Kepingan Rasa Puzzle 38

Puzzle sebelumnya di sini.

Aku masih bergelung di pangkuan ibu yang mengelus lembut kepalaku. Ayah datang dari luar dengan koran di tangan.

"Lihat tuh Bu, udah mau jadi mahasiswa masih manja aja."

Kini punggungku sudah tegak, bersandar pada sofa di ruang tamu, menampakkan wajah tak setuju dengan ayah, "Memang apa salahnya, Yah? Aku kan tetap anak ibu sampai kapanpun."

Ibu tersenyum, "Ayahmu hanya bercanda, Nak."

Ayah terkikik perlahan, "Anak ayah, gampang banget ngambeknya."

"Ibu, Ayah jail banget sih."

Kembali terdengar suara ayah tertawa, ibu hanya geleng-geleng tanpa membela satu diantara kami.

"Ayah, Ibu.. Aku mau bicara serius."

Ayah meletakkan koran yang baru dibukanya demi mendengar anaknya berkata, "Soal apa, Sayang?"

"Masa depan."

"Bu, sepertinya anak kita mewarisi darah guru ayahnya. Lihat saja Gilang dan Romeo berhasil lulus berkat anak kita loh, hebat sekali."

Ibu menggeleng perlahan, "Dengarkan dulu dong, Yah."

Aku menarik napas dalam-dalam, entah terlalu gugup sebab tidak sesuai prasangka ayah.

"Bukan guru Yah, aku mau masuk sastra inggris di Solo."

Keduanya terdiam, ada hal yang lebih mengejutkan lebih dari pilihan jurusan.

"Kenapa harus kembali ke Solo?" hati-hati Ibu menanyakan ini, aku tahu Ayah tak akan mampu untuk begitu saja terima. Percakapan ini selesai, restu mereka tertahan.

Ayah menghampiriku, duduk di sisiku, tubuhku bergetar hebat, sebelum beliau mengucap apa pun aku lebih dulu memeluknya, menumpahkan apa yang tidak bisa diungkapkan, Ibu kembali mengelus lembut kepalaku.

***

Waktu berlalu dengan cepat, restu ayah dan ibu membuatku mudah melewati tes masuk perguruan tinggi negeri dan kabar baiknya aku mendapatkan apa yang begitu aku inginkan. Solo, kota berseri dengan segala kenangan yang tersimpan rapi, tunggu... aku segera kembali.

Kegembiraanku meluap ketika ayah dan ibu memelukku memberikan ucapan selamat, lalu telpon berdering. Gilang...

Riang aku membuka percakapan, berita bahagiaku sampai lebih dulu namun tak lama kemudian merutuki diri sendiri. Gilang gagal. Terlalu egois hingga tak menghiraukan nasib teman di seberang. Hening. Perlahan aku kembali bersuara, mencoba menebus kesalahan.

"Gilang, kita bisa belajar bareng lagi."

"Sungguh?"

Terdengar tak ada semangat, aku tahu berat menerima sebuah kegagalan mungkin aku juga akan seperti itu jika diposisinya.

"Sungguh, kau akan berhasil."

"Begitu menurutmu?"

Lihat, Gilang hanya membalas satu dua kata saja, mudah menyimpulkan ia sedang terpuruk.

"Datang ya besok ke rumahku ada cuangki pedas loh."

"Cili, kau tahu sekali cara merayuku. Terima kasih ya."

Aku mengangguk, tak peduli jika Gilang tak mampu melihatnya. Kami menyudahi percakapan, namun dalam hati ada hal yang aku semogakan.


Sssttt... Ini Rahasia

Baiklah, sudah baca judul di atas? Maka kita sepakat yah kalau tulisan ini nantinya bersifat rahasia.

Berarti nggak boleh dikasih tahu orang lain, Ci?

Siapa yang bilang?


Nah itu katanya rahasia???

Sebelumnya nggak usah pake tanda tanya lebih dari satu yah, nanti kena semprit editor. Oke begini, pernah dengar rahasia umum?


Yang katanya rahasia tapi banyak orang tahu?

Yaappp, begitu saja yah kita kategorikan tulisan ini.


Baik, kita sudahi tanya jawab saatnya masuk ke inti pembicaraan. Begini, kemarin aku baru saja merasakan sesuatu yang sepertinya tak ada makhluk lain yang merasakannya, terpuruk, lelah, hampir menyerah. Beruntung Tuhan sayaaaaang banget. Sebelum aku menumpahkan segala kekesalan Dia kirimkan bukti bahwa ada orang di luar sana yang mendapatkan ujian lebih.

Kemudian rasa malu menelusup, masak baru gini aja ngeluh?

Maka senyum hadir lagi dan cerita ini selesai.

Hah... gitu doang?

Iyalah, mau apa lagi?

Inti ceritanya apa?

Itulah rahasianya. Bahwa sebenarnya aku sedang meyakinkan bahwa diri ini terlalu lemah menyikapi ujian yang datang. Jangan bilang siapa-siapa ya, maluuu...

 

Hilang

Berat kaki melangkah, bingung, linglung entah ke mana tujuan aku keluar rumah pagi ini.

Bangun tidur tadi, saat membuka mata istriku hilang entah kemana, anak-anakku pun tak terdengar suaranya. Pembantuku, sopirku, tukang kebunku, semua yang biasa meramaikan rumah seolah sepakat untuk menjadikannya sunyi. Bukan itu saja, mobil sport keluaran terbaru yang baru saja aku beli tidak ada di garasi, sepeda motor yang biasa berjajar kini entah dimana.
Gerbang rumah setinggi dua meter pelan aku buka, cukup berat ternyata, maklum saja selama ini aku hanya membunyikan klakson dari dalam mobil dan mereka, orang-orang yang aku bayar akan bergegas membukakannya.

Berat kaki melangkah, bingung, linglung entah ke mana tujuan aku keluar rumah pagi ini.

Taksi yang biasa terparkir di sepanjang jalan perumahan ini tidak tampak, begitupun tukang ojek yang biasa mangkal di samping portal. Mustahil menyewa transportasi online sebab gawaiku juga raib.

Di bawah pohon yang entah apa namanya, lagian perduli tentang nama pohon, aku bersandar, matahari terik membakar kulitku. Hem lengan panjang beserta jas juga dasi yang biasa aku kenakan juga lenyap tak bersisa, lemari tempat baju-baju dengan merk kenamaan yang tergantung wangi itu hanya berisi udara. Baru aku akan melirik pergelangan tangan dimana biasa terlingkar jam buatan Swiss yang terkenal akan akurasi dan keahlian untuk komplikasinya, Pathek Phillipe, mencocokkan waktu dengan panas menyengat ini, nihil, barang pemberian dari rekan kerja tersebut juga tidak ada di situ.

Berdiam diri terlalu lama membuatku gila, maka aku beranjak.

Berat kaki melangkah, bingung, linglung entah ke mana tujuan aku keluar rumah pagi ini.

Aku tiba di trotoar, memandang jijik kepada para tangan tengadah yang memenuhi area pejalan kaki tersebut, membuat pemandangan kota menjadi kumuh tak lagi mewah. Tak jauh dari situ pemulung dengan karung besar dan tusuk besi sepanjang satu meter tengah mengaduk-aduk tempat sampah, mengeluarkan semua isinya dan tak bertanggung jawab untuk memasukkannya kembali, dasar orang tak tahu adat.

Lampu merah menyala namun satu dua tiga bahkan sepuluh kendaraan masih melaju, beradu cepat dengan kendaraan dari sisi yang berlawanan, dasar manusia perebut hak orang, kalau begini bagaimana bisa aku menyebrang? Maka aku menunggu lagi. Di sela-sela waktu itu aku melihat seorang ibu menggendong anaknya yang terlelap berusia sekitar dua tahun, berjalan dari mobil satu ke mobil lainnya membawa botol bekas air mineral yang berisi kerikil lalu menengadahkan tangan setelah menggumamkan nyanyian tak jelas.

Aku mengutuk orang-orang dalam mobil yang mengangsurkan uang, mereka terlalu buta untuk melihat makanan cepat saji dan kaleng-kaleng susu yang berserak di mana ibu tersebut beristirahat saat lampu hijau menyala.

Aku berhasil menyebrang jalan, kali ini aku melihat petugas kebersihan menyapu daun-daun yang berguguran padahal angin akan menerbangkannya kembali ke segala arah, ahh dasar payah.

Taman kota yang berada di pinggir jalan utama itu penuh dengan sepasang manusia di setiap bangkunya, entah apa yang mereka lakukan dengan tubuh menempel tak ada jarak walau sesenti itu. Kuurungkan niat untuk beristirahat di sana.

Langit tiba-tiba berubah kelabu, angin bertiup semakin kencang, semua berlarian menuju tempat yang dirasa aman, aku? Aku terus berjalan, tak perduli hujan akan turun.

Berat kaki melangkah, bingung, linglung entah ke mana tujuan aku keluar rumah pagi ini.

Gedung pencakar langit menjulang di depanku, leherku sakit demi ingin melihat tiga angka yang berada di bagian teratas gedung, aku mulai ingat, ini tempat terakhir yang aku kunjungi sebelum semuanya menghilang.

Satu persatu ingatan kembali, keringat dingin bercucuran, tubuhku berat tak mau melangkah, semua yang kucari telah kutemukan, kenyataan terhidang di depan mata tentang sesuatu yang melenyapkan segalanya.

Kemarin aku tampil di setiap media massa, televisi, menjadi headline news di setiap berita, wajahku terpampang besar-besar, dengan tulisan yang tak kalah besar, Terduga Kasus Korupsi.

Kini, aku tak perlu bingung mencari kemana, media... ya media... pelakunya. Aku kehilangan segala karena media.


Mengeja Nama

Aku buru-buru mengambil napas jika tidak mau mati konyol, iya mati karena oksigen tidak terkumpul cukup dalam paru-paru dan berhenti mengalir keseluruh tubuh. Harum tubuhnya memenuhi rongga dada, entah sudah berapa lama aroma itu terlupa dan kini kenangan yang lalu melesak masuk menarik segala ingatan dari kejadian yang pernah tercipta.

Jarak kami kurang dari dua puluh sentimeter, dia berdiri tegak tepat di depanku. Sedangkan aku baru saja bangkit setelah selesai merapikan tali sepatu dan terbelalak atas makhluk rupawan yang tiba-tiba hadir. Waktu berhenti sesaat seiring melemahnya fokusku hendak berbuat apa.

Cermin persegi panjang setengah badan yang tertempel di tembok memantulkan semua rona yang terlihat jelas di wajahku. Memberanikan diri dengan konsekuensi yang ada, tidak diingat atau bahkan dilupakan. Tapi penyesalan mungkin akan hadir berminggu-minggu jika ini berlalu begitu saja. Tuhan, tolong.

Apa yang harus aku lakukan? Menanyakan kesan perjalanannya melintasi samudera hingga benua eropa? Oh tidak, itu pasti kalimat yang sangat panjang. Basa-basi tentang suasana hatinya? Jangan, terlalu buruk jika akhirnya dia tidak mengenaliku.

Sekarang dia membungkuk, meletakkan sandal berwarna coklat ke dalam rak sepatu di samping cermin persegi. Panjang rambutnya masih sama seperti tahun lalu, pasti dia rajin pergi untuk memangkas rambutnya jika dirasa sudah cukup panjang. Aku masih berdiri tegak, menghindari kontak dengan cermin yang pasti akan mencibir atas sikap ragu-raguku.

Ini saat yang tepat, sebelum dia kembali tegak dan berlalu menaiki tangga masuk ke dalam perpustakaan.

"Mas... Rifki..."

Kentara sekali aku pun ragu menyapanya, sudah terlanjur apa pun yang terjadi ini lebih baik daripada berdiam diri.

Waktu berdetik lambat, pasti cermin persegi panjang sekarang sudah menangkap ekspresi berharapku yang teramat, membuatku malu.

Dia berdiri tegak, memutar badan dan kami berhadapan.

Deg...

"Loh, nggak ikut acara di atas?"


Aku menggeleng, masih terlalu shock mengetahui dia mengingatku sebagai teman satu komunitas.

"Kenapa?"

Aku kembali lupa bernapas mendengar suaranya yang juga tidak berubah, kacamatanya yang mirip denganku membuatnya semakin manis. Tiba-tiba saja kakiku melangkah menuruni satu anak tangga bersamaan dengan dia yang menaiki tangga, jarak kami melebar.

"Enggak, nggak lihat muka aku kumel gini?"

Tanpa di duga nada suaraku sudah kembali tenang, kami seolah mundur dimana pernah tercipta kedekatan yang menyenangkan itu.

"Mana, enggak keliatan."

Aku memejamkan mata saat dari tangga atas dia merendahkan tubuhnya dan menatap wajahku. Ya Tuhan...

"Salam buat temen-temen..."

Aku segera menuruni tangga, tak perduli lagi dengan jawabannya. Cukup, itu saja cukup membuatku tersenyum sepanjang perjalanan pulang.



Dia Kembali

Jika kemarin aku disengat lebah maka siang ini aku kembali disengat, rasa yang ditimbulkan melebihi dari yang sudah. Sensasi ini membangkitkan semangat namun bersamaan dengan itu ada rasa yang tidak seharusnya hadir.

Dia kembali, seseorang yang pernah hadir muncul lagi.

Tolong simpan pertanyaan apakah aku merindukannya sebab kalian tak akan kuberi tahu, secuil pun, kenapa? kembali pada realita bahwa kini ada hati yang harus aku jaga.

Saatnya menyiapkan benteng pertahanan yang lebih kokoh lagi, aku tidak mau terlalu percaya diri toh belum tentu dia hadir untuk mengabarkan bahwa sakit hati itu telah hilang, kan? Baiklah... aku mulai gugup. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan jika dalam hening malam suaranya membelai lembut dari seberang? Oh baiklah, aku panik.

Tunggu, mungkin terlalu berlebihan. Biarkan saja dia menampakkan diri, memberitahu dunia akan hadirnya, mengapa aku harus bersikap seperti ini? Ya Tuhan, aku mulai tidak mampu untuk berpikir.

Seiring detik waktu bahkan aku menunggu sesuatu yang akan ia lakukan lebih tapi oh tidak bagaimana jika itu terjadi?

Sikapnya yang melambungkan jujur saja sangat aku nikmati, namun ada sesuatu yang tidak boleh dilanggar di sini, oh haruskah kembali aku hempaskan dirinya?

Sebentar, apa yang terjadi? berharapkah aku pada kehadiran dirinya?

Arrrrgggghhhhhh.... Baik, aku menyerah. 


Gegara Lebah

Tidak sekalipun aku meminta untuk disengat lebah, serius, kalian sudah pernah di sengat lebah belum? bagaimana rasanya? yaahhh, baiklah, cukup sekali bagi yang sudah merasakannya bagi yang belum aku tidak akan memaksa jika kalian penasaran.

Menjelang siang akhirnya aku beranjak dari tempat duduk untuk menggerakkan otot, tak lama kembali lagi dan... tengggg..... merinding bulu kudukku kemudian seekor lebah menjauh dari tubuhku. Sejak kapan ada lebah di ruang kerjaku?

Teman satu meja menyadari perubahan ekspresi wajahku yang meringis tanpa bersuara.

"Eh, disengat lebah?"

Aku mengangguk sembari mengusap bagian yang menjadi sasaran empuk di suntik mahkluk terbang tersebut.

"Jangan digaruk, sana dilihat dulu."

Tidak gatal, tidak mungkin aku garuk tapi sensasi aneh segera menyebar ke seluruh bagian badan, tubuhku sepertinya bereaksi untuk benda asing yang baru saja memaksa masuk.

"Aku carikan bunga ya?"

Nihil, wilayah kerja kami tidak mungkin akan ditemukan bunga. Maka sebagai langkah awal bagian tersebut aku lumuri minyak kayu putih, lumayan, meski rasa senggring-senggring itu hingga ke ubun-ubun.

Semua berubah, temanku menjadi baik luar biasa, makan siangku disiapkan, bahkan sedotan dan hal-hal kecil laiinya dia yang mengambilkan. Padahal aku masih bisa untuk sekadar berjalan.

Ada yang terlupa, bahwa jika manusia saja mampu berubah baik dan perhatian saat aku terpuruk bagaimana dengan penciptaku? Ada ampunan juga pahala yang telah disiapkan setiap ujian yang datang menerpa. Indah bukan?

Jadi, silahkan kategorikan ini musibah atau berkah?


27 kilometer

Air mineral, buku catatan, pena biru, spidol orange, tissue, kaca, novel... sipp, semua hal yang aku butuhkan di tempat kerja telah tersusun rapi di dalam ransel. Eh tunggu, ponsel, mana ya, jangan lupa charger, mereka adalah penyedap kehidupan sebab tanpanya waktu berjalan hambar, hhee.

Segera aku mencabut ponsel yang masih terhubung dengan stop kontak di sudut kamar bersamaan itu muncul satu nama memenuhi layar, panggilan masuk.

“Assalamu'alaikum.”

“Walaikumussalam... De, udah berangkat kerja?”



“Belum, kenapa?”


“Mampir rumahku ya, ambilin flashdisk buat bahan presentasi hari ini, hhee.”

Aku menepuk dahi pelan, oh Tuhan, makhluk-Mu satu itu tidak hanya sukses membuat jantungku berdegub tak teratur setiap melihat senyumnya namun juga menggelengkan kepala tak habis pikir dengan sifat cerobohnya yang teramat.

“De...”

“Iya denger.”

“Jangan ngebut yah, hati-hati.”

“Oke, tungguin sambil berdoa mamah ada di rumah dan mau bukain pintu buat aku.”

“Deeeee.....”

Aku terkikik mendengar melas suaranya.

Dua puluh tujuh kilometer, jarak rumahku dengan kampusnya. Aku melirik sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangan, terlambat itu pasti, baiklah saatnya mengeluarkan jurus ijin telat kepada pak bos mendadak, hhaa.

Untung saja rumahnya satu arah menuju kampus sehingga tidak banyak waktu terbuang. Mamahnya sedang memarut kelapa saat aku datang, senyum lebarnya menentramkan, pantas saja dia gendut, mamahnya baik gitu, hhii pagi-pagi udah masak.

“Loh, pagi-pagi udah mampir?”

“Iya Tante, mau ngambil barang yang ketinggalan.”

“Waduh, Tante tidak tahu yang mana, pasti barangmu dipinjam lama dan nggak dikembalikan yah? Dasar anak itu, nanti biar Tante yang marahin.”

Aku tertawa tertahan dan mengangguk untuk menutupinya, hhaa... biar saja dia dimarahi, sekali-sekali.

Akhirnya flashdisk itu berada di tanganku, dengan kecepatan di atas rata-rata aku membelah jalanan kota, kendaraan lalu lalang mendahului dari sisi kanan namun lebih banyak aku yang meninggalkan puluhan kendaraan yang melaju di bawah kecepatanku.

Sampai.

Wajah lega itu menyambutku di tempat parkir, aku baru berencana untuk menjahilinya namun kuurungkan, kasihan, pasti dia setengah mati menunggu hadirku.

“Ngebut yah?” tanyanya melirik jam tangan.

Aku menggeleng.

“Bohong, buktinya cepat banget sampe sininya.”

“Kalau udah tahu kenyataannya kenapa pake tanya?”

“Memastikan.”

“Nih,” Aku mengangsurkan flashdisk yang segera disambutnya dengan suka cita.

“Ahh, kamu De, emang yang terbaik.”

“Upah?” ujarku menjulurkan telapak tangan.

“Upahnya nanti yah, aku penuhi satu keinginanmu.”

“Keinginanku banyak, yang mana?”

“Ada lah.. tunggu aku mewujudkannya dan kamu hanya bisa tersenyum tanpa berkata-kata.”

“Dih gombal, buru masuk sana.”

Dia pamit, aku tak melepaskan pandangan sedetikpun hingga punggung itu menghilang masuk ke dalam ruangan. Entah apa yang dia maksud dengan mewujudkan keinginanku tapi di tempat ini aku memiliki sendiri keinginanku tentangnya. Di dua puluh tujuh kilometer dari rumah, aku ingin melihatnya segera menuntaskan kuliah, memandang sendiri senyum itu dalam balutan toga lalu memberinya sesuatu yang mungkin akan tenggelam dari banyak barang pemberian orang-orang tersayang disekelilingnya.

Kamu... semangat yah.

Yang Pernah Hadir

Dia mendekatiku yang tengah asyik menatapi layar laptop.

"Masak nasi goreng enak nih."

Ahh, paham aku. Kalimat itu bukan sekadar ungkapan namun lebih kepada perintah.

"Pake bumbu cepat saji saja beli di warung, enak kok."

Aku tersenyum, tahu benar aku tak pandai meracik bumbu sendiri.

"Mas yang beli di warung ya?"

Dia mengangguk mantap, beberapa menit kemudian kembali dan mengatakan bahwa semua warung dekat rumah tutup. Yah, terpaksa deh coba-coba.

"Kepalaku pusing."

"Kenapa, Mas?"

"Hhee, dari pagi belum makan."

Aku kembali tersenyum, rasa sayangku yang berlebihan membuatku melakukan apa pun untuk mengeyangkan perut kosongnya.

 "Cicipin, Mas."

"Kurang kecap."

Maka aku menambahkan sedikit kecap, mencampurnya lagi dan memintanya mencicipi ulang. Dua jempol dia hadirkan sebagai titah untuk mematikan kompor. Nasi goreng terhidang dua porsi, untukku dan untukknya.

Jangan tanya bagaimana rasanya, yang terpenting dia lahap menghabiskan bagiannya.

"Mbak Ani masakannya enak, jadi chef saja."

Aku tersenyum, anak lelaki berusia delapan tahun itu selalu memiliki ruang tersendiri semenjak dia dan adiknya dulu diasuh mama, meski sudah dua tahun ini tidak lagi.

"Udah ya Mbak aku pulang, nanti dicari ibu."

Hhiii... udah kenyang aja pulang, dasar.

Pilihan Terbaik

Aku melihatnya jelas, dengan mata kepalaku sendiri, di depanku. Ada yang membedakan aku dengannya, begitu kentara, bahkan semua melihatnya nyata. Kini, kelapangan dada bukan sekadar nasihat tapi sebuah keharusan.

Pantas jika pilihan pemuda tampan itu jatuh kepadanya, pantas saja. Semua setuju mereka serasi. Aku yang dulu menentang di baris depan kini luluh melihat gadis yang siap dipinangnya. Gadis itu tak hanya elok, namun ada suatu keindahan tersembunyi yang aku ingin mencapai garis itu, garis yang membuat jurang perbedaan hingga pemuda itu tak memperdulikan keberadaanku.

Kini, aku ikhlas menyimpan segala rasa yang membuncah. Menjahit luka-luka mengangga, menunggunya kering dan bersiap membuka hati untuk seseorang yang lain.

"Bagaimana?" tanyamu melalui pesan singkat saat kita masih di masjid kampus.

"Cantik."

"Hey, ayolah, dia bukan sekadar cantik kan?"

Aku mengiyakan, dalam hati. Sungguh berat bibir ini mengakui ada wanita yang lebih pantas berada di sampingmu selain aku.

"Temui aku langsung, bukan dengan pesan singkat seperti ini!"

Tak lama, pemuda pujaan hatiku itu berdiri di sampingku. Tersenyum manis sekali.

"Ya, ya, ya?"

Aku menarik nafas, "Upahnya?"

"Kukenalkan pasa Syamil, setuju?"

Aku menggeleng, aku tidak mau Syamil.

"Lalu kau mau apa?"

Aku mau kamu.

"Hey, jawab dong. Aku tidak bisa baca pikiran nih."

Senyum itu terpaksa aku hadirkan.

"Yes, punya keponakan baiknyaaaa."

Biar aku saja yang menyimpan rasa ini, susah merealisasikan mengingat kedekatan hubungan keluarga diantara kami.

"Jadi kapan mau bantu ngomong sama mama?"

"Maunya kapan?"

"Sekarang, yuk?"

Mataku melotot, sebesar itukah niatmu pada gadis manis itu?

"Hey, niat baik harus disegerakan, bukan?"

Aku mengangguk.

Gadis itu bukan hanya cantik, pandangannya yang teduh juga mulutnya yang indah melantukan ayat-ayat tanpa membuka lembaran kitab suci. Saat aku masih terbata ia sudah di luar kepala. Hai Nona, terima niat baik kakakku yah, jaga dia, tentang aku, semoga keikhlasan dihadirkan untuk menerima takdir kehidupan.


Penyakit Aneh

Beberapa hari ini badanku terasa lemas, bukan... bukan karena flu yang tak kunjung reda namun ada lagi penyakit yang mengerogoti. Penyakit yang aku malu mengakuinya di depan mama hingga aku harus berjuang sendiri untuk menyembuhkannya.

Penyakit ini aneh, tidak seperti flu yang jelas gejalanya. Tidak ada pusing kepala, batuk yang menyiksa atau hidung tersumbat. Maka perlahan aku mencoba menganalisa, tidak boleh salah sebab ini akan menjadi rujukan untuk membeli obat, bukan?

Badanku tak enak rasanya, pengen tidur terus malah membuat semakin lemas. Makan juga tak banyak, waktu terbuang di atas tempat tidur. Tumpukan buku yang meminta untuk dibuka juga terabaikan, padahal aku mengambil jatah libur tanpa batas untuk mengobati peyakit ini.

Mama menawarkan jeruk nipis, aku berpura-pura batuk untuk memalsukan penyakit ini, aku malu, malu jika mama tahu anaknya mengidap penyakit aneh yang obatnya belum ditemukan. Demi melihat beliau tenang maka aku mengangguk dan merasakan asam luar biasa saat cairan jeruk nipis itu melenggang masuk.

Anehnya, banyak waktu luang yang hanya aku gunakan untuk melamun, jangan tanya melamun apa sebab tak jelas juga.

Disaat mama fokus pada batukku, Bapak seperti mencium ketidakberesan pada anak gadisnya. Jelas bukan menanyai langsung sebab kebohongan yang mungkin akan beliau terima. Pagi itu, pukul tujuh pagi Bapak mengajakku keluar, mengantarkan sesuatu kepada tetangga di desa sebelah. Selama perjalanan kami diam saja, tak ada pembicaraan pun tak ada yang mau memulai.

Sinar matahari perlahan menyipitkan pandangan, aktifitas desa bergerak seirama dengan kokok ayam. Mataku terbuka lebar akan banyak kegiatan yang dapat dilakukan di luar rumah, tidak berbentur tembok atau bantal guling saja.

Aku pulang dengan riang, penyakit anehku sudah sembuh namun batukku masih menjadi perhatian mama.

Malas adalah penyakit dimana si terjangkit akan merasa bosan dan enggan melakukan apa-apa, udara luar juga pemandangan sekitar mungkin mampu merobek rutinitas monoton pemicu penyakit itu muncul. Penyakit ini aneh, menjangkiti siapa saja, dan sering datang sesuka hati bahkan sulit pergi. Hati-hati.


Kepingan Rasa Puzzle 36

Puzzle sebelumnya di sini.

Mataku masih menunduk, menekuri setiap inci keramik di dalam kelas. Romeo berharap cemas, menanti aku mengangguk atau mengucapkan kata yang berarti sama tentang persetujuan. Di bawah meja, kedua tanganku saling meremas, mengunci dan susah untuk diurai kembali.

"Jadi gimana, Sayang?"

Suara ayah menggema di setiap sudut ruangan. Romeo tak juga mengalihkan tatapannya, aku dapat merasakan itu meski tidak mendongak untuk memastikannya.

"Cili, maafin Gilang yah..."

Romeo, ahli bertukar topeng, ia pandai menjadi apa saja terlebih untuk sahabat karibnya itu, tapi aku tahu ia tulus.

"Kan kamunya denger sendiri gimana Ibu Gilang cerita..."

Kedua tanganku berhasil terlepas, kini kuku ibu jari kanan menjadi sasaran dari rasa bimbangku, menggigit kuku tidak dianjurkan oleh ahli kesehatan manapun namun jika ditilik dari pakar psikologi itu cukup menjadi pertanda akan kecemasan dan rasa bingung yang mendera.

"Oke gini, aku antar jemput kamu deh buat ke rumah sakit, aku traktir setiap makan siang, terus kamu boleh juga bales apa pun sakit hati ke Gilang. Mau yah?"

"Bapak juga di traktir makan siang ya Romeo?"

"Eh, anu pak yang bagian itu bohongan soalnya saya aja masih punya utang di kantin."

Ayah menggeleng mengetahui kelakuan salah satu anak didiknya.

"Ayah tahu kamu cemas melihat Gilang tertimpa musibah kemarin, ini cara untuk membantunya, atau Ayah saja yang mengajarinya?"

"Tidak perlu repot-repot Pak."

Penolakan itu jelas keluar dari mulut Romeo, lagian siapa yang mau diberikan pelajaran tambahan oleh guru matematika yang menakutkan itu, ups, aku lupa beliau ayahku sendiri.

Akhirnya aku setuju, dengan catatan Romeo juga harus ada di sana.

Romeo mengangguk.

**

"Hai Cili... kita belajar apa hari ini?"

"Matematika," ucapku singkat atas pertanyaan Gilang.

"Duh, kepalaku tiba-tiba pusing nih."

"Nggak usah alasan."

Gilang bersungut.

"Cili..."

"Apa lagi?"

"Kan aku nggak punya buku."

Kali ini senyum lebar Gilang hadirkan seolah berhasil membuatku menunda memberikan pelajaran tambahan. Romeo terkikik. Demi melihat aku menatap tajam Romeo, ia segera membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan buku tulis serta pena. Gilang mengeluh pelan.

"Bisa kita mulai?"

"Tunggu Cili... Romeo suruh pulang aja deh, gangguin."

Romeo dengan senang hati berdiri, kembali aku melayangkan tatapan mengancam yang membuatnya duduk dengan terpaksa.

"Aku harus ikut Lang, soalnya nilai matematika aku cuma dua."

"Hah? parah kamu, ngapain aja di sekolah?"

"Makan di kantin sama kamu."

"Oh iya yak."

Tawa menggema di ruang rumah sakit. Aku berdehem menghentikan obrolan nostalgia mereka. Sepertinya ini tidak akan mudah.


Tiga Kali Panggilan

Hujan sudah berhenti, namun langit malam tetap saja kelam tanpa bintang. Aku berjalan perlahan.

"Mbak..."

Dari suaranya jelas terdengar bahwa seseorang yang menyapaku adalah lelaki, kutahan diri untuk tak menanggapi. Jalanan sepi, satu dua kendaraan lalu lalang namun setelah itu kembali lengang.

"Mbak..."

Kedua kali kembali ia memanggil, Ya Rabb... peluh menetes, memang benar kata nenek bahwa tidak baik seorang perempuan keluar hingga malam tanpa ditemani oleh siapa pun. Ini satu contoh nyata, jika sudah begini bisa apa? Mulutku membuka menutup seperti ikan, menggumamkan doa-doa meminta perlindungan.

pim.. pim..

Merasa aku tak menjawab seruannya kini ia membunyikan klaksonnya. Otakku bekerja cepat, jika ia berniat jahat pastilah sudah sejak tadi ia melakukannya tidak menunggu apakah aku akan menjawab panggilannya atau tidak.

"Mbak..."

Ini yang ketiga, kumantapkan hati untuk menengok dan memberikan senyum tanda perdamaian.

"Kenapa, Mbak?"

"Bannya bocor, Mas?"

"Ooo, itu Mbak, gang depan belok kiri masuk sedikit ada tambal ban."

Aku menghela nafas lega, pertolongan akhirnya datang.


The Black Cat

Gerbong kereta listrik jurusan jakarta kota tiba-tiba lengang. Aku mendongakkan kepala, menengok kanan kiri, kosong. Semua penumpang mendadak turun di stasiun duri, satu stasiun sebelumnya dari stasiun aku berada kini.

Dua orang petugas mengepel lantai kereta, satu menyemprotkan cairan beraroma wangi kemudian diikuti satu orang lagi yang meratakannya ke seluruh bagian. Hatiku masih tenang, tapi...

Dua jam sebelumnya aku memasuki stasiun depok, menunggu kereta listrik di jalur 1 dengan sedikit melamun, kira-kira buku apa yang cocok menemani satu setengah jam perjalanan di dalam kereta? Belum ketemu saat suara dalam stasiun menggema, mengumumkan bahwa kereta akan memasuki jalur 1, aku bersiap bersama beberapa penumpang lainnya.

Gerbong kereta sudah terisi, beruntung aku masih mendapatkan tempat duduk. Keputusan untuk memilih buku sebagai teman perjalanan belum juga menemukan judul, kepalaku mengamati gerbong kereta yang bergetar melewati lintasan, bergoyang kesana dan kemari, dapat!

Sebentar lagi kereta anda akan berhenti di stasiun duri...

Perhatianku tidak beralih, misteri kastil megah beraura suram enggan untuk ditinggalkan.

Gerbong kereta listrik jurusan jakarta kota tiba-tiba lengang. Aku mendongakkan kepala, menengok kanan kiri, kosong. Semua penumpang mendadak turun di stasiun duri.

Buku bersampul hitam dengan gambar kucing bermata satu itu seolah menelan ketenanganku, aku abai saat Stephen King mengingatkan bahwa aku sedang memegang buku karya perintis kisah misteri atau suspense, dimana karya-karya beliau menginspirasi para penulis cerita misteri terkenal seperti Agatha Christie hingga Sir Arthur Conan Doyle.

Buru-buru aku menutupnya, memasukkan jauh ke dasar tas dan berpikir. Mandeg. Bukankah tujuan akhir masih setengah perjalanan lagi? kenapa sudah tak ada penumpang yang tersisa?

Gawaiku berdering, aku terlonjak, berlebihan memang, tapi situasi ini membuatku harus waspada pada setiap gerakan. 

Kereta kembali berjalan, semoga di stasiun berikutnya banyak penumpang yang akan naik. Buku itu tidak aku buka, mungkin pengaruhnya akan lebih mengerikan mengingat tidak ada satupun makhluk hidup sepanjang mata memandang.

Kereta berhenti di stasiun Angke, pintu terbuka, aku menunggu. Dua menit, tak ada satupun penumpang yang naik. Kereta tidak bergerak, aneh. 

Gawaiku kembali bergetar, ahh ya aku lupa belum mengangkatnya sedari tadi.

Satu nama terpampang di layar, membuatku menghela napas lega.

"Ha..loo..."

"Dimana, lama amat?"

"Di Stasiun Angke."

"Loh kok? turun, kamu salah kereta."

Di luar gerbong, seekor kucing kampung hitam berjalan santai.


Modal Nulis Dapat Barang Gratis

Hai, hai... gimana sensasi baca judul di atas? Hhii, percaya ga? Harus percaya dong. Nih aku kasih bukti nyata. Awalnya aku mau buka bisni...