Minggu, 16 Februari 2020

Indahnya Jawaban Sebuah Doa

Masjid Trans Studio Bandung

Kepindahan ke kota baru itu berarti memulai segalanya dari awal lagi. Doa yang tak henti kupanjatkan semenjak tuan meminang adalah,

"Allah... ringankanlah langkah kakiku menuju majelis ilmu-Mu."

Ga tahu deh gimana iman yang seringnya turun ini jika tak ada asupan nutrisi, dan taraaa hanya hitungan hari saudara sepupu datang dan mengajak pergi ke kajian desa. Senang tiada terkira, rasanya ingin cepat-cepat hari selasa.

"Tuan, boleh ya ikut kajian bareng teteh?"

"Boleh..."

Aku mengernyit mendapat respons mengantung seperti itu.

"Tapi bahasanya sunda, bisa?"

Gleg. Aku lupa. Huaaa... auto nangis dalam hati. Pernah berniat untuk berangkat saja, toh yang dinilai kan niatnya namun akhirnya urung, bagiku itu sama saja membaca Al-Quran tidak disertai dengan terjamahnya. Dapat pahala jelas, tapi bukan mudeng malah mubeng.

Hari berlalu minggu pun berganti bulan. Hingga terbersit untuk membuka akun IG milik ustadzah kenamaan asal Bandung. Yup, dari dulu saya sangat pemilih datang ke kajian, jika belum kenal atau tidak ada rekomendasi maka  nanti dulu deh, hhee.

Jeng... jeng... dapat.

"Tuan boleh ya ke kota dateng kajian?"

Ada ragu, ya secara dia melepas pujaan hati nun jauh ke kota sendirian, "Tahu jalannya?"

"Naik kereta."

"Okee... aku anter ke stasiun."

Yeaaayy... alhamdulillah perjalanan pun dimulai.

Sebelum adzan subuh berkumandang kami harus tiba di stasiun, lima belas menit dari rumah dengan kecepatan santai mengingat minimnya penerangan juga jalur yang menurun dan berbelok tajam belum lagi lubang menganga di sisi kiri dan jurang di sisi lainnya.

"Hati-hati, dijaga tasnya, kabarin klo ada apa-apa."

Aku mengangguk, perjalan pertama sendirian dengan transportasi umum menuju tempat asing berbekal keyakinan. Bismillah.

Masih ada sembilan puluh menit sebelum dimulai, maka kuputuskan berjalan kaki sembari menghabiskan waktu, menurut g-maps butuh dua puluh menit. Ahh perlahan saja, toh dengan begini aku bisa lebih lekat mengamati sekitar.

Eh, ada yang salah dengan g-maps maka kuputuskan bertanya kepada seorang ibu di pinggir jalan.

Ha? Aku salah jalan. Dua kilometer lebih jauh dari persimpangan yang seharusnya aku belok kanan. Ahh, lanjut jalan saja meski ibu tadi sudah memberikan saran untuk naik anhkutan kota warna merah. Nanggung, pikirku.

Nah kan sampai akhirnya, kajian pun belum dimulai, sedikit menarik napas dan merenganggangkan kaki. Satu setengah jam berjalan untukku yang malas berolah raga rupanya nyeri juga, hhaa. Tapi usai kajian justru aku memutuskan untuk berjalan lagi, masih penasaran dengan jarak yang sebenarnya. Empat puluh menit plus mampir sebentar beli buah potong, hhoo.

Di stasiun napasku terengah, mulut mengunyah cepat, otak bekerja mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh hingga akhirnya keluar sebuah keputusan, selanjutnya tidak perlu jalan naik angkutan umum atau ojol saja.

Sore sebelum adzan asar berkumandang, aku sudah bertemu kembali dengan tuan. Menceritakan hal-hal baik tanpa tragedi kesasar tadi tentunya.

"Seneng?"

"Bangeeeet."

Sayangnya jadwal kajian ustadzah minggu berikutnya tidak sesuai dengan waktu kedatangan kereta ke stasiun kecil terdekat, dengan penuh kelembutan tuan menenangkanku.

Akhir pekan ini tuan ada kerja di kota, aku merengek ikut, turunkan di mall saja, aku ada sedikit perlu. Namun di tengah jalan keputusan berubah.

"Kuturunkan di Masjid TSM saja ya, biar lebih dekat jarak kita."

"Urusanku gimana?"

"Aku antar selesaikan dulu kemudian menuju masjid."

Aku mendengus kesal, tapi tak apa deh.

Hujan membersamai kami, tak sampai kuyup namun sedikit menggigil saja.

Taraaaa.... sampai di masjid menjelang ashar, ada kajian yang baru saja usai, kulirik dari lantai atas, tak kenal ustadz tersebut pun sedikit pendengarnya.

Masjid Trans Studio Bandung

Usai ashar berjamaah ada pengumuman bahwa kajian selanjutnya akan segera digelar. Aku diam saja di samping jendela lantai dua, tak ada minat, tak kenal ustadznya pula. Niat awal mau cari makan eh hujan belum reda semenjak tadi.

Berulang-ulang panggilan agar jamaah mendekat, dalam hati aku berbisik, itu berarti masih sedikit, ahh tidak menarik. Hingga kajian dibuka tetiba kuputuskan turun dan bergabung.

Niatku cari berkah dan keutamaan berkumpul di majelis ilmu. Itu saja. Yaa, ustadznya aku tak kenal, sudah kujelaskan diawal bukan bagaimana tipeku datang ke kajian.

Benar saja, sedikit yang bergabung, bahkan aku bisa duduk dibarisan kedua tapi akhirnya malah di barisan terdepan karena mengisi kekosongan, hhaa.

Kajian berjalan di luar ekspektasiku, menarik, penuh interaksi, candaan yang membuang rasa kantuk dan malas. Tetiba ada pesan masuk.

"Acaranya mungkin molor."

Penuh senyum kubalas, "Tak apa Tuan, di sini aku aman dan bahagia. Selesaikan saja dulu."

Magrib menjelang, banner besar datang bersama peralatan besar. Lalu dengan mengernyit untuk memaksimalkan kemampuan mataku yang minus terlihat samar. Eh? Ada kajian lagi? Pengisinya? Ustadz idola tuan. Maka ketika beliau khawatir tentang kenyamananku, kujawab, "Tak usah risau Tuan, bada magrib ustadz idola Tuan ada di sini."

Tenanglah ia. Dan malam minggu yang gerimis itu mengantarkan kami kembali ke tempat ternyaman, rumah. Menutup hari dengan ucapan syukur tiada terkira. Beginilah cara Allah Ta'ala menjawab segala doa, dengan cara-Nya yang tiada terduga, membuat siapa yang yakin terkagum tanpa mampu berucap selain puji syukur yang sudah selayaknya dipanjatkan.

Muslimah, tak boleh alpa mencari ilmu bukankan kita madrasah pertama kelak? Kuatkan niat, jangan berputus asa dalam berdoa dan percaya saja bagaimana Allah Ta'ala malu jika tak mengabulkan setiap pinta hamba yang meminta.

6 komentar:

  1. TSM, jadi ingat dulu sering ngademin ati di situ. Hehehw

    BalasHapus
  2. Masyaallah mbak luar biasa sekali semangatnya. Aku baca sambil malu sendiri.

    BalasHapus
  3. MasyaAllah...semangatnya keren euy...aku setelah lepas dari kampus dan sekolah agak kendor nih ikut kajian

    BalasHapus

Yuk sampaikan dengan santun :D