apa

Rumah untuk Hati

Ketika amarah atau pun kesibukan berhasil membawanya jauh darimu.
Percayala, bila dia menganggapmu sebagai rumah untuknya,
maka sejauh apa pun dan selama apa pun dia pergi,
kau akan selalu menjadi tempatnya untuk berpulang.
karena merpati tidak pernah ingkar janji.
Merpati jantan akan selalu kembali pada betinanya,
yaaahh,,, walau kadang mampir-mampir kemana gitu bentaaaaaarrr ...... haha...
Hanya tenangkan saja dirimu,
bila dia memang untukmu, dia akan selalu kembali padamu.
karena hidup adalah sebuah proses, nikmati setiap prosesnya.
Hasil tidak akan pernah menghianati prosesnya bukan? :)

Sebuah Pertanyaan Untukmu


Tiga ratus meter dari rumahku berdirilah bangunan asri dengan 6 ruang kelas dan satu ruangan besar yang menjadi ruang guru juga ruang terima tamu. Setiap pagi ketika melewatinya selalu kupelankan laju kendaraan, melirik ke Sekolah Dasar tersebut dan menganggukkan kepala kala ada guru yang tengah berada di luar. Sebut saja Pak Yunanto, guru olahraga yang selalu berada di luar kelas setiap harinya untuk mengajarkan betapa olahraga adalah hal penting agar kebugaran tubuh terjaga, dengan raga yang sehat maka penyakit tidak mudah datang, semangat untuk merengkuh ilmu pun akan menghampiri serta mimpi yang dicita-citakan lekas tergapai. Petuah beliau masih teringat betul.

Belasan tahun silam aku berada di antara teman-teman sekelas di tengah lapangan upacara. Jumlah kami ada dua belas orang, enam perempuan dan enam laki-laki, entah mengapa bisa seperti itu. Dulunya dibelakang sekolah kami terdapat sekolah dasar pula namun sejak aku duduk di kelas dua, sekolah kami bersatu dan hilanglah persaingan yang dulu sering muncul kepermukaan.

Dipersatukan karena semakin berkurang jumlah murid setiap tahunnya, persaingan yang sering timbul akhirnya dijadikan kekuatan untuk bangkit bersama agar tetap ada sekolah di kelurahan kami. Kelurahan kami terdiri dari 9 Rukun Warga (RW), namun luas wilayah menyulitkan kami jika harus menempuh pendidikan di beda kelurahan.

Karena jumlah warga sekolah yang sedikit memungkinkan kami untuk mengenali adik dan kakak tingkat dengan baik. Istirahat selama tiga puluh menit menjadi waktu berkualitas untuk menghafal tingkah polah sesama penghuni sekolah. Dan dari situlah hal yang hingga kini masih menjadi misteri bagiku dimulai.

Panggil ia Bagas, kakak kelasku. Rumah kami hanya berjarak empat rumah tetangga. Dia sering main ke rumahku bersama teman-teman yang lain sepulang sekolah. Kami memang sering bermain bersama karena usia yang tak terpaut jauh terlebih memang jumlah teman kami terbatas.

Aku ingat suatu waktu saat dia datang kerumahku bersama yang lain, aku tengah tidur siang. Mereka menunggu bangunku dengan menonton acara kartun di ruang televisi. Namun hingga sore aku tak juga bangun maka satu persatu pulang ke rumah masing-masing. Sebenarnya yang terjadi aku sudah lama terjaga, namun jika mau membasuh muka harus melewati mereka, malu dong kelihatan kucel di depan mereka.

Tak tahunya Bagas belum pulang, ia bermain pasir di depan rumahku. Kuhampiri ia, ini jelas setelah aku mencuci muka dan merapikan rambut.

Kenapa belum pulang?”

Sedikit terkejut ia menyadari kehadiranku, wajahnya berubah aneh saat ia mendongakkan kepala dari posisi jongkoknya.

Aku pulang dulu ya”

Eh, aneh. Tiba-tiba saja pamit pulang.

Hari selanjutnya teman-teman kami tiba-tiba saja membuat rusuh. Beberapa dari mereka menyoraki kala Bagas berada dekat denganku. Aku biasa saja, lebih tak paham apa yang mereka maksud. Begitu juga dengan Bagas.

Berulang hal seperti itu hingga membuatku risih juga. Mungkin begitu pula dengan Bagas, ini membuat ia mulai menjaga jarak denganku. Meski begitu teman-teman sering berteriak saat aku berjalan di depan mereka, bilang bahwa Bagas mencariku, padahal jelas Bagas ada bersama mereka dan yang disebut namanya hanya tersenyum.

Aku makin tak paham apa sebenarnya yang mereka maksud. Dan seiring bergantinya 
siang dan malam aku mulai membenci mereka. Aku tak suka mereka menyorakiku atau menjahiliku selama itu berhubungan dengan Bagas. Karena sejak itu Bagas tak mau lagi bertandang ke rumahku, bermain bersamaku ataupun dekat-dekat denganku.

Aku tak juga berani jika harus memulai lebih dulu untuk mendekati Bagas, teman-teman kami pasti akan membuat keributan tak jelas dari ocehan mereka.

Beberapa waktu berselang akhirnya kami terpisah karena Bagas telah lebih dulu lulus. Tidak lagi berjumpa di sekolah ternyata tidak menghentikan kebiasaan teman-teman. Saat di rumah, ketika bertemu di warung, saat lomba tujuh belasan bahkan sekedar aku lewat dimana Bagas dan teman-temannya tengah duduk santai.

Tak pernah ada keberanian muncul untuk menghentikan sikap mereka. Sedikit kecewa sebab Bagas tak mencoba untuk menghentikan ulah teman-temannya, atau aku saja yang tidak tahu? Entahlah aku tak pernah berbicara langsung dengannya lagi sejak saat dulu itu.

Seharusnya Bagas tidak boleh menjauhiku karena toh teman-temannya juga tidak berhenti untuk meneriaki kami dengan perkataan yang tidak jelas itu. Tapi, ahh sudahlah.

Aku melupakan nya hingga bertahun-tahun kami kembali dipertemukan setelah ia menamatkan kuliahnya di luar kota.

Malam ini ia menjadi wakil desa untuk lomba bulu tangkis antar RW, aku disana menjadi panitia perlombaan. Karena suatu sebab dimana lawan kami tidak datang maka RW kami langsung lolos tanpa perlu bertanding. Ada waktu yang lumayan lama menunggu giliran untuk maju.

Beberapa kali aku menangkap Bagas mencuri pandang ke arahku yang itu berarti aku juga melakukan hal serupa, namun masing-masing dari kami saling memalingkan. Pemberontakan dalam hati aku abaikan, aku sudah lelah untuk memperbaiki hubungan kami, untuk apa berjuang jika Bagas tak ada niat untuk ikut serta.

Sial. Bagas pindah posisi, ia duduk bersama karangtaruna RW yang berada di depanku. Ini jelas tidak memungkinkan dia untuk melihatku namun menyesakkan karena aku bisa dengan jelas melihat senyum itu hadir saat mereka bercengkrama. Aku ikuti caranya, mencari tempat dimana akses tatapanku terhadapnya hilang. Hanya beberapa menit karena sepertinya Bagas sama tersiksanya denganku. Ia menghilang.

Jadwal pertandingan antara Bagas dengan lawannya sebentar lagi, namun ia tak juga menampakkan batang hidungnya. Eh, kenapa aku kini mencarinya? Tubuhku semakin menegang setiap wasit meniupkan peluit tanda poin bertambah untuk RW yang sedang berlaga.

Kuputuskan untuk menghampiri ketua panitia, mengeluarkan alasan paling pengecut untuk sekedar menghindari mata ini menikmati segala tingkah Bagas saat bertanding nanti. Aku ijin pulang karena besok masuk kerja.

Kutinggalkan gedung serbaguna yang masih riuh oleh sorak penonton. Rasa ini masih mengganjal, entah sampai kapan. Kenapa tak ada keberanian dari masing-masing kami untuk kembali memulai seperti dulu kala.

Kerikil di jalanan menjadi pelampiasan rasa kesalku pada teman-teman, kenapa mereka harus merusak hubunganku bersama Bagas dengan sorakan-sorakan tak bermutu itu.

Untukmu Bagas, apa ada yang kau sembunyikan dariku? Benarkah maksud teman-teman bahwa sejak dulu kau ingin merasa lebih dari pertemanan kita? Kumohon, jika setelah ini kita bertemu maka menyapalah karena aku masih malu untuk melakukannya lebih dulu.


----------+++++++++++------------

haii tetangga, kita tidak mungkin seperti ini terus kan?

Suara dari Seberang

1 pesan diterima
Hey gadis kecil. Jangan lupa makan.

Aku tersenyum membaca pesan tersebut, kembali perasaan tak menentu menguasai hati. Ada hal yang tidak seharusnya hadir, namun masih enggan untuk menyadari bahwa suatu saat rasa ini harus disudahi.

Godaan untuk segera membalas pesan memang besar, sayangnya kilatan tentang rasa sakit mengurungkan diri berbuat. Ahh, kenapa kita harus dipertemukan saat tak ada lagi kesempatan untuk mencoba? Begitulah, jika kenyataan tidak sesuai harapan seringkali waktu disalahkan.

Pukul 23:00 WIB jelas aku pasti sudah makan, bisa diterka bahwa pengirim sms tidak sedang benar-benar mengingatkanku soal makan malam. Aku tahu betul apa maksudnya. Tengah malam kini di kotanya, tak perlu heran jika ia masih terjaga. Hening malam adalah waktu yang selalu ia dambakan sebab memberikan ruang bagi segala kreativitasnya untuk berkembang. Juga saat yang tepat menyanyikan lagu pengantar tidur untuk “adek kecilnya”, aku.

Dulu aku kira semua tak akan bertahan lama jadi kunikmati saja, mendapatkan perhatian dari seseorang yang mengerti dirimu adalah hal indah yang sedang diburu banyak manusia dan aku hanya perlu duduk manis saat hal itu ditawarkan padaku. Namun ada yang tidak beres, seolah putaran waktu semakin menguatkan “rasa” pada masing-masing kami. Aku mulai menyadari kejahatan yang tengah aku lakukan.

Pernah dengan canda aku berkata padanya untuk memulai hari tanpa ada bayang-banyangku, iya jawabnya. Ia selalu menuruti segala apa yang aku minta namun ia juga mengatakan akan berbagai kemungkinan hati yang terlanjur terpatri oleh desir rasa yang telah bersemi. Baiklah aku akui lemah hatiku untuk menyadari ada seseorang yang terluka karenaku.

Hal gila yang akhirnya kulakukan adalah melanjutkan hari-hari seperti biasanya. Aku masih saja suka setiap pesan-pesan pengingat makan dan istirahat datang berkala, itu hanya pembuka dan kelanjutan cerita setelahnya tak kuat untuk aku ungkap.

Sekarang?

Ahhh, aku rindu mendengar suaranya lagi. Sederhana saja sebenarnya, kubalas pesan itu dan segala inginku akan terwujud. Entah apa yang ia lakukan saat mengantarku terbuai dalam mimpi, ada semangat aneh yang selalu hadir esok harinya. Senyum akan menghiasi wajahku, menjadi pribadi manis sepanjang hari juga semakin menanti sosok itu disampingku.

Sungguh ini tidak boleh dibiarkan, harus dimulai dari mana untuk menyudahinya.

Gontai aku berjalan pelan menuju meja rias, membuka laci teratas dan mengambil sesuatu dari kotak kecil berwarna merah menyala berbentuk setengah lingkaran. Jemariku lama tak berhias apa pun dan kuputuskan untuk membuka identitas diri, jari manisku tak lagi kosong kini ada kilatan emas yang berkilau disana.

Akan kumulai dari sini, tak mungkin lagi untuk terus menawar, harus kusadari secepatnya bahwa hati ini sudah ada yang memiliki.


----------+++++------


Terinspirasi dari seorang kawan yang hobi minum kopi juga menyampul buku. Tidak ada yang salahkan untuk menjadi inspirasi?

Makasih, Bang..


Punya abang cowok itu nyebelin, yakin. Ngeselin juga, apalagi kalau si abang lebih rajin dan lebih rapi dari aku. Tapi tetep aja namanya cowok, rapinya dia juga cuma kamar sendiri. Rajin nyuruh adiknya bebenah rumah. Kayak pagi ini :

“De, pekarangan di sapu gih”

Aku bersungut mendengar suara abang yang lagi sok sibuk di dalam kamarnya. Ngerjain apa coba dari tadi subuh ga kelar-kelar, heran deh. Sudahlah ga usah digubris, terserah mau ngomong apa juga.

“De...”

Berjingkat aku meninggalkan ruang tengah yang bersebelahan dengan kamar abangku.

Ding.... ding... ding...

Ahh sial, handphoneku tertinggal di atas kursi terpaksa harus balik kanan meski baru dua jengkal melangkah. “Halloo...”

“Adek cantik mau kemana?”, suara dari seberang terdengar

“Eh”, kepalaku berputar mengarah ke kamar abang. Sesosok pemuda dengan kaos putih dan celana tanggung berdiri di tengah pintu dengan senyum jahil yang sudah kuhapal.

“Ganti nomer lagi, Bang?”

“Iya, ganti untuk yang paket data”

“Ada gratisan telponnya?”

“200 menit kesemua operator”

Huh. Kumatikan telpon dalam genggaman.

“Ruang tamu diberesin ya”

Kembali aku melangkah menuju dapur.

“De, jangan lupa rumah di sapu.” Mengabaikan suara abang yang sedikit berteriak karena jarak kami yang semakin lebar memang mengasyikkan, bawel amat deh.

Rumah dengan hanya dua penghuni saja memang sangat sepi, ayah dan ibu sedang mengantar kedua adik kami ke rumah nenek. Kangen katanya. Kenapa nenek tidak kangen sama aku dan abang ya?

Adikku ku kembar perempuan, manis sekali. Umurnya baru tiga tahun, mereka lincah sekali berlari kesana-kemari. Siapa pun yang bertemu akan jatuh cinta pada mereka, sayangnya mereka asyik sendiri jika sudah bersama, aku dan abang seringkali diabaikan. Mungkin karena perbedaan usia kami yang terpaut cukup jauh, tujuh belas tahun. Sedangkan aku dan abang hanya berselisih dua tahun.

“Ini sendoknya masih licin, yang bener dong De nyucinya”

Heemmm.... kenapa si abang menyusulku ke dapur? Menganggu sekali sih. Aku ambil sendok yang ia pegang lalu meletakkannya bersama tumpukan piring kotor lainnya. Pergi. Ya, tidak kulanjutkan mencuci piringnya.

Aku kembali ke dapur setelah yakin si abang akan menghabiskan lama waktunya di kamar mandi. Wangi shampoo menjadi penanda bahwa setidaknya ia tidak akan keluar dalam dua puluh menit.

Pintu kamar aku buka lebar, menggelar modul-modul yang selama sepekan ini asal tumpuk saja di atas meja belajar. Radio mengalunkan lembut suara renyah penyiar favoritku dalam menyampaiakan berita terkini mengenai perkembangan pariwisata daerah. Sesekali tersenyum saat penyiar melewatkan detail keindahan suatu obyek, hhaa.. jelas aku sok tahu, karena aku sering menjelajah pesona yang disediakan alam. Ahh, kak Bray kau harus ikut denganku untuk mengetahui ada tempat tersembunyi yang masih luput dari banyak pasang mata.

“Kita mau sarapan apa ini?”

Deg.... duh, memang sudah dua puluh menit ya kenapa si abang sudah muncul lagi?

Aku bangkit, melewati abang yang sibuk mengeringkan rambut basahnya dengan handuk yang 
kemudian mengekorku.

“De, mandi gih sekarang.”

Baiklah ini hari mingguku, setidaknya ijinkan aku menikmati waktu sesuai keinginanku. Masih dalam diam aku berlalu setelah membukakan tudung saji yang di dalamnya tersedia sayur sop juga ikan asin.

Kembali aku berhadapan dengan kertas yang berserakan di dalam kamar.

“Mandi gih sekarang, buru..”

Aku menolak pemberian handuk dari abang, cukup sudah kesabaranku. “Abang maunya apa sih? Rumah udah beres, sarapan juga udah siap. Adek ga gangguin abang kan?”

Anak sulung orang tuaku itu memang menyebalkan, mendengar rentetan kata-kataku malah menggerakkan tangan besarnya untuk membuat rambutku berantakan.

“Bentar lagi temen-temen abang mau dateng De, mungkin mereka disini hampir dua jam.”

Aku mendengus kesal, ini rumah kan milik bersama tapi kenapa seolah aku memiliki akses terbatas setiap teman abang datang. Terpaksa aku melangkah menuju kamar mandi.

Selama dua jam kemudian, abang dan kedua temannya sibuk memelototi laptop mereka di ruang tengah, kertas-kertas berserakan juga gunting, solasi, garisan dan berbagai alat tulis lainya. Tak ketinggalan beragam rupa warna cat air memenuhi setiap sudut yang tersedia, berantakan.

Sedangkan nasibku? Di dalam kamar dengan pintu tertutup dan dilarang untuk keluar. Ini sudah menjadi kewajiban sejak tiga tahun silam. Parahnya kenapa aku selalu menurut? Entahlah, abang menjadi penjaga dan pelindungku dalam banyak hal. Terkadang tak ada kata penolakan untuk setiap perintah yang ia lontarkan. Tapi lama-lama aku sebal juga, arrrgggghhh... kebebasanku kenapa abang yang tentukan?

“De, sirup nya dimana ya? Yang di kulkas abis.”

Bersiap berdiri saat abang mencegahku, “Kasih tau aja ntar abang ambil sendiri”

“Di lemari makan, jadi satu sama kopi dan teh”

“Makasih...”

Ada sesuatu yang membuatku segan terhadap abang, tapi apa? Entah, aku tak paham juga.

Dua jam berlalu dan rumah kembali hanya kami di dalamnya, abang membuka lebar pintu kamarku, membiarkan lebih banyak udara masuk tidak hanya melewati jendela. Ia duduk di atas ranjang, menghadapku yang sibuk memilah buku-buku yang sejak tadi tak kunjung beres.

“Makasih ya De udah mau nurut”

Aku mengangguk pelan, sembari berfikir kiranya berani tidak ya aku bertanya tentang keganjilan ini.

“Maafin abang yah”

Kembali aku hanya mengangguk. Tidak enak benar rasanya, takut sekali membuat abang marah.

“Mau tau kenapa abang nglakuin ini ke kamu?”

Mataku berbinar, kedua kaki kuseret mendekati abang, bersiap mendengarkan sesuatu yang selama tiga tahun ini tak mampu aku ungkapkan.

“Wanita seperti kamu adalah tanggung jawab ayah dan juga abang. Maafkan jika penjagaan abang selama ini tidak berkenan. Abang takut melihat kenyataan bahwa wanita sekarang sangat rentan dengan segala macam kejahatan dan godaan. Teman-teman abang mungkin memang tidak akan berkeliling di dalam rumah kita, mungkin juga tidak akan macam-macam kepadamu. Tapi abang sungguh takut untuk apa pun itu. Abang hanya ingin membiasakanmu untuk menyadari betapa berharganya seorang wanita. Betapa beratnya menjaga kehormatan yang hanya kaum kalian yang miliki. Maafkan abang.”

Ada yang berdesir melihat abang mengucapkan kalimat itu sembari menunduk. Ternyata rasa seganku pada abang memang karena hatiku mempercayai ada sesuatu yang mulia dari sikap abang.  
Maafkan aku jika selama ini memendam kesal padamu.

“Bang, jalan-jalan ke toko buku yuk”

Senyum itu ia pamerkan kembali di hadapanku, “Ayuk..”

“Eh ga jadi, nonton bioskop aja yuk”

Rona wajah abang berubah seketika, ada rasa aneh dimana ia tidak menyukai ruangan gelap bersama banyak orang di dalamnya.

“Pleaseee....”, wajah memelas coba aku tunjukkan.

Ia mengangguk dengan berat hati. Aku menggamit lengannya keluar dari kamar. Tenang saja, aku tak akan mengajaknya nonton, sekali-sekali jahil sama abang sendiri boleh dong yaa...

-------+++++---------


SECANGKIR HARAPAN

Ku awali hari dengan secangkir kopi.
Menyeduhnya dengan alunan doa dan pengharapan akan sirnanya kesendirian dan usainya penantian.
Meski sendiri bukan berarti sepi.
Namun, ingin rasanya berbagi secangkir kopi dengan seseorang yang dapat mengerti.
Banyak dari mereka menawarkan diri untuk menemani menyesapi pahitnya kopi.
Hanya saja inginku terlalu tinggi.
Aku membutuhkan seseorang untuk menyesapi pahitnya kopi dan pahitnya hidup ini, bukan mereka yang hanya hendak melepaskan dahaganya.
Ku biarkan waktu menjawab semua penantian dan pengharapanku.
Hingga IA berkata "sudah saatnya kau berbagi kopi pahitmu dengannya"

Bukan Sekedar Wajahmu


Sepertinya ubanku bertambah banyak, iya kah Sayang?”

Aku mengamati sebentar gerakan jari-jari suamiku yang sibuk membolak-balikkan rambutnya ke kiri dan kanan di depan cermin besar dalam kamar kami. Angukkan kecil kuberikan sebelum kembali berlalu untuk meletakkan baju yang baru saja selesai disetrika.

Lihat ini, kerutan di keningku juga sudah mulai terlihat semakin jelas.”

Sayang, kau mendengarku tidak? Ahh, pendengaranku pun sudah tak sepeka dulu.”

Klek...
Merapikan baju dalam lemari sudah beres, aku menghampiri suamiku yang terlihat cemas, “Sebentar lagi Iban dan Lina juga anak-anak mereka sampai, yukk kita keluar kamar.”

Aku terlihat tua tidak dengan setelan baju ini?”

Sudahlah Yah, mereka tidak akan mempermasalahkan itu. Lagi pula kakek mereka kan memang sudah tua”, Aku mengatakannya dengan sedikit tertawa tentu saja.

Kenapa sih kau tidak memanggilku dengan kata “Sayang”, sudah tak pantaskah aku mendengar itu darimu?”

Rona wajahku berubah, sifat manjanya yang dulu muncul lagi seiring dengan usianya yang semakin bertambah juga rasa sensitif yang berlebih.

Aku memilihmu menjadi wanita penjaga hatiku, inginku usia renta tidak memudarkan rasa cintamu terhadapku.”

Entah berapa kali beliau membahas hal ini kepadaku.Sayang, tentu bukan kau saja yang menua aku pun begitu.” 

Tapi kenapa kau tetap terlihat cantik, tak sepertiku yang banyak berubah.”

Selama tiga puluh lima tahun bersama masih sulit saja bagiku menahan diri untuk tidak tersipu akan setiap kata-kata manis yang beliau ucapkan. Rasa panas menjalar hingga ke wajah, pasti pipiku sedang bersemu merah jambu sekarang.

Kenapa masih sama saja rasa terpesonaku akan sosok mu tiga puluh lima tahun silam?”

Sudah cukup Sayang, mari kita sambut anak cucu kita.”

Suamiku menahan lengan kananku, membuatku urung untuk melanjutkan langkah. Mata teduhnya menatapku, “Jawab dulu.”

Kemarilah akan kuulangi kembali pernyataanku.”
Aku menuntunnya duduk di kursi yang tak jauh dari kami, meja kecil yang berada diantaranya menjadi penyangga sepasang tangan renta yang kini kugenggam erat.

Bukan wajahmu yang menjadi alasan utama kita bersama hingga kini, aku jatuh cinta pada pandangan pertama sejak melihat rangkaian kata yang penuh makna pada setiap goresan penamu. Dan bertambah penuh cintaku kala hanya akulah inspirasi kau mencipta karya. Jadi Sayang, aku akan tetap melabuhkan hati selama kertasmu tak lagi polos.

Dan berhenti jika aku tak melakukan itu?”

Itu yang membuatmu berbeda Sayang, dan entah kenapa aku ragu kau akan berhenti melakukannya. Sebab itu juga lah yang membuatmu menjatuhkan pilihan padaku.”

Kau salah, Aku mencintaimu karena wajah cantikmu.”

Tidak akan terjadi jika kau tidak lebih dulu membaca tulisanku.”

Tetap saja aku ragu jikalau parasmu tak seelok ini.”

Berhenti memujiku, perlu kuhitungkan jumlah kerutan di wajahku yang mulai keriput ini? Atau kita adu jumlah uban saja? Seringnya aku yang terlupa sesuatu. Pikunku mungkin beberapa tingkat lebih parah di atasmu. Ingat saat kita mencari kunci rumah? Bertanya pada tetangga sebelah yang biasa kita titipi? ternyata kunci itu kuletakkan di bawah pot dibawah jendela.”

Suamiku terkikik, baguslah jika itu menjadi penanda suasana hatinya yang mulai membaik.

Sayangnya aku tidak mengingat hal itu.”

Astagaa... jika itu berarti aku telah memberitahukan bahwa beliau lebih pelupa maka aku harus bagaimana sekarang?

Tenanglah, yang terpenting sekarang kau harus tetap sehat dan kuat untuk dapat terus menjagaku. Paham?”

Aku menggeleng.

Kenapa?”

Karena kau juga harus sehat dan kuat, tugasmu untuk tetap berkarya dan membuatku terus tersipu.”

Lelaki didepanku tersenyum, aku masih mengagumi senyum itu meski tak seperti dulu lagi. Senyum di atas wajah yang mulai tua memang tak semanis saat tulang rahangnya masih kokoh, namun arti senyuman itu masih sama berkesannya untukku.

--------------++++----------

Terinspirasi oleh pertanyaan seseorang (baca:fans) hhaa, kemarin sore.

 

Mojang


Aku termangu, selalu saja begitu. Saat istirahat seharusnya menjadi waktu yang berkualitas bagiku dan teman-teman untuk membicarakan hal-hal lain di luar pelajaran, sesuatu yang menyegarkan dan mampu melepas penat saat jenuh akan suasana kelas melanda. Semua gara-gara gadis pindahan asal Bandung itu, huh.

Kalian itu kayak ga ada kerjain lain deh”

Teman-teman tak memperdulikan ocehanku. Aldi, Dava, dan Renald tetap melanjutkan perbincangan mereka tentang gadis itu. Berselisih tentang informasi mengenai gadis itu. Jadilah aku tak dianggap karena tak tertarik, ahhh... bagaimana bisa perhatian sahabat-sahabatku yang sudah akrab selama dua tahun ini terenggut oleh pesona anak baru yang masih beberapa bulan mengganti seragam putih birunya menjadi putih abu-abu. Menyebalkan sekali. Ini tidak bisa dibiarkan.

Pengecut semua, ga berani ngajak kenalan?”

Aldi melirikku dengan tatapan meledek, “Gila lu, ketahuan ga ngerti banget sih soal Dinda”

Oooohhh jadi namanya Dinda toh. Aldi temanku asli ibu kota yang ikut pindah ke 
kampung ini memang terlihat paling mengerti soal informasi apa pun tentang gadis itu.

Adindaku itu tidak mudah untuk ditakhlukan kawan,” kali ini Dava anak XII bahasa yang selalu mampu menyampaikan sesuatu lewat rangkaian kata-kata indah dan menggoda mencoba mendramatisir.

Jadi nama panjangnya Adinda, terus panggilannya Dinda, gitu?”

Gulungan tisuue yang terletak di atas meja kantin tiba-tiba mendarat manis di pelipisku, “Sekali lagi kau pura-pura jadi orang bloon maka mangkok soto ini yang akan aku lemparkan.” Memang mengerikan sekali ucapan Renald, maklum saja ia didik oleh seorang ayah yang menjadi pelatih bela diri di kota ini. Dulu waktu masuk ke sekolah semua penghuni sekolah sudah menjaga jarak apalagi sekarang saat ia sudah menduduki kursi pada tingkat tertua. Tapi sebenarnya ia teman yang paling ringan tangan.

Kalau cuma ngliatin doang, sampe lulus kalian juga akan penasaran. Ntar pada alesan lagi ga mau lulus gegara tuh bocah.”

Kini aku dapatkan semua perhatian ketiga temanku dengan apa yang baru saja keluar dari mulutku. Tapi buru-buru aku meninggalkan kursi kantin dengan kecepatan penuh sebelum apa-apa yang ada di atas meja berpindah posisi.

Aku harus melakukan sesuatu, semacam hal yang membuat mereka kembali menganggap ada kehadiranku.

Bersambung.....

  

Sewa Alat Kelistrikan Sewatama Tempatnya

WikiKomponen.com Hampir semua pekerjaan dikerjakan dengan menggunakan alat yang berhubungan dengan kelistrikan sehingga jika listr...