Jadi Mamah

Libur telah tiba... libur telah tiba... hatiku gembira... yeay...

Sejujurnya yang membuat bahagia adalah ketika hari libur dan ga punya janji yang harus ditepati. Me time. Bener-bener me time. Iya serius di rumah sendiri.

Maka iseng aku mencoba untuk jadi mamah. Maksudnya melakukan apa yang biasa mamah lakukan.

Bangun usai subuh biasanya mamah mulai ngecek kesiapan untuk sarapan. Masak nasi terutama, kan waktunya paling lama tuh. Eh, ini dua tempat rice cooker kotor. Kalau udah gitu mamah bakal masak di kompor. Tapi aku males, hhaa.

Sarapan pagi ini pakai roti tawar dikasih susu coklat sama parutan keju, ga usah dibakar keburu adik sama bapak pergi. Bukan gaya sok sarapan sehat sih apalagi ala bule jujur aja yah namanya perut indonesia kalau belum kesentuh nasi ya belum kenyang, hhii.

Udah rumah hening, mamah mulai cuci baju, tenang bapakku yang diam-diam cinta sama mamah udah sediain mesin cuci, ciyee ga ngucek-ngucek lagi deh. Karena pake mesin jadi bisa ditinggal buat ngerjain yang lain. Kalau mamah biasa nyapu aku balik ke gadget, wkwkwk.

Mamah itu kalau nyapu lamaaaa... aku hitungan detik aja kelar. Bedanya apa? Yang tampak dan sering dilewati saja yang kusapu, hhii.

Eh entah mesin cucinya yang magic atau gadgetku yang ajaib, tetiba udah selesai aja nyucinya. Yah merasa terpanggil buat njemurin, mungkin masih pagi biar nanti siangan kering.

Cuci baju ke dua, tenang bukan pemakaian baju yang boros, kemarin ga ada orang di rumah jadi ga ada yang nyuci baju.

Aku mulai sadar, ini kalau dikit-dikit pegang gadget yang ada sampe sore ga beres kerjaan. Maka aku selimuti benda tersayang itu tak lupa mengubahnya agar tak berisik. Damai.

Sembari mesin cuci baju bekerja aku menyelesaikan cucian piring yang menggunung, iyuh, hhaa. Udah dibilangin kemarin ga ada orang di rumah pake protes lagi, wkwkwk.

Cucian piring selesai hampir bersamaan dengan tanda mesin cuci baju juga usai. Njemurin lagi.

Beres. Beres. Dua pekerjaan paling berat, yuhuuu.

Mau masak nasi, eh berasnya abis. Mau ke warung belum mandi, duh kan ga cantik tapi laper. Galau deh.

Hhaa... aku tetep mandi dulu dong sebelum keluar rumah meski cuma lima langkah.

Taraaa.... percaya deh, waktu yang berlalu dengan mengesampingkan gadget terasa lebih bermanfaat. Lalu tetiba saya seperti kesindir omongan sendiri, hhaa.

Nasi kelar. Lauknya apa? Tinggal goreng aja apa yang ada. Untuk hari ini libur dulu makan sayurnya yah. Sehari doang. Ga papa mah makan goreng-gorengan, hhii.

Nyatanya nasi mateng toh ga segera aku makan... ada kasur menggoda dan gadget yang membuai mata untuk dibersamai.

Kesimpulan tulisan ini adalah.... ada sesuatu yang menciptakan kekuatan dimana setiap ibu rumah tangga mampu melakukan pekerjaan yang tiada habisnya dan berulang setiap hari.

Mamah, cepet pulang, Ani laper.

Lalu selintas teringat seorang guru berujar, "Anak muda jangan sombong kamu, jangan mentang-mentang ngaji, nasehatin orang tua pakai dalil. Apa kamu lupa, baju yang yah mungkin kamu beli pakai uangmu, apa juga kau cuci sendiri? Kau setrika sendiri? Hidangan yang kau santap usai lelah mengaji apa kau masak sendiri? Lalu ketika Allah berikan luang untuk menuntut ilmu dien, kau lupa dan melampaui batas."

Banyak yang terlewat dari rutinitas mamah sebenarnya. Bagaimana beliau rajin menyirami agar tanaman cabenya tidak kering, membalik baju agar warnanya tak pudar sebelah, mengaduk nasi yang masak agar tak kering, dan aku menyerah untuk menyebutkannya satu persatu.

Cepet pulang ya Mah... itu ayam sama kucing ga dateng kalau mamah ga di rumah 😊

Sekian. Saya mau bobok siang.



First Solo Hiking - 3

Angin sore ini lumayan kencang, menerbangkan daun-daun kering yang berserak, debu-debu menganggu penglihatan… tapi ternyata, bukan alam saja yang sedang kacau, hatimu pun juga.

“Bapak ada di rumah?”

“Mau apa?”

“Mau tanya tentang kebenaran informasimu barusan.”

Matanya menghujam tajam, napasnya menderu, angin mengorak-abrik rambut ikalnya ke sembarang arah.

Kamu, kemana saja selama ini?

Siang itu setelah menghadiri acara pernikahan teman sekelas, kamu mengantarku pulang. Kenapa harus diantar pulang? Aku mulai tersenyum sepanjang perjalanan, menatapmu yang melaju dengan kecepatan sedang. Dua puluh menit khayalanku membumbung ke angkasa, semakin dekat jarak menuju rumah semakin tak terkendali debaran di dada. Inikah saat itu? Inikah?

Berulang kali aku menguatkan hati, menyiapkan jawaban terlembut agar tidak terlonjak ketika pertanyaan itu terlontar darimu. Sulit menerima kenyataan bahwa saatnya tiba juga. Yah, aku yakin seratus persen, apa lagi yang perlu diragukan? Dengan baik kamu tahu bahwa pukul sepuluh malampun aku berani pulang melewati hamparan sawah yang minim penerangan, sekarang, saat matahari bersinar garang? Ahh, tubuhku semakin panas dingin.

Aku terburu-buru memarkirkan sepeda motor, menghampirimu yang tersenyum di balik balutan hitam jaket polos tanpa ada satu tulisanpun di sana.

“Mampir dulu?”

“Aku langsung aja yah.”

Cleeenggg…. Khayalanku ternyata mimpi di siang bolong. Bangunan harapan setinggi langit itu merubuhiku seketika. Bergetar, lunglai, tak berdaya.

“Bapak nggak ada di rumah. Sana pulang.”

“Aku ragu.”

“Ya sudah kalau tidak percaya.”

“Kenapa tidak memakai cincin kalau sudah bertunangan? Siapa nama calon suamimu? Kau berbohong.”

Aku memejamkan mata, baru kali ini kamu berbicara dengan nada tinggi di hadapanku.

Kesempatanmu ada tiga tahun yang lalu, sekarang aku tak berani lagi untuk berharap sekalipun kali ini mungkin kau serius. Aku… aku… aku tak mau memberikan hati padamu. Tak mau lagi.

“Maaf yah, aku kasar.”

Aku mengangguk.

“Aku pulang yah. Kamu istirahat, nanti aku telpon sampai rumah.”

Setelah tubuhnya hilang dibalik tikungan aku segera menghapus nomor kontaknya, oh tidak-tidak itu sama saja, badanku gemetar, lalu kuputuskan untuk mematikan gawai dalam genggaman.

Sore ini, kamu menyatakan hal yang aku impikan tiga tahun lalu, yang masih terus aku pertahankan untuk tetap sabar menanti setiap harinya, hingga lemah tertatih untuk memendam harap. Sayang sekali semua tak lagi sama, cintaku masih ada, bersemayam di sudut hati yang khusus kusiapkan untukmu namun keyakinanku hilang bersama waktu-waktu yang terbang.



Bersambung…


Paket Umroh Murah

Rukun islam yang ke lima adalah naik haji (bagi yang mampu), namun sebagai umat islam tentu keinginan mengunjungi Baitullah adalah sesuatu y...