Bukan Seutuhnya Kamu

2 komentar

Tok... tok...

Kakiku terayun segera menuju daun pintu, ada rasa khawatir yang teramat ketika malam menyapa dan kamu belum sampai rumah. Deras hujan mengaburkan suara ketukan pintu namun telingaku memang sudah begitu menunggu mendengar apa pun yang berasal dari situ.

Basah kuyup, wajah berantakan, pakaian tak beraturan. Nelangsa hatiku menatap kamu yang justru tersenyum meneduhkan.

“Maaf ya Dek, tadi nganter Sari pulang dulu, kasihan hujan deras.”

Kilat menerangi malam gulita, petir menyambar kemudian. Aku mematung, inikah alasanku menanti?

“Maaf nggak ngabarin, kasihan tadi Sari ketakutan, pengen cepet pulang katanya.”

Dua kalimat yang bermakna sama, Sari dan Perhatian. Baiklah jelas sudah semuanya.

“Masuk... boleh nggak?”

Nada suaranya menggantung, mungkin mengerti perubahan raut wajahku dan bingung hendak bagaimana, sudah terlanjur semua terucap.

Aku mengangguk, menuju kamar untuk mengambil pakaian ganti. Tak lama bunyi kran yang mengalirkan air terdengar berisik dari dalam kamar mandi. Air langit masih menghujam bumi, menggigilkan hati yang terabaikan. Ragamu masih, selalu di sisiku namun ada kepingan lain yang tertinggal di suatu tempat hingga menjadikan bukan seutuhnya kamu.

Tempatku bukan disisimu, biar malam menelan ragaku, biar angin memeluk tubuhku, biar kilat menerangi jalanku, biar petir menjadi satu-satunya suara yang menentramkanku, dan kutitipkan jiwa yang tak mau beranjak darimu, terserah hendak kau apakan. 

 
Ciani Limaran
Haloo... selamat bertualang bersama memo-memo yang tersaji dari sudut pandang seorang muslimah.

Related Posts

2 komentar

Posting Komentar