Writer's Block adalah Penyakit Keren

Selamat!

Jika Anda membuka tulisan ini berarti Anda keren. Yap. Baiklah, langsung saja saya utarakan kenapa writer's block termasuk dalam jajaran penyakit keren.

Pertama, istilah apapun yang ditulis dalam bahasa inggris adalah keren karena levelnya sudah internasional. Setuju?

Kedua, writer's block hanya melanda para penulis. Nah, penulis itu keren kan? Oke, sepakat.

Tunggu dulu, lalu kenapa banyak penulis yang melebih-lebihkan writer's block ini? Ya karena itu penyakit keren, hhaa. Enggak bercanda, sebenarnya mau sekeren apa pun toh tetap penyakit, tak ada yang mau terjangkit. Gejalanya seperti ada tembok yang menghalangi keluarnya ide. Hayoloh, ngeri ga tuh? Penulis tanpa ide? Jangan dibayangin!

Tenang, nih saya kasih tips efektif untuk merubuhkan tembok penghalang tersebut, caranya mudah, pancing saja dengan satu kalimat.

Eittsss... santai, ga perlu ngeluarin sabit untuk mendebat. Udah praktekin aja dulu. Contoh nih ya nulis status di facebook. 

Aaarrrgggghhhh... sebel banget deh kena writer's block.

Tunggu beberapa saat, komentar-komentar dari temen diharap bisa memicu ide untuk menyusup lewat pori-pori dinding. Lebih bagus kalau ada yang berbaik hati memberi semangat bahkan tips, perlu dihargai tuh.

Terus kalau ga ada yang komentar gimana? Ya sudah, sedih pasti, hhaa.

Percaya deh, writer's block itu ga dateng sekali atau dua kali aja, bisa ribuan bahkan sesering niat kita untuk menulis muncul. Maka, satu-satunya cara ya nulis, pancing satu kalimat apa saja. Pokoknya Nulis.

Udah gitu aja. Kalau misal kamu lagi kena writer's block terus ga mau coba nulis satu kalimat pun, jangan berharap sembuh! Bye! (mode galak).

Orangtua yang Membunuh Potensi Anak



Memiliki buah hati adalah keinginan bagi setiap pasangan suami istri, oleh sebab itu pastilah hal terbaik akan diberikan. Sayangnya banyak orangtua yang belum mempersiapkan bekal untuk menuntun putra-putri yang diamanahi oleh Tuhan, merasa sok tahu dan enggan untuk belajar.

Ayah Bunda, anak bukanlah obyek coba-coba, masa kanak-kanak adalah fase perkembangan manusia yang sangat istimewa. Namun pada kenyataannya orangtualah yang justru menghancurkan potensi emas anak. Satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa jangan pernah menilai kesalahan anak dari sudut pandang orang dewasa sebab dunia anak-anak berbeda dengan dunia orang dewasa.

Dirangkum dari buku Keajaiban Mendongeng karya Heru Kurniawan, berikut hal-hal yang seharusnya dipahami oleh orangtua agar tidak membunuh potensi anak pada masa perkembangannya :

1. Menghentikan anak dari dunia permainan sama seperti menghentikan perkembangan intelektualnya atau potensi yang berkaitan dengan kecerdasan.

2. Persahabatan anak dan orangtua terlihat ketika bermain bersama anak. Sayangnya, orangtua sering tidak mau bermain dengan berbagai alasan. Anak-anak pun dibiarkan tidak punya teman. Inilah kegagalan awal orangtua dalam meningkatkan potensi sosial anak.

3. Anak memahami persoalan moral melalui proses peniruan, maka orangtua harus berhati-hati ketika berperilaku di depan anak karena mereka pasti akan menirunya.

4. Ayah Bunda seringlah bercerita dengan menggunakan benda/properti dari benda-benda di sekitar untuk membentuk imajinasi pada anak sebab anak yang memiliki daya imajinasi yang baik akan menjadi pribadi yang kreatif. Ia bisa berkreasi dengan benda, peristiwa, dan realitas yang dijumpainya. Anakpun menjadi produktif dan tidak jenuh dalam menghadapi setiap peristiwa. Selalu ada ide-ide baru dan menakjubkan yang muncul di kepalanya. Maka, anak kreatif cenderung manjadi anak yang pintar.

5. Berbahagialah orangtua jika anaknya memiliki emosi tingkat tinggi karena itu pertanda anak cerdas dan kreatif. Namun, anak harus tetap dibimbing dalam mengekspresikan emosinya agar tidak merugikan diri danoranglain.

6. Ketakwaan anak tergantung pada orangtuanya. Idealnya, orangtua mengondisikan anak untuk meningkatkan potensi spiritualnya yaitu dengan menjalankan seluruh perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya.

7. Anak memulai perkembangan lingualnya dengan menyimak/mendengarkan. Jangan beranggapan bayi tidak mendengar, ia mendengar dan menyimpan setiap kata yang ia dapatkan dari lingkungannya.

Demikian tujuh poin penting perilaku orangtua yang mempengarui perkembangan potensi anak. Ingat, setiap anak berhak mendapatkan hal terbaik dari orangtuanya!

Yuk, jadi orangtua yang baik bagi anak-anak kita.




Biar Aku yang Berjuang

Bruggg...

Hening malam membuat suara tubuhku yang berdebam terdengar jelas. Semoga saja ini tidak memancing orang-orang untuk keluar rumah dan menuju sumber suara. Semoga saja lelap tidur mereka hingga suara sekeras apapun tidak mampu mengusik.

Ngilu di tangan kiri terabaikan, ada sesuatu yang lebih penting untuk dipikirkan, seseorang yang mungkin saja akan menyusul kepergianku. Aku mencoba mencari jalan lain agar tak mudah untuk ditemukan. Namun rasa gugup juga takut membuatku tidak benar-benar memperhatikan jalan tikus yang licin penuh lumut.

Kerlip bintang bertebaran di langit malam yang semakin kelam namun tidak dengan semangatku yang justru menyala terang. Maka kecelakaan kecil semacam ini tidak boleh menjadi penghalang. Harus bangkit dan kembali bergegas dan melupakan rasa sakit.

Kenapa terburu-buru?”

Sebuah tangan terulur untuk membantuku namun persendianku lumpuh seketika, bahkan sekadar untuk mendongakpun tak ada daya. Suaranya mencoba tenang dengan desah napas tertahan. Ia ada di sini, berhasil menyusulku.

Sosok itu berjongkok, telunjukkannya mengangkat daguku, sedikit memaksa agar tatapan mata kami beradu namun aku memalingkan wajah ke arah aliran sungai yang tersumbat banyak sampah. Bahkan itu lebih baik daripada melihat dula bola hitam di matanya.

Ayo pulang.”

Genggaman tangannya mencengkram pergelangan tangan kananku, semakin mengencang seiring aku memberontak. Kini kedua tangannya berada di pundakku siap mengangkat tubuhku yang jatuh terduduk. Aku menggeleng, lelehan air mata membanjiri pipi, tatapan memohon coba aku hadirkan namun kini giliran ia yang membuang muka.

Mau sampai kapan?”

Suaraku tercekat, jelas itu hanya pertanyaan retorika. Sebab apapun yang coba aku ungkapkan hasil akhirnya harus sama, kembali pulang menuju rumah berdinding anyaman bambu dengan alas tanah yang bergelombang juga atap yang siap diterbangkan angin jika ribut sedikit saja.

Aku tak akan pernah mengijinkanmu untuk melakukan ini,” ibu jari kanannya menghapus warna merah menggoda yang tertempel di bibirku lalu jemarinya merapikan anak rambut yang berhamburan menutupi wajah, rok miniku yang tersobek, juga berbagai peralatan rias yang menghambur dari dalam tas.

Kamulah kehormatanku, apapun alasanmu melakukan ini aku tidak ijinkan. Kita pulang, biar aku yang berjuang.”

Semakin dalam aku terisak, bagaimana bisa aku bertahan hidup dalam gubuk reot dengan seorang pria bodoh yang penyayang ini? Berjuang? Hah, bertahun-tahun ia terus saja mengatakan hal itu namun kenyataannya tak sesuai. Cukup. Aku muak.

Baiklah sekarang pulang, nanti akan aku pikirkan lagi cara untuk kabur dan menjemput kehidupan yang aku impikan.



#TugasKelasFiksi4


Buaya Penunggu Lapas


Hari ini Badan Narkotika Nasional (BNN) memperingati Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) 2017 di Plaza Tugu Api Pancasila Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Perayaan HANI baru bisa dilaksanakan hari Kamis, 13 Juli 2017 disebabkan 26 juni tahun ini bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri.

Tema HANI 2017 adalah 'Peran Aktif dan Pemerdayagunaan Seluruh Komponen dan Potensi Bangsa dalam Menghadapi Keadaan Darurat Narkoba Menuju Indonesia yang Sehat.'

Masih jelas teringat berita tertangkapnya selebritis tanah air, Ammar Zoni. Aktor kelahiran 8 Juni 1993 ini ditangkap jumat lalu (7/7/2017) di kediamannya di kawasan Depok, Jawa Barat. Barang bukti yang ditemukan berupa satu toples daun ganja kering dengan berat brutto 39,1 gram cukup membuatnya dijerat dengan Undang Undang RI no 35 tahun 2009 tentang narkotika Pasal 111 ayat 1 dan 132 ayat 1 dengan ancaman pidana 12 tahun penjara.

Aktor muda, idola para remaja menjadi pecandu narkoba, apa kata dunia?

"Peringatan Hari Anti narkoba Internasional adalah salah satu keprihatinan, sehingga dibutuhkan sebuah gerakan untuk menyadarkan seluruh umat manusia terhadap penyalahgunaan narkoba," kata Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso dalam sambutannya.

Indonesia darurat narkoba.

"Dalam satu tahun saja, Indonesia kemasukan sabu dan ekstasi 250 ton dari Cina, belum dari negara lainnya, dan ini diserap habis di negara kita," kata Budi Waseso pada acara Forum Tematik Bakohumas yang diselenggarakan oleh BNN di Hotel Best Western Premier The Hive, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (11/7/2017).

Salah siapa?

Sudah bukan saatnya menyalahkan, sekarang semua pihak diminta untuk berperan aktif dalam menanggulangi masalah narkoba. Kesadaran akan bahaya narkoba yang bisa merenggut nyawa seolah hanya isapan jempol belaka. 

Miris jika melihat kenyataan bahwa Ayah dari pesinetron Anak Langit tersebut ternyata mengetahui jika anaknya, Ammar Zoni menggunakan narkoba. Entah dengan alasan apa pun sikap semacam ini tidak bisa dibenarkan. Dengan membiarkan anaknya menjadi pecandu maka seolah mempersiapkan masa depan yang sendu.


Rahasia umum lainnya adalah 50% peredaran narkotika dikendalikan dari lapas. Jadi penangkapan pengedar bahkan bandar sekalipun bukan jaminan Indonesia akan bebas.


Kembali Budi Waseso mengungkapkan bahwa hari ini tidak ada manusia yang bisa dipercaya. Itulah yang kemudian memunculkan ide baginya untuk mengganti penjaga lapas dengan buaya.


"Buaya tidak bisa disuap, tidak akan ada kompromi," tegas beliau.


Kelanjutan ide ini masih perlu dikaji ulang. Harapan terbesar BNN adalah mampu memutus rantai peredaran narkotika dan menuju Indonesia yang sehat.


Apa kamu setuju dengan ide ini?



Praduga

Baru saja aku hendak meluruskan punggung Ibu sudah kembali menghampiri dengan seperangkat alat panggung.

"Sudah mandi kau, Nak?"

Anggukan menjadi jawaban dari pertanyaan ibu yang di tangannya siap berbagai alat rias.

"Mendekatlah," ucapnya lembut dengan senyum aku menyambut.

Dan sekarang dalam diam tak boleh menolak aku seolah menjadi pemain peran yang sedang bersiap di belakang, di rias. Lipstik merah menyala menjadikan bibirku tebal dan menggoda, sapuan warna-warni menjadikan pipiku bak pelangi, hitam maskara membuat bulu mataku kian legam.

"Apa ini tidak berlebihan, Bu?" tanyaku saat mematut diri pada cermin di tembok yang dipaku.

"Percayalah padaku."

"Aku malu, Bu."

"Hei, sudah-sudah. Ibu hendak membereskan dapur kau diam saja di sini jangan kemana-mana."

Tak boleh ada penolakan, aku gelisah melihat ke arah pintu depan. Ketukan pintu membuatku terlonjak dan butuh beberapa saat menenangkan hati yang bergejolak.

Lelaki yang berdiri di ambang pintu itu melihatku dengan alis hampir bertaut, maju mundur ia untuk melangkah masuk ke rumah, aku menunduk takut sekali jika ia marah. Dua garis lengkung menjadi penanda hati yang bingung.

"Ini semua karena Ibu?"

Aku mengangguk.

Diambilnya sapu tangan dari saku kemejanya, menghapus segala riasan yang berlebihan. Mendongakkan kepalaku untuk menatap matanya.

"Dengar, kasir toko entah seperti apa penampilannya tidak akan mampu menarik hatiku yang sepenuhnya telah jatuh dalam genggamanmu. Maafkan ibuku, dia hanya terlalu menyayangimu. Mengkhawatirkan anaknya melakukan hal yang tidak benar."

Aku menghambur dalam pelukan lelakiku, aku percaya, aku percaya padanya.


------------

*Terinspirasi dari tetangga sebelah 

Dalam Gelap





Pagi masih buta saat kudengar ia tertatih dengan nafas yang memburu, benarkan ia pasti datang, dasar pengecut.

“Keluaaarrrr...”

Lantang suaranya mengoyak pekat, jelas hanya satu kata sebab tenggorokannya tersekat.

“Siapa yang pecundang, hah? Keluaaaarrrr.”

Belum, belum waktuku untuk menampakkan diri. Biar saja ia berbuat sesuka hati. Tangan kanannya menyeka dahi, ada bulir-bulir yang menjadi saksi tentang pelariannya pagi ini.

“Ha ha ha ha ha... .”

Kini tawanya membahana, seolah menantangku. Faktanya ia yang sebenarnya tengah layu. Entah sejak kapan hati terluka itu mencari muaranya, sayang sekali ia tersesat dan tak mau berbalik arah.

Dadanya naik turun, tersengal ia oleh gejolak jiwa yang baru.

“Selesaikan sekarang. Keluaaaarrrr.”

Baiklah, baiklah, berisik sekali ia pagi-pagi. Aku akan muncul dan kalian akan menjadi saksi siapa yang akan memenangkan pertarungan ini. Bukan aku pecundang seperti yang ia kira tapi aku hanya tak tega mengagetkannya, itu saja.

Lihat... lihat... ia ternganga menatap kehadiranku, ada senyum dibalik derasnya air mata yang membanjiri, bersimpuh kini di atas dua lutut yang bergetar. Belum sempurna aku menampakkan diri ia telah menyerah. Sudah kubilang, jangan terburu-buru anak muda.

“Kenapa?”

Aku tersenyum, pertanyaan yang berulang.

“Kenapa kau masih muncul?”

Lirih suaranya tenggelam dalam isak yang dalam. Wajahnya menunduk malu untuk bertemu.

Aku merangkulnya dalam kehangatan, menghapus genangan di pelupuk mata. Saatnya aku berbisik untuk meyakinkannya.

Titah Tuhanku berlaku, hadirku adalah harapan baru bagi siapa saja yang mau menunggu. Anak muda, bangunlah, ada sesuatu yang harus kau kerjakan, jangan menyerah, percayalah pada Tuhan. Percayalah pada Tuhan.

Wajahnya terangkat, matanya terpejam, senyumnya mengembang.

Kini, sempurna aku menyinari dunia.



#tantangankelasfiksi1

Seperti Dia

Posisiku sudah duduk meski mata masih mengantuk. Ketukan di jendela kayu tak akan berhenti hingga kami bersua.

"Heii... kau tidak bisa mengandalkanku terus," seruku sebal kepada pemuda bebal.

Dia terkekeh, "Niatku kan baik, mengajak orang yang kusayang agar harinya dijamin oleh Pemilik Semesta".

"Aku perempuan."

"Aku tahu."

"Lalu?"

"Ayo bergegas sebelum kau kehilangan banyak waktu."

Aku mendengus ketika hidungnya mengendus.

"Kau masak apa?"

"Tak ada."

"Bohong."

"Sudah habis untuk sahur, kau tak puasa?"

"Ini hari apa?"

"Senin."

Dia terkikik membuatku ingin mencekik.

"Aku tak hutang puasa, syawal telah aku tunaikan."

"Sana pergi sendiri salat subuhnya."

Wajahnya berubah membuatku jengah, "Sampai kapan kau mau merepotkan sepupumu ini heh?"

"Sampai kau tak berkhotbah di bingkai jendela, ayo berangkat nona galak."

Aku mengalah, pergi ke sumur, mengambil air wudhu. Sepupuku baru saja tiba dari kota yang ramai seminggu lalu, hening suasana desa membuatnya sedikit kaku jadilah aku pengawal yang harus membersamainya setiap subuh.

Ahh kadang aku berharap lelaki yang membangunkanku seperti dia. Suatu saat, kelak.

39:53

Di sini aku sekarang, duduk menunduk di hadapan seorang perempuan dengan jubah longgar yang darinya senyum teduh terpancar.

"Sudah pernah nyantri?"

Aku menggeleng lemah, kepalaku sedikit terangkat namun tak ada keberanian untuk menatap.

"Punya hafalan?"

Kembali aku menggeleng, kali ini jemarinya lembut mengangkat dagu membuat mata kami beradu. Mataku menggenang, menyimpan tetes-tetes hangat yang siap jatuh seberapapun mencoba untuk tenang.

Kehangatan ia salurkan lewat genggaman tangan yang mengisyaratkan kesungguhan, "Allah akan mudahkan."

Waktu berlalu dari percakapan kami, tiada yang tahu sebab sungguh Allah menutup rapat setiap aib.

"Kurang tebal... dho... dho... ulangi... dho... dho... lidah naik ke langit-langit, sekali lagi...dho... dho... ."

Sepekan sekali aku berjuang untuk tahu, di bawah kesediannya dalam membimbing. Mengejar sebisa mungkin, menyadari keterlambatan di waktu yang lalu.

"Jelas... hukum nun sukun atau tanwin bertemu dengan huruf-huruf tenggorokan... jelas... tak ada ghunnah... jelas... ulangi... ."

Tiada lelah apalagi menyerah meski kadang senyumnya hilang saat aku terlupa, mengingatkan akan kewajiban juga janji-janji Allah yang pasti ditepati.

Di lain kesempatan tanyanya memenuhi ruangan, "Kapan waktu yang dianjurkan untuk membaca surat Al-Ikhlas dan Al-Kaafiruun?"

Sibuk jemariku membolak-balik catatan yang telah sepekan berlalu, satu dua teman telah mengangkat tangannya, jelas bahwa mereka mengingat dan mempelajari meski telah keluar dari majelis. Jawaban terlontar sempurna, baiklah jika begitu saja terlupa lalu apa yang akan diamalkan? Aku menunduk dalam, meresapi pergolakan batin akan niat yang telah berbelok.

Belajar - Memahami - Mengamalkan. Di mana kesungguhan belajar jika tak ada kemauan untuk memahami? jika tak paham bagaimana bisa mengamalkan? Sekecil inikah keinginanku untuk berubah? Setipis inikah mentalku untuk menjadi pejuang amar makruf nahi mungkar?

Keinginan itu tiba-tiba muncul, menatap langit biru dari jendela kaca, ada tanya yang timbul.

Tuhan, benarkah Engkau mengampuni aku yang dulu?

Mengalun lembut firmannya yang mengabarkan berita gembira, Katakanlah, Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Di baris depan menghujam ke arahku, anggukan kepalanya menguatkan. Jalan hijrah tak akan pernah mudah. Tak kutahan lagi bendungan ini, ada rasa indah yang meresap bersama kehangatan yang hinggap.



Bermain Peran

Rina sedang menuangkan teh ke dalam cangkir kecil yang terbuat dari keramik. Di hadapannya Tiara mengulum senyum pada teman sekolahnya itu.

"Ayo silahkan diminum tehnya," lembut suara Rina mempersilahkan tamunya.

Tak perlu disuruh dia kali, tangan kanan Tiara mengayun dan mengangkat cangkir kecil tersebut, menyeruputnya perlahan lalu mencecap seperti merasakan kandungan gula yang berpadu dengan sepatnya daun teh.

"Enak sekali teh ini, pandai sekali kau membuatnya."

Basa-basi dua kawan lama itu terhenti tiba-tiba saat dari ruangan dalam muncul sesosok pemuda yang tegap badannya, ukurannya dua kali lipat dari mereka. Tak ada pilihan lain keduanya menjerit meminta pertolongan.

"Danuuuuuu... jangan ganggu adik-adikmu bermain."

Suara ibu melengking meski tak tampak wujudnya, menjadi akhir dari jeritan yang berarti kemenangan. Danu, pemuda belasan tahun itu menghela napas panjang lalu bergumam pada tembok putih di sampingnya, aku kan juga ingin ikut bermain "peran".

Akhir Kisah Segitiga

Adzan subuh belum berkumandang saat dering telpon membuatku membuka mata. Riana.

"Hallo... apa Ri?"

"Hhee... maaf yah bangunin kamu."

Sebenarnya aku belum tidur, ada rasa yang tak bisa terlukiskan sejak semalam. Dadaku berdetak lebih kencang, pening menyerang, tapi bukan flu.

"Awas aja kalau bukan berita penting."

"Bulan sembilan aku nikah Ci."

Senyum terlukis di wajahku, pantas ia menelpon jam segini, terlampau bahagia untuk menyimpannya sendiri.

"Alhamdulillah. Kirim foto calonmu dong. Pengen liat."

"Hhaa... sama Fahmi. Kamu juga punya kali fotonya, hhaa."

Senyumku luruh. Firasatku tak pernah berdusta. Inilah akhir kisah cinta segitiga.

"Ci, ga nyangka ya. Fahmi sama aku, hhee.. kamu nyangka ga?"

"I... iiiyaa... ga nyangka Ri."

"Kemarin malem Fahmi maksa aku buat ngabarin kamu, akunya sungkan udah malem. Etapi dia maksa, ya udah demi mamas, hhee."

Hening. Dulu saat Fahmi memintaku mengatakan pada Riani apa yg terjalin diantara kami, aku menolak hingga kerumitan ini terjadi. Riani tak pernah tahu hubunganku dengan Fahmi selain sebagai teman baik.

"Waktu yang akan mengurai kerumitan ini." Begitu kata Fahmi sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi tanpa menoleh lagi kepadaku.

Benar. Waktu pula yang akan menyembuhkan setiap luka yang sudah tercipta.

"Ci... masih di sana?"

" Aman Ri.  Besok aku ke rumahmu ya. Kamu harus cerita semuanya."

"Siap Ci.."

Telpon tertutup setelah beberapa kalimat basa-basi. Akhir cerita sudah tertulis. Kamu, kenapa tak sampaikan sendiri?

Gadis Kecil Dalam Lamunan

Aku menghempaskan tubuh di bangku panjang, menghela napas dan memejamkan mata. Lelah.

Andini rupanya juga telah terkuras, dia diam saja di sampingku sejak tadi.

"Ga pulang?"

"Ga mau pulang, mau di sini aja."

Tumben. Biasanya dia paling awal ijin pulang jika acara kampus sudah selesai. Maklum, rumahnya jauh dan harus menembus padang rumput yang cukup luas.

"Mau nginep di kampus?"

Mungkin itu pilihan yang tepat mengingat tenaga kami habis untuk pertunjukan teater malam ini.

"Aku ga mau pulang. Aku mau di sini."

Aku membelalakkan mata seketika. Wajahku pias, tak ada keberanian untuk menengok ke arah Andini. Pelan aku beranjak dan menjauh dari bangku yang terletak di sudut aula belakang panggung.

Baru setelah berpapasan dengan teman lain aku bernapas normal.

"Kenapa Ci?"

"Ada yang liat Andini?"

"Udah dari tadi pamit pulang."


😮😮

Siapa Sangka

"Hai Ci."

Aku melongo di depan pintu, lalu tersenyum canggung menyadari siapa sosok yang berdiri di hadapanku kini.

"Syukurlah inget."

Aku mengangguk, "Ada apa, Mas?"

"Ga papa, jadi bener ini rumah kamu?"

Kembali aku mengangguk.

"Ya sudah cuma mau memastikan saja, aku pamit."

Lah...

Lelaki tadi adalah orang yang belum sekalipun bertukar sapa, kami sering bertemu di dalam bus jurusan Jogja-Solo. Hanya sesekali tersenyum dan mengangguk, itu saja. Dari seragamnya mudah menebak ia adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Angkatan Udara.

Dua hari yang lalu saat aku ada urusan ke Jogja, di dalam bus bertemu dengan Mia, teman SMA yang sudah lama kehilangan kontak, kami berbicara panjang lebar hingga tak menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikan kami.

Badan tegapnya menghilang di balik tikungan, ada yang berdesir menyadari orang asing itu menyimpan sesuatu, semoga semua akan baik-baik saja.


Takdir yang Berbeda


"Aku dah sampe nih, kalian di mana?"

"Kena lampu merah, udah di depan kampus."

Pandanganku mengedar, halaman depan universitas mulai dipenuhi kendaraan lalu satu dua orang turun dan langsung menuju spot terbaik untuk mengabadikan moment ini. Ahh, mudah ditebak. Mereka keluarga yang mengantar satu anggotanya untuk menimba ilmu di tanah rantau.

Mimpiku dulu juga begitu, ingin merasakan menjadi salah satu orang yang duduk di bangku kelas di universitas ini namun baiklah takdir membawaku ke pilihan yang lebih baik.

Kembali aku melirik jam tangan, tak ada berita mereka sampai, katanya sebentar lagi.

"Di mana sih?"

Selesai aku mengetik satu orang muncul dengan cengiran lebarnya, "Baaa..."

"Dih.. sejak kapan sampai?"

"Dari tadi tapi asyik ngliat kamu kayak orang ilang sendirian."

Aku bersungut, "Yang lain mana?"

"Masuk tadi, ga tau ambil apa."

Temanku ini juga bukan dari univertas tempat kami berdiri sekarang, entah pernahkan ia bermimpi sama sepertiku. Tak lama dari dalam universitas keluar dua orang berboncengan menuju kami, nah merekalah mahasiswa sebenarnya universitas ini.

"Bagaimana rasanya kuliah di universitas ini?"

"Pusing, ganti judul lagi, hhaa."

Jawabannya membuatku sadar, bagaimana bisa mereka membandingkan sesuatu yang tidak ada pembandingnya? Aku tersenyum. Ada hal lebih baik di dunia ini ketimbang berdebat akan sebuah posisi dan kesempatan milik orang lain.

"Yuk berangkat."

Kami berjalan beriringan, takdir Tuhan mempertemukan kami tak perduli dengan latar belakang juga banyak perbedaan. Keberagaman menjadi bukti tentang betapa kuasanya Tuhan. Hidup tak akan berhenti hanya karena satu mimpimu gagal, bukan?

😃😃

Jangan Sisakan

Tangannya bergetar di atas pangkuan, pandangan matanya menerawang jauh menembus batas waktu, warna putih mendominasi rambut di kepala beliau.

"Kapan hendak kau bawa kardus-kardus itu?"

Lagi, hal yang sama selalu ditanyakan berulang setiap aku berkunjung. Bapak mertuaku usianya telah senja, ditinggal ibu saat anak-anaknya memilih kehidupan terpisah dengan keluarga kecil mereka. Terlebih sejak tidak ada ibu, sosok bapak sebagai lelaki pendiam membuat jarak dan kecanggungan untuk menjalin silaturahmi.

"Kapan?"

"Iya pak, saya bawa sedikit demi sedikit."

"Kenapa tidak menyewa mobil?"

Aku terdiam. Suamiku sendiri menjaga jarak dengan bapaknya, menganggap kesendirian bapak sebagai balasan atas pengabaian terhadapnya. Jika kardus itu aku bawa pulang maka jelas suamiku menolak untuk membawanya masuk ke rumah. Lalu hendak diletakkan di mana?

"Ya sudah tidak apa-apa."

Suaranya terdengar pasrah, beliau menyadari posisiku.

"Saya telpon mobil sekarang Bapak, semua kardus itu bisa diangkut semua," seruku dengan senyum tulus dari hati. Bapak memandangku dengan diam namun genangan di pelupuk matanya mengabarkan isi hatinya.

Hanya itu yang bisa aku lakukan terhadap laki-laki tua yang tak memiliki lagi semangat menjalani sisa-sisa hidup yang entah tersiksa hingga kapan. Kardus itu berisi kenangan tentang Ibu, mungkin melihatnya semakin membuat Bapak tak kuasa untuk bertahan dalam sepi. Dan tentang nasib kardus itu biarlah urusanku, aku tak mau kisah Bapak terulang lagi pada suamiku kelak.


--------------------------

based on true story.
Bapak juga manusia yang berpeluang besar melakukan kesalahan, cukuplah penyesalan menjadi balasan terpahitnya jangan lagi ditambah dengan ditinggalkan oleh anak-anak tersayang.

😢😢😢


Zikir Gombal


Video ustad hanan kali ini mengingatkan saya tentang tingkat baper yang melanda sebagian besar jiwa-jiwa yang laper (baca:jomlo), hhaa. Saya termasuk di dalamnya, insya Allah sedang berusaha hijrah.

Siapa yang di jaman sekarang ini mudah meleleh saat digombalin? entah lewat tulisan, suara, atau sindiran padahal belum tentu itu untuk kita, hhaa, kepedean ini namanya. Sudahlah saya mengakui ini terlebih saat membaca novel dengan pengawal yang mempertaruhkan jiwa raga demi keselamatan tuan putri, unccch.

Nah parahnya lagi bahkan ini kebawa saat kita mengingat Yang Kuasa, hayo loh. Terbayang-bayang sampai khusyuk melayang, ahh ini mah saya banget. Mulutnya komat-kamit, jemari tertekuk satu dua namun hati dan pikiran tidak hadir membersamai jasad.

Allah percaya akan pujian kita? Pujian yang tidak disertai dengan iman dan keyakinan? Sungguh Allah tidak sama dengan makhluknya.

Teman-teman yang membaca tulisan saya ini sungguh bukan kebetulan. Yukk perbaiki diri, Allah sayang hambanya, sayaaaaang sekali hingga berulang kali pintu hati kita diketuk lewat beribu cara.

Tentang pengawal setia tadi ahh yaa pengawal tidak pernah melancarkan gombalan kepada tuan putri namun pedang terhunus sebagai bukti kesungguhan penjagaan dalam pengabdian kepada tuannya.

#IslamAgamaku

Penebar Semangat


Siang itu usai menjadi saksi dari satu sahabat terbaik yang melepas status single, kami memutuskan untuk singgah sejenak di rumah kawan terdekat.

Tergabung dalam satu komunitas menulis menjadikan obrolan kami tak jauh-jauh dari karya. Di situ hadir juara 1 lomba cipta puisi islami 2017 yang piala juga hadiah uang tunainya belum diambil dipanitia, kenapa? sebab dia tak percaya akan hasil keputusan juri, hhaa.

Pertemuan tanpa pembukaan formal tersebut menjadi gaduh saat ketua flp soloraya membacakan dengan keras bab 1 dan 2 dari novel menuntaskan rindu. Aku menutup mata dari ekspresi teman-teman. Satu dari mereka menyerah, juru artikel media massa itu tak kuasa menahan perasaannya, entah dia sedang membayangkan apa.

Kemudian satu dari yang lainnya membaca lanjutannya karena penasaran akut. Kemudian serempak bertanya, "Ini kisah nyata?"

Buru-buru aku menggeleng, mereka tidak percaya, hhaa... terseraaaah.

Lalu dilanjut dengan pembacaan puisi oleh sang juara. Mendadak hening kemudian kembali riuh oleh tepuk tangan. Pantas dia menang, penggunaan metafora yang mengagumkan.

Pak ketua sendiri sudah kembali meluncurkan buku baru hasil kumpulan status-statusnya di dunia maya ditambah dengan puisi dan beberapa yang lain. Ini berawal dari kegelisahan banyak penggemar tentang kasus asal comot tulisan orang, hhaa. Terlalu tak sudi jika itu menimpa beliau, hhii.

Waktu selalu saja berjalan lebih cepat saat hati riang gembira. Pertemuan ini harus berakhir. Tapi segala yang telah dilewati bersama akan tersimpan dalam ingatan.

Mereka adalah penyemangat
Tak peduli banyak yang memandang sebelah mata
Kita berkarya untuk menebar manfaat

😄😄😄

Paket Umroh Murah

Rukun islam yang ke lima adalah naik haji (bagi yang mampu), namun sebagai umat islam tentu keinginan mengunjungi Baitullah adalah sesuatu y...