Es Dawet Rania

3 komentar

Rania memejamkan mata, mangambil udara sebanyak yang ia bisa hirup, membuangnya perlahan, mengulangi beberapa kali dan membuka mata.

Baaa...”

Ia menghela napas keras sampai-sampai orang di depannya tertawa cekikikan.

“Kau sedang apa? Main petak umpet?”

“Aku sedang berdoa”

“Ooo, semoga Tuhan mengabulkannya. Ra, bareng aku yuk pulangnya?”

“Aamiin. Engga deh Ga, duluan sana”

“Hujan deras gini kamu mau pulang naik sepeda? Bahaya udah malem”

“Magrib baru berlalu beberapa saat Ga, nggak usah berlebihan deh. Sana pulang aku masih ada urusan”

Gara menuju tempat parkir sepeda motor dengan lemas, gadis itu selalu menolak perhatiannya. Harus bagaimana lagi?

Senyum yang Rania paksakan menghilang melihat berlalunya Gara bersama sepeda motor bututnya. Lelaki itu begitu baik, sangat baik malah terhadapnya namun ia tak mau berhutang budi lebih banyak lagi. Karena lelaki itu juga sekarang Rania bisa menjadi penjahit di salah satu pabrik ternama di kota Solo.

Rupanya Rania masih menimbang-nimbang sesuatu, bungkusan es dawet pemberian Gara tadi siang ia pegang erat pada tangan kirinya. Tangan kanannya sibuk menggenggam air langit yang tumpah.

Tidak mungkin meminta untuk menghentikan hujan, salah satu tanda kebangkitan yang ingin Tuhan tunjukkan pada manusia, setidaknya begitulah salah satu makna dari potongan ayat yang ia baca dari Al-quran setelah salat subuh tadi.

Langit semakin kelam, jika ditunda maka gelap malam akan sempurna mengunci kemampuan penglihatannya. Baiklah.

Tetes air hujan menghujam seluruh tubuh Rania, mantol plastik yang ringan terbang kesana-kemari tertiup angin kencang, tak mampu melindungi seutuhnya. Kacamatanya basah, itu bukan masalah, saat ada cahaya dari kendaraan yang mendahuluinya ia bisa mengayuh sepeda anginnya lebih cepat sedangkan jika kendaraan yang lewat dari arah berlawanan menyorotkan lampunya, ia akan berhenti, silau cahaya mematikan sejenak kemampuannya melihat di balik kacamata minus 3 nya.

Jarak sebelas kilometer yang biasa dapat ia tempuh dalam waktu satu jam sepertinya harus lebih lama untuk malam ini, mungkin bisa dua kali lipat.

Rania tersenyum, tatapan beberapa orang di emperan toko melukai perasaannya. Tapi ia tetap tersenyum. Dan hujan menyamarkan matanya yang berkaca-kaca. Perihnya tetes air yang menusuk mata tak seberapa dengan rasa kasihan yang coba orang-orang tampakkan. Rania tidak suka dikasihani, tidak suka.

Badannya menggigil, masih setengah perjalanan lagi. Ahh, gaji pertama akan ia belikan jas hujan yang lebih bagus. Iya Rania akan mendapat gaji pertama sebentar lagi, sekitar dua puluh tiga hari lagi.

Waktu berjalan lambat untuk Rania saat hujan, namun Tuhan masih menyayanginya hingga ia tiba di rumah dengan selamat. Ibu Rania menyambut kedatangan putrinya dengan handuk di tangan, ada sembilu yang mengiris hatinya saat gemeletuk gigi terdegar dari dalam bibir yang membiru.

“Bu, aku bawa es dawet. Ibu bilang waktu itu ingin membelinya kan? Yuk kita makan sama-sama”

Wanita tua itu tersenyum, sekuat tenaga menahan diri agar tak menjatuhkan bulir-bulir air mata.

“Sana nduk mandi dulu nanti kamu masuk angin”

Rania memasuki rumah, di berbagai sisi terdapat ember-ember kecil tempat menampung air hujan yang masuk melalui celah-celah atap rumahnya. Ia kembali tersenyum. Setidaknya kasur untuk tidur malam ini, masih kering.

Kini es dawet pemberian Gara tadi siang sudah berpindah tempat ke dalam gelas plastik dengan dua sendok makan.

“Ibu dulu,” ujar Rania ceria

Ibu menyendok air santan dengan gula jawa itu, memasukkan nya kedalam mulut.

“Tidak enak ya, Bu?” tanya Rania melihat ibunya mengernyitkan dahi. Segera ia mencicipi minuman yang begitu diinginkan ibunya. Hal serupa ia tunjukkan setelah itu.

“Ini tidak enak, apa seperti ini Bu rasa es dawet? Apa karena sudah tidak dingin lagi, rasanya berubah jadi masam, Bu?”

Tangan keriput itu membelai lembut kepala Rania, ada tatapan bersalah sebab tidak pernah mengajak anak semata wayangnya untuk mencicipi minuman kesukaannya itu. Minuman seharga tiga ribu rupiah terasa mewah untuk keadaannya sekarang, hasil berjualan gorengan keliling desa terasa sia-sia jika untuk membeli es dawet. Lebih baik membeli beras dan bahan-bahan untuk berjualan esok hari.

“Sayang, es dawet ini sudah rusak, tidak bisa dimakan lagi. Besok kita beli lagi ya”

Rania menunduk, andai saja ia bisa lebih cepat sampai rumah mungkin ibunya bisa menikmati minuman kesukaannya, ahh, lambat sekali ia mengayuh sepeda.

Tak apa, hari ini Rania belajar satu hal bahwa minuman bersantan tidak dapat tahan lama, harus segera dihabiskan. Maaf Gara, es dawet permberianmu terbuang percuma.

Tuhan Maha Baik, mengajarkan langsung banyak hal pada Rania. Ia tersenyum lagi, lirih bergumam Alhamdulillah 'ala kulli hal (segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan).

Ciani Limaran
Haloo... selamat bertualang bersama memo-memo yang tersaji dari sudut pandang seorang muslimah.

Related Posts

There is no other posts in this category.

3 komentar

Posting Komentar