Pilihan

Tersendat langkah kakiku menuju gedung A, tempat dimana Mas Akhsan baru saja selesai konsultasi dengan dosennya.

"Tunggulah di rumah, aku akan datang."

Aku menolak, hal yang ingin kusampaikan tidak boleh terdengar oleh orang rumah terlebih bapak. Jadi dengan kecepatan diatas rata-rata aku melaju dengan sepeda motor ke kampus Mas Akhsan di pusat kota. Biasanya ia akan marah  jika mengetahuinya, pelan-pelan saja, berbahaya. Maaf Mas, kali ini terpaksa tidak aku hiraukan.

Kemarin malam bapak memanggilku, ada ibu juga, dengan perlahan mereka menyampaikan maksudnya, memberiku pilihan sulit yang harus saat itu juga diputuskan.

Aku menggeleng namun bapak menolak, "Alasanmu harus masuk akal," begitu balas beliau.

Saat kepalaku menunduk, terfokus pada lantai, ibu memaksa, "Nak, apa lagi yang kau pikirkan?"

Air mataku hampir saja tumpah jika tidak segera mendongak, "Bisakah aku memikirkan ini sebentar?"

Mereka sepakat, dua hari.

Hari pertama berlalu seperti anak panah yang melesat, meninggalkan busur dengan cepat. Aku tak bergerak.

Malam ini mereka akan kembali memanggilku, menuntut jawaban dimana kata iya yang harus terucap. Itulah sebab aku harus menemui Mas Akhsan segera, sebelum terlambat. Jika nanti ia tak mampu memenuhi keingananku setidaknya aku sudah melakukan apa yang kuanggap benar.

Lelaki dengan tas gendong yang kutaksir berisi laptop dan ratusan lembar kertas fotokopian itu berdiri di sisi tiang di depan ruang kelas, sebelumnya ia duduk. Aku menganggap itu sebuah kehormatan saat melihatku datang.

Mulutku terkatup, senyum aku hadirkan untuk membuka percakapan.

"Duduklah, ambil nafas dan tenangkan dulu dirimu."

Biasanya aku akan tenang di sampingnya namun berita yang akan aku sampaikan membuatku tak bisa menahan degup jantung.

"Minumlah dulu."

Aku menggeleng sebagai penolakan atas kebaikannya mengangsurkan air mineral.

"Mas..."

"Tenanglah dulu, aku masih punya banyak waktu untuk mendengar ceritamu."

"Tidak. Harus sekarang. Aku tak punya waktu lagi."

Mas Akhsan terdiam, dari nada bicaraku ia memahami betul bahwa ini memang sesuatu yang tidak main-main.

Terbata-bata aku menyampaikan niat baik kedua orang tuaku yang menginginkan aku untuk pindah ke Jakarta, bukan untuk melanjutkan studi di sana tapi sebagai pendamping hidup dari anak kolega bapak.

"Aku terlanjur berharap padamu Mas."

Lelaki di depanku menerawang jauh, entah memikirkan apa.

"Baiklah, hanya itu yang ingin kusampaikan. Datanglah ba'da isya jika harapanku berbalas."

Mas Akhsan masih terdiam, tidak sekalipun kudapati ia melihat ke arahku. Melirik pun tidak.

Tugasku selesai. Nanti malam semua akan terjawab, apakah Mas Akhsan cukup berani untuk mempejuangkanku atau bijaksana dalam mengiklhaskanku.


1 comment:

Yuk sampaikan dengan santun :D