Tak Mungkin Lupa

2 komentar
Bioskop Solo Grand Mall ba'da magrib hari rabu, kan?

Baiklah, aku sudah sedia di sini sedari tadi, pukul lima lepas kerja dan hanya butuh sepuluh menit untuk sampai ke salah satu mall di Kota Solo yang masih ramai dikunjungi meski mall-mall baru telah banyak di bangun.

Kuurungkan niat untuk membeli tiket terlebih dahulu sebab kaumengatakan akan bersama membeli tiket, film yang diputar semuanya belum kutonton dan menarik minat juga begitu denganmu. Alasan selanjutnya jam tayang mungkin tidak akan cocok karena jarak rumahmu dengan mall ini lumayan makan waktu, takut ketinggalan di bagian awal.

Ahh ya, terimakasih ya sudah mau menuruti permintaanku.

Pagi tadi kau mengabarkan bahwa pulang dari perantauan dan meminta maaf sebab tak ada oleh-oleh untukku, tak apa, oleh-oleh bukan hal yang terpenting. Asal kaumengerti bahwa oleh-oleh hanya satu dari sekian cara untuk dapat bertatap muka denganmu. Aku rindu.

Sebagai gantinya kaumenawarkan apapun untuk mengobati kecewaku dan aku memintamu untuk menemani menonton film teranyar di bioskop.

Senang hati kaumengiyakan.

Bioskop adalah tempat dimana aku bisa lama berada di sampingmu, dalam diam, tak perlu canggung sebab tak mampu berkata apa-apa. Tidak perlu juga bingung menutupi rona wajah sebab gelap bioskop mengambil alih tugas itu.

Salat magrib aku tunaikan di mushola mall, yah meski harus berdesakan dengan ratusan orang yang juga berniat sama. Tak ada masalah dengan toilet ataupun tempat wudhu, hanya tempat salat yang kurang memadai menampung umat yang ingin tepat waktu menjalankan panggilanNya. Ngantri tak masalah.

18:30

Dimanakah dirimu berada?

Aku masih menanti, mungkin kelelahan dan tertidur hingga magrib harus dilaksanakan di rumah, barulah setelah itu menuju kemari.

Berniat menghubungi sekadar memastikan bahwa kau tidak lupa akan malam ini, tapi tidak jadi. Aku percaya kau ingat.

19:00

Ahh, aku sungguh tidak sabar bertemu denganmu. Terlalu cepat waktu yang digunakan untuk menempuh perjalanan sejauh dua puluh lima kilometer. Sebentar lagi, ya sebentar lagi kau pasti datang.

19:30

Belum, belum waktunya untuk gelisah, loket masih dibuka, jadwal pemutaran film terakhir masih nanti pukul 22:00. Bioskop semakin ramai dipadati oleh pengunjung, aku tak merasa kesepian. Hanya pendingin ruangan sepertinya bekerja terlalu keras hingga membuatku sedikit menggigil.

20:30

Baiklah, saatnya menghubungimu.

Telponku tersambung, namun tak ada jawaban. Pasti di jalan. Jadi aku hanya mengirimkan pesan bahwa aku masih menunggu di bioskop, khawatir kau menyangkaku pulang.

22:00

Apa kau terjebak macet?

Tak ada telpon darimu, pesanku juga tak terbalas.

Hei, loket sudah tutup, sepertinya kita undur yah nonton barengnya.

Aku menunggu gedung bioskop sepi setelah itu baru memutuskan akan pulang. Kulirik ponsel, tak ada berita darimu. Baiklah, aku pulang ya.

Oh ya, aku tidak marah, tenang saja. Aku tunggu penjelasan darimu ya, aku masih memiliki keyakinan bahwa kau tak akan membiarkanku menunggu lama, keyakinanku tidak salah kan?



Ciani Limaran
Haloo... selamat bertualang bersama memo-memo yang tersaji dari sudut pandang seorang muslimah.

Related Posts

There is no other posts in this category.

2 komentar

  1. Hm.. menunggu someone yang ingkar janji.. tapi semoga saja bukan karna disengaja ya mbak Ci.

    BalasHapus

Posting Komentar