Syafakallah Pujanggaku

Gelap malam selalu menenangkan bagi jiwa-jiwa yang letih bertarung dengan waktu sepanjang hari. Rasa damai menjalar kala tulang punggung telah bertemu dengan kasur kapuk, membuai mata untuk mengalah pada kantuk. Terpejam untuk beberapa detik hingga dering handphone kembali menarikku ke alam sadar.

1 pesan baru dari dia. Senyum melengkung di bibirku.
Berlomba dengan detak jarum jam, balasan sudah terkirim sempurna, merubah tanda ceklist satu menjadi dua ceklist biru.
Typing.... berdebar, mencoba menerka apa yang ingin dia sampaikan.
Sebuah kalimat yang menyatakan tentang kondisinya yang sedang tidak baik-baik saja. Baiklah, dia sedang merajuk untuk diperhatikan.
Obat diminum teratur, perhatikan pola makan, jangan terlalu banyak begadang, yang terpenting beban pikiran. Dia tipe orang yang apa-apa dipikirkan, heran deh.
Typing...
Balasannya kali ini membuatku terpaku. Dia meminta maaf untuk setiap kesalahpahaman yang kerap terjadi diantara kami. Bukan, bukan kalimat ini hingga lidahku kelu untuk sekedar berucap meminta penjelasan. Permohonannya untuk melanggar perjanjian yang kami ikrarkan juga tak sepenuhnya mengangkat amarahku. Otakku membeku saat dia dengan jelas mengatakan bahwa mungkin saja ini adalah kesempatan terakhir kami untuk saling bertukar rindu. Putus asa-kah dia?
Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan ijin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya......” (3:145)
Mencoba meredam setiap penolakan atas segala prasangkanya. Dia keukeuh, memaksaku untuk membuat sebuah pengakuan sebelum ia terlelap (dan mungkin tidak akan membuka mata lagi). Sungguh tidak suka aku melihat ketidakberdayaan ada dalam dirinya. Kemana rayuan yang membuatku melayang hingga langit ketujuh? Kemana ungkapan manis yang membuatku tersipu malu?
Lemah hatiku untuk berdebat dengan kondisinya sekarang. Pengalihan terbaik adalah memintanya untuk beristirahat, melepaskan segala penat. Itu akan lebih baik.
Kenapa sih nyuruh tidur?”
Aku bisa menerka intonasi saat membaca balasannya. Dia marah.
Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan, Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu.....” (3:154)
Ucapan selamat malam juga iringan doa cepat sembuh menjadi penutup percakapan malam ini. Tuhan, kembalikan senyum pujanggaku.
Engkau yang disana, sadarlah ada hati yang teriris sembilu kala harapan itu padam dalam sorot mata teduhmu...

Permintaan Iban - Tamat

Cerita sebelumnya ada Di Sini

Mata Iban berbinar saat melihat motor ayah sudah berada di teras rumah. Asyik.. ayah sudah pulang, Iban bersorak dalam hati. Ia mempercepat langkah kakinya meninggalkan Kak Nala beberapa meter di belakang. Kak Nala ikut tersenyum seolah merasakan keriangan adiknya.

“Bunda, Ayah mana?”

“Wa'alaikumsalam sayang”

“Assalamu'alaikum, Bunda,” Kak Nala mengucapkan salam sambil terkikik melihat Bunda menyindir Iban yang lupa memberi salam.

“Maaf Bunda, Iban pengen ketemu Ayah soalnya”

“Iya sayang, Ayah baru mandi sebentar lagi selesai”

Iban menuju depan kamar mandi dan modar-mandir, tak sabar rasanya menunggu ayah keluar. Suara air yang diguyurkan belum berenti, sungguh ia tak sabar menunggu lebih lama lagi.

“Ayah, mandinya cepet,” Iban menggedor pintu kamar mandi.

“Iya, sudah selesai.”

Suara kecipak air masih terdengar, Iban bersungut.

Kak Nala mendekati Bunda yang geleng-geleng memperhatikan tingkah Iban.

“Bunda, sepertinya Iban mau mengadu pada Ayah”

Kini fokus Bunda beralih ke Kak Nala, “Mengadu tentang apa, Kak?”

“Tadi Iban sama sekali tidak tertarik saat Kak Nala mengajak melihat teman-temannya bermain sepak bola di lapangan. Bunda tahu kan sepak bola adalah permainan kesukaan adik.”

Bunda mengangguk paham.

“Mungkin ada teman sekolahnya yang nakal, sehingga Iban tidak mau lagi bermain sepak bola. Cuma ayah yang bisa membalas kenakalan temannya itu. Itulah kenapa Iban ingin sekali ngomong sama ayah.”

Ada senyum di wajah teduh Bunda, betapa ia bangga pada Kak Nala yang begitu memperhatikan adiknya. Jika sesama anggota keluarga saling memperhatikan maka keharmonisanlah yang akan mereka rasakan.

“Bunda kira Iban ingin berlatih trik sepak bola baru dengan ayah”

“Masuk akal sih Bun. Iban tidak mungkin meminta Bunda maupun Kakak yang jelas tidak tahu tentang sepak bola.”

Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka, ayah keluar dengan wangi sabun yang menyegarkan. Ayah sedikit terkejut melihat Iban berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.

“Iban nunggu ayah?”

Senyum merekah di wajah Iban, “Ayah, Iban mau ngomong sesuatu. Ayok duduk di sofa dulu.”

Tangan ayah digandeng Iban menuju sofa, berkumpul bersama Bunda dan Kak Nala. Semua penasaran dengan apa yang akan Iban sampaikan ke Ayah.

“Ayah, Iban mau minta diajari main sepak takraw”

Ayah dan Bunda saling berpandangan.

“Iban sering liat temen-temen Kak Nala latihan sepak takraw di lapangan, waktu Iban bilang mau ikut katanya tidak boleh. Iban pengin sekali, Ayah pasti bisa mainnya kan?”

Kening ayah berkerut mencerna permintaan anak laki-laki nya ini.

“Iya dik tidak boleh, karena teman-teman Kak Nala sedang latihan untuk mengikuti lomba sepak takraw tingkat kabupaten bulan depan.”

“Tapi Iban mau Kak, Ayah ajari Iban ya?”

Ayah terdiam, tak tega rasanya menolak permintaan Iban. Ia melirik Bunda yang mengangguk, sebuah tanda bahwa Ayah harus menuruti permintaan Iban. Ayah dan Bunda tahu sebuah penolakan akan menghancurkan setiap mimpi dan harapan anak-anak mereka. Namun orang tua juga bukan manusia serba bisa yang mampu mengabulkan setiap permintaan anak-anaknya.

“Besok kita akan beli bola takraw dan akan belajar bersama.”

Iban mengangguk mantap, memeluk Ayah. Ia selalu tahu bahwa Ayahnya yang terhebat. Bunda kembali menyuguhkan senyum di wajahnya, sekali lagi Ayah menjadi pahlawan untuk anak-anaknya.

Tiba-tiba Kak Nala melontarkan sebuah pertanyaan, “Kenapa adik nggak bilang sama Bunda dan Kak Nala kalau mau main sepak takraw?”

“Karena Iban tahu kalau Bunda dan Kak Nala sangat pandai memasak, mana mungkin bisa bermain sepak takraw.”

Ayah mengusap kepala Iban, “Ini berlaku untuk semua, apa pun setiap keinginan dan permasalahan harus diceritakan, tidak boleh di pendam sendiri. Boleh cerita ke Bunda, Kak Nala dan Ayah. Kita pasti bisa memecahkan setiap permasalahan jika bersama-sama.”

Iban memeluk kembali Ayah, Kak Nala mengangguk juga Bunda.

Bunda tersenyum geli bahwa kejutan yang dipersiapkan untuk Iban ternyata salah. Ia telah memberikan bola kaki baru yang kini sudah diletakkan di kamar Iban.

Tawa memenuhi ruang tamu sore itu. Kebahagiaan saat melihat Iban kembali dengan canda tawanya, tak ada anggota keluarga yang menyimpan kesedihan di dada. Rumah terasa bernyawa saat semua penghuninya saling memeluk satu sama lain.


Tamat

Permintaan Iban - keping 3

Adzan duhur terdengar sayup-sayup dari desa seberang, Iban membuka mata. Biasanya ayah akan menggendongnya jika ia malas untuk menunaikan shalat, membawa ke pancuran belakang rumah untuk kemudian beriringan menuju masjid terdekat. Tapi iban tahu, ayah jarang sekali di rumah saat siang. Kalau tak salah hitung mungkin cuma 2 hari selama satu minggu. Dan hari ini bukan salah satu dari hari ayah di rumah.

"Adik... Bangun yuk, kita shalat dhuhur sama bunda," ucap Kak Nala di ambang pintu kamar.

Iban menoleh lemah, "Ayah belum pulang, Kak?"

Kak Nala tersenyum lalu mendekati adiknya, duduk di tepi ranjang, "Iban mau bilang apa sih sama ayah? Cerita sama kakak dong dik".

Lagi, Iban terdiam.

"Yaudah yuk shalat. Mau kakak gendong?"

Iban menggeleng, kenapa harus ayah yang bisa membantu Iban. Coba kalau Kak Nala bisa, kini mungkin ia sudah tak sedih lagi dan bermain dengan teman-temannya di lapangan bola. 

***
Sore itu Iban masih murung, tak ada senyum manja seperti biasanya. Bunda meminta Kak Nala untuk mengajak Iban jalan-jalan sembari menunggu ayah pulang.

Kak Nala sengaja berhenti sesampainya di lapangan tak jauh dr rumah. Lapangan yang tak begitu luas namun seringkali digunakan untuk anak-anak bermain sepak bola. Iban juga suka bermain disini, namun sejak kemarin ia memilih tidak keluar rumah. Mungkin saja bila Kak Nala mengajak Iban kesini, selera bermainnya akan muncul kembali.

"Adik main bola gih, kakak tungguin disini."

Iban mau pulang aja kak, Iban ga suka main bola kaki.

Aneh, sepak bola merupakan permainan kesukaan adiknya tapi kenapa sekarang ia bilang tidak suka? Atau sebenarnya Iban ingin mengadukan pada ayah bahwa ada seseorang yang menakalinya? Itu kenapa hanya kepada ayah ia mau bercerita sebab Bunda dan Kak Nala jelas tidak bisa membalas temannya yang nakal itu.

Harus... Kak Nala harus segera memberitahukan hal ini pada Bunda.


Bersambung...

Permintaan Iban – Keping 2

Baca cerita sebelumnya Di sini


“Assalamu’alaikum, Bunda”

Bunda terkejut sesaat sebelum akhirnya menyadari Iban yang berlari memeluknya, mencium kedua pipinya dengan tergesa. Seragam putih merahnya bersih tidak seperti biasanya yang penuh keringat. Harum pewangi serta pelembut pakaian yang tadi pagi disemprotkan juga masih tersisa, biasanya aroma asam dari tubuh anak bungsunya ini yang mendominasi.

“Bunda, Ayah sudah pulang?”

Senyum menghiasi wajah Bunda, ini baru tiga jam sejak ia mengantar anak-anak ke sekolah.

“Belum nak, biasanya Ayah kan pulang sore sayang”

“Kalau begitu kita telpon Ayah sekarang ya, Bun?”

“Boleh, tapi Iban harus ganti baju dulu dan meletakkan tas juga sepatu di tempat yang seharusnya.”

“Tapi setelah itu kita telpon Ayah ya, Bun?”

Bunda mengangguk. Ia sendiri penasaran dengan apa yang ingin disampaikan Iban kepada Ayahnya. Segera ia membereskan peralatan jahit yang harus ditunda kembali karena Iban sudah pulang sekolah. Belum juga ia selesai, Iban telah kembali dengan baju rumah.

“Ayo Bunda....”

“Iya sayang, sebentar Bunda rapikan meja dulu”

Tak berapa lama Bunda telah mengenggam telepon selular yang berada diantara ia dan iban. Raut wajah Iban nampak tak sabar saat sambungan telepon tidak segera diangkat oleh Ayah.

Tut.. tut... tut...

“Bunda coba lagi dong.”

Bunda mengangguk dan menekan kembali tombol panggilan keluar. Tersambung namun kembali operator memberitakan bahwa pemilik nomer yang dituju sedang berada di luar area.

“Bunda, coba sekali lagi.”

Gelengan lemah dari bunda membuat Iban menekuk kepalanya, semua semangat yang ia tunjukkan lenyap seketika.

“Mungkin Ayah sedang dijalan, Nak. Jadi tidak bisa angkat telpon.”
Penjelasan Bunda tak ditanggapi.

“Iban mau cerita tentang pelajaran sekolah hari ini?”, nada ceria Bunda tak mampu menggerakkan Iban dari posisinya.

“Oh iya, bunda tadi buat kue boneka kesukaan Iban hlo. Kita makan yuk?”

Iban menggeleng, “Bunda, Iban mau tidur biar nanti kalau Ayah pulang Iban bisa langsung bicara sama ayah.”

Bunda mengantar Iban ke kamar, Iban memejamkan mata dan wajah imutnya nampak semakin lucu saat terlelap.

**
Semilir angin siang membuat mata Bunda sedikit berat untuk terjaga, ia duduk di teras dengan jahitan baju dipangkuannya. Sebentar lagi Kak Nala pulang sekolah. Benar saja, Kak Nala muncul dengan wajah sumringahnya.

“Assalamu’alaikum, Bunda”

“Wa’alaikumussalam sayang. Menyenangkan belajar hari ini?”

“Sangat menyenangkan Bunda, tadi temen Kak Nala yang rambutnya kribo itu lupa membawa buku PR matematikanya dan dia dihukum.”

“Apa hukumannya, Kak?”

“Dia diminta pak guru untuk memilih lima soal dari sepuluh pekerjaan rumah untuk kemudian dikerjakan di papan tulis.”

“Wah, kalau benar dia sudah mengerjakan pasti mudah ya Kak.”

“Sayangnya dia membuat kami tertawa karena tak ada satupun soal yang mampu diuraikannya. Teman-teman saling mengatakan bahwa sebenarnya dia belum mengerjakan tugasnya dan beralasan tertinggal.”

“Lalu apa yang sebenarnya terjadi?”

“Akhirnya dia mengakui kalau memang ia lupa kalau ada tugas matematika jadi dia belum mengerjakannya.”

“Itulah kenapa pekerjaan rumah sebaiknya tidak ditunda untuk segera diselesaikan, iya kan Kak?”

“Iya Bunda. Oh iya, adik dimana Bun? Biasanya ikut menyambut kepulanganku?”

“Iban tidur, dia kecewa karena Ayah tidak mengangkat telpon kami tadi siang.”

“Tadi ada yang aneh Bun dengan Iban di sekolah.”

Bunda siap memperhatikan informasi dari Kak Nala.

“Tidak biasanya Iban menyendiri saat teman-temannya bermain sepak bola saat istirahat.”

Pahamlah ia kenapa wangi harum masih melekat pada seragam Iban. Dan yang terpenting ia juga tahu apa yang sebenarnya ingin Iban sampaikan kepada Ayahnya. Tidur siang yang nyenyak sayang, nanti sore Bunda akan berikan kejutan untukmu.

Bersambung...

Ayam - Hewan yang pandai Balas Budi



BAB I
Ayam petelur komersil ditetaskan menggunakan mesin, setelah menetas pun akan dirawat dengan peralatan mesin sehingga tidak ada lagi perlindungan dari induk ayam seperti ayam-ayam yang biasa dipelihara bebas di rumah. Untuk itu semua maka kita harus benar-benar mempersiapkan segalanya dengan baik dan benar. Sesuai dengan kondisi jika ayam berada dalam perlindungan induk.
Masa paling rawan adalah hari-hari awal setelah ayam menetas, kondisi di luar cangkang sangat berbeda dan tidak bias diprediksi. Ayam petelur minimal harus bertahan 80 minggu dengan tingkat produktivitas diatas 90% pada puncak produksi di umur 24 minggu – 41 minggu. Untuk mencapai itu perlu persiapan sejak awal pertumbuhan. Intinya berat badan harus mencapai standard agar system reproduksi ayam siap saat ayam akan mulai bertelur di umur 17/18 minggu.
Itu berarti persiapan dilakukan selama 17 minggu, selama waktu tersebut dibagi menjadi 3 tahap perawatan, yaitu :
1.    Persiapan kandang sebelum kedatangan ayam
2.    Pemeliharaan saat ayam datang hingga umur 5 minggu
3.    Perawatan ayam di umur 5 minggu sampai umur 13 minggu (pullet)

Berikut kita akan membahas 3 tahap perawatan lebih mendalam :
A.    Pada tahap pertama, persiapan kandang  sebelum ayam datang.
Kandang harus dipastikan benar akan kebersihannya. DOC atau ayam umur satu hari sangat rentan terhadap virus dan bakteri. Oleh sebab itu berikut tahapan pembersihan kandang :
-      Kandang yang telah dikosongkan yang berati juga bahwa ayam telah naik ke kandang dengan tingkat lebih tinggi harus segera dipersihkan. Kotoran yang menempel pada lantai harus di ambili dengan lantai benar-benar bersih kembali.
-      Lakukan penyemprotan menggunakan formalin untuk membunuh virus dan bakteri yang ditinggalkan.
-      Tutup kandang jika tidak akan digunakan.
-      Ketika jadwal kedatangan ayam sudah dipastikan maka kandang tidak serta merta dapat langsung dipakai.
-      Proses persiapan kandang dimulai kembali dari awal. Membersihkan lantai dari kotoran-kotoran, menggamping lantai, memasang segala peralatan.
-      Setelah semua dipasang tahap terakhir adalah menyemprot kandang dengan desinfektan, rizotin dan formalin.
-      Diamkan dulu minimal 1 hari hingga dua hari, baru kandang siap untuk digunakan.
-      Perhatikan pula kebersihan lingkungan sekitar kandang.
B.           Tahap kedua , perawatan setelah ayam datang.
DOC biasanya memiliki berat badan standard 30 gram saat datang. Karena sangat kecil dan rapuh maka sangat dianjurkan untuk memperhatikan hal-hal saat penerimaan ayam, seperti :
1.    Sesegera mungkin memindahkan ayam dari dalam box ke dalam kandang, pemindahan dilakukan dengan hati-hati dan lembut.
2.    Pakan dan air harus tersedia dan mudah dijangkau oleh ayam.
3.    Control suhu setelah pemindahan ayam selesai.
4.    Cek kembali suhu setelah satu jam, ada beberapa indikasi yang dapat kita lihat tentang ketepatan suhu bagi ayam.
• jika ayam menyebar dan bergerak bebas itu berarti suhu dan ventilasi sesuai.
• Jika ayam saling berkumpul pada satu titik maka suhu ruangan terlalu dingin, sebaliknya
• Suhu ruangan terlalu panas saat ayam mengepakkan sayapnya dan melentangkan tubuh di atas lantai
-      Perlu diperhatikan pula, bahwa pakan yang akan dikonsumsi ayam haruslah memenuhi segala nutrisi untuk pertumbuhan.
-      Air yang diminum selama 14 hari pertama haruslah air yang sudah dimasak.
-      Karena terlepas dari perlindunan induk maka si ayam akan bergantung sepenuhnya pada manusia.
-      Untuk menjaga daya tahan tubuh, biasanya pemilik telah menyiapkan jadwal pelaksanaan vaksinisasi yang telah dianjurkan oleh pabrik. Pelaksaan vaksin akan dilaksanakan hingga ayam berumur 20 minggu. Yang perlu ditekankan adalah vaksin harus dilaksanakan tepat waktu, sebab jadwal ini telah melalui serangkaian penelitian untuk dapat menunjang kelangsungan hidup ayam kedepannya. Seringkali menjadi kendala adalah vaksin dilarang dilakukan jika ayam sedang sakit.
-      Meskipun sudah menjalankan serangkaian perawatan sesuai prosedur kita kadang kebobolan dengan virus maupun bakteri yang menyerang ayam. Pengobatan ayam sakit paling cepat dilakukan selama 3 hari, jika dirasa belum sembuh maka akan dilanjutkan selama 5 hari atau 7 hari. Setelah pengobatan ayam harus diberi vitamin terlebih dahulu sebelum di vaksinkan.
-      Itu berarti jika satu jadwal vaksin mundur akibat ayam yang sakit aka nada beberapa jadwal vaksin yang terpaksa mundur. Biasanya pemilik akan memadatkan jarak vaksin berikutnya agar dapat mengjar keterlambatan vaksin.
-      Pengalaman pernah memberitahukan tentang akibat keterlambatan vaksin selama 25 jam. Waktu itu adalah jadwal vaksin IBDM untuk menangkal penyakit gumboro.
-      Dan hal yang tidak diinginkan terjadi. Sebanyak 1 angkatan yaitu 7000 ekor ayam terserang penyakit gumboro. Terutama untuk ayam yang berat badannya tidak mencapai standard.
-      Gejala awal penyakit ini akan membuat ayam lemas sehingga tidak ada kekuatan untuk makan dan minum. Tinggal menunggu beberapa jam hingga ayam mati. Sangat cepat penyakit gumboro membunuh ayam. Keterlambatan vaksin bukan satu-satunya yang menyebabkan ayam terjangkit virus ini. Kebersihan lingkungan juga memiliki andil besar.
-      Sekali lagi. Kebersihan merupakan factor terpenting untuk kesehatan ayam.
-      Lebih menyakitkan lagi jika ayam terkena IB. ayam ini memiliki kelenturan sempurna hingga kepala mampu menyentuh tanah. Jika operator kandang menemukan ayam tersebut maka harus dengan segera dibunuh lalu dibakar. Penularan penyakit IB sangat cepat, dan ayam yang terjangkit tidak bias untuk disembuhkan, jalan satu-satunya harus dimusnahkan.
-      Selama proses vaksin operator juga diharapkan melakukannya dengan benar. Lembut dan tidak terburu-buru.
-      Pada kasus vaksin suntik dada, jika petugas vaksin tidak perlahan-lahan maka dengan seketika dapat membunuh ayam saat itu juga.
-      Inilah pentingnya ditanamkan rasa cinta kasih dan sayang dalam memelihara ayam kecil.
C.    Perawatan Pullet
-      Pullet adalah ayam remaja yang sudah siap untuk berproduksi.
-      Ayam yang siap bertelur haruslah memiliki berat badan standard yang itu berarti system reproduksinya sudah matang.
-      Ayam akan mulai bertelur pada umur 17/18 minggu, jika sebelum umur tersebut ayam sudah bertelur maka dapat dipastikan terjadi kesalahan, seperti :
• lampu penerangan kandang sudah dinyalakan sehingga saat malam hari ayam memiliki kesempatan untuk terus makan. Ayam petelur tidak kawin untuk menghasilkan telur namun dapat menghasilkan dengan obat yang telah dicampurkan pabrik ke dalam pakan ayam.
• jika demikian maka sebaiknya lampu dimatikan, dinyalakan saat ayam berusia 17 minggu. Karena umur dibawah itu system reproduksi ayam belum terlalu kuat untuk menghasilkan telur. Ini akan menyebabkan ayam mati lebih cepat karena dipaksa untuk mengeluarkan telur.

#KMOIndonesia


#KMOIndonesia

Paket Umroh Murah

Rukun islam yang ke lima adalah naik haji (bagi yang mampu), namun sebagai umat islam tentu keinginan mengunjungi Baitullah adalah sesuatu y...