Belajar Dari Drama Korea 18 Again episode 2

Posting Komentar
Hai... hai.. para pecinta drakor, siang ini sudah nonton drama apa?

Disini saya akan melanjutkan kembali tulisan tentang pelajaran yang dapat kita ambil dari film 18 again episode 2. Buat kalian yang kelewatan episode 1 nya langsung aja klik baca dulu ya.

Oke sip, yuk kita lanjut.

Di episode 2 ini Dae-Young hampir saja mengungkap identitas asli di depan istrinya, namun niat itu ia urungkan karena ada anak laki-lakinya. Yup, episode kali ini akan menguak rahasia anak kembarnya yang tidak diketahui olehnya maupun istrinya.

Dae-Young yang kembali muda berumur 18 tahun akhirnya berganti nama menjadi Go Woo-Young. Kembali menjadi anak SMA dan teman bagi anak-anak nya membuatnya menyadari bahwa anak kembarnya itu memiliki rahasia yang ia sebagai ayahnya sama sekali tidak mengetahuinya. Itulah yang menjadi alasan baginya menyembunyikan identitas asli. Ia berusaha untuk menjadi teman dekat anak-anaknya, dan mencari tahu tentang keadaan mereka di luar rumah.

Si-a bekerja paruh waktu menjaga minimarket selepas pulang sekolah dan Si-Woo, anak laki-lakinya menjadi korban bully di sekolah juga sebenarnya sangat menyukai olahraga basket.
Muncul pertanyaan dalam kepalanya kenapa ia tak tahu menahu soal ini? Mengapa anak-anaknya tak pernah mengatakan jujur apa yang mereka rasakan atau alami? Bagaimana bisa mereka justru terbuka dengan teman sebaya dan menutup rapat akses dengan orangtua?

Wajarkah?

Ternyata eh ternyata memang ada fase dimana anak remaja mulai menjaga jarak dengan orangtua mereka. Menurut Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psikolog, hal yang biasa ditutup-tutupi oleh anak adalah hal-hal utama yang orang tuanya paling tidak suka dan tidak toleran.

Berbahayakah?

Tentu hal ini perlu diwaspadai bagi setiap orangtua sebab bisa saja hal-hal yang anak-anak tutupi adalah hal yang belum pantas untuk usia mereka atau teman berbagi segala halnya bisa saja menjerumuskannya. Lalu apa yang bisa orangtua lakukan jika keadaan ini sudah terlanjur terjadi?

1. Menjadi "Teman" untuk Anaknya
Memosisikan diri agar si anak nyaman untuk bercerita dengan kita, baiknya memang kita yang memulai agar muncul rasa nyaman sehingga tidak canggung jika berbagi rasa. Seperti berbagi cerita tentang pekerjaan di kantor, atau cerita santai keseharian.

2. Jangan Memarahi Anak
Jika akhirnya si anak sudah mau bercerita maka jangan meresponnya dengan amarah, justru ini akan mengulang ke masalah awal lagi. Buka ruang diskusi, sampaikan nasehat dengan santun agar anak merasa diperhatikan bukan dihukum. Tidak ada salahnya orangtua mempelajari ilmu komunikasi dengan si anak, kesadaran bahwa si anak bukan lagi anak kecil, mereka sudah tumbuh menjadi remaja dengan dunia peralihan menjadi dewasa yang membingungkan. Masa ini sangat penting mendapat pendampingan dari orangtua dan keluarga.

Wow, memang hubungan manusia itu unik ya. Setiap fase memiliki cara penanganannya masing-masing, itulah mungkin muncul pepatah bahwa belajar sepanjang hayat sebab ada banyak hal yang kita tidak tahu dan harus dipelajari.

Jadi orangtua memang ga mudah, mereka harus tetap memperhatikan tumbuh kembang anak-anaknya walau mereka sendiri punya masalah pelik yang harus dihadapi.

Akhir dari episode 2 ini Da-Jung mulai melabrak rumah Go Daek-Jin untuk menanyakan langsung apakah benar bahwa Go Woo-Young sebenarnya adalah suaminya?

Jeng... Jeng... Kira-kira dijawab apa ya?

Semakin seru aja nih ceritanya, ga sabar pengen nonton episode selanjutnya.

Kalian juga penasaran? Cuss nonton bareng-bareng.


Bersambung...
Ciani Limaran
Haloo... selamat bertualang bersama memo-memo yang tersaji dari sudut pandang seorang muslimah.

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email