Kepingan Rasa Puzzle 38

Puzzle sebelumnya di sini.

Aku masih bergelung di pangkuan ibu yang mengelus lembut kepalaku. Ayah datang dari luar dengan koran di tangan.

"Lihat tuh Bu, udah mau jadi mahasiswa masih manja aja."

Kini punggungku sudah tegak, bersandar pada sofa di ruang tamu, menampakkan wajah tak setuju dengan ayah, "Memang apa salahnya, Yah? Aku kan tetap anak ibu sampai kapanpun."

Ibu tersenyum, "Ayahmu hanya bercanda, Nak."

Ayah terkikik perlahan, "Anak ayah, gampang banget ngambeknya."

"Ibu, Ayah jail banget sih."

Kembali terdengar suara ayah tertawa, ibu hanya geleng-geleng tanpa membela satu diantara kami.

"Ayah, Ibu.. Aku mau bicara serius."

Ayah meletakkan koran yang baru dibukanya demi mendengar anaknya berkata, "Soal apa, Sayang?"

"Masa depan."

"Bu, sepertinya anak kita mewarisi darah guru ayahnya. Lihat saja Gilang dan Romeo berhasil lulus berkat anak kita loh, hebat sekali."

Ibu menggeleng perlahan, "Dengarkan dulu dong, Yah."

Aku menarik napas dalam-dalam, entah terlalu gugup sebab tidak sesuai prasangka ayah.

"Bukan guru Yah, aku mau masuk sastra inggris di Solo."

Keduanya terdiam, ada hal yang lebih mengejutkan lebih dari pilihan jurusan.

"Kenapa harus kembali ke Solo?" hati-hati Ibu menanyakan ini, aku tahu Ayah tak akan mampu untuk begitu saja terima. Percakapan ini selesai, restu mereka tertahan.

Ayah menghampiriku, duduk di sisiku, tubuhku bergetar hebat, sebelum beliau mengucap apa pun aku lebih dulu memeluknya, menumpahkan apa yang tidak bisa diungkapkan, Ibu kembali mengelus lembut kepalaku.

***

Waktu berlalu dengan cepat, restu ayah dan ibu membuatku mudah melewati tes masuk perguruan tinggi negeri dan kabar baiknya aku mendapatkan apa yang begitu aku inginkan. Solo, kota berseri dengan segala kenangan yang tersimpan rapi, tunggu... aku segera kembali.

Kegembiraanku meluap ketika ayah dan ibu memelukku memberikan ucapan selamat, lalu telpon berdering. Gilang...

Riang aku membuka percakapan, berita bahagiaku sampai lebih dulu namun tak lama kemudian merutuki diri sendiri. Gilang gagal. Terlalu egois hingga tak menghiraukan nasib teman di seberang. Hening. Perlahan aku kembali bersuara, mencoba menebus kesalahan.

"Gilang, kita bisa belajar bareng lagi."

"Sungguh?"

Terdengar tak ada semangat, aku tahu berat menerima sebuah kegagalan mungkin aku juga akan seperti itu jika diposisinya.

"Sungguh, kau akan berhasil."

"Begitu menurutmu?"

Lihat, Gilang hanya membalas satu dua kata saja, mudah menyimpulkan ia sedang terpuruk.

"Datang ya besok ke rumahku ada cuangki pedas loh."

"Cili, kau tahu sekali cara merayuku. Terima kasih ya."

Aku mengangguk, tak peduli jika Gilang tak mampu melihatnya. Kami menyudahi percakapan, namun dalam hati ada hal yang aku semogakan.


1 comment:

Yuk sampaikan dengan santun :D