Modal Nulis Dapat Barang Gratis

Hai, hai... gimana sensasi baca judul di atas? Hhii, percaya ga? Harus percaya dong. Nih aku kasih bukti nyata.

Awalnya aku mau buka bisnis, kan seru tuh mandiri dan bergelut dengan inovasi eh tapi tahu sendiri kalau bisnis itu ga semudah menjentikkan jari, perlu tekad bulat dan mental yang kuat. Yah, akhirnya karena tidak bersungguh-sungguh jadi kesel sendiri deh lalu mulai aja curhat kesana kemari. Lama kelamaan malu juga, kelihatan jadi tukang ngeluh gitu. Nah akhirnya segala resah dan gelisah yang tak bisa ditahan sendiri ini aku tulis di sebuah diary digital alias blog, hhee. Pinter-pinter aja menyisipkan ke dalam tulisan jadi pembaca ga perlu tahu kalau ternyata itu curahan hati, hhii.

Ternyata kreasiku ini bisa dapat barang gratis dari Blibli.com loh, ih iya serius. Ini jadi awal aku belanja online, agak parno sih sebelumnya tapi karena dapat gratis ya coba aja eh ternyata ketagihan.

Kreasi Blibli.com
Jaket gratis dari Blibli.com

Mulai deh kepikiran kalau dari nulis aja bisa dapat barang gratis kenapa ga nulis tiap hari? Bayangin kalau setiap kita nulis terus barang-barang yang dibutuhkan bisa didapat tanpa bayar apa ga asyik? Asyik banget pasti yah. Bukan cuma itu aja, pasti ada kepuasan tersendiri memiliki barang hasil jerih payah sendiri. Wahhh, seru nih.

Mengisi blog dengan tulisan setiap hari nyatanya ga mudah loh, awal-awal memang ide mengalir lancar, gampang aja nulis tapi kesibukan harian lainnya bisa jadi tembok penghalang. Ide udah ketok pintu, kita muter mikir mengubahnya menjadi tulisan eh giliran mau nulis ada pesan masuk, buyar deh semua. Apalagi nih ya, aku termasuk orang yang susah fokus, harus benar-benar hening. Giliran waktu mendukung, tak ada suara menganggu eh aku juga udah pulas di balik selimut hangat, hhaa. Apalagi badan udah lelah gegara seharian muterin lapangan. Sempurna sudah alasan untuk memaafkan diri.

Esok hari ketika semangat sudah terisi, pikiran jernih menatap mentari pagi, tekad muncul untuk kembali membangun mimpi, hari ini pokoknya harus nulis. Titik.

Hasilnya?

Nulis dong. Ga semudah itu mematahkan mimpi, ciee.

Ternyata memulai bisnis dengan sesuatu yang disukai itu lebih mudah ya? Setuju?

Eh tunggu, seperti bisnis lainnya bahwa kita harus terus belajar agar prakteknya ga salah jalur. Belajar materi itu perlu dan mempraktekannya adalah sebuah bukti nyata dari kesungguhan. Mustahil sukses tanpa praktek, buang waktu jika tak mempelajari materi, mau praktekin apa coba?

Sebab aku ingin menjadikan menulis sebagai bisnis maka mencari teman seperjuangan adalah hal terpenting. Teman seperjuangan itu banyak manfaatnya loh, mereka bisa jadi guru, memberitahu hal yang kita tidah tahu. Bisa juga jadi teman bersaing yang sehat, kan kalau ada lomba jadi semangat yah kalau ada yang ngajakin. Jadi pemberi informasi juga, waah pokoknya banyak teman banyak manfaat deh. Intinya kita merasa tidak sendiri, ini nih pentingnya biar tumbuh rasa tenang jadi bisa nyaman deh saat nulis.

 Terkadang ide bisnis itu bisa muncul dari hal yang tidak terduga, inget kata senior untuk banyakin persiapan agar saat kesempatan datang kita siap untuk mengambilnya. Giat belajar sebab dunia terus berputar, jangan berhenti jika tak mau ketinggalan. Percayalah kita tidak sendiri, di luar sana banyak pejuang yang sedang tertatih meraih mimpi-mimpi besar mereka. Aku mau jadi bagian dari mereka. Yuk semangat.

Tolong, Jauhi Calon Suami Saya

"Mba saya mohon dengan sungguh, tolong jauhi calon suami saya mba. Maaf seperti memaksa sebab saya tidak bisa meminta ini darinya."

-----------
Aku melirik lelaki yang duduk di seberang, tangannya sibuk melengkapi kotak tts surat kabar tadi pagi. Sesekali menulis, mengerutkan dahi, menarik napas panjang, bahkan melempar pandangan pada jalan berbatu di depan rumah.

"Pulang gih"

"Dih ngusir."

"Aku kan ada kerjaan."

"Ya sana masuk. Ngapain di teras?"

Kami kembali terdiam. Angin siang membawa tetes air yang terasa sejuk menerpa wajahku, tapi tidak mampu menenangkan gemuruh hati di dalam.

"Ngomong aja lagi. Jangan suka dipendem sendiri. Noh, jerawat bukannya berkurang malah nambah."

Ihh sok tahu, emangnya dia ngitungin. Kembali aku mencuri pandang sedang dia masih menekuri kotak-kotak yang hampir terisi separuhnya.

Lelaki yang sejak belasan tahun silam mengisi pagi dengan denting batu kecil mengenai sepeda anginku, enam tahun. Pernah aku memarahinya, bisa-bisa sepedaku berlubang karena ulahnya. Eh dia berkelit, "Yee, itu aku bidik tepat di ruji, berbeda tempat tiap harinya. Ga perlu khawatir."

Seingatku pernah juga kuadukan pada ayah, bukannya membelaku ayah malah tertawa karena ulahnya. Ibu juga hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Jadi anak yang sopan dong. Kalau mau ngajak berangkat ke sekolah bareng ya ketuk pintu bukan lempar batu. Ngerti ga?"

"Ahh lama, nanti klo aku mampir bisa disuruh sarapan sekalian lagi."

Begitulah. Ayah dan ibu mungkin menginginkan anak laki-laki dengan segala tingkah polahnya maka selama masih batas wajar mereka tidak pernah protes. Puffftt..

"Pulang sana," seruku kesekian kali.

"Pusing ahh di rumah."

"Udah mau ujan tahu."

"Lah, rumah ga ada seratus meter ini. Lagian masak kamu tega ga pinjemin payung?"

Ya Tuhan... ini anak siapa sih. Susah bener disuruh pulang. Ahh ya, selalu begitu. Teras rumahku adalah tempat pelarian setiap dia pusing mengerjakan tugas. Terlebih kali ini pekerjaan sebagai arsitek menguras otaknya.

Aku diam saja.

"Masuk sana, masuk angin kamu nanti."

Lah, giliran dia yang bawel. Yah, seringnya begitu. Sejak kami bertetangga dan bersekolah di tempat yang sama semasa putih biru seolah dia menjelma sebagai pengawal yang memastikan aku harus baik-baik saja.

"Hhaa... pengawal? Aku tuan putri dong," timpalku ketika sepeda angin kami beriringan di sepanjang jalan pulang di bulan ketiga setelah perkenalan.

"Belum tentu. Kamu tetep temennya pengawal. Hhaa. Pengawal itu tugasnya mengabdi, mana boleh sakit. Dasar kepedean."

Kami tertawa bersama.

"Mau sampai kapan begini?", pancingku yang berhasil membuat tatapannya beralih dari surat kabar ke arahku, meski hanya beberapa detik.

"To the point aja sih. Susah amat."

"Ram, semisal Fatma deket sama cowok. Temenan doang. Kamu gimana?"

"Ya ga boleh dong."

"Ga boleh gimana? Kan cuma temenan?"

"Hhaa. Aku kok tahu arah pembicaraanmu."

Aku terdiam. Rama, nama lelaki itu. Memang cepat menangkap apa yang ingin aku sampaikan, menyederhanakan segala kerumitan ucapanku.

"Tahu apa?"

"Cewek itu ga bisa nahan cemburu."

"Lalu?"

"Hla kamu pikir cowok bisa?"

"Kelamaan ahh."

"Cowok juga sama, pada dasarnya setiap orang ingin agar dirinya spesial di mata pasangannya. Bedanya cowok bisa menahan rasa cemburunya, kebanyakan ga seekspresif cewek. Begitu."

"Tuh tahu."

"Hhee.. kapan Fatma ke sini?"

"Kemarin pagi."

"Kok ga langsung bilang ke aku?"

"Emang dia ga cerita ke kamu?

"Engga."

"Ya udah. Kamu lah jadi cowok perhatian. Peka kek. Udah mau nikah juga. Jaga perasaan."

"Wuiihh, panjang bener ceramahnya."

"Kan aku cewek juga dih."

"Jadi, ini hari terakhir aku diijinin main ke sini sesukan hatiku?"

"Iya."

"Karena Fatma?"

"Bukan. Karena kelak aku juga ga mau lelakiku menjalin hubungan dengan wanita di luar sana."

"Oke. Aku pulang. Bapak sama ibu mana?"

"Sana pulang, aku pamitin nanti."

Entah apa yang akan terjadi selanjutnya tentang hubunganku dengan teman masa kecil yang telah menyetujui permintaan bapak untuk menjagaku, anak kecil yang baru pindah dari kota ke sebuah desa ini.

Kata orang tak ada yang benar-benar murni dari persahabatan antara lelaki dan wanita, aku tak sepenuhnya setuju. Toh kita bisa. Tapi aku sangat setuju bila ada yang berkata bahwa wanita tak mampu menyembunyikan rasa cemburunya.

😊😊

Menemukan Ide Bisnis dengan Mudah

Sebagian besar orang memiliki impian menjadi pengusaha, memiliki bisnis sendiri dan membuka lowongan pekerjaan bagi orang-orang yang membutuhkan. Aku pun begitu, namun bingung hendak memulai dari mana, baru sebatas keinginan tanpa tahu hendak berbuat bagaimana. Bahkan, memulai bisnis apa masih belum memiliki ide.

Suatu hari aku hendak menghadiri sebuah acara, wah berhubung undangan bukan untuk umum maka bisa diperkirakan yang datang pun bukan sembarang orang, nah, penampilan menjadi ajang untuk menunjukkan diri di kesan pertama. Tahu kan repotnya perempuan kalau soal beginian? Segala dari ujung kepala ke ujung kaki harus cocok, entah gimana caranya. Mulailah bergerilya dari satu lemari ke lemari yang lain, lemari saudara maksudnya, hhee.

Baju dapat, sepatu oke, tas cocok, nah lo seharian cari jilbabnya kok ga ada yang serasi ya? pinjem lemari sebelah warnanya masuk sih tapi pasmina, aku ga bisa pakai. Ada lagi yang warnya serupa tapi terlalu tipis, harus memakai dua lembar agar tidak menerawang, uuurrrggggh, gemes. Coba inget-inget lagi punya ga ya model jilbab yang dibutuhkan. Nihil.

Baiklah, solusinya beli baru, yuhuuu. Eh ternyata ga semudah milih dan tinggal bayar loh. Satu toko ke toko lainnya ga ada yang sesuai dengan keinginan hati, seolah semua toko sepakat mengatakan pemasok sedang kehabisan barang dengan warna yang aku cari. Memangnya kalian, maksudku puluhan toko di kota ini mengambil barang dari supplier yang sama?

Aneh ya, kok bisa ga ada atau jangan-jangan seleraku yang tidak seperti kebanyakan orang? Wah kesempatan nih. Kesempatan apa? Berbisnis.Tapi kalau orang-orang aja ga ada yang nyari masak iya ada yang mau beli barangku?

Akhirnya di sisa-sisa waktu aku menemukan satu toko di pojok jalan yang memiliki model jilbab seperti yang aku butuhkan, alhamdulillah. Ide tentang bisnis ini masih terus mengantung di pikiranku hingga suatu hari aku iseng tes pasar. Pada sebuah acara aku memakai kembali jilbab yang penuh perjuangan untuk ditemukan itu lalu mulai membuka percakapan dengan siapa saja yang sedang berbicara denganku.

"Kamu tahu yang jual jilbab kayak gini ga?" pancingku seraya menunjukkan jilbab yang aku pakai.

"Wah ga tahu, susah carinya."

Masuk perangkap.

"Aku pengen cari, jilbabnya enak, gampang dibentuk, ga mudah kusut, terlebih ga nerawang lagi."

Dia menyentuh jilbabku, bak seorang desainer sedang menilai sebuah kain.

"Iya ihh, adem ya? Mau juga dong, tapi yang ukurannya panjangan dikit ada?"

"Nah loh, kan tadi sama-sama bingung mau cari di mana."

Kami berdua tertawa dan dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya bukan cuma aku yang membutuhkan jilbab dengan model seperti ini.

Yeaaahh, strategi di atur, kertas putih dihamparkan, tinta pena siap menuliskan.

Perjalanan menuju pusat kain terbesar di Kota Solo menjadi awal mewujudkan mimpi. Seharian berkunjung dari satu toko ke toko lain seakan jalur yang mengantar ke puncak dengan bekal harapan yang menjulang. Hingga selesai semua toko hanya berhasil menenteng plastik hitam tak lebih dari dua kilo. Lelah mulai mendominasi memutuskan semangat.

Tak semudah itu mencari kain untuk jilbab impian. Pantas saja tak banyak toko yang menjual jika kainnya saja begini sulit didapat.

Belum menyerah, putar otak, melihat daftar kontak dalam gawai, berselancar perlahan sembari memutar memori tentang siapa-siapa saja nama yang tertulis di sana. Ahh, dapat beberapa. Bertanya tentang penjual kain kepada mereka dan tak menunda lama untuk mendatangi satu persatu dari saran yang di dapat. Hasilnya? Mereka tidak menjual kain yang aku cari, hu huuu.

Baiklah. Tarik nafas. istirahat sebentar. Iya, beberapa hari maksudku. Mendapat rintangan di awal memulai bisnis itu sangat menguras kepercayaan diri.

Ketika semangat kembali muncul akhirnya kuputuskan untuk mencoba mencari online saja, berkelana di dunia maya yang luas ini butuh waktu berhari-hari lagi, hasilnya? Yah, ternyata memang jenis bahan tersebut susah di cari, tapi untungnya belum musnah dari peredaran, hhee. Iya, aku menemukannya, asyiiikkk.

Wah, jadi nih mulai bisnisnya. Eh tapi kan masih butuh banyak peralatan pendukung lainnya? Tenang, kalau untuk itu mah ga perlu ngabisin waktu berminggu-minggu, aku percaya memilih Ralali.com untuk membantu mewujudkan mimpi membuka usaha di tahun 2019 ini.

Sudah lengkap nih persiapan, tinggal eksekusi, bantu doa ya :)

Tafakur Hobi Para Nabi

Tafakur alam adalah hobinya para nabi, begitu garis besar yang aku tangkap ketika mendengar ceramah online ustad gaul, idola anak muda, yang punya ribuan follower, yang suka ngebully para jomlo, founder pemuda hijrah shift, siapa hayo? Yupp, Ustadz Hanan Attaki.

Teringat cerita bagaimana Nabi Zakaria panik karena Yahya kecil belum kembali ke rumah, ternyata Yahya sedang menyendiri menatap lubang yang ia buat sendiri. Sedang apa? Membayangkan bagaimana jika ia meninggal kelak, berada di lubang tersebut sendirian.

Kemudian kisah Nabi Ibrahim yang tertuang dalam kitab suci Al-Quran bagaimana beliau menunjukkan bukti kepada kaumnya bahwa Allah bukanlah benda-benda langit yang timbul tenggelam dan juga bukan berhala yang diciptakan oleh tangan manusia sendiri.

Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan.”

Demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.”

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (QS. al-An’am: 74 – 78)

Merenungi penciptaan langit, bumi dan seisinya dapat mengetuk hati bahwa betapa kecilnya kita sebagai manusia, tak sepatutnya menyombongkan diri hingga lupa semuanya bisa berakhir kapan saja. Jika hati terasa keras, penyakit hati terlihat jelas seperti iri, dengki, sulit menerima nasehat, mungkin waktu untuk bertafakur kita kurang atau jangan-jangan tak ada waktu yang diluangkan untuk melakukannya?

Tidak mudah memang, tak memiliki ilmu tentu mempengaruhi cara pandang kita terhadap apa yang sudah Allah cipta, itulah kenapa aku mencoba berbaik sangka terhadap apa yang alam tunjukkan di depan mata.

Sejak pekan kemarin sepeda motorku tidak ada di rumah, jadi harus menggunakan mana yang ada saja, berhubung keluar rumah paling pagi tentu dong aku pilih yang sudah siap pakai, sudah dipanasi mesinnya oleh bapak maksudku, hhee. Tapi karena itulah, ritual pagi sebelum berangkat pasti terlewat, seperti mengecek ketersediaan jas hujan di dalam jok.

Benar saja, sore pulang kerja hujan turun. Ahh, tak apa-apa kehujanan sehari, Insya Allah sehat. Sepanjang jalan bertekad esok pagi harus mengecek semuanya. Eeehh, besoknya lupa lagi, hujan turun lagi dan doa yang sama dipanjatkan berulang kali. Insya Allah sehat. Insya Allah sehat. Insya Allah sehat.

Hari ketiga, apa yang terjadi?

Sedari subuh hujan turun hingga waktu aku keluar rumah pun masih gerimis, yah, mau ga mau harus pakai jas hujan, kan ga seru kalau sampai tempat kerja basah.

Sorenya? Hujan turun lagi. Yeaay, aman bawa jas hujan.

Perjalanan sore hari ketiga aku tidak langsung pulang, ada tempat yang harus dikunjungi. Coba kalau lupa bawa jas hujan lagi, pasti batal deh. Alhamdulillah selamat sampai tujuan, beberapa teman yang sudah lebih dulu sampai menatapku cemas, terlebih beliau, bahkan hingga menawarkan baju ganti. Aku menolak halus, lagi pula hanya bagian bawah saja yang basah, tidak masalah. Berada di majelis ilmu dikelilingi orang-orang yang juga mengharap RahmatNya sudah membuatku hangat.

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam).” HSR al-Bukhari (no. 2948) dan Muslim (no. 1037).

Senja menjelang, kali ini menuju rumah masih ditemani hujan. Sepanjang jalan mulai merenung. Allah sayang banget yah. Gimana Dia mengingatkanku untuk memakai jas hujan sedari pagi, dimudahkan untuk beraktifitas seperti biasa, mungkin jika hari ketiga basah kuyup lagi sekarang sedang di bawah selimut, demam.

Di musim hujan ini wajar jika air langit jatuh ke bumi, tapi setelah sekian lama berlalu mengapa Allah turunkan di pagi hari? Saat aku hendak berangkat kerja? Masya Allah. Alhamdulillah. Allahu Akbar. Laa haula wala quwwata illa billah.

Modal Nulis Dapat Barang Gratis

Hai, hai... gimana sensasi baca judul di atas? Hhii, percaya ga? Harus percaya dong. Nih aku kasih bukti nyata. Awalnya aku mau buka bisni...