apa

AADC

Hatiku gelisah menerawang rintik hujan yang semakin malam semakin rapat saja, tangan kiriku mengetuk daun jendela sehingga menimbulkan bunyi berirama sedang tangan kananku menggenggam erat handphone mungil yang kurindukan getarannya. Gadis di seberang sana tak juga membalas pesan yang kukirim sejak pagi tadi, tidak mungkin jika dua belas jam ia tak menengok barang sebentar saja handphonenya.
Dret...dret...
Sekejap mata aku mengetikkan deretan angka untuk mencari tahu siapa yang menyebabkan benda dalam genggamanku ini bergetar. Ahh... sial, Parto teman kerjaku mengajak untuk nongkrong di hik dekat perempatan desa. Ku abaikan saja, seharusnya bukan dia yang mengirim pesan.
Dret... dret...
Pesan baru datang sebelum layar terkunci, nama yang terpampang disana membuatku kian nelangsa, Parto kembali hadir dengan ajakan yang sama. Apa temanku cuma Parto saja hah?
Dret.. dret..
Kalau kali ini Parto lagi, akan aku hisap ubun-ubunnya. Dan... benar... tetangga desaku itu telah menuju rumahku, segera kutarik ucapanku barusan. Tidak bisa membayangkan menghisap sesuatu dari kepala plontos yang entah kapan terakhir kali tersentuh shampo.
Sarung diatas kursi segera ku selempangkan, bersiap saat terdengar suara sandal jepit mendekati pintu dan pemuda berkepala licin itu menyunggingkan senyum yang biasa saja saat aku membuka pintu.
Sudah kuduga, kau ga mungkin jadi pergi nonton”
Aku bersungut mendengar ucapannya.
Ayo nonton di hik mang Toyib aja, ada konser dangdut”
Terlihat jelas diraut wajahku yang tak berniat meladeninya.
Sudah to bro, mau aku saja yang menemanimu menonton AADC 2?
Segera ku ambil payung dan meninggalkan Parto yang tergesa-gesa menyusulku. Sudah tidak deras lagi namun gerimis masih menyisakan dingin di sudut hatiku. Ku lirik lagi handphone berharap harapan itu ada, nihil...
Lirih aku berbisik, tak ingin siapa pun mendengar termasuk Parto, Ada Apa Dengan Ciani?

Bye April



Bye... byee... april... hhee, ini bulan yak bukan nama member ODOP.
Waktu terasa cepat berlalu, tau-tau udah mau menyapa Mei saja. Padahal April tak ingat sudah melakukan hal bermanfaat macam apa. Hal yang kuingat pastilah sesuatu yang menyita sebagian besar waktu produktifku, dan jawabanya adalah pekerjaan kalau urusan kuliah, emmm... nomer dua, hhee.
Tahun ini aku diperkenalkan akan penggunaan warna dalam membuat SOP pekerjaan, kata pak bos itu bisa memetakan apa yang tergambar dalam otak kita. Hampir setengah hari berkutat dengan spidol warna juga kertas putih bersih yang akhirnya berhasil mentransfer maksud otak. Pak bos tersenyum saat aku mempresentasikan hasil coret-coretku dan kenapa pula aku bisa membaca pikirannya, duhh... malu rasanya. Satu kesimpulan dari hasil pemetaanku : “Otak saya sepertinya sedang ruwet pak”. Tertawanya menjadi jawaban yang sudah kuketahui.
April memberikan warna-warni dalam hidupku, bulan ini aku berada pada deadline yang bersamaan dan manis rasanya ketika akhir bulan semuanya terasa melayang meninggalkanku dalam damai, deadline terlewati.
Saatnya menyapa Mei dengan list baru yang harus dikerjakan dengan tanggung jawab besar. Bagiku pergantian bulan memiliki arti besar dimana alarm kehidupan mendekati waktunya untuk berdering dan menggema di sebuah ruangan hati dan otak. Persiapan selalu dilakukan dengan konsistensi tinggi agar disiplin menjadi berarti.
Huffttt..... harus selalu ada perbaikan di segala bidang. Juga dalam menulis. Biasanya semua berjalan lancar meski sedikit hambatan menghadang, namun tantangan selalu memberikan desakan tersendiri. Grogi, berhati-hati, waspada hingga keringat dingin di malam dengan rintik hujan menjadi saksi lahirnya sebuah karya. Ini karyaku menjawab tantangan sekali duduk ODOP, jika kalian membacanya dengan kening berkerut, maka kalian merasakan gemetarnya tanganku menekan tuts agar tak meleset.
Selamat menikmati.

BW cuss BW


Happy hour...
Akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk keluar kantor yang dimanapun itu bagaikan angin segar sebab mampu melepas tali kekang pekerjaan yang tiada henti, selalu minta diperhatikan. Selalu ada waktu jika kita mau menyempatkan karena mustahil menunggu waktu luang di jaman yang setiap detiknya bernilai rupiah.
Horee... Di ruangan wangi ini, di tempat nyaman ini juga pojokan yang sepertinya akan menjadi tempat favoritku, aku seolah berada di tempat pribadi, diistimewakan (padahal yang lain juga dapat perlakuan yang sama, hhaa). BW ke rumah-rumah teman ODOP selalu menjadi pengisi waktu yang tak menjemukan, aku bisa tersenyum sendiri, menggigit jari, menutup mulut, bahkan beristigfar. Rumah megah yang menampung karya yang luar biasa, anugrah telah dipertemukan dengan kalian.
Tadinya seolah dunia sendiri lebih menarik, toh aku sedang menciduk ilmu yang bukan merupakan hal sia-sia sekedar main gadget . Tiba saat aku berhenti pada blog salah satu member ODOP (lupa siapa, maaf) dimana kesadaran akan sekitar begitu penting untuk diperhatikan. Ruangan yang lebih luas setelah dipindahkan posisi kursinya, ibu muda yang tengah berbicara dengan tangan menggenggam ponsel dan kau tak perlu punya riwayat peramal untuk menerka apa yang beliau utarakan. Para teller cantik yang selalu tersenyum tak peduli bagaimana suasana hatinya. Sayang sekali aku belum sempat mengamati acara tivi yang sedang ditayangkan karena nomer antrianku telah disebutkan untuk segera beranjak.

Indah bukan, kau belum bertemu mereka namun perbedaan jelas terlihat setelah perkenalan tak resmi dimulai. Sungguh, nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?

Jangan males BW yahh, jangan lupa tinggalin komentar, hhee... Bukan apa-apa sih cuma mau ngengetin bahwa kalian akan tercengang dengan buah pikiran orang lain yang luar biasa mengagumkan. Ga percaya? Buktiin ajah..





Merindumu


Kita belum pernah bertemu kan?
Tapi kenapa hatiku selalu merindumu?
Menanti setiap kesempatan yang datang
Seolah sedang dipermainkan oleh waktu

Kita tidak saling mengenal bukan?
Tapi seakan aku mengerti cerita tentangmu
Mencoba mencari celah yang terbuka
Berharap waktu berubah syahdu

Ahhh... kenapa baru sekarang aku paham
Setiap ungkapan manis nan mendayu
Bukanlah untukku semata
Menjadikanku sejenak lesu dan layu

Aku jatuh hati pada sang pemahat karya
Bagaimana rasa hatinya, aku tak tahu
Dimana kata sarat akan makna
Berpadu dengan nada yang mendayu

Jika perkenalan kita adalah anugrah
Semoga Tuhan menjawab doaku
Bahwa kesempurnaan saat kita bersama
Maukah kau menjadi pujanggaku?

Teman perjalanan

Waktu kepikiran buat nulis ini agak bimbang sih, takut digebukin karena ke-Pdan atau dihujat para haters (halah... gayanya sok artis aja). Berulang kali dipikir mateng dan sebelum gosong serta tidak bisa dikonsumsi kuputuskan untuk menulisnya.
Hobiku yang kece banget ini membuatku selalu bertemu dengan orang-orang baru, menjalin pertemanan dan kembali merencanakan perjalanan yang menyenangkan sehingga membuat hubungan kami tidak sebatas tatap muka sekali dan hilang berlalu bersama hembusan angin. Sayangnya,perbedaan rutinitas jelas tak mengijinkan kami untuk selalu menjadi partner perjalanan. Terkadang ia telah berada di puncak gunung di belahan jawa sebelah timur sedang aku masih berkutat dengan pakan ayam. Teman yang lain sedang menikmati pisang goreng dan sambel tomat di Tidore, aku hanya bisa membalas pesannya sembari mengetik bahasan tentang masalah remaja yang rumit tak menentu.
Iri? Jelas tidak (dikit sih sebernya..) karena saat aku berkumpul dengan orang-orang hebat dengan segala kreativitas serta intelegensi yang tinggi, mereka tidak disampingku yang bisa jadi sedang berkutat dengan urusan isi dompet yang harus dicari untuk akhirnya segera dilenyapkan, hhaa siklus kehidupan itu unik.
Masing-masing dari kami memiliki kesibukan juga waktu luang yang sulit untuk dicari jadwal kosong, namun kebersamaan yang sempat terlewati begitu membekas hingga terekam kuat dalam memori otak kami.
Salam dari wilayah yang tak terjangkau menjadi tiupan rindu juga doa untuk kesempatan yang semoga diberikan. Kisah-kisah unik diceritakan hanya untuk membuat yang lain tertarik, bukan ajang pamer akan keberuntungan tapi sedikit isyarat bahwa betapa perjalanan ini akan lebik menarik jika kami berada di tempat yang sama.
Kesempatan yang lalu mungkin saja pertemuan yang Allah tuliskan untuk perkenalan kita dan untuk kesempatan yang sulit kita tentukan lagi bukanlah akhir dari pertemanan kita.
Kawan... meski kita tak bersama menikmati indahnya dunia, percayalah bahwa kini kita sedang berjuang bersama meraih mimpi serta cita-cita masing-masing. Terselip doa agar Allah juga menakdirkan kita untuk dapat menghabiskan kembali waktu, mungkin di depan hangat api unggun di tengah hutan belantara.
Indah nian memiliki teman yang meski tangan tak mampu menjabat, mereka mengingatmu dalam kebahagiaan mereka.
Jadi... PD nya dimana?
Hhee... apa cuma aku saja yang paham bahwa sebenarnya hadirku itu dinanti banyak orang, candaku ditunggu untuk memecah keheningan malam juga wajah imutku untuk teman selfie disetiap petualangan. (plak...)
Teman juga anugrah dari Allah untuk menemani kita agar tak merasa sepi dan sendiri mengarungi kehidupan dunia ini, menjadi tempat berpegang kala kita rapuh akan badai masalah, juga sebagai penasehat sewaktu kita lalai dalam mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang sebenarnya. Sayangi temanmu, jangan sia-sia kan kehadirannya.
Finally....
Mau berteman dengan saya?

Fakta Lain Tentang Ayam


Petok... petok...
Eh gitukan ya suara ayam? Anggap saja begitu. Apa yang terlintas saat kata ayam terucap? Ayam goreng, ayam kremes, ayam bakar, ayam tulang lunak... oke, selain makanan? Ayam jantan, ayam betina, ayam negeri, ayam tetangga... yang lain atuh... ayam kampung yang sudah berada disisi jalan yang benar tiba-tiba nyebrang saat kita mau lewat. Baiklah cukup (Kesel deh).
Ada fakta lain dan unik tentang ayam hlo.. mau tahu? Mari kita meluncur.
Ayam adalah makhluk yang Tuhan ciptakan dengan insting juga kedisiplinan yang baik. Soal insting sudah banyak yang mengerti bahwa sang induk akan melindungi mati-matian anaknya dari bahaya yang mengancam. Juga ayam mengerti benar caranya balas budi. Begini saja, saya menjalin kerjasama yang baik dengan berpuluh ribu ayam dan tidak perlu mengintrogasi masing-masing untuk memahami ayam-ayam.
Dalam masa produktifnya ayam akan menghasilkan satu butir telur setiap 26 jam dan itu konsisten selama makan dan minumnya tercukupi. Andaikan saja ayam tidak makan dengan baik tidak lantas membuat ayam ngambek dan berhenti bertelur. Ohya, ayam memiliki batas minimun dan maksimum mampu menelan pakan hlo, satu hal yang harus diperhatikan agar ayam tercukupi nutrisinya. Merasa telah diberi makan walau tidak mencukupi maka akan sekuat tenaga membalasnya hingga berat tubuh ayam menurun dan tak ada lagi komposisi yang pas dalam tubuh untuk menghasilkan telor.
Ukuran tulang supit yang mengecil dapat menjadi tanda berapa lama mereka sudah tidak bertelur atau secara kasat mata ayam yang terlihat kurus pastilah tidak akan bertelur.
Perasaan kasih dan sayang yang diberikan oleh operator kandang juga mempengaruhi tingkat stress ayam, akan berbeda hasilnya jika perlakuan operator terhadap ayam semena-mena. Ayam kan juga makhluk Tuhan, berhak dong dikasihi, maaf ya, ayam juga tidak sudi memberi jika diminta dengan paksa dan kasar.
Sadar sekitar bahwa setiap hewan yang diciptakan Allah SWT adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia. Jangan menelantarkan setiap hewan yang kita pelihara.
Salam petok.. petok.


Ijin Hutang Tulisan, boleh?

Malam kian larut dan aku masih termenung. Laptop di hadapanku masih menyala dengan tampilan putih bersih tanpa ada satupun huruf yang menemaninya. Otak sudah menyerah saat aku paksa untuk menelurkan ide, ayolah aku harus menyetorkan link untuk kewajiban ODOP hari ini. Tunggu, mataku lengket tak mau melek, wah keadaan makin runyam saja.
Tiba-tiba dua makhluk itu datang lagi, rupanya mereka masih bermusuhan karena mereka tidak mau untuk duduk berdampingan. Yang satu menempel pada sisi kananku, yang satunya lagi berada di sisi kiriku. Dan tak perlu menduga lama bahwa mereka hanya akan meracau.
Kau sudah cukup lelah hari ini, beristirahatlah”
Menyenangkan sekali mendengar nasihat dari sisi kiriku, memang seharian ini aku sudah begitu lelah. Pak bos mendadak menjatuhkan deadline dua jam sebelum jam kantor habis, dan aku harus berlarian mengumpulkan data yang kececer dimana-mana. Pulang kerja tak lantas membawaku kembali ke tempat ternyaman di dunia ini-rumah bapak ibuku, karena aku harus menyelesaikan bab 3 ku jika tak mau mendapatkan denda 1 juta, heemm... angka yang fantastis untukku.
Jika kau bertekad, masih ada tiga jam lagi untuk menggugurkan tugas ODOP-mu”
Tiga jam? Serasa dejavu dengan kata deadline. Memangnya dia pikir semudah itu merangkai kata untuk dilihat berjuta pasang mata? Bisa-bisa aku bunuh diri dengan menulis ala kadarnya (pura-pura lupa kata bang syaiha bahwa jangan memikirkan kualitas saat awal belajar menulis, hhii)
Tak perlu terburu-buru, hutang bisa kau lunasi saat weekend”
Serasa ikut terbang setiap makhluk yang melayang di sisi kiri membela raga lelahku.
Ya ya ya, manjakan dirimu dan anggap saja ini semua main-main”
Enak saja kalian berbicara, aku mengerti benar kemampuanku saat sebuah keputusan aku ambil, dan sepertinya kalian mulai meremehkan aku, pergi sana jangan kembali aku ingin mengajak jemariku berimajinasi bersama otak dan juga seluruh indra yang masih ingin berkarya”
Kedua sisiku lengang, kemana perginya mereka? Dan tadi siapa yang berani mengusik perdebatan kedua makhluk tersebut? Tidak sedikitpun aku membuka mulutku, namun kurasakan dadaku bergemuruh, memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Mataku sedikit membuka, otakku mulai bekerja dan jemariku menari lincah di atas tuts keyboard. Perlahan beberapa kata telah menghiasi layar.
Semudah itu menulis? Tidak kawan... aku berhenti pada dua titik dalam paragraf pertama. Buntu.
Bang Syaiha... boleh ngutang tulisan untuk hari ini?




Bersamamu di Ujung Senja


Air mataku mengering lebih cepat karena angin yang bertiup sore ini cukup kencang, lelah raga juga batin mengantarkanku terbuai menuju alam mimpi, namun tak lama karena ia mulai berisik disampingku. Tak perlu terkejut untuk setiap kedatangannya sebab ia selalu hadir saat aku merasakan kesedihan, siap sedia menampung segala apa yang ingin ku utarakan, apa pun tanpa terkecuali.
Masalah apa lagi kali ini?”
Aku membenarkan posisi duduk dan merapikan wajahku yang sepertinya kacau balau, “Sudah lama disini?”
Ia mengangguk, “Aku bahkan melihatmu berjalan kemari”
Lalu kenapa membiarkanku menangis?”
Karena menangis merupakan salah satu cara untuk meluapkan gemuruh di dada, tapi hanya untuk kali ini saja setelah ini tidak lagi”
Maksudmu kau tak akan membiarkanku menangis lagi? Aahhh.... manis sekali”
Dia menepuk dahinya sendiri, “Wanita tidak baik jika menangis di tempat umum, jangan biarkan orang lain menganggap lemah dirimu”
Jika memang begitu keadaannya, aku bisa apa?”
Senyum menghiasi wajahnya, indah nian.
Menurutmu mereka bisa apa setelah melihatmu seperti ini?”
Benar, banyak orang yang hanya memandang bahwa menangis adalah sebuah kelemahan tanpa memikirkan segala penyebab juga cara meredakan gejolak jiwa.
Ada yang ingin kutanyakan padamu?”
Tanyakan saja”
Kenapa kau selalu berada disini? Selalu, setiap aku berada disini kau selalu ada”
Hahhaa... ini daerah kekuasaanku, bisa apa kau?”
Tawaku pecah juga dan sejenak terlupa akan segala masalah yang menyebabkanku menangis tadi. Matahari sudah tak segarang tadi, sayup kudengar suara lantunan ayat suci Al-quran dan kuputuskan untuk berpamitan dengannya.
Langkahku begitu ringan hingga tak kusadari aku berjalan dengan senyum yang masih terjaga.
Ci, kuperhatikan setelah dari pohon beringin itu kau selalu tersenyum”
Tak kusadari bahwa Ivan telah berjalan disampingku lengkap dengan kopiah dan sarung yang ia selempangkan di pundaknya, pastilah ia yang akan menjadi muadzin magrib kali ini.
Hati-hati hlo kesambet hantu pohon beringin, buruan pulang gih, anak gadis mau magrib masih berkeliaran diluar rumah”
Seenaknya saja ia bicara, dasar tukang mencampuri urusan orang lain. Aku berlalu tanpa menjawab setiap ocehannya tadi. Jarakku dengannya sudah cukup jauh tapi ia masih saja mendengungkan kata-kata yang tak jelas kudengar.
Anak Pak RT itu kian hari kian aneh saja, menangis lalu tiba-tiba tertawa sendiri, terkadang mengobrol layaknya ada teman saja dihadapannya”
Ivan menggeleng lemah menatapi punggung Cici anak Pak RT yang hilang dibalik tikungan.

Balik Kampung



Dini hari, saat dunia sekitar kami masih sunyi pak mimin mengantarku masuk desa, beliau tukang becak yang mangkal di perempatan tempat bus juga angkutan menurunkan penumpang. Dulu ia adalah langganan ibu ku bila memborong barang-barang untuk mengisi toko kelontong di rumah, jika aku tak perlu pergi ke sekolah maka aku diijinkan ikut serta. Duduk disamping ibu dengan belanjaan penuh hampir menutupi wajahku, tak cukup memberatkan walaupun menimpa tubuhku karena ini hanyalah chiki-chiki beranega merek dan rasa. Aku selalu merengek untuk mencicipinya setiap pulang sekolah dan ibu baru akan memberiku jika aku menghabiskan makan siangku.
Kini rambut pak mimin telah memutih semuanya namun kakinya tetap kokoh mengayuh becaknya yang seringkali menimbulkan bunyi gemeretak, ia bercerita panjang lebar tentang pak lurah yang keukeuh mempertahankan lahan persawahan guna diganti dengan pembangunan rumah-rumah baru.
Kenangan masa kecil ku kembali terlempar jauh kebelakang, di siang terik sepulang sekolah jika aku membandel tidak tidur siang maka aku akan membawa ember kecil, menyebrangi jalan depan rumah menuju kali kecil dengan aliran air bening yang cukup deras. Entah apa motivasiku saat itu karena aku akan menyirami jalanan dengan ember kecilku tersebut, ibuku hanya mengawasiku dari teras rumah seraya menunggu toko kelontong kami, orang-orang yang berlalu lalang juga para pembeli hanya menggeleng-geleng tak paham akan aktivitasku. Jika siang begitu terik maka jalanan akan cepat kering kembali dan aku akan menyiraminya lagi mulai dari ujung hingga seluruh jalan depan rumah terasa dingin.
Setelah itu jika lelah belum datang aku mencari keong meski harus masuk lumpur untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Keong itu ku apakan? Entahlah karena seingatku kami tak memiliki peliharaan apa pun.
Jika sing itu aku kelelahan maka malam harinya sulit bagiku untuk terpejam, dan aku akan menemani ibuku yang sedang berbincang-bincang dengan pembeli yang silih berganti, memandangi langit malam yang bertabur gemerlap bintang. Benda langit yang membuatku terpana dan seringkali menjadi alasanku untuk tak segera beranjak meski malam kian larut.
Ibu menutup tokonya jika dirasa kantuk telah menguasainya, beliau adalah orang yang begitu peduli dengan kesehatan tubuhnya karena ia ingin selalu sehat agar aku tak kehilangan moment apa pun bersamanya. Kunci kuning itu tergantung di depan cermin besar dalam kamar kami, hal yang terakhir kali ku lihat sebelum memejamkan mata.
Pak mimin berhenti di depan rumah minimalis yang dipenuhi dengan pohon cabai rawit, ibu tak lagi membuka warung kelontong beliau lebih suka menghabiskan masa tuanya dengan menanam cabai juga merawat kebun rumah yang di penuhi dengan beraneka macam tanaman obat.
Aku mengangsurkan selembar uang dua puluh ribuan dan pak mimin meninggalkanku dengan senyum penuh terima kasih, mungkin ini rezeki awal pembuka harinya.
Pintu dengan ukiran yang berdiri tegak di hadapanku kini tak segera ku ketuk, aku berbalik arah dan memandang luasnya sawah yang terbentang sepanjang mata, tak banyak yang berubah. Aliran kali ini masih bening juga sama derasnya, suara kodok bersahutan meramaikan dunia yang bermandikan cahya rembulan.
Ibu.. kau lah sosok yang mengajarkanku segalanya, tentang apa pun yang ingin ku ketahui. Kini dengan tubuh mu yang renta tak perlu lah lagi kau mengawasiku untuk bermain karena kita akan bersama-sama duduk di teras membicarakan hal-hal ringan dengan seduhan teh hangat juga biskuit gandum kesukaanmu. Aku rindu, sangat rindu saat kau mengeluarkan segala macam nasehatmu yang sebenarnya telah kuhapal di luar kepala, namun kali ini aku tak akan menghentikannya walaupun setelah beberapa tegukan teh hangat membasahi kerongkonganmu kau akan mengulangnya lagi dan lagi.

Sepi Sendiri Tanpa Dia




Aku sudah mengenalnya tujuh tahun yang lalu namun mulai akrab dua tahun belakangan ini, pertemanan ku dengannya telah bermetamorfosis menjadi sesuatu yang erat, dibutuhkan dan sepertinya dia pelengkap hidupku yang butuh teman melaju.
Pertemanan kami layaknya sesuatu yang tak perlu diberitakan agar semua orang paham, karena sesungguhnya ikatan ini tercipta juga diam-diam, haahaa. Tak saling menampakkan kala kami bersama dengan teman yang lain, hanya ia tiba-tiba datang kerumah, menculikku dan kami bercerita hal sepele yang entah kenapa memang harus diceritakan.
Berpikir ada yang aneh? Atau kalian sebenarnya bingung kemana arah pembicaraan kita ini? Baiklah...baiklah...
Aku dan dia tidak sama, satu-satu nya kesamaan kami adalah bahwa kami memiliki jam malam yang panjang, ketika yang lain terlelap aku dan dia bercengkrama menembus gelap malam, menikmati hening dan juga saling bertahan untuk tetap terjaga hingga sang fajar memaksa yang lain untuk membuka mata. Dan seringnya aku yang mengaku kalah, disini aku curiga bahwa jangan-jangan ia turunan vampire yang terbiasa hidup di malam hari dan tidur di siang hari. Sayangnya kecurigaanku belum terungkap hingga kini, saat kesempatan untuk membuktikannya tak lagi terbuka lebar.
Yah, jarakku semakin jauh dan terus melebar menjadikan jurang pemisah di antara kita kian dalam hingga entah cara bagaimana lagi untuk dapat menyambungkan kedua sisinya. Aku terlalu pengecut untuk sekedar berada di tebing dan meneriakkan namanya, sebenarnya sudah beberapa kali kucoba namun tidak tepat di bibir tebing karena aku begitu takut akan tergelincir dan semakin dalam menuju kegelapan saat menyadari dia tidak bersama ku lagi.
Mungkin teriakanku tak mencapai hatinya hanya berdengung masuk telinga kanan dan segera meninggalkannya lewat telinga kiri. Tanpa membuatnya menoleh ke arahku. Kini ku lihat ia tak lagi berjalan namun berlari secepat yang dia bisa menjauh dariku dan tanpa menoleh kebelakang, peduli apa dengan orang yang dengan sengaja melukai hatinya, merobek setiap kepercayaan yang telah diberikannya, juga harapan tinggi yang ia gantungkan padaku, benar ini mutlak kesalahanku.
Dulu sebelum aku meretakkan tanah ini dan perlahan membentuk lubang hingga jurang terbentang diantara kita, dia pernah dengan sungguh-sungguh memintaku untuk membantunya menjaga hati rapuhnya dari orang yang ia sebutkan namanya, namun saat itu aku berada pada posisi yang tidak memungkinkan untuk berpihak pada salah satunya. Orang itu yang ia sebutkan namanya adalah teman seperjuanganku yang aku pun telah banyak berhutang budi padanya, rumit sekali. Bermalam-malam aku coba untuk mencari jalan keluar terbaik hingga sebuah keputusan yang hingga kini begitu kusesali tercetus di malam dingin tanpa bintang.
Ku kira ia adalah teman yang akan memaklumi segala tingkahku dan ku harap begitu pula untuk kasus ini, maka aku melanggar janjiku yang satu ini, ahh ku kira akan baik-baik saja karena sebelumnya ia tak pernah sedikitpun marah jika aku melanggar perjanjian kita sebelumnya. Namun, rupanya ini masalah besar untuknya, ia telah memintaku berulang kali dan aku mengabaikannya. Aku lebih mendahulukan ego ku dan rasa hutang budiku ketimbang terhadap ia yang bersusah payah menjadi tempatku berbagi segala hal saat yang lain hanya mengangguk tanpa membuka telinga untuk mendengarku lebih.
Kini.. tak ada lagi percakapan-percakapan sepele ku dengannya, bertahan untuk bersama rembulan hingga mentari menduduki singgasananya juga acara keluar kami yang begitu kurindukan.
Salahku... tak ada ampunan... kepercayaannya yang begitu besar telah ku campakkan dengan sengaja. Ku sadari bahwa sesungguhnya aku lah yang telah menenggelamkannya kedasar samudra gelap namun yang terjadi adalah aku yang membutuhkan cahaya meski kakiku berdiri tegak di bawah sinar terik sang surya.

Aku Sayang Dia



Dia baru saja pulang dari ibu kota pagi tadi dan sore ini aku diajaknya bersepeda angin untuk berkeliling desa, berboncengan, berdua. Ahh dia... paham sekali bahwa kerinduanku melebihi siapa pun yang menantinya kembali. Ada rasa canggung saat aku berada begitu dekat dengan nya, mencium aroma tubuhnya yang wangi sabun juga melihat punggungnya yang lebar. Begitu banyak yang ingin kutanyakan pada kesempatan ini diwaktu yang ku rasa tepat untuk mengeluarkan kegelisahan yang lama ku pendam.

“Boleh aku bertanya seberapa besar rasa sayangmu pada ku?”

Ia sepertinya tak berniat untuk menjawab pertanyaan konyolku, tapi meningkatkan kecepatannya mengayuh sepeda, membelok-belokan setang sepeda dengan ekstrem dan menaiki pinggir jalanan yang sedikit meninggi tanpa mengurangi kecepatan. Ku eratkan pegangan tanganku, membentuk lingkaran yang erat di perutnya juga melekatkan kepala ku pada punggungnya, ku pejamkan mataku dan menahan jeritan karena tidak mungkin aku berteriak di jalanan sepi yang tidak banyak orang berlalu lalang, sia-sia, juga tidak etis mengingat umurku yang hampir seperempat abad ini. Setelah beberapa detik, ia mengembalikan kecepatan sepeda kami ke batas wajar.

“Seberapa mengerikannya hidup yang kau hadapi akan ada aku untuk tempatmu berpegang, paham?”
Aku mengangguk tanpa bersuara, senyumku mengembang.

“Kalau suatu saat ada yang akan mengambilku dari mu, apa yang akan kau lakukan?”

Dia menghentikan laju sepeda. Mengisyaratkanku untuk turun. Kami berjalan diatas pematang sawah setelah memarkirkan sepeda pada pohon blinjo di pinggir jalan, dua ratus meter kami memutuskan untuk duduk di gubug yang beratapkan jerami. Hening. Kamera digital seukuran saku ia keluarkan dari tas kecilnya, memastikan semua nya siap dan mengambil gambar pemandangan di depan kami, keong-keong yang berkumpul di bawah batang padi, ikan-ikan kecil yang berenang kesana-kemari juga burung-burung kecil yang sibuk mondar-mandir dengan batang jerami di paruhnya.

“Jadi jawaban atas pertanyaanku apa?”

Ia mengarahkan lensa kameranya ke arahku yang terdiam menanti responnya, dan beberapa gambar diriku telah berhasil diabadikan dalam benda berbentuk kotak ajaib itu.

Akhirnya ia kembali duduk disampingku, mengalihkan kamera dari depan wajahnya dan serius memandang satu-satunya makhluk tercantik di dekatnya kini.

“Dia harus bisa mengalahkan aku”

Aku menggeleng lemah, “Yakinlah tak ada yang mampu mengalahkan mu dalam segala hal”

“Kalau begitu tak ada yang boleh mengambilmu dari ku”

“Jahaattt...”, tentu aku menjawabnya dengan senyum manja.

“Apa yang akan kau lakukan jika suatu saat aku membawa wanita yang yakinlah tak akan seistimewa kau ke kehadapanmu?”

“Aku tak akan berkomentar, siapa pun itu dia telah memenangkan hatimu dan kupastikan bahwa senyummu untuk ku tak kan terbagi bahkan hadirnya”

“Baguss... berarti bantu aku merayu ayah dan ibu untuk segera membawa gadis itu untuk berada dalam satu figura foto kita”

“86 komandan”

Semburat jingga menjadi pemandangan yang berbeda sore ini, mungkin juga terakhir kalinya untuk kebersamaan yang harusnya selalu dimaknai istimewa bahkan sebelum perpisahan jelas di depan mata.

Tangan berat itu kini berada di atas kepala ku entah gaya berfoto gimana lagi yang ingin ia abadikan. Aku sayang dia, sayang sekali.

Selalu ada yang peduli



Malem dunia...

Sungguh ku tak menduga bahwa ketika keinginan mu seolah mendapat sambutan karpet merah dari Sang penulis skenario ,tak ada sesuatu yang mampu terucap untuk menyadari bahwa ini kah rezeki yang datang dari arah yang tak disangka-sangka?

Akhir-akhir ini aku memiliki banyak teman baru, kali ini aktor dalam kisahku adalah teman-teman yang hadir dari dunia maya, tempat yang menunjukkan bahwa kini jarak tak berarti banyak meski yahh ada sedikit hal yang tidak bisa dipungkiri semacam keinginan untuk bertatap muka langsung. Dan mereka entah mendapat inspirasi darimana sehingga bersedia masuk dalam dunia ku yang tak banyak menjanjikan apa pun, semoga saja mereka tidak pernah kecewa telah mencemplungkan dirinya dalam lingkaran wanita yang belum jelas mau kemana ini.

Aku menulis namun tak cukup berani untuk menampilkan setiap hasil jemari yang menari di atas keyboard ke dalam akun media sosial milikku, rasanya takut untuk menyadari betapa karyaku belum pantas untuk dilihat banyak pasang mata, tak kuat menanggung sakit jika akhirnya mereka memberikan masukan yang menusuk hati entah dengan maksud baik sekali pun. Jadi yaaa, sekiranya tulisan ku layak baru aku akan mem-publishnya jika tidak hanya ku lemparkan kepada teman-teman ODOP yang akan selalu menerima ku apa adanya.

Dulu diawal membuat tulisan selalu ku posting, hingga ragu hinggap dan rasa minder mengalahkan kemampuan diri. Aku menghilang dari peredaran akun sosial dan terkurung dalam zona nyaman yang kupagari dengan dinding tebal agar hatiku tak hancur kala yang lain mencerca hasil rangkaian kataku yang tak berarti.

Namun kini, kusadari bahwa jika ingin sukses maka sudah selayaknya berlaga seperti orang sukses, ini bukan berarti menyombongkan diri tanpa melihat kemampuan yang dimiliki. Setiap aku menelurkan sebuah karya pasti tak akan kusimpan dalam dekapan, ku biarkan ia terbang melayang mencari penikmatnya sendiri tak perduli dengan cercaan yang akan ku dapat, tapi pasti... masih akan terasa sakitnya... ahh jalan menuju puncak tak kan pernah mulus selalu ada jalan berkelok juga terjal yang harus dilalui.

Ada juga hal yang ternyata selama ini luput dari pengamatanku karena terlalu sibuk untuk menjaga hati dari luka sebab melihat diri seolah tak mampu.

Beberapa orang yang aku tak tahu dia siapa, yang aku tahu kami menjalin pertemanan di facebook mengirimiku pesan, di awal dia hanya menanyakan kabarku dan setelah dirasa pembuka percakapan sudah cukup baik sebuah pertanyaan menyadarkanku dari tidur panjangku selama ini. Dia menanyakan karyaku kenapa tak dimunculkan di facebook, aku terpaku membaca pesannya. Jelas aku tak langsung percaya dan pengakuannya kembali mengejutkanku bahwa blog ku tersimpan rapi bersama hal penting lainya di dalam bookmark-nya.

Temanku “maya” lainnya mengirimi ku pesan singkat yang memberikanku semangat untuk meraih mimpi-mimpiku, ia selalu menjadi orang yang mengunjungi setiap karyaku mesti tak meninggalkan jejak apa pun. Yang lain mengingatkan agar aku tak kelelahan dan dilarang keras untuk tidak lupa makan agar tipes ku tak lagi menjadi penghalang merajut cita.

Allah.. inikah yang kau berikan ketika aku sendiri tak percaya pada kemampuan yang telah Kau titipkan? Ketika harapan-harapan tinggiku terhalang oleh sikap ku sendiri? Entah betapa rendahnya aku kala aku terlupa akan Dzat yang maha mengetahui isi hati, mendengar setiap rintihan juga pengabul doa yag lirih ku panjatkan.

Tak ada alasan lagi untuk terkungkung dalam tempurung, penentu masa depan adalah diriku sendiri, jika yang lain mencemoohku kelak maka ia akan ku tinggalkan tak perlu membuktikan aku bisa pada mereka yang tak percaya akan kemampuanku, proses tak mudah ini akan kupersembahkan kepada orang-orang yang tulus menganggapku ada dan meyakini mimpiku yang dengan cara terbaik akan ku jemput.

Aku tak sendiri sebab di luar sana banyak manusia pemberani yang juga sedang memperjuangkan mimpinya.

Temen ODOP tuh keterlaluan...




One Day One Post adalah komunitas yang telat ku ketahui, kalau lebih cepat pasti aku akan tergabung dalam ODOP 1 berjuang bersama dia, hhaa.. Namun lebih beruntung aku mengenal komunitas ini sekarang yang mempertemukan aku dengan penulis-penulis yang tak kalah hebatnya, mesti tak satu atap namun kami toh bernaung pada komunitas yang sama, memperjuangkan mimpi bersama mesti dinding memisahkan kami, hhii anggap saja LDR an (ahh sudahlah...)

Sedikit mendengar cerita dari nya tentang ODOP memunculkan sisi sombong dalam diriku (astagfirullah...), satu tulisan setiap harinya? Ahh mudah sekali, apalagi hanya 10 kalimat, tak ada yang berat. Tak ada persiapan sungguh-sungguh untuk menunggu pertempuran link dengan kawan-kawan, hanya tak sabar saja.

Taaraaa... Allah sendiri membenci orang yang berjalan di atas muka buminya dengan mendongakkan kepala dan di minggu pertama saya kelimpungan (pliss, jangan di sokorin...)

Mengawali minggu kedua , ada tekat untuk bertobat mencoba untuk benar-benar tak mengutang 5 tulisan dalam satu pekan. Alhamdulillah hasil tak menipu prosesnya. Kesadaran yang ku pupuk serta kedisiplinan untuk tak berhutang berdampak baik, mesti tak setiap hari mampu setor link setidaknya setiap minggunya berhasil membayar hutang.

Ada banyak hal ternyata yang menjadi penghalang, seolah dinding semakin menebal saja dan butuh keyakinan akan kemampuan diri untuk mendobraknya, menjadikannya alas untuk berdiri lebih tinggi. Dan kebanyakan berasal dari dalam komunitas sendiri, ini sungguh derita yang tiada akhir (alaayyy...)

Dengarkan dan perhatikan, kalian itu sungguh terlalu dan kalian yang ku maksud adalah teman-teman ODOP batch 2.

Bukankah bang syaiha bilang menulis 10 kalimat dalam satu hari dan apa yang kulihat saat blog walking belakangan ini ? jemari tangan tak cukup mampu menghitung jumlah paragraf setiap blog yang ku kunjungi. Ini membuatku merana, seperti tak elok jika kalian balik mengunjungi karya ku yang reot seolah gubuk tua yang lama ditinggal pemiliknya, doyong dan siap ambruk meski angin hanya bertiup sepoi. Kalian telah menarikku untuk lebih tinggi melompat.

Satu hari sama dengan 24 jam dan ketika mataku baru terbuka belum juga sempurna tiba-tiba saja harus terbelalak saat pemberitahuan share link kita sudah memiliki tanda-tanda kehidupan. Satu menit lepas jam 12 malam kemarin sudah terposting blog kalian tak lama berselang yang lain berlari mengantri untuk unjuk gigi. Aaarrrgggghhhh..... aku saja belum punya ide untuk menulis apa untuk ku pamerkan. Kali ini kalian mengajarkanku cara untuk tak hanya menunggu ide, namun menjemputnya.

Belum lagi isi blog kalian yang berkelas , malu nian aku saat posting hal-hal remeh hanya untuk menggugurkan kewajiban ODOP. Kupingku memanas seolah kalian telah berbisik bahwa sejatinya penulis haruslah memiliki kemampuan diatas rata-rata, karena itu dilarang keras untuk meninggalkan setiap detail sekeliling kita jdan diwajibkan menambah informasi melalui media apa pun, karena jika kau tak tahu apa-apa bagaimana kau akan menulis? Dan alasan sibuk dengan kegiatan tak lagi diterima, memangnya yang lain pengangguran... gemeesss sama kalian ihhh..

Oke, begini saja.. aku tak akan lagi memperbincangkan kalian di belakang takut dosa, jadi maafkan untuk setiap prasangka yang sempat hinggap di pikiranku. Terimakasih untuk setiap ilmu yang tersirat dalam setiap interaksi kita, kalian bebas melakukan apa pun kecuali satu... don’t leave me pleasee....

Sewa Alat Kelistrikan Sewatama Tempatnya

WikiKomponen.com Hampir semua pekerjaan dikerjakan dengan menggunakan alat yang berhubungan dengan kelistrikan sehingga jika listr...