Adik Iparku Berulah Bagian 2

Baca bagian sebelumnya.


"Bulik, dulu waktu kecil suka nonton kartun ga?"

"Dulu waktu Bulik masih kecil belum ada tivi, jadi mainnya ya di luar rumah."

"Aahhh, ya sudah."

"Loh, mau ke mana Kakak Alama?"

"Di suruh bunda beli garam di warung, padahal aku pengen nonton doraemon."

"Ya sudah, sini bulik yang beliin. Kamu masuk sana."

"Yeay, bulik emang juara."

Aku menatap semua dari balik kaca jendela, mendengus perlahan. Siap menyambut anak sulungku masuk kembali ke dalam rumah.

"Garemnya mana, Kak?"

"Mau dibeliin bulik, Bunda."

"Tadi bunda minta tolong ke siapa ya?"

"Bulik maksa bunda, kan tadi kakak udah jalan, bunda liat sendiri kan kakak keluar rumah?"

Aku menggeleng perlahan, sekarang anak sulungku sudah berbohong untuk menutupi perbuatannya.

"Kakak, tivi tidak boleh dinyalakan sampai siang."

"Loh Bund, kok gitu?"

"Bunda tahu kakak tidak bicara jujur."

"Bunda nyebelin."

Aku tak menghiraukan nada tingginya. Kemudian ia berlalu menuju adiknya yang masih sibuk dengan mainan, sedetik kemudian keributan terdengar.


**

Deretan nisan berjajar rapi seukuran balita. Aku menutup mulut menganga dengan telapak tangan. Bagaimana bisa ada seorang ibu yang dalam hidupnya kehilangan lima anak balita semasa hidupnya?

Suamiku menyentuh lembut satu persatu batu hitam yang menjadi tanda bahwa ada jasad seseorang di bawahnya. Jasad yang dulu pernah hidup, menceriakan dunia ibunya dengan canda tawa meski tak lebih dari satu tahun saja. Aku menjaga jarak, tak kuasa mendekatinya yang tengah khusyuk berdoa.

"Kau mengenal mereka?" tanyaku perlahan saat ia sudah merampungkan ritualnya.

"Hanya satu," jawabnya sembari menunjuk nisan yang berada tepat di samping kirinya.

Aku mengangguk.

"Aku masih berumur kurang dari tiga tahun, yah seumur Dek Syifa sekarang kira-kira saat Ibu menangis karena bayinya tak lagi bergerak."

Kembali aku membekap mulut. Lelehan air mata perlahan luruh.

"Hanya demam seperti biasa, semuanya cepat berlalu dan tiba-tiba satu pusara bertambah."

Aku sesunggukan, berarti kelima kalinya ibu mertuaku kehilangan anak di usia balita. Suamiku mendekat, memenangkan emosiku.

"Kita pulang, aku tak mau ibu melihat kau menangis."

Aku mengangguk.

Langkah-langkah kami menjauh dari pemakaman keluarga dengan belasan batu nisan di sana. Dadaku masih naik turun bahkan saat keluar dari area pemakaman keluarga, melewati lebih banyak lagi batu nisan dengan nama-nama yang asing di telinga juga gundukan-gundukan tanah yang ditumbuhi rumput liar, tak bernama, tak terawat.



Bersambung...

No comments:

Post a Comment

Yuk sampaikan dengan santun :D

Modal Nulis Dapat Barang Gratis

Hai, hai... gimana sensasi baca judul di atas? Hhii, percaya ga? Harus percaya dong. Nih aku kasih bukti nyata. Awalnya aku mau buka bisni...