apa

Hujan

Turun hujan

Di area Soloraya

Sebagai anugerah

Dari Tuhan

Pertanda bahwa

Adanya kebangkitan

Juga penuh maksud dan tujuan

Sejak pukul dua

Hingga pukul lima

Air tergenang

Mengaliri jalan beraspal

Menutupi lubang-lubang

Semoga tak ada

Pengendara yang celaka

Hanya dua pilihan

Menunggu malam

Meski bukan jaminan

Atau terus melaju

Tak apa

Melaju 40km/jam saja

Menepi di pinggir jalan

Sering dilakukan

Untuk membersihkan

Embun dan air hujan

Di lensa kacamata

Jangan...

Tak perlu merasa iba

Sebab

Gadis itu ceria

Senyum merekah

Menghiasi wajah

Di bawah hujan

Ia berdoa

Semoga air bah

Tidak melanda

Negeri tercinta

Di bawah hujan

Ia merenda kata

Untuk menjawab tantangan

Dari Kak Irma Sakura

Yang cantik jelita

Semoga selalu sehat

Dan istiqomah

Taat di jalanNya

Aamiin Ya Allah




-------+++-------

Hhiii, gaje? Maafkan, masih proses belajar, hhee.. Semoga berkenan.

#OdopChallenge
#Puisi

Tikungan Kedua

Kawan, ini aneh tapi benar-benar terjadi. Percaya saja atau kalian bisa buktikan sendiri. Menulis menjadi alat terapi jitu untuk ketakutanku, jelas tak serta merta menjadi pemberani.

Ahh ya, kumohon jangan lantas kalian abaikan aku sendiri di lantai dua dalam waktu yang lama ya? Oke, terimakasih.

Begini, tentang kamar kosong itu tak perlu dibahas lebih lanjut, aku tidak mau tahu lagi. Ada hal yang lebih penting, sesuatu yang terlewatkan sebab aku jarang sekali menjadi pengamat sekitar.

Tikungan kedua.

Keluar dari ruangan, kalian harus belok kanan untuk turun ke lantai satu. Ada tembok dengan lebar setengah meter yang dibangun sehingga tidak bisa langsung berbelok. Aku menyebutnya tikungan pertama.

Lalu sepuluh tangga pertama dengan sepuluh tangga selanjutnya dipisahkan oleh lantai datar kira-kira 2 meter persegi, disitulah tikungan kedua berada.

Awalnya biasa, tak kuhiraukan hingga sesuatu berwarna hitam seperti tongkat menempel di sudut menarik perhatianku. Mendekat, melihat dan menyentuhnya... Berdebu... Ternyata itu adalah pipa pralon yang digunakan untuk membungkus kabel juga mencegah gangguan dari hewan pengerat.

Suatu hari... lagi-lagi... Mataku menangkap hal yang tak wajar di tikungan kedua. Sama dengan yang kudapati pada kamar kosong di lantai dua, ada triplek yang dicat sama persis dengan warna tembok. Pertanyaan selanjutnya, untuk apa? Kenapa banyak triplek di hotel ini? Tidak mungkin untuk menutupi area yang berlubang, kan?

Kupendam rasa penasaran ini hingga jawaban muncul sendirinya, triplek itu digunakan untuk menutupi ruangan disebaliknya. Bukan berfungsi sebagai pintu, bahkan ruangan tersebut tidak berpintu apalagi berjendela.

Baiklah, ruangan entah seluas apa(besok biar kucari tahu lagi luas pastinya) yang hanya memiliki lubang kira-kira 1mx1,5m ditutup dengan triplek, berada di antara tangga lantai satu dan dua. Ruangan semacam apakah itu?

Kepingan Rasa Puzzle 18

Baca puzzle sebelumnya di sini


Bunyi bel sedikit mengagetkanku, kembali aku merapikan wajah agar tak ada yang curiga. Perlahan ruang kelas terisi oleh teman-teman yang kembali bersiap untuk memulai pelajaran.

"Apa semua baik-baik saja, Ci?"

Senyum aku hadirkan untuk menjawab pertanyaan Agni. Di panggil ke ruang guru tidak sepenuhnya berarti baik-baik saja terlebih pagi tadi hampir semua warga sekolah paham ada masalah yang ditimbulkan oleh dua siswa kelas XI IPA 3. Memalukan saja.

Bukan tidak sadar bahwa Raiya dan Dania sibuk saling sikut di meja sebelah, mereka paham dengan pasti bahwa senyumku hanya topeng. Agni mengangkat bahu tanda tak tahu harus berbuat apa.

Mereka adalah teman-teman baru yang dengan senang hati mengenalkanku pada sekolah ini, tak banyak pertanyaan tentang masa laluku seolah itu tidak begitu penting untuk menjalin sebuah hubungan pertemanan.

Agni, teman sebangkuku, gadis manis yang sekali pandang kalian akan mengira bahwa ia wanita anggun. Salah kawan, beberapa hari mengenalnya aku juga terkejut jika ternyata ia adalah anggota pecinta alam bagian SRT (Single Rope Technique).
 
"Bagaimana kaumelakukannya?" tanyaku yang tak percaya begitu saja.

"Mudah saja, hanya memasang pengaman, menautkan talinya kemudian kau bergerak ke atas lalu turun ke bawah."

"Jilbabmu?"

"Jilbab tidak menghalangi apa pun, sabtu depan datanglah akan aku tunjukkan padamu."

Baiklah, sabtu adalah hari yang kutunggu untuk membuktikan kebenaran pernyataan Agni.

Di seberang meja kami ada Raiya dan Dania, mereka sudah bersama sejak di bangku Taman Kanak-kanak, selalu satu bangku entah bagaimana bisa takdir membuatnya bertemu di kelas yang selalu sama.

"Biar aku tebak, kalian pasti mengikuti ekstrakulikuler yang sama juga?"

Keduanya tertawa geli mendengar pertanyaanku.

"Bosen kali Ci ketemu dia mulu," jawab Dania sambil menyenggol bahu Raiya.

"Hhaa, nanti kami digosipkan yang tidak-tidak lagi, kalau sekedar dibilang tak terpisahkan sih oke lah kalau dikira lesbian gimana?" timpal Raiya.

"Dih, amit-amit," ucap keduanya serempak.

Raiya adalah ketua PMR sekaligus anggota OSIS Sekbid 5 yang membawahi ekskul PMR. Ia dan tiga anggota yang lain mengikuti pelatihan tingkat Provinsi tahun lalu dan pulang membawa piala juara untuk kategori P3K. Sungguh prestasi yang membanggakan sekolah.

Kawan, Dania adalah temanku yang sangat humoris, selalu ceria dan berpikir positif. Baginya segala hal di dunia ini tercipta seimbang, tidak bisa menuntut agar semua terlahir baik, tidak bisa, yang harus kita lakukan adalah memandang semuanya dari sisi positif, itu akan sangat membantu daripada menggerutu. Jika memandangnya hanya ada kebahagiaan, kesedihan baginya bukan konsumsi publik.

"Bagaimana bisa?"

"Bisa dong. Sastra akan melembutkan hatimu."

Aku menoleh ke Agni juga Raiya, mereka tersenyum jahil, oh baiklah aku menyerah menerka ekstrakulikuler apa yang diikuti Dania. Di sekolah ini tidak ada ekskul jurnalistik, entah kalau aku tidak tahu.

"Tunggu, teater?"

Dania bertepuk tangan, "Hebat."

"Hanya itu yang terlintas," sahutku malu.

Ingatanku terbang ke Solo dimana Monica berada di sana, sahabat yang juga menggeluti dunia peran itu membuatku rindu. Andai dia di sini pasti kami berlima terasa sempurna.

"Ada satu lagi."

"Apa?"

"Dania adalah ketua kajian muslimah di SMA kita," bisik Agni sedikit lebih keras agar orang yang dimaksud mendengar.

"Masyaallah ukhti, assalamu'alaikum?" ujarku menggoda.

"Hey, jangan membuatku malu."

"Pantas saja kelembutan sastra islami, tidak diragukan lagi," aku manggut-manggut.

"Beruntungnya aku memiliki teman-teman baik seperti kalian, terimakasih sudah memilihku."

Kami berpelukan, hari-hari awal memasuki gerbang sekolah baru akan terasa lebih ringan jika ada mereka di sisiku. Hingga Gilang berbuat ulah.

Mereka bertiga tidak lebih jauh lagi mengusikku, sementara aku bisa menenangkan diri. Nanti jika suasana hatiku bisa terkondisikan maka akan aku ceritakan semua pada mereka.



Tidak Sesedehana Itu

07:15

Adikku entah dimana, mamah dengan centong di tangan menghampiriku yang sedang memasukkan ponsel dan beberapa perlengkapan ke dalam tas.

“Nasinya sudah matang, bawa bekal ya?”

“Enggak Mah, Ani mau berangkat sekarang.”

“Baru jam segini, Mamah ambilin ya.”

“Ani ke Kota, Mah bukan ke Solo Baru.”

Mamah berlalu, aku kembali sibuk.

Cek terakhir. Air mineral, hp beserta chargernya, alat tulis, dompet, tissue, semua aman di dalam tas. Jam tangan manis melingkar, jaket sudah melekat, kaos tangan, slayer, amaaan.

“Nih, makan dulu dikit,” Mamah kembali menghampiriku dengan nasi juga lauk. 

Melihat semua itu di depan mata sungguh menggoda, jika ditolak mungkin Mamah khawatir sebab aku melewatkan sarapan. Kuputuskan membuka mulut, bersiap menerima suapan.

“Duduk dulu,” aku menurut sambil melirik jam, sebentar aja lima menit nanti bisa dibayar dengan menaikkan kecepatan beberama kilometer, hhee.

Semakin dewasa aku merasa semakin manja, tak apa kan sama mamah sendiri. Fakta mengatakan waktu produktifku hilang di luar rumah, nanti saat aku kembali masuk rumah mamah sudah letih, terkadang hanya mengingatkanku untuk makan malam lanjut ngobrol sebentar lalu aku kembali tenggelam dalam duniaku sendiri. Jadi sekali-sekali disuapin nggak papa dong ya.

Tentang bekal, yah, seringnya semua sudah tersedia di atas meja, rapi dengan plastik dan siap angkut. Ini bukan tentang nasi beserta lauk pauknya tapi sesuatu yang mendasarinya, rasa sayang berlebih disaat kedua tangan beliau tak mampu merengkuh lajuku.

Kawan, terdengar sederhana bukan? Tapi percayalah tidak sesederhana itu jika kalian ada di posisiku.

Doakan mamahku sehat selalu yah juga bapakku, semoga aku bisa lebih lama mengukir senyum di wajah mereka, aamiin.

Dua Bulan di Langit

Perpustakaan ini berada di lantai dua, aku sedang melepas sepatu lalu mematut sebentar di depan cermin setengah meter yang berada di situ. Ketika semua dirasa rapi maka aku menaiki tangga untuk masuk.

Ada seseorang di depan meja sirkulasi dengan setumpuk buku, menunggu pustakawan mencatat dan membubuhkan tanggal akhir pengembalian sebelum memberi kepercayaan padanya untuk membawa pulang buku tersebut.

"Hei..."

Aku menoleh perlahan ke arah sumber suara, mataku melebar, ada dia di sini, kebetulan yang menyenangkan.

Kalian ingat dia kan? Baiklah kubantu membuka memori lama, silahkan berkunjung ke sini .

"Kapan kembali dari London?"

Dia terkikik, "Sudah lama. Mr. Holmes memutuskan untuk memberikanku cuti sampai waktu yang tidak ditentukan."

Aku manggut-manggut.

"Aku punya dunia baru, mau pergi bersamaku?"

Berbagai macam pertanyaan berkumpul siap untuk dilontarkan tapi aku lebih suka memelihara rasa penasaran agar daya kejutnya maksimal nanti.

"Tunggu, aku letakkan tas di loker."

Kami memasuki ruangan dimana tak ada bantal-bantal besar di dalamnya. Tapi kau bisa menemukan dua meja pendek yang dikelilingi dengan rak-rak penuh buku. Dia mengajakku menuju rak di paling ujung, meneliti satu persatu dengan cepat.

"Katakan, biar aku bantu cari."

"Sebentar, pasti di sekitar sini."

Sudahlah, aku menjauh beberapa langkah darinya, tenggelam dalam lautan judul-judul fiksi dengan cover warna-warni.

"Ketemu."

Aku menahan diri untuk bertanya, melihat ekspresi wajahnya serasa mengingat saat kecil ketika kau merengek dibelikan es krim namun ibu menolak dan kakak laki-lakimu datang membawakanmu es krim seraya berbisik, cepat habiskan sebelum ibu tahu.

"Sudah siap?"

Anggukan mantap menggiring kami menuju meja pendek di tengah ruangan.

"Dunia seperti apa sekarang?"

Wajahnya serius, sorot matanya menikamku, buku itu berada di genggaman tangan kirinya yang kurus, "Sekarang tahun 1Q84. Ini adalah dunia sejati, tak ada keraguan akan hal itu. Tapi di dunia ini, ada dua bulan menggantung di langit."

Aku merasakan sekitarku bergerak cepat, ini aneh, tiba-tiba saja kami tidak lagi di perpustakaan, aura berbeda membuatku serasa berhenti bernapas. Tunggu, masih ada dia, setidaknya sekarang aku bisa kembali mengirup udara banyak-banyak.

Wajahnya menoleh, sejenak meminta persetujuanku, "Siap?"

Apa pun yang menunggu di dunia baru ini senyum juga rasa ingin tahuku adalah gerbang pembukanya. Aku mengangguk mantap.




-----++--------------

1Q84 written by Haruki Murakami


Biar Kuminum Obatmu

"Ayolah sayang, obat ini akan meredakan demammu."

"Berhenti memaksaku, kenapa mudah bagimu untuk menyuruhku menelan pil pahit tersebut?"

Riena melepaskan nafasnya perlahan, mempertahankan senyum di wajahnya. Menghadapi suami yang sedang sakit adalah suatu hal besar yang hampir saja ia menyerah. Rahman adalah lelaki yang jarang sakit, jikalau ia sakit maka tidur malam dan segelas jahe hangat akan menyembuhkannya keesokan hari. Tak pernah sekalipun kakinya memasuki puskesmas, klinik bahkan rumah sakit. Dokter dengan segala resepnya hanya bualan.

Kali ini berbeda, dua minggu ia terbaring lemah di kasur. Satu minggu awal Riena merawatnya dengan rutin mengompres kening, jadwal makan yang tepat waktu bahkan istirahat cukup, tidak ada secuil obatpun yang masuk. Suaminya akan menolak, besok juga sembuh, selalu begitu.

Oh tidak, Rahman adalah tipe lelaki workaholic sedikit saja ia merasa badannya ringan maka gulungan kertas akan tergelar di atas meja. Jangkar, pensil juga penghapus menemaninya melewatkan detik-detik waktu hingga jam makan tiba. Ini tidak berlangsung lama, maksimal dua jam sakit kepala akan mendera dan ia harus kembali terpejam di atas ranjang.

"Bukankah akan terasa sia-sia kedatangan Dokter Arman ke sini?"

"Kau yang menyuruhnya, aku sudah bilang tidak perlu."

"Baiklah, biar kuminum obatmu."

Rahman mencibir pernyataan istrinya, gertakan semacam itu tidak akan mempan.

Semua berlalu begitu cepat, dua pil yang berada dalam genggaman istrinya segera ditelan dengan satu tegukan air putih. Mata Rahman mengerjap, tak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia masih mencerna kejadian itu saat istrinya bangkit meninggalkan kamar. Jelas terekam dalam ingatan ada genangan air di mata wanita yang begitu dicintainya itu.

Susah payah ia beranjak dari tempat tidur, kepalanya masih terasa pening, tertatih ia menyusuri setiap ruangan rumahnya untuk mencari keberadaan istrinya. Rasa khawatir menjalari setiap sendi menjadikan tubuhnya kaku dan sulit untuk digerakkan namun hatinya seolah ingin lari untuk memastikan keadaan istrinya.

Ruang tamu kosong, depan tivi tidak ada, dapur nihil. Dimana? Rahman memanggil nama istrinya, tak ada sahutan. Cemas memenuhi otaknya. Bodoh. Bagaimana bisa ia meragukan setiap kata yang keluar dari bibir istrinya?

Kini penyesalan menyesakkan dadanya, ia tersungkur dengan menarik kuat rambut di kepalanya, terisak lalu tersadar ada tempat dimana ia yakin istrinya berada.

Semoga belum terlambat...



Penasaran ga? besok baca lanjutannya yah... tungguin aja..


 

Mata

Sejak bertemu, matamulah yang terus mengikatku hingga kini. Tak pernah ada pancaran yang sebening matamu, setulus matamu dan seindah matamu. Aku ragu tapi akan aku katakan bahwa aku jatuh cinta pada pandangan pertama dan itu karena matamu. Iya, apalagi, matamu.

Hai Tuan, maukah kau mendengarkan aku?

Jikalah dulu matamu tak menatapku seperti itu mungkin benih cinta tak akan tumbuh, namun kini semakin kuat menghujam dada. Apa yang bisa aku lakukan? Katakan.

Tuan, tahukah kau?

Bahwa jika separuh dari hari lelahku terkuras untuk rutinitas maka sisa istirahatku rela aku berikan hanya untuk menatap matamu. Kau ijinkan, Tuan? Kumohon jawab iya agar aku punya alasan untuk kembali membuka mata dan berjalan.

Tuan, matamu. Aku rindu. Jaga dia dari wanita lain, aku tak sudi berbagi dengan kaum hawa. Matamu milikku. Hanya aku yang boleh menikmatinya.



#FMOChallenge
#FastWriting
#LimaMenit
#TanpaCoret
#TanpaEdit
#TerjangSemuaAturanNulis
#Mata


Pilihan

Tersendat langkah kakiku menuju gedung A, tempat dimana Mas Akhsan baru saja selesai konsultasi dengan dosennya.

"Tunggulah di rumah, aku akan datang."

Aku menolak, hal yang ingin kusampaikan tidak boleh terdengar oleh orang rumah terlebih bapak. Jadi dengan kecepatan diatas rata-rata aku melaju dengan sepeda motor ke kampus Mas Akhsan di pusat kota. Biasanya ia akan marah  jika mengetahuinya, pelan-pelan saja, berbahaya. Maaf Mas, kali ini terpaksa tidak aku hiraukan.

Kemarin malam bapak memanggilku, ada ibu juga, dengan perlahan mereka menyampaikan maksudnya, memberiku pilihan sulit yang harus saat itu juga diputuskan.

Aku menggeleng namun bapak menolak, "Alasanmu harus masuk akal," begitu balas beliau.

Saat kepalaku menunduk, terfokus pada lantai, ibu memaksa, "Nak, apa lagi yang kau pikirkan?"

Air mataku hampir saja tumpah jika tidak segera mendongak, "Bisakah aku memikirkan ini sebentar?"

Mereka sepakat, dua hari.

Hari pertama berlalu seperti anak panah yang melesat, meninggalkan busur dengan cepat. Aku tak bergerak.

Malam ini mereka akan kembali memanggilku, menuntut jawaban dimana kata iya yang harus terucap. Itulah sebab aku harus menemui Mas Akhsan segera, sebelum terlambat. Jika nanti ia tak mampu memenuhi keingananku setidaknya aku sudah melakukan apa yang kuanggap benar.

Lelaki dengan tas gendong yang kutaksir berisi laptop dan ratusan lembar kertas fotokopian itu berdiri di sisi tiang di depan ruang kelas, sebelumnya ia duduk. Aku menganggap itu sebuah kehormatan saat melihatku datang.

Mulutku terkatup, senyum aku hadirkan untuk membuka percakapan.

"Duduklah, ambil nafas dan tenangkan dulu dirimu."

Biasanya aku akan tenang di sampingnya namun berita yang akan aku sampaikan membuatku tak bisa menahan degup jantung.

"Minumlah dulu."

Aku menggeleng sebagai penolakan atas kebaikannya mengangsurkan air mineral.

"Mas..."

"Tenanglah dulu, aku masih punya banyak waktu untuk mendengar ceritamu."

"Tidak. Harus sekarang. Aku tak punya waktu lagi."

Mas Akhsan terdiam, dari nada bicaraku ia memahami betul bahwa ini memang sesuatu yang tidak main-main.

Terbata-bata aku menyampaikan niat baik kedua orang tuaku yang menginginkan aku untuk pindah ke Jakarta, bukan untuk melanjutkan studi di sana tapi sebagai pendamping hidup dari anak kolega bapak.

"Aku terlanjur berharap padamu Mas."

Lelaki di depanku menerawang jauh, entah memikirkan apa.

"Baiklah, hanya itu yang ingin kusampaikan. Datanglah ba'da isya jika harapanku berbalas."

Mas Akhsan masih terdiam, tidak sekalipun kudapati ia melihat ke arahku. Melirik pun tidak.

Tugasku selesai. Nanti malam semua akan terjawab, apakah Mas Akhsan cukup berani untuk mempejuangkanku atau bijaksana dalam mengiklhaskanku.


Mereka dalam Keseharianku

Rutinitas mempertemukan diriku dengan banyak orang. Kebersamaan kami yang terulang setiap hari memperkuat ingatan tentang wajah, waktu bertemu, cara bercanda bahkan tegur sapa yang tak lagi formal.

"Keujanan ya, Mbak?" tanya petugas saat melihatku melepaskan jas hujan.

"Enggak Mas, tadi ulang tahun jadi disiram air."

Ya begitulah kira-kira. Ada lagi yang lebih tidak masuk akal.

Baru saja kakiku menapak tanah saat seseorang menghampiriku, "Mau kemana, Mbak?"

"Mau nonton bioskop, Pak," jawabku dengan wajah sinis dibuat-buat.

Beliau tertawa, "Seberang sana Mbak bioskopnya, kalau di sini jual es batu."

Aku menyeringai,  berlalu tanpa berpamitan, toh nanti setelah transaksi dengan teller selesai kami pasti berjumpa lagi di tempat parkir.

Beda cerita dengan teller yang kesemuanya memiliki bahan obrolan khas masing-masing.

Mbak ratih yang umurnya hanya beberapa tahun di atasku akan mengajukan pertanyaan tentang drama korea yang baru tayang, karena aku tak tahu apa pun kecuali lee Minho maka dia yang banyak bercerita dan aku yang mendengarkan.

Mbak fany, ibu muda dengan tiga anak. Dia selalu memberi masukan agar aku merias wajah, "Nanti kukenalkan kau pada nasabah yang kaya."

Aku terkikik.

Sedang dengan Mbak Putri, kami mengobrolkan novel-novel romantis terbaru, pokoknya seru.

Satu lagi, Mbak Ceki, ia adalah teller paling cekatan yang membuatku banyak belajar cara menghitung lembaran uang dengan jari. Obrolan kami meliputi banyak hal, tapi tidak sering bercerita, aku lebih senang melihatnya bekerja.

Oh ya, terkadang ada satu teller yang membantu. Aku lupa namanya, satu-satunya teller lelaki yang jika kau di depannya maka silsilah keluarga juga perjalanan hidupnya dari Sulawesi ke Solo akan terurai.

Ahhh, menyenangkan mengingat masing-masing dari mereka. Ini baru satu tempat dari beberapa yang setiap hari harus aku kunjungi. Semoga dilain kesempatan aku bisa membaginya dengan kalian yah.

Kepingan Rasa Puzzle 16

Silahkan baca puzzle sebelumnya di sini

Aku mengerti betul bahwa permintaan maaf dari Gilang tulus terdengar, ia menyampaikan tidak dengan main-main entah karena sungkan padaku atau ada sebab lain.

Sebenarnya bukan perkataan Gilang tentang ayah yang membuatku terluka, sebagai murid aku sungguh paham bahwa ada beberapa guru yang memang favorit untuk dibicarakan, sudah maklum. Toh terkadang para guru mengerti bahwa dirinya terkenal di kalangan para murid dan beliau-beliau dengan bijaksana akan memaafkan, gejolak remaja atau semacamnya, begitu kira-kira.

Andaisaja Gilang mengatakan hal itu saat suasana hatiku normal pasti kutanggapi dengan senyuman tapi sekarang berbeda, emosiku menggerus akal sehat hingga sebuah bentakan membungkam pernyataannya. Mungkin ia hanya ingin membuka percakapan denganku yang sedari tadi diam tanpa kata. Ahh, sedikit menyesal tapi aku sedang tak bisa menguasai diriku sendiri.

Gilang masih menjalankan hukuman untuk membersihkan toilet sekolah sedang aku menghambur masuk kelas untuk menenangkan diri.

Ayah... maafkan anakmu ini ya...

Kalimat yang terus kuulang dalam hati, ingin rasanya menelpon ibu di rumah tapi ayah belum mengijinkanku membawa ponsel ke sekolah, bisa pakai punya ayah kalau butuh, tapi dengan situasi saat ini bertemu dengan ayah pun aku malu.

Nenek... apa kautahu rasanya saat membuat ayah kecewa?

Dulu setelah ayah dan ibu selesai menelpon dari Bandung untuk bertanya kabar, sering aku bertanya pada nenek kenapa mereka harus melakukan itu. Nenek tersenyum saat aku melontarkan komentar bahwa mereka tak percaya pada penjagaan nenek.

"Itu tandanya mereka sayang kamu, Nak."

"Sayang? Lalu bagaimana caraku untuk membalasnya, Nek?"

"Mudah, jangan buat mereka kecewa."

Saat itu aku mengangguk paham, tak menyangka bahwa sekarang terjadi dan aku belum bertanya pada nenek apa yang harus aku lakukan bila terlanjur menyakiti ayah, pasti ibu pun ikut kecewa melihat perbuatanku.

Awan putih berarakan di langit biru di atas sekolah, cerah, mentari garang memancarkan sinarnya yang dengan cepat memaksaku untuk berpaling dari menatapnya.

Lelehan hangat membasahi pipi yang dengan segera aku hapus, ahh mataku perih menatap mentari, lirihku berdusta.



Kamar Kosong

Kawan, masih ingat ceritaku kemarin? Baiklah kalian bisa membukanya kembali, silahkan Mungkin Hanya Perasaan .

Pagi ini Pak Bos dan Bu Bos datang, horeeee... Ada juga senior dan HRD, intinya lantai dua tidak sesepi biasanya. Sebab itulah kuceritakan kembali pada kalian sesuatu yang aku pun masih tertatih untuk mengenalinya.

Asisten yang biasa membersihkan ruangan pagi tadi sempat bertanya, "Mbak, sarang waletnya di buang aja gimana?"

Dibuang? Oh jangan, bukan... bukan karena kata orang sarang walet itu mahal toh cuma ada satu ekor ini, terlebih tidak ada yang mau mengurusnya. Tapi seekor burung walet itu memiliki andil besar terhadap rasa tenangku. Begini penjabarannya, jika tanpa sengaja ekor mataku menangkap selintas bayangan maka langsung burung walet menjadi kambing hitamku. Ahh, pasti burung itu sedang terbang mengitari ruangan.

Nah, jika dia di buang lantas siapa yang akan aku kambing hitamkan?

Maka dengan menutupi rasa gemetarku aku menjawab, "Kenapa harus di buang, Mak?" Mak adalah panggilan kami untuk beliau yang berasal dari kampung nun jauh dari Kota Solo dengan infrastruktur sedikit kurang maju.

"Kotorannya jatuh di lantai semua."

Iya sih, tapi kan sedikit, ia bisa membersihkannya tanpa waktu yang lama atau aku akan meminta seseorang untuk membuatkan papan agar kotorannya tidak jatuh ke lantai atau apapun lah asal burung itu jangan di buang.

"Lagi pula di depan kamar, Mbak."

Kamar? Tunggu. Ada kamar lain di dalam ruanganku? Dimana? Bukankah hanya ada empat seperti yang aku ceritakan kemarin?

"Maksudnya, Mak?"

"Iya, besok kalau saya di suruh beresin kamar yang ini pasti repot kalau setiap buka pintu ada kotoran burung."

Mataku mengikuti telunjuk beliau, dan benar ada yang luput dari pandanganku selama ini. Yah jelas saja aku tak pernah benar-benar mau menatap detail apa-apa yang ada di dalam ruangan ini. Melihat seperlunya saja.

Kamar itu tidak berdinding tembok, tapi multiplek dengan ketebalan tiga centimeter yang di cat satu warna dengan tembok. Kalian harus benar-benar memelototinya untuk mengetahui bahwa ada pintu pada bagian persis di bawah sarang walet yang terbentuk di sudut dinding.

Tidak ada handle pintunya. Datar. Tapi aku tahu itu pintu. Ahh bagaimana menjelaskannya, ada sedikit celah antara pintu dengan dinding yang terbuat dari multiplek tersebut, ada, sedikit.

"Mak, isi kamar itu apa?"

Tolong jangan tanya bagaimana aku merasakan bulu kudukku berdiri saat mulutku mengucap kalimat tersebut. Penasaran yang mendorongku.

"Tidak tahu mbak, tidak pernah dibuka."

Begini, jika tidak ada handle pintu pastilah pintu tersebut tidak terkunci. Tidak mungkin kan terkunci dari dalam?

"Mau dibuka mbak?"

Hampir aku berteriak untungnya tidak, "Jangan Mak, sudah biarkan saja."

"Sarang waletnya?"

"Biarkan juga, minta tolong dibersihin aja ya Mak tiap hari."

Beliau mengangguk dan kembali mengepel lantai di kamar sebelahnya.

Hari berlalu tanpa sesuatu yang mengganggu. Saat senja menyapa itu berarti waktunya menyudahi aktifitas di lantai dua. Kakiku melangkah menjauhi meja kerja, melewati kamar multiplek dan kulihat celahnya semakin lebar.



Mungkin Hanya Perasaan

Berada di lantai dua sebuah bangunan bekas hotel lama, bagaimana?

Kawan, sedikit aku berbagi cerita semoga bisa mengurangi lelahku terlebih rasa takutku akan makhluk tak kasat mata. Tenang tak perlu terburu-buru sebab ini masih pradugaku semata yang penakut akan hal-hal semacam itu.

Entah berawal dari mana tapi seingatku saat kecil tanpa dampingan orang dewasa sering sekali aku nonton film horror, ketagihan hingga malam pun tetap menonton, jika siang maka ruangan akan dibuat gelap agar suasana mendukung. Efeknya kurang bagus, sejak itu selalu terbayang bermacam makhluk yang sering muncul di layar kaca, berbagai bentuk dengan sedemikian rupa.

Beranjak dewasa aku mulai mengurangi menonton film semacam itu, tapi terkadang saat penasaran meraja yah mau gimana lagi, nonton lagi dan takut lagi, hhaa.

Pendidikan formal mengajarkanku sedikit banyak tentang makhluk gaib tersebut, memang ada dan harus diyakini keberadaannya.

Lantai dua ini sangat luas, aku tidak pandai dalam mengira-ngira, tapi bayangkan saja kau bisa memasukkan 21 truk muatan dengan 100 peti telur 15 kgan dalam satu truknya. Ruangan yang aku tempati terdiri dari 4 kamar. Kami beroperasi di ruangan paling luar dan paling terang, dua yang lain tertutup tapi tidak terkunci, sisanya dipakai untuk tempat data.

Ruangan di depan kami terhampar luar berisi peti-peti telur dan eggtray kosong, sedikit gelap, dan jarang ada yang menjamah kecuali menurunkan peti sebab di bawah sudah habis stok. Hanya itu.

Jika kau mau menuju lantai satu, harus menuruni dua bagian tangga yang masing-masing terdiri dari 10 anak tangga.

Hanya ada dua orang yang menghuni lantai dua, jika sedikit saja sore menjelang maka kami akan segera berberes dan pindah ke lantai satu, tidak mendukung untuk melanjutkan kerja terlebih di musim hujan dengan awan mendung yang menggelayut.

Tak ada yang perlu dikhawatirkan sampai beberapa teman berbagi cerita tentang hal-hal yang seharusnya tak sampai ke telinga kami, apa itu? Sudahlah aku tak ingin membahas, cerita ini pun kusudahi, heiii jangan merengek, besok, lusa atau entah sampai kapan aku masih harus kesana hingga petang jadi berhentilah merayuku untuk menulis lebih jauh.

Penasaran? Datang sendiri kesini.

Ahh, suasana seperti ini membuatku merindukan kehadiran pak bos, hhee. Rasa takut hilang seketika jika beliau datang. Kok bisa? Hhii, ya kalian pahamlah.

Terimakasih ya sudah mendengarkan, selamat beraktivitas.

Pengganti Coklat Hari Ini

"Besok kamu ada yang ngasih coklat ga?”

Aku tertegun, pertanyaan semacam ini harus dijawab dengan hati-hati. Beda orang yang bertanya beda cara menjawabnya bukan? Nah, permasalahan ada pada diriku yang belum terlalu mahir menyampaikan suatu maksud. Tapi tetap harus dicoba.

“Haahaaa, kamu kan ga punya pacar ya, jelas ga bakal ada yang kasih coklat.”

Belum juga aku menjawab ia justru mempermudah jalanku, “Hhee, aku ga masalah kok ga dikasih coklat juga.”

“Kasihan, mau aku kasih coklat ga?”

“Ga doyan coklat,” dustaku, astagfirullah.

Memang ada yang mau sama kamu?”

Hha, nah itu, entah.”

Ribet kayaknya punya pacar kamu. Pasti tiap hari diomeli.”

Yaelah, nih orang sensitif amat sih. Kemarin-kemarin itu aku cuma kasih saran untuk tidak main larut malam, pekerjaan yang mengharuskannya berangkat pagi-pagi menuntut untuk istirahat cukup. Sekarang tahu sendiri akibatnya kan, badan ga nyaman untuk diajak kerja.

Pas, Mas,” ucapku mengakhiri kegiatan terima laporan juga uang hasil jual telur pagi itu.

Ia beranjak pergi.

Hari ini saat kami bertemu rutin, pertanyaan yang sama selalu ia ajukan, tak jauh-jauh seputar orang spesial.

Cari pacar tuh yang rajin ke masjid, bukan kayak aku ga pernah ke masjid.”

Dalam hati, iyalah Mas, hatimu terikat pada tempat ibadah yang lain. Ini orang berisik deh, ga ada pertanyaan yang lebih penting apa ya.

Secepat yang kubisa menyelesaikan laporan segera.

Pas, Mas.” Legaaa....

Ia berdiri, mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, “Nih, kalau ga suka coklat,” lalu berlalu tanpa melirikku.

Sebuah jeruk di atas meja.

Aaarrrggghhh... ini bukan tentang coklat...

Teringat akan pemandangan tadi pagi di salah satu ruas jalan utama kota Solo, beberapa karyawan ojek online terlihat membagikan beberapa tangkai bunga mawar kepada pengendara yang berhenti saat lampu merah menyala. Tiba-tiba Fatiya berbisik, “Nanti kalau aku lewat, aku tolak mawar itu, titik.”

Aku tersenyum.

Berbeda memahami suatu hal? Itu wajar. Tapi ada hal yang tidak boleh diperdebatkan lagi, itulah mungkin mengapa menyampaikan maksud hati akan lebih mudah dengan mereka yang memiliki keyakinan sama.
 
Keep istiqomah.


Kepingan Rasa Puzzle 14

Silahkan baca puzzle sebelumnya di sini


Ayah.

Manusia paling disiplin dalam hidupku, tidak ada toleransi terhadap pelanggaran apapun. Aturan harus berdiri tegak, tidak pandang bulu siapa pun pelakunya, ini yang namanya keadilan. Tidak bisa ditawar.

"Ibu, kenapa ayah tidak jadi hakim saja?" tanyaku dulu saat aku terlambat pulang dari main yang lupa waktu, akibatnya tidak bisa berangkat ke mushola untuk mengaji.

"Ayah memilih untuk menjadi guru, Nak," jawab ibu yang baru saja mengantar segelas air putih.

Aku dihukum untuk membaca keras-keras iqra 5 halaman dua sebanyak tiga kali lalu menyalinnya ke dalam buku bergaris.

"Guru itu tugasnya mengajar bukan menghukum," protesku lirih, ibu tersenyum, ayah ada di ruang tamu sedang mengoreksi ujian siswanya.

"Selesaikan dulu nanti kautanyakan langsung pada ayah, setuju?"

"Tenggorokanku sudah sakit, Bu."

Ibu kembali tersenyum, entah kenapa jika melihat beliau tersenyum seperti aku tak perlu mengkhawatirkan apa pun. Ada ibu, hhii. Orang yang selalu menenangkanku saat ayah mulai menghukumku.

"Besok ingat waktu ya Nak kalau main."

Dulu aku selalu berfikir bahwa ibu cari aman sebab tak pernah naik banding saat ayah mengeluarkan sebuah keputusan, membersamaiku dalam hukuman namun tak pernah sedikitpun membantu. Kini saat usiaku semakin dewasa aku mulai mengerti bahwa aturan yang ditegakkan ayah sudah dibahas sebelumnya dengan ibu. Ini cara mereka mendidikku.

Berkali-kali aku menerima hukuman dari ayah berkali-kali pula aku belajar apa-apa yang seharusnya tidak boleh dilakukan, termasuk berada di luar sekolah saat bel masuk kelas akan segera berbunyi. Sekarang meski aku tahu akan mendapat hukuman dari ayah yang kesekian hatiku bukan sakit namun malu, sungguh tak ingin ayah berfikir bahwa cara mendidiknya salah.

Kami tiba di ruang guru, ayah berdiri di sana, tanpa senyuman, aku menunduk.

Gilang menjawab setiap pertanyaan ayah dengan berani, aku tidak heran. Orang yang berani berbohong di awal perkenalan kami, menjerumuskanku dalam masalah dan sekarang mau berlagak sok pahlawan dengan membelaku? Itu tidak berarti apa-apa.

Dia pikir siapa dirinya? Biarku tegaskan bahwa aku sudah tidak percaya lagi dengan segala apa yang akan kauperbuat.

Membersihkan toilet siswa adalah hukuman yang ayah berikan. Biasanya akan ada korelasi antara pelanggaran dengan hukumannya namun aku tak menangkap untuk yang satu ini. Nanti di rumah pasti akan aku tanyakan.

"Sudah Cili, aku saja deh yang bersihkan."

Makhluk perusuh itu berisik sekali. Apa dia belum juga sadar bahwa karena dirinyalah kami ada di sini? Jika ingin minta maaf cukup dengan tidak mengulangi perbuatannya yang sering merugikan itu.

Susah juga mengabaikan orang yang sejak tadi tak mau diam, padahal aku tidak sekalipun meresponnya.

"Terbayang kalau Pak Herman di rumah pasti galaknya luarbiasa. Aku sih nggak mau jadi anaknya. Pasti diajarin matematika terus tiap hari sembari dimarahin."

Baiklah ini sudah keterlaluan. Aku tidak terima, ayah bukan galak beliau hanya menegakkan kedisiplinan. Lagian beruntung juga bukan kau yang jadi anak beliau. Tunggu, berarti Gilang belum tahu kalau aku anaknya Pak Herman? pantas saja dia berani macam-macam terhadapku.

Bau menyengat toilet membuatku menarik napas pendek untuk sedikit bersuara, mungkin ini akan membungkam segala tingkah tak bermutu orang yang mengaku sebagai ketua kelas itu.

"Aku anaknya Pak Herman."

Penulis dari Bandung




"Aku di Bandung."

"Serius ahh."

"Serius."

"Share lokasi dong?"

"Oke, tunggu."

Inilah pengalaman unikku yang terdampar di kota orang. Bandung belum pernah aku kunjungi sekalipun ada saudara yang menetap di sini dan sekarang selama dua malam aku akan berada di Kota Kembang. Bahagia? itu pasti. Pergi ke suatu tempat baru pastilah menyenangkan.

Jalanan Kota Bandung tak jauh berbeda dengan Solo atau Jogja, bangunan kokoh yang tinggi menjulang, hotel-hotel di sisi kanan kiri juga pepohonan yang masih mendominasi. Hanya lebih dingin, itu saja.

"Karena ini di kota, coba kau ke rumahku."

"Ke rumahmu? Memang tak ada pintu dan jendela?"

"Ada dong."

"Nah, berarti sama dengan rumahku. Sudah kubilang tak ada beda."

"Tunggu saja sampai kita di Lembang."

Menurut kalian Lembang berbeda? Ternyata tidak. Pemandangan alam kami punya Tawangmangu di lereng gunung lawu sepaket dengan kesegarannya, Deles Indah di kaki Gunung Merapi, Ketep-Boyolali. Sama. Tapi itu tak kuucapkan, khawatir menyakiti hatinya.

"Bagaimana?"

Aku mengangguk kecil sembari menyeruput perlahan susu cair khas Lembang dalam gelas kardus besar.

"Kita pindah?"

"Kenapa? Tidak suka?"

"Tidak inginkah kita berkeliling Bandung?"

Mataku berbinar, mau... mau... hatiku melonjak girang seperti anak kecil yang mendapatkan sekantong permen warna-warni.

Balaikota Bandung dengan segala rutinitasnya. Jelas teringat bahwa ada taman luas dimana banyak manusia menikmati kerindangannya.

"Eh, ada labirin?"

Dia tersenyum.

Sebenarnya di Jogja atau Solo juga ada tapi tidak di area balaikota.

"Bandung keren tidak?"

Aku mengangguk lagi, susu dari Lembang tadi belum juga habis, besar sekali porsinya.

"Ada sesuatu untukmu, buka setelah di dalam bus."

"Penasaran."

"Kalau tidak nurut, aku tidak jadi memberikannya."

"Oke, deal."

Jarum jam berputar sangat cepat. Detik demi detiknya memperlebar jarak kami. Aku di atas bus kini membuka perlahan bungkusan yang mudah di tebak bahwa buku di dalamnya. Ada dua buku, semuanya masih utuh rapi terbungkus plastik. Mendadak hatiku sesak.

"Gimana? Suka ga?"

Lama kupandangi pesan singkat darinya.

"Kamu nyebelin sih."

"Kenapa? Ga suka? Jelek ya?"

"Harusnya aku buka di Bandung, waktu ada kamu. Kenapa dilarang?"

"Takut kamu ga suka, aku malu."

"Terlanjur, aku sedih nih."

"Loh kok sedih, kenapa?"

"Harusnya ada tanda tangan kamu di buku ini."

Tiga emoticon malu masuk beberapa detik kemudian.

"Apa bedanya aku ketemu penulisnya tapi ga dapet tanda tangannya?"

"Hhii, maaf yah. Tapi memang ini rencanaku."

"Eh, rencana apa?"

"Biar kamu ke Bandung lagi."

Sempurna. Tuhan mengijinkanku bertemu dengan dia tidak hanya di dunia maya namun dalam wujud nyata bahwa benar ada orang seperti dia di bumi. Dan dia adalah pembeda Bandung dengan Solo ataupun Jogja juga kota-kota lainnya.



Motivasi 40km/jam

Kesempatan kali ini aku ingin ngrasani yang dalam bahasa indonesia berarti ngomongin orang. Wanita ini hobi bertualang dengan motor pribadi, ia memilih untuk mengendarai sendiri kuda besinya, menolak tawaran dari kaum adam yang ingin menjaganya.

Kenapa?” saat sahabat wanitanya bertanya.

Menjaga hati kami masing-masing,” begitu jawabnya.

Sampai saat ini sudah banyak medan yang ia tempuh, membuatnya sedikit lebih piawai mengendalikan laju kendaraan. Bahkan ia hapal dengan letak lubang menganga saat deras hujan memburamkan mata minusnya, Tuhan Maha Baik.

Sore itu tidak hujan, cerah berawan, jalanan tidak terlalu ramai, kombinasi yang tepat untuk menikmati perjalanan pulang kerja. Terpaan angin basah menjadi isyarat untuk tak membuka kaca helm jika ingin kacamata terjaga.

Seperempat perjalanan sudah terlewati namun ada sesuatu di depannya yang tiba-tiba menurunkan drastis kecepatan berkendaranya. Jaket itu? Lalu nomer polisi itu? Sepertinya kenal. Setelah beberapa detik menggabungkan memori hasilnya adalah pengendara di depannya adalah bapaknya sendiri.

Beliau berjalan santai dengan kardus berisi kue kering diikat di belakang. Biasanya beliau akan titip untuk membelikan kue tersebut pada wanita itu tapi memutuskan untuk membelinya sendiri sebab akhir-akhir ini anaknya pulang selalu larut, toko jelas sudah tutup.

Baiklah, wanita itu adalah diriku sendiri, hhii.

Biasanya waktu yang dihabiskan dari tempat kerja sampai rumah sekitar dua puluh menit, namun dengan bertemu bapak di lima menit pertama mungkin bisa dua kali lebih lama di jalanan.

Aku mengikuti irama bapak yang melaju 40km/jam, terkadang 50km/jam dan sangat jarang jarum spedometer menyentuh angka 60. Jika aku bertemu dengan teman di jalan maka pasti sejenak berbincang, melaju dengan kecepatan sedang lalu pamit untuk mendahului. Ini bapakku, hhee. Tidak mungkin.

Jadi aku tetap di belakangnya, mendendangkan lagu untuk mengusir kantuk. Beliau tersenyum menyadari aku berada di belakangnya saat kami terjebak truk pasir yang berjalan lambat. Dan aku berhasil melakukan misiku.

Misiku?

Iya, aku hanya ingin bapak tahu bahwa di jalanan anak gadisnya tidak kebut-kebutan, dengan begitu beliau akan tenang. Begitupun dengan ibu yang selalu memandangiku hingga menghilang di jalan raya setiap berangkat kerja. Kecepatan sedang aku hadiahkan agar cemas tidak menggelayuti beliau.

Tapi jika aku sudah lepas dari pandangan beliau maka jelas kecepatan akan aku tambah, tenang saja aku tetap akan berhati-hati, kekuatan jiwa muda juga fokus yang terjaga masih mampu mengontrol kecepatan tinggi, lagian juga ga ngebut kok, masih wajarlah. Maklumi saja kekhawatiran orang tua yang menyayangi kita.

Sederhana bukan? Tahan ego sejenak. Meninggalkan rasa nyaman saat raga kita jauh dari orang tua semoga membuat mereka tidak berlebih dalam kekhawatiran.

 

Ada Sapi di Kandang Ayam


Alkisah di sebuah kandang ayam terdapatlah empat manusia. Mereka bernama Nana, Nini, Nunu dan Nono. Tempat ini meskipun disebut sebagai kandang ayam namun tak ada seekor pun ayam yang terlihat, hanya kadang terdengar satu atau lebih manusia mengobrol satu sama lain dengan menyebut kata “ayam” di dalamnya.

“Ayam mati kemarin berapa ya?”

“Vaksin Gumboro itu untuk ayam kandang berapa ya?”

“Ayamnya umur brapa sih kok telurnya besar-besar?”

Nah, di atas hanya secuil hal yang menjadi topik harian. Entah kenapa tak pernah bosan meski setiap hari diulang. Sebenarnya ada satu ekor ayam namun letaknya jauh di belakang kandang, ayam ini berasal dari kampung yang jauh disana sebab dia berbeda itulah akhirnya diasingkan bersama seekor kelinci yang sering dipanggil PiWi. Ahh ya nama ayam itu Rembo, sering mendengar? Pasti sebab kembar upin-ipin sering beradu peran dengan ayam jago yang sering berulah ini.

Hari belum terlalu siang namun area sibuk sudah beralih ke ruang makan. Beberapa kesempatan kosong  dengan jeli ekor mata melirik ruang atasan, manusia itu bergantian beraksi, memasukkan potongan kue tart ulang tahun dua hari lalu dengan cream juga taburan kacang almond. Makanan mahal tersebut mereka dapat dari atasan yang berbahagia di hari jadi pernikahan perak mereka.

Dua hari? Ya siapa yang bisa menghabiskan kue manis dengan diameter 30 cm dan tinggi 20 cm itu dalam satu hari? Bahkan mungkin lebih dari dua hari. Ada alat ajaib dengan suhu dinginnya yang mampu membantu mereka untuk tak terburu-buru melahapnya.

Di saat mereka tengah asyik menikmati lumeran cream itulah Nunu berkata yang mengejutkan semua penghuni kandang, “Ada sapi.”

Semua mata memandang Nunu yang sok sibuk dengan kertas warna merah muda, kalkulator di hadapan juga pena dalam genggaman.

Jarak ruang makan dan kantor hanya bersebelahan, bersekat kayu tinggi satu meter sehingga wajar jika ada interaksi di kedua ruang.

“Mana, mana?” seru Nini yang kewalahan sebab cream itu meleleh mengotori baju kerjanya.

Nana tampak anggun duduk di bangku kecil menghabiskan gigitan terakhir kuenya.

Nono sudah buru-buru duduk di samping Nana dengan tampak polos seolah menyadari bahwa dialah yang dimaksud Nunu, kue yang tersisa akhirnya dia nikmati dalam diam.

“Ni, Sapi itu makannya duduk atau berdiri?”

“Berdirilah.”

Nini segera paham dengan maksud pertanyaan Nunu, ia dengan cengiran lebar tiba-tiba sibuk mencari kursi untuk duduk, menelan paksa makanan yang masih belum sempurna di kunyah.

Semenjak itu tak pernah ada lagi sapi yang masuk ke dalam kandang ayam.


--------++++--------------

Based on true story.
Kawan, nasehat seperti di atas tidak bisa dilakukan terhadap sembarang orang. Tidak mungkin menyebut sapi kepada teman yang baru dikenal satu atau dua bulan, bukan?

Yuk saling menasehati dalam kebaikan :)


Kata Tuhanku

Ada manusia yang sedang merasa tersudut, segala usaha untuk mencari solusi terbentur keadaan, tak ada jalan lain kecuali meminta pertolon...