Keinginan-keinginan kecilku

Semakin kesini, semakin aku terheran-heran dengan semua yang terjadi dalam hidupku. Seolah semua adalah jawaban atas keinginan ku yang hanya sepintas lalu difikiran.

Hingga sekolah tingkat atas, pergaulanku sebatas kampung halaman saja. Berangkat sekolah, setor muka di organisasi lalu pulang, eh sempet kenal senior-senior kece juga sih, hhii. Tak banyak berkumpul dengan dunia luar. Jalan-jalan ku muter-muter hutan, gunung, sawah, sayangnya lautan tidak kalau iya pasti selengkap lirik lagu ibu pertiwi. Pokoknya yang tidak banyak orang ditempat itu.

Nah... Dari nonton tv, dengar berita dan informasi sana-sini aku begitu penasaran dengan orang-orang chines dan arab.

Finally, dengan segala jalan yang tak terduga kini aku menjadi kepercayaan bapak chines muda kece yang galak tapi romantis *upss. Sering kala ia berceramah panjang lebar tentang standard kebersihan kandang ayam, aku tak kuat bertatapan dengan nya, menunduk serta menahan tawa. Benar-benar menggelikan.

Daannn.... Teman dekatku, adalah turunan arab, syalalala...

Keinginan kecilku menjadi kenyataan meski membutuhkan beberapa waktu. Meski mimpiku itu aneh dan tidak normal, aku meyakininya.

Jadi, sepertinya aku mulai memikirkan kamu untuk jadi nahkoda di bahtera rumah tangga kita kelak.. (Bayangin wajahmu, menutup mata, dan berbisik lirih penuh harapan, aamiin).

Masalah buat mu ??

Mari membuka cerita kali ini dengan kata "heran" !!

Benar... Kegelisahanku sekarang adalah bahwa ada yang bilang kalau hidup tanpa masalah itu nggak asyik, datar-datar saja. Orang yang lebih bijak bilang kalau masalah itu ujian untuk naik tingkat, bukti sayang Allah terhadap umatnya. Heemmm.. Dan hidup saya benar-benar diluar dari kata datar-datar saja, malas rasanya menghitung segala masalah yang rutin mengetuk pintu kesabaran.

Tapi yaahh... Mau ngeluh kaya apa juga nggak bikin masalah angkat kaki. Jadi ya coba nikmatin aja.

Cara nikmatinnya ? Mudah kawan...

Kalian tahu stand up comedy ? Pastilah ya, belakangan mulai menjadi trending topic dengan komika-komika yang pandai mengocok perut. Pernah dengar masukan dari para komentator untuk setiap komika yang sedang berkompetisi ??

Salah satunya adalah jadikan kegelisahan sebagai materi. Nah tuh... Banyak komika yang suka menghujat dirinya sendiri dari fisik, keluarga, cobaan hidup, hingga status jomblonya dan biasanya ini memancing tawa para penonton.

Miriisss bukan ? Menertawakan kepedihan orang lain ? Tidak sepenuhnya begitu ternyata. Bukankah tujuan komika adalah membuat penikmatnya terpancing akan guyonan mereka ?

Terinspirasi dari informasi di atas dan juga penyanyi kenamaan, Lenka, terlahirlah cerita ini. Bahwa masalah terkadang menyadarkanmu jikalau ia bukan seutuhnya lawan untuk segera dituntaskan, ia bisa menjadi kawan saat gelisah deadline ODOP yang mengerikan.

Jadi... Bagaimana kamu menikmati masalahmu ??

**
Nb : based on true story (bisa BW tapi nggak bisa ninggalin komentar, hikksss....)

Aku dan Kalkulator

Pengalaman paling berkesan dalam hidup... apa ya ??

Ada satu hal yang sampai sekarang saya masih tak sanggup berpikir. Khayalan-khayalan saat duduk dibangku sekolah ternyata menjadi kenyataan sekarang, hal sederhana saja namun dulu begitu ingin ku wujudkan.

Aku terlahir di dalam keluarga pedagang, tinggal bersama nenek yang memiliki warung kelontong dan alhamdulillah lumayan rame. Setelah barang-barang yang dipesan pembeli sudah berkumpul di atas meja maka ayah akan menyobek bungkus rokok untuk menuliskan total harga per barang. Dan untuk menjumlahkan semua harga tersebut beliau mulai beraksi dengan kalkulator dengan deretan angka yang mulai pudar, tapi tak apa sepertinya ia hapal di luar kepala tentang letak angka-angka yang dimaksud.

Aku masih sd kala memperhatikan semua itu. Terkadang kala toko sedang tak ada pembeli, aku mencoba menarikan jemariku di atas kalkulator. Namun terasa aneh jika menekan dengan angka semaunya.

Pernah kucoba menekan ulang angka-angka di atas nota, namun terasa hambar karena totalnya sudah dapat dipastikan kebenarannya. Dan besar harapanku suatu saat akan bisa menekan tombol-tombol angka dengan maksud yang tak sia-sia.

Dan disinilah aku sekarang, terkadang tersenyum geli, diluar nalar sebagai manusia bahwa setiap doa yang diyakini memiliki kekuatan luar biasa.

Setiap hari aku berteman akrab dengan kalkulator, menghitung ulang produksi dan memastikan semua sesuai yang seharusnya. Akhirnya jari-jariku tak perlu komando untuk menekan angka, seperti ayahku ia laksana memiliki mata untuk menuju angka berapa yang kumaksudkan.

Sederhana bukan ?? Tapi percayalah ada rasa yang luar biasa saat mimpi sederhana mu terwujud dikehidupan nyata.

Tetap percaya pada mimpi dan cita-cita mu kawan.

Cinlok

Witing tresno jalaran soko kulino
Pepatah jawa yang kurang lebih berarti cinta akan datang karena terbiasa.

Sepertinya aku merasakan itu.

Delapan jam produktif bersama dan terulang berulang kali hampir selama setahun sepertinya sudah memenuhi syarat untuk mewujudkan pepatah di atas. Tak semudah itu ternyata.

Bukan karena kami di bawah naungan perusahaan yang sama atau kekasihnya yang baru menjadi mantan dua bulan lalu, tapi karena kami berbeda ya berbeda. Perbedaan yang menjadi dinding penghalang terbesar yang tidak bisa kubayangkan bagaimana kedepannya.

Tak ada ungkapan cinta yang transparan, hanya selingan-selingan perhatian yang tersirat kasih penuh harap.

Sore itu wajahku masih basah oleh air wudhu, kulihat ia melirik ke arahku dan segera tertunduk kala mengetahui aku menangkap tingkahnya itu. Menyibukkan diri hingga aku berlalu dengan mukena dalam genggaman.

Aku keluar dari mushola kantor dan mendapatinya bersandar pada tembok menungguku. Aku mendekatinya, menghirup aroma tubuhnya serta menikmati senyum dengan lesung pipit di wajahnya.

"Mau kemana rapi amat?"

"Aku tak ke gereja sek ya, San"

Ooo aku lupa ia pasti tengah sibuk pelayanan untuk misa sore ini.

Kami hanya manusia, tak mampu menolak kuasa cinta yang jikalau bisa ingin aku menyudahinya. Kali ini tak lupa aku berdoa dalam hati agar ia tetap seperti ini, tak perlu mengatakan pada dunia tentang apa yang kami rasa.

Tapii.... Aku masih belum bisa memikirkan apa jawabanku kelak jika ia bertanya padaku tentang kesediaanku suatu saat nanti.

Senandung Cinta Ibunda

Nak..
Maafkan jika ibu mengatur jam malam mu
Raga ini tak lagi cukup mampu untuk menjaga tubuhmu

Nak..
Maafkan bila kau terganggu dengan pesan singkat yang ku kirim
Karena hanya cara itu aku menyampaikan rindu hati

Nak...
Maafkan kalau lelakimu sering ibu tanyai
Sebab ia yang akan menggantikan tugasku suatu saat nanti

kress... kresss....

Ku remas coretan-coretan pena di atas kertas ini yang awalnya akan kuajukan untuk mengikuti lomba puisi nasional. Otakku tiba-tiba berhenti, mencerna setiap kata yang kurangkai indah untuk mencuri hati para juri.

Seindah inikah caraku mengartikan setiap perlakuan-perlakuan ibu? sekuat inikah caraku memahami maksud dari segala larangan-larangan beliau?

Aku tersentak dari lamunan saat memori ku memasuki dimensi ruang masa lalu.

Kami memiliki dua rumah yang dipisahkan oleh ladang yang lumayan luas, jika penat aku suka sekali menghabiskan waktu di rumah belakang, rumah kosong yang kami gunakan hanya sebagai gudang, namun sisi kanannya dulu sempat disulap ibu menjadi kebun kecil penuh dengan sayur-sayuran seperti cabai, terong, tomat dan kangkung. Sisi tersebut tidak memiliki atap sehingga sinar mentari dan air hujan bisa leluasa melewatinya.

Adzan magrib sayup-sayup terdengar dari desa seberang, aku masih enggan beranjak, semilir angin membuaiku hingga imajinasiku tentang alam tak lagi terbendung.

Krekk...

"Ni... masih lama disini?"

Ibu datang menjemputku dan aku menggandeng tangannya untuk meninggalkan segala khayalanku. Ada desir hebat kala kurasakan seperti tak ada sekat antara tulang dan kulit beliau yang tipis.

Kenapa ia menjemputku?

Karena kini hanya itu cara beliau menunjukkan kasihnya, sebab ia tak berdaya menjemputku saat kuhabiskan waktuku di kota.

***

Ibu... aku rindu kampung...

Travel mania

Kali ini aku disewa sebagai detektif bayaran, tugasku mengamati gadis berkacamata itu, mengawasi setiap gerak-geriknya, menghafal kesehariannya, dan wajib melaporkan hal-hal yang luput dari tatapan mata biasa.

Data-data umum sudah dikantong, tempat tinggalnya, tempat kerja nya, tempat kuliahnya, tempat nongkrongnya, dan pula teman-teman dekatnya.

Dia jarang berada dirumah.. Mentari masih malu-malu untuk menampakkan diri, ia sudah membelah jalanan menuju sisi timur untuk bekerja. Kala langit berhiaskan sinar jingga kulihat ia menuju arah barat mengumpulkan remah-remah ilmu yang berserak. Bulan sudah mantap diperaduannya saat gadis tinggi itu mengetuk pintu rumahnya.

Ini berlangsung 6 hari dalam satu minggu. Dan sisa minggu nya tak kulihat pula ia berada di rumah, sesekali bersama orang tua yang kufikir pastilah ibu nya, mungkin mengantar kepasar atau semacamnya. Lalu kemana ia ? Ia berada di antara kawan-kawan dekatnya yang berbeda setiap minggunya.

Kesimpulan pertama : dia wanita yang sedang menanjak karir nya dan sibuk dengan aktifitas pilihannya.

Namun bukan itu yang ingin diketahui oleh penyewaku. Karena informasi ini sudah bisa ia dapatkan sendiri.

Cara terbaik untuk mendapatkan informasi adalah mendekati orang-orang yang mengetahui lebih tentangnya.

Dari teman dekat dikampusnya ku dapati bahwa ia memiliki segudang kegiatan, mengikuti banyak komunitas.

Dari tetangga rumahnya kuketahui ia muncul menjadi remaja aktif dalam kegiatan karangtaruna, menaruh perhatian berlebih pada minat baca adik-adik TPA.

Teman kantor menganggapnya rekan yang tak bisa diam, berjalan kesana kemari mengontrol pekerjaan agar tak mendekati deadline. Dan selalu berekspresi lucu kala pak bos memanggilnya untuk berdiskusi diruang ber-AC yang itu berarti tumpukan tugas siap menyapa.

Kesimpulan kedua : gadis ini memiliki tanggung jawab tinggi dengan kedisiplinan yang luar biasa.

Hasil ini juga belum diterima oleh penyewa ku. Kubagi tahu sajalah apa yang sebenarnya ingin dicari oleh penyewaku itu.

Dia ingin mengetahui alasan dibalik semangat membara gadis tersebut.

Kalau itu sepertinya aku harus lebih intens lagi untuk mendekatinya.

Aku menjelma sebagai orang yang bergabung dengan sebuah komunitas menulis dengan deadline per hari. Mengamati gerak-geriknya, dan tak terlalu terkejut saat dia mampu berada dalam daftar link setiap harinya.

Ku japri ia beberapa waktu hingga kami memutuskan untuk bertatap muka.

Tak langsung ku utarakan niat awalku, berbasa-basi membahas dunia literasi hingga sedikit menyangkut hal pribadi.

Dan tiba saatku menanyakan hal yang begitu ingin kuketahui.. Menyelesaikan tugas ini dan kembali pada rutinitas harian ku yang biasa saja.

Namun ternyata jawaban dari pertanyaan ku mengurungkan niatku untuk menyelesaikan semuanya. Berkenalan dengan gadis ini bisa kuterawang akan membuat hari-hariku tak lagi biasa, dan penyewaku akan menyokong segala kebutuhanku untuk tetap bersama gadis ini karena jawaban yang ia tunggu tak akan kuberitahu dalam waktu dekat ini.

"Jadi ci, kenapa kau selalu tepat waktu untuk menyelesaikan setiap tugas-tugas mu?"

"Karena undangan main yang seringkali datang tanpa planning"

Final result : gadis cantik berkacamata ini maniak travelling.

Tunggu sampai ku ajak dia menjelajahi separuh tempat di pulau Jawa ini dan baru kuputuskan untuk memberitahu penyewaku.


  • Ayo piknik daripada panik :)

puisi bersajak untuk mu

Di balik diamku
Kujaga gemuruh didada

Di balik tak peduliku
Ada rasa yang sedang ku tahan

Di balik amarahku
Terselip keinginan agar kau paham

Dibalik penantian kabar tentangmu
Ada rasa rindu yang teramat sangat

Ahhh wanita... Bisa apa aku ?
Sedikit berulah bisa timbul fitnah

Akankah kau tetap diam bertopang dagu ?
Tak sampaikah tanganmu menggenggam jiwa ?

Adakalanya aku termangu
Tuhan... Untuk apa kau ciptakan air mata ?

Lelah kucoba untuk menantimu
Dan kutahu kini guna air mata

Cukup sekian penantianku
Aku pergi meski membawa lara

Mengambang 5 cm

Buku terbaik yang pernah dibaca ?? Entt... Mungkin buku yang lebih berkesan akan lebih mudah dibagi.

Aku mengenal alam semenjak seragam yang kukenakan berubah dari putih biru menjadi putih abu-abu. Kedekatanku lebih mengarah pada terjalnya jalur pendakian, bermalam dibawah kerlip bintang, Serra berburu sunrise dari atas puncak. Yupp, boleh sebut saya pendaki.

Kala itu gunung belum seramai kini, masih jarang bertemu dengan pendaki lain diluar weekend. Bisa di tebak bahwa gunung hanya akan ramai jika ada events seperti upacara 17an, libur natal dan tahun baru.

Aku berjumpa dengan buku ini tepat setahun menikmati alam liar, tak ada yang menarik dari cover bukunya, sedikit menggelitik kala membaca sinopsisnya dan memutuskan untuk meminjam karena tak banyak koleksi novel di perpustakaan sekolah kami. Hingga akirnya tak ada penyesalan selesai membaca.

Kurang lebih tiga tahun setelah merampungkan novel tersebut, tersiar kabar bahwa novel itu akan difilmkan. Untung saya cukup sadar diri untuk tidak berguling-guling, cukup menunggu dengan tidak sabar.

Tenang kawan... Tak perlu buru-buru untuk membahas novel apa yang aku maksud, karena kalian akan mengangguk paham dan setuju di akir ceritaku. Jika tidak, saya bersedia meminjamkan novel tersebut, film nya juga ada.

Minggu pertama penayangan film, saya sudah hadir di deretan bangku bioskop, dan bulan pertama saya sudah menonton 2 kali. Masih dengan euforia yang sama.

Tak heran bila akirnya film tersebut menyedot perhatian public, sesuatu yang baru yang dihadirkan dengan transparan. Emang keren gila donny dirgantara itu, upsss ketahuan deh novel nya apa.

Daaannn.... Barulah setelah film tersebut mewarnai belantika perfilman indonesia, novel cetakan baru dengan cover artis ibu kota laris diburu, saya hanya senyum-senyum sendiri.

Jadi sudah bisa ditarik kesimpulan kenapa saya begitu terkesan dengan novel ini. Meskipun yahhh... Setelah penayangan film ini, sulit sekali menemukan kembali hal-hal yang dulu hanya bisa ditemukan di gunung, kesunyian, kedamaian dan tentu sana sampah yang berserak dimana-mana.

Salah siapa ? Tentu, bukan maksud penulis dan PH, kembali kemasing-masing tanggungjawab individu.

Bagiku, novel ini menginspirasi untuk ku yang berkawan dengan pendaki.



Pasar yang tidak menjual wortel

Happy weekend....

Aku masih berkutat di atas kasur, membersihkan coretan-coretan sketsa yang semalam kutinggal tidur karena ide tak kunjung muncul. Lagipula hari ini ayah dan ibu menengok nenek di luar kota, jadi tak perlu bergegas keluar kamar agar tak dimarahi ibu.

"Bang, hari ini mau kemana ?"

A lin, adik perempuan ku yang tak bisa diam dan sudah kuduga akan merusuhiku. Aku akan tenang jika ibu dirumah, karena adikku ini sedang getol-getol nya menyerap ilmu memasak dari ibu.

"Di rumah aja, mo nyuci greendy"

"Anterin adek ke pasar yuk bang?"

Hadeeehhhh.... Itu kan biasanya tugas ayah nganter ibu, aku ga niat harus nunggu dipinggir jalan dengan waktu yang tidak bisa ditentukan lamanya. Lagipula kenapa sih repot-repot sampai pasar, mang ujang aja dengan gerobak sayurnya siap nongkrong di perempatan desa. Belum lagi beli wortel pake muterin 5 pedagang di tempat yang berbeda. Apa coba tujuannya.

"Tapi abang yang tentuin pasarnya ya?"

"Ga masalah, ayuk sekarang"

"Eitss... Ga bisa dek. Kita harus siap-siap bawa bekal"

A lin termenung melihatku mempersiapkan segala nya yang di packing ke dalam satu tas besar berukuran 80 lt, perlengkapan pribadi nya ku masukkan ke dalam daypack.

"Bang, kita mau ke pasar mana sih ? Kayak mau naik gunung aja deh"

"Perjalanan kita memang akan melewati gunung dek, bahkan harus bermalam"

"Repot amat bang, ke pasar yang biasanya aja yuk?"

"Kalau pulang dari sana kamu kecewa, kamu bisa minta abang apa aja"

"Wahh, asyikk.. Pasti pasarnya lengkap, bawa tas gede gitu"

Adikku tersayang... Kau akan tahu betapa hidup mu akan diwarnai oleh perjuangan, kerja keras tanpa rasa manja tapi tenanglah kerlip bintang tak kan membiarkanmu berjalan sendiri dalam gelap malam.


***

A lin terduduk seolah ia tak lagi punya kekuatan untuk berdiri. Matanya diselimuti genangan air, pandangannya berloncatan kesana kemari mencoba melahap semua yang bisa ditangkap indranya. Ada rasa bersalah dihatiku, andaisaja kuberitahu ia di awal, maka persiapan kami tak akan tiba-tiba. Aku terlalu percaya bahwa otot-ototnya sudah lentur hanya karena ia tak pernah absen berlatih karate seminggu sekali.

Kuhampiri ia, kudekap dan kurasakan ia sesunggukan, memeluk erat tubuhku.

"Adik kecewa bang...."

"Maafin abang ya dek, sesuai janji abang, kamu boleh minta apa aja, boleh marahin abang sesuka mu"

A lin melepaskan pelukannya, mengusap airmatanya. Ada senyum diwajah mungilnya.

"Ajakin adek ke pasar yang beginian lagi bang"

Giliran ku yang menangis haru.... Adik ku ini memang sesuai praduga ku, ia tangguh, kuat dan tak bisa dipandang remeh.


Sang Penyamar (3)




Alasan kepulanganku adalah memastikan bahwa semua ini menjadi miliku. Aku tidak ingin terlalu lama membiarkan nya sendiri mengarungi dunia yang tak bisa diterka. Bukan.. Sebenarnya aku yang butuh dia untuk melengkapi hidupku.

Sore ini kupinta dia datang, jelas tidak dirumah. Aku tak ingin dia merasa menang karena telah berhasil membongkar semua kejutanku. Taman kota adalah tempat sakral untuk kami berdua.

Semesta seolah mendukung rencanaku, langit biru cerah bersih udara segar memenuhi rongga dada. Aku sudah tak tahan menunggu kehadirannya. Kenapa dia belum datang? Tidak biasanya dia terlambat seperti ini, bukaann... Ternyata aku terlalu cepat datang. Aku sudah tidak kuaattt....

Gadis itu datang dari jalan yang berada di antara bunga-bunga matahari yang sedang bermekar.. Auranya sudah memenangkan hatiku meski wajahnya belum terlalu terlihat. Bisa tidak sih dia berjalan lebih cepat !

Tunggu.. Kenapa wajahnya masam, bukan senyum mengembang yang biasa ia perlihatkan.

"Hay ci..."

Dia hanya tersenyum.

"Ciee yg ngambek ga tak kabarin kalau pulang"

Dia kembali menarik 2 garis pipinya ke atas. Oke sekarang aku yang panik, apa yang harus aku lakukan ? Jalan terakir. Ku keluarkan sekuntum mawar putih, mendekatkan kewajahnya, berharap mampu merubah raut wajahnya. Nihil.

"Ku mohon Ci, bicaralah"

Secepat kilat cahaya membelah langit angkasa, wajahnya merona, menampakan kembali senyum yang kutunggu. Lagi... Selalu dia yang memenangkannya, kupikir aku yang sudah berhasil, namun dia yang sekali lagi berhasil mengibuliku.

"Bagitahulah ibu mu tentang kepulangan dan kejutan yang sudah kau siapkan"

Aku tersenyum kecut, ibu selalu tak bisa berteman denganku jika menyangkut dia.

"Sungguh teganya kau, apa yang harus kau lakukan dengan rinduku ini ?"

"Sebentar, Fay itu kamu kan ?"

"Atas dasar apa kau menuduhku"

"Aku masih ingat tentang ceritamu akan sahabat yang seperti sodara, berbagi berbagai hal dan berlaku seolah anak kembar. Dan satu lagi, ibu.. Siapa lagi yang bisa membuat ibu membocorkan rahasia ku"

"Hanya itu jalanku utk bisa menemui mu, andai kau tahu betapa inginnya aku memelukmu. Sayang kau terlalu lama mengembalikan identitas kak Lala, jika saja lebih cepat, tak perlu selama ini aku menunggu"

Aku terdiam.. Ya Tuhan, teganya aku menyakiti gadis ini. Tak kupikirkan perasaannya.

Dia bukan Fay, dengarkan.. Kan ku kenalkan gadis ini pada kalian. Namanya Ciani Limaran, gadis kelahiran Bogor 19 September 1992 ini kini menetap di solo. Entah apa yang dipikirkannya, hingga waktunya begitu mahal. Full day mengabdi pada perusahaan ayam petelur, lepas itu berlanjut dengan kuliah jurusan impiannya-bahasa Inggris.

Weekend sudah dibagi untuk bertemu dengan teman-teman nya dari berbagai kota dan komunitas. Akir-akirnya ini kembali ia bergabung dengan komunitas menulis untuk meraih mimpi besarnya.
Hobynya bergerilya mencari teman baru untuk memperlebar jaringannya. Bergabung dengan komunitas social dan menjelajahi dimanapun alam memanjakan mata.

Dia lah, calon ibu dari anak-anak ku.






Ssetooop !!

Oke.. Mari kita mulai kuis hari ini.

Apa guna dari dibuatnya sebuah peraturan ??

Dan jawaban terdominan, tercepat dan tanpa berfikir ulang adalah untuk DILANGGAR !

Itu berarti sanksi dimaksudkan untuk DILAKSANAKAN.

Lalu mengapa kita tidak membuat sanksi langsung saja ? Hapuskan semua peraturan sehingga tidak akan ada pelanggaran. Kecuali jika memang pelanggaran adalah suatu hal yang diartikan sebagai bantahan terhadap sesuatu yang dianjurkan, maka tidak akan berguna apa pun untuk menegakkan anjuran tersebut.

Rasa ingin tahu yang susah dikendalikan adalah manusiawi, wajar jika pelanggaran tidak akan mudah untuk dilenyapkan. Ya.. Ya.. Ya.. Saya juga manusia dengan rasa penasaran yang tidak jauh berbeda dengan kalian, tapi maukah dengarkan sedikit pandanganku akan sebuah peraturan ? (Harus mau..)

Peraturan bagiku memang sesuatu yang mengikat kebebasan, membatasi gerak dan ruang, terkadang menganggap peraturan adalah cara untuk mencari alasan untuk berada di zona aman.

Sekedar itukah ? Tidak.

Mereka yang membuat peraturan begitu baik hati, memikirkan segalanya, mengesampingkan pro dan kontra dari berbagai pihak. Bersedia dicemooh, digunjing atas keputusan akhirnya. Tapi menurutku tidak seperti itu, mereka hanya orang-orang yang kelebihan kasih sayang, caranya menjaga banyak orang karena yakin akan keterbatasan kedua tangan.

Ya... Balik lagi ke masing-masing individu, merasa dijagain atau dibatasi.

Kawan.. Mereka hanya ingin kita aman dan selamat, mereka sudah lama berkecimpung dalam hal semacam ini, mengetahui lebih banyak, dan bersanding dengan alam.

Mereka ingin menyampaikan bahwa alam tidak bisa ditebak, alam adalah kawan jika kita berteman, namun ia akan menjaga dirinya jika merasa terancam. Alam pun bersikeras bahwa kealamiannya tidak boleh pudar sekarang, ia ingin kelak generasi mendatang dapat pula merasakan anugrah Tuhan yang tak ternilai.

Alam adalah tanggung jawab kita.. Bukankah kita khalifah dibumi ini ?

Patuhi setiap perintah, jangan melanggar hanya untuk pembuktian ego, jangan menunggu alam yang memberikan sanksi.

Salam pendaki cerdas :)

Pesona Merapi


Lupa pastinya saat aku memutuskan untuk terjun langsung melihat indah nya alam Indonesia yang mempesona. No excuse. Kesibukan ku tak boleh menghalangi apa yang kuinginkan. Bukankah ini masalah manajemen waktu ??

Rindu ketinggian membawaku pada sebuah keputusan untuk mendaki gunung merapi via selo. Dan berangkatlah kami bada magrib. Terjebak hujan tidak menyurutkan niat kami untuk terus melaju, tapi ternyata semesta berkata lain. Derasnya hujan hanya selingan untuk menghalau debu, membersihkan udara hingga kerlip bintang-bintang di langit jelas menjadi hiasan yang membius mata.

Bukan saatnya menjabarkan setiap jengkal perjuangan untuk menapaki jalanan terjal pegunungan, bukan pula keherananku akan mereka yang mau-mau nya mencoba hal melelahkan ini. Tapi aku ingin berbagi hal indah dari negeri tercinta.

Biasanya hal-hal yang dekat mudah sekali diabaikan, membuka mata lebar-lebar untuk melihat yang jauh disana entah itu lebih hijau lebih indah atau sekedar sedang menjadi sorotan public.

Beruntungnya saya berada dekat dengan objek wisata yang mendunia, gunung merapi. Siapa yang tak mengenalnya ? Gunung teraktif sedunia itu telah beberapa kali menarik simpati public dan menjadi trending topik dunia. Erupsinya yang membakar seluruh nyali media, kekuatan magic yang kental diyakini, hingga selfie berujung maut.

Sudahlah, memang kebanyakan hal-hal menakutkan yang terdengar meski tidak sepenuhnya begitu. Keindahan alamnya, keramahtamahan penduduk lokal bahkan suatu kedamaian yang kau cari bisa kau dapatkan, coba saja.

Hhaa... Manusia, tak mudah percaya hanya dengan kata-kata. Dibutuhkan bukti otentik untuk mendukung setiap perkataan yang dilontarkan. Tak masalah, aku juga manusia.

Pesona merapi memang bukan hal baru bagi para pendaki, berkali-kali mendaki tak akan pernah sama apa yang dirasakan. Didukung kekuatan jet media yang mampu menyampaikan segala informasi ke segala penjuru, tak heran jika merapi adalah objek yang dikenal dunia.

Kami bertemu orang spanyol yang mendaki sendirian dan tik-tok. Wow.. Sendirian?Tanpa porter ? Apa kau berfikir kalau dia belum pernah sekalipun kemari ? (Ya.. Bisa saja jika perhitungan tersesat hutan sudah ter-solusi). Tik-tok ? Tik-tok adalah pendakian dimana kau akan mendaki tanpa mendirikan tenda/dome dan kembali turun, biasanya logistik yang dibawa simpel. Dan aku bisa menjamin bahwa dia mencapai puncak dengan kecepatan yang menakjubkan.

Merapi.. Kau berhasil membuat orang di benua Eropa menginjakkan kakinya, menjajal jalur, dan menghisap oksigen darimu. Tidak mungkin jika tidak penasaran.

Tetaplah berdiri kokoh dengan segala kemisteriusanmu.

Dulunya kami teman



Malam ini... Waktu yang sama yang selalu kami gunakan untuk saling bertukar sapa sebelum masing-masing kembali keperaduannya.

Dia hadir kembali, seperti biasanya membalas status atau gambar bbm yang barusaja ku ganti. Kami masih memiliki kontak, mesti tak seberguna dulu. Tapi setidaknya meski dalam diam informasi dari yang diseberang bisa dimengerti. Aku sudah lama membiarkan semuanya berlalu, mencoba adil dan bertanggung jawab, namun masih berharap dia tak menghapus kontak ku agar aku bisa mengetahui keadaannya. Entah dengan dia.

Kami dipertemukan dengan baik-baik oleh deburan ombak, berjalan bersama dalam keanekaragaman budaya, didekatkan oleh semilir angin pegunungan dan akirnya dia menjauh karena sore itu ombak membuka tabir keaslianku. Salahku ? Ini yang masih sulit kupahami hingga kini.

Kuingatkan dia akan wanita yg kini berada disampingnya, mesti gembira hati ini saat ia melontarkan kekaguman alam semesta akan hadirnya aku. Kunasehati dia untuk berjuang dengan pilihannya sekarang, walau sesungguhnya nasehat itu kutujukan pada hatiku.

Sekali lagi, aku bisa apa ?

Sudahlah... Tak ada waktu yang disisakan untuk seseorang yang tidak cukup mampu berjuang untuk ku. Beginilah aku dengan segala hal yang menurutnya terlalu berlebihan.

Senang Tuhan telah memberikan kesempatan pada waktu yang sempat kita habiskan bersama. Untukmu yang disana, jaga dia, perjuangkan dia, pahami kekurangannya, dan kumohon jangan lagi membandingkannya denganku.

Sang Penyamar (2)



Aku sudah tak peduli lagi dengan gadis ceroboh ataupun gadis anggun bermata sayu yang kutemui dua hari lalu, sampai ku temukan payung putih transparan itu lagi di teras rumah siang ini. Memang sejak pagi hujan tak henti mengguyur, bahkan hingga saat ini. Mungkinkah pemilik payung tersebut sedang bertamu ke rumahku ? Atau jangan-jangan gadis ceroboh itu lagi? Siapa sih dia... Sial. Kenapa aku harus terpikir lagi olehnya.

Ibu tidak ada dirumah, tiada siapapun dirumah. Gemas rasanya menahan pertanyaan ini. Entah apa yang aku pikirkan, tiba-tiba saja aku sudah berada di dalam mobil, melaju dengan kecepatan rata-rata karena pandangan yang terbatas akan derasnya air hujan. Jikalau bisa ingin ku maksimalkan kemampuan fortunerku ini membelah jalanan, meloncati setiap lubang yang penuh genangan, sayang bisikan malaikat masih mengingatkanku untuk bertoleransi kepada sesama pengguna jalan.

Aku mencurigai seseorang.

Kurang dari satu jam, ku hentikan mobilku di depan sebuah rumah yang bertipe minimalis namun begitu luas halamannya dengan kolam disudut sebelah kiri, kolam ini berisi 3 ekor ikan hias yang selalu ditemani beberapa kodok yang entah berasal dari mana. Bunga-bunga yang beraneka warna menambah manis halaman tersebut. Pepohonan hijau meski tidak terlalu besar, cukup untuk menyuplai oksigen dan menjadikan siapa pun betah berlama-lama.

Aku sudah siap melangkah keluar, andai saja niat untuk melanggar persiapan kejutan mengurungkannya. Tapi, aku begitu yakin akan hal ini. Mencoba berpikir waras jika semua ini sampai salah, matilah aku.

Mobil hitam mengkilap yang kini telah kuyup ku putar arah, kembali menyusuri jalanan ibu kota yang tetap sesibuk kala mentari gagah dengan sinarnya. Berbagai pertanyaan telah meronta untuk dilontarkan namun sepertinya sang waktu menolak berjalan beriringan.

Hujan sudah reda, bias cahaya orange menyinari bagian barat, mempesona mata dan berarti satu hal, senja menyapa.

Kuharap kali ini tuan rumah tak terlalu lama membuka pintu. Namun sebelum tanganku menyentuh daun pintu, mataku telah lebih dulu menangkap payung dengan renda-renda bunga di sudut teras. Basah, sepertinya baru saja dipakai dan itu menandakan bahwa pemiliknya ada di rumah.

Jika perkiraanku benar, payung yang sama akan tetap ada di rumahku sekarang.

Malam menjelang dan hatiku berdetak semakin kencang, payung itu tidak ada dirumah. Kemana perginya? Salahkah anggapanku selama ini?

Ibu.. Ibu lah satu-satunya kunci jawabanku.

Syukurlah, ibu sedang berada di dapur, menyiapkan cemilan ringan untuk ayah yang tengah menemani adik-adik ku menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya. Wajah tua itu selalu tersenyum menyambut pelukan hangat ku.

"Bu... Tadi siang kemana ?"

Pergi sama bapak, ada kondangan.

"Kok mendadak? Tadi pagi sebelum aku pergi kenapa tidak bilang?"

"Maaf nak.. Ibu kan masih sibuk waktu kamu pamitan subuh-subuh tadi"

"Oh ya bu, tadi siang aku lihat payung putih di depan rumah, tapi sekarang kok ngga ada? Ada tamu?"

Ibu ku terdiam, raut wajahnya mencoba menyembunyikan sesuatu dan akhirnya menggeleng kepalanya. Beliau buru-buru meninggalkan dapur dan menghampiri ayah diruang keluarga.

Binggo... Hanya dia yang bisa membuat ibu bersikap seperti itu. Analisaku benar. Dan berantakanlah segala hal yang sudah dua minggu ini kupersiapkan. Kenapa dia bisa hadir disaat tidak tepat. Tak peduli, harus kubuat perhitungan jika nanti bertemu.

Aku tahu siapa orangnya.

#OneDayOnePost

Sang Penyamar (1)




Tok... Tok... Tok..

Ketukan untuk yang ketiga kalinya dan masih tidak ada jawaban dari tuan rumah. Mungkin suasana setelah turun hujan adalah waktu berkualitas untuk memanjakan diri di atas kasur empuk bersama hangat selimut yang melilit tubuh, terbuai dalam mimpi-mimpi yang membawa naik ke langit bersih.

Klek..

Kutahan langkah kaki yang sudah berniat untuk kembali, pintu terbuka perlahan dan nampaklah gadis dengan tinggi sekitar 160 centimeter, wajahnya bersinar tanpa make up, bajunya serasi dengan warna jilbabnya, biru laut, senada sekali dengan cerahnya dunia saat ini.

"Maaf... Ada yang bisa saya bantu?"

Suara gadis itu lembut, bisa kutebak jika bernyanyi pastilah terdengar merdu, matanya yang sayu menatap ku menanti jawaban.

"Saya mau cari Lala ada ?"

"Iya saya Lala, ada apa ?"

Aku tertegun, mencoba mengingat kembali gadis yang kutemui seminggu yang lalu di taman kota sore itu. Tidak, aku masih ingat betul, aku yakin tidak salah. Dia gadis lincah, tidak seanggun wanita yang kini berada di depanku. Tapi... Alamat ini sesuai dengan yang diberikannya.

"Tapi... Saya... Tidak.. "

"Maaf... Apa yang membawa anda kemari ?"

"Saya ingin mengembalikan ini", aku mengangsurkan kotak berisi identitas gadis yang kutemui di taman, sore itu, sewaktu dia meminjamkan payungnya untuk ku yang terburu-buru pulang.

Gadis itu perlahan tersenyum setelah mengetahui apa yang kuberikan, lalu menerima payung transparan putih dengan renda bunga soft pink disekitarnya, gagangnya berwarna kuning emas, cocok jika payung itu milik gadis berbulu mata lentik di depan ku ini.

"Maaf mas... Dimana anda bertemu dengan Fay?"

Oohhh... Fay namanya.

"Di taman kota, sewaktu saya sedang membeli jajanan di pinggir taman. Fay itu kembaran kamu ?"

"Bukan... Dia teman saya"

"Lalu identitasmu ?"

"Dia pinjam"

"Untuk apa ?"

"Entah..."

Dahiku berkerut, dasar gadis bodoh. Bagaimana bisa dia meminjamkan identitas orang lain kepada orang yang belum dikenalnya, bisa saja aku menyalahgunakannya. Ceroboh betul.

"Mas..."

Aku tersentak dari lamunanku, "Mbak, besok jangan pinjamkan lagi identitas mbak kepada orang semacam dia. Bahaya."

"Iya.. Mas"

"Saya mohon diri dulu, terimakasih sebelumnya. Ingat betul-betul pesan saya ya mbak. Gadis itu payah."

Senyum gadis itu dan pikiran tentang gadis bernama Fay itu mengantarku menghilang di balik tikungan.

Gadis anggun tersebut segera menutup kembali pintu rumahnya, dan sesuai dugaannya, satu pesan masuk sudah bertengger di handphone nya.

To : Lala
From : Fay

Kak lala... Itu target gue selanjutnya.
Big thanks.

Oohh Fay, benar katamu, bahwa tak boleh sekalipun mereka meremehkan wanita, tapi kira-kira ada apa dengan pemuda tampan yang belum kuketahui namanya itu ?

Fay, sang penyamar.. Dasar tukang buat ulah.

Bersambung....

#OneDayOnePost

Tentang lamaran mu..


Ecieee... Ga usah langsung baper gitu kali baca judulnya. Maaf ya sepertinya isi ceritaku akan membuat hati pembaca berserak kecewa, bukan salahku sih kalian aja yang salah arti, he hee maaf.

Aku mencintai pekerjaanku, oleh karena jam-jam produktif ku yang tersita olehnya jadi sudah seharusnya kumaksimalkan dalam menjalankannya. Harapan-harapan besar perusahaan akan hadirnya diriku begitu besar, terutama tentang peningkatan grafik produksi, manajemen karyawan yang notabene tak banyak mengenyam pendidikan, hingga pengenalan tentang keberhasilan perusahaan sesuai standard dunia (ga selebay yg ketiga sih).

Semua berubah saat tanggung jawab akan bergabungnya member baru bertumpu padaku, Ya Tuhan.. Jiwa ku masih labil, standard penerimaan anggota masih berubah-ubah sesuai kondisi hati, bisa jadi kami kehilangan potensi yang luar biasa jika dihari itu suasana hatiku sedang galau.

Tidak seperti pak boss yang mantap dengan tiga kriteria nya :
1. Niat kerja
2. Jujur
3. Bertanggung jawab

Sepertinya semua dasar yang kami butuhkan sudah tersirat dalam kriteria di atas, maka kucoba menerapkannya. Nihil.. Beberapa kali percobaanku kebobolan, ujung-ujungnya aku juga yang kecewa karena mereka tidak setia memegang janji suci diantara kami, kalau pak boss mah tinggal nyuruh cari lagi.

Hari ini bekerja dengan giat, besok menghilang tanpa kabar. Pagi hadir dengan suka cita, istirahat makan siang keluar dan tak kembali. Dua hari jadi anak manis, hari ketiga pamit dengan meringis. Semangat menggebu dengan peralatan pribadi yang ikut serta diboyong akirnya tak berbekas bersamaan dengan pemiliknya, terbang bagai debu (entah tahu arah jalan pulang atau tidak....)

Apa nya yang salah yaa ??

Jika karena job description nya itu urusan kalian... Tapi jika karena aku yang tak paham membaca gelagat dan bahasa tubuh calon partner kerjaku, baru itu masalah perusahaan, ha haaa (pokoknya aku tidak mau disalahkan)

Memang sepertinya lebih baik menjadi diri sendiri, biarlah pak boss memegang teguh keyakinannya begitupun dengan ku.

Mereka, kandidat orang-orang luar biasa yang akan menghabiskan waktu berharganya bersamaku tak boleh sembarangan. Tak akan ku investasikan tenagaku hanya untuk berbagi ilmu dengan orang-orang yang tidak mencintai pekerjaannya, orang-orang yang tak peduli dengan tanggung jawab yang dipikulnya.

Daaannn... Masih sampai saat ini, ku biarkan hatiku yang memilih mereka untuk duduk bersamaku, berdiskusi tentang kelangsungan hidup ayam serta kesejahteraan para pekerja sebagai ujung tombak perusahaan pak boss.

Jadi, cukup rebut hatiku untuk memastikan bahwa lamaran kerjamu layak masuk dalam laci arsip perusahaan kami.

#OneDayOnePost

Sapi, tersenyumlah..

Siapa yang belum pernah piknik ?? Mungkin sebagian besar udah yaa..

Dulu, waktu SD bareng-bareng sama temen-temen dan ibu guru (waktu itu pokoknya pak guru ga ikut) naik kereta kelinci ke pemancingan, makan lele goreng+lalapan minumnya es teh. Terus nyemplung di kolam renang bergaya sok ahli masih sewa pelampung padahal tinggi air cuma sebatas dengkul.

Naik level ke luar kota waktu SMP, pake bus pariwisata gede ada AC nya tapi ga ada selimutnya. Dua malem tidur duduk di dalem bus, giliran baru bisa tidur disuruh turun mandi di kamar mandi umum yang jendelanya besar di atas tanpa penghalang. Waktu itu mikirnya mending di intip temen sendiri dari pada disapa makhluk yang tiba-tiba nongol dengan melayang-layang. Sudahlah, toh harusnya kenangan itu tenggelam bersama cerita lapindo yang tak berujung.

SMA nya kemana coba ??

Sayang nya itulah waktu dimana diskriminasi nyata di depan mata. Siswa-siswi yang tidak berkesempatan menyambangi kuta beach akan diberangkatkanke jogja, namun sampai bapak ibu guru kami bolak-balik lima kali lihat lumba-lumba di pantai lovina rencana itu masih jadi wacana.

Ahh... Sudahlah, dunia tak sebatas gerbang sekolah saja. Kebebasan dari seragam putih abu-abu menciptakan pilihan hidup yang beragam dan saya memilih untuk melihat sendiri pesona indonesia.

Daannn... Sampailah saya disini, di depan patung sapi raksasa "ndekem". Meski tak begitu paham tentang seni dan arsitektur, hal pertama yang terlintas adalah betapa petinggi kota ini begitu memperhatikan letak tata kota dengan menghadirkan icon kota ditengah pusat pemerintahan. Di luar jam kerja tempat ini disulap menjadi objek wisata murah meriah yang banyak dikunjungi.

Ohhh... Sapi... Kau begitu menarik hatii...

Gerimis menjebakku dalam lamunan yang berkaitan dengan hujan, namun bukan hal-hal berbau syahdu apalagi merasuk kalbu tetapi bayangan akan terhapusnya jejak-jejak kaki pelaku setelah menghabisi korbannya. Sial.. Itu bisa melenyapkan alibi dan kemungkinan barang bukti dimusnahkan sangat besar.

Payaahhh... Aku menggelengkan kepala mengusir pikiran-pikiran liar tersebut dan melirik patung sapi raksasa yang berada 400 meter di depanku, menelusuri setiap detailnya. Bagusss... Otakku mulai berpikir tenang, sapi ini adalah lambang kota Boyolali yang terkenal akan susu sapi segarnya.

Tiba-tiba terdengar seperti percikan api kecil di dalam kepala saat tatapan ku berhenti pada kepala besar dengan mata besar yang memandang ke depan tak ketinggalan daun telinga yang terbuka lebar seakan mendengarku yang tengah membicarakannya.

Dan... Oohhh.... Ku mohon sapi...

Jika memang kau mendengarku tak perlu lah kau mengulum senyum.

Aaarrrggghhh....

Boyolali Tersenyum

#OneDayOnePost



Numpang Tenar di ODOP batch 2

Akhirnyaaa....

Misi terselubungku dapat diutarakan, rasanya sudah tidak sabar hingga harus menunggu moment yang tepat untuk menyebarkan, hahaa.

Aku selalu tertarik dengan komunitas, organisasi atau bahkan sekedar kumpulan-kumpulan yang sedang exist, terutama yang menggunakan media sosial sebagai tempat berbagi. Yaahhh, semacam diving sambil makan gurame bakar di kedalaman laut bening bersama puluhan paus biru bergigi sangar (apaan coba..), pokoknya aku ga perlu show off apa pun dan mereka di luar sana tau-tau sudah kenal saya, ha haa. Magic.

Sebenarnya sudah lumayan terkenal sih, contohnya ditempat kerja ku (mewakili kota Sukoharjo), tempat tinggal ku (mewakili kota Klaten), letak kampus ku (mewakili kota Surakarta), hobi ku (mewakili provinsi Jawa Tengah),keluarga besar ku (mewakili pulau Jawa). Nah tuh..masak aku cuma terkenal sebatas pulau jawa doang sih ?

Ketidakterimaan ku berujung pada pencarian-pencarian lewat alunan merdu disetiap doa yang sendu dan penuh haru. Dan benar saja senjata umat muslim ini memang tiada diragukan lagi. Kakak tingkat dari ODOP 1 membagikan informasi bahwa ODOP batch 2 akan segera dibuka dan tak kurang dari satu menit aku langsung menyambutnya, tentu saja dia yang baik hatinya itu tidak tahu maksudku bergabung yang sesungguhnya (ssssttt... Kalian bisa jaga rahasia kan ?)

Setidaknya bisa naik level terkenal di dalam negeri sendiri, eh tapi denger-denger anggotanya ada yang stay di luar negeri loh (anggap aja bonus).

Tapi aku juga tidak semena-mena memperkenalkan diri pada dunia, aku harus membangun imej yang tak sembarangan, bayangin aja seluruh mata di dunia akan memandangku... (Bayangin.. Cepet bayangin !!)

Pertanyaannya, "Mau dikenal sebagai apakah aku?"

Mungkin begini beberapa waktu kedepan,
"Hai, saya Ciani, saya seorang penulis"

Aamiin... Aamiin..

Penulis itu dikenal dari karyanya, dan untuk menghasilkan sebuah karya tidak mungkin satu malam jadi (memangnya para jin dan kawanannya ikut bantuin, iddiihhh... Horor amat yak), perjalanan yang penuh lika-liku, tikungan tajam hingga jalur yang tidak stabil memerlukan kedisiplinan tinggi yang bertanggung jawab. Sesuatu yang aku belum punya dan sedang dalam pembelajaran. ODOP batch 2 kupercaya sebagai media pendalaman yang efektif (teror link tiap menit dari para anggota).

The last question, "Apa yang sudah aku karyakan ?"

Hhaa... Sekarang itu tidak penting. Paling tidak besok ketika karyaku terlahir, tidak banyak lagi orang yang bertanya-tanya identitasku, kan mereka sudah pada kenal saya :)


#OneDayOnePost

Kak... pinjem calon suami mu yaa...

Sore itu langit cerah berwarna biru bersih dengan sedikit awan putih yang berserak. Aku menikmati ketoprak yang baru saja disajikan pelayan warung, segelas es jeruk turut hadir melengkapi menu andalan Pak Min yang membuka lapak di pinggir jalan raya seberang pusat perbelanjaan di kota Jakarta ini.

Ku lirik lelaki disebelahku, yang tanpa basa-basi langsung melahap makanan bersaus kacang tersebut dengan lahapnya, ini lebih menarik dari pada aku mengikutinya mencicipi makanan yang sudah lama ku idamkan ini. Hampir setengah porsi ia menghabiskan bagiannya namun tak sekalipun ku lihat ia meneguk teh hangatnya, irama yang tepat saat makan mempertandakan ia orang yang penuh perhitungan dan tak terburu-buru.

"Dimakan gih"

Aku tersentak dari lamunanku dan mendadak muncul ide jahil. Raut wajahku berubah menjadi melas, bibirku maju kira-kira dua centimeter saja, keningku berkerut dan kepalaku menggeleng, untuk menuntaskan drama ini kupandangi wajahnya yang masih menunggu responku, "Ga bakalan abis mas", rengek ku.

"Halah.. Sini... "

Binggo... Aku punya kunci untuk menarik perhatiannya. Ia mendekatkan piringnya hingga menempel pada piringku, menumpahkan sebagian isi dari piringku hingga membuat piringnya menjadi penuh seperti porsi awal.

"Nih.. Dah buru makan"

Kepalaku mengangguk dan tersenyum penuh arti. Kali ini aku benar-benar berusaha menjejalkan lontong, tahu, telur dan kawanannya ke dalam mulut, sesekali mengaliri tenggorokanku dengan dinginnya es jeruk. Yaa.. Aku memang tak bisa tenang berada di dekatnya. Ada sesuatu yang tak ingin segera kusudahi, pertemuan ini tak boleh segera berakhir.

Aku melintasi pulau untuk berada dekat dengannya, tidak memberitahunya akan kedatanganku yang tiba-tiba ini, kukira dia akan menyambutku dengan senang namun ternyata dia memaksaku untuk kembali pulang. Kota ini tidak terlalu nyaman untuk gadis manis sepertiku, ia tak rela jika aku berada ditengah hiruk pikuk ibu kota dan hal yang mengubah segalanya adalah ketika ia berkata bahwa ia tak bisa menjagaku di kota ini.

Dan disinilah kami sekarang, berdua menikmati menu sederhana yang sarat akan kenangan, membuka memori masa lalu yang kurasa begitu cepat berlalu. Ia mengantarku pulang kembali ke orang tuaku, memastikan sendiri bahwa aku akan sampai dengan selamat sampai kampung halaman. Perjalanan kali ini bukan sekedar pulang ke rumah karena kami akan berhenti di kota dimana wanita beruntung itu akan merenggutnya dari hidupku.

Maaf jika aku iri dengannya, kebersamaanku akirnya selesai, semua tak sama lagi, pertemuan-pertemuanku dengan lelaki tanpa banyak kata ini tak lagi bisa terwujud tanpa hadirnya wanita itu, wanita yang berhasil meluluhlantakan hatinya.

Akirnya licin juga piringku. Ia melirik ke arahku dan kembali ke posisi awalnya menikmati teh hangatnya yang mungkin dua teguk lagi akan tandas.

Ahh... Lelaki ini... Tak mampu berbasa-basi namun begitu memikat hati.Entah siapa wanita itu, aku tak akan berkomentar, bagaimanapun aku percaya pilihamnya tidak main-main dan aku yang akan berusaha hingga batas akir untuk menerimanya menjadi bagian dari keluarga kami.

"Mas.. Mamah sms nih, tanya kita sampai mana"

"Bilang aja masih makan"

Hhaa... Gemes deh sama muka datar kakak sulungku.

#OneDayOnePost




Makhluk ini juga perlu disayang !!

Ayam atau telur ?
Telur atau ayam ?

Hayoo... Tebak mana yang duluan ada ?

Jawab saja sendiri dan jangan beritahukan saya tentang pendapat anda, hhaa, maaf. Saya tidak akan membahas hal itu disini, tapi tetap ayam dan telur yang akan menjadi aktor utama.

Masih teringat meski samar saat wabah flu burung menggemparkan negeri ini, hingga menteri kesehatan gencar mensosialisasikan bahwa aman mengkonsumsi daging dan telur ayam karena penyakit pada unggas ini sudah teratasi. Bukan tentang penyakit ini pula yang akan saya dalami.

Jadi apa dong ??

Telur tidak hadir di dunia ini dengan tiba-tiba. Beberapa orang dengan kebaikan hatinya telah menyerahkan waktu dan tenaganya untuk menyediakan sumber protein ini agar sampai di atas meja makan kita. Tapi percayalah kawan, tak ada yang mudah dalam menjalankan kebaikan seperti ini.

Ayam petelur memiliki waktu hidup yang lumayan panjang, menurut standard pabrik adalah 80 minggu namun bisa mencapai 100 minggu bahkan lebih pada kenyataannya tergantung keiklasan peternak sebelum menyerahkan mereka kepada penjagal.

Dengan rentan waktu sepanjang itu, semua sudah dipikirkan dengan matang melalui penelitian yang tidak singkat oleh para ahli WHO dan salah satunya yaitu menghasilkan jadwal vaksin di waktu-waktu yang telah ditentukan.

Namun tahukah kawan... Ada rahasia terpenting dari setiap hasil penelitian yang di dapat.


KASIH SAYANG !!

Benar... Ayam juga makhluk hidup yang tahu membalas budi. Kau perlakukan buruk, maka jangan berharap lebih pada ayam, tetapi kau akan tercengang kala kau ajak si ayam berbicara halus kala menabur pakan, kau beri kata-kata positif saat mengaliri pralon minumnya dan ucapan terima kasih atas telur-telur yang telah dihasilkan.

Ada yang menganggapku asal bicara ??

Tenang... Ku berikan satu gambar ini. Si ayam terjangkit virus gumboro yang membuat tubuhnya begitu lentur hingga kepalanya bisa sejajar dengan kakinya, ini tahap kritis dimana si ayam wajib dibunuh saat itu juga.

Apa penyebabnya ??

2 alasan terkuat yang semuanya berasal dari timbal balik perhatian operator kandang :
1. Kebersihan kandang yang kurang terawat
2. Pelaksanaan jadwal vaksin gumboro yang saat itu sudah terlambat 1 hari dari jadwal.

Jadi kawan... Kumohon,jangan anggap hanya DOI yang  butuh limpahan kasih sayangmu, bagi juga untuk makhluk Tuhan yang lainnya.

Jangan lupa berdoa sebelum makan yaa.. Agar berkah yang kita terima juga menular kepada beliau-beliau yang sudah berpeluh untuk memastikan telur menjadi hidangan yang berkulitas.

#OneDayOnePost



Paket Umroh Murah

Rukun islam yang ke lima adalah naik haji (bagi yang mampu), namun sebagai umat islam tentu keinginan mengunjungi Baitullah adalah sesuatu y...