Untuk Siapa?

Mereka adalah pengantin baru di wilayah ini, asal mereka dari pedalaman Jawa Timur namun suami memenangkan proyek rusunawa di ibu kota hingga mereka pindah. 

Setiap malam suami harus menahan lapar sebab istrinya tak pandai memasak. Nasi memang selalu tersedia sebab apa susahnya menekan tombol “Cooker” dan tiga puluh menit kemudian beras telah siap untuk disantap, beberapa kali memang kurang pulen, bisa jadi kurang air tapi seiring waktu si istri dapat dengan baik menakar kebutuhan air untuk menanak.

Tahu, tempe dan telur menjadi menu wajib sarapan dan makan malam, itupun hanya digoreng yang diberi bawang putih juga garam secukupnya, sesekali irisan daun bawang menjadi hal baru dalam hidangan telur dadar.

Rupanya si suami sudah cukup sabar, wanita yang menyandang status istrinya kini bukanlah orang yang diharapkan untuk hidup bersama. Wanita itu pilihan ibunya, anak teman bisnis sawah ayahnya. Tak ada bantahan, rumah tangganya dibangun tanpa dasar cinta.

Malam ini si suami pulang dengan bungkusan hitam di tangannya. Ia makan dengan lahap nasi padang yang dibeli dekat gang tak jauh dari rumahnya. Lahap makannya sesekali melirik istrinya yang tetap tersenyum meski sayur sop dengan suwiran ayam terhidang di atas meja tidak disentuhnya.

Pindah ke ibu kota adalah impian besarku sebagai anak kampung. Memenangkan proyek pembangunan rusunawa menjadi kebanggaan yang luar biasa, tapi kebahagiaanku tidak sempurna sebab sebelum pindah aku dipaksa untuk menikahi anak gadis dari teman bisnis sawah ayah. Tak boleh ada penolakan, aku pun menerima meski tak ada rasa cinta.

Cinta dapat tumbuh seiring berjalannya waktu, begitu ibuku berujar namun tak ada hal yang bisa mewujudkan itu semua. Wanita itu bahkan tak bisa memasak, saat letih mendera setelah seharian dibawah sengat mentari aku masih harus menahan lapar karena tak ada yang bisa dimakan selain nasi putih olahan Rice Cooker.

Aku bosan melahap tahu, tempe atau telor setiap harinya. Ingin rasanya makan sayur, oh istriku tidak bisakah engkau memasakkan itu untukku?

Muak, malam ini aku menolak untuk kelaparan. Pulang kerja aku mampir ke warung padang dekat rumah membeli sebungkus nasi lengkap dengan sayuran hijau juga rendang dengan bumbu memikat. Tak perduli dengan wanita itu. Kalau engkau lapar maka masaklah, gerutuku.

Aku baru saja lulus sekolah menengah atas saat tiba-tiba ayah memaksaku untuk menikah dengan lelaki pilihannya. Penolakan awal berujung pada tamparan di pipi maka ibu dengan berurai air mata memaksaku untuk menuruti segala perintah ayah dan kini aku bersama suamiku tinggal di ibu kota sebab ia memenangkan proyek pembangunan rusunawa.

Dapur adalah hal asing sebab tak pernah sekalipun ibu mengijinkanku untuk menyentuhnya, ada bibi, begitu ujarnya berulang kali. Wajar jika kini aku keteteran setiap kali memasak.

Jaringan internet menampilkan beragam menu lengkap dengan cara pengolahannya, aku mencoba.

Suamiku memaklumi untuk hasil masakan yang terhidang setiap harinya. Tahu, tempe dan telur tetap ia makan meski hanya beberapa sendok yang masuk ke dalam perutnya, sisanya? Aku yang akan menghabiskan.

Tak selamanya menurut pada cara penyajian menghasilkan rasa yang sesuai, beras dengan beragam jenisnya nyatanya juga berdampak pada banyaknya takaran air yang digunakan. Pernah suatu ketika beras yang kubeli tidak seperti biasanya namun takaran air sama dengan saran penyajian pada buku panduan, alhasil nasi yang tercipta sedikit keras. Maka aku beralih menggunakan cara tradisional yang tidak mengukur air menggunakan gelas takaran namun dengan garis jari telunjuk dan itu berhasil.

Hari ini aku memasak sayur sop dengan suwiran ayam. Jelas ini bukan pertama kalinya namun menjadi yang pertama terhidang di atas meja makan. Sebelum-sebelumnya aku tetap memasak sayur berkuah, berusaha menghadirkan makanan sehat seimbang untuk mengimbangi kerja keras suamiku yang seharian bergelut dengan panas juga debu.

Namun sayang, hasilnya jauh dari kata menyenangkan. Makaroni sangat lembek, terasa hambar, wortel masih keras adalah beberapa contoh kegagalanku. Sayur itu aku simpan dalam mangkok untuk aku makan sendiri meski dengan mengernyitkan dahi, tak mungkin tega aku membuang makanan mengingat bagaimana suamiku bekerja keras untuk itu.

Bisa jadi rasanya kurang mantap, tidak seperti yang ibu atau bibi buat di rumah tapi ini layak untuk di makan. Aku tak sabar menanti suamiku pulang dan makan malam bersama. Ingin rasanya mendengar komentarnya untuk masakan awalku ini.

Jangan perdulikan hatiku, meski sembilu mengirisnya aku tidak akan menitikkan air mata. Senyum adalah hal wajib yang harus aku lakukan setiap bertemu dengan suamiku.

Laparku menguap, mati rasa sudah, tapi aku masih bisa tersenyum melihat suamiku lahap menikmati nasi padang yang ia beli pulang kerja.

Lalu, aku masak untuk siapa?

Ada rasa bersalah di hati si suami saat melihat makanan lengkap terhidang di atas meja. Kali ini tidak ada tahu, tempe ataupun telur dadar. Istrinya telah masak sop ayam juga perkedel tak lupa sambal yang diulek kasar melengkapi.

“Kau sudah makan?” tanya suami

Si istri mengangguk masih dalam senyum yang dipaksakan, semua tahu ia berbohong kecuali suaminya.

“Besok masaklah seperti ini lagi, aku akan makan bersamamu.”

Si suami memegang lembut tangan istrinya dengan penuh penyesalan dalam dada. Si istri reflek menarik tangannya, bukan ia marah tapi suami telah memegang tepat dimana ada luka bakar yang sore tadi tercipta, saat ia menggoreng perkedel untuk makan malam suaminya.

 :(

Kepingan Rasa puzzle 2

Silahkan baca dulu Kepingan Rasa puzzle 1



Sekolah siang ini begitu lengang, tiga puluh menit berlalu sejak bel tanda pulang sekolah berbunyi. Aku masih di sini, duduk sendiri di depan lab fisika yang menghadap ke lapangan utama. Menunggu Monica yang ingin pulang bersama tapi ia masih sedikit ada perlu dengan anggota teater yang lain.

Monica, bukan teman sekelasku tapi kami cukup akrab. Awal pertemuan kuingat saat awal Masa Orientasi Siswa, ia kalang kabut sebab pita merah putih untuk menguncir rambutnya kurang satu, jatuh entah dimana. Aku menghampirinya dan menyerahkan pitaku, tenang bukan aku baik hati tapi memang di dalam tas karungku tersedia banyak pita. Aku suka pita.

Rasa terima kasih dengan berlebihan ia tunjukkan, dengan mentraktirku makan di kantin, menyerahkan coklat dengan banyak taburan kacang almond juga berjanji akan membelikan bros bunga cantik untukku.

“Tidak usah.”

“Kau harus mau.”

Aku mengangguk dan ia tersenyum.

Kedekatan kami semakin erat sebab ternyata berada dalam satu kelas yang sama, XF. Sayangnya berpisah karena kelas XI ia memilih jurusan bahasa untuk mendalami Inggris sedang aku memilih jurusan IPA karena bercita-cita menjadi guru matematika kelak, seperti ayahku.

Jarak kelas yang cukup jauh tidak mengurangi kualitas persahabatan kami. Sesekali saat istirahat entah yang pertama atau kedua kami habiskan untuk pergi ke perpustakaan, ia meminjam novel sedang aku mendalami rumus barisan dan deret aritmatika.

“Hey, bacalah novel ini. Ijinkanlah otakmu untuk melihat cinta bukan hanya angka.”

“Cinta itu apa?”

Monica menepuk pelan dahinya lalu mengetukkan ujung telunjukknya di atas meja, menimbulkan suara berisik hingga beberapa siswa menoleh kesal kepada kami. Aku meringis sambil menangkupkan kedua tanganku di depan dada, simbol permintaan maaf.

Jika pada istirahat pertama dan kedua kami tidak bisa bertemu maka sebuah keharusan untuk pulang bersama sampai pertigaan jalan raya, tempat menanti bus, jaraknya 300 meter dari gerbang sekolah. Saat berjalan itulah canda tawa, keluh kesah tentang apa pun terurai menjadi jembatan ikatan yang semakin lekat. Di pertigaan itu nantinya aku dan Monica harus berpisah sebab arah rumah kami tidak searah. Monica tinggal di Ceper sedang aku di Kartasura, tak jauh dari kampus IAIN Surakarta.

Seringnya saat berangkat sekolah pun kami bertemu di pertigaan tersebut, jadi bisa jalan bareng menuju sekolah.

Aku hampir saja menemukan jawaban untuk soal ke tiga puluh saat Monica menepuk pelan pundakku, “Hey, nunggu lama Ci?”

“Enggak dong, ada aritmatika yang nemenin, hhii.”

“Mampir toko buku yuk?”

“Mau cari apa?”

“Inspirasi buat lomba tingkat kabupaten.”

“Wahh... bakal temenan sama artis nih aku.”

“Hhaa... kamu mau jadi manajerku nggak?”

“Enggak.”

“Kenapa?”

“Bayarannya kecil, hhii.”

Itulah Monica, gadis periang yang pandai bermain peran. Ia dipilih menjadi ketua teater setelah mendapatkan 80% suara. Aku? Penonton terdepan yang akan selalu hadir saat ia pentas, di manapun, di sekolah itu pasti, di Balaikota Solo, Gor Gelarsena, dan banyak tempat lainnya.

Kami sudah melintasi gerbang saat Monica menanyakan keadaan nenekku.

“Gimana kabar nenek?”

Raut wajahku berubah, nenek adalah orang terkasih yang jasanya tak mampu kubalas dengan apapun. Darinya aku belajar bahwa mencuci baju itu harus dibilas dua kali dengan air bersih, jangan lupa untuk dikucek agar tak ada sabun tersisa dan kegiatan mencuci di sendang adalah hal yang paling kurindukan mengingat tiga bulan ini sejak nenek mengeluhkan rasa sakit pada perutnya menghalangi kami naik turun tangga menuju sendang.

“Kata dokter nenek kena liver, ada cairan yang terus bertambah hingga membuat beliau seperti orang hamil.”

Monica merangkulku, "Ada aku.” 

Aku menyeka air mata.

Entah bagaimana Tuhan Maha Baik telah menghadirkan Monica untuk selalu disampingku, menjadi penyangga setiap keluh kesahku. Thanks God.




Nantikan kelanjutan cerita pada puzzle selanjutnya...

 

Tentang Kamu dan Akhir Cerita

Aku baru saja meletakkan ponsel saat teriakan dari luar terdengar, pasti itu Nina. Ini Membuat semacam detakan jantung yang tak beraturan.

"Dikaaaaaa....."

"Iya," jawabku di ambang pintu.

Mudah saja menerka mau apa ia kesini. Surat kabar terlipat telah ada dalam genggamannya.

"Mau masuk ke dalam?" tawarku.

"Di luar aja, aku buru-buru nih."

"Mumpung nggak ada orang loh," godaku tapi Nina tidak menggubris. Ia sudah duduk di kursi teras dan membentangkan surat kabar pada halaman tertentu, spidol warna orange menyala sedia di tangan kanan. Ia siap beraksi.

"Lihat, bagaimana engkau bisa membuat yang semacam ini," katanya sembari memelototi setiap baris kalimat.

"Lalu harusnya bagaimana?"

"Seharusnya Amara tidak mati, ia berhasil diselamatkan meskipun mobil ambulan datang sedikit terlambat..."

Aku membiarkan ia mencoret kalimat yang tidak sesuai dengan keinginannya.

"... dan Kevin hidup bahagia bersama Amara selama-lamanya. Selesai. Bagaimana?"

"Bagus juga. Kenapa kamu tidak jadi penulis saja?"

"Sibuk."

"Sibuk apa?"

"Sibuk membenarkan akhir ceritamu."

"Hahaa."

"Heran tidak?"

"Apa?"

"Kenapa ceritamu yang selalu berakhir sedih ini bisa dimuat di surat kabar?"

"Iyaa, heran."

"Hahaa. Kenapa nulis sad ending  terus, sih?"

"Karena akhir bahagia adalah tugasmu."

Kami tertawa.

"Apakah segala yang berhubungan denganmu selalu berakhir sedih?"

Aku tersentak, tidak menyangka Nina akan melontarkan pertanyaan semacam itu.

"Itu kan hanya cerita."

"Aku tidak suka."

"Iya. Mana, kasih aku kertas koreksianmu."

Aku menandatangani kertas agenda Nina untuk meminta persetujuan perubahan akhir cerita langsung dari penulisnya. Anak itu memang aneh.

"Sudah? Aku langsung pulang ya, oh ya aku suka kamu jadi penulis," ujarnya setelah mengambil buku agenda berwarna pink dari tanganku.

"Aku juga suka," balasku. Sebenarnya ada kata "kamu" di akhir kalimat, tapi itu kuucapkan dalam hati saja.

Nina melangkah keluar dari halaman, langkahnya lincah setengah melompat, riang sekali.

"Ninaaa...," panggilku tiba-tiba yang mengejutkan diriku sendiri kenapa harus memanggilnya.

"Apa?"

Aku suka cara ia menoleh.

"Besok kau akan datang kemari lagi."

"Kenapa?"

"Percaya saja."

"Kau mau buat akhir cerita tentangku?"

"Tidak. Cerita fiksi memang kuasaku sebab akulah penciptanya sedang kau bukan."

"Mau bantu aku?"

"Apa?"

"Rayulah Tuhan, minta agar akhir cerita kita bahagia."

"Iya."

Nina benar-benar pergi dari rumahku. Ia mungkin tidak tahu kalau apa yang baru saja ia pinta sudah aku laksanakan sejak pertama kali melihat senyumnya. Gadis yang tinggal dua blok dari rumahku itu selalu datang untuk menulis ulang ceritaku yang dimuat di setiap surat kabar, tak lupa membawa buku agenda dan spidol orange menyala untuk meminta ijin dariku, penulis aslinya. Ia tak pernah suka akhir cerita yang sedih.

Ia lah alasan keduaku untuk terus menulis dan harus berakhir pedih, tentu saja agar Nina datang ke rumah.

Jika kalian bertanya apa alasan pertamaku maka akan kujawab bahwa aku belum memikirkannya.

Ponselku berdering, dua garis lengkung terbentuk seketika melihat nama Pak Gatra muncul di layar, ini pasti tentang cerita yang aku kirimkan bulan lalu, dan itu berarti tebakan bahwa Nina akan datang lagi ke rumah besok benar adanya.

Ahh Nina.


Gara-gara Dilan

Panggil ia Mas Amin, petugas perpustakaan yang sedang mendorong troli penuh buku mendekati rak "Fiksi Umum" dan segera jongkok untuk mulai menata. Aku menghampirinya, memberikan isyarat dengan tanganku agar ia jangan dulu merusak tatanan buku dalam troli.

"Cari apa to, Dek?"

Tanganku sibuk memelototi pinggiran buku untuk melihat kode-kode yang tertera, cara paling cepat untuk mencari buku. Semua petugas perpustakaan hapal denganku sebab minimal satu minggu sekali pasti aku datang berkunjung, bukan untuk pinjam buku tentunya tapi untuk menumpang WiFi juga mengikuti kegiatan diskusi dalam bahasa inggris, tapi sudah lama aku tinggalkan sebab mulai membosankan dan aku beralih untuk mengamati relawan yang mendongeng untuk anak-anak.

Seseorang datang dan melakukan seperti apa yang kulakukan. Aku abaikan. Mas Amin mulai kesal karena ia tidak bisa segera menyelesaikan tugasnya atau bisa jadi tugas yang lain menumpuk meminta untuk segera dituntaskan.

"Cari apa sih, Dek?"

"Cari Dilan, di komputer katanya ada di rak. Tapi aku cari nggak ada."

Aku menyerah, puluhan buku dalam troli yang baru saja dikembalikan oleh peminjam tidak kutemukan buku yang aku cari. Kembali aku menyusuri rak-rak bertuliskan "Fiksi Umum", mungkin terlewat.

"Aku tadi juga sudah nyari, tapi nggak ada," seru orang yang ikut mengacak-acak buku dalam troli.

Mas Amin sudah sibuk dengan tugasnya menata buku dalam rak sesuai urutan abjad nama pengarang agar memudahkan peminjam dalam mencarinya.

"Di semua rak?" sahutku menimpali orang tersebut.

"Iya, semua, bahkan di rak "Fiksi Dewasa".

"Wah, padahal di komputer tertulis tersedia."

"Iya, atau bisa jadi ada di atas meja sedang dibaca orang."

Masuk akal, pengunjung perpustakaan ramai, beberapa tengah tenggelam dengan buku dalam genggaman, mencari posisi ternyaman, diantara bantal-bantal besar, lesehan juga bertopang dagu menghadap buku yang terhampar di atas meja.

"Cari Dilan yang keberapa?"

"Eh? Memang ada berapa bukunya?"

"Tiga. Kamu nggak tahu?"

Aku menggeleng, bagus, rahasiaku tak suka baca diketahui satu orang lagi.

"Terus untuk apa mencari?"

"Tugas sekolah, buat sinopsis dari novel."

Ia manggut-manggut. Kemarilah aku bisa ceritakan sedikit agar engkau memiliki gambaran.

Kami ngesot menuju tengah ruangan, bersandar pada bantal-bantal besar dan berbicara dengan pelan, tidak boleh berisik, tahulah aturan perpustakaan.

"Biarku tebak."

"Apa?"

"Gurumu orang Bandung?"

"Iya, sudah dua puluh tahun beliau mengajar di sini."

"Pantas."

"Kenapa?"

"Dilan adalah novel yang berlatar di Bandung tahun 90an. Mungkin gurumu rindu kampung halamannya. Dalam novel tersebut ada juga beberapa percakapan dalam bahasa sunda."

"Ooo, pantas saja. Ada-ada saja guruku, melampiaskan rasa rindunya pada kami murid-muridnya."

"Haahaaa. Ceritanya menarik, bisa kau baca sendiri jika sudah kembali nanti."

"Baiklah, terimakasih. Senang bertemu denganmu."

Kami berpisah, jika kalian berpikir kenapa aku tidak mencari tahu namanya, tidak berminat jawabku. Mungkin pertemuan ini bisa seperti cerita-cerita romantis yang berawal dari pertemuan tidak sengaja, nyambung saat ngobrol hingga menghabiskan waktu, bisa jadi jawabku lagi.

Sayangnya satu hal yang membuyarkan semuanya. Ia sama sepertiku, berjilbab.


:v


Perpustakaan Ganesa - 15 Desember 2016


Mawar Biru di Hari Ibu




Pelan aku menepuk pundak mama, beliau menghentikan segera aktivitasnya dan menoleh kearahku. Binar mata itu cukup untuk menggambarkan segala keterkejutannya.

"Tapi nggak wangi, Ma."

"Ngga perlu wangi," ujarnya seraya mengambil rangkaian bunga yang biasa saja itu.

"Selamat hari ibu," ucapku seraya mencium kedua pipi beliau.

"Ini buat Mama juga, biar sehat selalu."

"Halah... halah...."

Aku tahu, terasa ganjil memberikan susu kotak cair kemasan kecil untuk beliau. Tapi hanya itu yang terpikirkan melihat mama sering membeli susu akhir-akhir ini.

Ritual semacam ini berjalan singkat, bukan hal biasa berlaku so sweet di keluarga kami namun semenjak aku tumbuh dewasa dan sering membaca novel, bunga masih menjadi salah satu hal terindah untuk mengungkapkan rasa. Ahh, benar lah jika sastra itu melembutkan.

Lega akhirnya, asal tahu saja aku berusaha menepis rasa canggung saat melakukan ini semua.

Oh ya dan kini aku sedang menatap setangkai mawar biru di atas meja belajar, menerawang jauh tentang kejadian tadi sore saat aku membeli bunga untuk mama.

Bermacam-macam bunga dengan warna berbeda terhampar di hadapanku, diletakkan di dalam ember berisi air setengahnya. Dua puluh menit sudah aku memelototi mana bunga yang harus aku ambil untuk segera dirangkai hingga seorang penjaga toko menghampiriku, usianya belum mencapai kepala tiga kurasa, seragam kaos biru dengan nama toko terlihat sangat pas ditubuh jangkungnya.

"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"

"Emm.. saya mau beli bunga Mas. Tapi bingung."

"Baiklah saya bantu, Mbak ingin yang seperti apa?"

"Bagaimana kalau dua warna saja, sederhana namun terlihat indah?"

"Baik."

Segera petugas tersebut memilah bunga-bunga yang aku tak tahu apa namanya, melangkah menuju meja rangkai untuk segera menyelesaikan permintaanku.

"Mbak bisa menulis pesan sembari menunggu saya."

Aku terhenyak, baru sadar sedari tadi aku hanya menonton ia memotong tangkai bunga, mengambil selotipe, juga memilih pita sebagai penambah daya tarik.

"Saya nulis apa ya, Mas?"

Petugas toko terdiam sebentar, memandangku dengan dahi berkerut, "Mbak, baru pertama kali?"

Aku memamerkan deretan gigi selayaknya iklan pasta gigi.

"Tahun kemarin?"

Aku menggeleng, tak mungkin aku mengatakan bahwa tradisi memberi bunga memang tak pernah muncul di dalam keluargaku. Empat tahun yang lalu memang aku memberikan setangkai mawar merah untuk mama tapi itu didapat saat lampu lalu lintas menyala merah dan beberapa mahasiswi kebidanan mendekatiku dengan senyum seraya mengucapkann kata selamat hari ibu.

"Bisa bantu saya, Mas?"

"Baiklah, coba ungkapkan keinginan mbak terhadap ibu."

"Mamaku tersayang semoga Allah memberikanmu umur panjang dalam kesehatan juga ketaatan kepadaMu, agar lebih banyak waktu yang bisa kugunakan untuk melukis senyum di wajah tuamu. Maafkan aku yang selama ini sering membuatmu harus mengelus dada dan banyak beristigfar. Mama aku sayang engkau sungguh....."

"Stoooopp......"

"Kenapa, Mas?"

"Mbak, mau buat cerpen?"

Aku terdiam, "Kan saya sudah bilang kalau bingung, bantu saya lah."

"Oke, selesai."

Aku melongo.

"Aku Sayang Mama?"

Ia mengangguk, "Orang akan memiliki kekuatan untuk melakukan apa pun atas dasar rasa sayang."

Aku nggak mudeng.

"Ini rangkaian bunganya."

"Terima kasih telah banyak membantu saya."

"Tidak usah sungkan, sudah jadi tugas saya. Oh ya, ini untukmu, free, selamat hari ibu."

Bukan mengucapkan terima kasih aku malah menunjukkan kebodohanku, "Ini bunga apa?"

Petugas itu tersenyum lagi, "Mawar biru."

Ooo, ternyata selain merah, putih dan merah muda bunga mawar masih memiliki warna lainnya.

"Seringlah ke sini, akan kukenalkan kau pada bermacam-macam bunga plus cara merangkainya agar tampak lebih menawan."

"Oh iya, tapi aku belum menjadi ibu?"

"Tak apa, itu lebih baik."

Aku segera berpamitan usai menyelesaikan pembayaran di kasir. Ia berdiri dengan tubuh bersandar di depan pintu, melambaikan tangan dan mengantar kepergianku dengan tak henti menebar senyum.

Pelayanan yang baik, pikirku.

Tiba-tiba aku terhenyak di atas kursi belajar, tunggu...

Bunga masih menjadi salah satu hal terindah untuk mengungkapkan rasa.


:) 



Pasar Kembang - Solo, 22 Desember 2016



Sepele Saja!

Kakiku seperti mau copot, lelah sekali. Dua malam tiga hari berada di tengah hutan berhasil menguras seluruh energi dan kembali ke rumah merupakan nikmat luar biasa yang patut untuk disyukuri.

"Jadi asyik tidak jadi pemandu kemah bakti?"

Aku tersenyum menjawab pertanyaan suamiku yang meletakkan segelas air putih di atas meja, segera gelas tersebut kosong hanya dalam hitungan kurang dari sepuluh detik.

"Capek banget."

Masih terengah-engah setelah sisa tenaga aku kerahkan untuk menenggak air, belum juga aku melanjutkan cerita ia sudah berdiri menuju teras sembari menenteng koran dwi mingguan edisi terbaru.

"Ya udah istirahat," ujarnya sebelum menghilang di balik pintu.

Ada rasa aneh yang menjalar tepat di ulu hati, tak kuasa menahan rasa aku segera beranjak keluar rumah, tujuanku adalah dua rumah di seberang jalan, rumah Faya.

"Loh, mau kemana?"

"Ke rumah Faya."

"Hati-hati."

Hah? Apa tidak terlihat jelas bahwa aku begitu ketus saat menjawab? Bukankah ia tahu aku sangat letih, kenapa tidak dipaksa untuk beristirahat? Sungguh keterlaluan.

Faya tengah membaca buku di ruang tamu saat kedatanganku, ia memandang sekilas raut wajahku dan memberikan kode dengan tangannya untuk masuk dan duduk.

Sesunggukan aku menumpahkan semua air mata, tak peduli mengotori bajunya. Faya memeluk erat, menenangkanku dengan usapan lembut di punggung, membiarkan.

Sepuluh menit menangis tanpa jeda membuatku dehidrasi, lelah memaksaku untuk berhenti. Faya mengangsurkan tissue dan membersihkan wajahku yang tak berarturan.

"Aku ambilkan minum dulu."

Faya datang tak lama kemudian.

"Kenapa Mei, ada masalah apa?"

Hanya sedikit air putih itu menyegarkan kerongkonganku, ada hal lain yang harus segera dikeluarkan, "Kesel aku sama Mas Juan."

"Oke ceritalah."

"Aku tuh capek Fay, baru pulang dari kemah eh sampe rumah cuma ditinggalin aja."

Faya tersenyum, ia paham benar namun menolak untuk berkomentar.

"Harusnya ia mendengarkan ceritaku bukan pergi gitu aja."

"Mungkin Mas Juan ngasih waktu kamu untuk istirahat?"

"Nggak butuh, aku capek tapi aku kan pengen cerita."

"Kamu dah bilang?"

Gelengan lemah menjadi jawaban.

"Mei, gimana Mas Juan tahu apa yang kamu mau?"

Faya, sahabat sejak kecil yang selalu mengerti maksud hatiku, betapa ia mampu menghadirkan kembali pelangi setelah derai air mata yang tak terbendung. Ia serupa malaikat penolong karena dengan satu dua kalimat yang terucap menjawab segala gundah gulana yang menjajah ceriaku.

"Aku pulang ya Fay."

Ringan langkahku melintasi jalanan penuh kerikil, bagaimana Faya begitu mudah menuntaskan setiap masalah? Mungkin aku berlebihan, bisa juga kelelahan, tapi tidak salah, hanya kelelahan dan menginginkan perhatian dari suamiku.

Lega seolah beban yang menghimpit terbang bersama debu jalanan yang tertiup angin, sederhana saja menjadi wanita itu jangan percaya jika banyak yang bilang ribet sebab kaum hawa menyelesaikan 50% masalahnya dengan bercerita. Percayalah bahwa memang seperti itu adanya. Memilih kepada siapa untuk bercerita adalah keputusan akhir masing-masing.

Lalu bagaimana dengan yang lima puluh persen lainnya? Jelas itu harus diselesaikan dan lelaki yang tengah menyesap kopi dengan fokusnya pada majalah ditangan kiri harus bertanggung jawab. Aku akan memaksanya untuk mendengar ceritaku, harus!


----+++-----


Dahulu kala, orang Mars berjumpa dengan orang Venus. Mereka jatuh cinta dan menjalin hubungan yang membahagiakan karena mereka saling menghormati dan menerima perbedaan-perbedaan mereka. Kemudian mereka tiba di bumi dan mulai menderita amnesia. Mereka lupa bahwa mereka berasal dari planet yang berlainan. (Men Are from Mars, Women Are from Venus)

Air Mata Seo In Guk

Gambar terkait



Jalanan kota malam ini sunyi, sisa rintik hujan sedari sore meninggalkan aroma parfum kesukaanmu, parfum yang aku pilihkan seminggu lalu saat kita menghabiskan senja bersama di Seoul.

Air mataku mengalir deras tak mampu satu irama dengan redanya tumpahan air langit, jika kau disini pasti akan mengejekku, lelaki tidak boleh cengeng.

Tidak, aku tidak akan menangis selain tentangmu, segala hal yang berhubungan denganmu membuatku gila, sayang sekali kau tak mengerti isi hatiku. Kita sudah lama bersama, bukan?

Sejak ia hadir diantara kita semuanya berubah. Kenapa harus ia yang kau pilih? Cincin berlian melingkar di jari manismu tanpa lebih dulu memberi tahuku, tak kau anggapkah kebersamaan kita selama ini?

Baik aku mengerti, berulang kali kau katakan ini yang terbaik. Masing-masing dari kita tidak akan kehilangan satu sama lain, semuanya akan lebih baik, kau lakukan ini untuk kebaikan kita.

Huh, aku tak tahu apa yang sebenarnya sedang kupikirkan. Semakin aku berpikir tentangmu semakin mata ini tak mampu menahan genangan yang memberontak keluar, kenapa aku harus menangisimu? Kenapa? Mobilku tergoncang menerima segala pukulan-pukulan emosi yang meluap-luap. Ini semua salahmu.

Kecenderungan akan hadirmu membuatku tak mampu menerima ini. Percuma saja malam itu aku memelankan laju mobil, jalanan yang lengang tidak mendukung, genggaman erat tak mampu menahanmu untuk tetap disampingku.

Saat kau melangkah pergi, sejak itulah derai air mata tak henti membasahi hari-hari kelabuku.



**

Gadis dengan gaun pengantin putih berjalan menghampiriku, berputar lincah menunjukkan betapa baju ini serasi untuk tubuh mungilnya. Kedua kalinya jari manis dengan berlian ia tunjukkan, aku tak bisa apa-apa selain memuji sempurnanya ia di hari bahagia ini.

Calon mempelai pria menghampiri kami, gadis itu menggelayut manja memeluk kekasihnya. Aku hanya bisa tersenyum.

Tak adakah lagi kesempatan untuk kita bersama?

Hati yang telah retak ini sempurna menjadi serpihan-serpihan kecil melihat kalian berdua dengan senyum sukacita berjalan di atas altar, mengucap janji suci sehidup semati lalu saling mengunci dengan menautkan kedua bibir.

Remuk sudah segala harapan, aku menghindar dari keramaian yang meneriakkan kebahagian kalian, menyendiri di luar gedung, mencoba menenangkan hati dari gemuruh lara yang kobarannya tak kunjung padam.

Kau menghampiriku, aku masih bisa tersenyum setelah semua yang kau lakukan bahkan tak kuasa menolak ajakan untuk foto bersama. Melihat ia merapikan ponimu membuat perih luka yang menganga.

Cukup, aku pergi. Melaju diatas kecepatan rata-rata, tak peduli ini sangat berbahaya.

Jalanan kota malam ini sunyi, sisa rintik hujan sedari sore meninggalkan aroma parfum kesukaanmu, parfum yang aku pilihkan seminggu lalu saat kita menghabiskan senja bersama di Seoul.

Semua ini tak kan terjadi andaisaja gadis itu tak kau hadirkan diantara kita.


Hasil gambar untuk please dont k will
  



-----

 Based on MV K.Will - Please Don't

Cukup

Genangan air membuat pedih namun aku tak ingin menangis didepannya, sudah terlalu sering.

“Beneran deh Mei, aku ga bermaksud buat kamu cemburu.”

“Tadi siapa?”

“Temen kerja.”

Aku mengangguk. Sepuluh menit dianggap tidak ada demi berbincang dengan seorang teman kerja? Baiklah.

“Abis ini kita jadi nonton kan?”

“Jadi dong.”

Malam berlalu dengan canda tawa, Arfi membuat guyuran dingin air langit menjadi hal teromantis yang tak kan pernah terlupa, seolah berkata bahwa akulah satu-satunya yang ia limpahi kasih sayang. Menggenggam erat tanganku menembus gelap malam dibawah payung berlogokan bank swasta. Tangan kirinya yang bebas merangkul pundakku, memastikan tak ada jarak sedikitpun. Lembut suaranya mengalun merdu menembus gendang telingaku,

“Mei....”

“Iya?”

“Mungkin besok aku pulang terlambat.”

“Kenapa?”

“Tasya menjadi wakil kantor dalam menghadiri seminar internasional tentang peningkatan tenaga kerja.”

“Lalu?”

“Ia memintaku untuk mengantar pulang sebab jarak hotel tempat seminar dengan rumahnya yang lumayan jauh, tidak mau jika diantar sopir kantor, tidak nyaman katanya. Boleh ya?”

Kenyataan bahwa dia tidak benar-benar mengindahkan perasaanku membuat segalanya jelas.Cukup sudah.



T_T

Gamis Keduaku

Tak lama lagi matahari akan tergilincir di ufuk barat, aku bergegas menjauh dari ruang pertemuan namun Amel menahannya.

"Kebiasaan, magrib sekalian dong."

Segera aku menirukan iklan pasta gigi menanggapi perkataannya, menampilkan deretan gigi yang tersusun rapi dan bersih berkilau, "Aku lagi nggak salat, Mel."

"Masak? Tadi ashar kita masih salat bareng."

"Eh... emm... a.. aku baru aja dapetnya."

Raut wajah Amel menunjukkan ekspresi menimbang tentang kadar kejujuran yang aku utarakan, "Kalau gitu temani aku salat magrib, setelah itu akan kukenalkan dengan seseorang."

"Siapa?"

"Sepupuku, dia juga kuliah disini."

"Ngapain sampe sore disini?"

"Aktivis, udah ahh nanti tanya sendiri sama anaknya, sekarang yuk naik keburu antri kamar mandi."

Lemas sudah aku mengikuti langkah Amel menaiki tangga masjid, di kampusku area salat wanita dipisah dengan pria namun tetap saja ada hal yang menggangu khusukku untuk salat magrib di masjid tercinta.

Kejadiannya dimulai sebulan yang lalu, Amel mengajakku bukan tepatnya memaksa untuk menghadiri kajian setiap ahad bada ashar dan berakhir sebelum azan magrib berkumandang. Sebagai anak rantau yang tak sibuk pada waktu itu aku mengiyakan meski sedikit malas, pengajian? bayangkan, ahh pasti sangat membosankan mendengar ustadzah berceramah.

Berbeda, aku menikmati setiap diskusi yang terjadi, mengagumi setiap beliau menjawab ketidaktahuan kami, memotivasi ketika malas melanda kami untuk berkutat dengan kebodohan, juga syarat itu. Syarat yang mengharuskan setiap yang datang untuk menggunakan gamis.

Gamis? Dalam setiap hal yang terlintas adalah jubah longgar yang mengunci segala tingkah tomboyku. Aku jelas menolak, masak mau belajar aja repot banget sih.

"Hhaa, lima tahun yang lalu saat kau masuk sekolah tinggi negeri, apa protes juga tentang seragam yang harus dikenakan?"

Bibirku maju beberapa centimeter mendengar jawaban Amel, paginya dia membawakan bungkusan rapi yang di dalamnya berisi gamis warna biru muda, cantik sekali juga jilbab lebar segi empat yang senada.

Bukan aku tak punya niatan untuk menambah koleksi gamis, tapi aku terlalu nyaman menggunakan pemberian Amel. Takut jika diluar sana tak ada gamis yang senyaman pemberian Amel. Tak kupedulikan jika setiap datang pengajian selalu dengan gamis yang sama, tak ada yang protes. Mereka memang teman-teman yang super baik.

Amel masuk ke dalam kamar mandi, segera aku berlari menuruni tangga tak lupa menaikkan beberapa centi gamis yang berkibar diterpa angin, semoga tidak terjungkal. Mengendarai motor dan bernapas lega saat bertemu dengan gerbang kampus.

Salat magrib kutunaikan di mushola dekat kampus, kemudian segera kembali untuk menerima omelan Amel, itu pasti.

"Darimana aja?"

"Maaf, tadi ngeprint sebentar."

"Bohong ya?"

"Iya," ahh, susah sekali berkata tak jujur di depan Amel.

"Kita bahas nanti, yuk sepupuku sudah nunggu di depan perpustakaan masjid."

Ada dua sofa yang terletak di sudut ruangan depan perpustakaan, seorang laki-laki duduk tenang dengan ponsel dalam genggaman.

Tunggu, aku menahan langkah Amel lalu berbisik, "Sepupu kamu cowok?"

"Iya"

Hah? jawaban macam apa itu. Ada perlu apa sepupu Amel yang ternyata laki-laki itu ingin bertemu denganku? Tak ada waktu untuk lari, kami sudah di depannya kini, kepalaku tertunduk, malu.

"Kev, ini Sasha," Amel memulai pembicaraan yang memaksaku untuk mendongakkan kepala dan mengangguk kaku.

"Hai Sha, aku Kevin."

"Hai Kevin."

"Maaf ya membuatmu terlambat pulang, aku hanya ingin memberikan ini," Kevin mengangsurkan tas kertas batik, aku terdiam.

"Ini untukkmu, kumohon terimalah."

Amel menyenggol tubuh sisi kiriku, aku mengambil bungkusan pemberian Kevin.

"Baiklah, senang bertemu denganmu Sha, sampai jumpa, Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Jelas Amel yang menjawab salam sepupunya sedang aku masih tertegun tak mampu berpikir dengan kejadian barusan. Kevin, orang yang belum kukenal tiba-tiba memintaku untuk bertemu dan memberikan bingkisan tanpa banyak kata lalu berpamitan, apa maksudnya?

"Hey, bengong aja, buka dong"

Tak ada bantahan, aku membuka tas kertas tersebut dan segera mendapati sesuatu terbungkus plastik, kutebak ini baju segera setelah plastik kutanggalkan dan menggelar lipatan kain tersebut aku ternganga. Perpaduan warna hitam dengan hijau muda serta sedikit renda ditepian berhasil membuatku melongo, ini gamis.

Tatapanku mencari jawaban dan Amel mengangguk, "Dia sudah tahu kau hanya punya gamis satu."

"Lalu kenapa?"

"Dia memperhatikanmu, itu saja."

Aku tersenyum, ada gamis lain yang kini menjadi koleksiku, pakaian longgar yang membuatku merasa terjaga, menentramkan dan adem.

"Jadi Sha, tadi kemana?"

"Maaf Mel, aku salat di mushola luar."

"Kenapa?"

Inilah saatnya berbagi cerita hati pada Amel, sesak di dadaku akan segera melebur dan mungkin Amel punya solusi terbaik untuk masalahku.

"Aku mengagumi suara muadzin setiap azan magrib berkumandang dan hatiku selalu berandai jauh akan hal itu, entah bagaimana bisa aku jatuh cinta tanpa melihat rupa."

Amel memelukku, membisikkan hal tak terduga, "Muadzin itu Kevin, Sha."



Duel Nutrisi





"Hai buku, menurutmu kenapa kita disandingkan?"

"Tidak tahu, mungkin menelusuri setiap lembar halamanku akan terasa menyenangkan jika ada kamu."

"Masak sih? Tapi iya juga sih aku memang juara dalam segala hal."

Buku diam, dia mampu membaca kemana arah pembicaraan ini. Aroma kesombongan mulai tercium. Mudah sekali menebak apa yang dipikirkan dari angkuhnya perkataan temannya itu.

"Kau tahu gadis yang membuat kita berada disini? Biar kuceritakan."

Buku memperhatikan sepenuhnya apa yang ingin disampaikan temannya.

"Dulu ia tergantung pada perawatan di salon kecantikan khusus, jika obat habis dan ia tak segera datang maka segala usahanya selama ini akan sia-sia."

"Hingga ia bertemu denganku dan terbebas dari tuntutan campur tangan bahan-bahan kimia, kau tahu kenapa karena aku bisa membantu kulit menjadi bercahaya, memperlambat munculnya tanda-tanda penuaan, membersihkan jerawat dan mencegahnya datang kembali. Nah, impian setiap wanita bukan?"

"Hei buku, kenapa kau tak menunjukkan sikap terperangah akan kehebatanku?"

Teman itu terheran melihat sikap buku yang tak memperhatikannya.

"Aku sudah tahu."

"Hhaa, memang aku ini sudah terkenal sekali ya? baiklah apa yang kau tahu?"

"Kau memiliki banyak kelebihan lain, tak hanya segelintir dari apa yang kau sebutkan tadi. Mengurangi kolesterol dan reaksi alergi, mengurangi stress dan depresi bahkan pencegahan dan pengobatan penyakit neurologis."

"Ngomong-ngomong kau tahu dari mana?"

"Teman-temanku banyak bercerita tentangmu juga gadis itu, kau pikir dari mana ia tahu akan kelebihanmu?"

"Maafkan aku."

Melihat perubahan drastis temannya, buku sedikit terkejut namun senyum merekah, "Hey manis, tersenyumlah sebab aku ingin mendengarmu memperkenalkan diri."

"Bukannya kau sudah tahu?"

"Aku ingin tahu langsung darimu."

"Perkenalkan, aku teh hijau."


---

Buku adalah jendela dunia, darinya kita banyak mengetahui segala hal, apa pun itu. Memilih buku yang dibaca sama saja seperti memilih makanan yang akan masuk ke dalam perut, harus baik dan bermanfaat sebab apa yang kita baca akan menjadi nutrisi untuk otak begitupan dengan teh hijau yang kita seduh, berbagai kebaikannya akan kita rasakan. Yuk baca buku disampingku, eh :)




Kehangatan

Badan wangi, perut kenyang, lima waktu berhasil dituntaskan hari ini, saatnya untuk me time. Tarik selimut, pegang novel dan segera tenggelam dalam susunan kata dengan berjuta arti, ahh indah sekali.

"Dicari temenmu tuh di depan," bapak tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu.

"Siapa pak?"

"Tau tuh."

Eh, siapa gerangan orang yang tidak memperkenalkan namanya pada bapak? ada perlu apa ya malam-malam kemari?

Setelah mematut diri depan cermin aku bergegas menemui sosok tamu yang dimaksud bapak dan ia berdiri dengan senyum lebarnya lalu berkata, "Surprise....."

"Dih Aa Gilang, ngapain malem-malem kesini?"

"Kangen atuh."

Oh, pantas saja bapak tak menyebutkan nama, beliau paham betul maksud laki-laki unik satu ini.

"Yuk masuk ke dalam?"

"Enggak ahh, De. Sungkan sama bapak."

"Lah, besok juga bakalan jadi bapakmu loh Aa."

"Hhii, sekarang cuma mau berduaan sama kamu aja."

Aku tersipu malu, entah bagaimana bisa setiap ucapannya pandai membuatku terpesona, menghangatkan kedua pipi hingga salah tingkah jadinya.

Kami duduk di kursi dengan meja bundar sebagai pembatas. Angin malam menembus dari sela-sela pagar bambu rumahku yang tepat di pinggir jalan dengan hamparan sawah siap panen di seberangnya. Kulirik ia merapatkan jaketnya, "Masuk yuk A, disini dingin."

"Eh jangan, kita bisa membuatnya jadi hangat."

Alisku bertaut, "Maksudnya?"

Ia menyeringai.

"Jangan macam-macam."

Aa bangkit dari kursi, mendekatiku perlahan, matanya mengunci tatapanku, senyum itu kini membuatku takut, kedua tangannya terlentang, aku bersiap meninjunya jika ia berani memelukku. Ternyata tidak, ia celingukan mencari sesuatu dan segera mendapatinya tertinggal di kursi.

"Ini, aku bawakan bubur kacang hijau, masih hangat."


---------------++++++++++---------

#OdopChallenge

Kamu dan Bumi

Begini saja aku coba peruntungan dengan menggodanya. Letih yang mendera mungkin saja membuat otaknya panas untuk menangkap hal-hal serius, terlebih Aa memiliki selera humor yang “nyleneh”. Baiklah, harus mulai dari mana ya? Oke, sejujurnya pikiranku sedang menyusuri setiap inci rerumputan hijau alun-alun, bagaimana bisa aku membuat guyonan di depan ahlinya? Kalau jatuhnya garing gimana? Tak apalah, harus dicoba.

Ada sekitar empat ekor kerbau yang sedang merumput tiga ratus meter di depan kami, mungkin sebentar lagi mereka akan tergeser oleh anak-anak yang sibuk mengerubungi satu bola untuk menembakkannya masuk ke dalam gawang. Coba berpikir untuk mengeluarkan rayuan, dalam anganku seperti ini,

Aa tahu ga, apa bedanya kerbau yang di sana dengan Aa?

Apa?

Kerbau itu merumput di alun-alun, kalau Aa menetap di hatiku

Ngga nyambung, guyonan gagal total. Sudah terlalu biasa di dengar, bukan hal baru lagi.

Aku menengadahkan kepala, mendongak mencari inspirasi dari arakan awan putih yang membentuk wajahmu, eh, tidak-tidak pasti Aa akan menyindirku karena telah mencuri lirik dari penyanyi cantik favoritnya, Raisa.

Ekor mataku menangkap bahwa Aa sama sekali tak bergerak, jagung serut beserta es jeruk ia abaikan. Heeeem, tumben ia tak berminat dengan makanan, setauhuku hasrat ingin mengunyah sama besar dengan keinginannya berkenalan denganku dulu, hayoo ngaku aja Aa, iyakan? Buktinya repot-repot ngajak keliling bandung.

Telapak tangan kiriku menutup mulut, menahan cekikikan yang bisa membuat rancu suasana.

Duh, terlalu lama menghabiskan waktu. Eemmm,

“Aa kita disini sampai malam ya?”

Sunyi, tak ada respon, menengokpun tidak. Jangan-jangan tidur lagi, eh bukan matanya masih menerawang jauh, pasti kangen rumah, iyalah Aa kan anak mamah.

“Temani aku menanti seseorang yang begitu penting dalam hidupku”

“Seseorang yang menerangi gelap kesendirianku dalam harap”

Eh, aku salah langkah, pasti Aa mikir kalau aku sedang membicarakan Kak Frans, duh.

Hisss... gemas juga melihat tingkahnya. Aku beranjak untuk duduk di depannya, mengajak duel untuk memecahkan kesunyian yang menyiksa ini. Siapapun yang keluar menjadi juaranya bukan masalah penting, mencoba adalah langkah awal untuk mengetahui itu semua.

“Aa ngga tahu pasti aku sedang membicarakan siapa, kan? Ahh sudahlah. Aku bantu untuk menjawabnya”

“Jika bumi punya matahari maka akupun punya Aa....”

Sengaja tak kulanjutkan kalimatku, sejauh ini berhasil sebab perhatiannya mulai beralih kepadaku, mungkin ia menunggu untuk menertawakan kegagalanku, tak apa, tak peduli.

“......sesuai nama yang diberikan kedua orang tuamu, Gilang yang berarti cahaya adalah sosok yang sejak tadi aku bicarakan”

Segera setelah itu aku menutup mata, menunggunya menertawakan gombalanku terlebih sebuah sentuhan di hidungnya yang membuat malu, duh kenapa hal terakhir harus aku lakukan? Angin yang berhembus memaksaku membuka mata perlahan dan mendapati kemenangan atas aksi diamnya. Senyum itu hadir lagi.

Untung tadi aku tidak melibatkan kerbau yah :)


Kamu, Alasanku

Jemariku menari diatas deretan huruf yang berserak, banyak hal yang ingin disampaikan namun tidak dengan membuka mulut. Berlebih dalam bicara seolah menjadikanku terlihat bodoh, aku tak suka dipandang bodoh.

Lelah sudah bertopeng, saatnya mengatakan pada dunia inilah aku yang sebenarnya. Biarlah segala kekurangan tersimpan rapi kecuali terhadap orang-orang yang peduli pada perbaikanku, tentang yang lain cukup tahu bahwa aku baik-baik saja adalah salah satu hal untuk mengurangi kerumitan.

Perenungan semacam ini aku dapatkan saat pertanyaan menohok datang dari orang yang selama ini menjadi sumber inspirasiku bahkan setiap tulisan yang terlahir adalah karena dia, ahh sudahlah.

Kalau tulisan kamu nggak ada yang baca, masih mau nulis?”

Enggak tahu”

Lama kusadari bahwa itu bukan sebuah pertanyaan melainkan sebuah pernyataan, ada makna tersirat dari ucapan yang ia lontarkan.

Belasan tulisan terlahir dan tak satupun dia meluangkan waktu untuk membacanya,  ayolah ini ungkapan hatiku tapi rupanya dia tak mau tahu lagi.

Lanjut menulis atau tidak?

Untuk apa jika alasanku menulis telah hilang?

Menyadari bahwa memang dialah satu-satunya alasan untuk menulis membuatku jatuh ke dalam jurang kepedihan, rasa sakit ini menjalar keseluruh tubuh bersama aliran darah, rasa sesak mengikuti kemudian, otakku berhenti bekerja, hingga hangat air mata membelah pipiku.

Memaksanya?

Tak ada hak sedikitpun, sepenuhnya salahku yang begitu menaruh harapan, dia tak mengetahui apa-apa tentang hatiku, ya tidak tahu, jelas ini bukan salahnya.

Lalu?

Biarkan aku berfikir, tolong jangan usik dulu. Aku akan kembali menulis, tenang saja sebab ternyata aku membutuhkannya.

Kapan?

Sebentar lagi, aku hanya sedang mencari alasan untuk tetap menulis, alasan itu harus kokoh dan tak mudah tergoyahkan. Dia tak boleh menjadi bumerang yang akan menyerang balik.

Kalian boleh memberi masukan padaku, secepatnya, karena aku sungguh ingin menulis.MENULIS.ITU SAJA.


Kita Berbeda (Ilmu Bumi)


 
Planet Mars. Kredit: NASA/JPL-Caltech


Baca pembuka cerita ini di kita-berbeda

Ruangan kubus ini berisi lima belas murid, Vaya adalah salah satunya. Mereka menunggu tacher Mrowa yang akan mengisi ilmu bumi. Ilmu dari planet lain di antariksa yang membuat banyak penghuni Mars dan Venus penasaran.

“Menurutmu kenapa tak ada pertukaran pelajar dari bumi?”

Miko mengangguk mengiyakan pertanyaan Morca.

“Menurut kabar yang beredar beberapa makhluk bumi telah mendarat di Mars, tetapi mereka belum diijinkan untuk bertemu dengan semua penghuni planet ini”

“Kau tahu dari mana Vay?”

“Hei, di planet Venus kami juga belajar ilmu bumi”

“Lalu kenapa?”

Pertanyaan Mario mengambang sebab tacher sudah memasuki ruangan kubus, di tangannya terdapat selebaran dengan banyak warna. Sudah dapat dipastikan bahwa info terbaru tentang bumi akan segera mereka dengar.

Salam sejahtera untuk kalian para penggenggam mimpi”

Sejahtera pula untukmu tacher,” serempak seisi ruang kubus membalas sapaan bagi untuk mereka

Aku suka sapaan di planet ini,” bisik Vaya pada Miko yang dibalas dengan senyum rendah hati

Baiklah yang tersayang, tacher membawa berita terbaru dari bumi. Berita yang dikirimkan khalifah untuk menjalin persaudaraan”

Semuanya terdiam, ilmu bumi hanya dipelajari saat musim panas pada wilayah khatulistiwa dimana semua diperbolehkan memakai baju lengan pendek namun Vaya tetap saja keukeuh menutupi seluruh badannya. Cuaca Mars yang ekstrem membuat ia harus waspada, jika siang hari suhu aman 20 derajat Celcius ketika malam seringkali anjlok hingga -90 derajat Celcius di musim yang sama.

Bumi dikenal sebagai tempat yang damai dipenuhi tumbuhan hijau dan dialiri air segar, tidak air asin seperti pada planet kita......."

Air segar? Bagaimana rasanya?”

Vaya mengangkat bahu menjawab lontaran pertanyaan dari Mario.

...... penghuninya pun dikenal ramah dan saling tolong menolong. Jumlah mereka beribu kali lipat dari penghuni Mars dan Venus sekalipun jika digabungkan namun cinta pada sesama menjadi kekuatan tak terkalahkan untuk bersama membangun planet indah hingga nampak berwarna biru......”

Seperti apa rupanya?”

Pasti penghuninya sangatlah lemah lembut”

Indah sekali jika mampu melihat air melimpah dimana-mana”

Yang lain mulai terdengar gaduh meliarkan imajinasi mereka membayangkan planet tetangga yang digadang-gadang adalah yang teristimewa dalam tata surya.

............mohon berikan perhatian semuanya ke depan.......”

Setelah mendapatkan kembali perhatian dari seisi ruang kubus tacher melanjutkan apa yang memang harus ia sampaikan.

.........satu dari sekian banyak hal yang menjadi bukti nyata dari rasa solidaritas penghuni bumi adalah kegiatan donor darah........”

Pantas saja segala hal baru yang terdengar selalu menimbulkan berjuta pertanyaan dari benak masing-masing, namun mereka rupanya harus bersabar untuk mendengarkan banyak hal lain yang akan disampaikan oleh tacher.

........donor darah adalah kegiatan mengambil darah seseorang untuk kemudian di simpan ke dalam suatu wadah dan diberikan kepada siapa pun yang membutuhkan..........”

Darah? Yang membutuhkan?”

Semua hal yang diucapkan tacher semakin membuat mereka menerka-nerka seperti apa penghuni bumi sebenarnya. Hampir semuanya sangat berbeda dengan kehidupan di planet mereka hingga seolah mereka berpikir bahwa bumi itu tidak nyata, hanya obyek penelitian dalam bidang ilmu pengetahuan.

................pasien thalassemia, ibu yang melahirkan, orang yang kecelakaan, pasien operasi, pasien cuci darah, pasien anemia, pasien liver, dan banyak lainnya........”

Tacher, pasien itu apa?”

Pasien adalah jika kalian terkulai lemas, tak ada kekuatan untuk melakukan aktivitas seperti biasanya”

Jawaban tacher membungkam banyak pertanyaan yang begitu menyesakkan, mereka paham bahwa tacher sekalipun tak kan mampu menjawab detail setiap pertanyaan termasuk mengapa banyak kata berbeda yang mengikuti kata 'pasien'.

..........sekian penjelasan ilmu bumi. Tulis sapaan kalian di lembar kertas dengan rapi pastikan khalifah dapat membacanya dan berdoalah agar beliau mau membagi informasi menarik dari bumi untuk kita semua.”

Kenapa hanya sedikit sekali informasi yang diberikan oleh planet bumi?”

Mana aku tahu, sudah cepat tulis”

Hey, kadang aku berpikir bagaimana jika kita yang berkunjung ke bumi?”

Mario, Vaya dan Miko serentak memandang ide ganjil Morca.

Kenapa tidak?”

Tantangan dari Morca tentu tak mendapat respon baik dari teman-temannya, tak ada pandangan lebih bagaimana keadaan bumi. Amankah untuk penghuni planet Mars dan Venus?

Tidak ada jawaban pasti, bumi masih begitu misteri bagi semua.


Kita Berbeda

Braaakkkk....

Mario menggebrak meja kelas, matanya melotot fokus pada satu arah, lantai keramik putih dengan pasir yang berserak di atasnya. Tapi tidak hati serta pikirannya.

“Apa sih yang dipikirkan anak dari Planet lain itu?”

Morca ikut tersulut emosi melihat temannya tak mampu menahan diri, “Keterlaluan memang”

“Sekarang mau bagaimana?,” rupanya Miko lebih tenang menghadapi suasana yang sedang memanas ini.

“Kita seret anak itu,” usulan keras dari Mario

“Percuma, tak ada yang tahu keberadaannya,” Morca tak bersemangat mengetahui rencana mereka gagal di awal.

“Mungkin di sana, ikut aku”

Kedua laki-laki tersebut berjalan di belakang Miko yang tergesa melewati lorong sekolah, melompati pagar besi setinggi satu meter, melintasi kebun biologi kemudian memasuki hutan kecil yang berada di belakang sekolah mereka.

“Sudah kubilang sedari awal anak itu aneh, mau apa ia masuk ke dalam hutan?”

“Aku juga menganggapnya seperti itu, tenang saja sebentar lagi kita akan mengetahuinya”

“Hei Miko, kau tidak akan membawa kami lebih dalam lagi kan?”

“Miko menoleh kearah teman-temannya, “Entahlah, tergantung kemana anak itu bersembunyi”

Sisa-sisa sinar mentari menembus lebatnya pepohonan yang menjadi kanopi hutan, semakin jauh masuk semakin hutan terasa lembab juga gelap. Ada rasa gelisah dari masing-masing mereka namun rasa penasaran untuk menemukan apa yang mereka cari mengalahkan semuanya.

Tak ada yang tahu dimana ujung hutan ini, mereka tidak pernah diijinkan untuk menjelajah ke dalam hutan tanpa pengawasan orang dewasa.

“Miko, mungkin saja ia tidak ada di sini”

“Aku yakin ada”

Kedua temannya bersungut mengikuti langkah kaki Miko yang setengah berlari. Tiba-tiba temannya itu berhenti mendadak dan menyembunyikan tubuh jangkungnya di balik pohon beringin tua yang berdiameter lebih dari pelukan kedua tangannya.

“Ada apa?”

“Ssssstttt, pelankan suaramu”

Mario dan Morca mengikuti perintah Miko, perlahan mereka mengintip dari balik pohon, diantara semak-semak belukar duduklah seseorang yang mereka cari, tubuhnya bersandar pada pohon beringin lain dan kepalanya terkulai.

“Apa yang ia lakukan?”

“Mari kita cari tahu”

Dengan hati-hati ketiganya mendekati sosok tersebut dan terheran mendapatinya sedang terpejam dengan kedua tangan memegangi perutnya.

“Apa ia terluka?”

“Pingsan?”

Tak ada jawaban dari setiap pertanyaan yang terlontar.

“Mati?”

“Kurasa tidak, lihat dadanya masih naik turun”

Beberapa saat berlalu dan sosok itu tak juga bangun.

“Apa kita harus membangunkannya?”

“Bagaimana jika ia terluka dan harus segera mendapatkan pertolongan?”

“Atau ia kelaparan?”

“Mustahil, asrama menyediakan cukup makanan bagi penghuninya”

Semua percakapan itu berhenti menyadari ada gerakan lemah dari obyek yang dibicarakan. Perlahan matanya terbuka dan terkejut mendapati ada orang lain di dekatnya.

“Hei, kalian sedang apa?”

Ketiganya tersenyum, kekhawatiran mereka sirna sudah.

“Vay, apa kamu baik-baik saja?”

Vaya meringis, meremas perutnya.

“Ahh, kau tidak baik-baik saja. Mari kembali ke asrama?”

Vaya menggeleng, “Tinggalkan aku sendiri di sini”

“Tidak akan, kau harus mengaduk larutan garam. Kita butuh itu untuk maju ujian pekan depan”

Morca mendapatkan tatapan tajam dari dua teman laki-lakinya.

“Vay, kau terlihat pucat, apa kau sakit?”

Gadis itu mengangguk dengan mata terpejam.

“Ijinkan kami mengantarmu untuk kembali ke asrama”

Kedua kalinya gelengan lemah dari Vaya menjadi jawaban untuk semua pertanyaan.

“Baik tidurlah, anggap kami tidak ada. Kami akan menjagamu”

Kini matahari telah sempurna menghilang dari langit, sinar rembulan menyusup memberikan rasa tenang kepada ketiga laki-laki yang hanya terdiam mencerna apa yang terjadi pada satu teman gadisnya itu.

Di sekolah mereka setiap tahunnya mengadakan pertukaran pelajar dengan planet lain, kini giliran gadis ini yang menjadi siswa terpilih untuk belajar bersama. Kabar yang beredar bahwa semua makhluk dari planet dimana gadis ini berasal memang sangat berbeda dan ketiganya baru menyadari hal itu sekarang.

“Kita bisa kembali ke asrama sekarang”

“Vaya, kau sudah bangun?”

Gadis itu tersenyum dan mengangguk.

“Boleh kami bertanya ada apa?”

“Ini adalah keistimewaan sebagai penghuni planet Venus, kalian yang tinggal di Mars tidak akan mendapatkannya”

“Lalu?”

“Iya, sebagian dari kami akan merasakan sakit kepala juga perut yang melilit saat keistimewaan ini datang”

“Apa bisa itu disebut keiistimewaan?”

“Sudahlah, jangan berdebat. Siapkan saja alasan pulang terlambat kalian kepada kepala asrama nanti”

“Kau sendiri?”

“Sudah kubilang, keistimewaan ini yang akan menyelamatkanku dari teguran kepala asrama”

Vaya memimpin teman-temannya keluar dari hutan, sepertinya ia hapal betul jalan setapak ini. Ada senyum yang terlukis menyadari bahwa ketakutannya akan makhluk Mars tidak selamanya benar.

Apakah semua penghuni di planet ini seperti ketiga temannya? Entahlah. Bintang mulai bermunculan, menjadi penghias langit malam dan untuk saat ini tak perlu ada yang dicemaskan.



Retakan Pilu

Hai tahukah kamu
Setiaku menanti angin yang berhembus
Berharap Tuhan mengutusnya membawa balas rindu
Mempertemukan retakan pilu untuk bersatu

Hai sadarkah dirimu
Bahwa detik yang berlalu
Akan selalu sendu
Tanpa hadir ragamu

Mengertikah engkau
Harus kemana lagi aku menuju
Saat arah angin semakin semu
Bayangmupun kian kelabu

Kuajukan pertanyaan yang hanya satu
Aku yang telah lama menunggu
Bolehkah berharap lebih pada waktu?
Tak apa jika tidak adalah jawabmu


---++++-------

Haiissshhhh, maaf pak guru tugas puisi darimu sepertinya kurang memuaskan

Pra Afkir

Pagi ini desas desus tak mengenakkan terdengar. Ada kabar bahwa sebagian dari kami akan dibuang. Iya dimusnahkan sebab sudah tak dianggap berguna lagi di rumah ini, tak memberikan manfaat yang berarti. Tapi segala kebaikan kami selama ini apa tidak dipertimbangkan?

Sudahlah, segala perdebatan tak akan menemui ujungnya jika pada akhirnya kami akan diangkut dalam mobil bersama-sama, memperlebar jarak dengan rumah ternyaman dengan segala cerita di dalamnya dan entah berhenti dimana.

Memang inilah hidup, yang lama akan digantikan yang baru, yang tua harus mau mempercayakan pada yang muda, kami yang dianggap sudah tak mampu dipertahankan harus dikeluarkan segera sebelum Tuan lebih banyak menanggung biaya hidup kami.

Teringat jelas saat diangkut dengan sebuah mobil pula aku dan ribuan teman diantar ke rumah ini, kami begitu disayangi, diperlakukan istimewa. Bagaimana tidak jika diantara kami menggigil mereka akan segera menyalakan pemanas ruangan, ketika terik mentari membuat kami berpeluh hujan buatan hadir menyegarkan.

Ahh ya, saat aku masih doyan sekali tidur sepanjang hari mereka rela terjaga tengah malam untuk membangunkanku juga lainnya yang terlelap untuk makan. Membantu siapa saja yang kesulitan mencari air minum atau jatah makanannya habis.

Mengelus lembut kami saat mengontrol berat badan setiap minggunya, mengelompokkan kami guna memberi perlakuan yang berbeda. Iya berbeda, tapi kami tidak pernah iri. Teman-teman kami yang kurang beruntung akan disendirikan, diberikan perhatian lebih banyak juga vitamin dan obat-obatan penunjang. Senang sekali rasanya dihujani kasih sayang yang berlimpah.

Secara berkala masing-masing dari kami diberikan sesuatu agar dapat hidup sehat lebih lama, jarum suntik itu akan menembus lapisan kulit, memasukkan cairan kedalam aliran darah yang segera menyebar keseluruh tubuh. Biasanya tiga hari setelah perlakuan itu kami akan diberi vitamin untuk mengembalikan kesegaran dan setelahnya hidup berjalan dengan normal.

Kebahagiaan pindah rumah terjadi lima minggu kemudian, jika biasanya kami harus satu ruang dengan belasan teman kali ini satu kamar hanya dihuni oleh tiga sampai empat saja. Lega sekali mengingat ukuran tubuh yang semakin membesar. Delapan minggu kemudian aku kembali bahagia saat memiliki kamar pribadi. Bisa melakukan apa saja sesuka hati tanpa sungkan pada teman satu kamar.

Mengenang hal tersebut seolah kegembiraan ini tak ingin berakhir, tapi burung-burung yang sering bercerita di atas tembok membawa kabar baik. Nantinya kami akan dapat membalas segala jasa orang-orang yang telah berbaik hati merawat kami dengan bentuk lain. Kami adalah makhluk yang selalu dinanti oleh sebagian besar orang diluar sana.

Saat di rumah ini, telurku diminati semua kalangan dan jika aku keluar maka akan lebih banyak lagi yang bersedia untuk segera memilikiku. Membawaku ke rumah mereka dan melengkapi hari dengan menyenangkan. Membayangkannya sama istimewanya seperti dulu kala, bahagia menyusup membuyarkan segala keraguan yang sempat menyesakkan dada.

Kebahagiaan seperti apa? Ahh, tak sabar aku menunggu. Dan di ujung lorong orang-orang baik itu membawa glodok yang nantinya akan mengangkut tubuhku.

Aku siap, menjalankan peran sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia. Sorak sorai menyambut akhir kebersamaanku dengan segala kenangan di rumah ini.

Ptoookkkk.... tok... tokk... petookkk...