Piknik



Disini aku sekarang, diantara hamparan hijau yang menyejukkan mata. Jika dipikir-pikir sudah lama rasanya tidak membiarkan jiwa ini diisi oleh desau angin alam liar yang segar. Ini pun tidak akan terjadi bila saja teman-teman mengiyakan penolakanku seperti sebelumnya. Entah mungkin keinginan mereka telah bulat, terpendam lama hingga tak terbendung lagi. Pekerjaan yang tak ada hentinya menjadi alasan terkuat mereka membujukku.

Baiklah, kurasa aku juga perlu pergi berlibur. Toh ada saatnya memikirkan dia saja tidak cukup melepas letih yang mendera, mungkin berbeda jika ditemani baca buku, eh.

Tempat yang kami tuju adalah alam dengan segala pesonanya. Takdir mempertemukan kami untuk tidak senang pada hal yang sama, berbelanja, hhaa. Uang adalah sebab utama, sia-sia saja sepertinya jika kerja keras sebulan hanya dihabiskan untuk membeli barang yang belum begitu kami butuhkan. Jarang sekali kami memilih pusat perbelanjaan untuk berkumpul, walaupun semuanya tersedia tak jauh dari tempat kerja. atau mungkin karena itu? tempat yang mudah dijangkau membuat kami berpikir ulang untuk mengunjunginya jika ada waktu senggang? Besok masih bisa, dekat ini.

Sepertinya tidak sepenuhnya benar. Ada rasa berbeda setiap menapaki tempat baru yang belum pernah dikunjungi. Mengabadikan beberapa momen untuk menjadi kenangan yang tak hanya tersimpan dalam memori otak. Terlebih sebagai bukti otentik pada orang tua atas ijin keluar rumah.

Aku sendiri tak paham kenapa lebih condong untuk berpetualang di luar ruangan ketimbang dalam gedung. Bisa jadi bosan, karena sehari-hari terkurung dalam ruangan atau ada dalam diri yang menggelitik untuk mencoba hal yang belum pernah. Entahlah tiba-tiba saja kami sudah melewati gerbang pendakian gunung lawu.

Mendaki?

Iya dong.

Sampai puncak?

Jangan konyol, kami tiba pukul 11 siang dan harus berada di rumah pukul 3 sore. Tak apa, memang tidak ada niat untuk mendaki hingga puncak. Saat melewati jalur pendakian serasa menjadi seperti pendaki dengan carier di punggung yang berpapasan, bisa diterka dari baju kumal dan wajah lelahnya mereka telah berhasil hingga puncak. Sapaan ramah khas pendaki yang memberikan semangat mengingatkanku tentang hobi lama yang sekarang sudah tak terjamah lagi.

Waktu yang sebentar ini meninggalkan kesan mendalam diantara kami, bahkan untuk liburan selanjutnya sudah ada tempat baru yang akan kami tuju. Kemanakah? tunggu saja.

Oh ya, ternyata pengalaman travelling bisa membuat orang jauh lebih bahagia loh, banyak hal positif yang didapatkan dari traveling. Data ini dikutip dari sebuah perusahaan asuransi asal inggris yakni LV yang baru-baru ini membuat survei terhadap 2000 responden. Survei tersebut berisikan perbandingan antara hal yang membuat orang bahagia : pengalaman dan belanja.

Hasilnya?

Mengutip situs Lonely Planet, hanya 8 persen responden yang mengungkapkan bahwa belanja-lah yang bisa membuat mereka bahagia. Jadi hampir semua responden sepakat bahwa traveling ke negara lain, terutama yang baru pertama didatangi, membawa banyak kebahagiaan. (Indozone)

Itu di negara Inggris, bagaimana dengan Indonesia?


2 comments:

Yuk sampaikan dengan santun :D

Paket Umroh Murah

Rukun islam yang ke lima adalah naik haji (bagi yang mampu), namun sebagai umat islam tentu keinginan mengunjungi Baitullah adalah sesuatu y...