Mawar Biru di Hari Ibu




Pelan aku menepuk pundak mama, beliau menghentikan segera aktivitasnya dan menoleh kearahku. Binar mata itu cukup untuk menggambarkan segala keterkejutannya.

"Tapi nggak wangi, Ma."

"Ngga perlu wangi," ujarnya seraya mengambil rangkaian bunga yang biasa saja itu.

"Selamat hari ibu," ucapku seraya mencium kedua pipi beliau.

"Ini buat Mama juga, biar sehat selalu."

"Halah... halah...."

Aku tahu, terasa ganjil memberikan susu kotak cair kemasan kecil untuk beliau. Tapi hanya itu yang terpikirkan melihat mama sering membeli susu akhir-akhir ini.

Ritual semacam ini berjalan singkat, bukan hal biasa berlaku so sweet di keluarga kami namun semenjak aku tumbuh dewasa dan sering membaca novel, bunga masih menjadi salah satu hal terindah untuk mengungkapkan rasa. Ahh, benar lah jika sastra itu melembutkan.

Lega akhirnya, asal tahu saja aku berusaha menepis rasa canggung saat melakukan ini semua.

Oh ya dan kini aku sedang menatap setangkai mawar biru di atas meja belajar, menerawang jauh tentang kejadian tadi sore saat aku membeli bunga untuk mama.

Bermacam-macam bunga dengan warna berbeda terhampar di hadapanku, diletakkan di dalam ember berisi air setengahnya. Dua puluh menit sudah aku memelototi mana bunga yang harus aku ambil untuk segera dirangkai hingga seorang penjaga toko menghampiriku, usianya belum mencapai kepala tiga kurasa, seragam kaos biru dengan nama toko terlihat sangat pas ditubuh jangkungnya.

"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"

"Emm.. saya mau beli bunga Mas. Tapi bingung."

"Baiklah saya bantu, Mbak ingin yang seperti apa?"

"Bagaimana kalau dua warna saja, sederhana namun terlihat indah?"

"Baik."

Segera petugas tersebut memilah bunga-bunga yang aku tak tahu apa namanya, melangkah menuju meja rangkai untuk segera menyelesaikan permintaanku.

"Mbak bisa menulis pesan sembari menunggu saya."

Aku terhenyak, baru sadar sedari tadi aku hanya menonton ia memotong tangkai bunga, mengambil selotipe, juga memilih pita sebagai penambah daya tarik.

"Saya nulis apa ya, Mas?"

Petugas toko terdiam sebentar, memandangku dengan dahi berkerut, "Mbak, baru pertama kali?"

Aku memamerkan deretan gigi selayaknya iklan pasta gigi.

"Tahun kemarin?"

Aku menggeleng, tak mungkin aku mengatakan bahwa tradisi memberi bunga memang tak pernah muncul di dalam keluargaku. Empat tahun yang lalu memang aku memberikan setangkai mawar merah untuk mama tapi itu didapat saat lampu lalu lintas menyala merah dan beberapa mahasiswi kebidanan mendekatiku dengan senyum seraya mengucapkann kata selamat hari ibu.

"Bisa bantu saya, Mas?"

"Baiklah, coba ungkapkan keinginan mbak terhadap ibu."

"Mamaku tersayang semoga Allah memberikanmu umur panjang dalam kesehatan juga ketaatan kepadaMu, agar lebih banyak waktu yang bisa kugunakan untuk melukis senyum di wajah tuamu. Maafkan aku yang selama ini sering membuatmu harus mengelus dada dan banyak beristigfar. Mama aku sayang engkau sungguh....."

"Stoooopp......"

"Kenapa, Mas?"

"Mbak, mau buat cerpen?"

Aku terdiam, "Kan saya sudah bilang kalau bingung, bantu saya lah."

"Oke, selesai."

Aku melongo.

"Aku Sayang Mama?"

Ia mengangguk, "Orang akan memiliki kekuatan untuk melakukan apa pun atas dasar rasa sayang."

Aku nggak mudeng.

"Ini rangkaian bunganya."

"Terima kasih telah banyak membantu saya."

"Tidak usah sungkan, sudah jadi tugas saya. Oh ya, ini untukmu, free, selamat hari ibu."

Bukan mengucapkan terima kasih aku malah menunjukkan kebodohanku, "Ini bunga apa?"

Petugas itu tersenyum lagi, "Mawar biru."

Ooo, ternyata selain merah, putih dan merah muda bunga mawar masih memiliki warna lainnya.

"Seringlah ke sini, akan kukenalkan kau pada bermacam-macam bunga plus cara merangkainya agar tampak lebih menawan."

"Oh iya, tapi aku belum menjadi ibu?"

"Tak apa, itu lebih baik."

Aku segera berpamitan usai menyelesaikan pembayaran di kasir. Ia berdiri dengan tubuh bersandar di depan pintu, melambaikan tangan dan mengantar kepergianku dengan tak henti menebar senyum.

Pelayanan yang baik, pikirku.

Tiba-tiba aku terhenyak di atas kursi belajar, tunggu...

Bunga masih menjadi salah satu hal terindah untuk mengungkapkan rasa.


:) 



Pasar Kembang - Solo, 22 Desember 2016



1 comment:

Yuk sampaikan dengan santun :D

Paket Umroh Murah

Rukun islam yang ke lima adalah naik haji (bagi yang mampu), namun sebagai umat islam tentu keinginan mengunjungi Baitullah adalah sesuatu y...