Dongeng Tuan Putri Hujan


Seorang Tuan Putri berdiri di bawah rintik air langit, matanya menerawang jauh ke dalam hutan, ia tak beranjak meski hujan semakin deras. Dedaunan bergoyang mengikuti tiupan angin kencang, mungkin sebentar lagi akan ada topan, namun tak sedikitpun terlihat gerakan yang ia tunjukkan. Ada apa gerangan?

Pada saat yang sama dari dalam hutan Pangeran Marco muncul bersama rombongan berkuda kerajaan, seekor kijang dengan panah menancap memberitakan akan keberhasilan berburu siang ini. Dimana kali kedua Raja Mulia mengijinkan anaknya untuk berburu. Usia 17 tahun dianggap cukup dewasa untuk membawa sendiri regu berburu kerajaan ke dalam hutan.

Pengalaman pertama Pangeran yaitu berhasil membawa dua ekor kelinci selama seharian, kini pulang dengan seekor kijang pasti akan semakin membuat ayahandanya bangga. Senyum Pangeran terus mengembang meski rintik hujan membasahi bajunya juga baju semua regu berburu yang berjumlah sepuluh orang yang sedari tadi regu berburu tak henti memuji kepiawaian Putra Mahkota dalam memanah.

Derap langkah kuda bergemuruh menggoncang seisi hutan, burung-burung kecil beterbangan saat regu berburu kerajaan melewati wilayah mereka, hewan-hewan lainnya bersembunyi di balik pepohonan besar menghindar dari sasaran panah sang pangeran.

Tiba-tiba Pangeran berhenti mendadak saat dihadapannya kini berdiri seorang putri kerajaan, sendirian, membiarkan air hujan membasahi seluruh tubuhnya. Ia mengitari tuan putri tersebut dengan heran. Benarkah berita yang selama ini beredar, bahwa ada seorang tuan putri kerajaan yang membeku jika ia menyentuh air hujan? Walaupun bukti tersaji di depan mata toh hal ini masih sulit untuk dipercaya.

Kasihan sekali dia, gumam Sang Pangeran.

Parasnya ayu, jika dilihat dari posisi terakhir sebelum membeku menunjukkan bahwa perilakunya anggun. Pangeran tahu itu dan seketika jantungnya berdetak tak menentu saat melihat kedua mata tuan putri yang terbuka, bola matanya berwarna biru bak berlian dari lautan dalam. Namun, mengapa tatapannya menyiratkan kesedihan?

“Pangeran... nampaknya hujan semakin deras, sebaiknya segera kita kembali ke istana,” salah satu pengawal menyadarkannya dari terkaan-terkaan tentang tuan putri.

“Pengawal, apa kau tahu kenapa tuan putri nan cantik jelita ini mendapatkan kepedihan yang memilukan?”

“Maaf Pangeran, tuan putri ini mendapatkan kutukan akibat perbuatannya”

“Kutukan? Perbuatan seperti apa yang kau maksud wahai pengawal?”

“Tuan putri ini sungguh buruk perangainya, ia mencela hujan hingga langit memberikan kutukan. Halilintar akan mengelegar lalu kilat menyambar sebagai tanda kemarahan dan petir merubah tuan putri, menjadikannya seolah patung”

“Tapi pengawal, apa yang telah dilakukan tuan putri?”

“Maaf Pangeran, saya kurang paham. Sebaiknya nanti Pangeran tanyakan langsung kepada Paduka Raja. Saatnya kembali ke istana. Silahkan Pangeran”

“Bagaimana dengan tuan putri ini?”

“Ia akan kembali seperti sedia kala saat hujan reda. Jangan mengkhawatirkannya, kumohon khawatirkan saja kesehatan Pangeran, hujan semakin deras”

Pangeran Marco turun dari kuda, membungkuk di hadapan tuan putri memberi hormat kerajaan sebelum dengan berat hati meninggalkannya sendirian di tepi hutan, dimana hewan buas bebas berkeliaran.

Semoga tidak terjadi apa-apa padamu tuan putri, lirih Pangeran berdoa dalam hati.

Sepeninggal Pangeran dan regu berburu kerajaan, Tuan Putri menitikkan air mata. Tetesan hangat itu membelah pipinya yang membiru kedinginan. Tak ada yang tahu apa yang sebenarnya ia rasakan.


Cerita akan berlanjut di masa yang akan datang....


#LiarkanImajinasi
#Tulisyangbaiksaja

Behind the Scene (wisuda)


“Hey Ci, tadi aku melihat dia meletakkan sampah di keranjang sepeda minimu”

“Biarkan saja”

“Tidak bisa begitu, kau harus lapor bu guru”

“Macam anak kecil saja”

“Kelas lima SD kurasa masih boleh dibilang anak kecil”

Aku menghela napas, “Setelah lapor bu guru terus apa?”

“Biar dia dimarahi”

“Selanjutnya ada dua hal, pertama dia akan mengolok kita anak kecil karena mengadu pada bu guru. Yang kedua dia akan melakukan hal lain dengan tujuan sama”

“Ci, kita kan memang masih anak kecil”

“Sadarlah kau,” gemas juga rasanya.

“Memang kau tahu tujuan dia?”

“Dia cari perhatianku”

Aku menutup mulut temanku yang menganga dengan jawabanku.

“Sebab itu diamkan saja”

Temanku mengangguk pasrah.

“Ci...”

“Apa lagi?”

“Kapan kita berhenti bicara ngelantur semacam ini?”

“Nanti jika kau berani menerjang hujan karena sepertinya hujan akan turun sampai malam”

“Proposal pengajuan judulku bisa kuyup dong”

“Terserah”


-------+++-----

Mengenang kembali saat stress melanda dua mahasiswa tingkat akhir yang terombang-ambing dengan teori analisa data. Berbagai cara gila terkadang membantu menurunkan tekanan dari dosen pembimbing.


#LiarkanImajinasi
#Tulisyangbaiksaja

Pak Bos dan Sikap Tenangnya

Hayoo ngaku siapa yang belum pernah dimarahi pak bos? Ada? Baiklah ada dua pertanyaan untuk kalian yang menjawab ada. Pertama, berapa lama sudah kalian bekerja? Ini juga berarti berapa sering berinteraksi dengan pak bos. Yang kedua jika jawaban pertama ternyata cukup lama maka kenalkan saya pada pak bos anda, hhee. Hebat tuh, saya mau belajar manajemen emosi sama beliau.

Nah, saya juga punya pak bos (kapan jadi bosnya ya?) yang beberapa kali juga kena marah. Wajar sih yang pertama karena keteledoran saya, yang kedua hak beliau. Ya iyalah, perusahaan punya siapa? Yang gaji saya siapa? Berhak dong beliau marah. Nggak terima? Sana keluar cari tempat kerja lain, sadis.

Sebenarnya kalau dikaji lebih dalam, tidak ada seorang pun yang ingin memarahi bawahannya. Situasi dan kondisi terkadang sering memicu kemarahan pak bos. Sebab pak bos sendiri pernah cerita jika setelah ia tidak mampu mengontrol emosinya maka tak lama badannya akan terasa letih, tak bertenaga dan kemungkinan bisa jatuh sakit keesokan harinya.

Berbicara dengan nada tinggi pada bawahan ternyata juga memberi dampak yang tidak baik, tekanan berlebih bisa membuat karyawan stres dan tidak fokus dengan pekerjaannya. Jika hasil kerja tidak baik, kena marah lagi, stres lagi duh saya sarankan resign saja sebelum gila dan lupa diri.

Tapi.... Tetap saja ada hal baik yang bisa dicuri dari pak bos, saya suka sekali mengamati bagaimana beliau berusaha untuk tenang. Paham betul berapa banyak hal penting yang harus dipikirkan dalam waktu yang bersamaan, dan mustahil rasanya jika semua bisa diselesaikan dengan kepala panas. Sering saya praktekan saat menghadapi beliau yang tengah meluap-luap.

Tujuan saya ada dua. Pertama, membetengi diri agar tak mudah sakit hati, ini wajib dilakukan. Kedua, menjaga mental teman-teman, ini juga wajib dilakukan. Jadi ketika saya menghadapi pak bos rasa tenang harus diniati karena dua hal tersebut.

Beruntung saya termasuk orang yang rada bandel, jika jam kerja usai dan kembali ke rumah tidak perlu lagi memikirkan apa yang terjadi di tempat kerja. Saatnya istirahat dan bercengkrama dengan keluarga. Saat esok kembali ke tempat kerja, tetap saja masih teringat jelas apa yang terjadi kemarin. Kurasa tempat merupakan pembangkit ingatan masa lalu yang kuat. Pengen buru-buru pulang rasanya.

Tentang teman-teman saya, kenapa saya harus menjaga mental mereka? Anggap saja saya yang lebih sering berdiskusi dengan pak bos, lebih banyak paham bahwa pak bos juga tak ingin berlama-lama membuat keributan dengan tim nya sendiri.

Pernah suatu ketika teman kerja saya berkata, “Untung saya satu tim sama Mbak Ci ya, yang ga terlalu memikirkan apa yang pak bos ucap.”

“Kok gitu?”

“Soalnya saya orangnya perasa Mbak, kalau ketemu orang yang sama pasti langsung down.”

Saya hanya tersenyum dan manggut-manggut. Tidak tahu saja dia apa yang saya lakukan setelah kami selesai menghadap pak bos. Kalian mau tahu?

Menuju kamar kecil, menghidupkan keran air hingga maksimal, lalu menghela napas sekuat tenaga, menetralkan detak jantung, berlatih tersenyum tiga jari layaknya model catwalk, barulah setelah itu saya keluar dan seolah tidak terjadi apa-apa. Saya cuma ingin mengatakan pada teman-teman bahwa semua ini jangan dijadikan beban berlebih, bisa mempengaruhi kualitas kerja.

Berlatih menjadi orang besar memang tak akan pernah mudah, meniru sikap baiknya tapi buang jauh sifat yang tak disukai. Menjadi pemimpin tidak ditujukan untuk orang yang berhati lemah dalam menghadapi setiap cobaan. Dikit-dikit mengeluh, sebentar merasa takdir tidak adil hingga menyalahkan Tuhan dengan kondisinya sekarang. Terus maumu piye? Kesel? Rak krasan? Bali ye?

Dunia ini hanyalah panggung sandiwara, dan aku berbekal banyak topeng untuk menghadapinya. Terserah dengan kalian, toh masing-masing punya caranya sendiri untuk bertahan hidup. Yuk mari lihat dunia dengan lebih bijak.


#TerusBelajar
#BerbagiSemangat
#Tulisyangbaiksaja

Mendekatkan yang Jauh


Sayup suara adzan ashar mengalun, tidak jelas terdengar karena area tempat kerjaku memang dikelilingi oleh ruko-ruko padat aktifitas dengan tiga pusat perbelanjaan besar di seberang jalan. Segera aku mengambil air wudhu sebelum kesibukan duniawi menjadi penunda salat tepat waktu.

Teman kerjaku melontarkan sebuah pertanyaan sesaat setelah aku mengambil air wudhu, “Mbak dulu lulusan Al Islam ya?”

Al Islam adalah sebuah yayasan sekolah islam terpadu yang terkenal di kota Solo, dan aku paham mengapa ia menanyakan hal ini. Maklum aku termasuk bawel masalah salat tepat waktu, menurut pengalaman yang sudah-sudah jika tidak disegerakan kami akan tenggelam dalam tumpukan tugas tak berujung, astaghfirullah.

Hahaa, aku baru pakai jilbab kelas XI SMA Negeri”

Ekspektasinya terlalu tinggi terhadapku. Menggunakan jilbab lebar tidak selalu harus lulusan pondok bukan? hidayah Allah mencakup segala lapisan.

Dulu aku pakai jilbab dua kalau tipis, sekarang sering kesiangan jadi buru-buru deh,” lanjutnya.

Aku tersenyum, cukup dia menyadari hal itu dulu. Segera aku meninggalkannya untuk salat, duh lihai sekali setan menggodaku lewat temanku sendiri.

Percakapan tadi membuka kembali memoriku tentang pengalaman awal menggunakan jilbab. Dan salah satu orang yang berperan penting dalam hijrahku tiba-tiba saja mengirimkan pesan pribadi. Ya Allah, manis sekali Kau mengajakku untuk bernostalgia.

Niat awal aku memilih masuk ke SMA ini karena tertarik dengan ekskul Pecinta Alam, jadi setelah dinyatakan legal menjadi warga sekolah langsung aku bergabung dengan ekskul tersebut. Sederhana saja dalam berpenampilan. Kucir kuda beres. Aku duduk semeja dengan teman satu SD dan SMP dulu, di belakang kami duduk dua lelaki yang “aneh”. Perkenalan antar siswa baru dimulai, hingga salah satu dari mereka mulai membuatku “gerah”.

Hei Ci, kok kamu ga jilbaban kaya Rere (teman semejaku), katanya temen lama”

Ohh ayolah kita belum ada satu minggu berteman, frontal sekali sih dia. Waktu itu aku hanya diam. Obrolan berlanjut ke topik berbeda.

Esoknya dia bertanya, “Ci, kamu sering buka Qur'an ga?”

Jujur saat itu ada masalah dalam keluarga yang membuatku harus berhati-hati dengan keyakinan yang aku anut.

Buka Al-Ahzab ayat 59 deh”

Kedua temanku selalu diam saat dia mulai menceramahiku. Aku tahu ini pasti soal jilbab lagi, abaikan saja. Jengah juga jika setiap hari harus diceramahi seperti ini. Hello... seragam putih abu-abuku baru jadi dan dia dengan seenaknya menyuruhku membuat yang baru?

Tapi tiada hari tanpa diskusi dengan mereka, dua teman lelaki “aneh” itu sangat jenius. Kami berempat selalu mengerjakan soal bersama-sama, seringnya aku yang minta diajari, ternyata lulus dari SMP berstandar nasional memang berbeda. Di sela-sela perdebatan kami dia selalu saja menanyakan perihal jilbab kepadaku, 
“Sudah dibaca belum Ci? Apa bunyinya?”

Arrrgggg.... bisa tidak sih kita melupakan pembahasan itu?

Namun karena suara berisik dia lah muncul keinginan dalam hatiku untuk berjilbab. Di lain kesempatan dia menanyakan keikutsertaanku dalam organisasi islam di sekolah, aku menggeleng, dan menitipkanku pada teman sebangkuku yang sudah lebih dulu ikut bergabung. Eh, main titip aja emang akunya mau?

Ada senyum syukur saat dia kembali mengontakku, menanyakan kabarku, juga tulisanku hingga berkelakar untuk mengirimkan buku gratis ketika aku menerbitkan buku. Doa tulus kulantunkan dalam hati untuk kesuksesannya pula, dia yang sekarang telah menjadi PNS di Tangerang dan mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan sekolah kembali dengan gratis, sudah kubilang dia jenius.

Tulisanku telah membuat teman terbaik kembali menyapa. Membawa kembali kenangan masa putih abu-abu yang penuh cerita. Hanya lewat tulisan jarak seakan bukan penghalang untuk mengucap kata. Sungguh, menulis adalah sebuah kegiatan yan penuh keajaiban.

Jadi, masih menunda untuk menulis?

-----+++++-----

Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin : “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


#Tulisyangbaiksaja

#TebarManfaat

 

Pembaca Tulisan Saya

Yeyy, bahagia sekali saya. Akhirnya tulisan saya membuat seseorang yang sempat menghilang hadir lagi, eh. Dia mengomentari tulisan saya dengan mengirimkan pesan pribadi, entah mengapa ia tak ungkapkan saja semuanya dalam kolom komentar. Tapi baiklah, semua masukan yang membangun tidak akan saya tolak terlebih untuk meningkatkan kualitas tulisan, wahh terima kasih saya ucapkan pada kalian yang sudi akan hal tersebut.

Nah, karena kebetulan dia tidak begitu menyukai hal tulis menulis dan kesempatan untuk bergabung dengan grup ODOP batch 3 masih terbuka lebar, saya tawarkan saja. Tapi dia menolak sebelum penjelasan lebih lanjut saya utarakan. Tegas dia ucapkan bahwa cukup menjadi pembaca saja. Sayangnya dalam hati saya tidak setuju.

Belum lama kami menjalin pertemanan, sedikit tahu tentangnya maka kucoba membaca respon dari apa yang saya katakan. Di lain kesempatan saat kami beradu pesan lagi, kembali saya mencoba peruntungan untuk mengajaknya bergabung. Penolakannya masih sama, jadi pembaca saja. Hingga status salah satu akun sosmednya begitu menggelitik hingga aku beri jempol, lagi kami berdebat dalam lingkar pesan pribadi.

Alasan kali ini memang tidak berubah, justru malah bertambah. “Sibuk mbak,” begitu ujarnya.

Tiba-tiba saya teringat akan tulisan dimana intinya adalah 24 jam dari waktu yang diberikan Tuhan kepada makhluknya ternyata bisa berbeda masing-masing pribadi dalam menggunakannya. Dengan waktu tersebut ada yang bisa memimpin sebuah negara, menjalankan berpuluh roda perusahaan namun ada juga yang tidak becus mengurus dirinya sendiri. Saya contoh untuk hal yang terakhir, hhaa... tapi saya masih terus mencoba untuk memperbaikinya.

Tidak mungkin saya mengatakan hal yang terlintas di pikiran saya tersebut kepada dia, terdengar sok tahu, menggurui dan jika saya ada di posisinya akan merasa diremehkan. Hancur sudah usaha saya untuk mengajaknya menulis.

Lagian ngebet banget ngajak orang nulis sih, Ci?

Iya, banyak manfaat yang di dapat dengan menulis.

Apa aja, Ci?

Coba aja nulis dulu. Takutnya ntar saya dikira ngibul lagi.

Balik ke teman saya.

Kawan.. saat engkau berucap untuk menjadi seorang pembaca sadarkah bahwa engkau telah menjadi inspirasi lahirnya sebuah karya ini. Jadi bayangkan manfaat apa yang bisa kau tebar saat berikrar menjadi seorang penulis?

Terima kasih telah menjadi inspirasi saya malam ini. Di baca ya link blog yang saya kirim.

Oiya, haii odopers jangan diam aja. Setor link yuk, tulis yang baik-baik dan yang terpenting bermanfaat bagi pembaca. Kenapa? Karena saya menyebar link blog kalian kepada teman-teman. Tolong ya jangan permalukan saya, hhaa..


Happy Reading... Happy Writing... Happy Learning... 


Jarak (tak) Berarti

Aku merindumu
Sama, begitu jawabmu
Tentang rasa ini
Jarak tak berarti

Aku ingin kamu
Begitu pula inginmu atasku
Tentang harapan ini
Jarak tak berarti

Aku ingin menyentuhmu
Bungkam mulutmu
Akhirnya kita mengerti
Bahwa jarak adalah pemisah yang berarti

Share link ODOP hari ini

Kemarin tulisan bang Syaiha seolah membekas dalam benak saya. Beliau begitu kuat menjalankan apa yang telah menjadi azam nya, menulis setiap hari. Tulisan kemarin begitu singkat tidak seperti biasanya yang panjang bak gerbong kereta barang, hhaa... Tapi dari tulisan tersebut ternyata kesadaran saya tumbuh.

Kesadaran akan sebuah arti komitmen.

Beberapa hari yang lalu, lupa tepatnya namun belum mencapai satu pekan saya bertekad untuk mengikuti jejak duo emak luar biasa odop ( mbak lisa dan bunda wiwid), wah mereka sering nangkring ya di tulisan saya, hhaa.. Abis saya benar-benar salut ditengah kesibukan beliau masih bersedia menyempatkan diri untuk mengunjungi rumah-rumah odopers, ninggalin komentar lagi... Wawww... Saya pribadi sebenarnya berani bertekad seperti itu karena odopers sedang tenggelam dalam pertapaan mereka masing-masing. Hanya beberapa yang melirik grup share link, merawatnya agar tak usang.

Dan hari ini rupanya waktu saya tersita untuk mengerjakan tugas lain yang tidak bisa ditunda lagi, hhaa... Jika sampai tidak selesai maka saya harus mengulanginya dari awal, huffftt... Kesempatan untuk BW  terbengkalai. Duh, malu nian rasanya. Baru juga bertekad belum genap seminggu sudah luntur saja.

Tulisan ini lahir saat tugas yang harus diselesaikan tersebut kelar, horeee... Doakan saya naik tahap ya kawan, aamiin. Beginilah sedihnya jadi deadliner, seperti dikejar rentenir (pinjem istilah kak wie).

Tiba-tiba saja seperti semesta menantangku untuk membuktikan tekad. Kenapa kalian pada nulis sih? Belum lagi kak kifa bikin rusuh ngirim rapelan share link. Ooooohhhhh.... Baiklah... Baiklah.. Tenang... Tenang.... Ini kabar baik. Denyut jantung grup share link kembali berdetak, dan namaku harus ikut terpampang disana.

Sekian curahan hati saya, boleh lah kalau disebut curhat colongan lanjutan kemarin. Saya mau BW dulu ahh... Kerugian besar melewatkan karya odopers. Semuanya, tolong siapkan teh hangat, sebentar lagi saya mampir.

Bang syaiha, semoga Allah mengangkat penyakit anda dan juga bang alif. Lekas sembuh.

Happy reading, happy writing, happy learning :)

Curhat Colongan


Gerakan One Day One Post batch 3 telah dibuka, gelombang calon penulis-penulis berbakat disatukan menjadi sabuah keluarga. Beruntungnya kalian yang tidak perlu lagi mengontrak karena kita sudah punya rumah sendiri, yeaayy. Nah .. tugas kita bersama untuk mengisinya agar tak sunyi macam tak berpenghuni. Setuju? Harus. Hhaa.

Perkenalan antar anggota di awal akan sangat ramai, semua berlomba unjuk gigi untuk mendapat perhatian dan waktu yang akan menjawab siapa yang lebih dikenal dengan karya.

Akan bermunculan beberapa anggota yang lebih dominan, itu wajar. Sebagian lebih nyaman menjadi “silent reader” dengan berbagai macam alasan. Seumpama koin yang memiliki dua sisi, saling melengkapi dan tak berarti jika tak ada sisi lainnya. Bayangkan saja ratusan orang bercengkrama dalam waktu yang bersamaan? Fiuhh... aku menyerah untuk sekadar memikirkannya.

Masing-masing memiliki kesibukan, saat grup sedang ramai eh kitanya masih bekerja, kuliah atau sibuk dengan aktivitas lainnya. Giliran kitanya nongol grup sepi, tak ada tanggapan, hhaa.. Tenang saja, rasa kecewa, diabaikan, dianggap tidak ada itu manusiawi. Ada cara jitu untuk menjadi terkenal.

Menulis.

Iya menulis, kalian pikir apa lagi?, hhii

Selalu ada anggota yang rajin sekali Blog Walking, misalkan mbak lisa dan bunda wiwid. Dua emak kece yang saya angkat topi atas sikap beliau dalam menghargai karya teman seperjuangan. Oh ya, karena sudah lama Share Link ODOP sepi saya jadi terbawa untuk singgah ke lapak odopers. Sekalian saja saya buka disini, semoga para senior malu dan sadar diri, hhaa. Yok jadi kakak tingkat yang baik.

Saya sendiri juga nggak terkenal-terkenal amat di kampung ODOP. Malah lebih terkenal di luar ODOP karena sering pakai tagar #OneDayOnePost. Banyak teman-teman sekolah, kerja, mendaki dan komunitas lain yang menganggap saya keren hanya karena aktif posting. Saya ini jarang ikut nimbrung, soalnya kewalahan manjat percakapan. Tapi suka senyum-senyum ga jelas kalau baca ratusan chat teman-teman, secara semua hal dibahas dari aturan penulisan, film horor, hingga seserahan pernikahan. Bukti kecil bahwa kita tidak sama dan perbedaan itu yang mengkayakan.

Jika sudah menulis tapi belum juga terkenal di grup, gimana?

Ya udah, ga gimana-gimana. Berarti anggota grup keliatan jarang BW tuh, sekalinya ada yang BW eh silent reader, duh makin tenggelem deh, hhaa.

Coba sekali-sekali muncul deh ke permukaan, sekadar setor nama, jadi silent reader terus menerus itu asli tidak ada gunanya, ga bakal dapat manfaat meski sudah bergabung dalam komunitas ter-kece sekalipun.

Asal ngomong nih Ci Li.

Eh, saya gabung loh sama komunitas lain yang bahas masalah perfilman indonesia. Muncul beberapa kali tapi akhirnya jadi silent reader. Kenapa? Komunitas tersebut masih terbatas ibukota dalam menjalankan agendanya sehingga kota-kota lain tidak memiliki sesuatu untuk dibicarakan.
 
Keluar aja Ci.

Enak aja, mending saya diusir. Meskipun begitu saya selalu mengikuti setiap perkembangan grup, lumayan lah dapat info terbaru tentang dunia perfilman Indonesia. Jadi silent reader itu memang merasa seperti tak berguna, saya ngrasain betul meskipun satu grup dengan Asma Nadia, Giring Nidji, Vino G Bastian dan artis lainnya. Sama saja toh kita tidak bisa berinteraksi dengan mereka.

Berbeda dengan ODOP, kaliam cuma nulis di blog. Ga perlu macem-macem harus ini itu. Udah nulis aja, sehari satu. Bonusnya bisa dapat film gratis, ebook bejibun, mau apa lagi? Lagu gratis? Adaa... resep masakan? Banyak. Luar biasa deh pokoknya. Kalau beruntung ya dapat jodoh #eaaa... (yang ini saya ga berani jamin. Jodoh di tangan Tuhan gengs).

Hoaamm... capek juga. 

Oiya tulisan ini terinspirasi dari mbak Nadilla, sekaligus sebagai curhat colongan saya bahwa apa yang mbak Nadilla tuliskan dalam karya apik di blognya juga dirasakan beberapa member lainnya, termasuk saya. Tuh mbak Nadilla, udah jadi inspirator, kereeenn.

Yuk mbak nulis lagi, keluarkan segala unek-unek. Bukankah menulis merupakan sebuah terapi jiwa?

Semangat berkarya untuk semua member ODOP senior dan selamat bergabung untuk para member baru. Tidak rugi, sungguh tidak rugi kalian bergabung dengan grup dimana saya ada di dalamnya, eh.

Selamat malam.

 

Suara dari Seberang - 3



Rapat pagi ini terasa berbeda. Tidak ada Kak Frans dengan sejuta ide cemerlangnya, juga senyum aneh yang tiba-tiba ia lemparkan saat aku tertangkap basah sedang meliriknya, padahal atasan sedang hikmat menunjuk-nunjuk papan tulis dengan broadmarker warna merah.

Kesibukanku di dalam kantor melupakan sejenak ketiadaan Kak Frans, pun kegiatan-kegiatan setelah pulang kerja yang cukup menyita waktu hingga malam mengantarku terlelap sampai fajar menyingsing. Seingatku baru beberapa hari Kak Frans benar-benar menghilang dari hidupku dan terselip rindu saat tak ada kabar apa pun darinya.

Sikapku yang tak perduli pada apa pun seringkali membuat Kak Frans jengkel. Selalu saja setiap jam makan tiba pasti pesan darinya bertandang ke ponselku. Untuk makan siang Kak Frans harus memastikan dulu ada nasi yang terhidang di depanku baru dia akan keluar mencari makan. Aku sudah berulang kali mengatakan untuk tidak perlu menjadi alarmku, risih juga diperlakukan begini.. baiklah Kak Frans gadis kecilmu ini sudah tumbuh dewasa.

“Aku mengingatkanmu bukan karena kamu lupa makan, tapi karena kamu sering telat makan. Paham?”

Aku menunjukkan wajah kesalku dan berlalu sebelum Kak Frans melanjutkan ceramahnya tentang penting memenuhi kebutuhan nutrisi guna menjaga kestabilan tubuh. Aku sudah hafal.

Oya, aku yang jadi anak perempuan kenapa pula Kak Frans harus mengingatkan untuk mandi lepas pulang kerja? Biasanya yang iniaku abaikan beralih mengerjakan modul-modul lain. Modul yang Kak Frans berikan jika ia pulang dari seminar atau perkumpulan-perkumpulan penting dengan komunitasnya.

“Calon ibu itu harus pintar, memiliki keahlian juga dilarang untuk berhenti belajar. Jadilah guru terbaik bagi anak-anakmu kelak.”

Aku menurut.

Dan tentang mandi di malam hari, Kak Frans kadang harus menelponku jika pesannya tidak berbalas.

“Jangan mandi terlalu malam, kata dokter tidak baik untuk kesehatan.”

“Ok aku mandi sekarang.”

Telpon di tutup dan kembali berkutat dengan ilmu baru yang siap untuk disantap. Kak Frans kan tidak tahu ini, hhii (jaga rahasia yah...)

Pernah suatu hari terlihat jelas aku tidak semangat di kantor. Laporan menumpuk dan hanya menjadi pemandangan di atas meja. Setengah hati mengerjakan data yang tidak bisa ditunda lalu kembali sibuk mondar-mandir berkeliling. Ada rasa jenuh dengan rutinitas yang selalu sama, mengulang hal-hal yang hapal di luar kepala, hingga berakhir dengan tidak melakukan apa pun sampai waktu pulang tiba.

Aku antar pulang?”, tawar Kak Frans

Motorku?”

Besok pagi aku jemput.”

Deal. Kak Frans mengantarku pulang. Namun sebelum itu dia mengajakku untuk berhenti di pinggir jalan, duduk di atas tikar menikmati es kelapa muda dengan lalu lalang kendaraan di depan kami. Tak ada yang memulai pembicaraan sampai aku berniat untuk mengadu.

Kak Frans menoleh ke arahku, tersenyum, menyeruput es kelapa muda gula jawanya lagi dan kembali menatap jalan raya yang mulai sepi. Eh, apa ia bisa membaca pikiranku?

Habiskan minumanmu, kita pulang.”

Aku mengangguk.

Esok paginya ada kejutan saat aku tiba di kantor, mawar putih tertata rapi di sisi meja kerjaku. Aku tahu ulah siapa ini. Aku tahu betul. Segera aku ambil ponsel dan menelpon Kak Frans. Tidak diangkat. Coba lagi. Tidak tersambung. Sekali lagi. Ponselnya mati.

Siang aku belum juga bertemu Kak Frans tapi mbak Sri memberikan ransum makanan kepadaku, “Titipan dari mas Frans, mbak.”

Nasi goreng sosis dengan siraman telur bebek, ini makanan kesukaan Kak Frans.
“Mbak Sri, Kak Frans dimana?”

“Sepuluh menit yang lalu sama bapak (sebutan untuk atasan kami) pergi mbak, ke Surabaya katanya,”

Tidak ada kejelasan hingga malam menjelang. Aku masih berusaha menahan mata untuk membaca novel pemberian Kak Frans dua hari yang lalu. Getaran ponsel menyentakkanku dari imajinasi liar tentang buku di gengaman.

Haii gadis kecil”

Pesan dari Kak Frans, segera aku mengetikkan balasan yang super panjang.

Kenapa meletakkan bunga di atas meja kerjaku? Kenapa tidak memberikan sendiri makan siang kepadaku? Kenapa ponselnya mati? Kenapa....

Namun hanya satu kata yang akhirnya terkirim, “Dimana?”

Di Surabaya”

Balik Solo kapan?”

Setengah jam berlalu dan tidak ada balasan. Sudahlah, Kak Frans orangnya aneh, suka sekali mematikan ponsel jika sedang berada di acara-acara penting tanpa memperdulikan bagaimana jika terjadi sesuatu dan harus menghubunginya.

Hari selanjutnya tak juga ada komunikasi antara aku dan Kak Frans. Muncul praduga yang tidak semestinya. Harusnya Kak Frans bisa menghubungiku setelah seminar selesai, sebelum tidur atau saat sarapan pagi. Tunggu, siapa yang mengharuskan?

Baiklah.. perhatian yang selama ini Kak Frans berikan aku acuhkan begitu saja, aku anggap angin lalu, tidak berarti. Kini saat perhatian itu terbang, bekasnya masih kentara meninggalkan jejak yang tak tampak oleh mata namun membekas dalam relung jiwa. Aku kehilangan seseorang yang rela menomor duakan dirinya sendiri hanya untuk menjadikanku nomor satu dalam hidupnya.

Hingga rapat dengan atasan pagi ini. Aku masih belum melakukan komunikasi lewat apa pun dengan Kak Frans, dan ini pekan kedua sejak ia meletakkan mawar putih untuk memberikan semangat padaku.

“Mbak Ci, mawarnya mau saya bersihkan?”

“Jangan dulu mbak Sri, meja saya masih penuh kertas.”

Mbak Sri berlalu, aku menangkap ekor matanya melirik ku sebelum keluar ruangan. Mungkin ia tahu aku tetap akan mempertahankan mawar putih ini meskipun satu persatu kelopaknya jatuh dan menghitam.

Terngiang kalimat saat Kak Frans mengantarku ke rumah waktu itu.

Kamu ga papa, De?”

Memang ada gerakan tubuhku yang salah hingga membuat Kak Frans khawatir?”

Aku tahu kau lelah, aku tahu fokusmu terpecah. Maka dari itu aku selalu memberimu semangat, karena aku ingin gadis kecilku ceria seperti sedia kala.”

Ada genangan air di mataku kini, sesuatu yang tidak boleh terjadi jika di hadapan Kak Frans, satu-satunya orang yang mengerti tanpa perlu aku mengatakan apa pun.

Lirih aku berbisik pada mawar putih yang mulai layu, “Kak Frans, dimana kamu?”

Penjaga Pintu Bank


Halloo semuaa... Perkenalkan aku wong solo, eh salah.. cah klaten lebih tepatnya. Aku tinggal di Klaten namun jarak ke kota lebih dekat jika hendak ke Solo. Panggil saja aku Ci Li, singkatan dari nama panjangku Ciani Limaran. Tapi bolehlah kalau ada yang mau memanggil dengan nama lain, Sayang misal, hhaa (ini becanda.. Serius... Eh, maksudnya serius becandanya.. Ahh, ya begitulah).

Kenapa kenalan lagi sih, Ci?

Memang sih, saya cukup terkenal di kampung ODOP, jadi perkenalan ini bukan untuk kalian. Perkenalan ini  untuk mereka yang akhir-akhir ini meminta pertemanan di media sosial. Ada saja setiap harinya, berasa tenar, hhaa.. Boleh aja sih, tidak ada larangan asal jangan inbox yang macam-macam. Apa belum jelas peringatan saya bahwa satpam penjaganya luar biasa mengerikan, hhaa. Tapi saya lebih khawatir dengan apa yang dilakukan penjaga  jika kalian mengusik ketenangan gadisnya. Jangan coba-coba.

Oh ya, tapi mengetahui nama seseorang toh tidak selamanya diperlukan. Bukan satu-satunya alasan untuk bisa berinteraksi. Begitulah kira-kira yang aku tangkap dari security salah satu bank swasta di kawasan solo baru.


Aku baru melihatnya sekitar dua bulan ini, awalnya memang seperti biasa saja tak ada yang berbeda. Membukakan pintu berlanjut senyum ramah menawarkan bantuan kepada setiap nasabah yang datang. Begitupun jika kami sudah menyelesaikan urusan, ucapan "terima kasih" dengan senyum di wajah menjadi penutup perjumpaan dengan sejuta harapan esok kan kembali lagi.

Tapi, aku merasa ada yang berbeda. Semula mungkin hanya anggapanku semata namun dengan pengamatan beberapa kali ia memang memperlakukanku berbeda. Aku turun dari lantai dua dimana area teller berada, menyusuri area customer service yang dari situ jelas terlihat bahwa pintu keluar yang dalam penjagaannya terbuka. Melihatku semakin mendekat ia malah menutup pintu, menungguku berhenti tepat di depan pintu, menanyakan hal yang tidak perlu dan jawabanku seolah password untuk membuka pintu.

“Sudah selesai mbak?”

Biasanya aku hanya tersenyum dan mengangguk, lalu setengah berlari menjauhi si penjaga pintu.

Sambil memakai perlengkapan sebelum kembali menyusuri aspal dalam hati berbisik. Masak iya belum selesai urusannya sudah keluar bank, huh, pertanyaan macam apa itu.

Tidak boleh baper terlalu cepat, maka aku lupakan kejadian aneh tadi. Esoknya kembali sapaan dan senyum ramah menjadi penyambut pertama kali aku tiba di bank, ia yang membantuku mengambil nomor antrian, ehmm... sebenarnya sebelum anda berada disini saya selalu ambil nomor antrian sendiri kok, lirih aku bergumam.

Ternyata hari ini cukup ramai, jadilah aku harus sabar menunggu 24 antrian sebelum nomorku dipanggil. Maka aku putuskan untuk kembali ke tempat kerja yang hanya berjarak tiga menit berkendara dengan kecepatan rata-rata.

“Loh, kok pulang mbak?”

“Lama”, seruku sebelum melenggang ke tempat parkir.

Dan akhir dari analisaku berakhir di siang ini. Jadi di tempat kerja sedang sibuk hingga aku terlambat sekitar tiga puluh menit dari jadwal setor uang. Sampai disana kembali mengangguk membalas sapaan ramah penjaga pintu. Tertegun sejenak saat si penjaga pintu menghalangiku untuk mengambil nomor antrian, dari tangannya ia membuka lipatan kertas dan memberikannya padaku.

“Nunggu satu aja nih mbak”

hah? Buru-buru aku berucap terimakasih dan segera menaiki tangga. Menarik napas panjang sembari menyamankan posisi duduk, setelah sedikit tenang mulailah aku mencermati nomor antrian yang sedikit lusuh.

Jam dimana nomor antrian diambil adalah waktu biasanya aku datang, jika aku belum datang bukankah seharusnya nomor ini berada ditangan nasabah lain yang datang lebih dulu?

Aku melihat sekeliling, ternyata lumayan ramai. Dan nanti jika salah satu teller telah menyelesaikan tugasnya melayani nasabah maka nomorku yang akan dipanggil, sedangkan ibu-ibu yang duduk disampingku yang jelas lebih dulu datang entah mendapat nomor antrian keberapa.

Tak mau ambil pusing, bukan aku yang meminta. Sedikit beruntung tak perlu menghabiskan banyak waktu di tempat ini, dengan segera bisa kembali ke tempat kerja dan merampungkan laporan-laporan yang menumpuk.

Tapiiii......

Pelayanan macam apa yang ingin ditunjukkan seorang security bank kepada nasabah sepertiku?
Sudahlah, terima kasih, anda mengerti sekali tentang arti waktu bagi saya.

Ketika Bidadari Tersipu


Hai kawan, tahukah engkau bagian mana yang paling aku suka ketika mendaki gunung?

Tiba di puncak?

Bukan, tiba di puncak hanyalah keberhasilan dalam mengalahkan ego ketika berbagai suara-suara dari kepala memaksa untuk berhenti dan memasang tenda secepatnya kemudian tidur.
 
Lalu?

Aku suka sekali menunggu matahari terbit, sangat suka. Menunggu dalam diam di depan api unggun sungguh sebuah kesempatan dimana tak semua bisa menikmatinya, sebagian memilih untuk menghabiskan malam dengan melepas penat di dalam tenda. Hanya aku dan mungkin sedikit lainnya yang masih setia menunggu hangat mentari menjalari seluruh tubuh dari ufuk sebelah timur.

Menatap bola besar yang perlahan menampakkan diri begitu menakjubkan, hingga cahayanya yang menyilaukan berbisik bahwa mata tak cukup mampu untuk terus melihatnya. Tanda-tanda dari semesta yang menunjukkan betapa dunia dan seisinya pasti ada yang mengatur. Begitupun saat bidadari yang engkau sebut namanya mendengar alunan nada yang kau cipta.

Kita hanya menjalankan peran dimana alur cerita sudah dipersiapkan dengan apik oleh Tuhan, betapa aku berulang kali termangu, Maha Baik Tuhan yang memilihkan peran ini untukku.

Gadis biasa yang kini seolah merasa sempurna saat Tuhan mengirimkan engkau untuk masuk ke dalam ceritaku. Aku bisa apa? Kenapa engkau yang dipilih? Kenapa bukan orang-orang terdekatku, teman-temanku atau siapa pun yang berada disekitarku? Kenapa harus engkau dimana jarak menjadi penghalang mata untuk bertatap? Aku tidak tahu. Aku hanya perlu meyakini bahwa setiap ceritaku akan berakhir indah, bukan?

Tentang jarak, Tuhan membuatmu memiliki kekuatan untuk melumpuhkan setiap prasangkaku selama ini. Berbagai cara kau tunjukkan untuk meyakinkanku ketika Tuhan berkehendak maka Jarak yang terbentang bukanlah sebuah rintangan yang menghadang.

Seperti sore kemarin, saat tengah menunggu kabar darimu tiba-tiba kau berikan hal istimewa yang belum pernah aku dapatkan dari siapa pun. Saat itulah aku sadar akan kekuatan dasyat tentang sebuah kesungguhan juga kenapa Tuhan memilihmu untuk menjadi bagian dari ceritaku.

Haii kamu, ada yang salah dari penilaianmu terhadapku. Aku tidaklah sesempurna bidadari seperti apa yang engkau kata, aku hanyalah gadis biasa yang kini mampu terbang hingga langit ketujuh meski tanpa sayap, seolah mendapatkan sekantung bubuk peri yang meringankan tubuhku dari setiap perhatianmu, karena yang sebenarnya terjadi, engkaulah yang menjadikanku bidadari.

Oh ya, satu pertanyaan untukmu, bisakah bidadari tersipu? 


Jadi Tuan Putri Disney


Hari ini dibuka dengan nyanyian dari alam, angin bertiup sepoi-sepoi, daun-daun melambai menyambut kedatangannku menyusuri jalanan utama kota Solo. Rutinitas biasa setiap akhir pekan. Ringan kuayunkan langkah memasuki bangunan luas dimana warna-warni lembaran uang mudah dijumpai, benar sekali, sebuah bank.

Pintu otomatis terbuka saat jarak tubuh kurang dari 30 centimeter. Kaca setinggi dua meter itu seketika berubah menjadi gerbang istana megah nan mempesona. Tidak.. aku yakin ini bukan dunia dongeng sebab pipiku masih terasa sakit saat cubitan lembut mendarat untuk meyakinkan pemandangan di depan mata.

Senyum ramah pak satpam menghentikan khayalan yang mengangkasa, suara tegas seperti manusia normal keluar mengejutkanku, “Silahkan, ada yang bisa dibantu?”

Aku hanya tersenyum menahan kaget dan segera menuju kursi antrian. Tunggu, sejenak terpaku sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk. Tadi pintu utama yang berubah menjadi gerbang istana kini kursi antrian di sulap bak kursi-kursi dalam hotel berbintang menyambut tamu undangan yang sangat penting. Bisa kau bayangkan? Kursi dengan sandaran di balut oleh kain putih berhiaskan pita emas besar berjajar rapi. Gelengan kepala ternyata tidak mampu mengembalikanku ke dunia nyata.

Mataku terbelalak saat menghadap area teller yang berubah menjadi jendela-jendela kaca dengan ukiran menawan. Aku seolah berada di dalam istana bersama tuan putri Aurora, tuan putri Yasmin dan juga Cinderella, larut dalam kebahagiaan mereka melengkapi kemegahan istana. Meja-meja teller dihiasi kain yang dibentuk sedemikian rupa dengan warna pink (aaa.... I am pinky lover) beserta pita besar berwarna merah. Perpaduan yang membuat saya berdecak.

Empat tiang besar penyangga bangunan ini tak luput dari perubahan. Tiang besar di sebelah kanan area teller menyuguhkan kebersamaan Cinderella dan pangeran dengan nuansa kerlip biru muda. Sebelah kiri para peri kecil sedang bermain-main dengan kupu-kupu bersayap putih dan merah muda (huaaa.... ketemu pink lagi).

Dua tiang lainnya dihuni oleh Peter pan yang terbang dengan raut wajah gembira (selalu begitu bukan?), penghuni satunya adalah dua sejoli dari keluarga Mickey Mouse.

Pindah ke area Customer Service, gorden dengan warna kuning dan merah menghiasi jendela menjadi penjaga peri-peri kecil yang berterbangan di dalam istana. Eh, ternyata warna gorden senada dengan yang terlukis dalam gambar, berikut bentuk dan susunannya.

Kalau boleh sih sebenarnya aku mau berkeliling menemukan sisi lain istana yang lain. Kali aja ketemu bagian sebelah dari sepatu kaca yang berakhir pada pencarian pangeran berkuda, hhaa.. sudahlah kali ini suara petok ayam dari dalam kepala berhasil mengembalikanku dari dunia khayal. Baiklah, saatnya mengucapkan selamat tinggal pada gemerlap istana seisinya.

Melangkah meninggalkan istana terpampang spanduk dengan tulisan seperti ini :
Happy Customer's Day
Thank you for your trust for being our beloved customer

Eh? sayup-sayup terdengar orang-orang berbisik tentang tema yang diusung bank ini untuk menyambut hari pelanggan yang jatuh setiap tanggal 2 september. Unik ya, ambil tema Disney Park.

Jadi aku tidak berkhayal kan? Benar semua yang indra penglihatku tangkap tadi?

Ahh... baru kali ini aku merasakan arti dari peribahasa yang sesungguhnya. Pelanggan adalah tuan putri.

Sedikit menyesal tidak mengabadikannya dalam lensa kamera tapi nanti bisa aku ambil dari website bank ini. Senandung lagu ceria menjadi teman perjalanan kembali ke kantor. 

Tak perlu menghitung menit untuk tersambung dengan koneksi internet dan mengetikkan keyword sesegera setelah sampai. Pasti masih ada bagian istana lain yang belum aku lihat.

Hasilnya?

Tidak ada satupun gambar yang menampilkan seperti apa yang aku lihat tadi. Seketika kepalaku berdenyut, tolong katakan sebenarnya nyata atau tidak segala gemerlap istana beserta tuan putri juga peri-peri kecil itu?

Menurut kalian?


------------++++---------------


Tolong tanyakan pada BCA Kantor Pusat Slamet Riyadi – Solo, kenapa tak ada dokumentasi untuk memperingati hari pelanggan tahun 2016 ini? Kan jatuhnya saya tidak dipercaya oleh pembaca. Tapi bodo ahh, yang terpenting terimakasih telah menjadikan saya tuan putri disney selama sehari :) 

 

Suara dari Seberang - 2



Hissshh.. selalu berantakan deh, padahal setiap sebelum pulang meja kerja aku rapikan sedemikian rupa. Tapi yah, mbak Sri nggak salah juga sih. Kebersihan kantor menjadi tanggung jawabnya. Lagian aku juga yang mungkin sedikit berlebihan, barang-barang bergeser sedikit saja kalang kabut.

Ahh engga berlebihan juga sebenarnya, semua barang sudah berada di tempat yang semestinya seperti straples pink harus berada di samping kalkulator bersanding dengan kumpulan klip warna-warni. Kalender duduk berada di pojok meja, angka-angkanya harus jelas tanpa terhalang kotak pensil yang berisi stabilo orange dan hijau. Seringnya penghapus yang jauh dari posisi awal sebab selalu kutemukan ia bersatu bersama gunting, penggaris dan pena “Fadeproof”.

Tunggu, ada yang berbeda. Setangkai mawar putih biru soft berada tepat di tengah meja. Siapa pula pengirimnya, tahu dari mana aku menyukai segala jenis bunga mawar.

Eh, ini memo rupanya :

Aisshhh... kepala devisiku ini memang kelewat PD. Tumben juga ngingetin rapat dengan bunga segala, lagian aku kan karyawan rajin dan disiplin yang tak perlu diragukan kedatangannya, hhaa.

**

Rapat berjalan selama dua jam. Laporan pelaksanaan vaksin sedikit bermasalah pada ayam “stater”, cuaca yang tak menentu sedikit banyak mempengaruhi kondisi kesehatan ayam. Vaksin akan sia-sia jika diberikan saat ayam dalam masa pengobatan. Juga mengingat harga vaksin yang cukup melambung, segala upaya dilakukan agar ayam tak mudah jatuh sakit. Sebab mundurnya jadwal pelaksanaan akan memunculkan masalah baru.

Tapi tenang saja, kepala devisiku yang sudah berkeliling menghadiri berpuluh macam seminar peternakan juga berteman karib dengan dokter hewan serta ahli gizi pakan dengan tenang hadir dengan beribu solusi. Kak Frans, kau memang bisa diandalkan.

Ada masalah sedikit juga saat pemesanan vaksin pada salah satu pabrik. Barang habis. Tidak usah panik. Team kami sudah memiliki mental peramal jangka panjang, masih ada cukup waktu untuk menunggu pabrik menyiapkan barang yang kami minta.

Rapat ditutup dengan tepuk tangan, juga yel yel buatan Kak Frans yang sedikit menggelitik.

Ayam sehat... petok... ayam sehat... petok.... semangat petok... petok....
Kenapa mudah sekali bagi Kak Frans menjadikan hari-hari kami begitu bersemangat... lagi, aku mengaguminya.

De, rapat lanjutan sekalian makan siang yuk”

Eh... semua?”, sedikit panik karena teman-teman sudah mulai keluar ruangan.
Kak Frans terkikik, “Kamu masih gadis kecilku yang dulu.”
Lima tahun menjadi partner kerja membuat Kak Frans mengenalku dengan baik. Selisih usia yang tak jauh beda menjadikan hubungan kami layaknya kakak adik, ia menjadi pembimbingku memasuki masa dewasa dari tidak teraturnya masa remaja.

Kita berdua aja”
Ketumbenan yang kedua oleh Kak Frans. “Traktir?”
Ia mengangguk. Kami berjalan menuju warung makan di depan kantor, namun Kak Frans tidak berhenti, ia terus berjalan memasuki area mall besar di seberang jalan raya. Aku diam tanpa penyanggahan, ada bagian dalam hati yang mengatakan bahwa ini tidak wajar. Tapi aku tidak berani mengucapkan firasat ini.
Kak Frans bersiul pelan, poninya berlari-lari ditiup angin siang yang kering. Aku sibuk memegangi ujung jilbab yang juga berkibar kesana kemari. Ini nih... salah siapa tidak menggunakan jilbab dengan kain yang sedikit lebih berat, rutukku dalam hati.
Akhirnya kami duduk pada salah satu meja di ujung ruangan foodcourt yang mana terlihat jelas bangunan kantor kami yang berlantai tiga. Kak Frans memesankan makanan yang sama tanpa lebih dulu menawariku, nurut aja sih kan dibayarin.

De, bunganya suka?”
Aku mengangguk sembari menyeruput es teh yang beberpa menit lalu diantar oleh pelayan berseragam abu-abu. Nasi goreng sosis yang masih mengepul menggoda untuk disantap juga telah terhidang di depan mata.

Ya udah, yuk makan”
Kembali sebuah anggukan persetujuan aku berikan. Satu sendok nasi goreng melenggang ke dalam mulut, nikmat sekali rasanya, Kak Frans memang jago pilih makanan.

De... boleh aku suka kamu?”
Segenap tenaga aku kerahkan untuk menelan makanan yang belum sempurna aku kunyah, buru-buru Kak Frans menyodorkan es teh melihat wajah kalutku.

Enggak boleh”

Kenapa?”
Aku mempertontonkan jemari tangan kananku, “Lihat?” berharap semoga Kak Frans tersadar bahwa sudah ada orang lain yang kini mengikatku.
Ia mengangguk. Makan siang kami hening hingga usai dan sisa hari itu berjalan begitu lama.
Entah apa yang aku rasakan, andai Kak Frans lebih cepat mengatakannya, andai ia mencegahku untuk menerima pinangan lelaki lain, andai ia tak egois untuk menyimpan rasa itu sendiri... andai... ahh sudahlah.
Tidak boleh ada yang berubah, rasa yang kembali hadir dari pengandaianku sudah tak berarti lagi. Terlambat. Kak Frans menumbuhkan kembali rasa itu namun bukan berarti membuang rasa yang kini telah menetap bukan? Ada hati yang harus dijaga meski terkadang yang lain lebih menggoda, arti setia menurutku.
Untuk kesekian kalinya aku melirik jam tangan, sepuluh menit yang terasa lebih panjang. Aku ingin segera pulang. Aku ingin segera memeluk lelakiku.

Bunga untukmu gadis kecil”


Jantungku berhenti berdetak, napasku tertahan untuk sepersekian detik. Satu karangan bunga yang terdiri dari beberapa tangkai mawar putih biru dan putih pink berpadu indah dibungkus menawan dengan kertas merah muda bersama pita senada terangsur di depan wajahku. Tak kuasa untuk menatap wajah orang yang kukenali betul dari nada bicaranya. Kumohon, jangan goyahkan hati rapuhku.


------------++++++-------

Teruntuk Kak Frans, simpan saja “rasa sayangmu” untuk gadis lain.

Modal Nulis Dapat Barang Gratis

Hai, hai... gimana sensasi baca judul di atas? Hhii, percaya ga? Harus percaya dong. Nih aku kasih bukti nyata. Awalnya aku mau buka bisni...