Kepingan Rasa Puzzle 26

Puzzle sebelumnya di sini



Setelah memastikan Angga menghilang aku berniat untuk kembali ke kelas. Belum juga melangkah, Angga kembali muncul dan memanggil namaku.

Kepala penuh pertanyaan siap menyambut kedatangannya yang berlari kecil.

"Aku mau ngomong sama kamu."

"Ngomong aja Ga, ada apa?"

"Emm.. Ci, anu... Emm..."

"Kenapa sih Ga? Gugup gitu."

Agni muncul dari balik pintu bersama Dania dan Raiya, mereka berniat mencariku.

"Ahh, ada Agni, lebih mudah."

Dania dan Raiya saling berpandangan.

"Lama bener, mau ngomong apa sih Ga?" desak Agni yang penasaran.

"Gini, aku sungkan, tapi ini sebuah kebenaran."

"Cepet ngomong ihh," ujar Agni melotot.

"Tenang Ga, ngomong aja," kataku menetralkan suasana.

"Emmm..."

Angga berhenti sebentar, bungkam, Romeo melirik ke arah kami. Lalu ia menghilang, mungkin ke kantin.

"Oke, aku cuma nunggu itu anak keluar kelas."

"Eh, Romeo? Apa hubungannya?" Dania bertanya antusias.

"Gilang yang ambil buku paket kamu Ci, aku lihat sendiri tadi waktu istirahat."

Aku menggeleng cepat, tidak mungkin, buku paket kimiaku mungkin tertinggal di rumah.

"Jangan nuduh tanpa bukti loh Ga, jatuhnya fitnah."

Dania mengangguk, menyetujui ucapan Raiya.

"Kita cek, sekarang."

Agni adalah orang yang melangkah pertama kembali ke kelas diikuti Dania, Raiya, Angga dan tentu saja aku dengan perasaan tak menentu.

Tas Gilang sudah di atas meja, Agni mengeluarkan semua isinya di atas meja. Tak banyak, tapi diantaranya ada buku paket kimia yang tersampul rapi. Halaman pertama tertulis namaku dengan pena orange.

Aku menunduk, ada sembilu yang mengiris di hati, rasanya tak menentu. Semua bergeming. Angga tersenyum canggung, ia telah terbukti tidak asal bicara, bukti di depan mata.

Gemuruh di dada menggerakkan kakiku keluar kelas, menuju satu tempat dimana Gilang mungkin berada.

Dibelakang teman-temanku bingung harus bagaimana, sayup kudengar Angga menenangkan mereka.

"Aku yang temani Ciani, kalian di sini, jangan ikut, nanti tambah runyam."

Semua setuju, berlari Angga menyejajari langkahku yang tergesa. Dia diam saja di sampingku.

Di pojok ruangan kulihat Gilang berbincang dengan Romeo, tepat dugaan Angga. Tanganku mengepal, emosi menguasai, ini keterlaluan, tidak bisa dimaafkan.

Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri, aku tak sadar jika tiba-tiba tanganku melayang, menampar seseorang yang terkejut, tatapanku menghujam tepat ke dalam kedua matanya.

"Aku nggak mau ketemu kamu lagi. JANGAN GANGGU AKU LAGI, GILANG!"

Angga menarik lenganku, mencegahku berbuat lebih fatal nantinya. Terlebih banyak pasang mata siswa di kantin yang mengawasi kami. Seolah ini tontonan menarik bagi mereka.

Aku tak peduli, Gilang sudah melukaiku, terlalu dalam. Kebaikannya semu, entah bagaiamana bisa dia tega melakukan itu semua kepadaku.

Tetesan hangat membelah pipiku.

"Ci, kamu terlihat kacau."

Aku menggeleng lemah.

"Aku mau ke kelas."

"Enggak, jangan dulu, maksudku kamu nggak mungkin masuk kelas dalam keadaan kayak gini."

Aku diam.

"Kita ke basecamp pecinta alam yah, nanti aku telpon Agni untuk datang."

Aku mengangguk.

"Angga, makasih ya, kamu baik banget."

Angga tersenyum dalam anggukannya.

3 comments:

Yuk sampaikan dengan santun :D