, juga menatap langsung kiblat shalat umat muslim di mana pun berada, Ka'bah.

Baru memikirkannya saja sudah terharu, pantas banyak yang menginginkan untuk bisa kembali berkunjung meski sudah datang berkali-kali. Semoga setiap niat baik kita dimudahkan oleh Allah Ta'ala, aamiin.





Sambil Kuliah Jadi Pengusaha Di Ma'soem University

Belajar hingga ke jenjang universitas sepertinya sudah menjadi kebutuhan banyak orang, bukan hanya pelajar yang baru lulus sekolah menengah atas atau kejuruan saja bahkan karyawan yang ingin meningkatkan kemampuan dan keahliannya membutuhkan universitas untuk menimba ilmu.

Jurusan bahasa inggris masih menjadi favorit banyak orang, mengingat sudah semakin terbukanya hubungan dengan luar negeri. Memahami bahasa internasional seolah syarat wajib untuk melalang buana menembus batas, kemampuan memahami bahasa asing menjadi nilai lebih sesorang juga menjadi syarat utama perusahaan yang bekerja sama dengan pihak asing.

Selain itu, Indonesia sebagai negara agraris tentu membutuhkan ahli untuk mengolah sumber daya alamnya, sejalan dengan bahasa inggris jurusan pertanian pun ramai peminat. Terkenalnya Indonesia sebagai jajaran produsen padi terbesar di dunia membuka peluang bagi siapa saja yang cermat melihat kesempatan untuk berkembang.

Praktek akan membuat ilmu yang di dapat menjadi hal yang bermanfaat, itulah hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam memilih universitas. Ma'soem University memiliki program yang mengajak mahasiswanya menjadi pengusaha, tentu akan diberikan arahan dan bimbingan agar nantinya mampu mengaplikasikan ilmu yang didapat. Menjadi sarjana yang membuka lapangan pekerjaan tentu impian banyak orang, selain membantu lingkungan sekitar menaikkan perekonomian dapat turut serta mengurangi angka pengangguran di negara tercinta, Indonesia.

Universitas yang beralamatkan di Jl. Raya Cipacing No. 22 Jatinangor 45363 Jawa Barat ini bisa dihubungi melalui sambungan telepon di nomor 022 7798340 atau Whatsapp : 08156033022. 

Tidak perlu khawatir mengingat program pengusaha yang Ma'soem University tawarkan nyatanya tidak membuat biaya kuliah tinggi tak terjangkau. Pihak kampus tidak melakukan pungutan biaya di perjalanan. Mahasiswa tidak akan dikenakan biaya-biaya seperti SKS,biaya ujian, biaya modul, biaya praktikum, dan lain-lain. Adapun biaya fasilitas hanya sebesar 3 juta-an hanya dibayar 1x di tahun pertama saja (selama menjadi mahasiswa sampai kelulusan). Keren bukan?

Terdapat diskon beasiswa bagi pendaftar yang memenuhi syarat yang kampus tetapkan juga loh. Gimana? Mantap bukan? Memiliki pendidikan tinggi adalah hak setiap warga negara. Yuk semangat belajar.

Beli Kerudung ya di BliBli

Padatnya jadwal harian membuatku bingung ketika hendak membeli kerudung, eh ada teman yang menyarankan belanja online saja. Iya setuju tapi sungguh ada trauma di waktu lalu, pernah aku tertipu saat melakukan transaksi, parahnya lagi temanku lain yang menjadi penjual online pun menyarankan untuk tidak berbelanja online, nah loh. Duh, dilema.

Saran dari teman masih kutangguhkan hingga dia meyakinkan bahwa ada toko online yang terpercaya, baiklah tak ada salahnya mencoba memberanikan diri, masak temanku mau bohong, kayaknya sih ga mungkin.

Taraa, benar saja membuka beranda Blibli seketika terpana. Sebelum lapar mata buru-buru aku mengetikkan keyword pada menu pencarian. Hasilnya ada tiga ribu lebih model kerudung, asyiiiknyaa. Serunya lagi ada pilihan untuk memudahkan kita dalam mencari kerudung yang sesuai keinginan hati. Yah, merasa ga kuat aja mantengin tiga ribuan kerudung kan? Segera aku menekan menu "Urut Berdasarkan :" Cuss deh mau pilih kategori yang kaya gimana, yang paling terpopuler? Produk yang direkomendasikan? Harga termurah? Potongan diskon? atau Rating tertinggi?

Puluhan menit selanjutnya bingung menetukan model kerudung, lucu-lucu semua, duh wanita sama aja kalau liat barang bagus, hhee.




Aku termasuk wanita yang tidak suka berbelanja, ditambah lagi mulai membiasakan diri untuk memilah mana yang menjadi kebutuhan atau hanya sekadar keinginan. Selain itu setiap hendak membeli barang selalu terngiang pesan dari ibu, "Jangan boros, ga mau kan jadi temannya setan?" Wuihhh, ngeri amat memang. Siapa lagi yang mau temenan sama setan, udah di dunia sengsara di akhirat jelas-jelas ga bakal masuk surga. Bahkan setiap ibu melihat almari baju sudah mulai berantakan, beliau akan mengeluarkan perintah, "Ayo kumpulan semua pakaian yang tidak dipakai lagi." Biasanya sih jika masih layak pakai akan diberikan kepada orang lain, bila tidak layak akan berakhir menjadi keset atau lap meja dapur, hhee.

Ada juga peringatan dari ustadzah, "Nanti setiap harta benda akan dihisab."

Gleg, kalau udah ustadzah yang bilang mana berani nyanggah. Semakin banyak harta dan benda yang kita miliki akan semakin lama pula waktu untuk mempertanggungjawabkannya, begitu mungkin intinya. Itulah kenapa sering berpikir puluhan kali untuk berbelanja. Eh tapi untuk beli kerudung ini memang kebutuhan lo, musim hujan membuat jemuran tidak segera kering, jadilah baju yang sudah terbatas itu habis tak bersisa untuk siap pakai, hhee. 

Oiya, tapi bener apa kata temenku, Blibli memang online shop terpercaya dan paling aman karena sistem keamanan pembayarannya sudah bersertifikasi oleh Verisign, Verified by Visa, MasterCard SecureCode dan Credit Card Fraud Detection System. Selain itu jika ada kendala saat berbelanja ada Customer Care yang siap membantu 24 jam loh, mantap bukan?

Ga cukup sampai di situ, semisal barang yang datang tidak sesuai dengan apa yang kita beli, bisa loh dikembalikan dan proses pengembalian sampai barang datang lagi cuma butuh waktu 14 hari aja. Gimana, masih belum yakin? Eiittsss, sampai lupa hal terpenting nih, hayoo cung pemburu diskon, hhee. Setiap harinya ada berbagai promo dan diskon menarik. Misal nih, Promo Monday Mom's Day setiap hari senin mulai pukul 00.00-23.59 WB, promo fashion wanita setiap rabu dan untuk fashion pria setiap hari rabu dan kamis. Semua barang yang disediakan pastinya berkualitas.

Jadi, untukmu yang mager keluar atau sibuk hingga tidak sempat berbelanja, cobain deh belanja online di Blibli. Boleh curhat ke aku kalau bingung pilih model yah, hhii. Selamat berbelanja.

Tubuh Makin Rileks Dengan Koyo

Meraih mimpi bukanlah perkara mudah, namun semangat untuk mewujudkannya mampu merobohkan dinding penghalang setinggi apa pun itu. Banyak contoh orang-orang yang berhasil meraih mimpi dengan memaksimalkan waktu yang Tuhan berikan. Aku pun mencoba melakukannya, bukan hal mudah. Menjadi pekerja full time tak menyurutkan niatku menjadi seorang blogger. Terkadang setiap malam menjelang harus menyempatkan waktu menulis, belum lagi akhir pekan menghadiri kegiatan-kegiatan di luar kota. Seru sih terlebih ini adalah impianku.

Sibuknya jadwal yang harus dijalani seringkali membuat tubuh pegal dan justru menganggu kinerja, pengen rasanya pijat biar rileks, eh tapi ya ga bisa ninggalin kerjaan gitu juga dong. Bisa kena marah, fatalnya lagi kehilangan kepercayaan, duh bahaya. Akhirnya aku dapat solusi mengatasi badan yang loyo, ya pakai aja koyo.Fungsi koyo untuk tubuh saat ditempel di bagian-bagian tertentu membantu mengurangi rasa pegal juga meregangan otot-otot, kehangatannya membuat badan lebih rileks, terlebih di musim hujan seperti ini. Setuju? Wah, jadi barang bawaan wajib kemana pun pergi deh. Beli di toko terdekat juga pasti tersedia. Pertolongan pertama agar hasil kerja bisa maksimal, ya kan?

Awalnya sih agak ragu, pengalaman pakai koyo itu lengket, susah diambil dan berbekas. Ternyata koyo dari hansaplast enggak lengket juga nggak berbekas. Senangnya. Apalagi kemasannya pakai teknologi heat lock, dijamin aman dan terjaga hangatnya.


Nah, beda lagi kalau pas lagi mendaki gunung atau olah raga ekstrem lainnya, koyo juga jadi andalan untuk membantu mengurangi pegal-pegal pada kaki, punggung, tangan, pundak atau bahkan pegal dan kaku pada bagian leher sekalipun. Eh kalian pernah ngerasain juga ga? Coba baca dulu di https://www.id.hansaplast.co.id/bantuan-instan/sports-and-activity/neck-and-shoulder biar tahu harus ngapain ketika tiba-tiba otot kaku saat olahraga. Membaca itu cara terampuh untuk mengobati kebodohan, banyak informasi yang di dapat dan tentunya bermanfaat. Jangan lupa pilih bahan bacaan yang menutrisi otak ya guys.


Oh iya, perlu diingat juga, boleh banget aktif banyak kegiatan tapi jangan lupa juga untuk memberikan hak tubuh. Istirahat cukup, penuhi nutrisi tubuh juga olahraga. Badan yang sehat menjadi aset kita untuk meraih mimpi dan bermanfaat bagi sesama. 

Gimana, sudah tenang kan? Yuk lah kita bertualang :)



2013 Terakhir Kita Bersua

Malam belum larut, mata masih terjaga namun tak ada niatan untuk melakukan sesuatu. Ahh, malam minggu pasti tak masalah jika bermalas-malasan, meringankan kinerja otak setelah sepekan harus berputar dengan banyak hal yang memusingkan. Anggaplah ini hadiah untuk diri sendiri.

Gawai aku letakkan di sebelah tubuh, hening, tak ada pemberitahuan apa pun sedari tadi. Hmmm, begitulah. Mereka yang sering muncul pun akan diam jika sabtu malam menjelang.

Aku meletakkan guling menyender pada tembok lalu memposisikan tubuh sedemikian rupa agar nyaman beberapa jam ke depan. Lembaran-lembaran buku tebal yang sejak bulan lalu belum juga rampung kembali kujelajahi. Dua puluh menit berlalu hingga gawaiku bergetar. Melirik sejenak untuk memastikan dan memutuskan harus bertindak atau biarkan saja. Bukan sekadar tersenyum bahkan aku melonjak melihat siapa nama yang tertera di layar.

Namamu.

Hhii, sudahlah tak perlu kusebutkan siapa namamu. Kenapa? Nanti alasannya ada di paragraf mendekati ending dari tulisan ini.

Balas segera atau menunggu beberapa waktu? Hendak membalas bagaimana ya?

Pesan belum sepenuhnya aku buka. Hanya baris awal yang justru semakin membuatku penasaran dengan kelanjutannya.

"Dik, sekarang dimana ... "

Apa yah lanjutannya? Lama sekali menunggu detik jarum berpindah tempat. Aku sudah tak sabar untuk membaca lanjutannya.

Baiklah. Sepuluh menit kurasa cukup.

Kalian tahu apa pesan utuhnya? Hanya spasi kemudian tanda tanya, hhaa. Iya benar, tak ada kelanjutan selain yang sudah terpampang di layar tanpa perlu aku membuka seluruhnya. Itu saja sudah membuatku tak henti tersenyum. Belum... tak segera aku membalasnya. Aku justru melihat pesan-pesan sebelumnya dan yahh April 2013 sejak dia tahu bahwa aku adik dari teman satu organisasinya.

Tahun 2013 saat aku malu-malu mengurung diri di kamar saat dia datang untuk membahas program kerja dengan teman satu organisasinya, kakak sulungku. Di lain hari aku terpaksa mengintipnya dari balik tembok saat dia tiba-tiba muncul untuk menangkap kelinci Bapak yang lepas dari kandang, Bapak saat itu sedang pergi dan Kakak entah di mana, pokoknya cuma dia laki-laki yang ada di rumah.

Kekagumanku sebatas itu hingga suatu hari kami berpapasan di SMA. Aku sudah mencoba bersembunyi di balik badan teman, namun dia justru memanggil. Eh, tahu dari mana yah namaku? Terpaksa aku berhenti dan mengangguk canggung. Perlahan dia menghampiri dan jantungku berdegub tak beraturan. Genggaman tanganku mencengkram erat jemari teman, takut kalau-kalau dia pergi dan membiarkanku sendirian dalam situasi ini.

Dengan senyum yang membuatku tak berkutik dia menyerahkan sebuah buku, "Ini dibaca yah, minggu depan aku ambil ke rumah. Ingat, itu pinjam lo."

Semua berlalu dengan cepat dan temanku melongo sesaat setelah dia menghilang dari balik parkiran motor.

"Kok bisa kenal?" (Baiklah, temanku termasuk adik kelas yang panas dingin jika bertemu dengan kakak kelas yang seorang aktifis, hmmm)

Aku masih belum bisa berbicara. Rasanya pengen cepat-cepat ke kelas dan melihat buku yang dipinjamkan.

Oiya, kenapa aku bersikap seperti itu? Kakak sulungku akan bersikap dingin jika aku dekat-dekat dengan laki-laki. Aku tidak mau mendapat perlakuan seperti itu makannya lebih baik bersikap tak peduli daripada kehilangan perhatian kakak, kan? Pengen protes sebenarnya, harusnya kakak tidak mengajak pulang laki-laki ke rumah dong. Hmmm, merepotkan.

Aku terkikik geli melihat history messenger yang tata bahasanya sangat berlebihan. Yah, ternyata aku bisa alay juga ya. Menulis satu kata dengan banyak huruf mubadzir, alay beut deuh.

Menjelang kelulusan tak ada kabar berita hingga aku lupa rasa debar yang pernah menjalar.

Sekarang, setelah sembilan tahun berlalu dan dia kembali. Aku harus bagaimana?

Kakak... lihatlah. Bagaimana susah payah adik perempuanmu ini menjaga diri.

Kemudian aku tersadar. Ini sudah tengah malam. Untuk apa aku berkomunikasi dengan laki-laki asing di waktu yang tidak wajar?

Kuputuskan untuk tidak menjawabnya. Kemudian mencoba untuk memejamkan mata. Nihil. Aku masih tak ingin tidur.

Terngiang pesan ustadzah tadi siang. Salah satu cara wanita menjaga diri adalah dengan tidak membuat laki-laki jatuh cinta padanya (terlebih untuk yang sudah bersuami).

Baiklah. Jangan memancing.

Kakak... tolong doakan agar kelak tidak merepotkan suamiku karena secara sadar atau tidak telah membuat laki-laki lain jatuh cinta padaku.

Doakan aku di multazam, di kota suci Mekah yang tak lama lagi segera kau kunjungi. Tak henti lantunan doa mengiringi langkahmu menuju panggilan-Nya.

Susahnya Mencapai Khusyuk Dalam Shalat

Alhamdulillah masih inget sama janji buat nulis pengalaman shalat jamak yah, hhii. Sebenernya bukan karena lupa sih tapi lebih ke males aja, duh jangan ditiru.

Shalat adalah ibadah penting, tiang agama yang akan dihisab pertama kali. Itulah sebab kenapa Nabi SAW mewanti-wanti umatnya untuk menghadirkan hati ketika mendirikan shalat. Masalahnya kita ini jangankan shalat, suruh baca buku aja susah fokus, betul? Eh apa cuma aku aja?

Teringat kisah tentang sahabat Nabi SAW, Ali bin Abi Thalib saat diuji shalatnya. Beliau menjanjikan akan memberikan sorban jika Ali ra berhasil khusuk dalam shalatnya, boleh memilih warna biru atau merah. Nah, Ali ra menjalankan shalat dengan khusyuk, menurutnya. Lalu setelah selesai segera ia menyebut salah satu warna sorban karena yakin lolos dari tantangan Nabi SAW.

Apa kata Nabi SAW?

Ternyata Ali ra belum khusyuk dalam shalatnya sebab masih memikirkan hal lain, ini terlihat jelas saat Ali ra sudah memutuskan sorban apa yang hendak dipilihnya.

Siapa yang meragukan keimanan Ali ra? Jika Ali ra saja masih belum sepenuhnya khusyuk dalam shalat lalu bagaimana dengan kita?

Susah memang mencapai khusyuk itu, terlebih di kepala kita masih berputar urusan duniawi yang tiada habisnya. Seperti pengalaman yang belum lama ini.

Sekitar pukul 18.00 WIB aku sudah bersiap di dalam mushola stasiun, hendak menjalankan shalat magrib, tenang saja sebab jadwal kereta masih pukul 18.30 WIB. Namun tetiba ketenanganku terusik ketika terdengar dari pengeras suara bahwa kereta yang akan membawaku ke Jakarta sudah tiba di stasiun. Bersamaan dengan itu iqamat dikumandangkan dengan cepat. Ingin hati shalat munfarid namun apa daya sudah berada di tengah shaf makmum yang saling berdempet di dalam mushala kecil ini.

Alhamdulillah, imam membaca surat pendek seolah mengerti keadaan hati kami yang tidak tenang. Di dalam otak aku sudah menyusun rencana sehabis magrib segera masuk gerbong. Shalat isyanya bagaimana? Nanti gampang lah bisa di dalam gerbong atau di stasiun tujuan, sebab jadwal tiba belum menemui waktu shalat subuh.

Namun yang akhirnya tidak seperti itu. Tak lama usai salam imam segera beranjak berdiri kembali, ahh pasti ini jamak shalat isya. Baiklah, semoga tidak lama-lama, hatiku sudah tak tenang mengingat waktu yang cukup lama berlalu sejak pengumuman dari pengeras suara terdengar. Alhamdulillah ternyata imam meng-qashar shalat isya. Menjadikan yang empat dua. Segera, tak ada dzikir, tak ada doa, aku beranjak memasuki gerbong kereta.

Taraaa....

Kereta berangkat sesuai jadwal yang tertera. Memang datang lebih awal namun menunggu di stasiun hingga tiba saatnya untuk kembali berangkat.

Aku? Maluu... Astaghfirullahal 'adzim... ampuni hamba Ya Allah.

Bagaimana tentang pahala shalatku tadi? Wallahu 'alam.

Sebenarnya lebih banyak hal lagi yang aku pikirkan sedari shalat tadi, seperti tuntutan kepada pihak KAI jika sampai aku ketinggalan kereta karena tidak sesuai jadwal.

Baiklah, banyak hal yang bisa diambil pelajaran dari setiap pengalaman. Terharu aku terhadap imam shalat, aku berfikir mungkin beliau juga salah satu penumpang kereta yang menunggu waktu keberangkatan. Beliau memahami betul tentang syariat islam yang memberikan keringanan bagi musafir untuk mendirikan shalat wajib. Aturan menjamak dan mengqashar shalat juga surat-surat pendek yang menjadi pilihan.

Dan ... sombongnya aku yang berlalu begitu saja, meninggalkan tempat sujud tanpa lebih dulu meminta perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Terlupa bahwa sembilan jam perjalanan berada dalam genggaman-Nya.

Tak boleh terlena, ini menjelaskan tentang ilmu yang belum seberapa, saatnya menyadari untuk terus mempelajari, syariat-syariat islam itu mudah dan dengan berpegang teguh padanya ketenangan juga kenyamanan baru akan didapat.

"Sesungguhnya seseorang ketika selesai dari shalatnya hanya tercatat baginya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, separuh dari shalatnya." [HR. Abu Daud no. 796 dan Ahmad (4/321), dari 'Ammar bin Yasir. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadist ini hasan.]

Domain Authority Anjlok, Tetap Semangat Menuliskah

Aku baru bangun tidur kala pesan dengan namamu muncul, pemberitahuan tentang anjloknya DA. Iya, Domain Authority memegang pengaruh penting untuk blogger. Menaikkan DA itu butuh perjuangan, terlebih DA menjadi acuan sebuah perusahaan/instansi untuk mengajak kita kerjasama.

Kaget? Jelas dong. Sebagai blogger pemula tentu kenaikan DA menjadi penyemangat tersendiri, ada batas minimum dimana kita bisa bergabung untuk mendapatkatkan project yang menghasilkan. Yah, meningkatkan DA itu perjuangan loh. Dan sekarang ketika target sudah di depan mata tetiba anjlok?

Hhii... aku sih kalem. Jujur sedih, kecewa, kesel itu pasti. Bayangin dari DA 17 ke 9? Wkwkwk, itulah kenapa anjlok sebab turunnya ga main-main, terjun bebas, hhaa.

Kenapa masih kalem? Sebab belum menjadi fulltime blogger, yah maunya sih gitu nantinya. Nanti bukan sekarang loh ya. Perjalanan panjang untuk bisa sampai tahap tersebut. Masih merintis dan belum fokus duh.

Oiya sebenernya ada lagi yang bikin tenang, dia yang mengajariku banyak hal tentang dunia blogging justru malah memberikan semangat. Padahal mah sama eh engga justru mirisan dia, dari DA 21 anjlok ke 10. Sabar yah pak guru.

"Masih semangat nulis kan?"

Pertanyaannya mengejutkanku, membawaku kembali kepada niat awal memutuskan menjadi blogger. Nulis untuk apa?

Kadang memang mudah berbelok arah dari niat awal ketika dihadapkan pada nominal. Sekarang jika seperti ini kejadiannya, mau gimana?

Aku tersenyum, belum menjawab pertanyaannya. Masih menata hati, kembali intropeksi diri.

Tulisan ini hadir sebenarnya bukan untuk mengatakan pada dunia bahwa aku baik-baik saja, tidak sepenuhnya. Lebih dari itu, ada dorongan untuk menyemangati diri bahwa niat yang semula dibangun harus tetap berada pada jalurnya.

Baiklah, wahai diri tetaplah menulis, jagalah semangat untuk terus berbagi dan memberi arti.

Uniknya Wanita Menyambut Bulan Ramadhan

Sekitar dua bulan lagi kita akan bertemu dengan bulan ramadhan, Insya Allah. Ada yang begitu merindu hadirnya namun tak sedikit yang hanya sebatas ucapan semata, tak tulus lahir dari lubuk hati, yah baiklah tak perlu menghakimi mari intropeksi.

Wanita adalah makhluk unik yang tiada habis untuk diperbincangkan. Terlebih wanita mendapatkan keistimewaan dari Tuhan dengan datangnya tamu bulanan. Iyup, inilah yang menjadikan wanita melakukan hal "aneh" yang tidak diduga oleh pria dalam rangka menyambut datangnya bulan suci. Apa saja?

1. Mencari teman untuk membayar hutang puasa.

Hampir setiap wanita pasti memiliki hutang puasa disebabkan karena siklus bulanan tersebut, rentang waktu antara satu dengan lainnya tidak selalu sama. Beruntung jika hanya bolong sehari namun harus berlapang dada apabila tamu datang di awal dan akhir bulan ramadhan.

Biasanya para wanita teringat akan hutang-hutang puasanya menjelang bulan ramadhan di tahun berikutnya, nah tantangan untuk membayar hutang puasa di hari-hari biasa sangat berat untuk itulah mereka membutuhkan teman yang juga memiliki misi yang sama.

2. Mencari teman dengan masa menstruasi yang berdekatan

Siklus bulanan wanita memang berubah-ubah, banyak faktor yang mempengaruhinya namun biasanya tidak signifikan, hanya lebih cepat atau lebih lambat beberapa hari. Nah, menjelang bulan puasa beberapa wanita mulai mengamati siklus bulanan teman wanita lainnya. Tujuannya? Yah, tentu untuk menjadi partner makan siang kelak, hhee.

3. Dekat-dekat dengan teman sholehah

Datangnya bulan puasa mengetuk hati nurani setiap manusia terlebih wanita yang mengedepankan perasaan. Kadar keimanan naik dan tersadar akan besarnya kesempatan meraup pahala di bulan penuh berkah ini, karenanya mencari teman untuk menjaga iman tetap membara sangatlah penting. Betapa ia tahu bahwa waktu sebulan itu singkat dan merugi jika disia-siakan.

Beruntung bisa khatam Al-Qur'an, nambah hafalan, menghadiri majelis taklim, atau bahkan ikut itikaf. Terlebih bisa melanjutkan berpuasa 6 hari dibulan syawal dilanjut dengan membayar hutang puasa yang bolong di bulan ramadhan. Wahh, pasti plong deh ga punya tamggungan puasa untuk menyambut bulan ramadhan tahun depan.

Masih banyak lagi hal yang biasa dilakukan untuk menyambut bulan puasa. Apa pun itu memang sebaiknya semua direncakan agar tak terlewati begitu saja. Jangan lupa persiapkan mental, yuk mulai sekarang belajar sabar-mengatur emosi-, marah-marah memang tidak membatalkan puasa tapi sayang banget kan kalau puasa kita sekadar menahan haus dan lapar tanpa membekas dan mendapat pahala?

😊

Minder jadi Cah Klaten

Klaten adalah sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang diapit oleh dua kota besar, Solo dan Yogyakarta, seringkali Kota Bersinar ini hanya dianggap pelengkap sebab tak segemilang potensi dua kota lainnya.

Aku? Ya, cah klaten. 

Jujur, minder tenyata hidup diantara hamparan sawah yang luas ini. Dulu sewaktu masih sekolah di bangku SMA, ada kakak dari Universitas Negeri Yogyakarta yang sedang melakukan PPL-KKN. Sebagai anggota Osis yang sering berinteraksi dengan mereka maka sedikit banyak aku menjadi local tour guide juga.

"Yuk, nonton bioskop."

Aku diam sejenak menanggapi ajakan mereka.

"Eh, di Klaten ada bioskop ga sih?"

Yupp, itulah alasan kenapa aku diam. Sampai tulisan ini dibuatpun tidak ada tanda-tanda bahwa Klaten hendak mendirikan gedung bioskop.

Sempat tersenyum sih saat ada beberapa yang mengatakan bahwa Klaten adalah gudangnya beras. Beras Delanggu sangat terkenal pulen, wangi dan enak rasanya. Yah, itu aja yang berulang kali mereka utarakan untuk membesarkan hatiku.

Apa iya ini yang membuat beberapa teman memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke kota tetangga? Apa benar Klaten tidak punya apa-apa untuk dibanggakan selain berasnya?

Oh ya ketika sudah lulus sekolah dan pergi ke luar kota, beberapa orang pun kebingungan ketika aku menyebut Klaten sebagai kota asal. Mereka baru mengangguk paham ketika mendengar penjelasan bahwa kota tersebut dekat dengan Solo. Heeemm...

Waktu berlalu, aku masih setia di kota ini. Hingga kesibukan menenggelamkanku tentang eksistensi Klaten. Ahh, untuk apa lagi mempermasalahkannya. 

Lalu beberapa kesempatan membuatku tersadar. Kegiatan nasional maupun internasional yang seringkali diselenggarakan di Solo dan Yogya bisa dengan mudah aku datangi. Yaaa, aku berada di tengah kan? tak terlalu jauh untuk ke utara atau pergi ke selatan.

Mungkin Klaten belum siap untuk menjadi tuan rumah banyak acara besar. Biarlah tetap begitu. Tetaplah menjadi kota yang menawarkan kedamaian dengan berbagai macam pilihan wisata alamnya. Kini, siapa tak kenal Umbul Ponggok, Janti-kawasan makan pecel lele-? Candi Plaosan, Candi Prambanan, Candi Ijo? Masjid Al-Aqsha Klaten? Bukit kapur jimbung? Dan masih banyak lagi yang aku sendiri kewalahan dalam mengingatnya.

Tetaplah menjadi tempat pulang bagi jiwa-jiwa yang rindu aroma batang padi, mata yang mampu memandang pelangi tanpa terhalang, kucuran air dari sumber aslinya juga hangat nasi dari butir padi terbaik.

Haru menyeruak. Kelak jika aku pergi, tentu akan sangat rindu. Maafkan sempat meremehkanmu, Klaten tetap di hati, menyinari hari-hari dengan jargon kotanya, Bersinar, Bersih Sehat Indah Nyaman Aman Rapi.




Pengalaman Shalat Wajib ketika Safar

"Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa:103)

Waaahh, udah ada dalil yang jelas nih, hayo jangan pura-pura ga tahu, nih saya ingetin, hhee. Inilah salah satu yang menjadi dasar pertimbangan saya sebelum membeli tiket untuk melakukan suatu perjalanan. Yups, kan damai, tentram, ga punya beban serasa enteng kalau jalan habis shalat itu, iya ga? Tapi kalau pada suatu kondisi ternyata jadwal perjalanan bersamaan dengan waktu shalat, gimana dong? Tenang. Allah Ta'ala tahu hamba-Nya, Dia beri keringanan agar mudah menjalankan kewajiban. Masya Allah, meleleh.

Jakarta - Semarang dengan keberangkatan pukul 23.00 WIB dari Stasiun Pasar Senen dan estimasi kedatangan pukul 06.15 WIB di Stasiun Semarang Poncol. Misal nih ya nunggu sampai Semarang, udah masuk waktu dhuha tuh, hhee, malu kali sama nikmat yang udah Allah kasih. Belum lagi kalau keretanya terlambat sampai tujuan, kayak kejadian sehari sebelumnya kereta dari Solo ke Jakarta molor tiga puluh menit masuk Stasiun Pasar Senen, hem heeem heeem. Hayoloh, keki ga tuh shalat subuh eh panas matahari udah nyengat.

Allah Maha Tahu pentingnya mendirikan shalat untuk hamba-Nya maka Dia beri kemudahan menjalankan dan keringanan-keringanan yang menyertainya.

Yah, namanya manusia, eh maaf maksudnya saya pribadi. Alarm gawai sudah berbunyi mengusik lelapnya berlayar di alam mimpi, mau tidur lagi kok ya terngiang-ngiang di telinga tuh dalil, mau pura-pura lupa toh malah gelisah sendiri. Belum, saya belum langsung bangun, masih merem melek nih mata,berulang kali lihat jendela kereta takut tetiba terang padahal belum bergerak sama sekali.

Setiap gerbong kereta dilengkapi dengan toilet yang itu berarti ketersediaan air Insya Allah mencukupi, nah tempat shalatnya di mana nih? Lirik kanan kiri kok ya penuh semua, ga ada tempat kosong yang bisa dipinjam untuk shalat dalam posisi duduk. Hhee, sekeliling saya pun tidak mendukung untuk shalat di tempat.

Galau lagi. Belum juga beranjak. Lirik jendela lagi, ga cukup satu jendela, jendela tetangga pun ikut dilirik hanya untuk memastikan hari belum terang. Heran deh, penumpang gerbong ini pada turun di Semarang semua?

Oke oke cukup sudah. Akhirnya Allah gerakkan kaki untuk melangkah mengambil air wudhu, ternyata toilet antri. Saya iseng tengok-tengok gerbong sebelah, hhee. Deg...

"Itu bisa dipakai untuk shalat, Pak?"

Si Bapak mengangguk. Cesss...

Pemandangan dua orang yang tengah menjalankan shalat subuh berjamaah beralaskan kardus membuatku haru, Allah mudahkan, Allah mudahkan. Saya bergegas kembali ke tempat duduk untuk mengambil mukena, padahal dengan jubah yang saya pakai sah jika menjalankan shalat namun menjaga diri terlebih di tempat umum adalah prioritas. Balik lagi ke toilet, masih antri, si Bapak mempersilahkan saya untuk menggunakan toilet terlebih dahulu, Ya Allah si Bapak baiknya, sehat selalu ya pak.Tahu aja saya tengah bergelut dengan mual mendadak akibat terlalu lama berdiri.

Saya shalat sendiri dengan gresek kardus di dekat situ ternyata ini bukan gerbong penumpang melainkan gerbong restorasi, alhamdulillah dekat dengan gerbong saya.

Baru juga berdiri, posisi shalat yang tidak searah dengan laju kereta dan goyangan yang terus terjadi menaikkan asam lambung saya, kepala mulai berdenyut, mulut terasa asam. Panik.

Tenang ... tenang ...  mencoba mensugesti diri sendiri, Allah mudahkan saya, mudahkan. Alhamdulillah dengan sedikit dipercepat shalat subuh selesai ditunaikan. Allah Maha Melihat usaha hamba-Nya bukan? Insya Allah.

Kembali lagi, shalat itu wajib, amalan yang pertama kali dihisab, segreget apa kita berusaha mendirikannya? Ingat, mendirikan bukan sekadar menjalankan. Ada rukun, syarat wajib dan syarat sahnya shalat yang harus diperhatikan. Oiya, kalau teman-teman hendak melakukan perjalanan menggunakan kereta mungkin ada baiknya mengetahui gerbong restorasi, hhii, yah tentu dengan niat mencari tempat untuk mendirikan shalat, abis shalat makan juga ga papa lah, boleh jangan lupa bayar yah.

Yuk bertualang, membuka mata dan pikiran tentang dunia, menjadikan setiap perjalanan tempat belajar dan mengingat-Nya. Kita manusia, milik Dia yang Menciptakan segala.


NB :
Maaf tidak didukung oleh foto, fotografernya juga sama kayak saya, mabuk darat, hhaa.
Tungguin cerita saya lagi yang lebih seru tentang jamak shalat yah, Insya Allah.
Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. [ QS. An Nisa’ (4) : 103]

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/6258-waktu-waktu-shalat.html
Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. [ QS. An Nisa’ (4) : 103]

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/6258-waktu-waktu-shalat.html
Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. [ QS. An Nisa’ (4) : 103]

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/6258-waktu-waktu-shalat.html

Modal Nulis Dapat Barang Gratis

Hai, hai... gimana sensasi baca judul di atas? Hhii, percaya ga? Harus percaya dong. Nih aku kasih bukti nyata.

Awalnya aku mau buka bisnis, kan seru tuh mandiri dan bergelut dengan inovasi eh tapi tahu sendiri kalau bisnis itu ga semudah menjentikkan jari, perlu tekad bulat dan mental yang kuat. Yah, akhirnya karena tidak bersungguh-sungguh jadi kesel sendiri deh lalu mulai aja curhat kesana kemari. Lama kelamaan malu juga, kelihatan jadi tukang ngeluh gitu. Nah akhirnya segala resah dan gelisah yang tak bisa ditahan sendiri ini aku tulis di sebuah diary digital alias blog, hhee. Pinter-pinter aja menyisipkan ke dalam tulisan jadi pembaca ga perlu tahu kalau ternyata itu curahan hati, hhii.

Ternyata kreasiku ini bisa dapat barang gratis dari Blibli.com loh, ih iya serius. Ini jadi awal aku belanja online, agak parno sih sebelumnya tapi karena dapat gratis ya coba aja eh ternyata ketagihan.

Kreasi Blibli.com
Jaket gratis dari Blibli.com

Mulai deh kepikiran kalau dari nulis aja bisa dapat barang gratis kenapa ga nulis tiap hari? Bayangin kalau setiap kita nulis terus barang-barang yang dibutuhkan bisa didapat tanpa bayar apa ga asyik? Asyik banget pasti yah. Bukan cuma itu aja, pasti ada kepuasan tersendiri memiliki barang hasil jerih payah sendiri. Wahhh, seru nih.

Mengisi blog dengan tulisan setiap hari nyatanya ga mudah loh, awal-awal memang ide mengalir lancar, gampang aja nulis tapi kesibukan harian lainnya bisa jadi tembok penghalang. Ide udah ketok pintu, kita muter mikir mengubahnya menjadi tulisan eh giliran mau nulis ada pesan masuk, buyar deh semua. Apalagi nih ya, aku termasuk orang yang susah fokus, harus benar-benar hening. Giliran waktu mendukung, tak ada suara menganggu eh aku juga udah pulas di balik selimut hangat, hhaa. Apalagi badan udah lelah gegara seharian muterin lapangan. Sempurna sudah alasan untuk memaafkan diri.

Esok hari ketika semangat sudah terisi, pikiran jernih menatap mentari pagi, tekad muncul untuk kembali membangun mimpi, hari ini pokoknya harus nulis. Titik.

Hasilnya?

Nulis dong. Ga semudah itu mematahkan mimpi, ciee.

Ternyata memulai bisnis dengan sesuatu yang disukai itu lebih mudah ya? Setuju?

Eh tunggu, seperti bisnis lainnya bahwa kita harus terus belajar agar prakteknya ga salah jalur. Belajar materi itu perlu dan mempraktekannya adalah sebuah bukti nyata dari kesungguhan. Mustahil sukses tanpa praktek, buang waktu jika tak mempelajari materi, mau praktekin apa coba?

Sebab aku ingin menjadikan menulis sebagai bisnis maka mencari teman seperjuangan adalah hal terpenting. Teman seperjuangan itu banyak manfaatnya loh, mereka bisa jadi guru, memberitahu hal yang kita tidah tahu. Bisa juga jadi teman bersaing yang sehat, kan kalau ada lomba jadi semangat yah kalau ada yang ngajakin. Jadi pemberi informasi juga, waah pokoknya banyak teman banyak manfaat deh. Intinya kita merasa tidak sendiri, ini nih pentingnya biar tumbuh rasa tenang jadi bisa nyaman deh saat nulis.

 Terkadang ide bisnis itu bisa muncul dari hal yang tidak terduga, inget kata senior untuk banyakin persiapan agar saat kesempatan datang kita siap untuk mengambilnya. Giat belajar sebab dunia terus berputar, jangan berhenti jika tak mau ketinggalan. Percayalah kita tidak sendiri, di luar sana banyak pejuang yang sedang tertatih meraih mimpi-mimpi besar mereka. Aku mau jadi bagian dari mereka. Yuk semangat.

Tolong, Jauhi Calon Suami Saya

"Mba saya mohon dengan sungguh, tolong jauhi calon suami saya mba. Maaf seperti memaksa sebab saya tidak bisa meminta ini darinya."

-----------
Aku melirik lelaki yang duduk di seberang, tangannya sibuk melengkapi kotak tts surat kabar tadi pagi. Sesekali menulis, mengerutkan dahi, menarik napas panjang, bahkan melempar pandangan pada jalan berbatu di depan rumah.

"Pulang gih"

"Dih ngusir."

"Aku kan ada kerjaan."

"Ya sana masuk. Ngapain di teras?"

Kami kembali terdiam. Angin siang membawa tetes air yang terasa sejuk menerpa wajahku, tapi tidak mampu menenangkan gemuruh hati di dalam.

"Ngomong aja lagi. Jangan suka dipendem sendiri. Noh, jerawat bukannya berkurang malah nambah."

Ihh sok tahu, emangnya dia ngitungin. Kembali aku mencuri pandang sedang dia masih menekuri kotak-kotak yang hampir terisi separuhnya.

Lelaki yang sejak belasan tahun silam mengisi pagi dengan denting batu kecil mengenai sepeda anginku, enam tahun. Pernah aku memarahinya, bisa-bisa sepedaku berlubang karena ulahnya. Eh dia berkelit, "Yee, itu aku bidik tepat di ruji, berbeda tempat tiap harinya. Ga perlu khawatir."

Seingatku pernah juga kuadukan pada ayah, bukannya membelaku ayah malah tertawa karena ulahnya. Ibu juga hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Jadi anak yang sopan dong. Kalau mau ngajak berangkat ke sekolah bareng ya ketuk pintu bukan lempar batu. Ngerti ga?"

"Ahh lama, nanti klo aku mampir bisa disuruh sarapan sekalian lagi."

Begitulah. Ayah dan ibu mungkin menginginkan anak laki-laki dengan segala tingkah polahnya maka selama masih batas wajar mereka tidak pernah protes. Puffftt..

"Pulang sana," seruku kesekian kali.

"Pusing ahh di rumah."

"Udah mau ujan tahu."

"Lah, rumah ga ada seratus meter ini. Lagian masak kamu tega ga pinjemin payung?"

Ya Tuhan... ini anak siapa sih. Susah bener disuruh pulang. Ahh ya, selalu begitu. Teras rumahku adalah tempat pelarian setiap dia pusing mengerjakan tugas. Terlebih kali ini pekerjaan sebagai arsitek menguras otaknya.

Aku diam saja.

"Masuk sana, masuk angin kamu nanti."

Lah, giliran dia yang bawel. Yah, seringnya begitu. Sejak kami bertetangga dan bersekolah di tempat yang sama semasa putih biru seolah dia menjelma sebagai pengawal yang memastikan aku harus baik-baik saja.

"Hhaa... pengawal? Aku tuan putri dong," timpalku ketika sepeda angin kami beriringan di sepanjang jalan pulang di bulan ketiga setelah perkenalan.

"Belum tentu. Kamu tetep temennya pengawal. Hhaa. Pengawal itu tugasnya mengabdi, mana boleh sakit. Dasar kepedean."

Kami tertawa bersama.

"Mau sampai kapan begini?", pancingku yang berhasil membuat tatapannya beralih dari surat kabar ke arahku, meski hanya beberapa detik.

"To the point aja sih. Susah amat."

"Ram, semisal Fatma deket sama cowok. Temenan doang. Kamu gimana?"

"Ya ga boleh dong."

"Ga boleh gimana? Kan cuma temenan?"

"Hhaa. Aku kok tahu arah pembicaraanmu."

Aku terdiam. Rama, nama lelaki itu. Memang cepat menangkap apa yang ingin aku sampaikan, menyederhanakan segala kerumitan ucapanku.

"Tahu apa?"

"Cewek itu ga bisa nahan cemburu."

"Lalu?"

"Hla kamu pikir cowok bisa?"

"Kelamaan ahh."

"Cowok juga sama, pada dasarnya setiap orang ingin agar dirinya spesial di mata pasangannya. Bedanya cowok bisa menahan rasa cemburunya, kebanyakan ga seekspresif cewek. Begitu."

"Tuh tahu."

"Hhee.. kapan Fatma ke sini?"

"Kemarin pagi."

"Kok ga langsung bilang ke aku?"

"Emang dia ga cerita ke kamu?

"Engga."

"Ya udah. Kamu lah jadi cowok perhatian. Peka kek. Udah mau nikah juga. Jaga perasaan."

"Wuiihh, panjang bener ceramahnya."

"Kan aku cewek juga dih."

"Jadi, ini hari terakhir aku diijinin main ke sini sesukan hatiku?"

"Iya."

"Karena Fatma?"

"Bukan. Karena kelak aku juga ga mau lelakiku menjalin hubungan dengan wanita di luar sana."

"Oke. Aku pulang. Bapak sama ibu mana?"

"Sana pulang, aku pamitin nanti."

Entah apa yang akan terjadi selanjutnya tentang hubunganku dengan teman masa kecil yang telah menyetujui permintaan bapak untuk menjagaku, anak kecil yang baru pindah dari kota ke sebuah desa ini.

Kata orang tak ada yang benar-benar murni dari persahabatan antara lelaki dan wanita, aku tak sepenuhnya setuju. Toh kita bisa. Tapi aku sangat setuju bila ada yang berkata bahwa wanita tak mampu menyembunyikan rasa cemburunya.

😊😊

Menemukan Ide Bisnis dengan Mudah

Sebagian besar orang memiliki impian menjadi pengusaha, memiliki bisnis sendiri dan membuka lowongan pekerjaan bagi orang-orang yang membutuhkan. Aku pun begitu, namun bingung hendak memulai dari mana, baru sebatas keinginan tanpa tahu hendak berbuat bagaimana. Bahkan, memulai bisnis apa masih belum memiliki ide.

Suatu hari aku hendak menghadiri sebuah acara, wah berhubung undangan bukan untuk umum maka bisa diperkirakan yang datang pun bukan sembarang orang, nah, penampilan menjadi ajang untuk menunjukkan diri di kesan pertama. Tahu kan repotnya perempuan kalau soal beginian? Segala dari ujung kepala ke ujung kaki harus cocok, entah gimana caranya. Mulailah bergerilya dari satu lemari ke lemari yang lain, lemari saudara maksudnya, hhee.

Baju dapat, sepatu oke, tas cocok, nah lo seharian cari jilbabnya kok ga ada yang serasi ya? pinjem lemari sebelah warnanya masuk sih tapi pasmina, aku ga bisa pakai. Ada lagi yang warnya serupa tapi terlalu tipis, harus memakai dua lembar agar tidak menerawang, uuurrrggggh, gemes. Coba inget-inget lagi punya ga ya model jilbab yang dibutuhkan. Nihil.

Baiklah, solusinya beli baru, yuhuuu. Eh ternyata ga semudah milih dan tinggal bayar loh. Satu toko ke toko lainnya ga ada yang sesuai dengan keinginan hati, seolah semua toko sepakat mengatakan pemasok sedang kehabisan barang dengan warna yang aku cari. Memangnya kalian, maksudku puluhan toko di kota ini mengambil barang dari supplier yang sama?

Aneh ya, kok bisa ga ada atau jangan-jangan seleraku yang tidak seperti kebanyakan orang? Wah kesempatan nih. Kesempatan apa? Berbisnis.Tapi kalau orang-orang aja ga ada yang nyari masak iya ada yang mau beli barangku?

Akhirnya di sisa-sisa waktu aku menemukan satu toko di pojok jalan yang memiliki model jilbab seperti yang aku butuhkan, alhamdulillah. Ide tentang bisnis ini masih terus mengantung di pikiranku hingga suatu hari aku iseng tes pasar. Pada sebuah acara aku memakai kembali jilbab yang penuh perjuangan untuk ditemukan itu lalu mulai membuka percakapan dengan siapa saja yang sedang berbicara denganku.

"Kamu tahu yang jual jilbab kayak gini ga?" pancingku seraya menunjukkan jilbab yang aku pakai.

"Wah ga tahu, susah carinya."

Masuk perangkap.

"Aku pengen cari, jilbabnya enak, gampang dibentuk, ga mudah kusut, terlebih ga nerawang lagi."

Dia menyentuh jilbabku, bak seorang desainer sedang menilai sebuah kain.

"Iya ihh, adem ya? Mau juga dong, tapi yang ukurannya panjangan dikit ada?"

"Nah loh, kan tadi sama-sama bingung mau cari di mana."

Kami berdua tertawa dan dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya bukan cuma aku yang membutuhkan jilbab dengan model seperti ini.

Yeaaahh, strategi di atur, kertas putih dihamparkan, tinta pena siap menuliskan.

Perjalanan menuju pusat kain terbesar di Kota Solo menjadi awal mewujudkan mimpi. Seharian berkunjung dari satu toko ke toko lain seakan jalur yang mengantar ke puncak dengan bekal harapan yang menjulang. Hingga selesai semua toko hanya berhasil menenteng plastik hitam tak lebih dari dua kilo. Lelah mulai mendominasi memutuskan semangat.

Tak semudah itu mencari kain untuk jilbab impian. Pantas saja tak banyak toko yang menjual jika kainnya saja begini sulit didapat.

Belum menyerah, putar otak, melihat daftar kontak dalam gawai, berselancar perlahan sembari memutar memori tentang siapa-siapa saja nama yang tertulis di sana. Ahh, dapat beberapa. Bertanya tentang penjual kain kepada mereka dan tak menunda lama untuk mendatangi satu persatu dari saran yang di dapat. Hasilnya? Mereka tidak menjual kain yang aku cari, hu huuu.

Baiklah. Tarik nafas. istirahat sebentar. Iya, beberapa hari maksudku. Mendapat rintangan di awal memulai bisnis itu sangat menguras kepercayaan diri.

Ketika semangat kembali muncul akhirnya kuputuskan untuk mencoba mencari online saja, berkelana di dunia maya yang luas ini butuh waktu berhari-hari lagi, hasilnya? Yah, ternyata memang jenis bahan tersebut susah di cari, tapi untungnya belum musnah dari peredaran, hhee. Iya, aku menemukannya, asyiiikkk.

Wah, jadi nih mulai bisnisnya. Eh tapi kan masih butuh banyak peralatan pendukung lainnya? Tenang, kalau untuk itu mah ga perlu ngabisin waktu berminggu-minggu, aku percaya memilih Ralali.com untuk membantu mewujudkan mimpi membuka usaha di tahun 2019 ini.

Sudah lengkap nih persiapan, tinggal eksekusi, bantu doa ya :)

Tafakur Hobi Para Nabi

Tafakur alam adalah hobinya para nabi, begitu garis besar yang aku tangkap ketika mendengar ceramah online ustad gaul, idola anak muda, yang punya ribuan follower, yang suka ngebully para jomlo, founder pemuda hijrah shift, siapa hayo? Yupp, Ustadz Hanan Attaki.

Teringat cerita bagaimana Nabi Zakaria panik karena Yahya kecil belum kembali ke rumah, ternyata Yahya sedang menyendiri menatap lubang yang ia buat sendiri. Sedang apa? Membayangkan bagaimana jika ia meninggal kelak, berada di lubang tersebut sendirian.

Kemudian kisah Nabi Ibrahim yang tertuang dalam kitab suci Al-Quran bagaimana beliau menunjukkan bukti kepada kaumnya bahwa Allah bukanlah benda-benda langit yang timbul tenggelam dan juga bukan berhala yang diciptakan oleh tangan manusia sendiri.

Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan.”

Demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.”

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (QS. al-An’am: 74 – 78)

Merenungi penciptaan langit, bumi dan seisinya dapat mengetuk hati bahwa betapa kecilnya kita sebagai manusia, tak sepatutnya menyombongkan diri hingga lupa semuanya bisa berakhir kapan saja. Jika hati terasa keras, penyakit hati terlihat jelas seperti iri, dengki, sulit menerima nasehat, mungkin waktu untuk bertafakur kita kurang atau jangan-jangan tak ada waktu yang diluangkan untuk melakukannya?

Tidak mudah memang, tak memiliki ilmu tentu mempengaruhi cara pandang kita terhadap apa yang sudah Allah cipta, itulah kenapa aku mencoba berbaik sangka terhadap apa yang alam tunjukkan di depan mata.

Sejak pekan kemarin sepeda motorku tidak ada di rumah, jadi harus menggunakan mana yang ada saja, berhubung keluar rumah paling pagi tentu dong aku pilih yang sudah siap pakai, sudah dipanasi mesinnya oleh bapak maksudku, hhee. Tapi karena itulah, ritual pagi sebelum berangkat pasti terlewat, seperti mengecek ketersediaan jas hujan di dalam jok.

Benar saja, sore pulang kerja hujan turun. Ahh, tak apa-apa kehujanan sehari, Insya Allah sehat. Sepanjang jalan bertekad esok pagi harus mengecek semuanya. Eeehh, besoknya lupa lagi, hujan turun lagi dan doa yang sama dipanjatkan berulang kali. Insya Allah sehat. Insya Allah sehat. Insya Allah sehat.

Hari ketiga, apa yang terjadi?

Sedari subuh hujan turun hingga waktu aku keluar rumah pun masih gerimis, yah, mau ga mau harus pakai jas hujan, kan ga seru kalau sampai tempat kerja basah.

Sorenya? Hujan turun lagi. Yeaay, aman bawa jas hujan.

Perjalanan sore hari ketiga aku tidak langsung pulang, ada tempat yang harus dikunjungi. Coba kalau lupa bawa jas hujan lagi, pasti batal deh. Alhamdulillah selamat sampai tujuan, beberapa teman yang sudah lebih dulu sampai menatapku cemas, terlebih beliau, bahkan hingga menawarkan baju ganti. Aku menolak halus, lagi pula hanya bagian bawah saja yang basah, tidak masalah. Berada di majelis ilmu dikelilingi orang-orang yang juga mengharap RahmatNya sudah membuatku hangat.

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam).” HSR al-Bukhari (no. 2948) dan Muslim (no. 1037).

Senja menjelang, kali ini menuju rumah masih ditemani hujan. Sepanjang jalan mulai merenung. Allah sayang banget yah. Gimana Dia mengingatkanku untuk memakai jas hujan sedari pagi, dimudahkan untuk beraktifitas seperti biasa, mungkin jika hari ketiga basah kuyup lagi sekarang sedang di bawah selimut, demam.

Di musim hujan ini wajar jika air langit jatuh ke bumi, tapi setelah sekian lama berlalu mengapa Allah turunkan di pagi hari? Saat aku hendak berangkat kerja? Masya Allah. Alhamdulillah. Allahu Akbar. Laa haula wala quwwata illa billah.

Rezeki Enggak Kemana


Pekan lalu saat suasana hening temanku nyeletuk, "Eh mba, coconut delight masak sepuluh ribu dapet empat."

Aku yang biasanya fokus ga mau diganggu kalau lagi pegang kerjaan tergoda juga, "Ah masa? Kok bisa?"

"Iya, kadaluarsanya maret 2019."

"Mau dong mau."

"Tapi yang posting temenku ngawi, hhee."

Dih, menyebalkan. Udah semangat yang respons ternyata beda provinsi, heemm. Eh tunggu.

"Besok akhir pekan kan kamu pulang?"

"Eh iya bener. Mau?"

"Iya mau, mau. Dua puluh ribu deh."

"Santai dong. Banyak amat?"

"Keluargaku kan banyak. Enam orang."

"Oh iya bener."

"Bisa bawanya?"

"Tenang aja."

Oke, tak apa menunggu sepekan lumayan kan bisa minum susu harga miring gitu, jarang-jarang, hhaa. Sebenarnya aku ga begitu tahu pasti harga asli jika tidak ada promo, maklum saja perut rada rewel sama susu sapi, mungkin di atas lima ribu rupiah kali yah harga aslinya. Alhamdulillah cuma aku seorang, keluargaku yang lain menerima segala jenis makanan.

Rencanya aku dan temanku akan bertemu hari selasa, tapi ternyata hari selasa urusannya belum beres. Yah mundur sehari lagi deh.

Oiya, niat awal beli susu itu sebenernya buat adik bungsu. Yah, perbaikan gizi anak kos. Udah kebayang bakal ngasih dia lebih banyak dari yang lain. Ehh tapi hari senin dia harus balik ke perantauan, ada kelas katanya. Ya udah deh. Disimpen dulu bisa kali ya.

Sesuai jadwal, senin ragil balik ke semarang.

Rabu sore akhirnya pesananku datang, yeaaay. Dapet delapan, banyak ternyata. Berasa emak-emak bawa buah tangan buat anak-anaknya di rumah, hhee. Sore itu hujan dan saya tidak bawa jas hujan, taraaa basah-basahan selama dua puluh menit, insya Allah sehat ga masuk angin. Aman, semua susu terselamatkan di dalam jok motor.

Sepanjang perjalanan ga sempet mikir apa-apa selain banyakin doa biar selamat sampai rumah (dilema pengguna kaca mata). Alhamdulillah, sesampainya di depan rumah ada kejutaaaaann...

Ragil berdiri di depan pintu.

Eh. Kok?

Ternyata dia pulang, ada tugas terjun lapangan. Baru sampai juga. Belum masuk rumah, masih pakai jas hujan. Allahu Akbar.

Rezekimu dek 😊

“Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku” – Umar bin Khattab

------
Ragil : anak paling akhir

Jangan Nilai Buku dari Judulnya

Related image 

 Don't judge a book by its cover. Baiklah sesuai dengan terjemahan dari kata mutiara tersebut, jangan menilai buku dari sampulnya. Hhii, maafkan sebelumnya karena cerita ini akan dimulai dengan tertawa sebab saya malu sendiri ketika memikirkan kejadian yang membuat saya gemas untuk tidak membagikannya.

Beberapa waktu yang lalu saya pernah menyampaikan keinginan hati untuk berhenti bekerja di sebuah perusahaan kepada kakak sulung saya, dia yang sudah memutuskan untuk berhenti menjadi karyawan menyambut baik niat baik saya tapi ya itu pilihan untuk menyambung hidup selanjutnya masih menjadi pertimbangan yang rumit. Berulang kali saya galau, antara iya dan tidak, mungkin kakak saya kesel juga liat adiknya terombang-ambing ga jelas, hhaa. Sayangnya dia juga tidak bisa mengambil andil besar dalam keputusan hidup saya yang dinilai sudah dewasa ini.

Suatu hari dia mengirimkan saya sebuah pesan, entah lewat whatsapp, email atau akun yang lain (lupa-lupa ingat) sebuah buku cooming soon. Waaaahh, tumben bener, biasanya juga kitab-kitab dengan hard cover. Belum jelas apa isinya tapi dilihat dari judul dan Blurb sih seperti sebuah novel yang menceritakan tentang pertaruhan antar karyawan untuk adu cepat mengajukan Resign. Hhee, kalian pasti udah paham novel apa yang saya maksudkan.

Segera saya membalas pesannya untuk membelikan buku tersebut, tapi nihil, dibalaspun tidak, hhaa. Eh berarti bukan lewat whatsapp dulu kirim gambarnya.

Waktu berlalu dan teman satu komunitas mereview buku tersebut. Waah, tanpa pikir panjang aku langsung aja colek, dan taraaa dapet, hhee.

Tahu ga apa isinya?

Novel Percintaan.

Hhaaa, mau ketawa guling-guling deh rasanya. Mungkin kakak sulung berpikir ini buku yang bisa memotivasiku untuk segera ambil langkah, menentukan pilihan mau gimana. Tapi ternyata jauh dari harapan, hhaa. Duh, udah deh takut kualat.
Kakak sulungku bukan orang yang hobi membaca novel, bahkan ketika adiknya ini menerbitkan novela pun dia cuma komentarin sampul dan hasil cetakan terus bilang, "Besok aku aja yang cetak."

Nah Mas, teruntukmu juga aku, jangan asal komentar terhadap sebuah buku yah sebelum membaca dan memahami pesan yang ingin disampaikan oleh penulisnya.

By the way, makasih loh yah sudah memberikan pengalaman tentang arti sesungguhnya dari kata mutiara di atas :)
 
---------------------------------

Sumber foto : http://ualbertalibrarynews.blogspot.com/2018/02/dont-judge-book-by-its-cover-is-back.html

Penggunaan Kata "Antum"

Besok ujian bahasa arab.

Gleg. Pemberitahuan dari temen menghentikan kinerja otakku sebentar, blank. Waduh, gimana ini.

Ya iyalah jelas aku kalang kabut. Bayangin aja, penggunaan kata "Antum" aja aku masih bingung, hla kok ini disuruh ujian. Panas dingin, meriang, kalau ijin ga masuk mah bukan solusi. Ujian susulannya malah semakin horor karena ga ada temen yang bisa dicontek, eh.

Inget banget waktu ustadzah bilang, "Kenapa ga ada yang tanya? Gimana ustadzah bisa tahu kalian paham atau engga kalau diem semua?"

Duh, itu suasana mencekam banget. Semua kepala menunduk, ga ada yang berani bergerak, kesemutan deh, mana intonasi ustadzah agak meninggi. Keliatan banget beliau kecewa karena kita ga ada yang berhasil mengerjakan kuis dadakan. Sejak itu aku entah dengan yang lain, bertekad untuk segera bertanya sebelum kami menghabiskan waktu sia-sia menanti keajaiban yang mustahil datang karena tak paham materi.

Oh iya, kembali lagi tentang penggunaan kata "Antum". Dalam bahasa arab terdapat kata ganti yang disebut dengan dhamir, ialah sebagai berikut :

هُوَ
(Dia [laki-laki]): untuk orang ketiga (yang dibicarakan), tunggal (mufrad), mudzakkar.

هُمَا
(Mereka berdua [laki-laki/perempuan]): untuk orang ketiga, ganda (mutsanna), baik mudzakkar maupun muannats.

هُمْ
(Mereka [banyak laki-laki]): untuk orang ketiga, jamak, mudzakkar.

هِيَ
(Dia [perempuan]): untuk orang ketiga, mufrad, muannats.

هُنَّ
(Mereka [banyak perempuan]): untuk orang ketiga, jamak, muannats.

أَنْتَ
(Kamu [laki-laki]): untuk orang kedua (lawan bicara), mufrad, mudzakkar.

أَنْتُمَا
(Kalian berdua [laki-laki/perempuan]): untuk orang kedua, mutsanna, baik mudzakkar maupun muannats.

أَنْتُمْ
(Kalian [banyak laki-laki]): untuk orang kedua, jamak, mudzakkar.

أَنْتِ
(Kamu [perempuan]): untuk orang kedua, mufrad, muannats.

أَنْتُنَّ
(Kalian [banyak perempuan]): untuk orang kedua, jamak, muannats.

أَنَا
(Saya [laki-laki/perempuan]): untuk orang pertama (si pembicara) mufrad, baik mudzakkar maupun muannats.

نَحْنُ
(Kami [laki-laki/perempuan]): untuk orang pertama, jamak, baik mudzakkar maupun muannats; digunakan juga untuk orang pertama tunggal (mufrad) yang mengagungkan dirinya.

Nah, sudah jelas kan? Tapi sering loh aku denger bahkan dipanggil "Antum" sama ustadzah. Bukannya "Antum" sebagai kata ganti dari (Kalian [banyak laki-laki]): untuk orang kedua, jamak, mudzakkar ya?

Inilah kesalahan yang saya akui, tidak langsung menanyakannya malah pusing sendiri, kapok deh, ga boleh lagi menerima begitu saja. Ga tahu ya tanya, malu? Ya elah. Malu mana sama ga tahu dan hanya menduga-duga? Bukan begitu adab penuntut ilmu kan? Bukankah penuntut ilmu harusnya haus akan keingintahuan yang dapat memperluas wawasannya?

Sekian lama diam akhirnya ustadzah menjelaskan apa yang malu aku tanyakan.

Antum adalah panggilan penghormatan kepada orang yang diajak berbicara, meskipun yang diajak bicara cuma satu orang.

Dalam budaya arab, laki-laki dianggap lebih tinggi dari perempuan, itulah kenapa kata "Antum" bisa digunakan sebagai kata ganti kepada perempuan, pun jika terdapat banyak orang yang di dalamnya terdapat perempuan dan laki-laki maka kata ganti yang digunakan adalah kata ganti laki-laki.

Oooo begitu ternyata. Jadi senyum-senyum sendiri, bagaimana beliau begitu menghargai meskipun kepada anak didiknya.

Penggunaan kata "Antum" hanya boleh digunakan dalam bahasa komunikasi yang dimaksudkan untuk penghormatan. Jika dalam bahasa tulis tidak boleh, harus sesuai dengan kaidah yang telah ditentukan.

Begitu, paham tak?

Fiuh, satu kata loh. Cuma satu kata aja pusingnya, hhaa. Yuk ahh semangat belajar, jangan lupa tanya kalau ga tahu, buang tuh gengsi.

Paragraf terakhir ditujukan kepada penulis semata 😂.

-----------
Penjelasan dhamir diambil dari :
http://qonitah.com/kata-kata-ganti-الضَّمَائِرُ/

Pendaftaran Menjadi Wanita, Istri dan Ibu Shalihah


Menjadi muslimah bukanlah perkara mudah, terlebih kelak akan menjadi seorang ibu di mana tanggung jawab anak-anak dan keluarga ada di pundak. Lalu apa yang harus dipersiapkan? Jelas mencari bekal dong, mengemban tugas rumah tangga juga pendidik pertama buah hati tentu memerlukan ilmu yang tidak boleh diabaikan.

Alhamdulillah, untuk warga solo raya ada sekolah yang menyediakan apa yang muslimah butuhkan loh. Madrasah Ishlahul Ummah merupakan lembaga pendidikan islam non formal khusus muslimah. Membekali para muslimah agar siap mengemban tugas sebagai zaujah shalihah dan pendidik generasi Rabbani, medrasah ula bagi anak-anaknya.

Tujuan pembelajaran ini diharapkan nantinya santriwati dapat menjadi muslimah yang berilmu dan bertaqwa. Memiliki tashawwur yang benar dan iradah yang lurus. Beraqidah salimah, beribadah shahihah dan berakhlak karimah.

Lalu apa saja materi yang dipelajari?
1. Aqidah
2. Tahsin
3. Tahfidz
4. Tafsir
5. Ulumul Quran
6. Hadist
7. Musthalah Hadist
8. Tarbiyah Syakhhsiyah
9. Fiqih
10. Faraidh
11. Sirah Nabawiyah
12. Bahasa Arab

Wuih, sebanyak itu berapa lama? Pembelajaran ditempuh selama 3 tahun (6 semester). Setiap ahad pukul 07.15 - 12.00 WIB.

Lama? Sabar, bukankah mencari ilmu itu dari buaian hingga liang lahat? hayoo, udah lupa ya?

Semua materi di atas itu akan disampaikan oleh pengajar yang terdiri dari para ustadz dan ustadzah lulusan perguruan tinggi (Ma'had 'Ali An-Nur, Ma'had 'Ali Al-Islam Bekasi, LIPIA, UMS, UNS) dan beberapa pondok pesantren di nusantara.

Biaya pendidikannya berapa? Murah banget pokoknya mah. Cuma tiga puluh ribu per bulan, iya Rp 30.000 ,- aja.

Yuk, masih ada sepekan untuk mendaftar. Pendaftaran ditutup tanggal 27 Januari 2019 loh. Bonus gantungan kunci kayak gini nih, boleh pilih salah satu.



Begitulah, yuk teman-teman yang di soloraya manfaatkan kemudahan yang Allah berikan, belum tentu di tempat lain dimudahkan seperti kita.

Oiya, kalau mau tanya lebih lanjut bolehlah ke saya, dengan senang hati Insya Allah dibantu jawab yah.

Kekonyolan Sebagai Blogger



Semenjak memutuskan membeli domain, saya memang berniat untuk serius menggarap blog, yah blogger profesional gitu intinya. Nah, pastinya harus dong belajar gimana menjadi blogger yang bisa menebar banyak manfaat? Ketemulah satu dari sekian banyak cara. Apa itu?

Menulis minimal 300 kata.

Iya, soalnya artikel yang terdiri dari 300 kata barulah dianggap bagus oleh google, mesin pencarian yang masih menjadi rujukan pertama bagi sebagian besar pengguna jaringan internet. Dianggap bagus karena kepanjangan artikel yang dirasa cukup memuat hal-hal yang berhubungan dengan keyword.

Kenalkan saya blogger yang masih belajar, hhii. Jadilah segala macam hal manual dilakukan, bukan karena apa-apa tapi karena belum paham cara yang lebih keren untuk memanfaatkan teknologi, hhoo.

Saya mendownload aplikasi blogger di gawai, untuk memudahkan nulis di mana pun berada. Tapi eh tapi kok saat saya menulis tidak ada jumlah kata di layar yah? Jadi kan saya bingung sudah cukup belum memenuhi aturan sesuai yang google syaratkan, hhee. Jangan-jangan saya yang ga tahu lagi gimana pengaturannya? Kasih tahu dong kalau misal memang ada yah.

Lalu bagaimana? Ya terpaksa pake cara manual deh. Eitss, bukan dihitung satu satu loh ya, itu mah kurang kerjaan banget, hhee. Bisa jadi satu artikel lagi saking lamanya ngitung, belum lagi kalau lupa di tengah jalan, duh berabe. Pusing, pening dan ga masuk akal.

Begini rahasianya.

Saya copy semua tulisan kemudian paste di wordpress. Iya serius, jangan ketawa. Saya punya blog juga di wordpress, tapi mencoba fokus satu dulu di sini. Nah,  dari pada nganggur ya dipakai lah buat ngecek jumlah kata, hhii. Berasa ibu tiri, kejam gini duh.

Baiklah... ini konyol memang. Tapi saya percaya kalian juga punya cerita konyol sebagai blogger kan? Hayoo ngaku, inget-inget dulu, ga usah malu gitu. Coba cerita, nanti saya dengarkan :D

Gambar di atas itu pakai laptop, soalnya gawai lagi di charger. Kalau ditunda biasanya ga jadi nulis, hhaa. Oiya jadi inget sama artikel yang pernah saya baca namun lupa siapa penulisnya, intinya bahwa kebanyakan blogger itu pemalas. Nah lo nah lo, cung yang kesindir, saya temenin kok.

Sekian curhatan saya. Semoga menghibur.

Blogger atau Bloger?




Jadi "G" nya berapa, satu apa dua?

Nah, bingungkan? sama dong kayak saya, hhee. Tenang, yuk cari artinya masing-masing. Silahkan ketik keyword di  google. Apa yang keluar?

Blogger adalah sebuah layanan publikasi blog yang dibuat oleh Pyra Labs dan diakuisisi oleh Google pada tahun 2003. Secara umum, blog yang dihost oleh Google berada di bawah subdomain blogspot.com. Blogger memperbolehkan penggunanya untuk mempublikasikan blognya di server lain, melalui FTP hingga 1 Mei 2010.


Hasil gambar untuk blogger


Sedangkan kalau kita ketik Bloger, maka hasil yang muncul adalah sebagai berikut

Mungkin maksud Anda adalah: blogger

Akan berbeda hasilnya jika kita mencari arti dari dua kata tersebut di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Hasilnya adalah :

blo.ger /blogêr/

  • n cak sebutan untuk orang yang mengeblog; pengeblog; narablog

blogger

Entri tidak ditemukan.

Jika Anda mengetahui makna entri [blogger], silakan memberikan usulan kepada redaksi melalui tautan di bawah (bertuliskan Usulkan Entri Baru). Usulan Anda akan langsung masuk ke meja redaksi. Jika usulan Anda telah diluluskan, usulan tersebut akan ditemukan di dalam KBBI Daring. 

Sejujurnya ini adalah masalah yang saya hadapi, maklum sebagai anak baru di dunia maya sering bingung dengan orang yang mengenalkan diri sebagai blogger, eh waktu dicari tahu artinya ternyata sebuah layanan publikasi blog? ga nyambung kan? Terus waktu cek di KBBI  ga ketemu, nah lo.

Setelah bersemedi cukup lama ternyata ketemulah kesimpulan bahwa Blogger memiliki dua arti, yang pertama jelas sebagai penyedia layanan publikasi blog, sedangkan yang kedua benar juga digunakan untuk menyebut orang yang mengeblog. Pernah ga denger pengeblog atau narablog? jarang kan yah, lebih famliar dengan blogger.

Sudah tidak perlu dipusingkan, toh sudah menjadi rahasia umum apa yang dikenal masyrakat luas itulah yang kita pakai. Ga perlu khawatir juga kalau ternyata kita pakai kata yang tidak baku karena tidak muncul saat di cari di KBBI, kan kita bisa usul biar diloloskan, yeahh.

 Satu lagi, kalian pernah tahu ga ada yang menggunakan kata Bloger? Iya, "G" nya satu? Jangan lupa kasih tahu saya yah, saya kan juga pengen tahu.

Ibu, Kisahkan Sebuah Cerita

Menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak dianjurkan melalui sebuah cerita, sebab menurut para ahli itu lebih mudah untuk diterima. Itulah kenapa penting bagi orang tua maupun pendidik untuk menceritakan kisah-kisah yang di dalamnya terkandung nilai-nilai moral juga pelajaran yang nantinya bisa ditiru oleh si anak.

Sudahkah sampai padamu kisah Abdullah, anak kesayangan Abdul Mutthalib, pemuda tampan yang dicintai kaum Quraisy, lelaki yang ditebus dengan 100 ekor unta? Pemuda Hasyim yang menahan diri untuk tidak segera meminang "bunga Quraisy"?

Bukti bagaimana cerita tentang sebuah kisah begitu membentuk pribadi seseorang.

Setelah berhasil memegang wewenang distribusi air Zamzam untuk para jemaah haji, tanpa disaingi oleh seorang pun dari kaumnya, Abdul Mutthalib bernazar bahwa ia akan menyembelih salah satu di antara anak-anaknya di dekat Ka'bah jika ia memiliki sepuluh anak yang bisa melindunginya, ketika itu ia baru memiliki satu anak laki-laki. Waktu berjalan hingga Allah mengabulkan pintanya, dan ketika tiba saat pengundian, Ka'bah memilih Abdullah untuk disembelih.

Duka yang dalam tidak hanya menyelimuti hatinya, seluruh penduduk Mekah pun merasakan hal yang serupa. Namun janji harus ditepati terlebih kepada Pemilik Ka'bah.

Ketika sang ayah hendak menyembelih anak bungsunya itu, orang-orang Quraisy menghampirinya dan memberikan nasehat tentang sikapnya yang ditakutkan akan dicontoh oleh lelaki-lelaki lain yang kelak akan menyembelih anaknya di kemudian hari. Mereka menawarkan untuk menebus dengan harta benda yang mereka miliki.

Kemudian kaum tua Quraisy menyarankan agar Abdul Mutthalib pergi menemui seorang peramal wanita di Khaibar. Menanyakan perihal ini.

Kepergian ayah dan anak beserta rombongan ini meninggalkan harapan-harapan di setiap jiwa penduduk Mekah. Doa-doa yang tiada henti dilantunkan untuk kebaikan si lelaki sabar yang sebentar lagi akan menemui ajalnya, Abdullah, hiasan kaum muda dari Bani Hasyim.

Dua puluh hari kepergian mereka, selama itu pula seolah kehidupan ikut berhenti, para hamba sahaya sibuk mencari informasi kesana-kemari hingga rombongan yang pergi akhirnya kembali.

Si peramal wanita mengatakan untuk mengundi Abdullah dengan sepuluh ekor unta dengan anak panah. Jika undian yang keluar adalah Abdullah, maka tambahilah sepuluh ekor unta lagi hingga undian yang keluar adalah unta, maka sembelihlah unta itu sebagai gantinya, karena Rabb kalian sudah rida dan Abdullah selamat.

Setelah melakukan pengundian, akhirnya seratus ekor unta disembelih, lalu daging-dagingnya dibiarkan begitu saja. Siapa pun manusia ataupun hewan liar yang datang menghampiri, tidak dihalangi sedikit pun.

Kisah penebusan nyawa Abdullah sangat mengguncang hati orang-orang mekah karena merasa iba kepada seorang pemuda saat ujung parang sudah menyentuh lehernya. Kesabaran, ketenangan dan kerelaannya menerima takdir kemudian disambungkan oleh bangsa Arab dengan kisah Ismail  yang hendak disembelih oleh Nabi Ibrahim as sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah Allah SWT. Lalu Allah menebusnya dengan seekor domba besar setelah kematian sudah dekat seukuran dua busur panah, atau bahkan lebih dekat lagi.

Cerita yang dikisahkan secara turun-temurun oleh para leluhur mereka dari generasi ke generasi nyatanya membekas ke dalam hati.

Kepatuhan, ketundukan, kerelaan terbentuk melalui proses yang panjang, dan orang tua memiliki andil besar dalam membentuk kepribadian buah hatinya.

Abdullah, orang terpilih yang segera setelah penebusan dirinya ia bersama ayahnya meminang "bunga Quraisy", yang dari pernikahan tersebut lahirlah pemimpin umat ini, Nabi Muhammad SAW.

Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad

-----
Sumber : Biografi Istri dan Putri Nabi SAW

Musim Hujan Bukan Penghalang

Sedia payung sebelum hujan, sepertinya peribahasa yang sejak sekolah dasar diajarkan begitu melekat hingga kini, persiapan nomer satu, begitulah intinya menurutku.

Sebagai muslimah yang pagi di mana, siang ke mana eh sorenya udah sampe mana, sungguh butuh payung di musim hujan ini. Harus banget nih dipersiapkan sebagai muslimah aktif yang enggan menganggap hujan sebagai penghambat, hla jelas-jelas hujan itu rahmat, ya to?

Payung di sini kalau diartikan secara denotasi ya payung, hhee.  Maksudnya ya kalau beraktifitas naik mobil pribadi atau kendaraan umum ya kudu wajib bawa payung dong. Beda cerita kalau bawa sepeda motor, payungnya diganti dengan jas hujan. Nah aman deh sementara, siap sedia kalau tiba-tiba hujan turun.

Kok sementara?

Iya sih kalau menurut pengalaman aku, soalnya bisa jadi kita kehujanan waktu terjebak kemacetan, posisi di tengah pula, mau ngambil jas hujan kok ya motor saling mepet, mau minggir udah penuh manusia, hhii. Pasrah doang deh. Bisa juga hujannya sudah reda, terang benderang, pelangi di ujung cakrawala, eeehh genangan air yang beriak tanda tak dalam itu menyembur akibat gesekan dengan ban kendaraan pengendara lain, fiuhhh, tahan, banyakin istighfar.

Terus gimana?

Tenang, seorang muslimah ga boleh pundung, ngambek sama keadaan, sampai ngebatalin acara cuma gegara hal seperti ini. Rugi itu namanya. Apa yang sudah tertulis harus sekuat tenaga untuk di ceklis nanti malam, kan seru tuh. Berhasil melewati hari dengan target tercapai. Kereeen.

Bawa baju ganti. Titik. Ga pake alesan bagasi penuh, tas berat, repot dan segerobak alasan lainnya.

Itu ide brilian banget deh, lagi-lagi menurutku. Ga boleh ditawar. Harga pas.

Iya sih maklum, bawa baju ganti itu berarti ya semuanya, kaos kaki, jilbab, baju atau gamis, banyak yah? Iya memang. Tapi sebanding lah dengan kenyamanan menggunakan baju kering kan?

Jadi sebenarnya ada solusi di setiap masalah, coba diam sebentar, berpikir, jangan buru-buru menyerah dan kalah. Jadilah tangguh dengan bersungguh-sungguh. Yuk ceria meski hujan tak kunjung reda :D

Apa Jadinya Tanpa Ada yang Peduli?

Begini, jadi dari sekian banyak grup yang saya ikuti ada satu yang ga pernah sepi, iya ada aja yang muncul, entah bahas hal penting sampai hal-hal yang biasa aja. Dari pagi sampai malem terus ke pagi lagi, hhee, ga tidur apa ya mereka?

Nah, karena ini grup, maka banyak penghuni yang memiliki pandangan berbeda, wajarlah namanya juga banyak kepala kan? Pro dan kontra tentang fungsi grup yang sesungguhnya.

Nah lagi, yang buat saya salut adalah ada saja orang yang mau menengahi. Kenapa tebak?

Karena mereka peduli. Orang-orang yang memperhatikan supaya grup tetap nyaman bagi para penghuninya, juga tidak melenceng dari fungsi awal pembentukan.

Lalu saya bergidik ketika membayangkan apa jadinya tanpa kehadiran orang-orang yang peduli?

Tak ada lagi guru yang tulus menekankan bahwa fokus terpenting dari ilmu adalah pengamalan.

Entah bagaimana para pasien melewati masa kritis mereka tanpa pengawalan dari ahli medis yang lemah lembut melayani.

Masa depan bangsa yang akan diusung oleh para generasi hebat di mana orang tua yang membimbing sepenuh hati, menjadi negara yang kuat mental dan berdikari.

Tumpukan sampah yang menyengat andai kata petugas kebersihan asal-asalan mengerjakan tugasnya.

Jalanan rusak, penuh lubang, berbahaya bahkan bisa merenggut nyawa jika saja pemerintah tidak cepat aksi dalam memperbaikinya.

Saudara-saudara kita yang kelaparan, kekeringan, berjuang bangkit kembali dari cobaan bencana alam. Sungguh butuh kita untuk memperhatikannya.

Jeritan orang-orang yang mempertahankan keyakinan mereka, meski jauh dari jangkauan tangan pun tak luput untuk minta dipedulikan.

Jangan diam begitu, jangan nyaman dengan keadaan yang sekarang. Kita bisa menjadi bagian dari orang-orang yang peduli loh, pejuang keadaan untuk mencapai kedamaian bersama.

Satu lagi, seseorang yang begitu peduli dengan segenap jiwa raga beliau, menanti, mendoakan, memintakan ampunan, menyediakan air kehidupan kelak, sungguh telah jelas dari siapa suri tauladan sifat peduli yang menggetarkan jagad raya itu, Al-Musthafa Al-Hasyimi, penutup para nabi, Rasulullah SAW.

Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad.

Bersama Blibli Wujudkan Mimpi

Wah, ga terasa hampir seminggu yah kita memulai tahun 2019, semoga apa yang diharapkan di tahun ini tercapai, oiya masih boleh loh untuk yang belum memiliki resolusi, yuk rancang sekarang. Entah  perlu atau tidak tapi sudah menjadi tradisi membuat resolusi setiap memasuki awal tahun, pun begitu dengan saya. Harus ada yang berubah menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya dan mulai tahun 2019 ini, saya bertekad untuk menjadi muslimah mandiri. Mandiri? Iya mandiri, keadaan di mana saya dapat berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain, syukur bisa memberikan manfaat yang lebih banyak untuk orang-orang di lingkungan sekitar.

Yup, saya harus jadi Muslimah Preneur, pengusaha perempuan. Wiiihh, keren ga tuh? Keren banget kan? Oleh sebab itu saya butuh kamera. Buat apa hayo?

Bentuk visual memiliki keunggulan dibandingkan dengan audio, meningkatnya pengguna sosial media seperti facebook, instagram, youtube dan akun sosial media lainnya membuktikan bahwa sekarang kita berada di mana menatap lebih mengasyikkan dibanding mendengar. Terlebih ada juga yang berpendapat bahwa gambar dapat berbicara lebih dari pada tulisan, setuju ga?

Kamera menjadi alat penunjang bisnis yang sangat penting, oleh sebab itu kehadirannya sangat dibutuhkan sebagai modal awal menyebarkan berita pada dunia bahwa saya punya produk. Simpelnya gini, orang ga perlu datang ke toko untuk melihat barang yang dicari, kita juga ga perlu punya toko offline jika terasa berat saat di awal. Nah, untuk menunjang kepercayaan calon pelanggan maka kita harus menampilkan gambar yang sesuai dengan produk aslinya, kalau pelanggan senang maka orderan akan terus datang, hhee.

Ternyata kamera itu bermacam-macam jenisnya loh, ada Kamera Saku, Kamera Mirrorless, Kamera Aksi, DSLR, Kamera Video dan banyak lainnya. Terus saya kudu gimana nih? Kata temen suruh beli aja di Blibli, segala macam kamera tersedia, tinggal pilih mau yang mana gitu. 

Kenapa harus Blibli?

Ternyata saran temen saya itu bukan tanpa alasan loh, setiap harinya ada promo menarik, waw, setiap hari? Iya. Sepertinya Blibli serius nih menjadi pelopor mal online terbesar dan terlengkap di Indonesia dengan beragam kategori pilihan untuk memenuhi kebutuhan keseharian. Baiklah saya jatuh cinta di awal, mari lanjutkan untuk mengenal lebih dalam, eh.

Saya langsung meluncur buka aplikasi, daftar dan pilih kategori kamera. Wah, senang sekali karena ada promo "Superb Hot Deals" setiap hari senin sampai jumat mulai pukul 10.00-17.00 WIB yang menawarkan flash sale dan ekstra diskon terbaik setiap harinya untuk kategori kamera. Duh, siapa sih yang ga suka diskon, hhee. Benar saja beragam kamera tersedia, tinggal pilih mau yang mana.








Eitss, bukan itu aja, ada lagi nih promo spesial jika berbelanja online menggunakan kartu kredit maka akan mendapatkan keuntungan cicilan 0% untuk 3,6,12 hingga 24 bulan (khusus BRI). Kalau ga punya kartu kredit gimana dong? Tenang, kita bisa pilih satu dari sekian banyak kemudahan cara pembayaran, Cash On Delivery/COD, internet banking, transfer melalui ATM, pembayaran uang elektronik dan pembayaran melalui offline store (Indomaret dan Pos Indonesia). Gampang banget kan?

Oiya, ini nih yang paling penting. Keamanan dan kenyamanan berbelanja online di Blibli pasti terjamin soalnya ada Customer Care yang siap membantu 24 jam. Wuihh. Mau belanja jam berapa pun ga masalah dong ya. Kerennya super nih Blibli.

Terima kasih ya Blibli sudah bantu mewujudkan mimpi.

Paket Umroh Murah

Rukun islam yang ke lima adalah naik haji (bagi yang mampu), namun sebagai umat islam tentu keinginan mengunjungi Baitullah adalah sesuatu y...