Kepingan Rasa Puzzle 18

Baca puzzle sebelumnya di sini


Bunyi bel sedikit mengagetkanku, kembali aku merapikan wajah agar tak ada yang curiga. Perlahan ruang kelas terisi oleh teman-teman yang kembali bersiap untuk memulai pelajaran.

"Apa semua baik-baik saja, Ci?"

Senyum aku hadirkan untuk menjawab pertanyaan Agni. Di panggil ke ruang guru tidak sepenuhnya berarti baik-baik saja terlebih pagi tadi hampir semua warga sekolah paham ada masalah yang ditimbulkan oleh dua siswa kelas XI IPA 3. Memalukan saja.

Bukan tidak sadar bahwa Raiya dan Dania sibuk saling sikut di meja sebelah, mereka paham dengan pasti bahwa senyumku hanya topeng. Agni mengangkat bahu tanda tak tahu harus berbuat apa.

Mereka adalah teman-teman baru yang dengan senang hati mengenalkanku pada sekolah ini, tak banyak pertanyaan tentang masa laluku seolah itu tidak begitu penting untuk menjalin sebuah hubungan pertemanan.

Agni, teman sebangkuku, gadis manis yang sekali pandang kalian akan mengira bahwa ia wanita anggun. Salah kawan, beberapa hari mengenalnya aku juga terkejut jika ternyata ia adalah anggota pecinta alam bagian SRT (Single Rope Technique).
 
"Bagaimana kaumelakukannya?" tanyaku yang tak percaya begitu saja.

"Mudah saja, hanya memasang pengaman, menautkan talinya kemudian kau bergerak ke atas lalu turun ke bawah."

"Jilbabmu?"

"Jilbab tidak menghalangi apa pun, sabtu depan datanglah akan aku tunjukkan padamu."

Baiklah, sabtu adalah hari yang kutunggu untuk membuktikan kebenaran pernyataan Agni.

Di seberang meja kami ada Raiya dan Dania, mereka sudah bersama sejak di bangku Taman Kanak-kanak, selalu satu bangku entah bagaimana bisa takdir membuatnya bertemu di kelas yang selalu sama.

"Biar aku tebak, kalian pasti mengikuti ekstrakulikuler yang sama juga?"

Keduanya tertawa geli mendengar pertanyaanku.

"Bosen kali Ci ketemu dia mulu," jawab Dania sambil menyenggol bahu Raiya.

"Hhaa, nanti kami digosipkan yang tidak-tidak lagi, kalau sekedar dibilang tak terpisahkan sih oke lah kalau dikira lesbian gimana?" timpal Raiya.

"Dih, amit-amit," ucap keduanya serempak.

Raiya adalah ketua PMR sekaligus anggota OSIS Sekbid 5 yang membawahi ekskul PMR. Ia dan tiga anggota yang lain mengikuti pelatihan tingkat Provinsi tahun lalu dan pulang membawa piala juara untuk kategori P3K. Sungguh prestasi yang membanggakan sekolah.

Kawan, Dania adalah temanku yang sangat humoris, selalu ceria dan berpikir positif. Baginya segala hal di dunia ini tercipta seimbang, tidak bisa menuntut agar semua terlahir baik, tidak bisa, yang harus kita lakukan adalah memandang semuanya dari sisi positif, itu akan sangat membantu daripada menggerutu. Jika memandangnya hanya ada kebahagiaan, kesedihan baginya bukan konsumsi publik.

"Bagaimana bisa?"

"Bisa dong. Sastra akan melembutkan hatimu."

Aku menoleh ke Agni juga Raiya, mereka tersenyum jahil, oh baiklah aku menyerah menerka ekstrakulikuler apa yang diikuti Dania. Di sekolah ini tidak ada ekskul jurnalistik, entah kalau aku tidak tahu.

"Tunggu, teater?"

Dania bertepuk tangan, "Hebat."

"Hanya itu yang terlintas," sahutku malu.

Ingatanku terbang ke Solo dimana Monica berada di sana, sahabat yang juga menggeluti dunia peran itu membuatku rindu. Andai dia di sini pasti kami berlima terasa sempurna.

"Ada satu lagi."

"Apa?"

"Dania adalah ketua kajian muslimah di SMA kita," bisik Agni sedikit lebih keras agar orang yang dimaksud mendengar.

"Masyaallah ukhti, assalamu'alaikum?" ujarku menggoda.

"Hey, jangan membuatku malu."

"Pantas saja kelembutan sastra islami, tidak diragukan lagi," aku manggut-manggut.

"Beruntungnya aku memiliki teman-teman baik seperti kalian, terimakasih sudah memilihku."

Kami berpelukan, hari-hari awal memasuki gerbang sekolah baru akan terasa lebih ringan jika ada mereka di sisiku. Hingga Gilang berbuat ulah.

Mereka bertiga tidak lebih jauh lagi mengusikku, sementara aku bisa menenangkan diri. Nanti jika suasana hatiku bisa terkondisikan maka akan aku ceritakan semua pada mereka.



1 comment:

Yuk sampaikan dengan santun :D