apa

Tubuh Makin Rileks Dengan Koyo

Meraih mimpi bukanlah perkara mudah, namun semangat untuk mewujudkannya mampu merobohkan dinding penghalang setinggi apa pun itu. Banyak contoh orang-orang yang berhasil meraih mimpi dengan memaksimalkan waktu yang Tuhan berikan. Aku pun mencoba melakukannya, bukan hal mudah. Menjadi pekerja full time tak menyurutkan niatku menjadi seorang blogger. Terkadang setiap malam menjelang harus menyempatkan waktu menulis, belum lagi akhir pekan menghadiri kegiatan-kegiatan di luar kota. Seru sih terlebih ini adalah impianku.

Sibuknya jadwal yang harus dijalani seringkali membuat tubuh pegal dan justru menganggu kinerja, pengen rasanya pijat biar rileks, eh tapi ya ga bisa ninggalin kerjaan gitu juga dong. Bisa kena marah, fatalnya lagi kehilangan kepercayaan, duh bahaya. Akhirnya aku dapat solusi mengatasi badan yang loyo, ya pakai aja koyo.Fungsi koyo untuk tubuh saat ditempel di bagian-bagian tertentu membantu mengurangi rasa pegal juga meregangan otot-otot, kehangatannya membuat badan lebih rileks, terlebih di musim hujan seperti ini. Setuju? Wah, jadi barang bawaan wajib kemana pun pergi deh. Beli di toko terdekat juga pasti tersedia. Pertolongan pertama agar hasil kerja bisa maksimal, ya kan?

Awalnya sih agak ragu, pengalaman pakai koyo itu lengket, susah diambil dan berbekas. Ternyata koyo dari hansaplast enggak lengket juga nggak berbekas. Senangnya. Apalagi kemasannya pakai teknologi heat lock, dijamin aman dan terjaga hangatnya.


Nah, beda lagi kalau pas lagi mendaki gunung atau olah raga ekstrem lainnya, koyo juga jadi andalan untuk membantu mengurangi pegal-pegal pada kaki, punggung, tangan, pundak atau bahkan pegal dan kaku pada bagian leher sekalipun. Eh kalian pernah ngerasain juga ga? Coba baca dulu di https://www.id.hansaplast.co.id/bantuan-instan/sports-and-activity/neck-and-shoulder biar tahu harus ngapain ketika tiba-tiba otot kaku saat olahraga. Membaca itu cara terampuh untuk mengobati kebodohan, banyak informasi yang di dapat dan tentunya bermanfaat. Jangan lupa pilih bahan bacaan yang menutrisi otak ya guys.


Oh iya, perlu diingat juga, boleh banget aktif banyak kegiatan tapi jangan lupa juga untuk memberikan hak tubuh. Istirahat cukup, penuhi nutrisi tubuh juga olahraga. Badan yang sehat menjadi aset kita untuk meraih mimpi dan bermanfaat bagi sesama. 

Gimana, sudah tenang kan? Yuk lah kita bertualang :)



2013 Terakhir Kita Bersua

Malam belum larut, mata masih terjaga namun tak ada niatan untuk melakukan sesuatu. Ahh, malam minggu pasti tak masalah jika bermalas-malasan, meringankan kinerja otak setelah sepekan harus berputar dengan banyak hal yang memusingkan. Anggaplah ini hadiah untuk diri sendiri.

Gawai aku letakkan di sebelah tubuh, hening, tak ada pemberitahuan apa pun sedari tadi. Hmmm, begitulah. Mereka yang sering muncul pun akan diam jika sabtu malam menjelang.

Aku meletakkan guling menyender pada tembok lalu memposisikan tubuh sedemikian rupa agar nyaman beberapa jam ke depan. Lembaran-lembaran buku tebal yang sejak bulan lalu belum juga rampung kembali kujelajahi. Dua puluh menit berlalu hingga gawaiku bergetar. Melirik sejenak untuk memastikan dan memutuskan harus bertindak atau biarkan saja. Bukan sekadar tersenyum bahkan aku melonjak melihat siapa nama yang tertera di layar.

Namamu.

Hhii, sudahlah tak perlu kusebutkan siapa namamu. Kenapa? Nanti alasannya ada di paragraf mendekati ending dari tulisan ini.

Balas segera atau menunggu beberapa waktu? Hendak membalas bagaimana ya?

Pesan belum sepenuhnya aku buka. Hanya baris awal yang justru semakin membuatku penasaran dengan kelanjutannya.

"Dik, sekarang dimana ... "

Apa yah lanjutannya? Lama sekali menunggu detik jarum berpindah tempat. Aku sudah tak sabar untuk membaca lanjutannya.

Baiklah. Sepuluh menit kurasa cukup.

Kalian tahu apa pesan utuhnya? Hanya spasi kemudian tanda tanya, hhaa. Iya benar, tak ada kelanjutan selain yang sudah terpampang di layar tanpa perlu aku membuka seluruhnya. Itu saja sudah membuatku tak henti tersenyum. Belum... tak segera aku membalasnya. Aku justru melihat pesan-pesan sebelumnya dan yahh April 2013 sejak dia tahu bahwa aku adik dari teman satu organisasinya.

Tahun 2013 saat aku malu-malu mengurung diri di kamar saat dia datang untuk membahas program kerja dengan teman satu organisasinya, kakak sulungku. Di lain hari aku terpaksa mengintipnya dari balik tembok saat dia tiba-tiba muncul untuk menangkap kelinci Bapak yang lepas dari kandang, Bapak saat itu sedang pergi dan Kakak entah di mana, pokoknya cuma dia laki-laki yang ada di rumah.

Kekagumanku sebatas itu hingga suatu hari kami berpapasan di SMA. Aku sudah mencoba bersembunyi di balik badan teman, namun dia justru memanggil. Eh, tahu dari mana yah namaku? Terpaksa aku berhenti dan mengangguk canggung. Perlahan dia menghampiri dan jantungku berdegub tak beraturan. Genggaman tanganku mencengkram erat jemari teman, takut kalau-kalau dia pergi dan membiarkanku sendirian dalam situasi ini.

Dengan senyum yang membuatku tak berkutik dia menyerahkan sebuah buku, "Ini dibaca yah, minggu depan aku ambil ke rumah. Ingat, itu pinjam lo."

Semua berlalu dengan cepat dan temanku melongo sesaat setelah dia menghilang dari balik parkiran motor.

"Kok bisa kenal?" (Baiklah, temanku termasuk adik kelas yang panas dingin jika bertemu dengan kakak kelas yang seorang aktifis, hmmm)

Aku masih belum bisa berbicara. Rasanya pengen cepat-cepat ke kelas dan melihat buku yang dipinjamkan.

Oiya, kenapa aku bersikap seperti itu? Kakak sulungku akan bersikap dingin jika aku dekat-dekat dengan laki-laki. Aku tidak mau mendapat perlakuan seperti itu makannya lebih baik bersikap tak peduli daripada kehilangan perhatian kakak, kan? Pengen protes sebenarnya, harusnya kakak tidak mengajak pulang laki-laki ke rumah dong. Hmmm, merepotkan.

Aku terkikik geli melihat history messenger yang tata bahasanya sangat berlebihan. Yah, ternyata aku bisa alay juga ya. Menulis satu kata dengan banyak huruf mubadzir, alay beut deuh.

Menjelang kelulusan tak ada kabar berita hingga aku lupa rasa debar yang pernah menjalar.

Sekarang, setelah sembilan tahun berlalu dan dia kembali. Aku harus bagaimana?

Kakak... lihatlah. Bagaimana susah payah adik perempuanmu ini menjaga diri.

Kemudian aku tersadar. Ini sudah tengah malam. Untuk apa aku berkomunikasi dengan laki-laki asing di waktu yang tidak wajar?

Kuputuskan untuk tidak menjawabnya. Kemudian mencoba untuk memejamkan mata. Nihil. Aku masih tak ingin tidur.

Terngiang pesan ustadzah tadi siang. Salah satu cara wanita menjaga diri adalah dengan tidak membuat laki-laki jatuh cinta padanya (terlebih untuk yang sudah bersuami).

Baiklah. Jangan memancing.

Kakak... tolong doakan agar kelak tidak merepotkan suamiku karena secara sadar atau tidak telah membuat laki-laki lain jatuh cinta padaku.

Doakan aku di multazam, di kota suci Mekah yang tak lama lagi segera kau kunjungi. Tak henti lantunan doa mengiringi langkahmu menuju panggilan-Nya.

Susahnya Mencapai Khusyuk Dalam Shalat

Alhamdulillah masih inget sama janji buat nulis pengalaman shalat jamak yah, hhii. Sebenernya bukan karena lupa sih tapi lebih ke males aja, duh jangan ditiru.

Shalat adalah ibadah penting, tiang agama yang akan dihisab pertama kali. Itulah sebab kenapa Nabi SAW mewanti-wanti umatnya untuk menghadirkan hati ketika mendirikan shalat. Masalahnya kita ini jangankan shalat, suruh baca buku aja susah fokus, betul? Eh apa cuma aku aja?

Teringat kisah tentang sahabat Nabi SAW, Ali bin Abi Thalib saat diuji shalatnya. Beliau menjanjikan akan memberikan sorban jika Ali ra berhasil khusuk dalam shalatnya, boleh memilih warna biru atau merah. Nah, Ali ra menjalankan shalat dengan khusyuk, menurutnya. Lalu setelah selesai segera ia menyebut salah satu warna sorban karena yakin lolos dari tantangan Nabi SAW.

Apa kata Nabi SAW?

Ternyata Ali ra belum khusyuk dalam shalatnya sebab masih memikirkan hal lain, ini terlihat jelas saat Ali ra sudah memutuskan sorban apa yang hendak dipilihnya.

Siapa yang meragukan keimanan Ali ra? Jika Ali ra saja masih belum sepenuhnya khusyuk dalam shalat lalu bagaimana dengan kita?

Susah memang mencapai khusyuk itu, terlebih di kepala kita masih berputar urusan duniawi yang tiada habisnya. Seperti pengalaman yang belum lama ini.

Sekitar pukul 18.00 WIB aku sudah bersiap di dalam mushola stasiun, hendak menjalankan shalat magrib, tenang saja sebab jadwal kereta masih pukul 18.30 WIB. Namun tetiba ketenanganku terusik ketika terdengar dari pengeras suara bahwa kereta yang akan membawaku ke Jakarta sudah tiba di stasiun. Bersamaan dengan itu iqamat dikumandangkan dengan cepat. Ingin hati shalat munfarid namun apa daya sudah berada di tengah shaf makmum yang saling berdempet di dalam mushala kecil ini.

Alhamdulillah, imam membaca surat pendek seolah mengerti keadaan hati kami yang tidak tenang. Di dalam otak aku sudah menyusun rencana sehabis magrib segera masuk gerbong. Shalat isyanya bagaimana? Nanti gampang lah bisa di dalam gerbong atau di stasiun tujuan, sebab jadwal tiba belum menemui waktu shalat subuh.

Namun yang akhirnya tidak seperti itu. Tak lama usai salam imam segera beranjak berdiri kembali, ahh pasti ini jamak shalat isya. Baiklah, semoga tidak lama-lama, hatiku sudah tak tenang mengingat waktu yang cukup lama berlalu sejak pengumuman dari pengeras suara terdengar. Alhamdulillah ternyata imam meng-qashar shalat isya. Menjadikan yang empat dua. Segera, tak ada dzikir, tak ada doa, aku beranjak memasuki gerbong kereta.

Taraaa....

Kereta berangkat sesuai jadwal yang tertera. Memang datang lebih awal namun menunggu di stasiun hingga tiba saatnya untuk kembali berangkat.

Aku? Maluu... Astaghfirullahal 'adzim... ampuni hamba Ya Allah.

Bagaimana tentang pahala shalatku tadi? Wallahu 'alam.

Sebenarnya lebih banyak hal lagi yang aku pikirkan sedari shalat tadi, seperti tuntutan kepada pihak KAI jika sampai aku ketinggalan kereta karena tidak sesuai jadwal.

Baiklah, banyak hal yang bisa diambil pelajaran dari setiap pengalaman. Terharu aku terhadap imam shalat, aku berfikir mungkin beliau juga salah satu penumpang kereta yang menunggu waktu keberangkatan. Beliau memahami betul tentang syariat islam yang memberikan keringanan bagi musafir untuk mendirikan shalat wajib. Aturan menjamak dan mengqashar shalat juga surat-surat pendek yang menjadi pilihan.

Dan ... sombongnya aku yang berlalu begitu saja, meninggalkan tempat sujud tanpa lebih dulu meminta perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Terlupa bahwa sembilan jam perjalanan berada dalam genggaman-Nya.

Tak boleh terlena, ini menjelaskan tentang ilmu yang belum seberapa, saatnya menyadari untuk terus mempelajari, syariat-syariat islam itu mudah dan dengan berpegang teguh padanya ketenangan juga kenyamanan baru akan didapat.

"Sesungguhnya seseorang ketika selesai dari shalatnya hanya tercatat baginya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, separuh dari shalatnya." [HR. Abu Daud no. 796 dan Ahmad (4/321), dari 'Ammar bin Yasir. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadist ini hasan.]

Domain Authority Anjlok, Tetap Semangat Menuliskah

Aku baru bangun tidur kala pesan dengan namamu muncul, pemberitahuan tentang anjloknya DA. Iya, Domain Authority memegang pengaruh penting untuk blogger. Menaikkan DA itu butuh perjuangan, terlebih DA menjadi acuan sebuah perusahaan/instansi untuk mengajak kita kerjasama.

Kaget? Jelas dong. Sebagai blogger pemula tentu kenaikan DA menjadi penyemangat tersendiri, ada batas minimum dimana kita bisa bergabung untuk mendapatkatkan project yang menghasilkan. Yah, meningkatkan DA itu perjuangan loh. Dan sekarang ketika target sudah di depan mata tetiba anjlok?

Hhii... aku sih kalem. Jujur sedih, kecewa, kesel itu pasti. Bayangin dari DA 17 ke 9? Wkwkwk, itulah kenapa anjlok sebab turunnya ga main-main, terjun bebas, hhaa.

Kenapa masih kalem? Sebab belum menjadi fulltime blogger, yah maunya sih gitu nantinya. Nanti bukan sekarang loh ya. Perjalanan panjang untuk bisa sampai tahap tersebut. Masih merintis dan belum fokus duh.

Oiya sebenernya ada lagi yang bikin tenang, dia yang mengajariku banyak hal tentang dunia blogging justru malah memberikan semangat. Padahal mah sama eh engga justru mirisan dia, dari DA 21 anjlok ke 10. Sabar yah pak guru.

"Masih semangat nulis kan?"

Pertanyaannya mengejutkanku, membawaku kembali kepada niat awal memutuskan menjadi blogger. Nulis untuk apa?

Kadang memang mudah berbelok arah dari niat awal ketika dihadapkan pada nominal. Sekarang jika seperti ini kejadiannya, mau gimana?

Aku tersenyum, belum menjawab pertanyaannya. Masih menata hati, kembali intropeksi diri.

Tulisan ini hadir sebenarnya bukan untuk mengatakan pada dunia bahwa aku baik-baik saja, tidak sepenuhnya. Lebih dari itu, ada dorongan untuk menyemangati diri bahwa niat yang semula dibangun harus tetap berada pada jalurnya.

Baiklah, wahai diri tetaplah menulis, jagalah semangat untuk terus berbagi dan memberi arti.

Uniknya Wanita Menyambut Bulan Ramadhan

Sekitar dua bulan lagi kita akan bertemu dengan bulan ramadhan, Insya Allah. Ada yang begitu merindu hadirnya namun tak sedikit yang hanya sebatas ucapan semata, tak tulus lahir dari lubuk hati, yah baiklah tak perlu menghakimi mari intropeksi.

Wanita adalah makhluk unik yang tiada habis untuk diperbincangkan. Terlebih wanita mendapatkan keistimewaan dari Tuhan dengan datangnya tamu bulanan. Iyup, inilah yang menjadikan wanita melakukan hal "aneh" yang tidak diduga oleh pria dalam rangka menyambut datangnya bulan suci. Apa saja?

1. Mencari teman untuk membayar hutang puasa.

Hampir setiap wanita pasti memiliki hutang puasa disebabkan karena siklus bulanan tersebut, rentang waktu antara satu dengan lainnya tidak selalu sama. Beruntung jika hanya bolong sehari namun harus berlapang dada apabila tamu datang di awal dan akhir bulan ramadhan.

Biasanya para wanita teringat akan hutang-hutang puasanya menjelang bulan ramadhan di tahun berikutnya, nah tantangan untuk membayar hutang puasa di hari-hari biasa sangat berat untuk itulah mereka membutuhkan teman yang juga memiliki misi yang sama.

2. Mencari teman dengan masa menstruasi yang berdekatan

Siklus bulanan wanita memang berubah-ubah, banyak faktor yang mempengaruhinya namun biasanya tidak signifikan, hanya lebih cepat atau lebih lambat beberapa hari. Nah, menjelang bulan puasa beberapa wanita mulai mengamati siklus bulanan teman wanita lainnya. Tujuannya? Yah, tentu untuk menjadi partner makan siang kelak, hhee.

3. Dekat-dekat dengan teman sholehah

Datangnya bulan puasa mengetuk hati nurani setiap manusia terlebih wanita yang mengedepankan perasaan. Kadar keimanan naik dan tersadar akan besarnya kesempatan meraup pahala di bulan penuh berkah ini, karenanya mencari teman untuk menjaga iman tetap membara sangatlah penting. Betapa ia tahu bahwa waktu sebulan itu singkat dan merugi jika disia-siakan.

Beruntung bisa khatam Al-Qur'an, nambah hafalan, menghadiri majelis taklim, atau bahkan ikut itikaf. Terlebih bisa melanjutkan berpuasa 6 hari dibulan syawal dilanjut dengan membayar hutang puasa yang bolong di bulan ramadhan. Wahh, pasti plong deh ga punya tamggungan puasa untuk menyambut bulan ramadhan tahun depan.

Masih banyak lagi hal yang biasa dilakukan untuk menyambut bulan puasa. Apa pun itu memang sebaiknya semua direncakan agar tak terlewati begitu saja. Jangan lupa persiapkan mental, yuk mulai sekarang belajar sabar-mengatur emosi-, marah-marah memang tidak membatalkan puasa tapi sayang banget kan kalau puasa kita sekadar menahan haus dan lapar tanpa membekas dan mendapat pahala?

😊

Insto Dry Eyes : Teman Kerja Sehari-hari

Bekerja di depan komputer adalah hal biasa untuk sebagian besar orang di zaman digital seperti ini, bahkan mereka bisa tidak beranjak dari t...