Sang Penyamar (2)



Aku sudah tak peduli lagi dengan gadis ceroboh ataupun gadis anggun bermata sayu yang kutemui dua hari lalu, sampai ku temukan payung putih transparan itu lagi di teras rumah siang ini. Memang sejak pagi hujan tak henti mengguyur, bahkan hingga saat ini. Mungkinkah pemilik payung tersebut sedang bertamu ke rumahku ? Atau jangan-jangan gadis ceroboh itu lagi? Siapa sih dia... Sial. Kenapa aku harus terpikir lagi olehnya.

Ibu tidak ada dirumah, tiada siapapun dirumah. Gemas rasanya menahan pertanyaan ini. Entah apa yang aku pikirkan, tiba-tiba saja aku sudah berada di dalam mobil, melaju dengan kecepatan rata-rata karena pandangan yang terbatas akan derasnya air hujan. Jikalau bisa ingin ku maksimalkan kemampuan fortunerku ini membelah jalanan, meloncati setiap lubang yang penuh genangan, sayang bisikan malaikat masih mengingatkanku untuk bertoleransi kepada sesama pengguna jalan.

Aku mencurigai seseorang.

Kurang dari satu jam, ku hentikan mobilku di depan sebuah rumah yang bertipe minimalis namun begitu luas halamannya dengan kolam disudut sebelah kiri, kolam ini berisi 3 ekor ikan hias yang selalu ditemani beberapa kodok yang entah berasal dari mana. Bunga-bunga yang beraneka warna menambah manis halaman tersebut. Pepohonan hijau meski tidak terlalu besar, cukup untuk menyuplai oksigen dan menjadikan siapa pun betah berlama-lama.

Aku sudah siap melangkah keluar, andai saja niat untuk melanggar persiapan kejutan mengurungkannya. Tapi, aku begitu yakin akan hal ini. Mencoba berpikir waras jika semua ini sampai salah, matilah aku.

Mobil hitam mengkilap yang kini telah kuyup ku putar arah, kembali menyusuri jalanan ibu kota yang tetap sesibuk kala mentari gagah dengan sinarnya. Berbagai pertanyaan telah meronta untuk dilontarkan namun sepertinya sang waktu menolak berjalan beriringan.

Hujan sudah reda, bias cahaya orange menyinari bagian barat, mempesona mata dan berarti satu hal, senja menyapa.

Kuharap kali ini tuan rumah tak terlalu lama membuka pintu. Namun sebelum tanganku menyentuh daun pintu, mataku telah lebih dulu menangkap payung dengan renda-renda bunga di sudut teras. Basah, sepertinya baru saja dipakai dan itu menandakan bahwa pemiliknya ada di rumah.

Jika perkiraanku benar, payung yang sama akan tetap ada di rumahku sekarang.

Malam menjelang dan hatiku berdetak semakin kencang, payung itu tidak ada dirumah. Kemana perginya? Salahkah anggapanku selama ini?

Ibu.. Ibu lah satu-satunya kunci jawabanku.

Syukurlah, ibu sedang berada di dapur, menyiapkan cemilan ringan untuk ayah yang tengah menemani adik-adik ku menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya. Wajah tua itu selalu tersenyum menyambut pelukan hangat ku.

"Bu... Tadi siang kemana ?"

Pergi sama bapak, ada kondangan.

"Kok mendadak? Tadi pagi sebelum aku pergi kenapa tidak bilang?"

"Maaf nak.. Ibu kan masih sibuk waktu kamu pamitan subuh-subuh tadi"

"Oh ya bu, tadi siang aku lihat payung putih di depan rumah, tapi sekarang kok ngga ada? Ada tamu?"

Ibu ku terdiam, raut wajahnya mencoba menyembunyikan sesuatu dan akhirnya menggeleng kepalanya. Beliau buru-buru meninggalkan dapur dan menghampiri ayah diruang keluarga.

Binggo... Hanya dia yang bisa membuat ibu bersikap seperti itu. Analisaku benar. Dan berantakanlah segala hal yang sudah dua minggu ini kupersiapkan. Kenapa dia bisa hadir disaat tidak tepat. Tak peduli, harus kubuat perhitungan jika nanti bertemu.

Aku tahu siapa orangnya.

#OneDayOnePost

1 comment:

Yuk sampaikan dengan santun :D