Mengeja Nama

Aku buru-buru mengambil napas jika tidak mau mati konyol, iya mati karena oksigen tidak terkumpul cukup dalam paru-paru dan berhenti mengalir keseluruh tubuh. Harum tubuhnya memenuhi rongga dada, entah sudah berapa lama aroma itu terlupa dan kini kenangan yang lalu melesak masuk menarik segala ingatan dari kejadian yang pernah tercipta.

Jarak kami kurang dari dua puluh sentimeter, dia berdiri tegak tepat di depanku. Sedangkan aku baru saja bangkit setelah selesai merapikan tali sepatu dan terbelalak atas makhluk rupawan yang tiba-tiba hadir. Waktu berhenti sesaat seiring melemahnya fokusku hendak berbuat apa.

Cermin persegi panjang setengah badan yang tertempel di tembok memantulkan semua rona yang terlihat jelas di wajahku. Memberanikan diri dengan konsekuensi yang ada, tidak diingat atau bahkan dilupakan. Tapi penyesalan mungkin akan hadir berminggu-minggu jika ini berlalu begitu saja. Tuhan, tolong.

Apa yang harus aku lakukan? Menanyakan kesan perjalanannya melintasi samudera hingga benua eropa? Oh tidak, itu pasti kalimat yang sangat panjang. Basa-basi tentang suasana hatinya? Jangan, terlalu buruk jika akhirnya dia tidak mengenaliku.

Sekarang dia membungkuk, meletakkan sandal berwarna coklat ke dalam rak sepatu di samping cermin persegi. Panjang rambutnya masih sama seperti tahun lalu, pasti dia rajin pergi untuk memangkas rambutnya jika dirasa sudah cukup panjang. Aku masih berdiri tegak, menghindari kontak dengan cermin yang pasti akan mencibir atas sikap ragu-raguku.

Ini saat yang tepat, sebelum dia kembali tegak dan berlalu menaiki tangga masuk ke dalam perpustakaan.

"Mas... Rifki..."

Kentara sekali aku pun ragu menyapanya, sudah terlanjur apa pun yang terjadi ini lebih baik daripada berdiam diri.

Waktu berdetik lambat, pasti cermin persegi panjang sekarang sudah menangkap ekspresi berharapku yang teramat, membuatku malu.

Dia berdiri tegak, memutar badan dan kami berhadapan.

Deg...

"Loh, nggak ikut acara di atas?"


Aku menggeleng, masih terlalu shock mengetahui dia mengingatku sebagai teman satu komunitas.

"Kenapa?"

Aku kembali lupa bernapas mendengar suaranya yang juga tidak berubah, kacamatanya yang mirip denganku membuatnya semakin manis. Tiba-tiba saja kakiku melangkah menuruni satu anak tangga bersamaan dengan dia yang menaiki tangga, jarak kami melebar.

"Enggak, nggak lihat muka aku kumel gini?"

Tanpa di duga nada suaraku sudah kembali tenang, kami seolah mundur dimana pernah tercipta kedekatan yang menyenangkan itu.

"Mana, enggak keliatan."

Aku memejamkan mata saat dari tangga atas dia merendahkan tubuhnya dan menatap wajahku. Ya Tuhan...

"Salam buat temen-temen..."

Aku segera menuruni tangga, tak perduli lagi dengan jawabannya. Cukup, itu saja cukup membuatku tersenyum sepanjang perjalanan pulang.



2 comments:

  1. Aihh memang sepeti itulah, bertemu saja lebih dari cukup. Apalagi saling bertegur sapa..

    ReplyDelete

Yuk sampaikan dengan santun :D