apa

Jawabnya

Di taman ini aku terpana
Indah nian, bertebaran bunga-bunga
Lalu padamu aku terpesona
Karya Tuhan yang menyejukkan mata

Di mana ibumu, Nak?

Kerja.

Aku tersenyum mendengarnya
Ia menggelayut manja pada tangan wanita tua

Lalu ayahmu?

Dahinya mengkerut
Tangan kecil itu mulai sibuk
Menarik kain abaya wanita tua yang telah keriput

Sinar mata sayu
Air muka yang meredup
Itu jawabnya
Maaf, aku telah salah bertanya


------------------
Pagi yang mendung di Kota Bersinar
29 September 2017

Lima Menit

Apa kau tahu
Saat lima menit mata kita beradu
Mesin dengan kemampuan menghasilkan tiga ribu sembilan ratus buah sendok itu seperti hening tak berlagu

Apa kau tahu
Saat lima menit seolah waktu tak melaju
itulah saat terlama dan tak ingin rasanya untuk berlalu

Apa kau tahu
Saat lima menit setiap pagi
Pergantian waktu kerja aku dan kamu
Telah tumbuh rasa dalam hati?


------------
Pabrik injeksi, Parangjoro
7 Muharam 1439 H

Debat Baca Dengan Penguji

Senyum tetap kujaga, penguji ada di depan mata.

Berulang kali Belva keukeuh bahwa ia tak mau membaca, "Ngerjain soal aja to, mbak."

Nah... bagaimana bisa menjawab pertanyaan jika tak membaca materi? Di sinilah ke-jeniusan pengujiku, hhaa.

Akhirnya perjanjian dibuat. Setiap soal yang tidak bisa dijawab harus dicari sendiri dalam buku lks atau buku paket. Setuju.

Kena jebakan kau sayang 😂

Tiba saatnya ia menggaruk kepala, dan menarik buku lks, aku tersenyum penuh kemenangan membantunya membuka buku paket.

Masalah hadir lagi ketika kami telah menemukan judul yang sesuai dengan pertanyaan, sesuai janji ia mau membaca tapi... melewatkan judul, langsung isi.

Nah... nah... baiklah saya pusing.

"Judulnya dibaca yang keras."

"Ga usah mbak, udah tahu."

"Udah tahu apa?"

Geregetan ia menunjuk sebaris kalimat yang tercetak tebal dan membacanya dengan sedikit menggerutu.

"Tuh kan, mbak mah, aku jadi baca kan."

Aku tertawa.

Tiada heran bagaimana Belva ingin segera menyelesaikan setiap materi yang ia baca. Membaca baginya membosankan sedang menghitung sangat memusingkan.

Belva bukan satu-satunya, ia adalah gambaran dari sebagian besar anak-anak yang nantinya memegang peranan penting dalam kemajuan bangsa.

Apa yang kalian lakukan jika diposisiku?


Harus Bagaimana

Bagai kemarau panjang
Retakan tanah kering terpampang
Disegala sisi terhampar fatamorgana
Lalu sosokmu membuatku terpana

Tersenyum membawa bejana
Menawarkan air kehidupan
Tak kuminum aku mati
Kuminum aku hutang budi


----
Kota Bersinar, 5 Muharram 1439 H

Jangan Bandingkan Aku

Di atas meja makan ukuran dua meter persegi ini aku tengah menanti, sebuah komentar tentang apa yang baru saja terhidang.

"Bagaimana?"

Mungkin raut wajahku kentara akan cemas yang berlebih, ia hanya tersenyum, belum juga menyentuh makanan di atas piring.

"Tidak mau dimakan ya?" Tanyaku melihatnya tak juga berniat untuk mencicipi.

Ia menggeleng, tersenyum, mengangguk.

"Apaan sih, ga jelas deh."

"Dulu ibuku..."

"Jangan bandingkan aku dengan ibumu," lirih aku berujar dalam tunduk malu.

"Eh bukan... bukan."

Ia kebingungan melihat reaksiku dari kalimat yang belum selesai terucap itu.

"Kamu sama dengan ibuku.".

Aku menatapnya, mana mungkin sama. Tentu ia hanya bergurau.

"Tersenyum dulu dong."

"Mana bisa, kau saja tidak mau menyentuhnya apalagi memakannya, kan? Biar aku bawa ke belakang."

Sigap tangannya menahanku berdiri, "Duduk dulu Dek, jangan ngambekan dong."

Aku bersungut. Ia tak mungkin paham, untuk menghidangkan ini saja aku harus berusaha keras. Memasak bukan keahlianku bahkan dapur adalah tempat yang mampu dihitung jari berapa banyak aku memasukinya.

"Dulu ibuku juga goreng tempe."

Diam aku mendengarkan dengan malas. Rayuan macam apa lagi ini.

"Sama sepertimu, tempenya diiris sedang tidak terlalu tebal, adonan tepung pun cukup saja, tidak encer. Sama dek, kamu menggorengbtempe yang sama dengan ibu."

Tak ada komentar, aku menatap tempe goreng yang masih hangat itu.

"Dan kamu juga melakukan hal yang tidak seharusnya, yang juga dilakukan oleh ibu. Itu mengapa aku tertawa, ini seperti de javu Dek, kamu mirip ibu. Aku sayang Ibu, juga sayang kamu."

Sayangnya aku tidak tersipu. Jika ia masih berbelit-belit maka aku akan segera membawa tempe goreng ini ke belakang. Akan aku habiskan sendiri.

"Tidak tanya apa hal yang tidak seharusnya itu?"

Aku diam saja. Memandang tempe goreng yang kurasa warna lecoklatannya saja seharusnya menggoda ia yang doyan makan.

"Duh, besok aku mau les cara menghadapi wanita ngambek, hhaa."

Nah kan... nah kan... bukannya segera menjelaskan ia malah muter ke sana ke mari. Aku beranjak. Ia kembali menahan.

"Dek, maaf yah. Sungguh aku hanya teringat ibu. Kamu mirip dengan ibu."

Aku bergeming.

"Hhaa, baiklah... baiklah... jadi istriku tersayang, menggoreng tempe itu tidak perlu kau tambahkan telur. Nanti adonan tepungnya lembek."

Aku menepuk dahi, menunduk.

"Maafkan aku."

Telunjuknya mengangkat daguku, senyum itu mengatakan bahwa tak ada yang perlu dimaafkan.

Aku melirik sepiring tempe goreng gagal di atas meja. Lalu dalam hitungan detik sebuah tangan mengambilnya, memasukkannya dalam mulut dan menikmatinya. Aku menggigit bibir melihat pemandangan di depan mata.

"Maafkan aku."

"Hhaaa. Kamu dihukum."

Aku mengangguk pasrah.

"Sini suapin aku. Aku mau makan tempe goreng banyak."

Dua garis lengkung menghiasi wajah. Ada haru dalam dada.

Katanya Tentang Makan

Sekali aku pergi ke pasar. Banyak orang ngobrol ngalor-ngidul. Tapi selalu saja lelaki tua kumal di depan pintu masuk pasar itu jadi salah satu topiknya.

"Dia gila.. dia gila."

Satu dua berbisik sambil menunjuk-nunjuk ke arah lelaki tua dengan kaki ditekuk itu.

"Katanya tidak perlu makan."

Aku tertarik dan mendekat, mencoba menguping pembicaraan.

"Makan menyebabkan orang mati."

"Dia gila... dia gila."

"Maklum saja, mana pernah orang macam itu mengeyam bangku pendidikan.

"Dia gila... dia gila."

Dahiku mengkerut. Makan bisa membuat orang mati? Iya benar jika makan racun.

"Katanya makan tidak bisa menghapus lapar."

"Dia gila... dia gila..."

Dahiku semakin mengkerut. Makan tentu agar tidak lapar bukan?

"Katanya makan hanya membuat orang tidak menjadi manusia."

"Dia gila... dia gila..."

Aku sudah tidak tahan. Maka kuhampiri lelaki tua itu, yang kakinya tertekuk, duduk bersimpuh di depan pintu masuk pasar.

Ada piring plastik di sana. Di hadapannya. Kutaksir dulu warnanya biru cerah, kini pudar seiring berlalunya zaman.

Ada piring, alat makan, pasti lelaki tua itu makan, setidaknya dulu, mungkin saja. Kini... lelaki tua itu mencoba peruntungan. Ya, lelaki tua itu makan laba-laba yang mencoba membuat sarang di atas piringnya.

"Dia gila... dia gila..."

Percaya Saja

Bola mata hitam itu membesar, "Benarkah?"

Aku mengangguk.

"Siapa... siapa?"

"Dia, satu diantara pengikut semua akun sosial mediamu."

Wajahnya menunduk, "Teman-teman penulis, kami saling mengikuti."

Berdiri dia dari bangku panjang di sudut warung makan siang ini, sudah lewat jam istirahat pabrik, suasana sunyi. Tiga langkah ke depan balik kanan dua langkah maju. Telapak tangan kanannya menopang dagu, tangan kiri berkacak pinggang.

"Tolong sampaikan padanya."

"Apa?" Tanyaku antusias.

"Jangan lupa minum obat, semoga lekas sembuh."

Tawa membahana di warung makan, hanya ada kami berdua dan Budhe Muji yang sedikit melonjak dengan polah kami.

Kenalkan, Laya, temanku, pengarang yang selalu tak percaya bahwa ada-di luar sana- yang mengagumi karya juga sosok riangnya.

Hai Laya, percaya saja, kau punya penggemar.

Kamu Adalah

Kamu...
Adalah apa yang sering membuatku takut
Takut tak sebanding untuk bersanding

Kamu...
Adalah apa yang terukir dalam doa
Untuk kebersamaan kita kelak

Kamu...
Adalah apa yang sedang aku perjuangkan
Berpeluh untuk memantaskan menjadi sosok terdekat

Kamu...
Adalah bintang yang berpijar terang
Menyinari hidupku hingga tua dan mati

Kamu...
Adalah apa yang membuatku bangga
Menjadi sosok sempurna akan amanah tentangmu

Kamu...
Adalah apa yang aku minta pada Tuhan
Tak segera, tapi di waktu yang tepat

Lalu, emaknya Rafa berbisik perlahan, "Ga usah muluk-muluk, cari pejantannya dulu aja."

Aaarrrrggghhh.... kadang aku berpikir alangkah damai jika emak satu ini tidak selalu muncul tiba-tiba. Doa untuk Rafa, semoga hari ini ia mau masuk sekolah, bravo jagoan.

Ranggin Kaman

Mulut kecil itu ternganga
Matanya mengerjap tak percaya

Aku tersenyum menatapnya

Ombak menggulung
Angin pantai bergemuruh

Terpesona aku pada wajah cantiknya

Kau suka? Tanyaku

Anggukan itu saja sempurna sudah meluruhkan hatiku

Pembiasaan oleh alam yang menguraikan spektrum warna merah untuk senyum merekahmu, jingga untuk lesung pipimu, kuning untuk kerut dahimu, hijau untuk kedip matamu, biru untuk harum tubuhmu, nila untuk patah-patah napasmu dan ungu untuk jilbab melambaimu.

Khayalku ...

Nanti ...

Kelak ...

Di suatu senja
Kita melihat pelangi

Aku Bisa Saja Tidur

Sudah kubilang aku mau tidur
Tapi ia malah bernyanyi lembut
Mengusap anak-anak rambut di dahiku dengan lembut

Sudah kubilang aku mau tidur
Tapi ia tak henti bercerita
Berbagi kisah yang bahkan tak bisa diterima logika

Sudah kubilang aku mau tidur
Tapi ia terus menatapku
Memaksa mata kami beradu

Sudah kubilang aku mau tidur
Tapi ia membuat bunyi-bunyian tak jelas
Menjadikan bising ruangan

Sudah kubilang aku mau tidur
Tapi apa saja yang ia lakukan jadi perhatianku

Sudah kubilang aku mau tidur
Tapi tetap saja ... ia mengganggu

Sudah kubilang aku mau tidur
Ia tak peduli, ia tak punya hati

Sudah kubilang aku mau tidur
Aaarrrggghhh... suara-suara dalam kepala meronta

Sungguh, aku bisa saja tidur
Jika ia... yang tersenyum satir itu mati

Tanyakan Pada Mereka

Beberapa orang memiliki apa yang sering disebut dengan firasat, suatu kemampuan diri untuk merasakan sesuatu yang akan terjadi, kurang lebih seperti itu maknanya.

Mungkin bukan sekadar firasat, ada campur tangan ratusan malam yang dilewati bersama untuk memunculkan desiran aneh dalam dada.

Bisa juga pada tempat-tempat luas yang bentang alamnya menjadi saksi bisu akan waktu yang abadi dalam ingatan.

Atau gesekan-gesekan kecil di mana bara api menjadikan celah antara satu sama lain.

Tunggu, tentang sebuah ruangan bawah tanah, whiteboard, modul?

Petikan gitar dengan lirik-lirik yang tak utuh dihapal?

Susu segar yang lebih banyak komposisi santannya? Tusuk sate? Berbagai macam rupa gorengan? Pisang karamel?

Tanyakan pada mereka karena apa.

Satu dua memori terekam abadi, beberapa terpanggil saat desau angin membisiki cuping telinga.

Apalagi? Coba tanyakan pada mereka karena apa.

Ratusan kilometer yang telah ditekuri? Pasir-pasir pantai yang menempel? Matahari yang terbit juga tenggelam?

Apalagi? Coba tanyakan pada mereka karena apa. Aku menyerah sampai di sini. Logikaku tetiba berhenti. Hangat menjalar ke seluruh tubuh.

Tak sama banyaknya dengan dulu, berkurang lebih waktu yang dihabiskan bersama. Kembali lagi tentang firasat, benarkah tak ada hal lain yang mendukungnya untuk terjadi?

Tanyakan pada mereka, sebab apa meyapaku di hari yang sama di saat seluruh raga terselimuti rasa panas dan mata memerah?

Baiklah. Kusudahi segala praduga ini. Ijinkan aku menikmati kehadiran mereka meski tak bertatap muka.

Tuhan, jaga mereka. Sampaikan rasa terima kasihku atas hal-hal kecil yang karenanya aku merasa ada yang memperhatikanku di dunia ini.





Lebam ini Kukira Kelelahan, Ternyata

Aku menemukan lebam di kaki kiri ketika berwudhu suatu sore itu. Warnanya biru pekat. Tak perlu lama untuk menyimpulkan bahwa yah ini mungkin efek kelelahan semata.

Karena tahu bahwa tidak berbahaya maka aku abaikan sedikit rasa sakit yang tidak terlalu menganggu itu.

Hasil reaksi konversi dari hemoglobin menjadi bilirubin itu perlahan memudar. Lalu aku tersadar akan kejadian yang sesungguhnya lebih masuk akal untuk menciptakan lebam ini.

Beberapa hari yang lalu sebelum aku menemukan lebam di kaki, suasana kerjaan sedang meningkat tajam. Mobilitas tinggi. Berlari ke sana ke mari untuk memaksimalkan waktu kerja yang tersedia, pahamlah yah jika perusahaan sedang babat alas, kadang nganggur kadang kepontal-pontal.

Nah... aku lupa bahwa bukan burung yang bisa melewati meja yang melintang di tengah ruang. Jadilah tumbukan tersebut sesaat membuatku berjongkok dan meringis, hhaa.

Begitulah, manusia sering tergesa-gesa. Menduga sekehendak hatinya. Menutup telinga untuk setiap nasehat yang masuk juga terkadang menganggap dirinya pastilah lebih benar.

Kacaunya lagi, itu terulang, duh.

Bukan lebam namun panas tubuh. Aku hanya mengira sakit flu mengingat banyak di sekelilingku juga tumbang. Hampir seminggu dan aku baru terhenyak akan ingatan yang melintas.

Baiklah. Saatnya tes laboraturium. Doakan saya 😊


Istri Panutan

Belva sudah menghilang entah ke mana, tapi kutebak ia menuju lapangan voli di samping rumah.

Nyonya rumah menghampiriku, ini waktu berharga baginya untuk menghilangkan lima puluh persen kegundahan hati dan lebih dari itu prosentaseku untuk menimba ilmu kehidupan dari beliau.

"Gimana mbak, Belva nakal?"

Aku tersenyum dengan sedikit gelengan kepala.

Ada yang berbeda, tadi dua jam yang lalu saat menyambutku beliau memakai daster ala kadarnya sekarang ketika malam kian sunyi penampilannya sempurna.

"Mau pergi, Bu?"

"Eh, enggak mbak."

Obrolan kami biasanya fokus dan saling menatap namun kali ini beliau tengah sibuk dengan hamparan krim, minyak wangi dan lipstik di depannya. Wajar jika kukira beliau hendak pergi.

Luwes jari kelingking itu menyapukan pewarna bibir dengan warna merah lembut, tidak mencolok, sangat cocok.

Aku masih bertanya-tanya, apa mungkin beliau sungkan sebab masih ada aku di sini? Ahh kiranya aku harus pamit segera.

Botol berkaca dengan cairan bening menguapkan aroma yang membuat tenang. Diratakannya mulai pergelangan tangan hingga tengkuk. 

Gerakan tubuhku kikuk, hendak pamit namun sungkan, satu dua kalimat masih beliau lontarkan sembari memoles wajah dengan segala macam kosmetik itu.

Lalu selintas ingatan menyadarkanku, ingatan yang membuatku malu, yang meyakini bahwa sekarang harus segera beranjak pulang. Untung saja beliau masih sibuk jika tidak akan kentara rona merah di wajahku.

Tiga puluh menit yang lalu Belva bertanya pada beliau kapan ayahnya akan pulang. Anak itu meskipun takut tapi selalu merindukan kehadiran sosok pahlawan keluarganya.

"Bu, saya hendak pamit."

Beliau menghentikan segala aktivitas. Senyumnya merekah menyiratkan rasa terima kasih yang teramat, lalu ucapan doa keselamatan mengiringi langkah kakiku meninggalkan teras.

Hingga belasan meter, aroma wangi masih tercium, wajahku panas, jika tidak tertutup masker maka akan terlihat bahwa masih ada senyum di wajahku.

Beliau tidak akan pergi ke mana pun. Segala bentuk mempercantik diri itu untuk seseorang yang dengan gagah telah mengambil alih tanggung jawab atas dirinya dari ayah kandungnya.

😉😉

Guru Tidak Harus Lebih Tua

Bagiku dia adalah guru yang pura-pura bertanya untuk menguji kemampuan, seolah tak paham apapun agar aku menjelaskan, bertingkah kesana kemari hanya untuk melihat cara aku menenangkan.

Malam ini sunyi, hanya ada aku dan dia di beranda rumah. Kertas-kertas berserakan, tumpukan tebal buku-buku menjulang di atas meja. Kami baru saja mencari sesuatu atas jawaban pertanyaan yang mengganggunya sedari tadi.

"Sudah ketemu?," tanyanya dengan raut muka masih antusias.

Aku tersenyum. Entah bagaimana jika jawabanku mengecewakannya, terlebih faktor yang mendukung belum begitu banyak kukantongi.

"Jadi kenapa manusia itu yang menjadi nabi?"

Matanya mengerjap, ada keingintahuan yang teramat.

Kami baru saja berdiskusi tentang nama-nama nabi. Dalam keheranannya dia bertanya kenapa Musa bisa menjadi Nabi? Kenapa harus Sulaiman yang bisa berbicara dengan hewan dan juga jin, kenapa?

Terus dia mendesakku sedang aku tak banyak tahu perihal ini. Tak mungkin mengecewakannya dengan menggelengkan kepala, maka kususun jawaban yang jika tidak memuaskannya bisa meredam sebentar rasa penasarannya.

"Menjadi nabi itu bukan sembarang orang loh. Hanya yang terpilih saja dan yang memilih itu langsung Allah."

Diam aku sejenak, menunggu dia bereaksi. Bola matanya masih tepat di tengah, menantiku untuk melanjutkan.

"Tugas Nabi itu beraaaaatt sekali."

"Kayak Nabi Ibrahim ya? Yang dibakar hidup-hidup?"

"Nah... klo bukan orang pilihan tidak mungkin akan menerima yang seperti itu dengan ikhlas kan?"

"Iya, terus kata Pak guru, waktu pasukan Nabi Sulaiman lewat ketua semut bilang klo semua semut harus masuk ke sarang jika tidak mau diinjak."

Aku mengulum senyum, dia memperagakan gerakan kaki pasukan yang berjalan beraturan. Pipi gembulnya membuatku gemas. Lalu disusul dengan mengangkat tangan kanan bak seorang pemimpin yang menggunakan pengeras suara, mengomandokan pasukan untuk segera menuju tempat aman.

Benarkan, apa kubilang. Dia hanya menguji ingatanku saja. Hanya menguji.

Dialah Belva anak kelas tiga sekolah dasar yang membuatku banyak belajar 😊😊

Berita Orang Hilang

Aku hendak merantau dan banyak orang memberitahu tempat terbaik untuk mengejar jabatan, meniti karier atau jelasnya menimbun harta. Maka dari mereka sampailah aku di kota ini, siang saat matahari sedang terik-teriknya.
Bersandar pada sebuah pohon beringin yang berbatang besar membuatku tertidur untuk beberapa saat.
Tak lama aku terbangun sebab selembar kertas mengejutkanku. Ohh, berita orang hilang yang sudah lama. Pasti lemnya sudah tak rekat.
Melangkah kini melewati pematang sawah dengan gemericik air sungai, kanan kiri pemandangan tanaman padi yang mulai menguning menimbulkan rasa haru akan masa panen di depan mata.
Tunggu, suasana seperti ini tak ubah pedesaan dengan segala kesederhanaannya. Bukankah aku sedang merantau ke kota?
Maka segera aku bergegas untuk memasuki area pemukiman warga. Tak ada orang lalu lalang yang dapat ditanya, aku meneruskan langkah hingga di sebuah persimpangan terdapat warung es kelapa muda yang tengah ramai oleh pembeli. Bagus, aku bisa istirahat sembari bertanya tentang keganjilan ini.
Penjual tersenyum ramah menerimaku, menanyakan gula pasir atau gula merah untuk ditambahkan dalam minuman. “Gula merah,” jawabku singkat.
Lalu aku bergabung dengan para pengunjung yang tengah bersantai di gelaran karpet di pinggir jalan utama tak jauh dari persawahan.
“Apa nama daerah ini. Pak?”
“Desa Nrimo, Nak.”
Sendiri aku mencerna maksud dari penamaan desa ini, jika dilihat dari bahasa jawa Nrimo berarti menerima, pasrah atas ketentuan Yang di Atas.
Sungkan aku menanyakan kebenarannya, terlebih statusku sebagai pendatang.
“Oh ya pak, apa kabar anak kecil yang hilang itu, sekarang?” teringat aku akan selebaran yang membuatku terbangun.
“Oh, Budi? Dia belum ditemukan.”
Dahiku mengkerut, kukira itu sudah lama berlalu sebab kertasnya menguning dan tulisannya mengabur.
“Iya belum kembali sejak lima tahun lalu,” ujar seorang pemuda lain setelah menandaskan kelapa muda di gelasnya.
“Bagaimana dengan keluarganya?”
“Ya mau bagaimana lagi.”
“Kasihan.”
“Beginilah hidup anak muda, bukankah semua sudah di atur oleh Tuhan, terima saja.”
Sebentar, aku menangkap hal ganjil dari intonasi Bapak berkumis itu saat mengatakan pendapatnya.
“Maksud Bapak?”
“Ya, mungkin memang takdirnya Budi hilang dan tidak kembali.”
Sebenarnya pertanyaan ini ingin sekali aku simpan rapat-rapat, namun melihat gelagat tak ada perubahan raut wajah saat membicarakan Budi membuatku ingin memastikan sesuatu.
“Sudah pernah mencoba untuk dicari, Pak?”
Si Bapak menghela napas, aku masih berharap sesuatu yang akan ia ucapkan bukan sesuai prasangkaku.
“Usaha kami ya menempel selebaran itu. Jika Tuhan menakdirkan Budi kembali pasti akan kembali.”
Lemas sudah aku mendengarnya. Bukan seperti ini arti menerima.
Tak ada kata pamit, aku berdiri dan segera menjauh dari orang-orang yang meniadakan usaha, menghapus rasa peduli atas dasar takdir Illahi. Namun kakiku tersandung batu bata dan terjerembab.
Batu kerikil menimpa kepalaku, membuatku meringis dan mengusap tempat yang sedikit benjol itu. Seorang anak kecil tertawa terkikik dari seberang.
Aku terbangun dari mimpi yang menyeramkan.
“Paman, jangan memasuki kota ini, kembalilah.”

Aku tertegun. Anak kecil itu seperti aku pernah melihatnya, samar, siapa ia?

Balasan Senyumku Darimu

Mata kita beradu, sepersekian detik di sebuah ruangan dengan banyak tamu undangan. Aku tahu kau pasti datang, sebab ini acara pernikahan sepupumu yang juga teman kerjaku.

Aku baru saja hendak menarik dua garis lesung setelah sebelumnya terpesona oleh karya Tuhan yang terindah, kamu.

Lalu lalang orang menjadi figuran, kita sebagai pemeran utama. Tak ada yang beranjak untuk saling menghampiri hanya melempar pandangan satu sama lain.

Andaisaja aku tahu apa yang akan terjadi... tapi masa depan selalu menjadi misteri kan?

Suara pembawa acara menggema di panggung, menjadi pengawal dari kebahagiaan dua mempelai. Tak jelas ia berkata apa, duniaku sudah berpusat di satu titik, kamu.

Belasan pemuda dengan baju seragam hilir mudik dengan nampan di tangan. Jamuan untuk tamu mengalir mengisi meja-meja. Ucapan silahkan menikmati menjadi keharusan berbasa-basi.

Dalam gerakan lambat, setelah menata hati yang berdetak cepat, aku tersenyum. Mengerahkan segala upaya agar kamu yakin bahwa ada seseorang yang mengamatimu sedari tadi.

Tidak... aku tidak meminta lebih. Balas saja senyumku dengan senyummu atau sekadar anggukan agar aku yakin bahwa sejak tadi pun kamu memperhatikanku.

Riuh suara alat musik mengiringi penyanyi menyuarakan lirik. Dalam keramaian yang penuh rasa haru aku tergugu.

Kamu menjawab senyumku dengan memalingkan muka.


Bukan Begini Seharusnya

Rantang berisi nasi dan bermacam lauk menghambur di pematang sawah. Tempe dan tahu goreng satu dua berloncatan mendekati tanaman padi yang baru saja dibenamkan. Luapan emosi membuka rangkaian erat bekal yang sedianya akan aku persembahkan untuk dirimu.

Raut muka itu berubah pasi pun dengan sosok di sampingmu yang dengan cepat pergi tunggang langgang menjauhi gubuk di pinggir aliran sungai ini.

Aku masih terpaku, tidak percaya tepatnya.

Ada akar yang menghujam kuat di mana aku berpijak. Mataku menggenang, tak ada yang tertahan, apa yang ingin keluar sungguh aku ijinkan.

Siang ini kejadian itu berlalu cepat namun menjelang malam waktu melambat hingga enggan untuk beranjak.

Pagi sekali kau datang ke rumah, mengetuk pintu dengan serentetan kata yang hendak menjadi tameng sebuah kesalahpahaman.

Semua sudah jelas, tiada takut orang yang tidak bersalah. Terbiritnya ia membuatku bukan hanya menuduh bahwa ada sesuatu yang sudah kalian lakukan, tanpa sepengatuanku tentunya.

"Aku mundur," lirih dalam getar aku bersuara.

Cangkul yang tergenggam oleh tangan kananmu engkau letakkan bersiap untuk menepis kata-kataku.

"Baiklah, maafkan aku."

Tersenyum aku ada dalam getir.

"Ini tidak akan terulang."

Aku menggeleng, tak ada yang bisa memastikan terlebih ada kecewa yang menyesakkan.

"Aku melepaskanmu dari segala bentuk pengekangan."

Kini ia yang menggeleng, ke kanan ke kiri, lebih kuat.

Mungkin ia lupa akan janji-janji yang terucap untuk menemani hidupku, kelak.

Aku mengaku kalah, menjadi manusia lemah yang memperturutkan nafsu semata, terburu-buru menilai makna cinta, kita tidak boleh saling menyakiti terlebih sebelum ada ikatan yang dibenarkan agama. Bukan begini seharusnya.



Ganesa, Perpustakaan Impian

Halloo warga dunia maya... sudah baca buku hari ini? Yukk mulai kebiasaan membaca sekarang juga 😄

Eh tapi Ci...

Kenapa? Ada masalah?

Tentang jutaan manfaat dari membaca itu sudah jelas tidak ada penyangkalan, nah, masalah justru ada pada media yang mau dibaca. Tahu kan harga buku yang melangit? Apalagi baru-baru ini hangat berita bahwa penulis belasan buku best seller bakal menghentikan cetak buku karena beberapa alasan.

Ohh itu... tenang... ada kabar baik untuk warga solo dan sekitarnya.

Begini, kemarin saya baru aja ambil buku dari ganesa, iya ganesa-perpustakaan- yang beralamat di Jl. Raya Songgolangit No. 30 Gentan, Baki, Sukoharjo.

Buku yang saya ambil adalah buku yang ingin saya baca tapi ragu untuk membeli (yahh, ini hitung menghitung anggaran bulanan). Nah ganesa membelikannya untuk saya, loh. Iya serius.


Jadi kalau kalian berkunjung ke ganesa dan tidak menemukan judul buku dari puluhan rak kayu silahkan tulis saja di tempat yang sudah disediakan, lengkapi formatnya dan tersenyum. Mudah kan?

Ganesa akan belikan. Dan kamu akan jadi peminjam pertama. Peminjam ya tolong diingat, jadi ada kewajiban mengembalikan.

Emoji senyum di kanan atas adalah simbol bahwa buku tersebut baru. Jadi hanya diijinkan untuk dipinjam selama satu periode, yaitu sepuluh hari.


Tanggal di bagian belakang buku adalah batas peminjaman, mari jadi pribadi yang bertanggung jawab. Setiap buku dari perpustakaan ada hak orang lain untuk menjadi pembaca berikutnya, setuju?

Apa syarat meminjam? Cuma buat kartu anggota, gratis lagi. Tenang ga usah panik kalau misalkan kartu anggota hilang. Ganesa ganti.


Jadi kalian warga soloraya, nggak ada lagi alasan untuk malas membaca dong. Yuk manfaatkan fasilitas mewah ganesa yang belum tentu di lain tempat tersedia.

Selamat membaca. Salam literasi.

Selayaknya Saudara



Malam ini bulan tertutup awan, tak ada bintang juga cahaya apa pun, langit kelam tapi tidak mendung. Sendiri aku duduk di beranda menatap lengang jalan raya beraspal, persisnya ada dua hektar sawah hijau menghampar yang memisahkan rumahku dengan jalan raya.

Semilir angin menerpa wajah, membekukan sejenak dan perlahan membuat pucat.

Semesta mengirimkan cerita tentang seorang anak belasan tahun yang baru saja terperosok ke dalam parit saat bermain sepeda sore tadi.

Ibu, kenapa tidak marah?”

Sang ibu hanya tersenyum, cekatan tangannya membersihkan luka menganga yang darinya mengucur deras cairan kental berbau anyir dan mulai mengoleskan apa pun yang bisa mengobati dan menghentikannya. Bagaimana bisa ia marah kepada buah hatinya? Seseorang yang berpijar di tengah kemelut kalut dunia.

Jika ibu marah apakah kamu akan mengatakan jujur jika kelak terjatuh lagi?”

Si anak mengangguk, matanya berbinar, ia melupakan segala rasa sakit di sekujur tubuhnya, memeluk raga yang menularkan rasa hangat yang teramat.

Apa lukaku akan sembuh, Bu?”

Iya Nak.”

Apakah setiap luka akan sembuh, Bu?”

Si Ibu terdiam, ditatapnya lamat kedua mata kecil itu, ada harapan di sana yang membara.

Pasti sembuh, Nak.”

Harapan tak boleh padam, si Ibu meyakini itu.

Meskipun tidak ada obat untuk mengoles luka?”

Kali ini tak ada jawaban, mata si Ibu menggenang, kuat ia menahan agar tak terbentuk sungai yang membelah pipinya.

Meskipun tidak ada tangan Ibu yang kelak membersihkan luka?”

Mendongak si Ibu, cara terakhir menahan bendungan di pelupuk mata,

Kenapa Ibu harus menahan diri untuk tidak menangis? Menangis saja.”

Kali ini hancur sudah dinding pertahanan yang lama dibangun, retakan kecil yang tercipta meruntuhkan keyakinan kokoh selama ini.

Akan ada penganti Ibu yang mengoles lukamu, akan ada seseorang yang mengantar obat untuk menyembuhkan lukamu.”

Ibu, boleh aku bertanya lagi?”

Anggukan kecil menjadi jawaban, sibuk tangan tua itu menyeka air mata yang sulit dihentikan.

Apa itu benar akan terjadi, Bu?”

Si Ibu mengangguk mantap, “Saudara kita banyak Nak, mereka tidak akan diam melihat kita terluka, mereka peduli kita, mereka akan segera menolong kita.”

Ibu, aku hendak berkata jujur sebab aku tahu engkau tak akan marah.”

Senyum mengubah air muka si Ibu, “Katakan, Nak.”

Ibu tahu aku tidak punya sepeda, dan luka ini...”

Pelukan erat si Ibu membungkam si anak. Ia tahu, ia tahu apa yang terjadi.

Malam ini saat aku menyesapi keheningan di desaku yang aman mungkin saja si Anak dan si Ibu tengah kembali membangun keyakinan akan saudara-saudaranya yang datang untuk melukiskan senyum kembali di wajah mereka, kelak. Asap tebal membumbung, ledakan memekikkan telinga, jerit ketakutan memenuhi angkasa.

Pertolongan akan datang. Dengan ijin Allah.


#IslamBersaudara
#SaveRohingya

Akhirnya Bersuara

Bising suara mesin sudah menjadi rutinitas harian. Petikan manual sendok plastik hanya irama tambahan di sela nyaring gesekan pita suara empat manusia.

Aku muncul untuk ikut meramaikan kegiatan yang berpusat di dua meja besar ukuran tiga meter persegi yang dikelilingi tujuh kursi plastik warna biru langit. Selain itu ada yang harus aku kerjakan.

Dia pemuda dengan tinggi hampir mencapai seratus tujuh puluh centimeter, pendiam dan paling pertama mendiami mushola saat panggilan shalat berkumandang. Sebab tak banyak bicara itulah banyak dari orang-orang sering menggodanya, berbuat apa pun yang membuat dia membuka suara atau paling tidak tersenyum meski masker tak pernah lepas dari wajahnya.

Aku ikut barisan terkikik saat Mia, satu-satunya orang yang berjuang keras agar dia bersuara.

"Loh... loh.. cocok kan cocok."

Aku tahu akulah yang menjadi sasarannya kali ini. Biasanya aku hanya diam saja, tak mau melanjutkan hal semacam ini dan dia masih tidak bersuara.

Ketergantungan yang mengharuskan aku berkomunikasi dengan dia menjadikan Mia mendapat ide untuk mengumpankanku. Baiklah, sesuka hatinya saja, liat berapa lama Mia akan bertahan meladeni kediaman dia.

Hari ini lain, berbeda dari hari biasanya. Mia kembali berulah. Aku kembali hanya tersenyum tapi dia... bersuara.

"Loh kan cocok.. cocok..."

Dia hanya bersuara satu kata dan itu mendapatkan banyak respons, tentang keberhasilan Mia... akhirnya... dan gosip yang akan melebar secepat api yang menjalar dedaunan kering di musim kemarau.

"Cocok loh Mas sama Cili," semangat Mia menampilkan deretan gigi diantara dua garis bibir yang terpoles gincu merah muda.

"Aamiin..."

Satu kata itu saja, dan cukup membuatku menegang dan terpaku dalam beberapa detik berikutnya.

Kata Tuhanku

Ada manusia yang sedang merasa tersudut, segala usaha untuk mencari solusi terbentur keadaan, tak ada jalan lain kecuali meminta pertolon...