apa

Kamu

Ternyata Depok menyambut ramah kehadiranku, sejak tiba di tanah kelahiran ini hujan belum menyapa, matahari tidak begitu terik, cuaca cerah sempurna. Air yang biasa lengket kini sesegar seperti di kampung, ini mengagumkan.

Pagi ini rencana kami akan bertolak ke ibu kota negara, Jakarta. Ketika bising di depan rumah itulah para tetangga mulai heboh dan menyadari kehadiran kami, maklum saja tengah malam saat mereka terlelap kami baru memasuki rumah.

Aku tersenyum menyalami satu per satu ibu-ibu, beliau adalah ibu dari teman-teman masa kecilku, kikuk, hhii.

Tebak apa yang buat kikuk?

Masa kecilku di kota ini, sekitar enam tahun diijinkan tinggal hingga selesai mengeyam pendidikan di taman kanak-kanak. Sepulang sekolah seperti biasanya kami akan bermain hingga masing-masing ibu memanggil untuk makan atau tidur siang. Istirahat kami tidak lama sebab saat terik siang satu dua mulai muncul, berteriak memanggil nama dan mulai bermain lagi, petak umpet, lompat tali, kejar-kejaran, masak-masakan, ahh, banyak sekali.

Aku curiga, jangan-jangan dulu memang kami tidak pernah tidur siang? Hhaa, sekarang aku merindukan rasanya tidur siang.

Menjelang sore kembali ibu-ibu kami memanggil nama anak-anaknya, mandi ganti baju dan bermain lagi bersama teman-teman. Eitsss, tapi kali ini kami bermain di mushola, membaca satu halaman iqra di depan pak ustad lalu kembali berlari hingga adzan magrib menjadi pertanda pulang.

Malam kami masih lagi bertemu, bermain dan berlarian lagi. Kembali ke rumah saat ibu yang entah berapa kali memanggil nama masing-masing dari kami. Jika diingat-ingat rasanya dulu hanya main saja, berlarian tak jauh dari rumah, makan, bermain lagi, petak umpet, ahh sepertinya sekolah hanya menjadi sampingan.

Baiklah kembali lagi dengan rasa kikuk. Bertemu dengan ibu-ibu teman masa kecil pastilah melemparkan kenangan ke masa lalu, mau tidak mau. Rasanya aku belum siap jika bertemu mereka yang jika aku kembali ke kota ini selalu tidak ada, apa semua sibuk sekali? Mungkin bekerja di luar kota, entahlah, aku tidak berani bertanya kepada ibu mereka.

Kenapa belum siap? Bukankah bertemu dengan teman masa kecil itu menyenangkan? Terkejut melihat perubahan fisik dari masing-masing? Iya, benar. Tapiiii… Ahh, sepertinya rona merah di wajahku sudah menjelaskan semuanya…


:)

Marah?

"Pokoknya nanti kamu nggak boleh lepas dari aku, deketan, aku gandeng terus."

Laya mengangguk.

"Kamu kan nggak tahu semarang."

Kembali Laya mengangguk.

"Diem aja?"

"Mau bilang apa juga harus nurut kan?"

"Nah, anak pintar."

Bus jurusan Solo-Semarang menepi, memelankan laju, Laya dan kakaknya bersiap diri. Kernet bus membukakan pintu, mempersilahkan calon penumpangnya untuk masuk. Udara di dalam yang dilengkapi dengan alat pendingin sedikit membuat mereka menggigil. Pintu tertutup, bus antar kota tersebut kembali memainkan perannya mengantar pelanggan untuk selamat sampai tujuan.

"La, Semarang itu panas, tapi kalau hujan kalinya pasti banjir."

Laya memandang jauh ke luar jendela, pemandangan itu sepertinya lebih menarik ketimbang cerita kakaknya. Kakak sulungnya, ia baru saja menyelesaikan kuliah di Universitas Diponegoro dan bekerja di pusat kota. Laya yang baru akan masuk Sekolah Menengah Atas diajak berlibur ke Semarang, jika cocok ia akan tinggal bersama kakaknya.

Mereka terpisah sejak kecil. Kakak sulungnya sudah merantau sejak Laya memakai seragam putih merah. Kini, entah bagaimana kakak sulungnya menginginkan ia untuk berada dekat dengannya, mungkin menukar segala jarak yang merentangkan.

"La..."

Laya terpejam.

"Marah?"

Tak ada sahutan. Kakak sulungnya dibuat kalang kabut. Tidak banyak waktu yang mereka habiskan bersama mungkin ini yang membuat mereka masih harus beradaptasi satu sama lain, mengenal pribadi masing-masing lebih jauh.

"Maaf yah La, kakak cuma ngasih tahu aja."

Pagi hari, jalan raya masih lengang, tak ada hambatan berarti kecuali lampu lalu lintas yang memang harus dipatuhi. Tiga jam kira-kira waktu yang dihabiskan untuk sampai di tujuan.

Salah tingkah kakak sulungnya menggoyangkan lengan Laya, "La, bentar lagi kita sampai."

Laya membuka mata, tak ada komentar apa pun yang keluar dari mulutnya, Kakak sulungnya dibuat semakin bingung.

Hap. Sampai.

Laya mengekor Kakaknya yang berjalan di depan, lalu terkejut saat tiba-tiba berhenti.

"La, kenapa sih marah? Iya nggak digandeng kan ini."

"Siapa yang marah sih?"

"Tadi, di bus diam aja."

"Oh, mual Kak, kalau ngomong nanti bisa muntah. Mau?"

Demi mendengar pengakuan adik bungsunya ia bergidik geli, jijik membayangkan itu terjadi juga prasangka yang menghinggapi. Adiknya mabuk darat, itu fakta yang baru ia tahu.

Lupa


Lampu kamar mandi masih menyala, cahayanya benderang, menyilaukan seluruh ruangan, terletak di sudut dapur, dekat dengan kamar tidur Tania.

Ibu masih di dalam, pikir Tania melihat pintu menutup rapat juga bunyi keran mengucur.

Pikiran Tania melayang, tidak pasti kapan tepatnya saat ia menyadari ibunya telah tua dan menjadi pelupa. Lampu kamar mandi sering kali tidak dimatikan usai menuntaskan segala keperluan di dalam. Sering ia mengingatkan ibu sebelum beliau beranjak terlalu jauh, jika tidak ia sendiri yang akan mematikan lampunya.

Berapa usia ibu ya?

Tania membuka kedua telapak tangan, lalu pelan mengetuk tempurung kepalanya.
 
 Usia ibu tak cukup jika dihitung dengan jemari tangan pun ditambah kaki, tapi usia Tania bisa.

Kembali ia melirik ke dalam kamar mandi, suara gayung yang beradu dengan ember terdengar samar diantara deras air keran.

Ibu, wanita itu belakangan ini mulai melupakan banyak hal sehingga masakan gosong bukanlah hal baru.

 Hening, suara keran sudah mati. Sebentar lagi pasti Ibu keluar, Tania siap untuk menanti lupakah ibu akan lampu yang menyala?

Meskipun sudah pelupa Tania tetap sayang Ibu, apalagi jika kesalahan yang telah diperbuatnya dilupakan Ibu.

Dua menit berlalu, kenapa Ibu belum keluar?

Menit-menit berikutnya membuat Tania beranjak dan mengetuk pintu kamar mandi, memanggil nama Ibu, tidak ada sahutan. Mencoba peruntungan membuka pintu, dapat, ahh Ibu lupa menguncinya.

 Di dalam kamar mandi, Ibu terlentang matanya terpejam, oh ibu, jangan bilang kau lupa kalau ini bukan ranjang.


Kepingan Rasa Puzzle 34

Puzzle sebelumnya di sini.

Aku tidak pernah suka menginjakkan kaki di rumah sakit terlebih lorong panjang yang menyatukan bangsal-bangsal dengan para pasien di dalamnya seolah membisikkan aura kesedihan yang menyesakkan.

Para petugas medis dengan seragam putih-putih bergerak gesit dari satu tempat ke tempat lainnya, bermacam benda memenuhi genggaman, infus, rak makan, baskom berisi air, sapu, pel dan beberapa lainnya yang aku tak tahu penyebutannya.

Romeo berhenti di kamar nomer 7 setelah sebelumnya bertanya di bagian informasi, pelan ia mengetuk pintu lalu perlahan wanita setengah baya menyambut kami yang dengan cara apa pun senyumnya tak mampu menyembunyikan luka.

Aku mencium takzim punggung tangan beliau, mengikuti Romeo yang berbisik bahwa wanita itu adalah ibu Gilang. Kami mendekati ranjang  dengan tubuh yang tergolek lemah di dalam selimut. Demi melihat mata itu terpejam aku membekap mulut, menahan gemuruh agar tak luruh.

Ibu Gilang tersenyum, mengelus pundakku dan mempersilahkanku duduk, "Ini temen sekelas Gilang ya?"

"Iya, Tante," ucapku mencoba tersenyum.

"Gilang di sekolah bandel ya?"

Kali ini usaha beliau untuk tertawa sedikit memperbaiki suasana hatiku.

"Enggak kok Tante, keseringan main sama Romeo aja jadi agak jahil, hhee."

Orang yang kusebut namanya melotot, lalu nyengir lebar.

"Gilang itu anak baik, dia cuma kurang dapet perhatian dari Tante."

Wajah beliau yang mulai terlihat garis keriput di sekitar mata kembali sendu, Romeo dan aku diam mendengarkan.

"Dulu, segala kasih sayang terlimpah untuk Gilang, dia menjadi pangeran kecil yang bahagia hingga adiknya mengambil tiba-tiba semuanya, secara bersamaan. Perhatian tante."

Aku mencoba mencerna cerita beliau, tak memberikan sedikitpun komentar, Romeo mengangguk kecil, sepertinya ia sudah mendengar cerita ini sebelumnya.

"Usianya sepuluh tahun saat adiknya lahir, perhatian tante jelas terkuras untuk anggota keluarga baru kami, Gilang tidak siap, dia masih terlalu kecil untuk mengerti betapa adiknya belum bisa melakukan apa-apa tanpa belas kasih orang lain, hingga suatu hari Gilang menghilang..."

Napas beliau tercekat, aku mananti kelanjutan cerita.

"Seharusnya dia tiba di rumah seusai pulang sekolah, tapi hingga menjelang sore tak ada tanda-tanda keberadaannya, kami pikir dia main tapi tante merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Yahh, firasat seorang ibu tidak pernah keliru."

"Gilang kemana, Tante?"

Akhirnya aku bersuara, tidak enak jika percakapan ini hanya satu arah saja. Romeo tidak bisa diharapkan, ia terus saja menatap ke satu titik, berharap mata yang terpejam itu perlahan terbuka dan mengatakan bahwa ini hanya pura-pura.

Wajah Ibu Gilang tersenyum menatapku, "Gilang ada di atas pohon kelapa."

Mulutku terbuka.

"Iya, Tante juga tidak habis pikir. Lucunya lagi dia mengaku tidak bisa turun karena takut ketinggian."

Setelah itu sekuat tenaga Tante berusaha membagi perhatian untuk kedua anak Tante, memperkenalkan adiknya yang butuh kakak untuk mengajaknya bermain, menemani belajar Gilang hingga akhirnya mereka menjadi dua pangeran yang menyegarkan dunia Tante.

Cerita itu selesai, Ibu Gilang tersenyum, aku tak habis pikir, Gilang, banyak hal yang tak kuduga.

"Nah Romeo..."

Romeo tersentak mendengar namanya di panggil.

"Apa ada masalah di sekolah?"

Romeo menggeleng cepat, aku menunduk.

"Untuk apa Gilang melakukan ini semua?"

Romeo kembali menggeleng, aku menunduk semakin dalam.

"Baiklah, Tante ralat, untuk siapa Gilang melakukan ini semua? Adakah seseorang yang ingin dicari perhatiannya oleh Gilang?"

Tangan Romeo perlahan terangkat, menunjuk ke arahku, aku semakin tak berani bergerak.

Ibu Gilang merangkul pundakku, "Apa anak Tante menyakitimu?"

Aku menggeleng lemah.

"Gilang anak yang baik, dia tidak akan mungkin menyakiti orang lain, kecuali tentu saja Romeo, hhee."

Suasana mencair, aku tahu Gilang baik.

"Boleh Tante titip satu hal?"

Romeo dan aku menatap Ibu Gilang, menunggu titah.

"Titip Gilang yah."

Aku menatap tubuh itu, tak ada pergerakan, "Ibu tak perlu khawatir."

Itu jawaban dari Romeo sementara aku masih membeku, kali ini aku yang berharap bahwa Gilang akan terbangun dan tertawa terbahak-bahak sebab kami berhasil masuk perangkap.


Gelembung

Gelembung-gelembung udara melesak dari kedalaman satu meter di bawah air, aku melayang. Merasakan segenap tubuhku diantara berjuta liter air dingin di bawah kanopi dedaunan hijau, rindang.

Aku menyembul saat paru-paru meminta jatah oksigen lebih, mengagumi lebat pepohonan yang menahan agar sinar mentari tak menembus tempat ini. Akar-akar beringin menghujam kokoh bumi, menjaga pasokan air agar tetap mengalir.

Bersandar tubuhku pada dinding, setengah badanku masih di telan air. Pantulan cahaya mempermainkan mata tentang garis-garis keramik di dasar kolam. Menari seirama padahal diam saja. Terengah-engah rakus aku mengambil udara di sekitar, lalu kembali menyelam.

Duniaku sempit, kanan kiri selalu bertabrakan dengan gelembung udara. Jarak pandangku tak ada satu meter, aku bergerak lurus sesuai keyakinan. Air tanpa permisi mengetuk lubang hidungku, memaksaku untuk menghentikan semuanya, aku terbatuk-batuk.

Tempat ini istimewa, mungkin hanya empat kali sepuluh meter persegi dengan kedalaman satu meter. Menjadi pelarian saat dunia acuh terhadap hadirku. Siapa yang mau datang?

Dulunya ibu-ibu setiap pagi kemari untuk memandikan anaknya sebelum berangkat sekolah, namun kini setiap rumah memiliki kamar mandi dengan akses air yang melimpah. Siang menjadi tempat anak-anak berlomba terjun hingga raga lelah atau bibir membiru kedinginan, tak ada lagi sekarang, mereka sibuk dengan benda ajaib dalam genggaman.

Tidak demikian denganku, aku masih setia ke sini, menuruni dua puluh anak tangga setelah sebelumnya melewati pemakaman dimana tubuh nenek tersimpan dalam bungkusan kafan di dalamnya. Kanan kiri pohon beringin yang semakin tua menyambut dengan menerbangkan satu dua daunnya yang menguning. Sampai.

Kalian akan temukan kolam ini menunggu dengan pantulan cahaya putih di sisi kanan, jika perjalanan di lanjutkan maka persis di samping kolam itu terdapat tempat tertutup tanpa pintu dengan dua pancuran air yang tidak akan pernah habis airnya. Dipakai atau dibiarkan, airnya tidak akan berhenti pun ketika kemarau

Lebih jauh lagi, ada sungai dengan aliran air deras. Suaranya menenangkan, tidak ada bebatuan di sana namun kalian aman, sungai itu tidak pernah dengan tiba-tiba mengirimkan air dengan volume berlebih, sungai itu baik, karena tidak ada sampah yang membuatnya marah.

Aku kembali menyelam meski telingaku semakin sakit, dihantam kekuatan air di kedalaman.

Lelah membuatku terduduk di bawah pancuran air bumi, menikmati setiap tetes air yang terjaga. Mataku memandang beringin tua yang kokoh, daunnya melambai diterbangkan angin.

Adakah yang mau datang?

Tempat ini seperti cermin diriku, saat dunia tak peduli hadirku maka sebaiknya aku pergi, menjauh dari mereka, mancari tempat yang membuatku berarti.

Di sini, di bawah air dengan berjuta gelembung udara.


Mikir !

Hai kawan, jika mengantuk menghentikanmu untuk terus membaca buku, apa engkau akan menerimanya begitu saja? Menyetujui layaknya takdir yang harus diterima?

Tidak.

Engkau tidak boleh melakukan itu, tidak!

Bergeraklah, mendekatlah pada dingin percikan air terjun.

Tapi, nanti bukuku basah.

Itu membuatku ingin berenang dan melupakan buku.

Bisa, tolong ambil kamera dan abadikan diriku, bersama bukuku ya?

Rencanamu konyol.

Itu tidak mungkin.

Air terjun bukan tempat yang cocok untuk membaca buku.

Pulanglah anak muda, cara berpikirmu pendek.

Lanjutkan, lanjutkan apa yang ingin engkau katakan.

Buku itu layaknya dinikmati dengan suasana tenang dan damai, tidak berisik oleh jutaan liter air di sampingmu.

Pikiranku akan teralih.

Ahh, bujang, pandai sekali kau membual.

Teruskan, teruskan saja hingga tak ada lagi yang ingin engkau sampaikan.

Lalu... Makna tersirat dari setiap nasihat kehilangan keajaibannya.

Menunggu itu Pilu

Hallooo.... Selamat pagi. Semangat hari minggu meski ada yang kerja lembur. Begini, sesuai dengan judul di atas, mari dengarkan kisah saya saat ini, tidak memaksa, kalau tidak mau mendengarkan ya baca saja, toh ini tulisan bukan radio, hhaa.

Pukul 07:30 ada janji yang telah dibuat untuk sebuah pertemuan tapi sampai pukul 08:05 tak ada tanda-tanda para makhluk itu muncul, satu tanda kehidupan hadir tapi ia mengaku masih di jalan. Oh Allah...

Tepat waktu.

Masih sulit mengajak masyarakat untuk benar-benar menepati waktu. Tak bisa disalahkan, toh ini sudah mendarah daging, itulah kenapa saya mencoba untuk hadir tepat waktu, padahal telat sepuluh menit, hhii.

Teringat teman saya yang biasa bergelut dengan dunia internasional, ia mengecam keras akan keterlambatan tanpa alasan tepat, ahh alasan selalu mudah dibuat kan?

Jika ini sebuah janji maka saya menepati, agar kelak nanti saat hari semua janji diingatkan, saya tak perlu grusa-grusu mencari alasan untuk mengelak. Tak ada alasan, semua terungkap kebenarannya.

Dan pertanyaannya, sekarang saya mau ngapain ya sendirian di sini?

Banyak... Banyak sekali... Mengamati rusa tak bertanduk, angsa-angsa berjemur, keluarga kecil bahagia, juga penjual makanan, eh tetiba saya ingat belum sarapan.

Oh ya, satu rahasia lagi. Kalian saja yang tahu, jangan bagi mereka yang kutunggu. Nanti jika jam 09:00 tidak ada kabar. Maka saya pulang. Mlipir jika bertemu mereka di menit pertama lepas jam 09:00.

Satu setengah jam tidak cukup? Kalian kelewatan.


Jurus Baru Bujuk Rayu

Semakin mengenal dunia semakin kecil saja rasanya. Sudah setua ini namun tidak mengerti apa-apa, selalu melongo dan tertegun setiap menemukan hal baru, gumunan, orang jawa bilang.

Tak apa, tidak ada kata terlambat untuk memulai.

Sekarang, perlahan, aku mencoba memasuki dunia baru yang mengasyikkan, menyelipkan mereka di antara rutinitas monoton. Ada letupan kecil dalam dada yang sulit tergambarkan saat sejenak berpindah dunia, aaahhh... ini luar biasa. Ini pula yang membuat sebagian teman-teman melakukan berbagai cara untuk membujukku meninggalkan sejenak dunia baru ini.

Jelas mudah bagiku untuk menolak namun bukan mereka jika tak kurang akal.

"Naik gunung yuk, Ci?"

Aku tersenyum lebar, hasratku tidak sebesar dulu lagi menjejaki dunia atas awan.

"Bisa buat bahan tulisan."

Mereka menang, aku berangkat.

"Masuk grup ya, Ci?"

"Hhaa.. tidak menjamin aku akan aktif di sana."

"Nggak apa-apa, insyaAllah bermanfaat, lagian kan bisa buat nambah materi nulis."

Aku setuju, mereka mendapatkanku.

"Besok rapat berangkat yah, Ci?"

"Maaf Pak Ketua sepertinya telat."

"Hey mana boleh ini untuk reorganisasi komunitas kita."

"Iya deh diusahakan."

"Berangkat tepat waktu nanti aku bawakan buku belajar menulis artikel."

Mataku berbinar, Pak Ketua menyeringai.

Ahh, itulah mereka, orang-orang hebat yang mempelajari lawan sebelum berperang. Jurus mengenal dekat korban untuk melancarkan aksi bujuk rayu.


Yang Ingin Kusampaikan


Dalam balutan masker yang menutup wajah aku masih saja tersipu. Dia berjalan mendekatiku di tempat parkir dengan senyum itu, senyum yang membanggakan juga memberitahukan betapa ia menghargai setiap proses yang aku lakukan untuk meraih mimpi dan cita-cita.

Dilema, menunggunya atau berlalu?

Aku mengharapkan pertemuan tak terduga ini, pertemuan yang mengaburkan keinginan terdalam hatiku untuk melihat garis lengkung yang teramat kurindukan.

Mematung, linglung, ahh bagaimana bisa aku tak tahu apa yang harus aku lakukan?

Ia semakin dekat, jarak kami mungkin sekarang seratus meter, dan senyum itu sudah terlihat jelas, mengaduk-aduk seluruh rasa dalam dada.

Detik berlalu sekarang sudah lima puluh meter, kakiku gemetar, hatiku berlonjak girang.

Hap.

Aku tertawa, kenapa di langkah terakhir ia harus meloncat untuk berada tepat di sampingku? Hancur sudah sikap dingin yang sejak tadi aku pertahankan. Senyumnya semakin melebar. Aku siap mendengar ucapannya kini.

“Hai penulis.”

Mulutku ternganga, apa, kalian dengar tadi, ia menyapaku dengan sebutan penulis. Wajahku menunduk menahan malu.

“Hey... hey... kapan kau akan menulis tentangku?”

Pertanyaan ini yang selalu ia lontarkan setiap bertemu denganku, biasanya aku tak punya jawaban tapi kini sepertinya aku sudah punya.

“Nanti yah.”

“Serius?”

“Iya.”

“Nanti kapan?”

“Nanti jika setiap pagi kau mau membuatkan aku kopi saat bangun tidur.”

Ia mengernyit mencoba memahami kata-kataku, “Maksudmu aku jadi penyeduh kopi di rumahmu?”

Aku tergelak, duh bagaimana bisa ia tidak paham maksudku.

“Bukan itu saja, kau juga harus mencuci bajuku, memasak untukku, membersihkan rumah...”

Demi melihat ekspresi wajahnya yang kian tak menentu aku menggantungkan kalimat.

“Mahal sekali hanya untuk satu cerita yang kau tuliskan untukku,” lirih ia bergumam sendiri, aku tersenyum, gemas rasanya melihat perubahan wajahnya.

“Belum selesai, ada lagi.”

Matanya terbuka lebar, “Ada lagi?”

“Iya, kau juga harus merawat anak.”

“Anak? Anak siapa?”

“Anak kita.”

Aku terkejut jika akhirnya aku sendiri berani mengatakan itu, raut mukanya mencoba menyambungkan setiap kalimatku, lalu tiba-tiba ada warna merah di sekitar pipinya, membuatku mual menunggu jawaban jika ia akhirnya mengerti.

“Hai penulis....”

Bagus, sekarang ia yang menggantungkan kalimatnya. Aku diam menunggu.

Hening, heii... lanjutkan kalimatmu.

Ia masih diam. Baik, ia mempermainkanku.

“Apa?”

“Apanya?”

“Kau tadi memanggilku kan?”

“Iya, kan hanya memanggil.”

“Aaaarggggg..... Benar kau hanya memanggil?”

“Tidak sih.”

“Lalu?”

“Hei penulis, bisakah kau sedikit puitis menyampaikan sesuatu kepada pujaan hati?”

Senyumku mengembang, ke depan akan lebih mudah sebab ia sepenuhnya tahu maksud hatiku. Sementara cukup, itu yang terpenting.

Sajak Perpustakaan

Di sini mereka menunggu
Si dia membalas pesan
Pesan yang entah berisi apa
Yang pasti itu berisi sesuatu

Di tempat ini banyak yang terpejam
Terbuai lembut aroma wewangian
Juga merdu rintik hujan di luar
Hingga membuat enggan untuk beranjak

Di sudut ruangan ini beberapa menunduk
Bola mata beradu cepat dengan detik waktu
Rupanya mereka tengah mencerna
Setiap kata dengan banyak makna

Aku diantara mereka
Menjadi pelengkap yang hobi mengawasi
Tak peduli jika banyak yang tak kumengerti

Bagiku...
Tempat ini bukan sekadar ruang tunggu
Aku lebih suka menyebutnya ruang buku

Kilat Cinta Bapak




HUAAAA...... HHUUUUAAAAA.....

Apa yang bisa dilakukan anak kecil yang baru berumur delapan tahun untuk mendapatkan keinginannya?

Aku masih sesunggukan saat kakak jengkel melihat tingkah polah adiknya. Ia berulang kali melirik jam dinding, menatapku yang kubalas dengan gelengan. Nenek kembali memaksa Bapak untuk menuruti permintaanku.

Bapak, lelaki pendiam namun selalu berpikir logis tak beranjak sesenti pun.

Tidak semua yang kakakku miliki harus aku dapatkan pula di waktu yang bersamaan.

Mungkin begitu arti dari sikap diam beliau.

Kakakku jengah, ia beranjak pergi, tak perduli lagi dengan bagaimana nasibku. Bapak mendekat dan membujukku. Aku tak mau tahu. Bapak mengalah. Beliau mengayuh sepeda anginnya menuju sebuah toko buku dengan jarak sekitar tiga kilometer, berpacu dengan detak jarum jam agar secepatnya sampai kembali ke rumah.

Bapak kembali, senyumku hadir lagi.

Kakakku menggeleng tak habis pikir saat kami bertemu di surau, aku menenteng dengan bangga sebuah buku tebal berwarna kuning emas mengkilat. Duduk dengan gembira di depan pak ustad, tak perduli lagi jika akhirnya buku itu belum dibuka sebab pak ustad masih sibuk meyakinkan aku bahwa fathah yang melintang sepanjang huruf ba tidak lantas dibaca panjang.

Malamnya Bapak meminjam buku itu, menuliskan sesuatu pada sisi atasnya dengan pena hitam. Aku berlari mengitari ruangan, berkali-kali memamerkannya kepada nenek yang tak henti tersenyum.

Kini, buku itu masih ada, berjajar di rak buku, lama tak membukanya, aku mendapatkan yang lebih kecil agar mudah kubawa kemana saja. Buku yang mengingatkanku bahwa apapun akan Bapak lakukan agar anak-anaknya mau pergi mengaji, sebab masih ada kehidupan setelah kematian yang harus kita persiapkan.

Malam saat aku sibuk menenteng buku kuning itu kemana-mana, kakakku bersila di sudut ruangan, mulutnya membuka dan menutup seperti ikan. Aku baru sadar sekarang, kenikmatan yang membuatnya tak terusik sedikitpun akan celotehan mulut kecilku.

Bapak... terima kasih ya sudah mengenalkanku pada kitab suci.


Dua Nama

Dari bermilyar manusia, kenapa kalian berdua ada diantaranya?

Dari sejuta nama, mengapa nama kalian harus sama?

Dua orang dengan raga berbeda namun satu rasa yang sama

Katakan, aku harus apa?

Jangan memaksaku untuk memilih

Hatiku menerima sama besar rasa itu

Aku menunduk...

Biar kupendam sendiri rasa sesak ini

Maafkan membiarkan kalian berdua terbang tinggi dalam harapan dan impian

Yang sebentar lagi akan aku hempaskan

Aku menyerah...

Berhenti bermain dengan hati yang tulus suci dalam mencintai

Sahabat Pena

Matahari sempurna menampakkan diri, sinarnya menjadi syarat berlangsungnya kehidupan di bumi. Aku memilih salah satu bangku yang menghadap ke pintu, sengaja.

Hari ini pertama kalinya akan bertemu dengan seseorang, sebut saja sahabat pena. Ya pengalaman pertama bertemu dengan sahabat pena. Apa yang membuat istimewa?

Sebelumnya hanya mampu berinteraksi dalam coretan-coretan, tanpa tahu mimik asli bagaimana ia saat membaca balasan tulisanku. Sekarang?

Ahh, tubuhku bergoncang tak sabar.

Beberapa kali aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan, belum terlambat.

Detik jarum jam semakin membuat jantungku berdegub, ada sesuatu yang tak tergambarkan kini. Mencoba mengkhayal namun gagal. Hey, ayolah cepat datang.

Seperti apa ya ia?

Meskipun beberapa kali ia melampirkan foto tetap saja sulit untuk sepenuhnya membayangkan wujud nyatanya.

Andai saja semuanya bisa lebih mudah, tapi, di tahun 1990 kurasa tukang pos adalah dewa bagi hati-hati siapapun yang ingin menyambung erat sebuah hubungan jarak jauh. Tapi entah bagaimana, di masa depan nanti aku yakin, semua ini akan lebih mudah, kita tunggu saja waktu itu.

Tak ada yang bisa aku lakukan selain menunggu.

Taman kota pukul 09:00 pagi, hari selasa.

Baik, aku tidak salah waktu, hanya sedikit gugup.

Kepalaku memutar ke segala arah, mencoba mengamati sekitar.

Baju biru dengan jilbab motif bunga.

Belum terlihat.

Eh, dari pintu masuk taman ada seseorang yang berjalan menuju ke arahku, jilbab motif bunga namun karena memakai jaket aku tidak tahu baju apa yang ia kenakan.

Ia kah itu?

Tapi, ia menggandeng seorang gadis kecil mungil lalu di belakangnya seorang anak laki-laki berjalan sejajar dengan pria dewasa.

Sudah berkeluarga?

Oh Tuhan, benarkah? aku bahkan menganggapnya teman sebaya, duh, berarti selama ini aku tidak sopan.

Ia tersenyum ke arahku dan itu menjawab segala pertanyaan, benar ia orangnya.

"Hai..." sapanya ramah.

Aku mematung, sungkan.

"Hai... kok bengong sih?"

"Eh, mbak... hheee.."

Aku salah tingkah.

"Nggak percaya ya aku udah punya anak?"

Tepat dugaannya.

"Tenang aja, kita akan kembali dapatkan suasana saat bertukar surat. Yuk duduk."

Tersadar bahwa aku sejak tadi berdiri untuk menyambutnya.

Satu per satu anggota keluarga ia kenalkan, suaminya, sulung sang jagoan lalu putri kecil mereka, Kazumi.

"Kuliah lancar?"

"Alhamdulillah, sudah magang."

"Hey, gugup gitu?"

"Inilah, hhaaa..." Aku tertawa mencoba mencairkan rasa canggungku. Berbeda, sungguh ternyata pertemuan di dunia nyata lebih mengasyikkan dibanding saling bertukar surat dan menunggu balasan yang memakan waktu.

Sisa hari itu akhirnya aku mampu kembali menjadi diriku sendiri, kejutan-kejutan kecil yang tak tertuang dalam surat menjadi pemanis pertemuan hingga rengek manja si kecil menandakan kami sudah cukup lama bertukar kata.

"Semangatlah adik kecil, jangan mau kalah sama ibu dua anak."

Kami tertawa, aura kegembiraan menyeruak ke udara.

Perpisahan hanya bagian yang harus di jalani saat pertemuan tercipta, tenang ini hanya raga sebab jiwa kami telah terikat oleh sesuatu yang hangat, semoga bertambah rekat.

Kepingan Rasa Puzzle 32

Puzzle sebelumnya di sini.


Bel berdentang, satu dua kemudian ratusan siswa menghambur keluar, berlomba mencari kebebasan dari lingkup kubus kelas.

"Ci, nggak mau ikut aku?"

Aku menggeleng, tawaran Agni untuk melihat ia berlatih tali tidak menarik bagiku. Secepatnya aku ingin pulang, berdiam diri di kamar dan mengembalikan suasana hati.

"Ya udah, hati-hati pulangnya,"

"Kamu juga hati-hati main talinya, jangan ceroboh."

Agni mengangguk mantap lalu meninggalkanku ke arah basecamp, Raiya dan Dania sudah lebih dulu berpamitan, mereka masing-masing sibuk dengan ekstrakulikuler yang menjadi tanggung jawabnya.

Ruangan kelas lengang, tersisa Romeo, ahh aku malas jika harus berurusan lagi dengannya.

"Cili... "

Aku menoleh, kali ini mau apa lagi?

"Kamu bakal menyesal telah melaporkan Gilang ke guru."

Tatapannya berubah menakutkan, aku heran Romeo ini mampu berubah-ubah hanya karena satu nama, Gilang.

"Terserah, aku bilang tidak pun kau tidak percaya, kan?"

Langkah kaki segera berayun, mencoba secepat mungkin meninggalkan Romeo yang kembali memanggil namaku. Lorong kelas sudah lengang, aku menuju gerbang sekolah saat Romeo berhasil menyusulku.

Ayolah Romeo...

"Cili, sebentar," ujarnya terengah-engah.

Aku menghentikan langkah, menunggunya mengambil nafas ketika itulah kami mendengar suara Angga dan Agni yang tengah berbisik dari balik tembok, tak jauh dari kami.

"Apaaa?? Jadi kamu yang nglaporin Gilang ke guru?"

Terdengar Angga mendesis, meminta Agni untuk mengecilkan suaranya.

Aku dan Romeo berpandangan, terpecahkan sudah masalah ini. Tangan Romeo mengepal, ia siap menghampiri Angga yang masih melanjutkan percakapannya tanpa tahu bahwa kami mendengar semuanya.

"Abis itu anak ngeselin banget, nggak bermutu tau nggak pake acara nyembunyiin paket Ciani segala."

Agni mengangguk setuju, "Sudahlah, biar jadi pembelajaran."

Mereka berdua pergi, napasku menderu, Romeo mencoba mengendalikan diri.

"Aku akan buat perhitungan dengannya, itu pasti."

"Romeo, jangan menambah masalah," ujarku menenangkan.

"Cili, Gilang nggak seharusnya dapet skorsing, Gilang nggak seharusnya dapet musibah ini, Gilang harusnya ada di sini, tertawa bersama kita, bukannya..."

Raut wajah Romeo berubah lagi.

"Romeo..."

Romeo mendongakkan wajahnya, tersenyum.

"Gilang kecelakaan, aku mau menengoknya. Cili, kau ikut?"

Mataku membuka lebar, "Romeo, jangan bercanda."

Senyum sinis kini menghiasi wajahnya, "Bercanda untuk hal semacam ini?"

Aku salah tingkah, bukan seperti itu maksudnya, Gilang kecelakaan? itu nggak boleh terjadi. Gilang apa kau baik-baik saja?

Romeo tak lagi memperdulikanku, ia melangkah cepat keluar sekolah, aku masih terdiam, harusnya aku  menyusul. Satu langkah lagi Romeo menghilang dari gerbang sekolah, kesadaranku kembali, aku berlari.


Puisi ke-789

Pagi masih buta saat kau mengenggam jemariku
Menuntun langkah untuk memilih baju
Aku ingat jelas saat itu
Pilihan jatuh pada warna biru

Bidadari...
Tiada kata yang mampu mengganti
Mencintaimu begitu berarti

Entah bagaimana nanti
Jika suatu waktu
Kau harus pergi
Bagaimana jika aku dulu?

Tangan lembutmu membelai pipi
Gelengan lembut menenangkan hati
Jangan risau untuk sesuatu yang pasti
Bukankah aku selalu disisi?

Andai suatu hari nanti
Aku menyakiti
Sudikah dirimu memaklumi?

Tatapan penuh kasih itu berbicara
Bahwa cinta melebihi segala
Lebih dari kata yang terucap
Kaulah pemilik jiwa raga


-----------------------------------

Bapak tersenyum, rupanya terharu aku masih mengingatnya. Jelas aku mengingat semuanya, seribu puisi cinta yang beliau gunakan untuk merayuku dulu.


Velodrome

Perlahan aku mengendarai sepeda motor dengan kecepatan setara dengan orang berjalan kaki. Aku tak mengenal tempat ini bahkan baru pertama kali memasuki area ini.

V.E.L.O.D.R.O.M.E

Kepalaku mencari di setiap bagian, baiklah di tempat seluas ini tidak mungkin mudah untuk menemukannya.

"Maaf pak, velodrome terletak di mana ya?" tanyaku pada salah seorang berbaju batik yang duduk di tempat parkir sepeda motor.

"Itu mbak," beliau menunjuk sebuah bangunan di belakangnya.

Aku menatap ke arah tersebut, tempat apa itu? berbentuk bundaran.

"Yang kecil namanya Velodrome kalau yang besar stadion," lanjutnya.

Aku mengangguk, "Terima kasih, Pak," ujarku pamit.

Banyak orang yang berlari di lingkaran luar velodrome, membuatku menepikan sepeda motor dan duduk di bangku taman yang sudah disediakan. Mengamati segala kesibukan di depan mata.

Tak jauh dari velodrome terdapat arena sepeda motor, dua pengendara sedang memperlihatkan atraksi mengendarai motor di atas satu roda, aku bergidik ngeri tapi banyak pasang mata yang tak mau melepaskan pandangannya ke arah lain.

Jauh di sana, di samping pintu keluar, lapangan tenis penuh dengan bola-bola hijau yang berloncatan dengan irama yang teratur.

Tempat ini, kenapa baru sekarang aku mengenalnya?

Langit di sore ini cerah, daun-daun menari tertiup angin sepoi. Aku bersama beberapa orang memilih duduk di area taman sebelah velodrome, menikmati setiap nyanyian alam yang berpadu indah dengan langkah kaki para pelari.

Tiba-tiba kamu sudah di hadapanku, peluh membanjiri kening, membasahi kaos hingga membentuk tubuh. Senyum merekah lalu menjitak kepalaku.

"Kemana saja?"

Aku mengaduh, tanganmu mengelus lembut di tempat yang sama, mencoba mengobati luka mungkin.

"Aku tersesat."

Kamu tersenyum, "Menurutlah lain kali yah?"

Aku mengangguk.

"Besok minggu depan aku lomba, jika kau tak datang untuk melihat maka aku akan marah sekali."

Pura-pura aku mengerutkan dahi seolah berpikir, kamu sudah siap untuk menjitakku lagi tapi aku lebih sigap menghindar.

"Aku serius, berjanjilah untuk datang."

"Baiklah, aku berjanji. Ngomong-ngomong velodrome itu apa?"

Kamu tersenyum, manis sekali.

"Velodrome adalah arena balap sepeda dan sepatu roda."

Anggukan kecil menandakan kepahamanku.

"Baiklah, mulai saat ini kau harus mengenali semua hal yang berhubungan denganku. Biasakan dirimu, aku ini atlet."

"Kenapa harus?"

"Karena kau sudah jadi bagian dalam hidupku, kau harus tahu segalanya. Paham?"

Pipiku memerah.

"Hey, paham tidak?"

Aku menggeleng dan berlari. Tapi aku lupa dari siapa aku menghindar, mudah saja kamu menangkapku dan kini tangan kekar itu telah sempurna mengunci langkah kakiku.

"Mau menantangku berlari?"

Deretan gigi putih yang terlihat menjadi penolakanku. Kamu duduk di sampingku, diam.

"Kita pulang yuk."

Aku menggeleng.

"Pulang."

Kembali aku menggeleng.

"Pulang atau kupeluk kau di sini?"

"Oke kita pulang."

Velodrome juga segala bagian dalam tempat ini akan menjadi rutinitas tambahanku selanjutnya. Kamu, kayuhlah sepeda sekuat tenaga. Tak usah risau berlebih akan kemenangan sebab di hatiku kaulah juara.


Preman Peduli

Wajah-wajah tegang tergambar jelas saat Pak Suki memasuki kelas, hari ini adalah pembagian nilai ulangan fisika minggu lalu. Tujuh puluh lima adalah nilai minimal agar tidak perlu mengulang, di bawah itu dapat dipastikan siswa harus kembali mengerjakan soal yang sama untuk memperbaiki nilai.

Tenang aku menatap ke depan, dalam hati optimis jika nilaiku bisa sempurna. Minggu lalu aku mengerjakan setiap soal dengan keyakinan benar seratus persen.

Satu persatu berdasarkan nomer absen Pak Suki membacakan nilai. Bermacam ekspresi hadir sepersekian detik kemudian. Satu dua lolos, beberapa mengulang. Lenguhan kian mendominasi ruang kelas. Aku masih tetap tenang.

Absenku berada di urutan ke-31.

Sampai di urutan ke-20 temanku terlonjak girang. Sony namanya, anak pertama pemilik usaha penggilingan padi, hanya dia satu-satunya yang menggunakan sepeda motor ninja ke sekolah. Perawakannya tinggi besar sempurna dengan hitam legam kulitnya.

Tak ada yang mau ambil masalah dengannya begitupun aku, saat dia memanggil nama untuk meminta jawaban maka kuserahkan kertas jawabanku. Sepuluh menit menyalin jawaban untuk sepuluh soal, luar biasa kecepatan menulisnya.

Lalu senyum manis dia hadirkan saat mengembalikan kertas jawabanku.

Sekarang melihat dia terlonjak dengan nilai sempurna membuatku semakin tenang.

Harapan berlebihan kadang membuat luka yang tercipta semakin dalam. Nilaiku jauh dari angka aman.

Semua mata memandang ke satu titik. Bukan ke arahku tapi ke arah Sony. Pertanyaan yang serupa, kenapa bisa?

Sony anak yang baik, meski dia ditakuti seantero sekolah tapi tak akan melakukan hal keji kepada teman yang telah membantunya menyelesaikan ulangan.

Aku menunduk, hatiku sama berkata, kenapa bisa?

Persamaan vektor bukanlah sesuatu yang rumit, aku hapal di luar kepala rumusnya, Pak Suki juga tahu aku menjadi siswa yang mampu menjawab cepat saat teman yang lain masih bingung menentukan ke mana arah vektor.

Sony memanggil pelan namaku sementara Pak Suki melanjutkan nilai teman yang tersisa.

"Aku akan carikan jawaban untukmu."

Aku menggeleng lemah.

"Aku suruh teman sekelas mengerjakan soal remidialmu, percaya aku."

Senyum tipis aku sunggingkan demi melihatnya tenang, tapi dia mulai kalang kabut bergerak menghampiri teman-teman pintar untuk memaksa mereka.

Aku bisa mengerjakan soalnya, aku bisa...

Kepingan Rasa Puzzle 30

Puzzle sebelumnya di sini


Tak lama setelah bel masuk sekolah berbunyi Pak Arif mengumumkan hal yang membungkan semua siswa.

"Tutup semua buku kalian, kita ulangan hari ini."

Segala protes dilayangkan beberapa siswa, tak mengubah apa pun.

Sepuluh menit selanjutnya hening mendominasi, semua siswa sedang berusaha memecahkan misteri struktur atom yang merumitkan. Menginjak menit kesebelas satu dua bunyi mulai muncul entah pena yang terjatuh, desisan memanggil teman seberang atau kursi yang bergeser perlahan.

"Tidak ada suara, selesai kumpulkan, kalian boleh keluar setelah itu."

Iming-iming Guru Kimia kami tersebut toh tidak menarik siapa pun, mengumpulkan kertas ulangan itu berarti menyelesaikannya. Nyatanya tidak bagi Romeo. Asal mendengar kata keluar kelas maka semangatnya membara.

Aku berbalik, mendelik ke arahnya. Ini bukan kali pertama dia mengusikku. Semprotan berisi cairan pembersih kaca sukses membasahi jilbab belakangku. Bukan... bukan untuk mencari contekan jawaban soal tapi untuk mengajak keluar kelas. Aku bahkan sangsi dengan jawaban-jawabannya tersebut.

"Keluar sendiri, aku belum selesai," gertakku.

"Iya, Ciani, ada yang bisa Bapak bantu?"

Nah kan ketahuan.

"Romeo kerjakan sendiri, Bapak tidak segan merobek kertas kamu tidak jawabannya menyalin milik teman. Peringatan untuk kalian semua."

Siswa yang disebut namanya berdiri, seolah menantang, semua mata memandang, mau bikin ulah apa lagi sih ini orang.

"Saya sudah selesai Pak," ujarnya seraya maju.

Pak Arif dibuat melongo saat menerima secarik kertas penuh dengan coretan tangan. Beliau segera kembali ke meja, mengoreksi hasil pekerjaan siswanya yang mampu menyelesaikan soal kimia hanya dalam lima belas menit.

"Cili, aku mau bilang sesuatu, ini penting. Segeralah keluar kelas, aku tunggu di kantin," lirih Romeo berbisik sebelum beranjak pergi dengan muka girang luar biasa, teman-teman yang lain gusar.

Aku diam saja, dalam hati berucap, ahh ada gitu sesuatu yang penting jika Romeo yang menyampaikan, paling juga bicara tentang satu nama.

Gilang.

Tiba-tiba fokusku hilang.

Soal ini tidak begitu sulit, aku selalu mengulang pelajaran malam sebelumnya namun tiba-tiba otakku tak mampu mencerna apa pun. Orang itu, kenapa dia mengusikku, padahal wujud nyatanya tidak ada. Pengganggu.

Sepeluh menit kemudian aku menjadi siswa kedua yang mengumpulkan kertas ulangan, berbeda dengan ekspresi saat menerima milik Romeo, Pak Arif tersenyum dan mengangguk seolah yakin bahwa jawabanku memuaskan, mungkin iya jika saja otakku tidak sedang memikirkan hal lain.

"Ayo yang lain? kalian tidak mau mendapatkan waktu bebas hingga satu jam pelajaran berakhir?"

Teman-teman sekelas sibuk dengan segala macam hal, apapun itu agar mampu segera menyusul aku dan Romeo keluar kelas.

Romeo duduk di bangku pojok kantin, aku menghampirinya, dari dekat jelas terlihat bahwa dia murung. Mungkin sedih karena teman sebangku tidak bisa hadir di kelas.

"Hai Romeo," sapaku.

Dalam hitungan detik, dia mampu merubah ekspresi wajahnya, tak ada lagi mendung menggelayut, ceria kini menghiasi wajahnya. Romeo, pandai sekali kau menyembunyikan perasaan.

"Eh Cili, kau memang murid pandai."

"Kau lebih pandai."

"Hahaaa... aku mah asal yang ngisi, bosen di dalam kelas."

Aku mengulum senyum, "Romeo, mau bilang apa?"

"Duduk sini," katanya menunjuk bangku panjang di hadapannya.

"Aku mau cerita," lanjutnya.

Semoga bukan tentang Gilang.

Tangan kanan Romeo memegang cabai, aku kira tangan kirinya akan mengambil gorengan tapi ternyata tidak, dia juga mengambil cabai. Cabai di tangan kirinya dimasukkan ke dalam mulut, mengunyahnya perlahan.

"Ini tidak pedas," serunya.

Hal yang sama juga dilakukan untuk cabai di tangan kanannya, "Ini pedas sekali."

Aku terkikik melihat Romeo ber- huh hah.

"Cili jangan tertawa, aku kepedasan ini."

"Minum dong."

"Tidak punya uang."

Aku menepuk pelan dahiku,lalu kemudian memesankan teh panas manis untuknya.

"Baik sekali kamu, sembari menunggu teh datang, boleh makan gorengan? aku tidak kuat pedasnya."

Kembali aku mengangguk.

"Baiknyaaa...."

Romeo hendak memasukkan tempe goreng saat aku mencegahnya, matanya berair menahan pedas, "Ke.. na... paa?"

"Berjanjilah padaku satu hal."

Kerutan di dahinya menyiratkan rasa heran yang teramat, mungkin Romeo berfikir aku kejam, memanfaatkan momen kepedesan untuk mengucapkan janji.

"Mulai saat ini, makanlah selalu dengan tangan kanan."

Romeo mendesah, lalu mengangguk dan mengunyah tempe goreng.

Teh panas datang, tak perlu basa basi Remoe segera memindahkan isinya ke dalam perut.

"Ahhh... legaaa.."

"Eh Romeo, tadi cuma mau bilang kalau cabai di tangan kanan lebih pedas dari di tangan kiri?"

Romeo membenarkan posisi, "Bukan sekadar itu."

"Lalu?"

"Seperti cabai, meskipun jenisnya sama tapi jika dari pohon yang berbeda rasa pedasnya pasti juga berbeda. Terlebih pemetiknya berbeda, ada pemetik yang tahu bahwa memang cabai itu sudah waktunya di petik ada yang asal petik. Sehingga cabai yang masih muda jelas tidak sepedas cabai yang siap petik."

Aku mengerjap, Romeo berubah menjadi seseorang yang berbeda.

"Hey, jangan memandangku seperti itu. Kau bisa terpesona nanti Ci."

Buru-buru aku mengalihkan pendangan, dih terpesonaku bukan dalam hal fisik, dasar Romeo.

"Nah Ci, begitulah perumpamaan aku dan Gilang."

Aku terkesiap, kenapa nama itu disebut lagi?

"Tunggu Ci, jangan marah, dengarkan."

Aku menghela napas.

"Gilang itu baik, berulang kali dia membantuku dalam banyak hal. Tapi kau tahulah kami ini sedang masa pertumbuhan, cepat lapar dan banyak makan. Itulah kenapa kami sering ke kantin saat pelajaran berlangsung."

"Lalu, apa hubungannya dengan cabai tadi?"

"Nah, cabai tadi adalah hasil penelitian kami selama bermeditasi di kantin."

"Terus?"

"Ya udah gitu doang. Penelitian masih berlanjut, kami masih akan meneruskannya, kamu orang pertama yang mengetahui proyek ini. Sebenarnya Gilang nglarang buat ngasih tahu siapa pun, tapi jika kamu yang tahu tidak mungkin Gilang marah."

"Romeo berhenti.. Aku mau kembali ke kelas."

"Tunggu Ci, udah dibayar belum tadi?"

Aku mengangguk. Melangkah keluar kantin, kenapa harus disebut lagi sih nama anak itu.


Panggil Kakak Aja

Kopdar atau kopi darat adalah istilah yang digunakan untuk pertemuan  dua orang atau lebih yang awalnya berteman di dunia maya. Keakraban dan rasa saling penasaran membuat mereka memutuskan untuk bertemu di dunia nyata.

Dan taraaaa....

Banyak hal yang terlihat berbeda. Tak apa toh memang demikian manusia, berusaha menunjukkan hal terbaiknya terhadap orang lain.

Ada juga yang dikira masih lajang eh ternyata waktu kopdar bawa dedek bayi, hhii... Sungkan deh kePDan sok kenal karena nganggep sebaya di dumay.

Setiap pertemuan selalu saja memunculkan kesan-kesan yang tak biasa. Seperti kemarin, saat aku dan dua orang teman bertemu di samping mas ganteng penjual soto ayam.

Sotonya enak loh, apalagi dikasih sedikit perasan jeruk nipis, seger-seger gimana gitu. Cobain aja.

Oke kembali ke kopdar. Ternyata salah satu dari kami membawa dedek bayi yang sangat menggemaskan, lucu sekali, tidak rewel meski berada di tempat ramai.

"Dedek siapa namanya?"

"Syifa tante..." Jawab ibunya.

"Eh, panggil kakak aja," tiba-tiba temanku protes.

"Hhaa... Biar keliatan muda yah?" Sahutku.

"Bukan.. Tapi..."

Jawabannya yang mengambang membuat perhatian kami tertuju ke arahnya.

"Kan Om-nya belum ada."

Hening sepersekian detik.

Masing-masing dari kami membekap mulut, menahan diri agar tak menjadi pusat perhatian. Tubuh bergoncang oleh gelak tawa.

Pasangan... Ahhh, selalu jadi tema menarik selagi singlelillah masih bertebaran.

Kamu Kenapa? (2)


Baca cerita awalnya di sini


Tetesan air langit satu per satu menghujam bumi, memberikan kesegaran di subuh yang sunyi. Hujan, ahh, aku tak akan pernah mampu untuk melupakannya.

Sore itu menjelang magrib, di tengah hujan deras, meski menggunakan jas hujan, kau kuyup.

Kok basah semua, Mas?”

Iya, hehe.”

Hanya itu, setelah mengangsurkan rantang berisi masakan ibumu kau bergegas pulang.

Aku takut sekali saat itu,” ungkapmu saat kita mengenang pertemuan pertama setelah akad kau ucapkan.

Takut kenapa?”

Takut jika hujan tak kunjung reda hingga menahanku lama untuk bertamu yang bisa jadi akan memunculkan hal yang tidak seharusnya.”

Aku menunduk, malu. Terima kasih ya, sudah menjagaku sejak dulu.

Lalu, saat itu sepertinya kau juga terburu-buru mengusirku,” lanjutmu.

Gelengan lembut juga senyuman hangat aku tunjukkan, “Bukan seperti itu.”

Oh, apa kau takut jika aku jatuh sakit?” ucapmu menggoda.

Bukan,” buru-buru aku menyela.

Lalu?”

Aku tak cukup kuat melihat rambutmu yang berantakan terkena air hujan. Hatiku jadi kacau,” jawabku dengan wajah memerah menahan malu yang teramat sangat.

Saat itulah kau mengerti bahwa hal yang kau sengaja agar tak berlama-lama bertamu adalah awal muncul rasa berdesir dalam hatiku.

Tiga puluh menit berlalu, aku tutup kitab suci yang telah memberikan ketenangan jiwa. Menyimpannya di rak buku paling atas lalu merapikan mukena.

Ahh, tadi lelakiku tidak membawa payung, mungkin berteduh di masjid.

Aku menuju dapur hendak menjarang air saat langkah kaki setengah berlari terdengar mendekati pintu, itu, kau datang. Siap dengan handuk di tangan buru-buru aku menyapamu di pintu. Hatiku masih sama kacau seperti dulu melihat rambutmu berantakan oleh air hujan.

“De, pinjem gawaimu.”

“Mau ganti baju dulu?”

“Enggak basah kok, cuma gerimis tadi,” jawabmu sambil mengeringkan rambut.

Segera aku menuju kamar mengambil apa yang lelakiku minta kemudian duduk manis di sampingnya.

Jempol tangannya lihai membentuk pola aku mengunci gawai, lalu menuju satu per satu sosial media, mengamati dengan jeli setiap percapakan. Hatiku mengatakan inilah mungkin penyebabnya.

“Mas, cari apa?”

“Kamu punya teman namanya Asrul?”

Aku menggeleng cepat, seingatku tidak ada.

“Ingat lagi.”

Aku mencoba membuka memori tentang teman-teman sekolah, teman komunitas, teman kenalan tapi tak ada satupun yang bernama Asrul.

“Ada apa, Mas?”

“Coba ingat dulu.”

Ia sibuk menggeledah semua isi gawaiku, aku tidak khawatir, memang tak ada yang perlu disembunyikan. Tapi, ada apa dengan nama tersebut? Mencoba lebih keras lagi mengingat nama tersebut.

“Aku nyerah, aku nggak punya teman dengan nama Asrul,” ujarku kemudian.

Ia tak menggubrisku.

“Mas... ada apa?”

Setelah tangannya aku sentuh, ia berhenti. Memandang wajahku, meneliti kejujuran ucapanku dari sorot mata. Aku balik menatapnya degan yakin, percayalah, aku berkata jujur.

Kamu Kenapa?

Hening sempurna berpadu dengan pekat juga kolaborasi apik dari suara makhluk malam yang menggema, suasana subuh selalu membuatku haru.

Tahun lalu aku masih melakukannya sendiri, semua ritual suci menyambut hari baru untuk kesempatan yang diberikan Ilahi. Beberapa bulan ini ada seseorang yang mengambil alih tugas itu. Tenang wajahnya mengingatkanku akan keikhlasan terpendam meski lelah seharian mencari nafkah.

Tak butuh jam meja untuk alarm sebagai penggugah diri, tubuhku sudah terbiasa membaca alam untuk kemudian sadar sepenuhnya. Aku mengintip dari celah kelopak mata yang masih terpejam, lelakiku sudah bangun, menatapku tanpa ekspresi seolah mencari kebenaran dari sebuah pertanyaan. Aku kembali menutup mataku erat.

Satu kebiasaannya yang aku suka, ia akan mencium keningku lalu membisikkan doa meminta Allah melindungiku hari ini. Sebelum doa itu selesai aku telah membuka mata dan tentu saja tersenyum, menyempurnakan permintaannya dengan mendoakan hal yang sama untuknya juga kemudian bersama kami mengucapkan “Aamiin.”

Dua detik berlalu, lama sekali. Ada apa dengan lelakiku?

Aku masih menahan diri untuk membuka mata.

Tiga detik... Empat detik... Lima detik.

Kekhawatiran membuatku membuka mata sempurna dan lelakiku masih sama, menatap wajahku tanpa ekspresi. Senyum coba aku hadirkan, tak merubah apa pun.

“Ya Allah, Engkaulah sebaik-baik pelindung, maka lindungilah suamiku hari ini.”

Aku yang bergerak lebih dulu kali ini. Lelakiku mengangguk, ada senyum tipis di ujung bibirnya, “Lindungi juga istriku, Aamiin.”

Ia segera beranjak, menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan bergegas ke masjid. Jarak masjid dengan rumah kami hampir satu kilometer, memang ia mencari rumah tak jauh dari masjid mencoba menyediakan lingkungan terbaik untuk anak-anak kami kelak. Suaranya melantunkan adzan selalu membuatku merinding, lelakiku menyeru umat islam untuk mencapai kemenangan, itu luar biasa, bukan?

Sepeninggalnya aku termangu, ada yang tidak beres. Sikapnya tidak sehangat biasanya, ada apa?

Nanti aku akan bertanya saat ia pulang, sekarang saatnya merayu Allah untuk memberikan rahmat-Nya selalu pada keluarga kecil kami.


Makna di Balik Undangan Pernikahan

Matahari belum sempurna menampakkan sinarnya namun engkau sudah gelisah berada di depan rumahku. Senyum hangat menyambut kedatanganmu, tahu kah aku bahkan sudah mandi.

Selalu ada ceria tentang hadirmu, aku suka.

Masih di atas motor saat engkau mengangsurkan plasik hitam yang segera aku terima. Perlahan dan seksama membaca nama yang tertera. Mulutku yang terngaga sulit sekali untuk menutup, terpaksa telapak tangan kanan mengambil alih tugasnya.

Senyum darimu menjawab semua, ini nyata.

Ahh, andai bisa kuabadikan, harusnya engkau tahu betapa berbedanya mimik wajahmu itu. Aku terlalu sibuk mencerna ini semua.

Kita duduk di teras, undangan itu berserak di atas meja, aku membuka satu atas namaku. Mataku berloncatan cepat membaca tiap baris pemberitahuan tempat walimahan, tanggal dan tentu tak lupa jam pelaksanaan.

Sekali lagi, nama mempelai.

Aku menjerit tertahan, tidak percaya, tapi kembali engkau tersenyum mengiyakan.

Hingga mungkin jengah, engkau kembali menjadi pribadi tak tahu malu di hadapanku, tertawa terbahak-bahak akan keherananku.

Baiklah, aku mulai tersadar. Satu persatu pertanyaan terlontar dan engkau menjawab dengan malu-malu.

Aku bahagia untukmu, sungguh, andai kau wanita sudah kupeluk erat tubuhmu.

“Aku share grup kelas ya?”

Gelengan cepat menjadi jawaban. Aku terkikik.

Ahh, terimakasih ya telah percaya padaku untuk menyampaikan berita baik ini. Kawan, aku belajar banyak padamu akan satu hal. Nanti dulu lah, sekarang aku harus memberikan doa semoga Allah membersamaimu hingga acara selesai, memudahkanmu melafalkan akad hingga halal wanita itu untuk berada di sampingmu.

“Insya Allah aku datang.”

Engkau tersenyum mengangguk.

Bagaimana bisa aku tidak datang, aku ingin melihat sosok wanita itu, seseorang yang membuatmu berani berkomitmen dalam hitungan jari satu telapak tangan. Padahal engkau, yah, aku masih tidak percaya. Kenapa engkau yang lebih dulu?

Oh ya, inilah akhir yang harus aku sampaikan. Terimakasih ya sudah menunjukkan kebesaran Allah langsung padaku. Teguran keras bahwa kitab suci bukan hanya untuk dilafalkan secara tartil, lebih dari itu, banyak ayat yang harus dipelajari kemudian diamalkan.

Sebuah ketentuan yang pasti.

Aku bercermin, menatap dalam kedua mataku sendiri.

Hey, kamu, yang dengan bangga menyatakan diri beriman. Umur, Rezeki, Jodoh dan Kematian yang sudah tertulis pasti... kenapa masih selalu ragu akan hal itu?


-----++++------

Teruntuk teman-teman Ipa 1, tulisan ini untuk melengkapi rasa penasaran kalian. Hhii, maaf yah, saya hanya menjalankan amanah tapi gatel juga kalau ga buat rusuh grup. Aku hanya ingin melihat ekspresi kalian saat membaca nama mempelai.. luv u all.

Kepingan Rasa Puzzle 28

Puzzle sebelumnya  di sini


"Sepi ya kalau nggak ada Gilang di kelas."

Romeo berbicara lirih, seolah memang hanya ditujukan kepada teman yang duduk di sekitarnya, siapa lagi kalau bukan aku dan Agni.

Agni diam, perduli amat sama tukang rusuh satu itu. Dia kembali berkutat dengan proposal di depannya. Anggaran dana untuk proker panjat tebing sedikit membengkak, pasti pihak sekolah urung meloloskannya.

"Kenapa ya Gilang harus di skorsing?"

Romeo menatapku berbinar, sebenarnya aku bukan mengkhawatirkan Gilang tapi lama-lama risih juga melihat Romeo yang seperti kehilangan separuh jiwanya itu.

"Lah, bukan kamu yang lapor ke guru?"

Aku menggeleng, "Romeo, aku mau ngomong serius boleh?"

Demi mendengar aku mengatakan itu Agni menghentikan segala aktivitasnya, kepalanya ikut memutar, kami bertiga seperti membentuk lingkaran.

"Jangan Cili, aku masih sekolah, minimal tunggu aku lulus yah kalau mau serius."

Aku tak mengubah mimik wajah, membuat Romeo menyadari bahwa aku sedang tak ingin main-main. Agni hampir menimpuk kepala Romeo dengan buku paket setebal dua ratus halaman, tapi urung. Bukan apa-apa, takut Romeo pingsan sehingga aku tak jadi bicara.

"Iya maaf, ada apa?" sambung Romeo.

"Aku nggak mau denger kamu nyebut nama Gilang di dekat aku. Kalau perlu kamu pindah tempat duduk, jauh-jauh dari aku."

Romeo ternganga, bukan, Agni juga sedetik kulihat ia tak berkedip.

"Cili, sebenarnya Gilang itu...."

Aku mengangkat tangan, menghentikan kalimat Romeo. Menghadap ke depan lalu membuka kembali catatan matematika.

***

Jarak sekolah dengan rumahku sekitar tiga kilometer, meski angkutan mondar-mandir melewatiku tapi kuputuskan untuk jalan kaki. Suasana hatiku sungguh tak menentu, mungkin saja melihat pohon-pohon hijau tinggi menjulang mampu memperbaikinya.

Pohon-pohon besar berjajar di sepanjang jalan raya, melindungi pejalan kaki dari teriknya matahari siang. Perasaanku tak enak bahkan saat baru saja keluar dari gerbang sekolah, seperti ada seseorang yang mengikutiku dari belakang.

Aku menengok ke belakang, kendaraan roda dua mendominasi dengan pengendara yang memakai seragam putih abu-abu, oh itu jelas teman sekolah. Kembali aku mengayunkan langkah, namun perasaan ini kembali memaksaku untuk menengok.

Tak ada yang aneh, semua terlihat normal, ramai sebagaimana jam bubar sekolah.

Satu kilometer pertama aku lalui dengan menepis semua anggapan. Memasuki kilometer kedua hatiku tak tenang, semakin was-was.

Kali ini aku yakin bahwa sedang diikuti, maka kupasang strategi. Membalik badan dengan tiba-tiba, dan...

"Angga?"

Teman sekolahku itu tengah berjongkok di depan pohon, membenarkan tali sepatunya yang lepas. Merasa namanya dipanggil, ia mendongak dan tersenyum, "Hey, Ci."

Keningku berkerut, Angga berlari kecil menghampiriku, "Kenapa? kayak abis ngelihat hantu."

"Emang iya, kamu ngikutin aku?"

"Dih, GeeR."

"Terus?"

"Ini jalanan umum atuh neng."

"Tapi sejak tadi aku nggak lihat kamu ada di belakang aku loh."

"Oh, aku abis dari rumah temen, tuh rumahnya nggak jauh dari sini."

"Beneran?"

"Kamu kenapa sih Ci?"

Aku ragu, tapi Angga baik jadi aku ceritakan keresahanku.

"Aku ngrasa diikutin orang sejak keluar dari sekolah tadi."

"Masak iya? Lagian kenapa pulang sendiri, nggak naik angkutan?"

Aku menggeleng lemah, "Lagi pengen jalan aja."

"Aku temenin sampai rumah ya?"

"Eh nggak usah, rumahku masih dua puluh kilometer lagi."

Angga menyipitkan matanya, mendekatkan wajahnya ke wajahku yang membuatku reflek membuang muka.

"Bohong."

Aku tertawa.

Begitulah, siang ini Angga menjadi orang pertama di sekolah yang tahu rumahku. Perasaan was-was hilang seketika. Hembusan angin semilir menemani langkah kami yang sibuk bertukar cerita. Satu dua teman sekolah yang lewat menyapa Angga, lalu ia akan memberikan sedikit informasi tentang siapa tadi.

"Masuk dulu?" tawarku.

Angga menggeleng, "Lain waktu yah?"

Aku mengangguk, "Makasih ya."

"Kalau aku anter setiap hari, mau?"

Pipiku merona, khayalku tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi.

Angga pamit.

Hariku sempurna, senangnya sehari tanpa Gilang. Andai bisa selamanya.

Raya

Bagiku Indonesia tak ubahnya jalan raya Banyak kendaraan dengan warna, bentuk serta corak yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama Ba...