Kepingan Rasa Puzzle 32

Puzzle sebelumnya di sini.


Bel berdentang, satu dua kemudian ratusan siswa menghambur keluar, berlomba mencari kebebasan dari lingkup kubus kelas.

"Ci, nggak mau ikut aku?"

Aku menggeleng, tawaran Agni untuk melihat ia berlatih tali tidak menarik bagiku. Secepatnya aku ingin pulang, berdiam diri di kamar dan mengembalikan suasana hati.

"Ya udah, hati-hati pulangnya,"

"Kamu juga hati-hati main talinya, jangan ceroboh."

Agni mengangguk mantap lalu meninggalkanku ke arah basecamp, Raiya dan Dania sudah lebih dulu berpamitan, mereka masing-masing sibuk dengan ekstrakulikuler yang menjadi tanggung jawabnya.

Ruangan kelas lengang, tersisa Romeo, ahh aku malas jika harus berurusan lagi dengannya.

"Cili... "

Aku menoleh, kali ini mau apa lagi?

"Kamu bakal menyesal telah melaporkan Gilang ke guru."

Tatapannya berubah menakutkan, aku heran Romeo ini mampu berubah-ubah hanya karena satu nama, Gilang.

"Terserah, aku bilang tidak pun kau tidak percaya, kan?"

Langkah kaki segera berayun, mencoba secepat mungkin meninggalkan Romeo yang kembali memanggil namaku. Lorong kelas sudah lengang, aku menuju gerbang sekolah saat Romeo berhasil menyusulku.

Ayolah Romeo...

"Cili, sebentar," ujarnya terengah-engah.

Aku menghentikan langkah, menunggunya mengambil nafas ketika itulah kami mendengar suara Angga dan Agni yang tengah berbisik dari balik tembok, tak jauh dari kami.

"Apaaa?? Jadi kamu yang nglaporin Gilang ke guru?"

Terdengar Angga mendesis, meminta Agni untuk mengecilkan suaranya.

Aku dan Romeo berpandangan, terpecahkan sudah masalah ini. Tangan Romeo mengepal, ia siap menghampiri Angga yang masih melanjutkan percakapannya tanpa tahu bahwa kami mendengar semuanya.

"Abis itu anak ngeselin banget, nggak bermutu tau nggak pake acara nyembunyiin paket Ciani segala."

Agni mengangguk setuju, "Sudahlah, biar jadi pembelajaran."

Mereka berdua pergi, napasku menderu, Romeo mencoba mengendalikan diri.

"Aku akan buat perhitungan dengannya, itu pasti."

"Romeo, jangan menambah masalah," ujarku menenangkan.

"Cili, Gilang nggak seharusnya dapet skorsing, Gilang nggak seharusnya dapet musibah ini, Gilang harusnya ada di sini, tertawa bersama kita, bukannya..."

Raut wajah Romeo berubah lagi.

"Romeo..."

Romeo mendongakkan wajahnya, tersenyum.

"Gilang kecelakaan, aku mau menengoknya. Cili, kau ikut?"

Mataku membuka lebar, "Romeo, jangan bercanda."

Senyum sinis kini menghiasi wajahnya, "Bercanda untuk hal semacam ini?"

Aku salah tingkah, bukan seperti itu maksudnya, Gilang kecelakaan? itu nggak boleh terjadi. Gilang apa kau baik-baik saja?

Romeo tak lagi memperdulikanku, ia melangkah cepat keluar sekolah, aku masih terdiam, harusnya aku  menyusul. Satu langkah lagi Romeo menghilang dari gerbang sekolah, kesadaranku kembali, aku berlari.


1 comment:

Yuk sampaikan dengan santun :D

Paket Umroh Murah

Rukun islam yang ke lima adalah naik haji (bagi yang mampu), namun sebagai umat islam tentu keinginan mengunjungi Baitullah adalah sesuatu y...