Aku Memilih-Nya

Aku berada di persimpangan, kanan menuju ke arahmu yang memberikan segala manis dunia, sedang kiri adalah hutan belantara yang entah berujung kemana. Jelas aku memilihmu, menikmati setiap detak waktu dalam dekap hangat pelukan.

Waktu berlalu hingga ada sesuatu yang menggelisahkan. Perlahan semakin kuat rasa tak ingin berpisah darimu, aku ingin memilikimu seutuhnya, tak boleh ada orang lain yang menjamahmu, merasakan kehangatan yang sama darimu. Tidak boleh ada. Kau berjanji mengabulkannya, aku serasa terbang di atas nirwana.

Namun malam ini, kakiku melangkah menuju semak belukar sebagai gerbang pembuka hutan belantara. Telapak kakiku merasakan goresan duri-duri liar, membuat luka menganga dan mengeluarkan cairan kental merah. Aku meringis, namun tak menghentikan langkah kakiku. Jika ada kau pasti ini bukan masalah sebab kau akan lakukan apapun untuk melindungiku dari segala yang berbahaya.

Jauh di tengah hutan aku menemukan telaga yang jernih airnya, hingga terlihat jelas apa-apa yang berada di dalamnya. Tak ada rasa perih saat air ini mnyentuh kakiku yang terluka, bahkan luka-luka itu menutup sempurna.

Kini, jika aku kembali maka kakiku akan terluka oleh duri di sepanjang jalan. Tidak, aku akan di sini bahkan jika harus meninggalkanmu. Ada keyakinan bahwa kau akan menyusulku ke sini, itu harapanku. Maukah kamu?

Kebebasan

Tuhan ciptakan segala yang kita butuhkan, hanya saja kita membatasi diri pada yang tampak saja. Malam itu bintang berpijar memenuhi langit malam, indah tak terungkapkan. Hanya mereka yang mau mendongak yang akan melihatnya, sebagian yang memilih untuk tetap menunduk tentu hanya akan melihat kerikil-kerikil yang berserak.

Aku merebahkan badan di atas hamparan rumput di kaki bukit, lelah mendera, kaki yang seolah tak mau bergerak lagi setelah tak henti berlari selama dua jam, menjauh dari kebisingan. Sepoi angin membelai wajahku yang kian pucat kedinginan.

"Tuhan, aku berdosa."

Tak ada sahutan di tempat yang sunyi ini, aku sendirian. Mengingkari nikmat Tuhan sungguh dosa yang tak terampuni, bagaimana bisa aku lalai?

"Tuhan..." napasku tercekat, masih pantaskah aku mengadu setelah dengan bangga aku memaksakan takdirku sendiri?

Kelebatan yang lalu datang bertubi-tubi menghujam dada meninggalkan sakit yang tak terperi, percayakah aku pada Tuhan?

Aku selalu percaya pada orang yang mengatakan bahwa Tuhan tidak tampak namun kita bisa merasakan kehadiran-Nya pada setiap apa-apa yang diciptakan sebab Tuhan sangat dekat, melebihi urat nadi kita sendiri. Mengapa Tuhan memilih untuk tidak menampakkan diri-Nya?

Aku ingin melihat Tuhan. Tidak. Bahkan Nabi Musa pingsan saat Tuhan menampakkan kebesaran-Nya. Apalah aku yang hanya ingat jika sudah terperosok dalam jurang kenistaan.

"Tuhan..." suaraku masih tertahan di tenggorokan, sungguh aku hanya ingin memohon ampun. Mengapa susah sekali?

Tuhan mencintai hamba-Nya. Aku menangis dalam diam, tak ada air mata yang membanjiri wajah, tak ada suara yang terdengar dan ini sungguh menyesakkan.

Aku memejamkan mata, semoga kelak saat Sang Surya menjalankan titah Tuhan-Nya aku sudah tidak di dunia ini lagi, semoga.





Adik Iparku Berulah Bagian 2

Baca bagian sebelumnya.


"Bulik, dulu waktu kecil suka nonton kartun ga?"

"Dulu waktu Bulik masih kecil belum ada tivi, jadi mainnya ya di luar rumah."

"Aahhh, ya sudah."

"Loh, mau ke mana Kakak Alama?"

"Di suruh bunda beli garam di warung, padahal aku pengen nonton doraemon."

"Ya sudah, sini bulik yang beliin. Kamu masuk sana."

"Yeay, bulik emang juara."

Aku menatap semua dari balik kaca jendela, mendengus perlahan. Siap menyambut anak sulungku masuk kembali ke dalam rumah.

"Garemnya mana, Kak?"

"Mau dibeliin bulik, Bunda."

"Tadi bunda minta tolong ke siapa ya?"

"Bulik maksa bunda, kan tadi kakak udah jalan, bunda liat sendiri kan kakak keluar rumah?"

Aku menggeleng perlahan, sekarang anak sulungku sudah berbohong untuk menutupi perbuatannya.

"Kakak, tivi tidak boleh dinyalakan sampai siang."

"Loh Bund, kok gitu?"

"Bunda tahu kakak tidak bicara jujur."

"Bunda nyebelin."

Aku tak menghiraukan nada tingginya. Kemudian ia berlalu menuju adiknya yang masih sibuk dengan mainan, sedetik kemudian keributan terdengar.


**

Deretan nisan berjajar rapi seukuran balita. Aku menutup mulut menganga dengan telapak tangan. Bagaimana bisa ada seorang ibu yang dalam hidupnya kehilangan lima anak balita semasa hidupnya?

Suamiku menyentuh lembut satu persatu batu hitam yang menjadi tanda bahwa ada jasad seseorang di bawahnya. Jasad yang dulu pernah hidup, menceriakan dunia ibunya dengan canda tawa meski tak lebih dari satu tahun saja. Aku menjaga jarak, tak kuasa mendekatinya yang tengah khusyuk berdoa.

"Kau mengenal mereka?" tanyaku perlahan saat ia sudah merampungkan ritualnya.

"Hanya satu," jawabnya sembari menunjuk nisan yang berada tepat di samping kirinya.

Aku mengangguk.

"Aku masih berumur kurang dari tiga tahun, yah seumur Dek Syifa sekarang kira-kira saat Ibu menangis karena bayinya tak lagi bergerak."

Kembali aku membekap mulut. Lelehan air mata perlahan luruh.

"Hanya demam seperti biasa, semuanya cepat berlalu dan tiba-tiba satu pusara bertambah."

Aku sesunggukan, berarti kelima kalinya ibu mertuaku kehilangan anak di usia balita. Suamiku mendekat, memenangkan emosiku.

"Kita pulang, aku tak mau ibu melihat kau menangis."

Aku mengangguk.

Langkah-langkah kami menjauh dari pemakaman keluarga dengan belasan batu nisan di sana. Dadaku masih naik turun bahkan saat keluar dari area pemakaman keluarga, melewati lebih banyak lagi batu nisan dengan nama-nama yang asing di telinga juga gundukan-gundukan tanah yang ditumbuhi rumput liar, tak bernama, tak terawat.



Bersambung...

Adik Iparku Berulah Bagian 1

Minggu pagi, kami baru saja pulang seusai berolah raga ringan di sepanjang Jl. Slamet Riyadi, Solo. Kakak Alama sibuk membersihkan sisa-sisa bungkus roti yang kami beli tadi, meletakkan piring-piring kecil ke dapur, mengelap meja, mondar-mandir tiada henti. Dek Syifa membuka hati-hati mainan baru, sebuah puzzle dengan tiga puluh enam bagian yang terpisah bergambar kereta api.

Suamiku sibuk membaca koran tak jauh dari anak-anak, aku sendiri tengah mengupas pepaya yang juga dibeli tadi.

"Bunda... Kakak mau nonton kartun yah sudah jam sembilan ini."

Aku berhenti dari aktifitas, ada yang aneh dengan sikap anak sulungku, kenapa harus meminta ijin untuk menonton kartun? Ahh, aku tahu.

"Sudah selesai Kak?"

Ia menggeleng. Nah kan.

"Selesaikan dulu baru boleh nonton kartun."

Alama adalah anak sulungku, ia duduk di kelas lima sekolah dasar. Di usianya kini aku telah membuat perjanjian akan hak dan tanggung jawabnya sebagai anak dalam keluarga. Tanggung jawabnya ialah membantu merapikan meja makan dan mencuci piring-piring kecil.

"Sudah biar Bulik saja yang nyuci piringnya, Kakak Alama bisa nonton kartun."

"Yeay, makasih bulik."

Aku mendengus kesal, kehadiran adik dari suamiku baru dua bulan namun segala upayaku menerapkan peraturan di keluarga ini seolah hancur dalam sekejap. Tidak, bukan caraku untuk mendebatnya di depan anak-anak, terlebih aku tidak mau menegur langsung, biar kakaknya yang akan menasehatinya nanti.

**

Aku tidur menghadap tembok membelakangi suamiku yang telah terlelap beberapa saat lalu. Mataku enggan terpejam, diskusi sebelum tidur tadi menemui jalan buntu, suamiku enggan menyuruh adiknya pulang.

Segala perasaan marah yang tertahan berkumpul dengan kesal juga lelah yang mendera, perlahan tetes air hangat meluncur bebas membelah pipi, di luar kendaliku. Hanya menunggu waktu hingga hidungku tersumbat dan aku kesulitan bernafas. Tangan itu menyentuh lembut pundakku, percuma pura-pura tidur sebab badanku sudah bergoncang oleh luapan yang tak lagi terbendung.

Suamiku memaksaku duduk, aku menunduk dalam diam.

"Besok aku ngobrol yah sama Mania."

Aku tak menanggapi. Sudah berulang kali suamiku mengatakan itu tapi tetap tidak ada perubahan berarti, entah sudahkan ia benar-benar mengatakan pada adiknya atau hanya menghiburku semata.

"Aku sudah berusaha mengubah segala sikap turunan keluargamu, kini adikmu membuat pekerjaan itu harus kembali kuulangi."

Suamiku berusaha meraihku, aku mengelak.

"Mungkin harusnya kau yang mengatakannya sendiri."

"Tidak sudi."

"Tahan emosimu, Sayang."

Aku menatapnya dalam linangan air mata, "Katakan, kau sendiri tahu sikap memanjakan anak berlebihan akan berdampak tidak baik untuk kehidupan mereka selanjutnya. Kita sudah sepakat untuk hal ini. Menerapkan aturan untuk mempersiapkan anak-anak menyambut hal tak terduga di depan sana."

Suamiku terdiam. Selalu. Ia kalah jika berhadapan dengan adik semata wayangnya itu.

Aku keluar kamar, malam ini aku akan tidur di kamar tamu. Menangis sepuasnya. Mempertahankan apa yang aku yakini benar untuk keluargaku.



Bersambung...
---------------------------------------------------------------------------


AQ (Adversity Quotient) menurut Paul G. Stoltz adalah kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.


Kepada semua teman sosial media, saya mohon maaf lahir dan batin jika selama ini ada kata, cerita atau perkataan yang secara sengaja ataupun tidak telah melukai hati. Semoga apa yang telah kita usahakan mendapat pahala dari Allah SWT. Selamat hari raya idul fitri 1438 H

Firasat Subuh

           Kubuka cerita ini dengan tenang, menutupi perasaan terbalik yang sedang menendang-nendang dari dalam dada, sebabnya pada suatu pagi belum lama ini aku mendapatkan firasat akan mati ketika subuh.
Aku? Mati? Ketika subuh?
Cerna perlahan dan jika kurang jelas kalian bisa mengulangnya satu, dua atau berapa kali sesuka hati, lalu setelah itu diam saja. Ini adalah firasatku, berlebihan jika memaksa kalian untuk mempercayainya.
Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah apa yang bisa kulakukan setelah mendapat firasat ini? Menurutku firasat hanya semacam pemberitahuan lebih awal tanpa mampu mengubah takdir yang semestinya berjalan.
Mati... mati... mati...
Kata itu terus memenuhi otakku, menggema di setiap dinding khayalan yang kelamaan sungguh mengerikan dan nyaris membuatku gila. Kenapa malaikat Izroil tidak langsung mencabut nyawaku saja? Menanamkan perasaan semacam ini membuatku lemas dan hilang akal hingga serasa nyawa sudah tidak berada dalam raga atau ada sesuatu yang tersembunyi akan firasat ini?
Maka aku pergi menemui seseorang yang mengabdikan diri di sebuah surau kecil di pinggir kali yang kotor airnya, beliau meski tak utuh lagi barisan giginya menyambutku dengan senyum yang terlihat ganjil.
Lelaki tua itu entah datang dari mana, dulu saat aku terlahir beliau sudah mendiami surau tersebut, mengumandangkan adzan tepat waktu, mengajari anak-anak mengaji dan memukul bedug sebagai tanda berbuka puasa. Ada yang bilang beliau memilki sesuatu yang tidk banyak orang tahu, sesuatu yang tak kasat mata maka dari itu jarang dipercaya.
Assalamu'alaikum, Kakek,” sapaku sembari mencium takzim punggung tangan beliau.
Wa'alaikumsalam cucuku. Duduklah, tenangkan pikiranmu. Apa kau membawa sesuatu untukku?”
Aku menepuk dahi, lupa membawa buah tangan sebab otakku sudah penuh dengan firasat yang mengganggu ini.
Aku bercanda,” terkekeh kakek menggodaku.
Pagi itu mentari malu-malu menyinari bumi, kumpulan awan tampak menutupi sinar garangnya, tidak mendung namun cukup suram mengingat ini tengah hari. Aku mengutarakan maksud kedatanganku, kakek mengangguk, membangkitkan semangatku akan makna tersirat yang mungkin alpa kubaca. Namun ternyata aku semakin dibuat bingung saat pulang, sebab kakek tak meberitahukan aku apa-apa selain memintaku untuk tetap di jalan yang benar. Memangnya selama ini jalanku sesat?
Firasat ini seolah menjadi algojo yang hendak membunuhku perlahan, membuatku terserang insomnia akut. Dini hari dengan sangat memaksa aku memejamkan mata dan sebelum subuh sudah kembali terjaga. Alarm dalam tubuhku seolah berbunyi untuk menunggu hari kematian.
Beberapa subuh berlalu dan tidak terjadi apa-apa, aku mulai meragukan kebenaran dari firasat ini. Namun gangguan tidur terus saja kualami, membuat kantung mataku kian tebal setiap harinya.
Subuh ini hujan turun dengan derasnya, membuat setiap makhluk kembali meringkuk di bawah selimut tebal di atas ranjang empuk, menyamankan diri. Kata orang subuh adalah waktu yang tepat untuk melenyapkan rasa lelah, itulah menyapa sulit mata terbuka meski panggilan Ilahi telah diperdengarkan di setiap sudut kota.
Tubuhku gemetar, menggigil, ada sesuatu yang memaksaku untuk keluar rumah, namun deras hujan menahanku hingga begitu cepat semua terjadi, kilat menyambar, menumbangkan pohon-pohon tepat ke atap rumah-rumah, guntur menggelegar memekakkan telinga, lalu sunyi. Gerimis hujan kemudian mengabarkan bahwa firasat itu nyata namun bukan untukku saja melainkan juga kepada mereka yang tuli setelah dipanggil berulang kali.

Bukan Seutuhnya Kamu


Tok... tok...

Kakiku terayun segera menuju daun pintu, ada rasa khawatir yang teramat ketika malam menyapa dan kamu belum sampai rumah. Deras hujan mengaburkan suara ketukan pintu namun telingaku memang sudah begitu menunggu mendengar apa pun yang berasal dari situ.

Basah kuyup, wajah berantakan, pakaian tak beraturan. Nelangsa hatiku menatap kamu yang justru tersenyum meneduhkan.

“Maaf ya Dek, tadi nganter Sari pulang dulu, kasihan hujan deras.”

Kilat menerangi malam gulita, petir menyambar kemudian. Aku mematung, inikah alasanku menanti?

“Maaf nggak ngabarin, kasihan tadi Sari ketakutan, pengen cepet pulang katanya.”

Dua kalimat yang bermakna sama, Sari dan Perhatian. Baiklah jelas sudah semuanya.

“Masuk... boleh nggak?”

Nada suaranya menggantung, mungkin mengerti perubahan raut wajahku dan bingung hendak bagaimana, sudah terlanjur semua terucap.

Aku mengangguk, menuju kamar untuk mengambil pakaian ganti. Tak lama bunyi kran yang mengalirkan air terdengar berisik dari dalam kamar mandi. Air langit masih menghujam bumi, menggigilkan hati yang terabaikan. Ragamu masih, selalu di sisiku namun ada kepingan lain yang tertinggal di suatu tempat hingga menjadikan bukan seutuhnya kamu.

Tempatku bukan disisimu, biar malam menelan ragaku, biar angin memeluk tubuhku, biar kilat menerangi jalanku, biar petir menjadi satu-satunya suara yang menentramkanku, dan kutitipkan jiwa yang tak mau beranjak darimu, terserah hendak kau apakan. 

 

Tersirat

"Hey... Berhenti... berhenti..."

Aku melirik sekilas seseorang yang berteriak di sampingku, tampak normal saja namun kenapa perilakunya seolah mendekati orang gila? Kembali kupacu sepeda motor.

"Fay... berhentiiii...."

Orang itu mengenal namaku? Ahh ya ingat, tetangga desa. Pasti ada yang mendesak hingga ia berulang kali harus menyuruhku berhenti, tidak berbahaya, maka kutepikan motorku.

"Tukeran motor," serunya setelah memarkirkan motor miliknya sendiri.

Aku mengerutkan dahi, jangan-jangan ini orang memang benar sudah agak gila.

"Awas..."

"Mau merampok?"

Matanya melotot, tidak menyangka aku mengetahui niatnya.

"Sembarangan, motorku juga ga kalah bagus dari motormu, tahu?"

Iya aku tahu, ahh mungkin memang benar kalau orang ini sedikit terganggu.

"Ayo.."

"Enak aja, ga mauuu."

"Yeee, daripada kamu dimarahin bapakmu sampe rumah, mau?"

Lah, kenapa bapakku dibawa-bawa?

"Lihat, telur yang kau bawa akan hancur jika sampai rumah."

"Tidak percaya, aku bisa membawanya."

Dia terlihat gemas, aku diamkan saja, jalanan beraspal di siang terik ini cukup lengang membuat satu dua pengendara yang melintas melirik ke arah kami.

"Fay, aku hanya ingin menolongmu."

"Aku bisa membawa telur ini sampai di rumah, titik."

"Oke.. kalau begitu dengarkan aku sebab membawa telur ayam mentah dalam peti juga ada seninya, paham?"

Aku menggeleng, sejak kapan membawa telur ayam memiliki seni tersendiri?

"Pertama... "

Dia mengacungkan jari telunjukknya tepat di depan hidungku.

"Kecepatan kendaraanmu harus stabil, begitupun jika melewati polisi tidur, menghindari lubang, mengerem atau semisalnya. Jika tidak maka akan terjadi benturan antar cangkang."

Masuk akal, "Lanjutkan."

"Kedua, panas terik matahari mampu mengubah warna cangkang menjdi putih, jadi sebaiknya Fay, kau membawa plastik atau apa pun yang bisa menutupinya."

"Kenapa?"

"Hey, kau niat berdagang tidak? sekarang warga desa pun tahu telur yang baik cangkangnya berwarna coklat tua bukan putih, paham?"

"Ada lagi?"

"Itu dulu sementara."

"Lalu apa salahku?"

Kembali matanya melotot, tidak menyangka aku mengeluarkan pernyataan yang membuatnya mengerutkan dahi.

"Kau melanggar semuanya..."

Kembali aku berpikir, benar juga sih, jalanan sepi membuatku melaju normal seolah tak ada barang apa pun yang kubawa.

"Aku bisa berhati-hati," jawabku segera.

"Biar kuberi contoh."

"Tidak, bagaimana jika kau membawa lari motor dan telur-telurku?"

Sekali lagi matanya hampir saja keluar mendengar aku melontarkan pertanyaan itu, kebiasaan yang aneh. Kemudian dia mengeluarkan dompetnya, membuka untuk menunjukkan sim, ktp dan sedikit lembaran uang lalu menyerahkan kepadaku.

"Ini jaminan, toh kau tahu di mana rumahku, ada ayah dan ibuku di rumah."

Sepakat. Aku bersiap menaiki motornya, lalu sesutu terlintas begitu saja, dia juga sudah sedia jalan saat aku menghadangnya.

"Apa lagi?"

Kali ini mata itu kembali ingin keluar, duh benar-benar orang yang aneh.

"Kenapa kau mau membantuku?"

Senyum hadir di wajah ovalnya, tatapannya berubah teduh dan menyenangkan namun tak ada jawaban, matanya tak berkedip, aku bahkan menyimpulkan ada sesuatu yang salah dengan indera penglihatannya itu.

"Baiklah, kita jalan."

Akhirnya aku memutuskan keheningan sesaat itu, cukup jelas bagaimana dia menyembunyikan sesuatu yang belum siap untuk diungkapkan namun begitu ingin dibuktikan sebagai sebuah kesungguhan. Bapak, lihatlah sendiri siapa yang membersamai putrimu ini.



Sapi Terbang

Aini berjalan mundur, mengendap-endap, berusaha tak sedikitpun menimbulkan suara. Dihadapannya ada hewan sebesar sapi namun bukan benar-benar sapi sebab ada sayap di kedua sisi tubuhnya. Pernah sekali hewan tersebut menyeringai, deretan gigi tajam membuat Aini mampu menerka semacam apa mangsa hewan aneh itu.

Tangan kiri mencengkram erat rak-rak buku, ada celah cukup lebar antara rak, ini saatnya melarikan diri.

Satu... dua... bersiap berbelok dan

Bukk....

Buku ditangan kanan Aini tergeletak di lantai, hampir ia berteriak untung saja kedua tangannya reflek menutup mulut. Otaknya masih mencerna kejadian ini saat lelaki dihadapannya memukulkan pinggiran buku tebal ke kepala, Aini mengaduh pelan.

"Kebiasaan..."

Aini sempurna sadar, ia telah kembali ke dunia nyata.

"Kenapa pakai jalan-jalan sih kalau baca novel fantasi?"

Aini menggeleng. Tak ada suara yang keluar.

"Otakmu jangan melulu diisi gituan, gila lama-lama. Tahu?"

Aini mengangguk. Tubuhnya menegang, tak bergerak sesenti pun.

"Tuh, tanda-tandanya jelas, ga bisa ngomong kan?"

Aini masih mematung, lelaki itu menghela napas pelan.

"Awas, aku mau lewat."

Aini tidak bergeser, masih beku di tempat yang sama.

"Mau aku tabrak?"

Aini mengangguk sedetik kemudian menggeleng namun tetap tak bergerak.

Lelaki itu menyerah, menepuk dahi, akhirnya mengalah memilih memutar mencari jalan lain.

Bukan... bukan lelaki itu yang membuat Aini tak mampu berkata-kata sebab dihadapannya, kurang dari dua ratus meter, hewan sebesar sapi dengan sayap di kedua sisi tubuhnya tengah memamerkan taringnya.


Serangan Balik Ibu-Ibu RW 04

Kecanggihan teknologi rupanya memang memudahkan urusan banyak pihak, tak terkecuali kami yang tinggal di desa RW 04. Applikasi whatsapp bukan hal rumit untuk dipelajari oleh bapak-bapak atau ibu-ibu sebab banyak anak muda yang sedia turun tangan demi meratanya kemajuan di semua kalangan.

Tak lama terbentuklah grup RW 04, di dalamnya sibuk mengajak berangkat rapat bulanan, membuka pos ronda, menengok tetangga atau sekadar melempar guyonan agar grup tetap hidup. Tak terkecuali share gambar setelah gotong royong, lumban bersama atau kegiatan lain yang harus diabadikan. Praktis memang sebab tak perlu satu-satu untuk mengirim gambar.

Dua hari yang lalu, malam minggu tepatnya, bapak-bapak dan para pemuda RW 04 mengadakan sahur bersama di pos kamling. Mereka makan di atas daun pisang besar dengan lauk lele goreng serta lalapan yang memang tidak lengkap, tapi apalah pentingnya jika kebersamaan menimbulkan keceriaan serta kenang-kenangan tak terlupakan.

Satu hari berselang grup mulai ramai dengan gambar-gambar kiriman dari beberapa warga, saling sahut mengulang kericuhan semalam hingga membuat mereka yang tidak bisa hadir sedih sebab melewatkannya, begitupun dengan ibu-ibu yang meski harus repot menyiapkan semuanya namun tidak ikut sahur bersama.

"Wah seru, mungkin ibu-ibu harus sahur bersama juga nih."

Celetukan satu kaum hawa di grup yang langsung mendapat penolakan dari bapak-bapak, tawa berderai, ahh, kaum adam sudah kelimpungan begitu hendak ditinggal istri atau ibunya, padahal masih dalam satu kawasan RW.

Tapi tenang, itu hanya wacana semata, tiada tega seorang ibu atau istri meninggalkan keluarganya. Mereka paham benar betapa rumah tangga membutuhkan kehadiran mereka.

Aku terkikik membaca semua komentar penolakan, sesekali terbahak.


Belenggu Gemerlap Rindu

Cahaya dari benda kecil dalam genggamanku berpendar, lalu berlahan membentuk tiga dimensi di hadapan. Segalanya tampak nyata, bisa di sentuh hanya seperti awan, tak terasa apa-apa.

Berbagai gambar menjelma sebagai sesuatu yang menyilaukan, jikalau mampu tak ingin mata ini berkedip, takut ada sesuatu yang akan terlewatkan.

Derap langkah terdengar mendekati pintu kamar, buru-buru aku masukkan benda ajaib ini. Sesaat kemudian wajah ibu muncul membuka pintu.

"Salat taraweh, Nak."

Aku mengangguk.

Kembali langkah kaki terdengar semakin pelan menjauhi kamar, kemudian menghilang. Aku masih penasaran dengan benda ini, maka segera aku mengeluarkan lagi dari persembunyian di bawah bantal.

Satu tombol memulai segalanya, satu persatu gambar bermunculan, tersebar ke seluruh ruangan, menjadikannya gemerlap. Satu kata, takjub. Aku hendak mendekat ke sebuah hutan lebat saat sayup suara adzan terdengar.

Masih adzan, sebentar lagi.

Hutan lebat itu semakin aku mendekat semakin tampat detailnya. Kanopi dedaunan tersibak, pohon-pohon setinggi gedung empat lantai mendominasi, sulur-sulur yang menjuntai hampir menjerat siapa yang tidak berhati-hati. Tak ada cahaya matahari yang mampu menembus menjadikan hutan ini terasa lembab.

Suara adzan berhenti, tunggu, sedikit lagi, aku masih penasaran.

Sepanjang mata memandang tidak kutemui hewan apa pun di sini, seekor nyamukpun tidak begitupun dengan semut, ulat atau hewan kecil lainnya. Semakin jauh aku melangkah , menginjak rumput-rumput hijau yang menjelma seolah permadani yang terhampar, aku mendengar gemericik air, pasti ada air terjun tak jauh dari sini.

Tok... tok.. tok...

Terkejut aku melemparkan benda ajaib itu, seketika semuanya menghilang, menjadi kamarku yang remang.

"Nggak taraweh?"

Cukup kali ini, aku mengambil mukena dan sajadah yang tersampir di kursi, mengekor ibu menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Pergi ke masjid terdekat sebelum tertinggal lebih banyak rekaat.

Shalat isya telah ditunaikan, khatib menuju mimbar untuk mulai berceramah. Pikiranku melayang ke rumah. Ingin rasanya untuk kabur dan kembali bertualang di hutan lebat penuh misteri tersebut.

Syaitan telah dibelenggu, itu satu dari sekian banyak keistimewaan di bulan ramadhan, Allah memudahkan hambanya untuk melakukan banyak kebaikan.

Suara khatib terdengar mengalun pelan, aku hampir tak mendengarnya, pikiranku dipenuhi oleh rasa penasaran yang tiada tertahan. Lenguhan kecil tak sengaja terlontar menyadari masih ada sebelas rekaat yang harus dilewati setelah ini.

Tapi...

Kalimat khatib mengambang, membuatku sedikit memasang fokus untuk mendengarnya.

Kenapa maksiat tidak hilang seratus persen?

Ahh, aku paham.. khatib memunculkan pertanyaan bukan untuk meminta jawaban, beliau sudah memilikinya, dan benar saja tak lama jawaban itu menutup kultum malam ini.

Allah hanya membelenggu syaitan dari kalangan jin, sungguh sebenarnya segala yang menghalangimu untuk beribadah kepada Allah, maka itulah juga termasuk syaitan.

Aku tersentak. Ini tamparan keras dan melukai hati. Seolah-olah khatib berbicara langsung di depan mukaku. Buyar sudah segala tentang hutan dan apa pun yang mampu di munculkan oleh benda ajaib itu.

Malam ini aku selamat, namun entah bagaimana dengan malam-malam selanjutnya, tak ada jaminan.


Bintang gemerlap
Ada hati yang rindu
Dalam belenggu


Pembagian 581 Lembar

"Sampai tanggal tujuh juni ya, Kak. Selamat membaca."

Begitulah saat pustakawati mempercayakan satu buku milik perpustakaan dibawa pulang oleh peminjam. Ada gelora semangat saat menggenggam buku pilihan, menuruni satu per satu anak tangga yang kadang terburu untuk segera berada di tempat ternyaman dan masuk dalam setiap petualangan baru.

Namun...

Terkadang yang terjadi justru sebaliknya, aura semangat membaca menguap seiring semakin jauhnya dari suasana damai perpustakaan.

Satu hari berlalu sia-sia, tersisa sembilan hari sebelum hari pengembalian. Harus ada target, tidak bisa tidak! Maka otakku berpikir sebisanya dan jatuhlah pada pilihan terbaik bahwa harus 65 halaman terlibas habis setiap harinya. Bisa? Bisa, begitulah setiap sebuah rencana terancang dan waktu-waktu yang berlalu akan menjadi saksi bahwa itu semua bukan sekadar wacana.

Pembukaan sebuah cerita selalu menjemukan namun jika bagian itu terlewat jelas aku akan kelimpungan mengenali setiap karakter pada tokoh. Yah, mau tidak mau. Hari pertama ini pemaksaan, namun berjalan lancar, target terpenuhi.

Hari selanjutnya ada sesuatu yang membuatku enggan beranjak, dihadapanku telah tersaji sebuah kisah yang mengobati kerinduan, menyesakkan setiap peristiwa hingga genangan air mengaburkan pandangan. Hari kedua halaman yang harus dibaca turun drastis menjadi 50 lembar per hari.

Begitupun hari ketiga, tanggal merah membuatku terpaku pada nilai-nilai luhur yang lama kucari, seolah menemukan oase di tengah padang gurun maka tak mungkin mudah untuk meninggalkannya. Halaman yang tersisa kembali merosot tajam, bahkan aku menolak terpejam demi memenuhi gersang hati akan siraman rohani.

Masih tersisa enam hari dan aku telah tersenyum, memeluk erat buku luar biasa ini. Ingin semua membacanya tanpa terkecuali. Secepatnya, buku ini akan kembali ke rak-rak kayu di perpustakaan, menanti tangan-tangan terpilih untuk membawanya pulang dan berdoa yang sama dengan yang aku panjatkan.



Tegas engkau bersikap
Menghukum sesuai syariat
Tiada terpejam saat mengingat
 Rakyat adalah tanggung jawab berat
Di mana kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat

Khalifah Umar bin Khaththab
Kepemimpinanmu memenuhi bumi dengan keadilan





Jendela Dunia

Kecil saja, ruangan ini berukuran empat meter persegi dengan banyak jendela menakjubkan yang tak sama satu sama lain kecuali satu, ukurannya, setengah meter persegi masing-masing.

Di sebelah kanan terdapat jendela kayu, aku melangkah untuk membukanya, maka segera sinar terang menyilaukan mata, memaksaku untuk menyipit agar mampu melihat apa yang berada di luar sana. Menakjubkan, tak ada hal semacam ini di dunia nyata setidaknya menurut logika manusia. Buru-buru aku menutupnya sebelum pusaran angin itu menggulungkan ke dalam sebuah petualangan tak terduga.

Setelah mataku normal aku kembali menapakkan langkah, kali ini berhenti masih di jendela kayu. Sama, cahaya terang membuat dahiku berkerut tapi kali ini sudah berjaga-jaga agar mataku tak terpapar langsung. Lebih lama aku di sini, tak perlu takut dengan sulur-sulur daun yang menjulur sebab terdapat teralis besi yang menahan mereka untuk menjamahku. Ini luar biasa.

Jendela berikutnya masih dengan teralis besi namun bukan terbuat dari kayu namun kaca, bahkan aku belum membukannya apa-apa yang berada di luar sudah terlihat jelas. Bunga-bunga yang bermekaran, kupu-kupu berterbangan memaksaku untuk membuka jendela, namun tanganku tak mampu menggapai, besi-besi yang melintang ini membatasi gerakanku. Aku termangu, untuk apa menikmati ini semua jika tak mampu menjamahnya?

Tak ada lagi semangat untuk meneruskan perjalanan, jendela-jendela yang tersisa mungkin saja akan berakhir sama hingga ada yang menarik, lelaki tua dengan jubah yang menyapu lantai tersenyum sembari tersedu di depan sebuah jendela kaca tanpa teralis.

"Maaf Pak Tua, bolehkan aku bergabung?"

Beliau tersenyum lalu akhirnya mengangguk.

"Apa yang sedang Pak Tua lakukan di sini?" aku membuka pembicaraan saat kami berdua tengah bersandar pada sisi jendela kaca tanpa teralis yang menghalangi. Semilir angin membelai lembut jenggot panjang putihnya.

"Aku telah menemukan jendelaku, Nak."

Tak ada suara, sengaja aku menahan diri untuk bertanya.

"Apa kau sudah mengelilingi semua jendela?"

Sebuah gelengan menjadi jawabanku.

"Dulu, masa mudaku telah habis untuk mengunjungi setiap jendela, menikmati setiap pemandangannya tanpa berpikir apa pun."

"Apa yang harus dipikirkan, Pak Tua?"

Mata teduhnya menatapku, mengkin mencoba menilai anak muda macam apa yang mengeluarkan pertanyaan semacam itu.

"Setiap kali kau mengunjungi jendela, nikmatilah... dan ketika meninggalkannya maka kau harus membawa sesuatu yang memenuhi ruang hatimu, menjadikanmu berbeda dari sebelumnya."

Tak ada suara, sedikitpun aku tak menangkap maksud Pak Tua.

Pak Tua terkekeh, menepuk pelan pundakku dan pergi, "Satu lagi anak muda..."

Suaranya menggema di ruangan kecil ini, "Perbedaan itu haruslah membuatmu lebih baik dari sebelumnya. Jika tidak, jangan pernah kembali ke jendela itu."

Ada penekanan saat kalimatnya berakhir, itu seperti sebuah perintah, namun tetap saja aku tak memahaminya. Sepeninggal Pak Tua aku memandang jauh ke luar jendela kaca tanpa teralis besi, tergoda untuk berlari di padang gurun, merasakan aura kota penakluk yang melegenda. Haru menyelinap saat kenangan tentang tentara islam yang hidup dan matinya tak jauh berbeda, membuat jumlah yang tak sebanding dengan lawan berhasil merebut Alexandria di bawah seorang perwira yang lihai tata bahasanya, tajam pedangnya, tinggi mimpi-mimpinya, panglima Amr bin Ash.




Derai airmata berjatuhan
Rindu ini tiada tertahan
Telah jelas sejarah mencatat
Sungguh islam sempurna, tiada cacat


Lintang

Aku memejamkan mata, pilihan untuk pulang akhir ternyata menjadi sebuah masalah. Biasanya sebelum jamaah laki-laki keluar aku sudah meninggalkan mushola -memang benar ini tidak sebesar masjid, menjadi pilihan beberapa orang yang ingin suasana sunyi dalam beribadah- namun kali ini mungkin doa yang aku panjatkan terlampau panjang hingga saat membuka mata rombongan kaum adam sibuk memilih sandalnya masing-masing. Terpaksa aku menunggu sepi.

Ayahku termasuk orang yang tak tergegas untuk meninggalkan masjid, maka tenang saja hatiku meski arah pulang melewati pemakaman desa. Bukan, bukan di situ masalah terbesarnya. Tapi dia.

Tubuh jangkungnya dibalut baju koko coklat tua, tangan kanannya mengenggam erat kitab suci yang juga bersampul coklat tua, tangan kirinya merangkul teman di sampingnya. Mau tidak mau aku mendengarkan sedikit percakapan mereka.

Demi mendengar suaranya hatiku bergetar tak menentu, sudah cukup hati melambung mendengar dia melantunkan ayat suci, mengimami kami shalat isya berjamaah dilanjut taraweh dan witir, kini, aku mendengar dia bercakap-cakap santai? Oh Tuhanku Yang Menggenggam Hati, aku bisa apa?

Perjalanan kami tak panjang, keluar dari mushola kami melewati pemakaman desa yang remang lalu dua ratus meter selanjutnya terdapat pertigaan yang memisahkan dia dengan teman-temannya. Kembali aku memejamkan mata, berpikir... berpikir...

Nah, benar, dia yang kini berjalan sendiri mulai mencari teman untuk tiga ratus meter melewati kebun tanpa penerangan.

Hatiku berdesir merekam jejak patah-patah kepalanya menengok ke belakang.

Seeettt...

Aman... aku berlindung di balik punggung ayah.

Belum aman, dia bergabung bersama rombongan ayah, pak rt dan satu tetangga lagi. Aku menahan napas yang memburu.

Tiga ratus meter berlalu, akhirnya dia mengambil jalan yang berbeda denganku. Memperlebar jarak dan membuatku mampu bernapas normal.

Sesuai nama yang orangtuamu beri sungguh hadirmu laksana bintang yang menerangi gelap malam dan aku satu dari sekian makhluk yang terkungkung dalam malam pekat, menikmati siraman cahaya yang tak henti berpijar dari sosokmu.

Hai kamu, jika esok kita bertemu maka jangan sakit hati jika aku menghilang dengan segera dari hadapmu, sungguh ada gemuruh yang tak perlu semua tahu.



Paket Umroh Murah

Rukun islam yang ke lima adalah naik haji (bagi yang mampu), namun sebagai umat islam tentu keinginan mengunjungi Baitullah adalah sesuatu y...