Ide Bisnis di Era Milenial

Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika. (Kominfo.go.id)

Smarphone tidak hanya digunakan untuk komunikasi saja, anak-anak remaja menggunakannya untuk bermain game online, pelaku bisnis memanfaatkan untuk menjual barang dan jasa, atau sebagian besar demi keperluan konten sosial media saja. Bagaimana pun cara pemanfaatannya ini tentu berbanding lutus dengan penggunaan pulsa. Pulsa menjadi kebutuhan utama agar smartphone dapat difungsikan.

Melihat hal ini tentu kita bisa melihat bahwa pulsa merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan dan dicari oleh semua pengguna smartphone. Sesuatu yang penting, pasti dicari, dan tidak akan hangus. Menjadi penyedia pulsa adalah bisnis yang minim resiko dan tentu saja sangat menguntungkan. Beberapa mungkin belum memahami bagaimana mengatur bisnis yang menjanjikan ini, untuk itu kita butuh mentor yang bersedia untuk membimbing dan mengarahkan.

Tak butuh banyak modal namun jelas menghasilkan, ini bisa menjadi ladang usaha baru untuk para pelaku UMKM, dengan berbisnis maka perekonomian meningkat dan kemiskinan bisa dientaskan. Memulai dari yang kecil dan sederhana namun berdampak luar biasa dengan ketekutan dan disiplin tinggi, kita pasti bisa.

Pulsa sekarang sudah menjadi kebutuhan primer, orang-orang akan memastikan smartphone mereka memiliki pulsa untuk dapat terus menjalankan fungsinya. Bahkan beberapa rela mengeluarkan uang yang cukup besar demi memenuhi kebutuhan hidupnya akan pulsa. Jangan sampai pulsa kosong dan segala kegiatan terhenti, kini itu menjadi momok baru yang tidak bisa dipungkiri.

Alasan itulah yang mendasari bahwa bisnis pulsa menjadi bisnis yang menguntungkan. Anak-anak, remaja, masyarakat umum dan pelaku bisnis membutuhkan pulsa, sebagian besar masyarakat Indonesia membutuhkan pulsa namun belum banyak yang menyadari bahwa mereka bisa lebih hemat dengan berbisnis pulsa. Bukan hanya menjadi konsumen semata.

Tak ada tantangan berarti dalam bisnis pulsa ini, sebab yang kita jual bukanlah barang yang mudah busuk tapi tahan lama dan dibutuhkan banyak orang. Banyaknya start up yang juga menyediakan pulsa tidak menjadi masalah besar, sekali lagi, pulsa tak pernah sepi peminat, kita hanya perlu bersaing dengan harga jual.

Konsep bisnis ini sesederhana kita membeli pulsa. Sebut angka, saldo masuk, bayar, beres.

Hal yang membedakan dan tentu akan menjadi kekuatan kita adalah bahwa bisnis ini bisa dilakukan tidak hanya pengguna smartphone saja. Sekarang melirik start up yang juga menyediakan layanan beli pulsa tentu membutuhkan koneksi internet dalam bisnisnya, hal itu bisa menjadi kendala bagi beberapa orang.

Orang-orang yang tidak memiliki smartphone tidak bisa berjualan pulsa, untuk itulah kita hadir. Melalui layanan SMS jualan pulsa bisa tetap dilakukan.

Konsep bisnis ini mirip seperti koperasi pada umumnya. Pendaftaran member per area, member awal akan mendapatkan modal awal cuma-cuma berupa deposit sebesar 200 ribu rupiah. Pendaftaran harus menyertakan fc KTP dan uang pendaftaran sebesar 25.000. Setiap wilayah memiliki penanggung jawab masing-masing, meminimalisir kecurangan dan member yang tidak bertanggung jawab.

Setiap bulan member diharuskan membayar iuran wajib sebesar 25.000 dan jika tidak membayar maka tidak bisa melakukan top up saldo. Uang tersebut akan disimpan dan diakumulasikan selama 12 bulan. Nanti selain pertemuan rutin 2 bulan sekali akan ada pertemuan tahunan yang akan mengembalikan seluruh iuran member dipotong pemberian modal awal (200 ribu rupiah).

Setiap member diberikan softfile berupa banner yang bisa dicetak mandiri sebagai strategi marketing yang bisa dipasang di rumah/di tempat lain sesuai tempat mereka berjualan.

Bisnis ini tidak hanya pulsa, dapat pula mencakup pembayar online lainnya seperti BPJS, tagihan listrik, token, paket data, dll.

Waahh, ide bisnis ini sangat menarik namun tentu butuh banyak pihak untuk merealisasikannya.

Jadi, ada yang mau mencoba?

#PRAJA2019
#anugerahMISGroup
#koperasi
#wirausaha

Awal Mula Jatuh Cinta

Wajahnya sembab, air mata menggenang dan sejak itu aku jatuh cinta yang sebenarnya pada Aa.
***

Setiap wanita tentu akan berbunga-bunga kala lelakinya menjanjikan pernikahan, pun begitu dengan aku. Ada gemuruh dalam dada yang susah dikendalikan setiap kami membahas pernak-pernik pesta, juga detak tak menentu saat terlintas bahwa sebentar lagi akan bersama selamanya, insya Allah.

Aku percaya pada Aa namun tak bisa dipungkiri bahwa belum seutuhnya menyerahkan hati, cinta tentu saja, itu merupakan salah satu alasan mau menerima pinangannya.

Lalu?

Mengenal Hakikat Wakaf

Wakaf adalah hadiah atau pemberian yang disediakan untuk keperluan umum. Contohnya Pak Haji mewakafkan tanahnya untuk pembangunan masjid.
Biasanya sering kita mendengar kebanyakan tanah wakaf diperuntukkan selain masjid juga untuk madrasah atau makam, setuju? Ternyata bukan sesempit itu pengertian wakaf.


Kunjungan ke Kebun Indonesia Berdaya Subang, Jawa Barat membuat saya pribadi mengerti apa arti wakaf yang sebenarnya, pemaparan dari dompet dhuafa sangat jelas bahwa hakikat wakaf tidak mululu berputar pada Masjid, Makam dan Madrasah saja namun lebih luas lagi tentang kegiatan yang produktif. Bagaimana wakaf dari wakif (pemberi wakaf) menjadi lebih bermanfaat untuk banyak kaum dhuafa, inilah yang mendasari dompet dhuafa memilih pembebasan lahan untuk menyalurkan kepercayaan wakif.

Pacaran di Semak-Semak

"Boleh kan sekali-sekali kita pacaran di taman?"

"Ahh, males ahh, nanggung di taman itu, cuma bisa pegangan tangan doang."

Eh, memangnya dia mau apa?

"Nanti kuajak ke suatu tempat yang indah."

Benar saja, sore itu pukul lima kurang sepuluh menit dia kembali mengajakku ke tempat yang siang tadi dijanjikan. Setelah melewati jalan beraspal yang berkelok kami berhenti di sebuah lahan kiri jalan. Sudah ada tiga anak perempuan di situ, tapi anehnya cuma ada satu motor. Aku menunjuk ke arah depan, memberikan isyarat untuk memarkir motor tidak di sekitar mereka, bahkan di depan pun ada dua anak laki-laki yang lebih kecil sedang berjongkok, salah tingkah dengan kedatangan kami.

"Di sini?" tanyaku.

Dia mengangguk, kemudian menggandeng lenganku melewati pecahan botol warna hijau, ada juga bungkus snack dan putung rokok.

"Eh, kemana?" Aku mulai panik sebab dia tak berhenti berjalan, sekeliling kulihat pepohonan yang terbakar, seluruh daunnya menguning, entah sengaja atau akibat kemarau panjang.

Tak ada jawaban, aku cemas memikirkan nasib motor yang sudah tidak terlihat mata.

"Ke sini, Dek. Letakkan saja tas dan jaketmu."

Aku mengikuti isyarat tangannya dan meletakkan segala yang disebutkan di atas sisa pohon yang terbakar.

"Bagus kan?"

Aku mengangguk setuju, pohon-pohon yang menjulang ini berwarna coklat, daun-daun berserakan di tanah, eksotis seperti yang sering kulihat tentang musim gugur di eropa sana. Di depan mata, tentu dengan jarak yang lumayan jauh, hutan cemara hijau menghampar, perpaduan sore yang mengagumkan sempurna dengan warna langit yang cerah.



"Hey, wajah khawatirmu itu bisa tidak dihilangkan?"

Aku mencoba tenang, tersenyum simpul. Baiklah, kita terlalu jauh masuk ke dalam kebun ini. Ada banyak hal yang aku khawatirkan, eh dia malah tenang saja.

Tangannya menggenggam jemariku, tersenyum menatap lekat mataku,"Agak dekat denganku," bisiknya. Jantungku berdegub.

Cekrek... cekreekk... cekreeekkk....

Belasan foto diabadikan lewat lensa kamera. Aku sudah tenggelam menikmati hingga sedikit terkejut menyadari bahwa ada empat laki-laki yang sudah bergabung bersama perempuan tadi. Aku mulai tak nyaman, beruntung dia segera mengajakku pulang mengingat senja sebentar lagi datang.

Setelah melewati perkampungan, aku menoleh ke kanan dan kiri memastikan tak ada orang kemudian memeluknya, berbisik lembut hampir menyentuh daun telingannya yang tidak menggunakan helm, mengucapkan terima kasih telah mengajakku jalan-jalan. Dia memelankan laju motor sembari kami bercanda mesra, tiba-tiba ada motor yang mendahului dan melambat tak jauh di depan kami, menggelengkan kepalanya kemudian menancap gas menghilang dengan cepat. Aku terlejut, duh, ketangkep basah.

"Pasti orang itu beristighfar dalam hati yah liat kita."

Aku mengangguk menanggapi.

"Dasar anak muda jaman sekarang."

Kami tertawa, tapi tentu saja aku sudah melepaskan pelukanku.

"Eh, jangan berburuk sangka."

"Hhaa... habis dilihat dari situasi dan kondisi juga gerak tubuhnya sih begitu maksudnya."

Kembali kami tertawa.

Ini keberkian kalinya kami mengalami situasi semacam ini. Merasa di awasi banyak pihak setiap berkunjung ke suatu tempat, entah semak-semak, kebun teh, bahkan obyek wisata sekalipun. Tidak nyaman melihat tatapan mereka.

Dulu tidak nyaman dengan tatapan laki-laki setiap berjalan sendirian, kukira cincin yang melingkar di jari manis menjadi solusinya eh sekarang sudah jalan berdua pun menjadi korban dari orang-orang yang terlanjur menilai rata setiap pasangan muda-mudi yang berboncengan, duh, tetiba pengen punya dedek kecil aja kalau gini.

Lagian kami juga hanya ingin berfoto, mengabadikan lukisan alam yang Tuhan cipta. Kami sudah menikah dan kami ingin pacaran.

Hhaa, menggelikan memang. Harusnya tak perlu was-was toh jika digrebek kami bisa menunjukkan bukti, tapi entahlah, memandang semua sama masih menjadi pekerjaan besar untuk kita, menilai dari kaca mata sendiri, sesuka hati menghakimi. Mungkin yang bisa kami lakukan adalah tidak membiarkan orang lain menerka kami yang tidak-tidak, kami sepakat berpegangan tangan hanya saat berfoto saja, selebihnya jika ditempat umum ya biasa saja, aku bahkan menolak jika dia hendak mengenggam untuk membantu melewati jalanan terjal, duh, kenapa kami terlalu khawatir orang menilai tidak baik kepada kami? Allah... jaga kami, jaga anak-anak kami.

Tulisan ini menjadi pelarian dari kekecewaan saya, hhaa... entah harus bagaimana, setidaknya dengan menulis suasana hatiku membaik.

Teman... bukankah kita tak bisa diam saja? Bukankah harusnya kita jadi pelopor? Lebih berhati-hati dalam berbuat agar kelak orang lain tidak merasakan dampak buruknya.

Semangat berbagi... semangat memberi arti.