Kita Berbeda

Braaakkkk....

Mario menggebrak meja kelas, matanya melotot fokus pada satu arah, lantai keramik putih dengan pasir yang berserak di atasnya. Tapi tidak hati serta pikirannya.

“Apa sih yang dipikirkan anak dari Planet lain itu?”

Morca ikut tersulut emosi melihat temannya tak mampu menahan diri, “Keterlaluan memang”

“Sekarang mau bagaimana?,” rupanya Miko lebih tenang menghadapi suasana yang sedang memanas ini.

“Kita seret anak itu,” usulan keras dari Mario

“Percuma, tak ada yang tahu keberadaannya,” Morca tak bersemangat mengetahui rencana mereka gagal di awal.

“Mungkin di sana, ikut aku”

Kedua laki-laki tersebut berjalan di belakang Miko yang tergesa melewati lorong sekolah, melompati pagar besi setinggi satu meter, melintasi kebun biologi kemudian memasuki hutan kecil yang berada di belakang sekolah mereka.

“Sudah kubilang sedari awal anak itu aneh, mau apa ia masuk ke dalam hutan?”

“Aku juga menganggapnya seperti itu, tenang saja sebentar lagi kita akan mengetahuinya”

“Hei Miko, kau tidak akan membawa kami lebih dalam lagi kan?”

“Miko menoleh kearah teman-temannya, “Entahlah, tergantung kemana anak itu bersembunyi”

Sisa-sisa sinar mentari menembus lebatnya pepohonan yang menjadi kanopi hutan, semakin jauh masuk semakin hutan terasa lembab juga gelap. Ada rasa gelisah dari masing-masing mereka namun rasa penasaran untuk menemukan apa yang mereka cari mengalahkan semuanya.

Tak ada yang tahu dimana ujung hutan ini, mereka tidak pernah diijinkan untuk menjelajah ke dalam hutan tanpa pengawasan orang dewasa.

“Miko, mungkin saja ia tidak ada di sini”

“Aku yakin ada”

Kedua temannya bersungut mengikuti langkah kaki Miko yang setengah berlari. Tiba-tiba temannya itu berhenti mendadak dan menyembunyikan tubuh jangkungnya di balik pohon beringin tua yang berdiameter lebih dari pelukan kedua tangannya.

“Ada apa?”

“Ssssstttt, pelankan suaramu”

Mario dan Morca mengikuti perintah Miko, perlahan mereka mengintip dari balik pohon, diantara semak-semak belukar duduklah seseorang yang mereka cari, tubuhnya bersandar pada pohon beringin lain dan kepalanya terkulai.

“Apa yang ia lakukan?”

“Mari kita cari tahu”

Dengan hati-hati ketiganya mendekati sosok tersebut dan terheran mendapatinya sedang terpejam dengan kedua tangan memegangi perutnya.

“Apa ia terluka?”

“Pingsan?”

Tak ada jawaban dari setiap pertanyaan yang terlontar.

“Mati?”

“Kurasa tidak, lihat dadanya masih naik turun”

Beberapa saat berlalu dan sosok itu tak juga bangun.

“Apa kita harus membangunkannya?”

“Bagaimana jika ia terluka dan harus segera mendapatkan pertolongan?”

“Atau ia kelaparan?”

“Mustahil, asrama menyediakan cukup makanan bagi penghuninya”

Semua percakapan itu berhenti menyadari ada gerakan lemah dari obyek yang dibicarakan. Perlahan matanya terbuka dan terkejut mendapati ada orang lain di dekatnya.

“Hei, kalian sedang apa?”

Ketiganya tersenyum, kekhawatiran mereka sirna sudah.

“Vay, apa kamu baik-baik saja?”

Vaya meringis, meremas perutnya.

“Ahh, kau tidak baik-baik saja. Mari kembali ke asrama?”

Vaya menggeleng, “Tinggalkan aku sendiri di sini”

“Tidak akan, kau harus mengaduk larutan garam. Kita butuh itu untuk maju ujian pekan depan”

Morca mendapatkan tatapan tajam dari dua teman laki-lakinya.

“Vay, kau terlihat pucat, apa kau sakit?”

Gadis itu mengangguk dengan mata terpejam.

“Ijinkan kami mengantarmu untuk kembali ke asrama”

Kedua kalinya gelengan lemah dari Vaya menjadi jawaban untuk semua pertanyaan.

“Baik tidurlah, anggap kami tidak ada. Kami akan menjagamu”

Kini matahari telah sempurna menghilang dari langit, sinar rembulan menyusup memberikan rasa tenang kepada ketiga laki-laki yang hanya terdiam mencerna apa yang terjadi pada satu teman gadisnya itu.

Di sekolah mereka setiap tahunnya mengadakan pertukaran pelajar dengan planet lain, kini giliran gadis ini yang menjadi siswa terpilih untuk belajar bersama. Kabar yang beredar bahwa semua makhluk dari planet dimana gadis ini berasal memang sangat berbeda dan ketiganya baru menyadari hal itu sekarang.

“Kita bisa kembali ke asrama sekarang”

“Vaya, kau sudah bangun?”

Gadis itu tersenyum dan mengangguk.

“Boleh kami bertanya ada apa?”

“Ini adalah keistimewaan sebagai penghuni planet Venus, kalian yang tinggal di Mars tidak akan mendapatkannya”

“Lalu?”

“Iya, sebagian dari kami akan merasakan sakit kepala juga perut yang melilit saat keistimewaan ini datang”

“Apa bisa itu disebut keiistimewaan?”

“Sudahlah, jangan berdebat. Siapkan saja alasan pulang terlambat kalian kepada kepala asrama nanti”

“Kau sendiri?”

“Sudah kubilang, keistimewaan ini yang akan menyelamatkanku dari teguran kepala asrama”

Vaya memimpin teman-temannya keluar dari hutan, sepertinya ia hapal betul jalan setapak ini. Ada senyum yang terlukis menyadari bahwa ketakutannya akan makhluk Mars tidak selamanya benar.

Apakah semua penghuni di planet ini seperti ketiga temannya? Entahlah. Bintang mulai bermunculan, menjadi penghias langit malam dan untuk saat ini tak perlu ada yang dicemaskan.



Retakan Pilu

Hai tahukah kamu
Setiaku menanti angin yang berhembus
Berharap Tuhan mengutusnya membawa balas rindu
Mempertemukan retakan pilu untuk bersatu

Hai sadarkah dirimu
Bahwa detik yang berlalu
Akan selalu sendu
Tanpa hadir ragamu

Mengertikah engkau
Harus kemana lagi aku menuju
Saat arah angin semakin semu
Bayangmupun kian kelabu

Kuajukan pertanyaan yang hanya satu
Aku yang telah lama menunggu
Bolehkah berharap lebih pada waktu?
Tak apa jika tidak adalah jawabmu


---++++-------

Haiissshhhh, maaf pak guru tugas puisi darimu sepertinya kurang memuaskan

Pra Afkir

Pagi ini desas desus tak mengenakkan terdengar. Ada kabar bahwa sebagian dari kami akan dibuang. Iya dimusnahkan sebab sudah tak dianggap berguna lagi di rumah ini, tak memberikan manfaat yang berarti. Tapi segala kebaikan kami selama ini apa tidak dipertimbangkan?

Sudahlah, segala perdebatan tak akan menemui ujungnya jika pada akhirnya kami akan diangkut dalam mobil bersama-sama, memperlebar jarak dengan rumah ternyaman dengan segala cerita di dalamnya dan entah berhenti dimana.

Memang inilah hidup, yang lama akan digantikan yang baru, yang tua harus mau mempercayakan pada yang muda, kami yang dianggap sudah tak mampu dipertahankan harus dikeluarkan segera sebelum Tuan lebih banyak menanggung biaya hidup kami.

Teringat jelas saat diangkut dengan sebuah mobil pula aku dan ribuan teman diantar ke rumah ini, kami begitu disayangi, diperlakukan istimewa. Bagaimana tidak jika diantara kami menggigil mereka akan segera menyalakan pemanas ruangan, ketika terik mentari membuat kami berpeluh hujan buatan hadir menyegarkan.

Ahh ya, saat aku masih doyan sekali tidur sepanjang hari mereka rela terjaga tengah malam untuk membangunkanku juga lainnya yang terlelap untuk makan. Membantu siapa saja yang kesulitan mencari air minum atau jatah makanannya habis.

Mengelus lembut kami saat mengontrol berat badan setiap minggunya, mengelompokkan kami guna memberi perlakuan yang berbeda. Iya berbeda, tapi kami tidak pernah iri. Teman-teman kami yang kurang beruntung akan disendirikan, diberikan perhatian lebih banyak juga vitamin dan obat-obatan penunjang. Senang sekali rasanya dihujani kasih sayang yang berlimpah.

Secara berkala masing-masing dari kami diberikan sesuatu agar dapat hidup sehat lebih lama, jarum suntik itu akan menembus lapisan kulit, memasukkan cairan kedalam aliran darah yang segera menyebar keseluruh tubuh. Biasanya tiga hari setelah perlakuan itu kami akan diberi vitamin untuk mengembalikan kesegaran dan setelahnya hidup berjalan dengan normal.

Kebahagiaan pindah rumah terjadi lima minggu kemudian, jika biasanya kami harus satu ruang dengan belasan teman kali ini satu kamar hanya dihuni oleh tiga sampai empat saja. Lega sekali mengingat ukuran tubuh yang semakin membesar. Delapan minggu kemudian aku kembali bahagia saat memiliki kamar pribadi. Bisa melakukan apa saja sesuka hati tanpa sungkan pada teman satu kamar.

Mengenang hal tersebut seolah kegembiraan ini tak ingin berakhir, tapi burung-burung yang sering bercerita di atas tembok membawa kabar baik. Nantinya kami akan dapat membalas segala jasa orang-orang yang telah berbaik hati merawat kami dengan bentuk lain. Kami adalah makhluk yang selalu dinanti oleh sebagian besar orang diluar sana.

Saat di rumah ini, telurku diminati semua kalangan dan jika aku keluar maka akan lebih banyak lagi yang bersedia untuk segera memilikiku. Membawaku ke rumah mereka dan melengkapi hari dengan menyenangkan. Membayangkannya sama istimewanya seperti dulu kala, bahagia menyusup membuyarkan segala keraguan yang sempat menyesakkan dada.

Kebahagiaan seperti apa? Ahh, tak sabar aku menunggu. Dan di ujung lorong orang-orang baik itu membawa glodok yang nantinya akan mengangkut tubuhku.

Aku siap, menjalankan peran sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia. Sorak sorai menyambut akhir kebersamaanku dengan segala kenangan di rumah ini.

Ptoookkkk.... tok... tokk... petookkk...


Kau Pikir Siapa Dirimu?

Aku bersungut melihat ia datang menghampiri, hah mau apa lagi? Dasar tak tahu malu. Jelas aku marah sebab segala upaya telah dilakukan untuk menyadarkannya namun tak kulihat tanda-tanda ia akan memperbaiki tabiatnya. Harus bagaimana lagi? Tunggu, atau memang ia sudah bebal dengan segala macam kode yang kami sampaikan? Ya tentu saja bukan hanya aku yang geram, teman-temanku pun sama.

Pagi hadir dengan sinar hangat mentari yang merasuk ke dalam tubuh, memberikan denyut kehidupan. Ceria diwajah kami seharusnya bisa bertahan lebih lama andaikan bukan ia yang datang. Hari ini kami akan serempak membalas dendam atas apa yang telah ia perbuat, rasakan.

Wajahnya berulang kali tersenyum puas sebagai balasan pamrih atas kebaikan teman-temanku sebanyak ia akan kecewa mendapatkan perlakuan tak baik dari lainnya, aku termasuk dalam golongan lainnya tersebut. Peduli apa padanya, seseorang yang telah banyak menyakiti kami dan meminta kebaikan kami? Oh kumohon sadarlah.

Kami tak suka ia, sungguh tak suka. Tenang kawan kau tak perlu bersungut untuk menanti lebih lama penyebab dari rasa kesal kami. Begini lengkapnya.

Suatu pagi saat lampu-lampu penerang ruangan dimatikan dan makanan baru terhidang, dengan sukacita kami menikmati sarapan yang lezat, ahh berulang kali aku memuji koki yang pandai sekali mencampurkan segala bahan hingga menambah nafsu makan masing-masing dari kami.

Kemudian ingatlah kami bahwa hari ini adalah jadwal dimana sesuatu akan disuntikkan guna menambah kekebalan tubuh kami. Santai saja, kami tidak pernah cemas saat menunggu giliran, bahkan bercakap-cakap sembari melahap makanan berbahan baku jagung dengan gembira.

Satu persatu dari kami mendapat giliran, tak ada yang merasa itu sesuatu yang perlu diperhatikan maka kami tetap mematuki dengan gairah tanpa memperdulikan sekitar, sesekali dari sisi seberang teman kami berkokok, menggumamkan betapa lezatnya hidangan pagi ini, dia terlalu berlebihan.

Petok... petokk... petoooookkk......

Sontak kami semua panik mendengar salah satu teman kami menjerit, oh tidak apa yang terjadi? Segera kami memutar kepala menuju sumber suara. Tahulah kami meski petugas vaksinasi telah berlalu mereka meninggalkan sesuatu yang menggenang dimata salah satu teman kami. Mengetahui hal itu riuhlah acara makan pagi kami. Semua mengeluarkan suara gaduh, ingin berlari tapi teralis bambu mengurung kami.

Tibalah giliranku, aku menjauh dari tangan petugas yang mencoba untuk menjamahku. Namun tangannya yang panjang mampu meraih kakiku dengan mudah.

Satu detik... dua detik... tiga detik..... lelah sudah aku berpikir berapa lama waktu yang dihabiskan untuk mereka menarik kaki kananku, menyuntikkan cairan vaksin lalu mengembalikan tubuh lemahku dengan kasar. Hei, kalian pikir aku ini apa? Aku juga makhluk hidup yang punya hati. Jeritan kesakitan aku lengkingkan untuk memberitakan betapa aku kecewa dengan mereka tapi rupanya hanya dianggap sebagai angin lalu. Baiklah, tindakan nyata akan kau tuai besok. Tunggu saja.

Pagi ini saat ia kembali berkunjung, dan mendapati hanya sedikit kebaikan yang tersedia, aku begitu puas menyadari raut kecewa yang jelas terpancar dari wajah jeleknya. Tahu rasa. Aku dan beberapa teman yang puas menyadari hal itu bersorak riang, inilah akibatnya kau perlakukan kami dengan kasar.

Biasanya lebih dari lima puluh tumpukan eggtray penuh berisi telur terpampang di depan rumah kami, namun hari ini hanya ada beberapa lembar enggtray saja yang sanggup ia kumpulkan. Semoga ia paham sungguh kami hanya membalas segala yang kami terima sebab kami tak tahu lagi mampu berbuat apa.

Hai manusia, bukankah Tuhan telah menciptakan kamu dengan akal? Maka berlemah lembutlah terhadap sesama makhlukNya.




–------+++++-----------

Cerita ini ditulis berdasarkan hasil penelitian para ahli yang dilakukan guna mencari tahu hubungan perlakuan kasar terhadap binatang dengan tingkat produktivitas.

Yeay.. tantangan minggu ini berhasil. Tunggu, semoga pembaca paham ya saya sedang bercerita hewan apa, ahh masak iya kambing bertelur? bebek? bisa juga sih, tapi bagaimana bebek mengeluarkan suaranya? ahh sudahlah, anggap saja kalian paham, beres.
Terima Kasih.

#TantanganODOP


Pak Sopir

Seperti hari lainnya, pagi yang sama dengan suasana yang tak jauh berbeda. Sering disela-sela mengerjakan laporan aku merenung, hari ini apa ya yang akan membuatnya berbeda? dan hal itu yang membuatku lebih banyak mengamati sekeliling yang seringkali luput dari perhatian.

Mbak, pesanan olinya datang,” Kusnul teman satu bagian menghampiri mejaku untuk memberitahu.

Oke, makasi yaa”

Cepat sekali, aku membatin. Padahal baru tadi pagi aku menelpon untuk memesan oli mobil, dua jam berselang sudah sampai, biasanya butuh waktu dua hari dari pemesanan. Baguslah pelayanan yang diberikan luar biasa memuaskan.

Aku keluar ruangan untuk menandatangani surat jalan juga meminta nota tagihan, setelah itu mempersilahkan pengantar barang untuk menunggu sebentar. Truk berwarna dasar merah putih dengan tulisan besar-besar sebuah nama perusahaan nasional terparkir diseberang jalan, dua ratus meter di depan bangunan tiga lantai dimana aku mengamatinya kini.

Sopir laki-laki dengan keterbatasan kemampuan mataku yang minus tiga terlihat tengah sibuk memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya, oh ia sedang makan, mungkin sarapan sebab hari belum pantas disebut siang.

Kembali aku berkutat dengan stabilo, pena dan spidol warna-warni. Entah sejak kapan aku menyukai kegiatan menggabungkan beragam warna di atas kertas untuk membuat laporan formal, ahh ya sejak pak bos yang memintanya dan ternyata sangat membantu.

Mbak, sudah dibayar?”

Oh iya lupa”

Kusnul hanya menggelengkan kepala sebelum melenggang pergi menuju meja kerjanya.

Sedikit mengulur waktu lagi, uang tunai dengan jumlah pas terangsur kepada pengantar barang. Ia mencocokan dengan angka yang tertera pada nota sebelum menyerahkan kembali nota itu beserta surat jalan lembar pertama padaku kemudian dengan sopan berpamitan.

Aku mengamati hingga ia masuk ke dalam truk, menyenderkan kepalanya, mencari posisi aman sebelum melanjutkan perjalanan. Truk tersebut belum berjalan, ternyata pak sopir belum selesai menghabiskan bekalnya. Alasanku mengulur waktu supaya beliau tidak terburu-buru, terselip rasa haru terlepas mengapa beliau harus sarapan saat tengah menjalankan tugas, berbeda dengan kernet karena saat melaju pun ia bisa makan bahkan tidur. Pengalaman bekerjasama dengan sopir juga jadwal perjalanan yang telah direncakana hal ini seharusnya tidak diijinkan, korupsi waktu sebab mengulur lebih lama.

Pasti tidak tiap hari, hal yang aku semogakan.


Bakso Kuah Lereng Lawu

Awan putih mendominasi langit sore ini, desau angin menjadi teman menanti mentari tenggelam sempurna, ada rasa tak terlukiskan saat pemandangan sekitar memanjakan mata, juga menyadari hadirmu di sini.

Kubelikan satu untukmu”

Tanganku gemetar menerima makanan khas lereng lawu yang mendominasi hampir di kiri dan kanan jalan utama. Makanan itu masih mengepul, terbungkus plastik bening dengan kuah berwarna merah tua, campuran sedikit saos pedas dan banyak kecap kental hitam manis.

Sudah sebesar ini masih nggak doyan pedes?”

Tak apa ia mengejekku, bahkan rela jika ia terus mengulanginya, sungguh garis lengkung yang tercipta pada wajah dengan rahang kuat itu mampu kutukar dengan apa pun untuk sekadar melihatnya meski sekejap.

Kaos tangan yang masih melekat menyerap panas, perlahan aku menyesap kuah bakso yang hangatnya menjalari kerongkongan dengan segera. Belakangan banyak pedagang yang menyediakan mangkok untuk menyantap makanan ini, namun kami lebih suka menikmatinya dengan cara lama. Jika disajikan dengan mangkok maka tampilannya akan sama dengan bakso yang tersebar di berbagai sudut kota solo, ada bihun, sawi dan pelengkap lainnya. Sangat berbeda jika dibungkus plastik, hanya kuah dan bakso bulat.

Tunggu disini aku belikan teh hangat sebentar”

Aku mengangguk. Segelas teh hangat bersanding dengan bakso kuah, terkesan luar biasa ketika kau menikmatinya diantara kabut pegunungan yang mulai mengepung.

Tapi bagaimana bisa? Kenapa makanan yang terbuat dari tepung kanji dan juga daging giling membuat candu?

Mungkin karena kamu, iya kamu dan senyummu yang menyingkirkan segala rasa kelabu.

Ia datang dengan segelas teh hangat, kenapa hanya satu?

Kita bagi dua ya?”

Aku menelengkan kepala, mencoba menggali maksud dari pertanyaannya barusan.

Gelasnya habis, akhir pekan banyak pendaki yang memenuhi warung makan”

Ok terjawab sudah.

Hingga semburat jingga menghilang sempurna kami masih disini, di batas antara kabupaten Karanganyar Jawa Tengah dan Magetan Jawa Timur, berharap mentari seharusnya lebih lama untuk menyinari setidaknya untuk hari ini.

Mau coba sate kelinci?”

Kepalaku menggeleng, masih tak tega hewan selucu itu harus ditusuk dan dibakar diatas bara api.

Waktu cepat berlalu hingga malam gelap sempurna.

Saatnya kita berpisah”

Gigiku menggigit bibir bagian bawah, sekuat tenaga menehan genangan air di pelupuk mata.

Besok kita akan bertemu lagi bukan? Di sini, di tempat yang sama setiap harinya?”

Aku mengangguk berulang kali, meyakinkan ia bahwa hal itu pasti akan terjadi.

Kami berpisah, ia mengayuh sepeda angin menuruni jalanan terjal, berbelok pada tikungan pertama dan menghilang. Sempurna sudah punggungnya menjadi pemandangan terakhir sebelum kakiku melangkah memasuki Kabupaten Magetan.

Semoga esok ada kesempatan bagiku untuk kembali bertemu dengan lelaki itu, lelaki yang mau menghabiskan setiap senjanya bersama gadis bisu penjual jamu.


Tiga Sindiran Untukku

Aku lupa kapan tepatnya berteman dengan orang ini, mungkin semenjak aku mengikrarkan diri untuk menjadi seorang penulis di dunia maya setelah itu dia rutin memberikan semangat juga pesan-pesan yang tak jauh dari dunia kepenulisan.
 
Aneh, tapi aku menikmatinya. Tak pernah sekalipun pesan darinya berbalas namun tak jera ia terus memberikan tips dan trik agar aku tak pantang menyerah saat menghadapi rintangan menjadi seorang penulis.

Pagi itu kembali ia menyapa dan dengan sikap polosnya memulai percakapan dengan memberikan semangat lalu mendoakan segala kebaikan. Semoga segala hal baik kembali padamu, lirih kulantunkan doa balasan dalam hati.

Seperti biasa ia melanjutkan tanpa menunggu komentarku,
 Aduh..! Saya Ragu Anda bisa jadi penulis kalau masih melakukan hal ini.

Haah? Tumben sekali bahasanya tidak sehalus seperti sebelum-sebelumnya.

Kalau Ciani benar-benar mau jadi penulis saya sarankan tinggalkan tiga hal berikut :
1. Malas Membaca
2. Malas Berlatih
3. Malas Belajar

Fiuh, aku sudah berpikir bahwa ia tak akan lagi memberiku semangat. Tapi sungguh apa yang ia katakan dapat disingkat hanya dengan satu kata “Malas”, benarkan?

Malas adalah penghalang terbesar dari setiap keinginan, bahkan sebelum kesuksesan diraih kita harus lebih dulu menakhlukkan rasa malas yang pantang menyerah menyusup dalam aliran darah, menimbulkan berjuta alasan untuk menunda, menarik keyakinan diri bahwa sebenarnya bisa hingga akhirnya penyesalan karena telah takhluk oleh rasa malas sangat pahit terasa. Menyedihkan? benar.

Yukk semangati diri sendiri, percayalah di luar sana banyak teman yang juga sedang berdarah memperjuangkan mimpinya. Yakinlah kita tidak sendiri :)

Ini Bukan Sihir

Pintu rumah terbuka, daun pintu tersentak keras oleh dorongan tangan Fio yang terbakar emosi. Adiknya Cila yang mengekor dibelakang memainkan muka dengan beragam ekspresi.

Bundaaaa......”

Seorang wanita paruh baya muncul dari dapur, menyambut kedua putrinya dalam pelukan, “Ada apa, pulang sekolah kok teriak-teriak?”

Fio melirik Cila, bersiap melontarkan segala yang tersimpan dalam dada, Bunda paham sekali akan apa yang telah terjadi begitu juga dengan Cila yang kini tersenyum lebar menanti kakaknya mengadu pada Bunda.

Cila melakukan sesuatu yang tidak sopan”

Melakukan apa sayang?” Bunda menatap Cila meminta penjelasan namun bungsunya hanya mengangkat bahu dan mempertahankan senyum lebarnya

Cila membaca pikiran Godin saat ia mau mengajakku berkencan sabtu malam besok”

Apa yang ada dipikiran Godin, sayang?”

Sigap Fio mencegah adiknya untuk membongkar sifak tak baik Godin yang hanya ingin memanfaatkan Fio untuk membelikan tiket nonton, tanpa ia sadari Bunda telah tahu semuanya sebab Beliau telah membaca apa yang ingin Cila utarakan lewat sorot matanya.

Bukan itu yang harus dibahas Bunda, bukankah manusia tak ada yang sempurna? Wajar jika masing-masing memiliki kekurangan, kan?”

Ini tak akan berakhir, Fio akan tetap pada pendiriannya, rupanya cinta telah menutup akal sehatnya untuk menerima nasihat baik dari orang lain.

Iya sayang, adikmu hanya ingin menjagamu, tapi percayalah bahwa Bunda akan menghukumnya sebab berlaku tidak sopan pada orang lain”

Nah bagus,” Fio melenggang penuh kemenangan meninggalkan adiknya yang sebentar lagi akan mendapat hukuman.

Cila meletakkan jemarinya tepat di dagu, telunjukknya mengetuk perlahan area bawah bibirnya seperti memikirkan sesuatu, “Jadi hukuman apa yang ingin Bunda berikan?”

Jangan tunjukkan kelebihan itu di depan kakakmu, berbahaya.

Iya Bunda, aku gemas melihat Kak Fio mudah sekali terperdaya oleh bujuk rayu laki-laki.

Biar Bunda yang akan menasihatinya.

Cila mengangguk, percakapan tak bersuara sering ia lakukan dengan Bundanya terlebih menyangkut Kak Fio yang akan menganggap gila hal ini. Entah mengapa mereka tak sama, pertanyaan yang sering Cila lontarkan namun tak pernah ada jawaban.

“Kau dihukum untuk mencuci piring makan siang kami”

Fio yang mendengar hukuman itu tersenyum gembira, semoga ini membuat Cila kapok dan tidak lagi sok-sokan mengutarakan hipotesa-hipotesa anehnya yang belum tentu benar.

Cila juga tersenyum, ini mudah sekali, bukan hal yang sulit awalnya sebelum Bunda kembali berbicara tanpa suara.

Sayang, kali ini tak boleh ada piring-piring berterbangan di dapur.


Kejutan Ulang Tahun Natasha

Apakah semua sudah siap?”

Satu persatu gadis tanggung yang berumur sekitar lima belas tahun mendongak ke arah suara yang terdengar lantang di ruangan tersebut.

Faya, mengangguk-angguk kecil sembari menghitung satu persatu lilin yang tertancap rapi di atas sebuah kue tart bertaburan chocochips, lirih terdengar ia mengguman, sebelas, duabelas, tigabelas, empat belas, lima belas, “Siap”

Jawabannya mendapatkan acungan jempol dari sang penanya.

Di ujung ruangan,Davi menekan berulangkali saklar yang menempel di dinding. Sejenak ruangan mati dan menyala pertanda semuanya berjalan sesuai rencana, yakin ia berteriak, “Siap”

Jempol kedua kembali teracung ke udara.

Pitris mengalirkan udara dari mulutnya menghasilkan suara cukup keras dari dalam terompet berbentuk naga, ketiga temannya reflek menutup telinga dan ber-sssttt bersamaan. “Ups, siap”

Terakhir, kita tunggu Wilona untuk membawa kabar baik”

Wilona adalah orang terakhir yang bertugas untuk membawa Natasha ke ruangan ini. Ia memiliki tugas paling berat sebab harus pandai merangkai alasan agar mau mengajak Natasha untuk ikut bersamanya. Mereka berenam adalah sahabat dekat yang dihari ini akan memberikan kejutan untuk salah satu sahabat mereka atas hari lahirnya, Natasha.

Wilona berlari riang memasuki ruangan yang disambut tatapan aneh semua teman-temannya, sang komando bertanya, “Mana Natasha?”

Semuanya mendekat dan berkumpul di tengah ruangan, menanti penjelasan kenapa Natasha tidak hadir bersama Wilona.

Tenang Nda, ia pasti akan segera kesini kok”

Kenapa tidak kesini bersama?,” timpal Davi

Susah, dari tadi alesan mulu tuh anak katanya harus segera pulang lah, mau anter adik les lah, mau buat tugas lah”

Terus darimana kamu yakin Natasha bakal kemari?” pertanyaan Faya mewakili keingintahuan teman-temannya

Nih...” Wilona mengangkat tinggi-tinggi sesuatu ditangannya. Benda tersebut mengkilat diterpa sinar mentari siang hari.

Kacamataaaaa?”

Franda dengan kasar merebut benda tersebut dari tangan Wilona, “Keterlaluan kamu”

Wilona sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Franda terlebih ia membentaknya, “Kenapa?”

Kau tahu betapa kacamata ini harus selalu menempel pada mata Natasha?”

Itulah kenapa aku mengambilnya, barang penting ini yang mau tidak mau harus diambil oleh Natasha kemari kan?”

Kamu salah Na, salah besar”

Faya, Davi dan Pitris menunduk sepertinya mereka lebih cepat tanggap akan apa yang dimaksud oleh Franda. Tapi Wilona tidak terima dibilang salah.

Nanti sesampainya disini aku akan segera mengembalikannya, tenang saja, ini hanya untuk mengajaknya kemari”

Keterlaluan cara yang kau lakukan”

Katakan, katakan dengan jelas apa salahku, hah?”

Franda menarik napas, bersiap untuk memaki Wilona yang hal semacam ini saja perlu dijelaskan. Beruntung Faya mengusap lembut pundaknya dan mengambil alih tugas untuk menjelaskan semua ini.

Na, kacamata ini adalah alat bantu Natasha dalam melihat..”

Wilona ingin mengatakan bahwa ia tahu benar fungsi kacamata namun urung sebab Pitris meremas tangan kirinya.

Mata kanan dan kiri Natasha sudah menderita minus empat, akan sangat berat baginya berjalan tanpa kacamata ini”

Mulut Wilona ternganga, ia lupa akan kenyataan ini. Bagaimana ia bisa bertindak sangat kejam kepada sahabatnya sendiri?

Tenang saja tanganku masih bisa meraba tembok sekolah, kakiku masih mampu melangkah, tapi telingaku panas mendengar kalian bertengkar. Hei ini hari bahagia, jangan menjadikanku alasan perselisihan diantara kalian”

Semua kepala menoleh ke sumber suara, Natasha berdiri bersandar pada pintu ruangan, tersenyum. Ahh, gadis itu hatinya seputih awan bersih yang menaungi gedung sekolah.

Kenapa semua bengong, mana kue ulang tahunku?”

Kelima sahabat itu berlari berhamburan memeluk Natasha, meninggalkan tart yang masih di atas meja, melupakan ruangan gelap, tiupan terompet dan kejutan lain yang telah lama direncanakan.

Ada hal yang akhirnya mereka sadari bahwa seharusnya kejutan ulang tahun tidak diwarnai aksi untuk menyakiti yang bersangkutan, bukan?


Kembali ke Awal

Pukul lima sore tepat, aku bergegas bersiap untuk pulang. Biasanya aku yang paling rajin menemani semua teman kerja hingga mereka selesai namun sore ini ada janji yang harus segera ditepati.



Kecepatan di atas rata-rata membuat rok panjangku berkelebat bertabrakan dengan angin yang cukup kencang berhembus. Belum banyak kendaraan yang mengisi jalan raya tapi sebentar lagi pasti penuh, bersamaan dengan karyawan beberapa pabrik yang berganti shift.


Di sepanjang jalan aku sudah membayangkan bahwa mungkin cukup waktu satu jam sebelum menghadiri undangan Fany , tak apa terlambat toh aku sudah mengatakan hal ini padanya.


**

Suasana waroeng steak di daerah pinggiran kota solo masih ramai padahal tiga puluh menit lagi akan segera ditutup. Sepeda motor berjejer rapi di tempat parkir, tukang parkir yang selalu tersenyum memberikan solusi untuk menyumpalkan lagi satu motor diantara penuhnya lahan.

Aku celingukan mencari Fany, sudah pulangkah ia? Telponku tidak di angkat pesan juga tidak berbalas, marahkah? Ahh mungkin iya, aku tidak hanya terlambat satu jam dari perjanjian, semoga ia masih mau mendengarku.

Seorang gadis muda dengan balutan baju hijau toska duduk menyendiri di pojok ruangan, menunduk dengan memainkan ponsel dalam genggaman. Fany. Sudah kuduga ia marah, tapi masih ada harapan karena ia masih disini, belum pulang, menungguku.

Hai….,” sapaku dengan senyum lebar membuka percakapan yang terkesan canggung

Fany hanya mendongak sebelum kembali sibuk dengan rutinitas seperti sebelumnya.

Maafkan aku, tadi….”

Belum selesai aku menyampaikan alasan ia menyela, “Duduklah”

Di depanku sudah terhidang spageti kornet dengan saus merah menyala, sepertinya pedas.

Makanlah”

Aku mengernyit, bukankah Fany adalah orang yang tahu benar bahwa makanan pedas hanya akan membuat badanku lemas?

Cepat makan,” ulangnya

Patah-patah gerakan tanganku melilitkan mie panjang itu pada garpu, menutup mata sebelum memasukkannya ke dalam mulut untuk dikunyah. Benar saja, saus campuran apa ini yang dengan cepat membakar lidahku, segera air mineral mendorong makanan yang tak sempat kukunyah sempurna untuk segera melewati kerongkongan.

Kenapa terlambat begitu lama?”

Berulang kali aku menenggak air mineral, menetralisir rasa panas yang tak kunjung mereda, Fany hanya menatapku bosan.

Hei cepatlah katakan, kau mau diusir pelayan, sebentar lagi mereka akan menutup warung?”

Maaf, tadi aku mengantar ibu kontrol”

Fany menunggu kelanjutan ceritaku yang bercampur dengan berhuh-hah.

Percayalah, aku sudah mengingatkan beliau berulang kali, pagi sebelum berangkat kerja, saat makan siang dan sebelum pulang kerja”

Lalu?”

Saat aku tiba dirumah kukira beliau sudah siap jadi kita bisa segera berangkat namun ada yang terlupa, kartu periksa tidak ada di tempat biasanya. Kami mencari beberapa waktu hingga menemukannya di bawah bantal tempat tidur beliau”

Hanya beberapa waktu, kenapa terlambatmu begitu lama?”

Ibu lupa mengatakan padaku sesampainya di rumah sakit bahwa seharusnya kita membawa obat yang membuat badan beliau gatal­-gatal sebab alergi. Aku sungguh tidak tahu jika dokter berpesan seperti itu saat terakhir kami periksa. Sebelum nomor antrian kami dipanggil aku kembali ke rumah untuk mengambil obat.”

Berhenti sebentar, air mineral di atas meja sudah hampir habis tapi rasa pedas ini melekat sempurna di mulutku.

Mungkin karena terlalu lama tiba, ibu tidak mau masuk ke dalam ruangan saat nomor antriannya dipanggil, jadilah kami harus menunggu pasien yang melompati nomor kami selesai diperiksa”

Fany mengerjapkan mata, ia menarik spageti diatas mejaku dan melahapnya tak beraturan. Segera ku mencegahnya melakukan tindakan bodoh itu.

Apa yang kamu lakukan?”

Aku menyentaknya cukup keras, Fany sama sepertiku ia tak kuat pada makanan pedas.

Orange jus miliknya segera tandas, kuangsurkan air mineral yang masih tersisa. Fany sesunggukan, matanya berair menatapku.

Maafkan tingkah konyolku”

Kuusapkan tisu pada wajah cantiknya, ia mengenggam tanganku dan berujar, “Maafkan aku, harusnya aku tahu bahwa engkau akan selalu menepati janji, maafkan aku memaksamu memakan masakan pedas ini, maafkan aku...maafkan aku”

Aku memeluknya. Ia hanya berlebihan.


------++++-------


Dan Allah telah menciptakan kamu, kemudian mewafatkanmu, di antara kamu ada yang dikembalikan kepada usia yang tua renta (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Kuasa. (16:70)


Sore Hari Di Sebuah Perpustakaan

“Apa kita tidak menarik?”

Yang diajak bicara melirik, mengangkat bahu, tak memperdulikan.

“Hei, menurutmu apa kurang kita hingga diabaikan seperti ini?”

Kembali menghela napas, temannya ini sedang sensitif sepertinya.

“Dan kau juga tak mengindahkanku”

Nah kan benar.

“Kau terlalu naif, biarkan saja ia pergi toh masih banyak yang akan berkenalan denganmu lagi”

“Tapi sebelum ia bertemu dengan dua bocah lelaki itu, bukankah kita sudah dalam genggaman?”

“Hey tidak usah kecewa seperti itu, lihat teman-teman kita bahkan hanya dilewati tanpa dilirik sedikitpun”

“Tunggu, apa aku kalah dengan dia yang penuh dengan beragam warna?”

“Mungkin kau lebih kucel”

“Sebab lebih banyak tangan yang menjamahku, pembuatku tak kalah keren dengan yang lain, bedah aku maka banyak keistimewaan khas yang tak ada pada yang lain”

“Kau itu cerewet sekali, diam lah”

“Aku cuma butuh penjelasan”

Yang ditanya diam, tak berkomentar, asyik mengamati orang-orang dengan kesibukannya masing-masing.

“Heeiiii....”

Pura-pura tidak dengar, baru kali ini bertemu dengan teman yang berisik sekali bahkan mudah sakit hati, payah.

“Aku bosan hanya berdiam diri disini, aku ingin menjelajah ruang dan waktu, aku ingin melihat banyak mata terpana, terpesona, berkhayal dan berimajinasi bersamaku”

“Heeiiii.... dengarkan aku”

Seolah tak diajak bicara, tak ada sedikitpun respon yang ditunjukkan untuk kawan gilanya itu.

“Baiklah aku akan bertanya langsung padanya”

Tentu hanya sebuah lirikan atas pertanyaan yang baru saja terlontar.

“Aku benar-benar akan bertanya langsung pada orang yang mengabaikanku dan justru memilih satu dari yang lain, kubuat ia menyesal telah melakukan ini padaku”

“Lakukan... lakukan saja sesuai keinginanmu”

Mata itu berbinar, mendapat dukungan dari teman satu nasib.

“Baik, aku akan memperjuangkan nasib kita”

“Lakukanlah hal yang menurutmu benar. Tapi jangan terkejut jika setelah itu kau akan dilempar atau dibakar”

“Kejam sekali bicaramu”

“Kau pikir apa yang akan dilakukan manusia mendengar sebuah buku melayangkan protes, hah?”

Sebuah tangan mengambil buku yang tergeletak di atas meja, meletakkannya diantara buku yang sejak tadi tak henti berbicara dan buku yang tak selera untuk menanggapi curahan hati kawannya.

Ruangan perpustakaan sebentar lagi akan tutup, lampu telah dimatikan, pendingin ruangan tak lagi berfungsi, tak ada suara. Saatnya buku-buku berdoa semoga esok akan ada yang sudi untuk membawanya pulang.


Pusing, Mual, dan Rasa Ingin Muntah

"Tam, kita motoran aja yuk ke ngawinya?”

Ogah dih, capek Kak. Naik bus aja”

Aku menghela napas, anak sulung dari bulek memang keras kepala. Sekali bilang tidak ya tidak selamanya.

Cuaca sedang tak menentu, Kak. Kasihan jika nanti kau harus kehujanan”

Bisa saja ia memberi alasan, tinjuku mendarat tepat di atas lengan atasnya yang tak banyak tumpukan lemak, tampang meringisnya hanya pura-pura, paham benar aku.

Jadi disinilah sekarang kami berada, duduk di kursi paling depan dekat dengan pintu masuk keluar sebuah bus AC ekonomi yang melaju kencang jurusan Jogja Surabaya.

Nah, kalau naik bus kan aku bisa tidur,” ujarnya sembari mencari posisi ternyaman untuk tiga jam ke depan.

Lirikanku tertangkap matanya, ia hanya tersenyum menampakkan deretan gigi putih. Aku juga mencari posisi bersiap untuk tidur.

Duugg.. dugg.. aduh kepalaku terantuk jendela kaca bus.

Senderkan saja kepalamu pada pundakku, dari pada benjol”

Aku menggeleng.

Ayolah Kak, aku sudah berbaik hati menjagamu, jangan sampai budhe memarahiku nanti jika melihat putrinya benjol”

Kembali terlelap, mengabaikan ocehannya yang tiada henti. Ahh, bukankah tadi ia yang pamit duluan untuk tidur? Kenapa berisik sekali. Beberapa saat aku tak sadarkan diri, terbuai dalam mimpi, hingga rasa pusing melemparkanku hingga terjaga.

Kepalaku sudah bersender pada pundak Tama, ia juga terlelap.

Hueek...

Aku membekap mulut, Ya Tuhan jangan sekarang kumohon. Tama terbangun, menegakkan badannya lalu memperhatikanku, “Kenapa Kak?”

Aku menggelang, kembali menutup mata, melupakan rasa mual yang menggoda.

“Jangan bilang Kakak hamil”

Kepala besarnya harus menerima tinju dari kepalan tangan mungilku, rambut gondrongnya berayun ke kanan dan ke kiri. Setelah mengusap lembut bekas tinjuku tatapannya menyelidik, “Katakan Kak, siapa ayah calon ponakanku?”

Ingin rasanya aku membekap mulut kurang ajar itu, namun sepertinya lebih baik aku menahan rasa mual yang teramat sangat ini. Keringat dingin mulai membasahi dahiku. Kupaksakan diri untuk tidur, tidak bisa. Tama mulai panik, tidak tahu apa yang mesti ia lakukan. Hah.. anak yang setahun lalu masih menggunakan seragam putih abu-abu ini memang kebanyakan tingkah.

“Kak, minum?” ia menyodorkan air mineral yang hanya kubalas dengan gelengan kepala. Tubuhku lemas, pusing masih mendera.

Slayer yang dibebatkan pada pergelangan tangan Tama aku ambil dengan paksa, menggunakannya untuk menutup mulutku. Berpaling membelakanginya dan mencoba untuk terlelap.

“Kak..,”

Harusnya Tama paham dengan arti pelototan mataku bahwa aku tidak mau diganggu.

“Baiklah... baiklah...”

Sepuluh menit sebelum sampai di Pasar Ngale, aku terbangun. Rasanya sudah lebih baik meskipun rasa pusing masih tersisa. Tama melirikku namun tak berani berkomentar.

Kami keluar dari bus, lega sekali menghirup udara bebas. Terhuyung aku melangkah mencari tempat duduk, Tama mengikuti. Ia duduk disampingku masih mengamati namun tak berani mengatakan apa pun. Lucu sekali tampang lelaki yang sering kali sok berlagak dewasa di hadapanku ini.

“Kau kenapa?”
 
Tama tersenyum, mungkin pertanyaanku ini menjadi pembuka dari segudang pertanyaan yang ingin ia sampaikan.

“Kak, kau benar hamil?”

Ia telah menghindar sebelum tinjuku mengenainya untuk yang kedua kali.

“Haahaaa, doakan saja kakakmu ini selalu dilindungi Yang Maha Esa, agar terhindar dari hal-hal yang tidak seharusnya terjadi”

“Tapi tadi di dalam bus? Mual, pusing, ingin muntah? Seingatku itu gelaja hamil loh Kak, jangan coba membohongiku”

Kali ini bukan ejekan, dari kedua bola mata yang kecoklatan tersirat rasa khawatir yang mendalam.

“Sakit maag akut juga seperti itu gejalanya”

“Cukup Kak, kau tak perlu malu. Biar aku bantu untuk mengatakan pada budhe nanti”

Kujitak kepalanya, ia mengaduh.

“Makannya, jangan hanya nonton drama saja kau itu”

“Kakak kan tidak punya riwayat penyakit maag, tidak mungkin tiba-tiba langsung akut”

Ahh, ia pengingat yang baik. Tangan kiri Tama mengepal, sorot matanya memancarkan kesungguhan. Baiklah sebelum ia berprasangka yang tidak-tidak.

“Hei, bocah. Itulah kenapa aku memintamu untuk mengendarai sepeda motor saja. Gejala yang terjadi dalam bus adalah tanda aku mengalami mabuk perjalanan sebab tidak kuat dengan adanya gerakan berulang kendaraan”

“Apa bedanya dengan naik sepeda motor?”

“Dengan sepeda motor aku masih bisa menghirup udara bebas, tidak terperangkap dalam kotak seukuran bus saja”

“Tapi Kak dengan banyaknya udara bebas, kau bisa saja masuk angin loh”

“Itulah gunanya aku mengajakmu, kau yang di depan, jadilah tameng agar angin tidak langsung menerpa keras tubuhku”

“Hei... hei... kau menumbalkanku?”

Tawa renyah memenuhi langit Ngawi, aku tahu aku mabuk darat, tapi lupa untuk menelan obat yang bisa membantuku terlelap cepat di dalam bus, beginilah jadinya, merepotkan dan menimbulkan prasangka yang tidak-tidak.

“Kak?”

“Hemm...”

“Jika ada lelaki yang macam-macam denganmu, katakan saja padaku biar kuberi pelajaran”

Ahhh, mulai lagi sok dewasa dia.

“Nih, kukembalikan slayermu”

“Dih jorok, cuci dulu, setrika yang wangi baru dikembalikan”

Dengan cepat aku menangkap tangan kanannya, menalikan slayer pada pergelangan dan berlari menjauh meninggalkan Tama yang berteriak disepanjang jalan dimana hanya ada tanaman padi hijau yang terhampar.


Anak Gunung vs Anak Mama

Haiii... Ada yang suka mendaki gunung lewati lembah? Bagaimana pengalaman pertama?

Melelahkan? Itu pasti. Menakjubkan? Tidaklah mengherankan. Tidak percaya diri bahwa akhirnya mampu? Banyak yang baru menyadarinya.

Bukan... Bukan itu sebenarnya. Tapi pengalaman untuk mendapatkan ijin orang tua. Ssttt, kawan aku bocorkan satu rahasia bahwa sebagian besar pendaki pemula tidak pamit kepada keluarga dengan alasan takut tidak mendapatkan ijin. Ini jangan ditiru ya, sebab gunung adalah alam liar, tempat yang tidak bisa diprediksi, apa pun bisa terjadi. Nah, dengan restu orang tua semoga bisa menjaga setiap langkah kita.

Aku pun begitu, di awal mama tidak memberikan ijinnya namun kebetulan pada hari H beliau berada di luar kota. Saat itu senior ke rumah untuk menjemputku dan memintakan ijin pada bapak. Hhoo, kau harus tahu bapakku mudah sekali memberi ijin pada setiap keinginanku.

Selamat sampai di rumah tidak lantas memudahkan mama untuk mengeluarkan ijin pada pendakian-pendakianku selanjutnya. Tapi heran, mama selalu percaya pada senior yang datang untuk membujuknya. Yuhuuu, beberapa pendakian berhasil dilaksanakan dengan restu mama, tentu dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Kini, mama yang sering pergi ke luar kota selalu mengandalkanku untuk menemaninya. Alasannya konyol, mau tahu?

Mama selalu menyiapkan oleh-oleh yang tak terkira untuk saudara atau cucu yang akan dikunjungi. Dengan adanya aku semua barang bisa terangkut ke dalam satu gas gunung dengan kapasitas 60 liter. Begitupun jika saudara membawakan mangga hasil panen pohon sendiri, maka mama akan mengiyakan, tak perduli berpuluh-puluh buah mangga tersebut beratnya bisa mencapai 10 kg. Belum lagi oleh-oleh yang lain.

Aku hanya meringis saat beliau berujar, "Bisa, Ciani kan anak gunung."

Sekarang, saat malam menjelang beliau sering mendatangiku, menggodaku, "Nggak naik gunung lagi, Ni?"

Tersenyum, mama mengatakan hal itu sebab tahu benar bahwa aku lebih memilih untuk menatap layar laptop hingga tengah malam dibanding berburu sunrise di puncak gunung.

Tiba-tiba pikiran jahil melintas, "Ma, temenku ngajak ndaki semeru satu minggu"

Mama ber-O pendek kemudian sibuk dengan ponsel dalam genggaman, ahh aku paham itu hanya alibi saja.

Hhii... Bagaimana bisa beliau bangga menyebutku anak gunung namun sulit sekali memberikan ijin untuk mendaki?

Es Dawet Rania


Rania memejamkan mata, mangambil udara sebanyak yang ia bisa hirup, membuangnya perlahan, mengulangi beberapa kali dan membuka mata.

Baaa...”

Ia menghela napas keras sampai-sampai orang di depannya tertawa cekikikan.

“Kau sedang apa? Main petak umpet?”

“Aku sedang berdoa”

“Ooo, semoga Tuhan mengabulkannya. Ra, bareng aku yuk pulangnya?”

“Aamiin. Engga deh Ga, duluan sana”

“Hujan deras gini kamu mau pulang naik sepeda? Bahaya udah malem”

“Magrib baru berlalu beberapa saat Ga, nggak usah berlebihan deh. Sana pulang aku masih ada urusan”

Gara menuju tempat parkir sepeda motor dengan lemas, gadis itu selalu menolak perhatiannya. Harus bagaimana lagi?

Senyum yang Rania paksakan menghilang melihat berlalunya Gara bersama sepeda motor bututnya. Lelaki itu begitu baik, sangat baik malah terhadapnya namun ia tak mau berhutang budi lebih banyak lagi. Karena lelaki itu juga sekarang Rania bisa menjadi penjahit di salah satu pabrik ternama di kota Solo.

Rupanya Rania masih menimbang-nimbang sesuatu, bungkusan es dawet pemberian Gara tadi siang ia pegang erat pada tangan kirinya. Tangan kanannya sibuk menggenggam air langit yang tumpah.

Tidak mungkin meminta untuk menghentikan hujan, salah satu tanda kebangkitan yang ingin Tuhan tunjukkan pada manusia, setidaknya begitulah salah satu makna dari potongan ayat yang ia baca dari Al-quran setelah salat subuh tadi.

Langit semakin kelam, jika ditunda maka gelap malam akan sempurna mengunci kemampuan penglihatannya. Baiklah.

Tetes air hujan menghujam seluruh tubuh Rania, mantol plastik yang ringan terbang kesana-kemari tertiup angin kencang, tak mampu melindungi seutuhnya. Kacamatanya basah, itu bukan masalah, saat ada cahaya dari kendaraan yang mendahuluinya ia bisa mengayuh sepeda anginnya lebih cepat sedangkan jika kendaraan yang lewat dari arah berlawanan menyorotkan lampunya, ia akan berhenti, silau cahaya mematikan sejenak kemampuannya melihat di balik kacamata minus 3 nya.

Jarak sebelas kilometer yang biasa dapat ia tempuh dalam waktu satu jam sepertinya harus lebih lama untuk malam ini, mungkin bisa dua kali lipat.

Rania tersenyum, tatapan beberapa orang di emperan toko melukai perasaannya. Tapi ia tetap tersenyum. Dan hujan menyamarkan matanya yang berkaca-kaca. Perihnya tetes air yang menusuk mata tak seberapa dengan rasa kasihan yang coba orang-orang tampakkan. Rania tidak suka dikasihani, tidak suka.

Badannya menggigil, masih setengah perjalanan lagi. Ahh, gaji pertama akan ia belikan jas hujan yang lebih bagus. Iya Rania akan mendapat gaji pertama sebentar lagi, sekitar dua puluh tiga hari lagi.

Waktu berjalan lambat untuk Rania saat hujan, namun Tuhan masih menyayanginya hingga ia tiba di rumah dengan selamat. Ibu Rania menyambut kedatangan putrinya dengan handuk di tangan, ada sembilu yang mengiris hatinya saat gemeletuk gigi terdegar dari dalam bibir yang membiru.

“Bu, aku bawa es dawet. Ibu bilang waktu itu ingin membelinya kan? Yuk kita makan sama-sama”

Wanita tua itu tersenyum, sekuat tenaga menahan diri agar tak menjatuhkan bulir-bulir air mata.

“Sana nduk mandi dulu nanti kamu masuk angin”

Rania memasuki rumah, di berbagai sisi terdapat ember-ember kecil tempat menampung air hujan yang masuk melalui celah-celah atap rumahnya. Ia kembali tersenyum. Setidaknya kasur untuk tidur malam ini, masih kering.

Kini es dawet pemberian Gara tadi siang sudah berpindah tempat ke dalam gelas plastik dengan dua sendok makan.

“Ibu dulu,” ujar Rania ceria

Ibu menyendok air santan dengan gula jawa itu, memasukkan nya kedalam mulut.

“Tidak enak ya, Bu?” tanya Rania melihat ibunya mengernyitkan dahi. Segera ia mencicipi minuman yang begitu diinginkan ibunya. Hal serupa ia tunjukkan setelah itu.

“Ini tidak enak, apa seperti ini Bu rasa es dawet? Apa karena sudah tidak dingin lagi, rasanya berubah jadi masam, Bu?”

Tangan keriput itu membelai lembut kepala Rania, ada tatapan bersalah sebab tidak pernah mengajak anak semata wayangnya untuk mencicipi minuman kesukaannya itu. Minuman seharga tiga ribu rupiah terasa mewah untuk keadaannya sekarang, hasil berjualan gorengan keliling desa terasa sia-sia jika untuk membeli es dawet. Lebih baik membeli beras dan bahan-bahan untuk berjualan esok hari.

“Sayang, es dawet ini sudah rusak, tidak bisa dimakan lagi. Besok kita beli lagi ya”

Rania menunduk, andai saja ia bisa lebih cepat sampai rumah mungkin ibunya bisa menikmati minuman kesukaannya, ahh, lambat sekali ia mengayuh sepeda.

Tak apa, hari ini Rania belajar satu hal bahwa minuman bersantan tidak dapat tahan lama, harus segera dihabiskan. Maaf Gara, es dawet permberianmu terbuang percuma.

Tuhan Maha Baik, mengajarkan langsung banyak hal pada Rania. Ia tersenyum lagi, lirih bergumam Alhamdulillah 'ala kulli hal (segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan).

Modal Nulis Dapat Barang Gratis

Hai, hai... gimana sensasi baca judul di atas? Hhii, percaya ga? Harus percaya dong. Nih aku kasih bukti nyata. Awalnya aku mau buka bisni...