Pesan dari Dilan

Seharian offline ternyata menyenangkan juga, hhii walaupun saat on tumpukan pesan menyerbu tanpa mampu menunggu.

Biasanya pesan akan dibuka berdasarkan prioritas. Nah, kemarin tanpa diduga Dilan kirim pesan loh. Iya Dilan... Ahh tidak mungkin kalian lupa Dilan kan? Yaa... Dilan yang sama.

Aku terlonjak girang, dari sekian banyak orang ternyata aku yang dipilih Dilan untuk bertukar kata, yeay..

Begitulah, Dilan mengeluarkan kata-kata mautnya hingga membuatku melambung, menjaganya tetap melayang di atas awan, istilah kerennya menemani terbang di angkasa. Aku tidak menyangka, ahh baiklah, sesuatu yang diniatkan tulus akan sampai ke masing-masing hati pembaca, kan?

Bingung? Aku tidak peduli. Dilan sering membuatku seperti ini, banyak hal yang ingin kuucapkan namun tertahan tanpa tahu sebabnya, ahh Dilan.

Sudah cukup sekian. Mari kembali menulis, menebar manfaat dan menerima energi positif dari para pembaca yang sudi mampir.

Dilan, makasih ya untuk semangatmu kemarin.


Makhluk Sombong

"Hey, jangan dulu hisap dia."

"Kenapa? Sebentar lagi adzan subuh berkumandang, dia akan bangun."

"Duduklah, kuceritakan tentang makhluk yang sombong."

"Tapi, santapanku?"

"Dia tidak akan kemana-mana, percaya aku."

Keduanya duduk berdampingan, memandang ke satu arah, makhluk yang sedang meringkuk dalam selimut, matanya terpejam, desah nafasnya berat.

"Lihatlah dia, makhluk itu sangat sombong."

"Apa yang membuatmu mengatakan itu?"

"Baru kemarin dalam angannya ia menuliskan banyak hal yang mampu ia lakukan."

"Itu optimis, kawan."

"Itu sombong, sebab dia tak menyertakan penciptanya dalam rencana hidupnya."

"Berani sekali."

"Itulah, sebagai makhluk berakal, sering dia lupa bahwa kehidupan bukan dalam genggaman tangannya sendiri."

"Lalu, ada apa dengan calon santapanku itu?"

"Dia baru saja berniat untuk menjelajah setiap jengkal negeri, tapi sakit kepala yang tiba-tiba hadir membuatnya tak mampu membuka kelopak matanya."

"Sakit kepala?"

"Iya, sakit kepala. Bagaimana bisa mereka sombong?"

"Ahh, kau berlebihan. Aku butuh makan sekarang, sudah boleh?"

"Hisaplah, darahnya mungkin tak semanis biasanya. Bukan karena dia sakit, tapi karena dia sombong."

"Kalau begitu aku cari mangsa yang lain saja."

"Lebih baik sepertinya, Sang Pemilik Malam saja benci terhadap makhluk sombong seperti dia. Aku juga tidak mau dekat-dekat dengan makhluk itu."

Mereka berdua terbang menjauh, meninggalkan seonggok daging bernyawa yang entah masih bisakah dia membuka mata di hari esok.

Usai

Undangan itu terkirim lewat pesan whatsapp. Satu persatu orang yang pernah hadir kini perlahan menjauh, yah, salah siapa dulu nggak mau diajak dekat, kan?

Bukan itu intinya, tapi.. ada hal lain.

Temanku, si pembawa berita membuatku terkejut saat pertama mendengar undangan ini. Nama mempelai yang tertera membuatku menahan napas untuk beberapa saat. Setelah otakku kembali bekerja, sadarlah bahwa nama yang sama untuk banyak orang. Fiuhh, bukan dia.

Dia... Ah ya, beberapa waktu lalu kami bertemu dan masih sama. Tak ada yang berani memulai untuk membuka percakapan. Terakhir kami bahkan diam hingga acara selesai dan itu meninggalkan rasa kecewa yang teramat bagiku entah bagaimana dengannya.

Canggung ini bukan serta merta tercipta begitu saja, ada kayu terbakar hingga menimbulkan asap, sayangnya kayu ini basah hingga tidak berakhir menjadi abu yang terbang tak berbekas.

Kenapa kita tidak bisa seperti yang lain? Bercanda, tertawa saat bertemu teman lama. Ahh, sudahlah, masing-masing tahu jawabnya.

Jika nanti, suatu saat, namamu benar-benar bersanding dengan yang lain... Maka aku akan datang, melihat rona bahagia terpancar. Saat itulah, masalah tentang rasa yang tak terungkap ini usai.

Oleh-oleh dari Timur

"Jadi begini kakak, anggap saja ini rumahmu."

Aku tertawa dalam hati, penduduk asli memaggil siapapun dengan sebutan kakak, berapapun usia mereka terpaut.

Jauh dari hiruk pikuk kota, aku berada sekarang, mencari arti kemajuan dalam benak orang-orang pedalaman. Sebuah rumah panggung di tengah hutan menjadi tempat bermalam beberapa hari ke depan.

Kepala suku telah memberikan wewenang kepada Bretus untuk menunjukkan segala hal kepadaku, anak laki-laki berambut ikal, berkulit legam namun baik luar biasa.

"Apa kakak suka?"

"Suka sekali."

Bangunan ini luas, seperti aula, tidak banyak sekat. Di pojok ruangan ada kamar dengan ranjang dan meja kecil, itu yang akan menjadi kamarku.

"Istirahatlah kakak, nanti sore aku kemari lagi."

Aku memasang kelambu, saran dari teman agar tenang saat tidur.

Sorenya Bretus benar-benar datang, aku baru saja keluar dari kamar saat ia mengernyit melongok ke dalam kamar.

"Kalau Kakak kasih seperti itu, bagaimana nyamuk bisa keluar? Bukalah, Kakak."


Lucu? sesaat iya, tapi miris.
Oleh-oleh dari Indonesia Timur.

 

Oh, ternyata

Aku sedang tidak mengerjakan apa-apa saat dering telpon berbunyi.

Nomor baru memanggil.

Siapa ya?

"Hallo."

Suara dari seberang jelas terdengar, laki-laki.

"Iya,ada yang bisa saya bantu?"

Seseorang di ujung telpon menyebutkan satu nama, aku coba mengingat-ingat siapa gerangan, ah ya, tetangga desa.

"Ketemu bapak? Oh iya, maaf sudah berangkat."

Aku menjawab saat dia mengatakan bahwa tadi pagi mencariku ke rumah. Mungkin jika lebih pagi masih bisa bertemu denganku, eh, tapi lebih baik tidak bertemu. Pasti dia akan ngobrol panjang, bisa telat deh brangkat kerja.

Selanjutnya aku mengangguk saat dia akhirnya memutuskan untuk meminta nomer telponku langsung sama bapak.

Hebat nih orang, nggak nunda-nunda waktu. Serius banget.

"Ada yang bisa saya bantu?"

Akhirnya pertanyaan itu muncul lagi, abisnya nggak dijawab-jawab sih.

Dia pun bicara, aku cermat mendengarkan. Benar saja hal yang tidak bisa ditunda-tunda lagi. Bahkan aku harus menjauh dari teman kerja, mencari ketenangan agar tak ada hal terlewat yang dia sampaikan.

"Serius?"

Dia mengiyakan.

"Nanti malem, datang lagi ke rumah ya?"

Dia kembali mengiyakan.

"Harga telor 16000/kg, uangnya titipin bapak aja. Nanti barangnya aku bawa."

Cuma mau titip telur ayam ternyata.

Kepingan Rasa Puzzle 26

Puzzle sebelumnya di sini



Setelah memastikan Angga menghilang aku berniat untuk kembali ke kelas. Belum juga melangkah, Angga kembali muncul dan memanggil namaku.

Kepala penuh pertanyaan siap menyambut kedatangannya yang berlari kecil.

"Aku mau ngomong sama kamu."

"Ngomong aja Ga, ada apa?"

"Emm.. Ci, anu... Emm..."

"Kenapa sih Ga? Gugup gitu."

Agni muncul dari balik pintu bersama Dania dan Raiya, mereka berniat mencariku.

"Ahh, ada Agni, lebih mudah."

Dania dan Raiya saling berpandangan.

"Lama bener, mau ngomong apa sih Ga?" desak Agni yang penasaran.

"Gini, aku sungkan, tapi ini sebuah kebenaran."

"Cepet ngomong ihh," ujar Agni melotot.

"Tenang Ga, ngomong aja," kataku menetralkan suasana.

"Emmm..."

Angga berhenti sebentar, bungkam, Romeo melirik ke arah kami. Lalu ia menghilang, mungkin ke kantin.

"Oke, aku cuma nunggu itu anak keluar kelas."

"Eh, Romeo? Apa hubungannya?" Dania bertanya antusias.

"Gilang yang ambil buku paket kamu Ci, aku lihat sendiri tadi waktu istirahat."

Aku menggeleng cepat, tidak mungkin, buku paket kimiaku mungkin tertinggal di rumah.

"Jangan nuduh tanpa bukti loh Ga, jatuhnya fitnah."

Dania mengangguk, menyetujui ucapan Raiya.

"Kita cek, sekarang."

Agni adalah orang yang melangkah pertama kembali ke kelas diikuti Dania, Raiya, Angga dan tentu saja aku dengan perasaan tak menentu.

Tas Gilang sudah di atas meja, Agni mengeluarkan semua isinya di atas meja. Tak banyak, tapi diantaranya ada buku paket kimia yang tersampul rapi. Halaman pertama tertulis namaku dengan pena orange.

Aku menunduk, ada sembilu yang mengiris di hati, rasanya tak menentu. Semua bergeming. Angga tersenyum canggung, ia telah terbukti tidak asal bicara, bukti di depan mata.

Gemuruh di dada menggerakkan kakiku keluar kelas, menuju satu tempat dimana Gilang mungkin berada.

Dibelakang teman-temanku bingung harus bagaimana, sayup kudengar Angga menenangkan mereka.

"Aku yang temani Ciani, kalian di sini, jangan ikut, nanti tambah runyam."

Semua setuju, berlari Angga menyejajari langkahku yang tergesa. Dia diam saja di sampingku.

Di pojok ruangan kulihat Gilang berbincang dengan Romeo, tepat dugaan Angga. Tanganku mengepal, emosi menguasai, ini keterlaluan, tidak bisa dimaafkan.

Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri, aku tak sadar jika tiba-tiba tanganku melayang, menampar seseorang yang terkejut, tatapanku menghujam tepat ke dalam kedua matanya.

"Aku nggak mau ketemu kamu lagi. JANGAN GANGGU AKU LAGI, GILANG!"

Angga menarik lenganku, mencegahku berbuat lebih fatal nantinya. Terlebih banyak pasang mata siswa di kantin yang mengawasi kami. Seolah ini tontonan menarik bagi mereka.

Aku tak peduli, Gilang sudah melukaiku, terlalu dalam. Kebaikannya semu, entah bagaiamana bisa dia tega melakukan itu semua kepadaku.

Tetesan hangat membelah pipiku.

"Ci, kamu terlihat kacau."

Aku menggeleng lemah.

"Aku mau ke kelas."

"Enggak, jangan dulu, maksudku kamu nggak mungkin masuk kelas dalam keadaan kayak gini."

Aku diam.

"Kita ke basecamp pecinta alam yah, nanti aku telpon Agni untuk datang."

Aku mengangguk.

"Angga, makasih ya, kamu baik banget."

Angga tersenyum dalam anggukannya.

Duh

"Hey, gadis kecil."

Aku mendongak kaget. Dia tersenyum. Aku lupa ini di perpustakaan. Apa aku ketiduran? Ah, malu sekali ketangkep basah, terlebih olehnya.

Tetes air langit belum juga reda, hal yang menjadi alasanku menunda untuk beranjak.

"Masih hujan ya?" tanyaku mengalihkan perhatian, duh, seperti apa rupa bangun tidurku yah.

"Masih."

Ada jeda diantara kami. Siang ini perpustakaan sepi, terlebih hujan menyelimuti Soloraya. Aku berada di ruangan anak, memisahkan diri, bosan melihat orang dewasa dengan rutinitas monoton mereka.

Rak-rak setinggi 500 meter berjejer melingkari ruangan, menempel tembok. Di atas rak bermacam lukisan menutupi warna cat dasar. Gambar-gambar hewan tergantung melintang di atas ruangan. Seperti taman kanak-kanak, penuh warna, imajinasi masa kecil seperti terpanggil tiba-tiba.

"Mau terbang kemana?"

Hah, aku kembali terkejut, padahal dia berkata pelan.

Dia melirik buku yang berada di atas meja. Kesadaranku perlahan pulih.

"Kalau aku berhenti bertualang, bolehkah?"

Dia mengernyit, "Ada masalah?"

"Hhaaa... Tidak, aku bercanda."

"Kau sungguh tidak sedang bercanda. Katakan, tiket kemana yang sedang kau pegang?"

"Ini tiket temanku, ia ingin pergi ke masa lalu."

"Kau sendiri?"

Aku mengangkat bahu, dari raut wajahnya yang kubaca dia tahu, aku sedang tidak baik-baik saja.

"Baiklah, kita hentikan sementara penerbangan."

Mataku berbinar, bertemu dengannya selalu penuh dengan hal tak terduga.

"Kita lakukan hal yang sangat ingin kita lakukan sekarang, hal yang dulu pun sulit dilakukan, saat masih kecil."

Baiklah, aku tidak bisa membaca arah pembicaraan ini.

Dia tersenyum, ah, meneduhkan.

"Sana, tidur lagi, maaf tadi menganggu."

Aku menutup mata, benarkan aku ketiduran di perpustakaan, duh, maluuu.

Dia menghilang di balik lemari penyimpanan tas sebelum melempar senyum mengejek.

Pasti rupaku tak beraturan, aku membenamkan wajah diantara tangan dan buku-buku di atas meja.

Duh.

Klarifikasi Berita Bohong

Sesuatu yang tidak benar pastilah membawa dampak yang tidak baik, begitupun jika berita yang tersebar adalah bohong.

Nah, minggu kemarin saya menjadi korban atas berita yang tidak benar itu, parahnya lagi mereka hanya menerka tanpa menanyakan langsung kebenarannya kepada saya. Padahal kalau ditanya saya pasti jawab kok, emangnya segalak apa sih kok sampai nggak berani, hhii.

Salah satu teman kerja akhir bulan ini akan mengakhiri masa lajang, saya dan dia memang dekat sejak dulu bahkan calon istrinya adalah teman saya sekolah. Tapi serius deh emang dari dulu nggak pernah ada ketertarikan lebih sama dia, sebatas teman kerja yang sering bekerja sama, itu aja.

Eh, tau-tau saya denger bahwa teman-teman di bagian terpisah mengatakan bahwa saya yang akan menikah dengan dia, spontan saja jawaban-jawaban tidak mengalir menerjang si pembawa berita yang tertawa keras menyadari kekeliruan berita tersebut.

"Jangan-jangan kamu juga mikir gitu?" tanyaku selidik pada si pembawa berita.

"Yee, enggak lah, aku tahu kok berita yang benernya."

"Syukurlah."

Akhirnya berita yang benar tersebar, menelan kebohongan-kebohongan yang muncul dari sekadar praduga. Anehnya teman-teman perempuan tak banyak berkomentar, teman laki-laki yang mendekatiku, berbicara langsung, atau berkirim pesan.

"Huft, untung bukan kamu."

"Dih, kenapa?"

"Aku nggak setuju."

"Hhhaaa, jika esok aku menikah dengan seseorang juga nggak minta persetujuanmu," jawabku meninggalkan dia sebelum semakin ngaco.

Malam sempurna dengan segala keheningannya saat ponselku bergetar, pesan masuk dari teman sekolah. Kami membahas hal-hal biasa hingga dia mengatakan, "Aku jadi canggung gini."

"Kenapa?"

"Katanya kamu mau menikah."

"Hhii, kalau aku menikah, kamu nggak akan kirim pesan lagi?"

"Nggak tahu, hhaa."

Yang aneh, beberapa teman mencoba menghiburku sebab teman kerjaku itu akan segera menikah. Lah, aku sudah tenang, turut bahagia malah, ini kalian kenapa sih?

Entahlah, kadang sikap dan perilaku mereka tidak dapat saya mengerti tapi apa pun itu sepenuhnya saya tahu, mereka peduli pada saya, meski kadang peduli yang nggak pada tempatnya, hhaa.

Makasih ya, setidaknya saya percaya bahwa tidak sendiri di dunia ini.




Kang Abay dan Alasanku Tersenyum

Ribuan malam menatap bintang dan harapan
Dan ribuan siang menahan terik penantian
Mungkin Tuhan ingin kita sama-sama tuk mencari
Saling merindukan dalam doa-doa mendekatkan jarak kita

Semua kepala memutar sesuai keinginan hati, mencari seseorang yang mendengungkan lirik di atas. Kang Abay. Aku satu diantara mereka. Setelah pasti bahwa motivasinger tersebut terlihat wujud nyatanya gemuruh tepuk tangan menggema di dalam ruang pertemuan, aku tersenyum.

Tuhan, pertemukan aku dengan kekasih pilihan
Seseorang yang mencintaiMu, mencintai RasulMu
Di Multazam kumeminta

Kulirik hampir semua mulut terbuka untuk ikut serta menyuarakan reff lagu tersebut. Hanyut dalam alunan musik terlebih bersama vokalis aslinya di depan mata. Aku tersenyum lagi.

Alasanku tersenyum bukan semata-mata karena kehadiran Kang Abay di Kota Solo dimana acara ini harus aku hadiri sebagai penutupan kegiatan sebelumnya, tapi ada dua hal lain.

Pertama, sebelum Kang Abay muncul, pembawa acara telah mengatakan bahwa Kang Abay akan muncul dengan tidak biasa. Layar-layar proyektor menampilkan sebagian potongan-potongan identitas Kang Abay, mataku sudah bersiaga. Menit-menit awal begitu menegangkan, aku siap sedia menerima kejutan.

Tidak Biasa.

Aku mulai berfikir mungkin Kang Abay akan keluar dari layar atau terjun payung dari lantai dua atau bisa jadi saat kami lengah beliau tiba-tiba sudah di atas panggung, tersenyum puas karena triknya berhasil.

Ternyata Kang Abay tetap muncul dari pintu masuk dengan mendendangkan lagu andalannya Halaqah Cinta.

Hhee, ihh ngeselin sih pembawa acaranya.

Seminar berjalan lancar hingga akhir, tiba saatnya peserta diijinkan untuk meminta tanda tangan Kang Abay pada novel pertama beliau yang berjudul Cinta dalam Ikhlas.

Aku termasuk salah satunya, Kang Abay menanyakan nama sebelum membubuhkan tanda tangan. Segera setelah mendapatkannya aku turun dari panggung, tak mau ketinggalan teman-teman yang selfie di bawah. Dibelakangku, beberapa kaum hawa sibuk meminta ijin untuk dapat berfoto bersama dengan Kang Abay, aku mah enggak, hhii soalnya tadi udah dipaksa beberapa kali sama panitia untuk naik ke atas panggung dan foto bareng Kang Abay, hhaa.

Kunci mudah berfoto dengan artis adalah, jadilah panitia acara atau dekatilah panitia yang berwenang, hhaa.

Lebih dari cukup menyambut Kang Abay di Solo, kedatangannya menyebarkan sedikit aroma Bandung, itulah alasanku kedua tersenyum.



Cerita Pagi Ini

Hal wajib sebelum berangkat kerja adalah meminta restu mamah. Tapi seluruh rumah kosong, kemana ya mamah?

Adikku yang tengah mematut di depan cermin melirikku geli.

"Kayak setrikaan, mondar-mandir," ujarnya.

"Mamah kemana sih?"

"Ke rumah Mbah Karno," jawabnya menyebutkan nama salah satu tetangga kami.

Hemm.. Terlalu berbelok jauh, aku melirik jam, kemudian memutuskan, "Bilangin mamah aku berangkat ya."

Adikku mengangguk.

Kawan, desaku indah dan masih asri. Jika saja tak ada bangunan milik *seseorang* itu kalian akan mampu melihat jelas ke arah barat, Gunung Merapi dan Gunung Merbabu berdampingan, berdiri gagah berwarna biru. Lalu alihkan pandanganmu ke timur, Gunung Lawu meski lebih jauh juga terlihat menawan.

Cuaca pagi ini cerah, dan kalian benar-benar bisa melihat gambar nyata dari goresan anak-anak Sekolah Dasar tentang dua Gunung, sawah terhampar dan juga rel kereta api.

Ituu... Mamah...

Berdiri di tepi sungai dengan sepeda anginnya. Berbincang dengan seseorang yang separuh kakiku terbenam di dalam lumpur.

Aku berhenti, "Mah, salim."

Mamah tidak mendoakanku beliau malah berujar, "Lihat gunungnya Ni, bersih banget ya."

Aku tersenyum, "Boleh main kesana, Mah?"

Ternyata mamahku tak mendengar, tetapi tetanggaku terkikik. Aku mengulangi hal yang sama.

"Ga boleh, hujan gini, cuaca ga menentu."

Tetangga tertawa keras, aku tersenyum, hhii.. Siapa yang memulai?

Kepingan Rasa Puzzle 24

Puzzle sebelumnya di sini


Pelajaran kimia usai, aku segera keluar ruangan, ya, apalagi kalau tidak hendak mencari Gilang. Entah bagaimana jadinya kalau tadi ia tidak menolongku, pasti aku yang berada di lorong dan absen mengikuti pelajaran.

Rasa berterimakasih yang teramat telah mendorongku untuk segera beranjak, tak menghiraukan tatapan heran Agni terlebih Dania dan Raiya yang sama sekali tidak tahu.

Dania bertanya padaku namun aku tak menggubrisnya, maaf ya, saat ini mungkin Gilang sedang dalam keadaan tidak baik. Dihukum oleh Pak Arif mungkin saja mengguncang jiwanya, ah, dan ini semua akulah penyebabnya.

Tiba di lorong kuedarkan pandangan ke seluruh arah, tak ada, kemana Gilang?

Aku hendak berbalik, mungkin Romeo tahu keberadaan sahabatnya itu, hingga seseorang memanggil namaku lembut. Aku menoleh.

"Angga?"

"Hey, ketemu lagi, hhee," balasnya dengan senyuman.

"Ngapain kamu di sini?"

Angga terlihat salah tingkah, menggaruk kepalanya yang ikal, "Jalan-jalan."

Aku mengernyit, aneh, "Eh Ga, kamu tahu Gilang nggak?"

"Gilang? Loh bukannya kalian satu kelas ya?"

"Iya benar, tapi ia dihukum."

Wajah Angga biasa saja, seolah Gilang dihukum guru bukanlah berita mengejutkan.

"Hey, kamu tahu tidak?"

Angga menyelidik ke wajahku, "Kenapa kamu tanya-tanya Gilang?"

Aku menunduk, "Karena ini semua salahku."

"Loh, kok jadi sedih. Tenang, kita cari tempat yang nyaman, nanti aku bantu cari Gilang."

Kami berdua mencari tempat duduk tak jauh dari pintu, aku menceritakan secara singkat tentang kejadian di kelas. Angga mengangguk kecil tanpa menyela sedikitpun.

"Oh, tenang saja tak usah merasa bersalah."

"Maksud kamu?"

"Gilang itu hobinya dua, selain makan ya dihukum."

Derai tawa Angga tak sedikitpun memperbaiki perasaanku. Mengetahui aku tetap murung, Angga segera menghentikan tawanya, "Maaf ya Ci, aku nggak bermaksud."

"Nggak papa."

"Kamu nggak perlu sedih lagi, nanti juga Gilang balik ke kelas."

Aku mengangguk, "Tapi Ga, tadi kamu mau bantu aku nyari Gilang kan?"

Angga beranjak, senyum manisnya menghiasi wajah. Kulitnya yang terbakar matahari menjadikannya terlihat gagah. Kalau saja aku sedang tidak mencari Gilang pasti akan sangat menyenangkan bisa berbincang dengannya.

"Aku tahu kok Gilang dimana."

"Dimana?"

"Mudah saja, di kantin."

"Yakin?"

"Baiklah, akan aku buktikan untuk memuaskan pencarianmu."

"Kamu beneran mau cari Gilang untuk aku, Ga?"

"Aku kan sudah berjanji. Lelaki itu pantang mengabaikan janjinya, terutama pada gadis manis sepertimu."

Aku belum juga menyahut tapi Angga sudah menjauh, menuju kantin.

Gilang... kamu di mana sih?

Cepat Pulang, Sri

Entah apa yang tiba-tiba menyusup masuk, seperti perasaan tidak nyaman dan pikiran terbang kemana-mana. Kawan, dalam hening waktu subuh aku disadarkan akan hutang juga janji-janji yang terlupa, maafkan.

Pelan-pelan, aku coba untuk menyelesaikannya. Semoga tidak terlambat. Oh ya, ingatkan aku jika ada sesuatu diantara kita yang belum tuntas, dengan senang hati, semoga Tuhan memberikan waktu.

Dulu, aku berjanji untuk menerjemahkan cerita ini ke dalam bahasa indonesia, maafkan aku untuk kalian yang menunggu.


-------

Paijo mlayu ngoyak Sri sing ameh munggah bis neng terminal tirtonadi solo.

Sri, ndang bali yo, ojo kesuwen neng jakarta”

Weladala, sampeyan ngopo mas Paijo kok nyusul aku tekan kene ki?”

Aku ki jane ora lilo koe mangkat neng jakarta. Ngopo adoh-adoh mung arep dadi babu?”

Sri nyelehke tas gede neng aspal ngarep bis, isine neko-neko, ono emping, kripik welut, karak beras lan sapiturute.

Hla ngopo ora lilo to mas?”

Aku ki jane trisno karo kowe Sri”

Halah gombal, trisno ki wani ngrabi rak?”

Nantang koe Sri, ayo saiki tak nembung bapakmu”

Wong-wong sing arep munggah bis kabeh podo nglirik Sri karo Paijo sing padu neng pinggir lawang.

Sampeyan wani nembung bapakku? Kerjo wae ora kok nggleleng”

Aku melu neng jakarta nek ngono”

Arep ngopo sampeyan neng jakarta?”

Golek gawean gen isoh nembung koe”

Owalah mas... mas... sampeyan ki neng kene wae, angon wedhus.”

Pak sopir mlebu bis, Sri kesusu ngangkut gawan sing lumayan akeh.

Sri, ndang bali yo, aku ngenteni sliramu. Ojo kepincut sopir metromini”

Sing dijak omong ora gagas, munggah bis. “Mas Paijo ki aneh, aku neng jakarta arep jemput simbok sing niliki pakdhe kok kon ndang bali, yo mesti bali to yo hla wong omahku kene kok,” batine.



Cerita yang ditulis pada 06 November 2016, dengan judul Ndang BaliO Sri


-----------


Paijo berlari mengejar Sri yang akan naik bis di Terminal Tirtonadi, Solo.

Sri, cepat pulang ya, jangan kelamaan di Jakarta.”

Loh, kamu ngapain Mas Paijo kok nyusul aku sampe sini?”

Aku itu sebenarnya tidak rela kamu pergi ke Jakarta. Ngapain jauh-jauh klo nantinya cuma jadi pembantu?”.

Sri meletakkan tas besar di atas jalan di depan bis, isinya bermacam-macam, ada emping, keripik welut, kerupuk beras dan lainnya.

Lah kenapa ga rela, Mas?”

Aku itu sebenarnya cinta sama kamu, Sri.”

Halah gombal, kalau cinta berani ngajak nikah ga?”

Nantangin kamu Sri, ayo sekarang aku minta ijin sama bapakmu.”

Orang-orang yang akan menaiki bis melirik ke arah Sri dan Paijo yang bertengkar di pinggir pintu.

Kamu mau minta ijin sama bapakku? Ga kerja kok sombong.”

Aku ikut ke Jakarta kalau gitu.”

Mau ngapain kamu ke Jakarta?”

Cari kerja biar bisa nglamar kamu.”

Owalah mas... mas... kamu di sini aja, ternak kambing.”

Pak sopir masuk ke dalam bis, Sri buru-buru mengangkat barang bawaannya yang cukup banyak.

Sri, cepat pulang ya, aku menanti dirimu. Jangan jatuh cinta sama sopir metromini.”
 
 
Yang diajak bicara tidak menggubris, masuk ke dalam bis. “Mas Paijo aneh, aku ke Jakarta kan mau jemput Ibu yang sedang negok pakdhe kok suruh cepat pulang, ya pasti pulang dong kan memang rumahku di sini,” ucapnya dalam hati.



Hobi ini Keren

Dulu aku tak pernah menyangka jika akhirnya begitu menyukai suatu hal. Hal yang kini menjadi hal biasa bagi kebanyakan orang.

Mendaki Gunung.

Aku mengenal kegiatan ini pertama kali saat kakak sulungku melakukannya pada kelas X. Tak banyak bercerita, memang dia tak pandai berbicara banyak, hhaa, lelaki pendiam yang aku menaruh hormat padanya.

Namun ketika aku keluar rumah dimana kanan dan kiriku terpampang gunung-gunung yang kokoh berdiri, rasa penasaran itu muncul. Bagaimana bisa sesuatu yang sangat tinggi tersebut dinikmati?

Itu lah kegiatan yang menjadikanku ada di sekolah yang sama di mana kakak sulungku telah lulus setahun silam sebelum aku masuk. Sebenarnya pasti menyenangkan bisa berada di satu sekolah yang sama dengannya, tapi kemudian aku urung sebab ternyata tidak. Aku yang baru masuk dan menyebutkan namanya kepada beberapa senior langsung diberondong pertanyaan macam-macam. Huftt, kakakku terkenal juga.

Saat di SMA semua berjalan baik, aku yang akhirnya bergabung dengan ekskul pecinta alam beserta teman-teman rutin melakukan olah fisik setiap minggunya. membuat kami terlatih dan sangat membantu meringankan tubuh saat pendakian.

Setelah lulus dari sekolah, aku harus berlatih sendiri untuk melemaskan otot-otot jika nanti tak mau merepotkan teman. Berlari rutin pagi hari sebulan atau dua minggu sebelum pendakian.

Lalu semakin aku mengenal dunia semakin banyak kegiatan baru yang lebih menarik minatku. Satu diantarnya menulis. Tapi aku belum bisa sepenuhnya berlepas diri dari hobi lamaku. Bingung membagi waktu itu jelas sebab aku termasuk yang harus fokus dalam mengerjakan sesuatu, tidak pandai mengerjakan banyak hal dalam satu waktu.

Temanku akhirnya menaklukkan hatiku, penolakan yang berulang tak membuatnya gentar hingga aku yang mengalah.

Sabtu malam kami mendaki seperti biasanya, menikmati perjalanan yang harus bertarung dengan rasa kantuk juga lelah selepas bekerja. Mendirikan tenda di tempat yang layak dan jatuh tertidur hingga matahari menyinari dunia.

Kelompok di bagi dua, ini terpaksa sebab kelompok kedua tidak mau bangun, hhaa. Kami yang sudah sadar melanjutkan pendakian ke puncak dengan bekal secukupnya.

Saat kami kembali kelompok dua telah bangun dan berniat menengok puncak, baiklah, kami menunggu tenda bergantian dan menyiapkan bekal untuk makan.

Temanku, oh dia baik sekali, jika sudah memegang peralatan dapur maka tak mau sedikitpun di usik, baguslah. Aku menuju sebuah pohon di seberang tenda, duduk di dahannya yang kuat dan mengamati ia yang sibuk meracik ini itu. Sesekali menyemangati pendaki yang baru akan menuju puncak dan bertegur sapa pada mereka yang turun.

Saat itulah sepi merambati, andai aku bawa buku pasti asyik. Akhirnya aku memutuskan untuk mengeluarkan ponsel dan menulis.

Luar biasa, pengalaman pertama yang seterusnya sering terulang.

Menulis di atas pohon, bersandar pada kayu, dengan pemandangan atas awan yang tak pernah menjemukan. Keheningan, kesendirian, menjadikan fokusku sempurna. Apalagi tak lama temanku berteriak bahwa makan ala kadarnya sudah siap.

Tuhan, terimakasih telah mengijinkanku untuk berkunjung ke negeri di atas awanMu. Ini Keren.


Biar Kuminum Obatmu 4

Sebelumnya...

Dokter Arman berniat membawa kakaknya pulang ke rumahnya namun Rahman berhasil meyakinkan untuk kembali percaya bahwa ia bisa merawat istrinya. Selengkapnya di sini.


***

 Tiga jam berlalu, Dokter Arman tertidur dengan posisi duduk dan kepala yang menyentuh pinggir ranjang dimana kakaknya terpejam. Rahman yang sedari tadi tak jenak duduk di sofa mulai bangkit untuk menengok istrinya.

"Aku akan bawa istriku ke rumah sakit."

Dokter Arman terbangun oleh suara Rahman, "Tidak perlu," jawabnya masih dengan wajah mengantuk.

"Istriku belum juga sadar dan kau tidak melakukan apa-apa, lihatlah," terdengar intonasi kecemasan dalam suara lemah Rahman.

"Aku dokternya, aku paham benar kondisi kakakku," balas Dokter Arman.

"Aku tidak bisa menunggu."

"Jangan sok tahu."

"Aku mengkhawatirkan istriku."

"Aku lebih mengkhwatirkan kakakku, berhenti seperti anak kecil."

"Kau yang bocah, mau menunggu sampai kapan?"

"Ini semua karena kau."

"Ini semua karena obatmu."

"Berhenti.." terdengar suara lemah diantara keduanya.

"Aku bawa istriku sekarang."

"Aku bilang tidak!"

Keduanya menghentikan pertengkaran sebab Hany, istri Rahman dan juga kakak Dokter Arman membuka perlahan matanya. Rahman segera mendekati ranjang, Dokter Arman mengeluarkan peralatannya untuk memeriksa kondisi kakaknya.

"Bisa tinggalkan kami?"

"Tidak. Dia istriku."

"Keras kepala. Aku ingin memeriksanya."

"Aku bisa tetap di sini."

"Kau akan menganggu."

"Aku tidak akan mengganggu."

"Kalau begitu, ambilkan minum untuk istrimu, kakakku pasti dehidrasi sebab terlalu lama tidak sadar."

Rahman akhirnya keluar kamar, menuju dapur, jalannya tertatih, kepalanya masih pening namun ada kelegaan luar biasa mengetahui istrinya telah sadar meski terlihat begitu lemah.

Dokter Arman menggeleng menatap wajah kakakknya, ia menggenggam jemari kakakknya.

"Kumohon, jangan lakukan ini lagi."

Senyum tipis memperindah wajah elok perempuan itu. Ia mengangguk.

"Meski hanya obat tidur, akan sangat berbahaya jika digunakan tanpa dosis."

"Aku tahu, harusnya aku menelan satu saja ya, bukan langsung dua."

"Aku terkejut kakak hanya tertidur tiga jam, menurut perhitungan seharusnya bisa semalam suntuk. Apa tubuh kakak baik-baik saja?"

"Aku merasa segar seperti bangun tidur, hanya tenggorokanku yang kering."

"Tunggulah, lelaki itu sedang mengambilkan air untukmu."

"Dia suamiku, kau seharusnya menghormatinya."

"Tidak lagi setelah apa yang ia perbuat terhadap kakak."

"Ini salahku."

"Tidak jika ia menurut untuk meminum obatnya."

"Kau tahu betapa ia tak percaya akan medis."

"Baiklah, setelah ini pastikan ia menelan obatnya sesuai dosis. Lelaki itu maksudku suamimu hanya butuh tidur cukup untuk meredakan sakit kepalanya. Terlalu banyak begadang mempengaruhi kinerja tubuhnya, jangan dibiarkan."

Hany tertawa kecil, "Jadi benarkan kau hanya memberikan pil tidur untuk suamiku."

"Iya, apalagi, dia hanya butuh tidur, bukan yang lain."

"Apa yang terjadi jika aku menelan pil yang bukan obat tidur?"

Mata Dokter Arman mendelik, "Kakak, kumohon, jika kau lakukan itu akan kubunuh suamimu."

Hany kembali tertawa, "Aku tidak bodoh pak dokter, aku tahu resiko sebelum melakukan ini dan semoga suamiku mau mendengarku setelah ini."

"Baiklah, kuberikan kau vitamin. Mengurusi lelaki itu eh maksudku suamimu memang butuh tenaga yang tak sedikit. Lain kali telpon aku sebelum melakukan hal semacam ini, paham?"

"Sejak kapan kau galak terhadap kakakmu ini?"

"Kurasa kakak tertular virus tak waras dari lelaki itu."

Hany tertawa, adiknya terlalu berlebihan. Bersamaan dengan itu masuk Rahman dengan segelas air putih di tangannya.

"Maaf, aku tidak mengambilkan untukmu juga," ujar Rahman saat Dokter Arman mengambilnya.

"Aku yang akan membantu kakakku minum," jawan Dokter  Arman ketus.

"Hei.. berikan padaku, aku bisa meminumnya tanpa bantuan kalian," ucap Hany memotong pertengkaran yang kembali tersulut.

"Baiklah kakak, aku pamit. Jaga dirimu."

Dokter Arman melewati Rahman, tatapan matanya terlihat berkobar, pelan ia berbisik, "Jika terjadi lagi aku akan buat perhitungan denganmu."

Rahman tak menjawab, ia menyadari kesalahan yang baru diperbuatnya. Ia menoleh, mengamati istrinya yang perlahan meneguk air yang tadi diambilnya. Bahkan jika nanti kesalahan itu terulang ia sendiri yang akan menghukum dirinya.



End.

Ateliya

"Hey siapa kamu?"

Seseorang yang sepertinya sedang sibuk di balik meja itu terkejut mendengar suara dari balik tembok. Tubuhnya bergetar, tamat sudah riwayatnya. Siapapun yang memergokinya bukan berita yang akan berakhir baik.

Perlahan ia membalikkan tubuhnya, menundukkan wajahnya, menyadari kesalahannya dan melawan bukan hal yang diinginkannya. Keluarga Kerajaan terlatih menggunakan senjata maupun bertarung tanpa senjata, meskipun ia juga terlatih namun sungguh tak ingin ada pertumpahan darah lagi.

Tidak ada siapa pun.

Apa ia berhalusinasi?

Sudah hampir tiga puluh enam jam ia berada di Ateliya ini, meracik ramuan untuk membebaskan ayahnya. Tuduhan yang diberikan oleh Bangsa Elvar sungguh keji, hingga membuat ayahnya terkurung dalam penjara bawah tanah dengan siksaan yang tiada henti.

Baiklah, mungkin seharusnya ia beristirahat sejenak, Putri Ascha tidak mengunjungi Ateliyanya selama tiga hari ini, ia sedang mengunjungi Kerajaan Grenville atas undangan Pangeran Leighton sampai satu minggu ke depan. Itulah sebabnya ia berani masuk.

Tidak.. ayahnya tidak bisa menunggu!

Ia kembali berkonsentrasi memilih bahan untuk meracik ramuan. Ada rencana besar yang sedang ia pikirkan.

"Jawablah pertanyaanku."

Suara itu tiba-tiba sudah berada di sampingnya, seolah hembusan angin lembut yang datang tanpa suara.

Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, tak ada siapa pun.

"Kumohon, keluarlah, aku akan mengakui semua perbuatanku," katanya lemah, putus harapan.

Ruangan bergeming.

"Baiklah, ijinkan aku memperkenalkan diri. Aku adalah Gardian dari Bangsa Elvar, ayahku ditahan atas tuduhan kejahatan yang tidak dilakukannya. Tidak ada yang mampu melawan keputusan raja. Tapi aku.. aaa... kuu... tidak mau menyerah begitu saja."

Hembusan angin semakin kuat. Tiba-tiba sebuah botol dengan cairan biru terangkat ke udara.

"Ambillah, ramuan itu mampu membantumu membuat lorong menuju jeruji besi, keluarlah melewati lorong itu, jeruji besi telah dikelilingi mantra sihir, tak ada yang mampu membukanya selain Para Magus."

Tanpa berpikir dua kali ia sedikit melompat untuk mengambil botol tersebut, "Terima Kasih, bantuan anda tak akan saya lupakan."

"Tunggu.."

Langkahnya tertahan, "Apa?"

"Simpan baik-baik ramuan itu, berhati-hatilah saat menunggangi GADYA."

Ia mengangguk, bersiap untuk keluar dari Ateliya, rencana besar di kepalanya akan segera terwujud.


"Satu lagi," suara itu menggema ke seluruh ruangan.

"Apa lagi?"

"Kembalilah segera setelah pekerjaanmu selesai, ramuan itu tidak diberikan percuma."

Ada hawa dingin yang merasuk, membekukan seluruh persendiannya namun ia tidak punya pilihan lagi, saat ini ayahnya lebih penting di banding apa pun termasuk nasib dirinya di masa depan yang entah membuat perjanjian dengan makhluk semacam apa.

"Aku pasti kembali."




-----

Ateliya : Bengkel tempat seorang Alkemis bekerja.

Gadya : Gajah Raksasa yang mampu berjalan melintasi sungai dan hutan, sehingga banyak digunakan untuk transportasi di Kerajaan Lavanya yang wilayahnya dialiri sungai.

Ide cerita ini diambil berdasarkan Tetralogi Ther Melian ( Chronicle).

Biar Kuminum Obatmu 3

Sebelumnya...

Rahman lega bahwa istrinya baik-baik saja, ia berniat untuk kembali ke kamar saat tubuh istrinya rubuh, tak sadarkan diri. Cemas melingkupi, berharap seseorang di seberang menjawab panggilannya, segera. Selengkapnya di sini .


***

Dokter Arman tergopoh menuruni mobilnya, di tangan kirinya tergenggam tas kotak hitam berukuran sedang. Ia membuka pintu rumah Rahman dengan tangan lainnya.

"Dimana kakakku sekarang?"

Dokter Arman adalah adik dari istri Rahman, ia yang sebenarnya sedang rapat segera datang demi mendengar kakaknya tergolek setelah meminum obat yang seharusnya untuk Rahman.

"Di belakang, ruang setrika," jawab Rahman lemah, ia sama kalutnya dengan Dokter Arman.

Hanya hitungan detik, saat Dokter Arman membuka tas kotak hitamnya, mengeluarkan stetoskop dan memeriksa detak jantung kakaknya yang masih terpejam.

"Aku bawa kakakku ke rumahku," ujarnya tegas setelah mengetahui detak jantung kakaknya bergedup kencang tak beraturan.

"Tidak.. tidak akan kuijinkan," tolak Rahman.

"Aku akan membawanya, dengan atau tanpa persetujuanmu," Dokter Arman bersiap menggendong tubuh kakaknya yang tak berdaya.

"Dia istriku, ini rumahnya," cegah Arman.

Wajah Dokter Arman berubah sinis, matanya tajam menusuk ke arah kakak iparnya tersebut. Rahman tahu, ia telah gagal menjaga kakaknya wajar saja jika adik iparnya itu khawatir terhadap kondisi kakaknya.

"Maafkan aku, tapi ijinkan aku untuk merawatnya," lirih Rahman memohon.

"Kau sendiri masih sakit, bagaimana mungkin?," ledek Dokter Arman.

"Jika kau membawa dia pergi maka sakitku lengkap sudah, hanya menunggu waktu hingga aku membusuk dan mengering."

Dokter Arman menggendong kakaknya, melewati Rahman yang menunduk di samping lemari, pasrah.

"Hei, kau tak mau membukakan pintu kamar?"

Intonasi Dokter Arman menunjukkan segalanya, ia tidak akan membawa pergi istrinya. Ia masih mempercayainya untuk merawat kakaknya. Tubuh Rahman bergetar, tak ia pedulikan. Asal istrinya ada di sampingnya maka itulah obat sesungguhnya untuk dirinya.

Sekarang tertatih ia menuju kamar, membersihkan ranjang dari selimut berserakan, mempersilahkan Dokter Arman melakukan pengecekan ulang terhadap denyut nadi, detak jantung, sorot mata, warna lidah dan lainnya.

"Bagaimana?"

Dokter Arman menggeleng, "Tidak begitu baik."

"Kumohon lakukan apa saja untuk membuatnya sadar," suara Rahman bergetar panik.

"Berhentilah memohon, aku lebih ingin kakakku sadar dibanding siapa pun. Lagipula, bukankah kau tidak percaya pada tenaga medis?"

Pertanyaan Dokter Arman membuat Rahman bungkam, istriku tidak sadar karena meminum obat, itu berarti dia hanya bisa disadarkan oleh pembuat obat itu. Ya, siapa lagi kalau bukan tenaga medis. Ini tidak seharusnya terjadi jika tak ada obat-obatan di rumah, kan?

"Aku akan tinggal di sini," lanjut Dokter Arman.

"Silahkan, anggap rumahmu sendiri. Akan aku ambilkan minum."

"Tidak perlu, aku bisa mengambilnya sendiri."

Dokter Arman menyelimuti tubuh kakaknya, menunggu dengan tenang di pinggir ranjang. Arman berdiri lemah bersandar pintu, ingin sekali ia mengenggam tangan lemah istrinya, menunggu berapapun lama istrinya akan sadar, namun ia tahu adik iparnya sedang dalam keadaan tak percaya padanya.

Bangunlah, setelah ini aku akan meminum obatku.


Bersambung...


 

Tiada Bermaksud

Kulihat ia berubah garang
Sedikit merasa terancam
Maka siap untuk menerjang

Bukan...
Bukan sifat asli dirinya
Namun naluri sebagai bunda
Pelindung utama
Bagi anak-anaknya

Ada sembilan
Semua sama, seolah tak ada beda
Berlari riang
Berkeliling ladang

Aku tak sengaja
Hanya ingin mengambil daun salam
Untuk mengharumkan
Nasi gurih yang kutanak

Sedikit meloncat
Saat si kecil berteriak
Terkejut akan hadirku yang tiba-tiba
Dan aku tak sanggup menghindar
Saat ibunya datang
Mematukku dengan paruh tajam

Maafkan..
Sungguh, aku tiada berkeinginan
Untuk melukainya

Maaf ya ayaam..

Ketika Mamah Tak Di Rumah

Ada senyum yang mengembang saat hendak memulai cerita ini. Bukan.. jelas bukan untuk menertawakan bapak, tapi lebih teringat kamu, iya kamu yang selalu repot memaksa bahwa setiap perempuan harus pandai memasak.

Kalau perempuan harus bisa memasak maka setiap lelaki harus pandai dalam membetulkan peralatan listrik di rumah, begitu kan?

Nah, masing-masing memang harus memiliki keahlian yang saling melengkapi agar seimbang menjalankan bahtera rumah tangga yang penuh lika-liku.

Dulu saat Bapak dan Mamah berpisah kota, beliau menjadi koki di rumah. Saat itu aku masih kecil, jadi apa pun yang di masak pasti di makan. Mengesampingkan rasa sebab perut kosong adalah koki terbaik, begitulah. Tidak buruk, bisa dimakan, tidak bikin sakit perut terlebih mengenyangkan.

Lalu saat Tuhan Yang Maha Baik mempersatukan kami, Mamah mengambil alih tugas rumah tangga. Aku dan seluruh anggota keluarga mulai mengonsumsi makanan sehat bernutrisi, hhee kalau Bapak yang penting perut tidak lapar. Perlahan kami menjadi anak-anak yang tumbuh sehat, bertenaga dan lebih bersih.

Jumat lalu berita duka datang dari Bandung, Kakak Mamah meninggal akibat pecahnya pembuluh darah, semoga Allah meringankan siksa kubur pakdhe, aamiin. Aku sedikit terkejut saat pulang kerja bahwa Mamah memutuskan untuk berangkat hari itu juga walaupun tidak dapat melihat jenazah pakdhe.

Adikku yang sampai rumah terlebih dahulu sudah membeli lauk untuk makan, malam ini kami tidak akan kelaparan.

Malam menjelang tidur, aku dan adik sering bercerita mengenai banyak hal. Termasuk mengomentari nasi putih yang kami makan.

"Ini yang masak Bapak loh, Mbak."

"Iya kah? ohh ya."

"Tadi pas aku ambil nasi Bapak bilang klo nasinya kebanyakan air."

Masing-masing dari kami tersenyum penuh arti. Aku dan adik selalu pulang mendekati magrib setiap harinya, Bapak yang begitu pengertian paham betul bagaimana lelahnya kami juga lapar yang mendera. Jadi beliau sebisa mungkin menyiapkan apa yang biasa mamah siapakan. Memang biasanya hanya nasi nanti lauk kan bisa beli.

Nasi yang dimasak pun melalui rice cooker, tapi ya itu.. Bapak lupa bagaimana cara menakar kebutuhan air agar nasi sempurna matangnya. Maklum, beda jenis beras beda jumlah airnya dan kalau tidak biasa ya pasti sedikit kesulitan, hhee.

Tenang ya Pak, besok biar Ani yang masak nasi. Untuk urusan lauk, kita tetap beli dulu yah, hhii.

Sayang Bapak..


Kepingan Rasa Puzzle 22

Baca puzzle sebelumnya di sini


Gelengan lemah ditunjukkan Dania, dari sorot matanya jelas terpancar sikap prihatin yang teramat. Aku menunduk. Genggaman tangan Agni tak mampu merubah apa pun, semuanya jelas, siapa yang tidak membawa buku paket, keluar dari kelas.

Pak Arif memasuki ruang kelas, suasana hening seketika. Masing-masing dari kami, kecuali aku, mengeluarkan buku paket serta perlengkapan lainnya ke atas meja. Guru Kimia yang tak mau waktu terbuang percuma. Raiya meremas jemarinya sendiri di seberang meja, ia jelas tahu kekhawatiran yang kurasa.

"Selamat pagi, Anak-anak," suara beliau menggema di dalam kelas, membuatku sesak untuk mengambil oksigen.

"Pagi, Pak," teman-teman menjawab, tentu aku bukan diantaranya, ada yang mencuri kemampuanku untuk melakukan itu.

"Baik, sekarang kita lanjutkan pelajaran."

Demi mendengar Pak Arif mengatakan hal itu, keringat dingin telah muncul satu dua di dahiku.

"Kita akan mengahapal letak unsur dalam periode dan golongan."

Teman sekelas mengeluh, sebanyak itu? 

"Tidak perlu panik, Bapak akan senang hati memberikan trik untuk mudah menghapalnya. Sekarang buka buku paket kalian halaman 63."

Suara lembaran-lembaran kertas dibuka menguap ke udara, mengiris telingaku, hanya menunggu waktu hingga Pak Arif menyadari ada siswanya yang tidak disiplin.

"Alvin..."

Orang yang merasa disebut namanya terkejut, pastilah akan ada pertanyaan setelah ini.

"Terletak di periode dan golongan berapakan unsur perak?"

Hening, tak hanya Alvin tapi semua murid sibuk mencari jawabannya. Sepuluh detik berlalu dan Alvin masih sibuk menelusuri tabel dengan banyak unsur di hadapannya.

"Dulu, sewaktu Bapak menjadi murid seperti kalian, malam sebelumnya sudah membaca materi untuk esok hari. Itu yang dinamakan bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Memangnya kepintaran kalian itu tanggung jawab guru? kalian sendiri yang harus memperjuangkannya. Paham?"

Satu dua menjawab paham dengan intonasi rendah, sisanya hanya manggut-manggut, mengiyakan.

Pak Arif memulai ritualnya, beliau harus memastikan semua murid lengkap membawa semua yang dibutuhkan untuk menunjang pelajaran. Berjalan mengitari seluruh kelas. Meskipun kami lengkap membawa buku paket, buku catatan, dan buku tugas sekalipun tetap saja jantung serasa berdetak lebih cepat setiap Pak Arif melewati meja.

Aku menelan ludah, hanya hitungan menit Pak Arif akan sampai di mejaku. Agni tertunduk, padahal ia lengkap, harusnya tak perlu khawatir.

Tak ada yang aku lakukan, mengecek ulang ke dalam tas jelas tak mungkin. Tadi teman-temanku sudah memastikan bahwa buku paket itu tidak berada di sana, jika sekarang kuulangi berpuluh kalipun tidak ada gunanya. Bahkan mungkin malah membuat gaduh.

Kepastian akan di keluarkan sudah di depan mata, tak terelakan. Aku memukul pelan kepalaku, kenapa harus terulang lagi kejadian memalukan seperti ini?

Dulu, aku pernah lupa membawa tugas rumah, itu karena nenek sedang dirawat di rumah sakit. Sebenarnya bukan tidak mengerjakan tapi buku tugasku tertinggal di rumah, aku berangkat ke sekolah dari rumah sakit, benar-benar tidak menyadarinya saat itu.

Bu Yayuk meminta ketua kelas untuk mengumpulkan buku tugas kami. Aku menggeleng lemah saat buku itu tidak ditemukan di dalam tas, dan tak perlu mengulang perintah untuk menurut saat Bu Yayuk menyuruh siapa saja yang tidak mengerjakan untuk keluar kelas.

Matematika adalah pelajaran kesukaanku, jadi tidak mungkin aku tidak mengerjakannya. Buku tugasku tertinggal, seandainya tahu sejak awal pasti akan aku kerjakan segera. Tidak terlalu sulit, aku masih hapal caranya, tidak butuh waktu lama, sayangnya semua terlambat.

Empat puluh lima menit aku habiskan di lorong sekolah, menerka-nerka bagaimana Bu Yayuk menjelaskan tentang rumus baru, aku pasti tertinggal. Aku menunduk, mau bagaiamana lagi.

Satu dua teman beda kelas menyapaku, menanyakan ada apa, aku mengangkat bahu lemah, mereka hanya tersenyum simpati. Tak apa-apa, sekali-sekali menjadi anak nakal, itu menyenangkan. Aku tak membalas.

Jika para guru yang lewat mereka sebentar akan memberikan wejangan agar aku tak mengulanginya lagi, aku patuh, dalam hati berjanji untuk lebih disiplin.

Sekarang? Aku melanggar janjiku sendiri.

Pak Arif tiba di meja Dania dan Raiya, satu tengokan saja beliau akan mendapati bahwa hanya ada satu buku paket di mejaku dan Agni. Yang bisa kulakukan hanya bersiap untuk keluar kelas.

Dalam gerakan slow motion Pak Arif menghadapkan tubuhnya ke meja kami, bola matanya mengecek satu persatu apa yang seharusnya ada di situ. Baru kusadari aku berhenti bernafas, detik-detik seluruh kelas mengetahui sikap tidak disiplinku.

"Cili.. buku paket kimiamu terjatuh, ini aku ambilkan."

Pak Arif geleng-geleng melihat itu semua, "Ayo segera di buka halaman yang Bapak sebutkan tadi.

Bukan... itu bukan buku paketku, buku paketku tersampul rapi, sedang ini tidak tersampul, ini bukan buku paketku. Tapi seseorang di belakangku yang mengangsurkan buku paket itu melotot seolah menyuruh untukku mengambilnya segera. Bagaimana bisa ia mengorbankan diri, menggantikanku untuk keluar kelas?

Pak Arif berjalan ke meja selanjutnya, ke meja dimana orang itu seharusnya tahu konsekuensi dari perbuatannya. Buku paket kimia itu sudah ditanganku, ia malah tersenyum, seolah di suruh keluar kelas bukanlah hal yang menakutkan.

Gilang.


Rumah Sengketa

Mawar kecil tak begitu peduli saat tembok bata setinggi dua meter di bangun di belakang rumahnya. Ia asyik saja bermain di gundukan pasir yang serupa bukit, mengamati pekerja yang lalu lalang dengan ember berisi adukan semen, gerobak penuh batu bata juga sekop yang berbuntuk lucu, seperti sendok namun yang ini lebih besar bentuknya.

Ketika tembok selesai di bangun, Mawar kecil juga belum mengerti, yang ia tahu ayahnya harus mengambil air dengan jalan memutar menggunakan kedua ember, masing-masing ditangan kanan dan kirinya. Ia asyik saja melewati jalan memutar jika nenek mengajaknya mandi. Berlari riang di jalanan kampung, lebih sering bertemu dengan para tetangga, menyenangkan sekali.

Saat seragamnya berubah menjadi putih biru, perlahan ia jelas memandang arti dari tembok dua meter itu. Tentang ayah yang setiap saat harus mengangkut ember berisi air, tentang nenek yang mengangkut panci-panci besar untuk di cuci.

Ada penyekat antara rumah kami dengan sumber air.

Mawar yang mulai beranjak dewasa tak banyak tahu apa yang terjadi, ayah tak banyak bercerita, nenek bungkam dengan penyakit liver yang mengambil seluruh cerianya.

Ia mulai membantu ayah mengangkut air dalam ember, berat? Itu pasti namun sebuah kepastian pula bahwa air adalah kebutuhan pokok mereka.

Jarak sejauh dua ratus lima puluh meter yang harus ditempuh sungguh-sungguh menyiksa, terlebih kau harus bolak-balik melakukan hal itu. Rasanya sempurna bahagia saat tandon-tandon dalam rumah penuh terisi air namun lelah menjalar di awal saat tandon itu kosong tanpa sisa.

Ada hal yang membuat segalanya tidak mudah. Air-air yang harus diangkut hanya memiliki satu jalur. Melewati seratus meter jalan tengah kampung berbelok dan sisanya harus sedikit berlari, jalanan itu di depan rumah yang sekaligus jalanan utama. Banyak orang yang berlalu lalang, malu jika teman-teman sekolah melihat.

Pernah suatu ketika di rumah ada tamu, tidak bisa menunggu mereka pulang,  jadi air harus diangkut menembus kebun tetangga dan dinaikkan melalui jendela setinggi satu setengah meter. Apa pun asal kebutuhan air terpenuhi.

Ibu akhirnya memutuskan untuk bergabung bersama membawa serta kakak sulung Mawar juga adik bungsunya, bersatu setelah terpisah beda kota, itu setelah nenek menyerah melawan penyakitnya, Tuhan mengajaknya kembali pulang.

Tak banyak berubah, bertahun-tahun tetap mengangkut air, buru-buru setelah tikungan, menghindari kepergok oleh teman (ini bisa disiasati, dengan mengisi tandon saat siang hari, ketika teman-teman menikmati tidur siang). Jadi jangan tanya betapa legamnya Mawar saat itu, tapi itu banyak membantu batinnya dari kekhawatiran cemoohan teman-teman yang tidak terbukti, tak ada yang mengejeknya, teman-teman Mawar baik semua.

Mawar yang sudah remaja perlahan mulai bertanya ada apa, ayah tetap diam, ibu menggeleng, beliau tidak tahu duduk persoalan karena memang ayah tak banyak mengungkit soal itu. Perlahan semua pertanyaan terjawab, rumah yang mereka tempati adalah rumah sengketa. Ayah menolak pindah, ibu menurut pada ayah, dan baru disadari Mawar beserta keluarga tidak pernah bertegur sapa dengan tetangga sebelah mereka, Pak Lurah, Kepala desa mereka, juga keluarga mereka.

Itu menjawab mengapa kamar mandi tidak diijinkan untuk di bangun dalam rumah, sumber air di tutup dan segala kebungkaman ini.

Mawar bisa apa? Ia tidak banyak melakukan hal-hal berarti, baginya bersatu dengan ibu juga adik dan kakaknya memberikan energi luar biasa untuk menghadapi ini semua.

Seragam Mawar sudah berganti dengan putih abu-abu ketika eyang kakung, sebutan untuk Pak Lurah desa meninggal akibat penyakit yang sama dengan yang nenek derita.

Tubuhnya yang dulu pendek, legam juga rambut terbakar matahari sedikit berubah meski ritual pengambilan air tetap berjalan, Mawar mulai tak peduli jika Wawan-teman satu kelas yang tinggal di desa sebelah mendapatinya melakukan hal itu sore hari, Mawar akan tersenyum dan mengangguk menjawab sapaan. Mawar tidak bisa lagi melakukannya siang hari, ia telah menyibukkan diri dengan banyak ekstrakulikuler dengan konsekuensi seperti ini.

Wawan teman yang baik, ia tak pernah menceritakan apa pun mengenai Mawar kepada teman-teman sekelas. Diam-diam Mawar berterima kasih untuk itu.

Ibu memutuskan untuk berdamai, meski ayah masih diam, beliau tak ingin mewarisi permusuhan kepada keturunannya, sengketa ini tak boleh memutuskan tali silaturahmi kepada anak-anak yang sebenarnya tak paham apa yang terjadi. Ayah diam saja saat ibu mengajak untuk sungkem dengan eyang putri saat lebaran. Mawar dan anak ibu ikut semua, menurut pada ibu.

Waktu berjalan dan entah bagaimana ayah membuat saluran air menuju rumah kami, Mawar tak tahu sudahkan ayah meminta ijin untuk melewati kebun eyang atau belum, yang pasti Mawar tidak perlu lagi mengangkut ember dan menahan malu saat berpapasan dengan teman-temannya.

Lihat, Mawar kini tak lagi legam, tubuhnya tinggi menjulang, menarik Mbak Yuyun untuk mengajaknya bergabung menjagi pramugari sebuah maskapai. Mawar menolak, alasannya jelas, tumbuh rasa malu dengan keadaan keluarganya. Seluruh desa tahu sengketa itu, sengketa tak berujung yang entah kapan akan selesai. Kedua belah pihak menolak untuk berunding. Mungkin dulu sudah pernah dan gagal sehingga tak ada niat untuk mencoba kembali.

Mawar hanya tersenyum getir saat senior pecinta alam membanggakannya di depan adik tingkat,

Nih, kakak tingkat kalian meskipun tubuhnya kurus namun dengan tas carierr berisi muatan penuh, ia dapat berdiri di puncak gunung.”

Dulu, mendaki gunung belum menjadi viral seperti saat ini. Mendaki gunung belum dipandang sebagai kegiatan yang menyenangkan sebaliknya menyeramkan karena melintasi hutan, mendaki jalur terjal juga berita-berita mengerikan laiinya yang membuat orang tua bergidik.

Semua mata memandang pada satu titik, Mawar.

Kenapa? Karena ia memiliki tekad untuk mengalahkan egonya, berjuang hingga tujuan akhir tercapai.”

Kalian tidak tahu, aku melakukan pemanasan setiap pagi dan petang, menjaga pasokan air dalam rumah. Tentang fisik kuat, kalian tahu dari mana. Mental kuat? Sudah terbentuk saat hatiku berdamai dengan keadaan. 

--------
Ditulis terburu-buru, berlomba dengan rasa sesak yang menjalar. Berdamai dengan keadaan ternyata tak banyak membantu saat kenangan itu harus kembali diingat.

Kita Ini Teman

Biasa saja, iya memang lelaki itu biasa saja, tak ada yang bisa dibanggakan darinya, mungkin, biasa saja.

Tingginya hanya 160 cm dengan tubuh penuh tato berwarna, aku pernah mendengar darinya langsung bahwa keinginan terbesarnya adalah mewarnai seluruh tubuhnya, “Perut juga?” tanyaku iseng.

“Iya.”

Kurus, cenderung tidak berisi.

Badannyapun tidak begitu tangguh, jika ia harus bekerja lembur berturut-turut selama dua hari maka siap-siap surat ijin dokter yang akan menggantikan kehadirannya di tempat kerja. Itulah mungkin ia selalu menolak untuk lembur, mengesampingkan cemoohan teman-teman yang siap sedia pulang larut, mereka kan tidak tahu.

Anehnya, ia doyan sekali minum es, entah pagi, siang hingga malam. Pernah aku memesan teh panas, kebetulan ia berada di situ, kayak nenek-nenek pesannya panas. Aku tak peduli.

Kepulan asap rokok juga menemani kala waktu istirahat siang, aku tak berkomentar.

Lucunya ternyata ular, salah satu hewan melata yang kadang mampir ke tempat kerja kami begitu ditakutinya.

“Dih, sapa yang takut, geli ihh,” lalu menjauh tanpa mau menengok lagi.

Tak habis pikir, banyak keunikan yang tergabung dalam dirinya terlepas dari penampilannya, ia tetap teman kami.

Akhir-akhir ini wajahnya yang putih sedikit bercahaya entah kenapa, aku yang sering mengitari ruangan mendapatinya tengah tersenyum, tak tahu ditujukan kepada siapa.Waktu itu ia baru saja datang bersama mobil muatan.

“Istirahat dulu,” ujarku saat melewatinya.

Aku melihat itu, saat ia tak mampu menjawab beberapa saat, Kenapa? Terkejut?

Mungkin iya, tidak menyangka ada seseorang yang memperhatikannya setelah sekian lama dianggap tidak ada. Hey, kita berteman.

Ia tersenyum lalu canggung mengucapkannya, “Tumben ngingetin, perhatian banget.”

“Abis ini berangkat ke Jogja loh,” kembali aku menimpali.

Ia berlalu dan tersenyum.
Kawan, pertemanan bukan berdasar fisik semata. Kau tidak serta merta mampu mengubah orang sesuai kehendak, ada tembok masa lalu kokoh yang harus dilalui agar mampu berdamai dengan keadaannya, tapi tolong, bukan dengan menghancurkan tembok itu, bukan.


Atas Nama

Aku sudah di depan meja sirkulasi saat menyadari kartu anggota perpustakaanku tidak ada. Mengembalikan buku memang tidak perlu menggunakan kartu anggota, namun ada dua buku lain yang harus aku bawa pulang. Buku itu sebagai tiket penerbangan selanjutnya untuk petualanganku ke bulan.

Untung saja petugas perpustakaan yang bertugas sedang tidak di balik meja, dia ada di dalam gudang buku, mengambil sesuatu. Jadi perlahan aku menyingkir untuk mencari kembali kartu anggota, mungkin di dalam tas. Dari dua bagian tidak ditemukan, di dalam dompet hanya penuh kertas-kertas transaksi ATM, nihil.

Pelan-pelan aku mengingat kembali terakhir menggunakan kartu anggota adalah seminggu yang lalu setelah itu sembarangan saja memasukkannya ke dalam tas, tidak mengembalikan ke dalam dompet. Tas itu bukanlas tas yang aku bawa sekarang, jadi kartu anggotaku sebenarnya tidak hilang tapi tertinggal di rumah di dalam tas yang berbeda.

Hufffftttt....

Tidak rela rasanya mengembalikan tiket penerbanganku, ada dua alasan. Pertama aku tak sabar ingin segera melanjutkan perjalanan, yang kedua belum tentu besok tiket ini bisa kembali ke tanganku, bagaimana kalau orang lain sudah mengambilnya lebih dulu?

Aku terdiam, menoleh ke kanan dan kiri, mencari bantuan, entah kepada siapa.

"Hai..."

Sedikit terlonjak dari tempat duduk, kalian tahu siapa? Dia yang mengenalkanku pada tiket penerbangan juga pernah mengajakku masuk ke dunia dua bulan, ingat? Baiklah, coba buka memori di sini.

"Nglamun?" katanya sembari menaik turunkan tangannya di depan mukaku.

"Eh, enggak. Lagi cari jalan keluar," jawabku lesu.

"Wah susah tuh, kalau jalan Songgolangit di depan perpus, kalau jalan keluar di mana ya?"

"Berhenti bercanda."

"Haisshhh, wanita... kenapa mudah sekali kaummu membuat lawan bicara merasa bersalah? Padahal aku sedang berusaha menghiburmu."

Aku tersenyum demi melihat wajah melasnya.

"Jadi ada apa?"

"Aku tidak bisa memesan tiket," ujarku seraya menunjukkan dua buku dalam genggaman.

"Ohh."

Haa? hanya itu tanggapan dari masalahku. Menyebalkan.

Kulihat dia melirikku, lalu tertawa.

"Ssstttt, ini perpustakaan."

Buru-buru ia menutup mulut, "Mana bukumu."

"Mau apa?" aku menolak memberikan.

"Jalan keluarmu ada di tanganku."

Aku tak paham dengan maksudnya.

"Ya sudah kalau tidak mau," dia beranjak.

"Tunggu, setidaknya jelaskan dulu mau diapakan tiketku?"

"Aku pesankan atas namaku."

Tak peduli dengan gaya sok pahlawan itu, mataku berbinar, hai kamu kenapa selalu ada saat aku butuhkan? Terimakasih ya.

 

Biar Kuminum Obatmu 2

Sebelumnya...

Rahman tak menyangka bahwa istrinya benar-benar meminum obat yang ia sendiri menolaknya. Sekarang ia menuju ruangan dimana yakin istrinya berada setelah menghilang dari kamar dengan mata penuh genangan. Selengkapnya di sini .


***

Ruangan ini cukup luas, berada di samping dapur dan dekat dengan taman belakang rumah. Tempat baju-baju di jemur jika hujan turun sekaligus tempat menyetrika setiap pakaian. Ada tali panjang sebanyak tiga buah yang melintang dari ujung barat ke timur, tempat mengaitkan hanger, lalu palang besi yang biasanya sangat berguna jika musim hujan tak segera mengeringkan pakaian.


Di pojok ruangan terdapat meja setinggi sau meter yang digunakan sebagai alas menyetrika, dilengkapi dengan botol pengharum dan pelicin pakaian di ujung meja. Saat ini kabel setrika berada sempurna di tengah meja, sedang tidak digunakan.

Di tengah ruangan terdapat baju-baju yang rapi tertata, di pisah berdasarkan fungsinya, kaos untuk santai, jilbab, baju tidur, dan lainnya sedang untuk baju formal tergantung rapi di dalam lemari merapat di dinding.

Rahman tersenyum penuh syukur, istrinya sedang melipat pakaian dan bersandar di tembok. Sedikit rasa salut sebab pekerjaan rumah selalu rapi diselesaikan terlebih saat dirinya tengah butuh perhatian ekstra.

Perlahan ia mendekat, duduk di samping istrinya, menyeka peluh di dahi dan menarik napas teratur.

Hening. Tak ada yang memulai percakapan.

"Apa kau baik-baik saja?," Rahman membuka suara.

Istrinya diam, tak menoleh sedikitpun, tetap melanjutkan melipat kaos yang baru saja kering, warna merah yang kemarin baru dipakainya.

"Kau itu seperti anak kecil, tidak lucu, keterlaluan."

Rahman hanya bermaksud mengatakan bahwa hal yang dilakukan istrinya seharusnya tidak terjadi.

Istrinya masih diam.

"Lihat, obat itu tidak bekerja bukan?"

Tak ada sahutan.

"Kenapa tak sedikitpun kau percaya bahwa para tenaga medis itu hanya melakukan bisnis semata."

Sebenarnya rasa canggung melingkupi Rahman namun ia cukup lega melihat istrinya baik-baik saja, kemudian ia memutuskan untuk kembali ke kamar, menutup mata sejenak sebab pening kembali hadir membuat dunianya berputar.

"Istirahatlah, baju sebanyak ini tak perlu kau selesaikan sekarang juga."

Rahman beranjak, menopang tubuhnya dengan berpegangan pada lemari pakaian. Belum sempurna ia berdiri, tubuh istrinya telah rubuh ke sisi kiri, matanya terpejam dan tangannya masih menggenggam baju merah yang selesai dilipat.

Pening yang dirasakan Rahman menguap seketika, ia tak butuh pegangan lagi, tubuhnya kembali ke lantai, tangannya sibuk memindahkan tubuh istrinya agar dapat berada dalam pangkuannya.

"Dek... Dek... kenapa?"

Sama. Pertanyaan yang kesekian, tak ada jawaban.

Kali ini ia benar-benar takut, bingung, tak tahu harus berbuat apa. Tangannya lembut membelai pipi istrinya, memanggil berulang namanya, berusaha menyadarkannya.

Dua puluh detik yang sia-sia.

Susah payah ia membenarkan posisi istrinya di atas karpet, tak mungkin menggendongnya lebih jauh, ia tak memiliki tenaga. Sisa tenaganya ia gunakan untuk melesat mencari ponsel, menekan tombol tertentu dan sekali lagi, menjambak rambut-rambutnya menunggu seseorang di seberang sama menjawab panggilan.


Bersambung...


Kepingan Rasa Puzzle 20

Baca puzzle sebelumnya di sini


Pagi ini cerah, awal yang baik untuk memulai hari dengan senyum merekah. Aku datang ke sekolah bersama ayah, kalian mau tahu apa yang terjadi di rumah? ahh, sayang sekali aku sedang tidak ingin membahasnya, mungkin lain kali akan aku ungkapkan.

Setelah mencium takzim tangan ayah, memohon restunya juga berjanji tak akan berbuat yang aneh-aneh aku melangkah ke kelas. Suasana sekolah masih lengang, belum banyak siswa yang datang begitu juga dengan guru-guru.

Eh, itu Agni bukan ya?

Setelah yakin bahwa pandanganku tidak salah, aku berlari kecil menghampiri teman satu bangkuku di depan kelas X.

"Hey, Ci," Agni menyambutku dengan tangan terbuka, aku memeluknya, merasakan dekapan kehangatan di dinginnya pagi ini.

"Sedang apa?"

"Nanti pulang sekolah kita akan main tali, sekarang sedang mempersiapkan semuanya."

"Main tali?" aku mengamati sebuah pohon besar yang berdiri kokoh di depan kelas XH. Ada seseorang di atas pohon dengan tali-temali.

"Iya, latihan biasa saja, kau harus lihat nanti, oke?"

Baiklah, tak ada pandangan sedikitpun tentang ini. Main tali di pohon? jangan-jangan mereka hanya sedang buat ayunan? ahh tidak mungkin, itu aneh.

"Anggaa...." Agni memanggil nama yang ternyata adalah orang yang berdiri di atas pohon, "Ada yang kurang tidak?"

Orang yang bernama Angga mengacungkan jempolnya, Agni mengangguk.

Karena hari masih pagi aku memutuskan bergabung bersama Agni juga beberapa kawan dari ekskul pecinta alam. Hanya duduk-duduk saja di sembarang tempat, menanti Angga selesai dengan tugasnya sesekali Agni berbincang santai mengenai rencana nanti pulang sekolah dengansatu dua temannya.

Tak lama Angga turun, menghampiri Agni, "Beres, semoga tidak hujan ya."

"Iya, aamiin."

"Eh, temen kamu? kenalin atuh," aku sedikit terkejut saat Angga tersenyum ke arahku.

"Oh, ini Ciani, dia penasaran banget sama kegiatan ekskul kita," terang Agni menoleh ke arahku lalu ke Angga.

"Hai Ci, aku Angga, pegang SRT, satu team sama Agni."

"Hai, keren, aku ga ada pandangan sama sekali tentang tali yang tergantung di atas pohon," jawabku jujur.

"Nanti Ciani diajak ya Ni, tenang aja aku yang akan jelasin satu persatu ke dia," pinta Angga disertai cengiran lebar.

"Yee, nanti tugas ga ada main-main," seru Agni galak.

"Iya-iya, memperkenalkan kegiatan kita kan tugas juga," balas Angga.

Aku terkikik menonton mereka bertengkar, "Nanti aku lihat saja kalian main tali yah, ga usah di jelasin."

Angga buru-buru meralat pernyataanku, "Oh tida-tidak, kau harus mencobanya, aku yang dampingin."

"Anggaaaa.... awas aja klo kamu macem-macem sama temenku," ancam Agni.

"Hhaaa, galak bener, ga seneng amat sih lihat temennya bahagia."

"Sudah-sudah, aku mau ke kelas aja deh," pamitku.

"Ikut Ci, oh ya nanti ikut pelajaran Ga, jangan dijadiin alesan buat ijin kan pasang anchornya udah selesi, jangan malu-maluin ekskul kita."

Angga menggaruk dahinya, "Iya siap."

"Eh Ci,"

Aku menoleh ke arah Angga, "Ada apa?"

"Nanti harus datang, aku tunggu yah."

Aku tersenyum, mengangguk, Agni melotot ke arah Angga yang segera kabur bergabung dengan teman-teman yang lain.

"Jangan galak-galak Ni," ucapku saat kami berjalan menuju kelas.

"Anak itu nyebelin Ci, setiap ketemu ngajak berantem mulu," kilah Agni.

"Hhii, tapi sepertinya kompeten."

"Iya, dia sebenarnya atlet panjat."

"Serius kamu?"

"Iya serius, beberapa piala terpajang di kantor guru atas namanya."

"Hebat-hebat, nanti aku mau lihat dia main tali."

"Iya, tapi Ci...."

"Apa?"

"Hati-hati ya."

Keningku berkerut, "Memngnya kenapa?"

"Nanti kamu terpesona lagi sama Angga, hhaaa...."

Agni berlari kecil menghindari cubitanku, aneh-aneh aja sih tuh anak.


***

Tak sabar rasanya ingin segera melihat Agni dan kawan-kawannya bermain tali, seperti apa sih, sekuat apapun aku membayangkan tak ada ide yang terlintas sedikitpun.

Jika biasanya aku tidak mau ke kantin, kali ini dengan senang hati aku bergabung bersama Agni, Dania dan Raiya. Menolak lebih lama melihat Gilang yang sepertinya akan menghabiskan waktu istirahat di kelas.

Istirahat berjalan menyenangkan, membicarakan banyak hal sembari menyeruput es teh dan makanan kecil pengganjal perut. Melemaskan ketegangan otot untuk selanjutnya nanti siap di isi kembali dengan pelajaran yang baru.

"Ke kelas yuk," Ajak Dania, semua menyetujui.

Kurang dari tiga menit bel akan segera berbunyi, kami bersiap di dalam kelas. Aku mengeluarkan buku-buku untuk kemudian di letakkan di atas meja, menanti Pak Guru memasuki kelas.

"Kenapa Ci?" Agni bertanya melihatku sibuk membongkar seluruh isi tas.

Aku tak menjawab, kembali mengecek setiap bagian dari dalam tas.

"Cari apa sih Ci?" Raiya mendekati meja kami yang disusul Dania.

Aku menyerah, menatap mereka satu persatu, "Buku paket kimiaku, ga ada."

Dalam hitungan sepersekian detik ketiganya terdiam, mencoba mencerna bahwa ini bahaya besar.

"Coba cari lagi."

"Yakin ga ketinggalan di rumah?"

"Pelan-pelan, aku bantu."

"Tenang Ci, pasti ada."

Suara-suara yang mereka ucapkan justru menambah kalut perasaanku, sampai-sampai aku tidak bisa berpikir tenang. Kemarin aku yakin sudah memasukkan semuanya ke dalam tas, tapi kenapa tidak ada? nah, aku sendiri meragukan keyakinanku.

Bel masuk kelas berbunyi, ketiganya menyerah, buku itu tidak ada, aku pasrah.


Coba Ulangi

Penyatuan bagian membuatku seolah-olah berada di tempat yang baru, benar-benar berbeda. Jika hampir tiga tahun hanya bertemu dengan kaum hawa kini jumlah kaum adam sama banyaknya.

Lebih hidup, itu pasti juga lebih membingungkan.

Aku telah terbiasa dengan segala hal secara transparan, sesama wanita memang lebih mudah untuk saling mengerti, entah, jalan pikiran lelaki itu sulit sekali dipahami.

Seperti saat ini, aku berdiri di samping mobil muatan, bukan untuk menggerakkannya tentu saja, tapi aku ada keperluan dengan peti kosong yang berada di sebelahnya. Tak ada ruang selain aku dengan peti kosong, jadi wajar jika seseorang yang lewat pasti meminta ijin berjalan di depanku.

Temanku yang satu itu memang terkenal tidak jelas dalam berbicara, malah mirip seperti bergumam. Terbukti aku tidak mendengar ucapannya, hanya samar-samar kata dengan akhiran -ng.

"Tadi bilang apa ya, Mas?" tanyaku tak lama setelah ia meminta ijin.

Temanku menoleh sebentar lalu sambil terus berjalan ia menggumam eh menjawab, "Ada deh, nanti kamu GR."

Lah.. aneh kan?

"Yee, ga dengar tadi."

Tak ada balasan, dia sudah jauh dan menolak berteriak untuk menanggapiku. Heem...

Jadi penasaran gini, temanku itu sering sekali memberikan sebutan baru untuk masing-masing dari kami. Sesuka hatinya, panggilan tidak menyakiti tentu saja, dia cukup sopan ternyata. Kata apa ya yang dia ucapkan untuk menyebutku tadi, tidak panjang hanya dua suku kata dengan akhiran -ng.

 Lamat-lamat aku mencerna menurut apa yang terdengar.

Sa...ya...ng.

 

Kamu dan Hujan

MARET-orang sepuh jawa bilang jika kepanjangannya adalah Mak Ret, maksudnya hujan yang turun hanya sebentar saja, segera reda. Tapi itu dulu saat musim hujan dan musim kemarau kentara sekali bedanya, sekarang? entahlah.

Seperti saat ini, aku baru saja selesai menunaikan salat ashar saat gelegar bunyi guntur terdengar. Sebelumnya angin bertiup kencang seolah ingin menerbangkan apa pun yang dilaluinya. Mendung pekat datang tiba-tiba, membuat kota Solo semakin mencekam. Tak lama langit menumpahkan muatannya dengan serta merta, tak ada gerimis, langsung deras.

Kawan, jangan lupakan jas hujanmu ya.

Cahaya kilat menjadi pertanda awal detik-detik suara guntur, seperti yang aku pelajari di bangku sekolah bahwa semakin terang cahaya yang ditimbulkan oleh kilat maka suara guntur akan semakin nyaring terdengar. Beberapa kali kami dikejutkan oleh kilau cahaya tersebut, membuat bibir tak henti melafalkan doa, memohon perlindungan.

Beberapa saat kemudian ketika semua indera terbiasa dengan hujan deras beserta petir juga kilat kami kembali ke tugas masing-masing. Sore, sudah agak longgar, banyak pekerjaan yang terselesaikan.

Aku melirik ponsel, tak ada sinyal, SOS. Baiklah. Padahal akan sangat tepat waktu aku menggoda seseorang di sana, seseorang dengan khawatir berlebih terhadapku, hhaa.

Entah apa yang membuatnya kalut saat aku mengatakan akan menikmati guyuran hujan tanpa menggunakan jas hujan, tapi akhirnya aku nurut saat dia melarangku. Meskipun bisa saja berbohong, toh dia juga tidak bakal tahu kan?

Hujan selalu membawa kesegaran yang berbeda, itu tidak serta merta membuatku lupa diri akan ketahanan tubuh yang sedang di bawah.

Hey kamu, tenang saja, perjalanan tiga puluh menit tidak mungkin aku lalui tanpa pelindung di bawah jutaan butiran air langit. Aku cukup waras untuk mengerti bahwa tak lama, mungkin sepuluh menit di awal tubuhku akan menggigil, mulutku membiru, tangan dan kakiku menyerupai nenek tua, keriput, dan pening menghampiri. Jika itu terjadi maka akan semakin lama aku tiba di rumah, jarak pandang yang mengkhawatirkan membuatku tak mampu beranjak dari angka 40.

Nah, jika suatu saat aku mengatakan akan membiarkan tubuhku diguyur hujan, maka itu tidak benar, keadaanku tidak memungkinkan untuk itu semua. Kecuali satu, ingin sedikit kau perhatikan, ups.



Tak Mungkin Lupa

Bioskop Solo Grand Mall ba'da magrib hari rabu, kan?

Baiklah, aku sudah sedia di sini sedari tadi, pukul lima lepas kerja dan hanya butuh sepuluh menit untuk sampai ke salah satu mall di Kota Solo yang masih ramai dikunjungi meski mall-mall baru telah banyak di bangun.

Kuurungkan niat untuk membeli tiket terlebih dahulu sebab kaumengatakan akan bersama membeli tiket, film yang diputar semuanya belum kutonton dan menarik minat juga begitu denganmu. Alasan selanjutnya jam tayang mungkin tidak akan cocok karena jarak rumahmu dengan mall ini lumayan makan waktu, takut ketinggalan di bagian awal.

Ahh ya, terimakasih ya sudah mau menuruti permintaanku.

Pagi tadi kau mengabarkan bahwa pulang dari perantauan dan meminta maaf sebab tak ada oleh-oleh untukku, tak apa, oleh-oleh bukan hal yang terpenting. Asal kaumengerti bahwa oleh-oleh hanya satu dari sekian cara untuk dapat bertatap muka denganmu. Aku rindu.

Sebagai gantinya kaumenawarkan apapun untuk mengobati kecewaku dan aku memintamu untuk menemani menonton film teranyar di bioskop.

Senang hati kaumengiyakan.

Bioskop adalah tempat dimana aku bisa lama berada di sampingmu, dalam diam, tak perlu canggung sebab tak mampu berkata apa-apa. Tidak perlu juga bingung menutupi rona wajah sebab gelap bioskop mengambil alih tugas itu.

Salat magrib aku tunaikan di mushola mall, yah meski harus berdesakan dengan ratusan orang yang juga berniat sama. Tak ada masalah dengan toilet ataupun tempat wudhu, hanya tempat salat yang kurang memadai menampung umat yang ingin tepat waktu menjalankan panggilanNya. Ngantri tak masalah.

18:30

Dimanakah dirimu berada?

Aku masih menanti, mungkin kelelahan dan tertidur hingga magrib harus dilaksanakan di rumah, barulah setelah itu menuju kemari.

Berniat menghubungi sekadar memastikan bahwa kau tidak lupa akan malam ini, tapi tidak jadi. Aku percaya kau ingat.

19:00

Ahh, aku sungguh tidak sabar bertemu denganmu. Terlalu cepat waktu yang digunakan untuk menempuh perjalanan sejauh dua puluh lima kilometer. Sebentar lagi, ya sebentar lagi kau pasti datang.

19:30

Belum, belum waktunya untuk gelisah, loket masih dibuka, jadwal pemutaran film terakhir masih nanti pukul 22:00. Bioskop semakin ramai dipadati oleh pengunjung, aku tak merasa kesepian. Hanya pendingin ruangan sepertinya bekerja terlalu keras hingga membuatku sedikit menggigil.

20:30

Baiklah, saatnya menghubungimu.

Telponku tersambung, namun tak ada jawaban. Pasti di jalan. Jadi aku hanya mengirimkan pesan bahwa aku masih menunggu di bioskop, khawatir kau menyangkaku pulang.

22:00

Apa kau terjebak macet?

Tak ada telpon darimu, pesanku juga tak terbalas.

Hei, loket sudah tutup, sepertinya kita undur yah nonton barengnya.

Aku menunggu gedung bioskop sepi setelah itu baru memutuskan akan pulang. Kulirik ponsel, tak ada berita darimu. Baiklah, aku pulang ya.

Oh ya, aku tidak marah, tenang saja. Aku tunggu penjelasan darimu ya, aku masih memiliki keyakinan bahwa kau tak akan membiarkanku menunggu lama, keyakinanku tidak salah kan?