apa

Masa Lalu

Semburat jingga menjadi penutup hari lelahku dengan sempurna. Setelah puas menikmati semilir angin sawah aku beranjak masuk ke dalam rumah. Menutup pintu sebab kata nenek tak elok rumah terbuka saat azan magrib berkumandang.

Tok...Tok...

Siapa gerangan tamu yang datang? Daun pintu berdecit saat aku membukanya, perlahan menampakkan sosok yang dua tahun belakangan ini tak pernah lagi bersua. Tidak kawan, sama sekali ini tidak membuatku gembira. Waktu dimana matahari tergelincir di ufuk barat adalah waktu yang sama selama lima tahun untukku menghapal jadwal kunjungnya.

Aku mengenalnya kelas tiga SMA, saat itu ia seorang anak laki-laki yang pendiam juga tak banyak teman. Entahlah bukan tak ingin bergabung, tapi seolah memiliki dunia sendiri dimana ia tak terusik sedikitpun dengan bising kelas. Yang membuatku tertarik adalah ia jago sekali tentang teknologi.

Pernah waktu itu ia meminjam ponselku, bertanya satu hal dan tiba-tiba seperti sulapan semua kontak di ponselku terkopi pada ponselnya. Hingga kini aku tak paham bagaimana bisa seperti itu, tak berniat pula untuk mengetahuinya. Oiya kala itu ponsel belum secanggih saat ini. Layar touchscreen belum pernah aku jumpai, semua seragam dengan keypad 3X4.

Sejak itu kami sering berkomunikasi, untukku ini sangat bermanfaat. Ujian komputer yang menjadi momok sudah sirna sejak ia selalu duduk bersebelahan saat praktek berlangsung. Baru aku sadari setelah lulus sekolah bahwa ia menaruh hati dan menjadi awal perpecahan hubungan kami. 

Bukan aku tak mencoba, bahkan sudah berulang kali namun rasa yang ia harapkan ada tak kunjung hadir. Seingatku tak pernah sekalipun aku memberikan harapan berlebih padanya, teman-temanku menyetujui itu. Adakah sikapku yang ia salah artikan? Entahlah, terlepas dari itu semua, cinta hadir tanpa diduga.

Kedua mata itu sayu, bola matanya yang hitam berkilau menyiratkan perasaan sakit yang mendalam. Mulutnya terkatup, gesekan dedaunan menjadi satu-satunya suara di keheningan senja ini.

Aaah, kenapa kau harus hadir lagi? Dua tahun ini kukira berhasil untukmu melupakanku. Mendapatkan penganti yang lebih baik. Bukankah kau sudah melalang ke berbagai daerah? Kenapa kembali lagi ke rumah ini?

Aku tak berani memulai, menunggunya bersuara juga tidak mungkin. Canggung melingkupi sekitar. Alunan azan bersahutan dari kampung satu ke kampung yang lain. Jika tetangga yang akan menuju masjid menyaksikan pemandangan ini, pastilah tatapan tak elok ditujukan padaku. Tapi sungguh aku tak ingin mengajaknya masuk. Selesaikan sekarang juga.

“Ada apa?”

Mulutnya terbuka perlahan, beberapa detik terbuang tanpa ada jawaban. Matanya tak beranjak dari menatapku. Tangannya lemah mengangsurkan undangan yang segera aku mencermati isinya.

Ada rasa bahagia membuncah, akhirnya ia menemukan seseorang yang mampu memutus rasa sakit atas harapannya padaku. Perempuan yang aku berdoa agar dari ketulusan cintanya mampu mengembalikan binar mata itu, cahaya yang memancar dari mata indahnya saat kami baru pertama berjumpa, sebelum tumbuh cinta akhirnya.

“Aku pasti datang,” seruku dengan ceria.

“Jangan”

Mataku memicing, mencoba menangkap maksud dari satu kata yang ia ucapkan.

“Kumohon jangan hadir, sebab dengan adanya kau disana mungkin akan merubah niat baikku untuk perempuan itu”

Rahangku mengeras, lantas apa maksudnya ia datang dan menyerahkan undangan ini untukku?

Kini mata itu dipenuhi air, baiklah jika sampai ia menitikkan air mata maka ini kedua kalinya aku melihat ia menangis. Pertama dulu saat ia memaksaku untuk mencegahnya menyebrang pulau. Aku tak mencegahnya, sudah kubilang rasa yang ia harapkan tak pernah mau singgah di hatiku.

“Percayalah saat yang lain menganggap itu adalah hari bahagia untukku maka mereka salah. Tapi aku akan mencoba bahagia untuk perempuan itu.”

“Lalu aku harus apa?”

“Pergilah dari hadapanku, pergilah menjauh ke tempat dimana aku tidak akan menemukanmu. Sungguh aku tak akan pernah tahu sampai kapan hati ini akan terus condong padamu”

Mata itu tergenang, namun sekuat tenaga ia menahannya. Kali ini aku tak diijinkan untuk melihatnya menangis. Memilukan jika seorang lelaki menangis kedua kalinya untuk hal yang sama.

Ia melangkah gontai, meninggalkanku, berjalan pelan menjauhi perkampungan dan hilang dibalik tikungan. Tunggu, apa kah ia jalan kaki untuk sampai ke rumahku? Jarak rumah kami adalah sebelas kilometer. Berapa waktu yang ia habiskan untuk sampai kembali ke rumah?

Sekuat tenaga aku menahan diri untuk mengejarnya. Tibalah waktunya untuk membiarkan ia pergi. Semoga kelak perempuan itu mampu menghadirkan rasa yang engkau harapkan. Bahagia selalu untuk kalian.


------------++++++++++++------------

Hanya fiksi, kesamaan kejadian hanya rekayasa belaka yang dibumbui kenangan :)



Piknik



Disini aku sekarang, diantara hamparan hijau yang menyejukkan mata. Jika dipikir-pikir sudah lama rasanya tidak membiarkan jiwa ini diisi oleh desau angin alam liar yang segar. Ini pun tidak akan terjadi bila saja teman-teman mengiyakan penolakanku seperti sebelumnya. Entah mungkin keinginan mereka telah bulat, terpendam lama hingga tak terbendung lagi. Pekerjaan yang tak ada hentinya menjadi alasan terkuat mereka membujukku.

Baiklah, kurasa aku juga perlu pergi berlibur. Toh ada saatnya memikirkan dia saja tidak cukup melepas letih yang mendera, mungkin berbeda jika ditemani baca buku, eh.

Tempat yang kami tuju adalah alam dengan segala pesonanya. Takdir mempertemukan kami untuk tidak senang pada hal yang sama, berbelanja, hhaa. Uang adalah sebab utama, sia-sia saja sepertinya jika kerja keras sebulan hanya dihabiskan untuk membeli barang yang belum begitu kami butuhkan. Jarang sekali kami memilih pusat perbelanjaan untuk berkumpul, walaupun semuanya tersedia tak jauh dari tempat kerja. atau mungkin karena itu? tempat yang mudah dijangkau membuat kami berpikir ulang untuk mengunjunginya jika ada waktu senggang? Besok masih bisa, dekat ini.

Sepertinya tidak sepenuhnya benar. Ada rasa berbeda setiap menapaki tempat baru yang belum pernah dikunjungi. Mengabadikan beberapa momen untuk menjadi kenangan yang tak hanya tersimpan dalam memori otak. Terlebih sebagai bukti otentik pada orang tua atas ijin keluar rumah.

Aku sendiri tak paham kenapa lebih condong untuk berpetualang di luar ruangan ketimbang dalam gedung. Bisa jadi bosan, karena sehari-hari terkurung dalam ruangan atau ada dalam diri yang menggelitik untuk mencoba hal yang belum pernah. Entahlah tiba-tiba saja kami sudah melewati gerbang pendakian gunung lawu.

Mendaki?

Iya dong.

Sampai puncak?

Jangan konyol, kami tiba pukul 11 siang dan harus berada di rumah pukul 3 sore. Tak apa, memang tidak ada niat untuk mendaki hingga puncak. Saat melewati jalur pendakian serasa menjadi seperti pendaki dengan carier di punggung yang berpapasan, bisa diterka dari baju kumal dan wajah lelahnya mereka telah berhasil hingga puncak. Sapaan ramah khas pendaki yang memberikan semangat mengingatkanku tentang hobi lama yang sekarang sudah tak terjamah lagi.

Waktu yang sebentar ini meninggalkan kesan mendalam diantara kami, bahkan untuk liburan selanjutnya sudah ada tempat baru yang akan kami tuju. Kemanakah? tunggu saja.

Oh ya, ternyata pengalaman travelling bisa membuat orang jauh lebih bahagia loh, banyak hal positif yang didapatkan dari traveling. Data ini dikutip dari sebuah perusahaan asuransi asal inggris yakni LV yang baru-baru ini membuat survei terhadap 2000 responden. Survei tersebut berisikan perbandingan antara hal yang membuat orang bahagia : pengalaman dan belanja.

Hasilnya?

Mengutip situs Lonely Planet, hanya 8 persen responden yang mengungkapkan bahwa belanja-lah yang bisa membuat mereka bahagia. Jadi hampir semua responden sepakat bahwa traveling ke negara lain, terutama yang baru pertama didatangi, membawa banyak kebahagiaan. (Indozone)

Itu di negara Inggris, bagaimana dengan Indonesia?


Modul


Sedari dulu saat pertama aku diijinkan guru untuk menulis dengan pena maka tak ada satupun hal terlewat tanpa aku catat. Memperhatikan bapak dan ibu guru menerangkan di depan kelas adalah hal menarik yang tak ada duanya. Takjub menyelimuti ruang kelas saat beliau menguraikan penjelasan yang tidak tercetak pada buku panduan, terlebih saat setiap pertanyaan dari teman-teman mampu dijawab dengan memuaskan. Sejak itulah aku berpikir bahwa guru adalah orang hebat yang tahu segalanya. Pasti akan sangat menyenangkan untuk menjadi seorang guru.

Menginjak remaja dunia yang kukenal bertambah luas, mengikuti berbagai ekstrakulikuler sekolah menjadi kesibukan tambahan disamping belajar. Singkat cerita aku bergabung dengan organisasi islam dan terlibat dalam program kerja bedah buku di sekolah, menghadirkan seorang ustad dan juga penulis yang menjadi pembicara. Pandanganku berubah, betapa barokahnya hidup menjadi seorang yang mengingatkan sesama agar selamat dunia dan akhirat. Mungkin menulis hal yang bermanfaat akan mengalirkan pahala tak terputus, heemm... terdengar mengagumkan.

Setelah itu banyak hal aku temui, tak henti aku berdecak kagum setiap berkenalan dengan orang baru dan profesi baru. Tapi tak mungkin aku menjadi semuanya kan? Maka dari itu bertahun-tahun setelah kebimbangan menyelimuti hati, disinilah aku sekarang.

Layar proyektor menampilkan tulisan-tulisan yang cukup mudah dibaca meski peserta berada di kursi paling belakang, moderator duduk di atas sofa panjang yang terletak di depan spanduk besar bertuliskan, “Menemukan Potensi Diri”. Pembicara menguasai aula yang bagiku terasa dingin sebab tak biasa berada diruangan ber-AC. Beberapa kali terdengar riuh peserta saat pembicara melontarkan guyonan-guyonan sebagai penyegar di tengah diskusi yang serius ini.

Aku? Takzim pada buku catatan, tak boleh ada yang terlewat apa pun yang ditampilkan pada layar juga apa yang pembicara utarakan.

Hampir setengah acara berjalan, aku menyadari sesuatu yang mengusik. Disampingku duduk seorang perempuan dengan jilbab lebar dan berkacamata, ia tak mencatat apa pun. Wajahnya penuh minat setiap pembicara menjelaskan satu persatu dari tulisan yang muncul di layar, ikut tertawa saat caandaan nara sumber terdengar konyol. Santai sekali.

Beberapa kali aku melirik, tak ada catatan panjang yang ia bubuhkan pada buku, hanya satu dua kalimat yang menghiasi modul dengan warna pena berbeda. Aku biarkan dulu. Selang beberapa waktu aku gemas juga, seminar ini kami membayar mahal jadi sudah seharusnya memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada. Setelah menimbang-nimbang aku harus menyadarkannya dan untuk itu aku harus tahu dulu siapa dirinya.

“Mbak, dari mana?”

Perempuan itu tersenyum, mengangguk kecil sebelum menjawab pertanyaanku, “Dari wonogiri mbak, kalau mbak nya sendiri?”

“Saya Klaten mbak, ooo wonogiri, jauh juga ya, tadi dianter mbak?”

“Iya sama suami”

Aku mengangguk, “Hhii, kirain masih kuliah mbak”

“Sudah lulus mbak, angkatan 2012. Mbaknya angkatan berapa?”

“Saya baru sementer lima mbak. Sekarang sibuk apa mbak?”

“Di rumah aja mbak, bantu suami”

Dapat. Pantas saja, menikah muda dan menjadi ibu rumah tangga. Ahh, mungkin ia tak seharusnya ada di ruangan ini. Buang-buang waktu saja. Bisa kutebak bahwa ia tak akan membawa pulang ilmu apa pun sebab tak sedikitpun kulihat rangkuman ilmu yang pembicara sampaikan. Tak yakin jika ia menghapal semua materi ini, ingatan itu tidak bisa dipercaya bahkan Imam Syafi'i sendiri menganjurkan untuk mengikat ilmu dengan menulisnya. Ironi melihat ibu rumah tangga masa kini yang tidak tertarik untuk banyak belajar lagi.

Masih ada waktu, mungkin jika beruntung aku bisa menyadarkan mbak ini untuk segera mencatat, ketertinggalannya bisa pinjam milikku.

“Ehhmm... Mbak?,” sungkan juga ternyata untuk memberitahu orang yang lebih tua

“Iya?”

Aiisssh, biar kutebak pastilah suaminya jatuh cinta karena senyum manis itu. Aneh, tak ada lesung pipit di wajah namun terlihat manis sempurna.

“Sejak tadi aku tak melihat njenengan mencatat”

“Dan saya melihat mbaknya rajin sekali mencatat”

Aku tersipu, ahh ternyata ia juga memperhatikanku, baiklah ini lebih mudah.

“Lalu kenapa mbak ngga mencatat?”

“Kenapa saya harus mencatat?”

Ya, biar pahamlah. Masak iya kayak gini aja saya harus kasih tahu? Udah pernah jadi mahasiswa juga kan?

Perempuan disampingku itu tersenyum lagi. Tangan putihnya membuka halaman modul yang aku pun juga punya, “Kenapa saya harus mencatat sebanyak itu jika semua sudah tercatat rapi dalam modul ini?”

Duaarrrr, ingin rasanya aku ditelan bumi saja. Modul yang telah dibagikan seminggu 
sebelum pertemuan tidak sekalipun aku membacanya, sok sibuk dengan urusan formal lainnya. Dan segala prasangkaku pada perempuan disampingku ini salah besar.

“Maaf, membiarkanmu mencatat terlalu banyak, tapi semoga dengan ini engkau paham betul bahwa membaca adalah awal dari segala ilmu.”

Meringis. Pasti jelek sekali mukaku. Menunduk adalah hal yang saat ini bisa kulakukan, menunjukkan rasa kalahku. Dasar sok tahu, rutukku dalam hati. Kawan, beritahu bagaimana harus kulewati satu jam lagi bersama perempuan cerdas yang telah kuremehkan ini.

Oh ya ngomong-ngomong siapa yang sering tak perhatian untuk membaca modul?


Hanya Ingin Dimengerti



Semangkok soto ayam dengan aroma memikat serasa nikmat untuk segera di santap. Tak lama segelas teh panas hadir melengkapi menu makan siang kali ini. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi beberapa sendok sambal aku masukkan dalam mangkok, potongan gorengan ikut meramaikan. Masih mengepul, tapi aku tak peduli. Mari makan.

“Tan, kamu baik-baik saja?”

“Apa maksudmu?”

“Tak biasanya kau memesan makanan dan minuman panas bersamaan, ada apa?”

Aku mengulum senyum, “Sedang butuh kehangatan, hhii”

Tawaku terdengar garing dan Dania tau itu. Di sela-sela mengunyah makanan dalam mulut berulang kali aku mengecek ponsel. Memastikan tak ada pesan penting lalu kembali menikmati pedasnya soto ayam Mbah Min.

“Ahh selalu. Bosan aku denganmu”

“Bosan dengan siapa?”

“Kau, siapa lagi”

“Aku?”

Dania menghela napas. Aku tak peduli. Suasana hatiku sedang tak ingin membahas apa pun, kecuali 
menunggu keajaiban datang lagi siang ini.

“Keajaiban itu tidak ada Tan, berpikirlah sedikit logis”

Tidak mendengarkan perkataannya mungkin aman buatku, entah kenapa Dania cerewet sekali siang ini. Oh tidak, sejak tadi pagi. Semenjak aku lebih sering mengecek ponsel, bergumam sendiri dan cemberut setelah itu.

“Tan, kau mendengarku tidak?”

“Iya dengar”

“Pinjam ponselmu”

Reflek aku menyembunyikan ponsel yang tergeletak di atas meja ke dalam saku. Dania pasti aneh-aneh.

“Sesuai dugaanku, ini masalah Damar”

Pura-pura tak mendengar, Dania sebentar lagi akan berceramah panjang lebar dan karena hanya ada aku disini pastilah kena sasaran.

“Ayolah Tan, kalian sudah dewasa jangan bertindak seperti anak kecil”

“Kau tahu apa?”

Akhirnya aku bersuara, gemas juga lama-lama.

“Kalian bertengkar lagi? Kau sedang menunggunya untuk mengirimi pesan kan?”

“Kami tidak bertengkar”

 “Tapi menantinya, iya kan?”

Selera makanku menguap, “Sudahlah Dan. Kau pasti bosan mendengar curhatku tentang Damar”

Dania tersenyum, “Tak pernah sekalipun aku menolak ceritamu. Ada apa?”

Bibirku pelan menjelaskan sedikit kejadian tentang malam kemarin. Dania tak menyela sedikitpun, aku menghargai dia. Masalahku pasti terdengar konyol dan sepele tapi tetap saja Dania dengan serius memperhatikanku. Maha Baik Tuhan menciptakan sahabat seperti Dania.

“Damar tidak seperti itu Tan, bukan ia tak rindu kau. Dengan menyuruhmu fokus terhadap seminar yang sedang kau hadiri adalah bukti ia tidak egois”

“Dan, kami jarang bertemu. Susah sekali menyamakan waktu untuk sekedar berkomunikasi. Tapi saat waktu itu ada ia dengan seenaknya menghentikan semua”

“Bukankah Damar sudah bilang bahwa ia berjanji akan mengatur ulang pertemuan denganmu?”

Ada isak tangis yang tiba-tiba hadir. Aku tak tahu kenapa, sesak sekali rasanya menyadari bahwa Damar tak memiliki rasa sepertinya, “Aku hanya rindu ia, Dan. Katakan padaku apa yang salah?”

“Salah besar jika kau hanya menunggunya, ciptakan kesempatanmu. Ingatlah sebentar lagi kalian akan menikah. Menyatukan dua dunia berbeda tak akan pernah mudah”

Semalaman aku tak memberi kabar, Damar pun tak berniat untuk menghubungiku. Sepele.

Kuambil ponsel dalam saku, mengetikkan beberapa huruf untuk memulai percakapan.

“Haii..”

Terkesan kaku, aku tak peduli.

Beberapa detik berselang, pesanku tak berbalas. Baiklah aku sudah mencoba.

Kriiinggg... kriiinggg

Panggilan masuk dari Damar. Senyum menghiasi wajahku.

“Hallo...”

“Heii Cantik, tak boleh marah seperti itu lagi. Berjanjilah”

Mendengar suara hangat dari seberang membuang segala rasa amarahku. Aku hanya harus kembali belajar, ketika wanita merasa ingin selalu dimengerti ia lupa bahwa lelaki adalah makhluk yang tak peka dan butuh ucapan nyata untuk segalanya.


------++++++------------

Dahulu kala, orang Mars berjumpa dengan orang Venus. Mereka jatuh cinta dan menjalin hubungan yang membahagiakan karena mereka saling menghormati dan menerima perbedaan-perbedaan mereka. Kemudian mereka tiba di bumi dan mulai menderita amnesia. Mereka lupa bahwa mereka berasal dari planet yang berlainan. (Men Are from Mars, Women Are from Venus)

Dua Teman

Beruntungnya aku memiliki dua teman yang selalu ada. Mereka tak akan pernah pergi seperti kebanyakan teman yang lain, tak perduli bagaimanapun kondisiku. Keduanya seringkali berbeda pendapat, oh bukan sering tapi selalu. Hanya bisa terkikik saat melihat mereka beradu argumen. Keputusan terakhir memang ada di tanganku namun tak urung mereka memiliki andil besar untuk itu.

Sebut saja mereka 1 dan 2, sudah ada nama sebenarnya untuk mereka bukan sekadar angka seperti yang kuberikan. Hanya ingin membuat mereka berbeda, tak sama dengan yang lain.

Si 1 selalu melangkah ringan bersamaku, tertawa dengan apa pun yang aku kerjakan, kami sering menikmati hal-hal gila bersama. Terkadang menggoda adik kecil dengan merebut lolipop dari tangannya. Melihat tangisan si kecil serasa ada kepuasan tersendiri bagi kami, namun tenang saja si kecil tak pernah menaruh dendam padaku berkat Si 2 yang memintaku untuk mengembalikan dan meminta maaf setelah itu.

Si 2 memang terkesan sangat membosankan tapi aku butuh kehadirannya. Tak lengkap jika hanya jalan berdua, kami harus jalan bergandengan bertiga.
Persahabatan kami terbilang cukup lama, berpuluh tahun dan mereka tak pernah sekalipun pergi walaupun semarah apa pun diriku pada mereka. Seperti siang ini.

Aku merasa tak ada gairah lagi untuk hidup, berjuta ton beban membuat pundak mereot, masalah berdatangan tanpa ada solusi. Tugas kedua temanku bukan memberi solusi, mereka hanya memastikan diri untuk selalu ada dan memberikan dukungan. Memotivasi tanpa jalan keluar yang pasti, tetap saja semua akan kembali padaku.

Keduanya mengajakku untuk berlibur, hamparan hijau nan berbukit mungkin bisa melepas penat, angin segar pegunungan bisa jadi memberikan hal yang tak terduga. Sungguh aku menghargai usaha mereka, namun tak kunjung kudapati semangat dalam diriku. Dan disinilah aku sekarang...

Berdiri di tepi jurang menatap jauh ke bawah, tak berdasar. Batas jalan aku abaikan, melompatinya untuk bisa seperti ini. Kualihkan pandanganku ke depan, hamparan hijau yang seharusnya menentramkan justru membuatku muak. 
Sekeliling pemandangan begitu indah, menakjubkan, tak henti hati berdecak kagum tapi tak memberikan pengaruh. Keinginan untuk segera terjun semakin bulat, dengan begini aku menghilang dari dunia fana, terbebas dari rasa sakit juga kebohongan yang membungkusnya. Masalah tak kan mengejar hingga tak perlu bersusah payah mencari solusi. Inilah jalan keluar terbaik yang terpikirkan.

Kedua temanku masih bersamaku hingga kini, yakin sekali jika nanti aku ditelan kedalaman jurang inipun mereka akan tetap bersamaku, tak pernah sedikitpun meragukan kesetiaan mereka. Perdebatan mereka kali ini mungkin menjadi yang terakhir sebelum kami pindah dunia.

Si 1 : “Tersenyumlah kawan, bukankah sebentar lagi kau akan bahagia?”

Aku : “Benarkah setelah ini aku akan bahagia?”

Si 2 : “Pasti”

Ahh salah, mereka tidak beradu argumen, mereka mengiyakan keputusan yang aku ambil.

Baiklah, jangan terlalu lama menunda aku rindu untuk bahagia. Tubuhku meluncur dengan kecepatan yang semakin lama semakin tak terkendali, menghujam ranting-ranting kayu dan meninggalkan beberapa sayatan perih, bajuku terkoyak menyerupai pengemis ibu kota yang compang-camping. Tapi aku menikmatinya. Telinga berdengung, mata tetap terpejam menahan sakit ini, membiarkan darah segar mengalir dari luka-luka kecil di sekujur tubuh. Sebentar lagi... sebentar lagi semua ini akan musnah dan bahagia sedang menungguku.

Semakin dalam, semakin gelap sekelilingku, aku tahu meski mataku terpejam. Udara dingin menusuk kulitku. Meringis saat angin sepoi menyapa lukaku. Masih meluncur. Tetiba rasa takut menyelimuti, benarkah jurang ini memiliki dasar? Akankah setelah ini bahagia tercipta? Aku meragukan keputusanku sendiri. Tetesan air langit membasahi tubuhku, dimulai dari kaki mengalir ke area kepala dengan amis darah, melewati kepalaku dan lebih dulu meninggalkanku mencari dasar jurang. Posisi terbalik semacam ini membuat kepalaku pening, mual dan berkunang.

Si 1 yang lebih dulu terjun berteriak bahagia tak jauh dariku, sedangkan si 2 tak terdengar suaranya. Ia memang tak banyak bicara. Tunggu, mungkinkah ia tidak ikut bersama kami untuk terjun? Dasar pengkhianat.

Halilintar menyambar pohon tua di bawahku, nyala api menghangatkan tubuh, untung tidak membakarku. Semakin jauh aku terjun semakin aku tak yakin dengan keputusanku. Saat inilah aku membenci si 2, bukankah tadi ia meyakinkanku bahwa akan ada bahagia setelah ini? Tapi mengapa ia sendiri tak ikut terjun bersama? Lihat saja, setelah sampai dasar jurang, aku akan memutuskan pertemanan dengannya.

Aku menunggu... menunggu sangat lama namun tak kunjung tiba, bertemu dasar jurang dan menjemput bahagia. Masih jelas terdengar si 1 yang berteriak girang.

Kurasakan kaki kananku seperti terikat. Tali melilitnya kuat membuatku berhenti terjun bebas.

Di dinding terbing nampak sesosok tubuh yang mengayunkan tangannya, inikah dasar itu? Aku menyambut tangan itu, susah payah hingga kami menempel pada dinding. Dari dekat jelas terlihat si 2 yang berkeringat, disekujur tubuhnya juga penuh luka sepertiku bedanya ia masih saja tersenyum. Lengkingan si 1 perlahan menghilang dalam kegelapan, pasti jarak kami semakin lebar.

Ada yang kau lupa kawan”

Aku mengernyitkan kening, aku sudah tak sanggup berpikir dengan kondisi seperti ini, “Katakan”

Sebelum terjun, kau lupa mendongakkan kepalamu ke atas. Kau belum melihat langit yang berdiri gagah dengan awan-awan putih bersih disana. Awan mendung yang mengandung air hujan bukanlah bencana, dia diperintahkan Tuhannya untuk menghidupkan tanah gersang. Adakah kau ambil pelajaran?”

Baru kali ini si 2 berbicara cukup panjang terlebih ia menasehatiku. Tapi aku 
tak tahu kemana arah pembicaraan ini.

Aku lelah dan aku menyerah,” rintihku

Si 2 mengenggam erat tanganku, membawaku melesat terbang ke atas. Kami berdua terdiam. Tak seperti perjalananku terjun yang membutuhkan waktu lama, baru dua detik kami telah berada di tempat sebelum aku terjun, di tepi jurang.

Lelah atau jengah? Tetap saja bukan saatnya untuk menyerah”

Saat si 2 mengatakan itu datang si 1 yang sudah tak berbentuk. Darah mengucur dari setiap bagian tubuhnya, rambutnya terjabut sebagian, tangannya tak berada di posisi seharusnya, kedua kakinya patah membuat ia berjalan dengan pincang.

Dasar jurang memang ada, tapi kuharap cari jalan lain untuk menghabiskan nyawamu. Ini sangat menyiksa”

Kenapa kau tak mati?”

Dasar manusia, bagaimana aku bisa mati. Selagi kau masih hidup tugasku masih berlanjut”

Napasku naik turun, menyusup rasa bahagia dalam dada. Sungguh tak ingin lagi aku tergesa.

Cemas

Aku melangkah keluar dari ruang dosen, menuju gerbang utama universitas. Pukul 16:02 masih sangat memungkinkan untuk menanti BST di depan halte kampus. Belum terlalu sore namun hujan yang tak henti mengguyur sejak pagi tadi merubah warna langit menjadi kelabu.

Lengang, tak ada orang lalu lalang meski kulihat beberapa mobil terparkir rapi di halaman. Itu pasti milik kakak kelas, tak perlu heran. Cobalah bertandang ke fakultas hukum saat pagi maka kau lihat beragam mobil dari segala perusahaan berjejer rapi. Satu dari sekian banyak perbedaan mencolok dengan fakultas lain. Tak ada yang salah, kebanyakan orang tua mereka adalah penegak hukum yang telah sukses, dan anaknya menginginkan kesuksesan yang sama.

Payung berwarna merah menyala menjadi pelindung kepalaku dari sisa-sisa hujan yang mulai reda. Biasanya aku mengendari jazz putih dengan kepala besar hello kitty yang menempel apik di kaca belakang, di dalamnya warna pink mendominasi dengan harum bunga melati. Ibuku adalah perias pengantin, selalu sisa-sisa melati aku sebar di dalam mobil untuk menentramkan perasaan setelah berkutat dengan pasal-pasal di dalam kelas.

Sekarang tidak boleh, aku harus terlihat biasa saja karena diminta dosen untuk membantu memecahkan masalah anak jalanan yang berhubungan erat dengan tindak kriminal. Berbahaya jika mereka memergokiku mengendarai mobil, tak ada yang tahu apa yang bisa mereka lakukan karena telah mengusik hidupnya. Anggap saja ini totalitas.

Gedung perpustakaan tiga lantai terlihat menyeramkan tanpa mahasiswa di dalamnya, ahh ya jam operasional memang sampai pukul 8 malam tapi kurasa mahasiswa lebih memilih mengistirahatkan otak mereka sejenak di rumah ketimbang membuat otak panas dengan jurnal-jurnal.

Melewati Fakultas teknik membuatku semakin tenang, setelah ini gedung rektorat dan hanya 500 meter lagi untuk keluar dari kampus. Semenjak aku mengiyakan kasus ini perasaanku seolah diikuti oleh seseorang, entah siapa tapi sampai saat ini toh semua itu tidak terbukti.

Menurut ilmu dasar psikologi yang aku dalami pada semester awal, takut merupakan salah satu emosi dasar selain kebahagiaan, kesedihan dan kemarahan.

Nah kan... hatiku ciut tiba-tiba. Di bawah pohon beringin berkumpul beberapa orang bermotor. Berpakaian biasa dan tidak terlihat membawa tas seperti kebanyakan mahasiswa. Seolah diisyaratkan semua pandangan mata tertuju padaku. Tak mungkin putar balik dan mencari jalan lain, semakin berisiko. Bentuk tanah yang bergelombang memaksa pihak universitas untuk menanam pohon-pohon besar untuk mencegah erosi, jika siang memang sangat sejuk tapi sekarang begitu ngeri.

Aku merutuki diri yang menolak Bu Ismi untuk pulang bersama, jelas, sebab ia baru akan keluar kampus ba'da magrib sedang aku ingin segera tiba di rumah. Atau lebih baik aku kembali ke ruang dosen dengan tampang tak tahu malu kemudian meralat ucapanku? Ahh tidak.. tidak.

Satu tarikan nafas tidak membantu sama sekali, kuulangi menarik nafas lebih dalam lebih dari tiga kali dan nihil. Aku mulai curiga pada diriku sendiri yang cenderung cemas terhadap segala hal. Baiklah, ini kasus perdana jika di awal aku tak bisa mengontrol diri maka menjadi hakim sepertinya akan mustahil. Saatnya mendoktrin diriku sendiri.

Perlahan kembali kuayunkan langkah kaki, memasang wajah biasa saja dan abai terhadap tatapan mereka. Semakin dekat jarak diantara kami tak dipungkiri semakin berdegup detak jantungku.

Salah satu dari mereka menyalakan mesin motor, suaranya yang tak halus membuat kakiku gemetar. Sekitar lima langkah lagi aku melewati mereka dan saat itulah orang yang menyalakan motornya telah melaju pelan mendekatiku. Waspada, apa pun bisa terjadi dan kembali harus kutekankan pada diri sendiri, wanita tidak boleh berjalan sendiri, terlebih saat kasus dalam genggaman, sangat berisiko.

Aku terus berjalan, menatap lurus ke depan saat pemuda bermotor itu mengiringi langkahku.

“Ojek, Neng?”

Fiuhhhhh.... aku lupa kampusku memiliki layanan ojek online dua puluh empat jam. Kulihat dileher pemuda itu tergantung kartu sebagai pengenal dari kampus. Mereka mahasiswa di kampus yang sama denganku.



Sembab


Suasana apotek pagi ini lumayan ramai, banyak pembeli datang dan pergi. Apa dunia ini sudah sakit? Hingga apotek menjadi tempat yang sering dikunjungi. Ngeri juga membayangkan orang-orang begitu bergantung pada obat-obat kimia, yah meskipun senang juga jika apotekku ramai seperti ini.

Arin sedari tadi menunduk, di depannya terhampar kertas stok obat-obatan dengan banyak nama. Ia sibuk memasukkan data ke dalam komputer, akhir bulan saatnya stok opname.

“Rin, tak usah kau bersembunyi dariku, mengaku sajalah”

Masih di posisi yang sama, tak sedikitpun ia mendongakkan wajahnya, “Mengaku apa sih Na?”

“Kau menangis semalaman kan?”

Senyum tipis Arin mengiyakan pertanyaanku, “Apa yang telah Arfa lakukan padamu? Biar kuhajar dia”

Tawa kecilnya memenuhi apotek, bercampur dengan bau obat-obatan.

“Arfa tak melakukan apa pun padaku, ia tak bersalah, Na”

“Berhenti membohongiku. Kau menolak kuajak nonton kemarin, pasti kau sedang berduaan dengan Arfa kan?”

Seorang ibu datang menghentikan sementara percakapanku dengan Arin. Sepuluh menit, waktu yang cukup lama untuk melayani pembeli. Maklum saja ibu ini bertanya sangat detail tentang obat syrup penurun panas untuk anaknya yang berusia di bawah lima tahun. Bermacam merek ia bandingkan satu persatu, baru mengiyakan saat aku menyarankan untuk obat syrup rasa jeruk. Beliau setuju, dengan rasa buah anak-anak terbantu untuk menelan obat

“Jadi Rin, apa yang sudah terjadi”

Arin menghentikan pekerjaannya, memandangiku beberapa saat dan kembali tersenyum. Ahh gadis ini sedikit-sedikit tersenyum macam orang gila saja.

“Kau terlalu cepat menjatuhkan vonis terhadap sesuatu, tahu dari mana?”

“Nah tuh matamu bengkak, pastilah akibat nangis semalam kan? Dan satu-satunya orang yang tega melakukan ini adalah Arfa, lelaki tak begitu tampan yang kau sukai itu”

“Na, kau berisik sekali sih. Pening mendengar ocehanmu”

Bingo. Kau baru saja mengatakannya”

“Apa?”

“Ketika seseorang menangis semalaman maka esok pagi saat ia terjaga akan merasakan sakit kepala sebab dehidrasi pada tubuh. Perlu kujelaskan kenapa? Sebab saat menangis, udara akan cenderung masuk melalui mulut karena hidung buntu tertutup lendir. Mulut menjadi kering dan tubuh dehidrasi akibat air yang keluar lewat hidung dan mata”

Arin lagi-lagi tersenyum lalu aku menyadari satu hal. Menjelaskan hal ini panjang lebar kepada seorang apoteker? Ahh sia-sia. Itu ilmu dasar yang ia sendiripun sudah hapal diluar kepala.

“Oke Rin, tak apa jika sekarang kau belum mau menceritakannya. Lebih baik kompres dulu matamu dengan air es. Tak indah aku memandangnya”

“Kau tak mau menerangkan bagaimana menangis semalam dapat menyebabkan mata sembab?”

Ohh baiklah, sekarang Arin mengejekku yang sok pintar. Jika pengunjung apotek yang bertanya maka dengan senang hati akan aku jabarkan bahwa ada dua penyebab mata bengkak setelah menangis. Pertama saat menangis terjadi proses peningkatan aliran darah di area wajah yang memicu terjadinya pembengkakan di kulit bawah mata, kedua yaitu cairan air mata yang mengandung garam dapat menyebabkan mata menjadi merah dan pembuluh darah di bawah kulit mata yang tipis jadi semakin besar.

“Sudah sana Rin, jangan lupa perbanyak minum air. Ah kau merepotkan saja, kenapa tak kau amalkan ilmumu hah? Jangan membuatku berceramah panjang lebar untuk sesuatu yang telah kau mengerti”

Arin berdiri, tidak menuju ruang belakang tapi menghampiriku di depan etalase kaca. Memelukku dan tersenyum lagi.

“Hei, apa-apaan kau ini. Memalukan, tidak baik jika ada yang melihatnya”

Arin melepaskan pelukan, menatapku dan tersenyum.

“Bicaralah, jangan senyum-senyum tak jelas semacam itu”

“Na, aku ingin membuat pengakuan padamu tapi berjanjilah untuk tak marah setelah ini”

Mungkin ini tentang Arfa, oke baiklah. Tuhan bukan aku ingin menolak rizkimu tapi tak asyik sekali jika ditengah perbincangan kami harus ada pembeli yang menyela, hhii. Maafkan hambaMu.

“Ini bukan tentang Arfa, kau tahu seorang wanita tidak sepantasnya menangisi lelaki manapun yang belum memiliki ikatan suci. Itu hal bodoh.”

“Lalu kenapa kau menolakku untuk pergi nonton?”

“Karena.... ehm, aku...”

“Kenapa Rin, jangan kau buat aku penasaran seperti ini”

“Sejujurnya aku tidak suka dengan film yang ingin kita tonton bersama, selera kita berbeda. Dan tentang menangis semalam itu memang benar”

Aku menanti Arin melanjutkan.

“Hingga tengah malam aku menonton drama Thailand sendiri di rumah, kau tahu aku suka drama yang menyayat kan? Dan mudah bagiku meneteskan air mata untuk itu. Aku kelelahan sampai terlupa untuk meletakkan potongan timun pada mata sebelum tidur”

Aku menepuk pelan keningku, “Kau mengerjaiku ya? Kenapa tak bilang sejak awal?”

“Hahaaa... aku suka saat kau begitu khawatir tentang keadaanku. Aku suka kau begitu cerewet seperti ibuku”

Kini aku yang tersenyum. Syukurlah sahabatku baik-baik saja.

---------+++------

Sumber : www.majalahsiantar.net, m.vemale.com


Merindumu

“Neng, lagi jatuh cinta ya? Dari tadi senyum-senyum sendiri”

Aku menepuk pelan dahiku, malu rasanya abang tukang es buah memergokiku seperti ini, “hhii, udah belum bang?,” tanyaku megalihkan perhatian.

“Udah Neng, enam belas ribu”

Ayunan langkah kakiku seolah tak menapaki tanah, ringan seperti suasana hati yang riang tak terkira, mungkin jika diteruskan aku bisa terbang seperti sepasang burung kecil yang berkejaran tak jauh di atasku.

Dua blok lagi aku akan sampai, jadi kutahan senyum tak jelas ini sebab akan sangat memalukan jika Ibu atau adik kecil itu mengetahuinya. Ahhh mereka tak akan berhenti untuk terus mengejekku dan pasti orang yang menjadi alasanku tersenyum akan merasa menang. Ya.. yaa... aku masih punya gengsi untuk memperlihatkan rasa cintaku.

Arya bermain kelereng di depan rumah, tenggelam dalam dunianya sendiri hingga tak menyadari kedatanganku.

“Permisi jagoan”

Adik kecil itu mendongakkan kepalanya, terkejut. Berhasil, suka sekali aku membuat kejutan untuk keluarga ini.

“Kak Mun?”

Aku mengangguk dan menunjukkan bungkusan di tanganku, es buah kesukaan dia dan kakaknya.

“Kenapa baru datang?”

Baru datang? Biasanya ia akan bertanya kenapa datang tak beri kabar. Lagi pula dua minggu lalu aku sudah ke rumah ini, belajar memasak dengan ibu juga menemaninya membuat berbagai bentuk origami.

Kak Mun, terlihat bahagia, ada apa?”

Hei jagoan, kenapa pertanyaanmu seperti itu? Tidakkah kau bahagia melihat kedatanganku?”

Kakak terlalu lama datang, sungguh tega membiarkan Kak Rio kesakitan”

Senyumku menghilang, adakah yang terlewat? Ahh ya, seminggu ini Rio berbeda, tak banyak memberikan kabar kepadaku. Ia berdalih sibuk, aku memaklumi. Namun rinduku sudah tak lagi terbendung sebab ia selalu menolak untuk mengangkat telpon, merusak fokus, begitu katanya. Itulah alasan mengapa sekarang aku berada di rumah ini. Aku rindu Rio.

Ibu ada di dalam?”

Arya mengangguk.

Kak Mun masuk saja, aku tak mau masuk”

Kenapa?”

Aku sedih setiap melihat Kak Rio”

Detak jantungku tak beraturan, kutinggalkan Arya yang kembali sibuk dengan beberapa kelereng yang tersebar di halaman. Ruang tamu terlihat lengang, ucapan salamku tak ada sahutan. Ruangan selanjutnya adalah kamar Rio, bimbang untuk masuk, tak elok rasanya jika seorang gadis tanpa ijin memasuki kamar laki-laki. Daun pintu sedikit terbuka dan kulihat ibu duduk di kursi sebelah ranjang. Dimana Rio?

Kuurungkan niat untuk mengetuk pintu. Menunggu disini kurasa pilihan yang tepat.

Tak lama berderak suara pintu terbuka, kudapati Ibu sedikit terkejut menyadari kehadiranku. Tangannya bergetar saat aku menciumnya.

Ada yang aku lewatkan, Bu?”

Ibu tersenyum, ada yang disembunyikan. Mata tuanya menyiratkan sesuatu.

Rio kecelakaan seminggu yang lalu, kakinya retak tapi ia tak apa-apa. Hanya butuh istirahat saja”

Seminggu yang lalu? Waktu dimana Rio mulai mengurangi tegur sapa denganku. Kenapa ia tak bilang?

Boleh aku menjenguknya, Bu?”

Silahkan, tapi ia baru saja minum obat dan tertidur”

Aku tak kan menganggunya, hanya sebentar, aku berjanji”

Perlahan kubuka pintu kamar Rio, mendapati tubuh lemah itu terbujur tak berdaya dengan selimut menutup hingga ke dada, matanya terpejam. Tak ada yang berbeda, ia seperti tidur biasa. Namun telapak kaki kanannya berbalut perban, bagian sekitarnya terlihat lebam.

Aku berjanji untuk tak terlalu lama jadi aku keluar kamar segera mendekati Ibu yang sedang mengaduk teh.

Ibu, berjanjilah satu hal padaku”

Wajah teduh ini yang membuatku merasa seperti berada dalam keluargaku sendiri. Menentramkan dan menenangkan.

Rio tidak mengatakan apa pun tentang kecelakaan yang menimpanya, dan Ibu tahu ia begitu sensitif jika banyak orang melihatnya lemah seperti ini. Komohon jangan katakan bahwa aku datang”

Kedua tangan Ibu memeluk tubuhku, aku tahu setegar apa pun beliau pasti pedih melihat anaknya terluka. Aku mengerjapkan mata, mencoba menahan genangan air yang selalu datang saat khawatir menyusup jika sesuatu terjadi pada keluarga ini.

Arya berulang kali memohonku untuk tinggal, “Setidaknya Kak Mun harus menunggu Kak Rio terbangun, ya Kak?”

Arya, jaga kakakmu ya, Kak Mun harus segera pulang tapi percayalah Kak Mun pasti akan datang lagi”

Kapan?”

Aku mengerling, “Tunggu saja

Kini, langkahku berat, seolah beban berlipat ganda di pundakku. Ingin sekali rasanya untuk tetap tinggal. Sudahlah, Rio selalu ingin menjadi kuat di depan mataku.

Cepat sembuh Rio. Aku merindumu.

 

Dari Sisi Berbeda

Din... Din...

Suamiku untuk kesekian kalinya membunyikan klakson mobil.

"Sabar dong yah, depan juga macet"

"Yang salah tuh ibu-ibu depan, heran deh"

"Heran kenapa sih?"

"Kalau naik motor tuh harusnya jaga jarak sama mobil depannya, jadi klo mobilnya berhenti nggak ngerem dadakan"

"Jalanan padat ayah, wajar dong kalau semua kendaraan dekat-dekat jaraknya"

Pagi ini kami menuju sebuah universitas kenamaan di kota Solo, ada workshop kepenulisan dan aku dipercaya menjadi narasumber. Dua puluh menit lagi acara akan dimulai tapi masih sekitar dua puluh kilometer jarak yang harus ditempuh.

Keluar kota klaten, kami terjebak kemacetan di depan pasar kartosuro. Maklum saja, ahad pagi suasana pasar pasti ramai, terlebih kendaraan yang parkir hampir memakan badan jalan.

"Tadi Bunda sudah menyarankan untuk naik sepeda motor kan, kenapa Ayah menolak?"

Suamiku menoleh kesal, "Perjalanan kita jauh, cuaca tidak menentu, masih tanya kenapa?"

Senyum termanis coba aku hadirkan, berharap mampu meredakan emosinya.

"Baiklah, dan inilah yang terjadi. Nikmati perjalanan saja, Yah"

"Masih dua puluh menit Bunda, kita bisa kejar. Jadilah contoh figure yang tepat waktu untuk para mahasiswa"

Sekuat tenaga aku menahan diri untuk tidak tertawa, apa suamiku ini sudah lupa kenapa kami harus terburu-buru seperti ini.

"Tidak Ayah, aku bisa hubungi panitia. Lebih baik terlambat asal selamat"

Din.. Din...

"Ayah sudah hentikan"

"Bunda tidak lihat, aaarrggg kenapa semua ibu-ibu itu sama saja sih. Bisa kupastikan dia tidak lulus ujian SIM. Apa tidak paham kegunaan lampu sein?"

Aku memegang lembut tangan kirinya yang bebas, membuat suamiku menoleh ke arahku.

"Ayah, kalau Bunda dimaki-maki orang, apa yang akan ayah lakukan?"

"Apa? Siapa yang melakukan itu? Katakan Bunda"

Aku menggeleng, emosinya masih saja sulit terkontrol, namun selalu ada celah untuk memberitahukan kebenaran pada seseorang. Rasa cintanya padaku adalah titik lemahnya.

"Tak lama lagi, mungkin waktu akan segera mengubah rambut hitamku, mengendurkan kulit wajahku juga mungkin membungkukkan tubuhku"

"Bunda ini ngomong apa sih?"

"Pasti tiba waktunya aku tak sekuat sekarang, rasa takutku menjadi lebih besar, dan kemampuanku untuk berpikir banyak hal menurun drastis"

"Ayah nggak paham deh"

"Coba ayah bayangkan, ibu-ibu di depan itu Bunda. Terlalu banyak perhitungan mendahului sebuah mobil, terkesan ragu-ragu. Kenapa? Karena dia mengingat keluarganya di rumah. Dia harus benar-benar yakin untuk selamat sampai di rumah."

"Bunda alay deh, memang Bunda nggak paham kegunaan lampu sein?"

"Itulah maksudku saat mengatakan bahwa otakku terkadang tidak bisa terfokus. Seringkali tindakan tak sesuai dengan apa yang dipikirkan"

"Tetap saja bahaya Bunda"

"Iya, semoga Ayah selalu ada disamping Bunda dan siap sedia mengantar kemanapun"

"Jadi Bunda setuju bahwa tak seharusnya ibu-ibu itu berada di jalan raya?"

Aku mengangguk, "Tapi mungkin tak ada pilihan"

"Tetap saja itu membahayakan Bunda"

"Cobalah berpikir dewasa Ayah, keselamatan berlalu lintas bukan tanggung jawab satu pihak saja"

"Heemm... Baiklah, baiklah Bunda. Ayah akan berhati-hati. Jika bertemu ibu-ibu semacam itu lagi, Ayah akan mengalah atau malah tancap gas agar segera terbebas"

Ya begitulah, banyak hal di dunia ini yang berada di luar kendali kita.

"Bunda...."

"Ya Ayah?"

"Maaf yah, gara-gara semalam begadang bangun kesiangan dan kita terlambat"

Baguslah, jika akhirnya suamiku tersadar. Intropeksi diri sendiri sebelum melimpahkan kekesalan pada orang lain.

Sudahi saja..

Nad, aku kerumahmu sekarang ya?

Lama aku pandangi pesan yang memenuhi layar ponsel.

Ping!

Ping!

Ping!

Aku nggak di rumah, balasku

Dimana?

Di taman

Aku kesana sekarang, tunggu.


Suasana hatiku sudah tak lagi mendukung untuk melanjutkan novel yang kugenggam. Pandangan mata menyapu luasnya taman dengan beragam warna-warni bunga yang menarik.
 
Taman kota di siang hari, dengan terik mentari adalah perpaduan yang sempurna untuk perasaanku yang kacau balau. Tak banyak orang berlalu lalang, hening. Serangga-serangga beterbangan seolah berpesta nektar dari satu bungan ke bunga yang lain.
 
Mungkin dua puluh menit lagi Damar akan tiba dan itu membuatku berulang kali harus menarik napas panjang. Baiklah, sekarang waktunya. Aku tak mau berlama-lama merasakan sakit ini.
 
“Haiii....”
 
Senyum itu mengejutkanku dari sisi belakang. Rasanya belum ada 15 menit.
 
“Kaget ya? Maaf aku ngebut keburu kangen”
 
Biasanya aku akan menceramahinya panjang lebar tentang keselamatan lalu lintas tapi selalu ia abaikan. Barulah mengangguk berjanji tak mengulangi saat kuutarakan rasa khawatirku.
 
“Ada apa?”
 
“Bulan depan aku mau ke eropa”
 
“Berapa lama?”
 
Matanya berbinar, hapal benar dengan pertanyaan pertamaku setiap ia mengatakan akan melakukan perjalanan.
 
“Kali ini nggak akan lama, hanya 16 hari, tahan rindumu ya. Rombongan yang kubawa ini para pejabat negara, mereka tidak mau diberitakan yang tidak-tidak jika berpergian terlalu lama ke luar negeri, hhaaa. Aku tak peduli, selama mereka memakai jasa tour and travelku”
 
16 hari kurasa waktu yang cukup lama, heemmm.
 
“Kau mau oleh-oleh apa?”
 
Aku menggeleng.
 
“Perjalanan kami akan dimulai dari Jakarta menuju Frankfurt, esoknya lanjut ke Munich mungkin tengah malam langsung ke Vienna menginap tiga malam disana. Tiga hari selanjutnya akan kami habiskan di Prague, dan oh ya Amsterdam, kami akan menginap dua hari di Amsterdam sebelum kembali ke Frankfurt dan pulang ke Jakarta”
 
“Dam, aku mau pulang”
 
Perhatian Damar langsung beralih sepenuhnya padaku, mencoba menelisik kesalahan pada gadis di depannya.
 
“Sudah sejak pagi aku disini, aku mau pulang”
 
“Nad, ada masalah?”
 
Aku menggeleng.
 
“Pasti ada, cerita dong, aku mendengarkan”
 
“Aku capek”
 
“Sakit?”
 
“Capek sama hubungan kita”
 
Kepala Damar miring beberapa centi, mengamatiku dengan seksama, “Aku melakukan kesalahan?”
 
“Bukan kau tapi aku”
 
“Kau? Salah apa?”
 
“Salah menaruh harapan berlebih padamu”
 
“Heiiii.... heiii.... ada apa ini?”
 
“Aku tersiksa Dam, bahkan kau tak tahu itu, kau tersenyum bahagia bersama orang lain, menikmati perjalanan menyenangkan, mengabaikan rasa rinduku yang harus menunggumu berbulan-bulan dan itu terus berulang”
 
“Aku kerja, Nad. Lagi pula kita sering berkomunikasi kan, tak pernah seharipun aku lupa bertanya kabarmu lewat skype”
 
“Aku mau pulang”
 
“Tidak bisa”
 
Mataku terpejam, semoga tak ada tetesan hangat yang membelah pipiku, 
“Damar, aku tak lagi punya kekuatan untuk berjauhan denganmu”
 
Hening sesaat tercipta diantara kami.
 
“Jadi kumohon biarkan aku pulang sekarang”
 
“Maksudmu kita sudahi semua ini?”
 
Gelengan lemah menjadi jawabanku, tak tahu harus bagaimana. Gontai melangkah menuju pintu keluar. Tak ada tanda-tanda Damar mengejarku, baiklah ini semua telah berakhir.
 
Pintu keluar taman di depan mata, puluhan langkah sudah menjelma menjadi sekat untuk kebersamaanku yang lalu dengan Damar. Semoga engkau mengerti bahwa sungguh aku tidak ingin jauh darimu bukan ingin berpisah denganmu.
 
“Nadaaaaaa......”
 
Senyum merekah di wajahku, suara Damar mengalun lembut bersama semilir angin di siang yang kering ini.
 
Napasnya naik turun, tangannya memberi isyarat agar aku berhenti melangkah. Di depanku kini perlahan ia merendahkan tubuh, mengambil rumput liar yang tumbuh sepanjang jalanan berbatu.
 
“Tunggu yaa.... tunggu sebentar”
 
Beberapa rumput tercabut dan dibuat sedemikian bentuknya hingga menyerupai cincin. Masih terengah-engah dia mengansurkan cincin dari rumput tersebut tepat di depan wajahku, “Kau tak perlu lagi jauh dariku, berjanjilah untuk membersamaiku kemanapun pekerjaan akan membawaku”


Burung-burung pun bernyanyi
Bunga-bunga pun tersenyum
Melihat kau hibur hatiku
Hatiku mekar kembali
Terhibur symphony
Pasti hidupku kan bahagia



----------++++-----------


Lagu : Symphony yang Indah - Once


Tips Ampuh Menurunkan Kolesterol Mudah dan Sederhana

Meskipun sejatinya tidak ada yang instan, tapi faktanya kolesterol adalah penyakit yang bisa kita obati dengan tips sederhana. Cara men...