First Solo Hiking - 4

Sepertinya usahaku untuk memblokir kontaknya berhasil, tak ada lagi komunikasi di antara kami yaaahh walau kadang rindu juga tapi buru-buru kutepis perasaan itu.

Sekian waktu berlalu, aku mulai berdamai dengan masa lalu, kubuka kembali sehingga kontaknya tidak lagi terblokir. Aman hingga suatu malam, dering khusus itu berbunyi, oh tentu aku sudah menyiapkan hati. Tidak, apa pun nanti yang dia katakan sudah tak sama lagi.

"Hai.." sapanya singkat.

"Hai juga.." tak kalah singkat.

"Apa kabar?"

"Baik."

Sudah kuputuskan aku tak akan bermain-main lagi dengannya.

"Mari kita bicara baik-baik."

"Oh dengan senang hati."

"Cukup jawab pertanyaanku ya."

"Oke."

"Kenapa dulu mau aku ajak nonton bioskop?"

Aku akan jujur kali ini, tak ada yang perlu ditutupi lagi.

"Yah, aku berharap sesuatu darimu, tentu saja."

"Sekarang?"

"Kesempatanmu sudah habis."

"Mau tahu alasanku tidak?"

"Tidak."

"Oke."

Tak aku balas, hingga menit selanjutnya dia kembali mengirim pesan.

"Maafkan aku yang dulu."

"Tentu saja."

"Apa benar tak ada harapanmu padaku lagi?"

"Maafkan aku, mari kita sudahi saja segala prasangka yang membumbungkan  harap di antara kita. Memulai kembali sebagai teman sekolah kurasa jalan terbaik."

"Jadi benar katamu?"

"Iya."

"Oke."

Malam itu selesai sudah masa lalu, tak ingin aku mengoreknya lebih dalam lagi, apa pun yang terpendam dalam hatinya sungguh tak ingin aku ketahui. Tersakiti? Sudah lama aku mengikhlaskan. Biarkan dia masih dalam prasangkanya bahwa aku sudah tak sendiri lagi.


Tamat


Ciani Limaran
Haloo... selamat bertualang bersama memo-memo yang tersaji dari sudut pandang seorang muslimah.

Related Posts

Posting Komentar