Penulis dari Bandung




"Aku di Bandung."

"Serius ahh."

"Serius."

"Share lokasi dong?"

"Oke, tunggu."

Inilah pengalaman unikku yang terdampar di kota orang. Bandung belum pernah aku kunjungi sekalipun ada saudara yang menetap di sini dan sekarang selama dua malam aku akan berada di Kota Kembang. Bahagia? itu pasti. Pergi ke suatu tempat baru pastilah menyenangkan.

Jalanan Kota Bandung tak jauh berbeda dengan Solo atau Jogja, bangunan kokoh yang tinggi menjulang, hotel-hotel di sisi kanan kiri juga pepohonan yang masih mendominasi. Hanya lebih dingin, itu saja.

"Karena ini di kota, coba kau ke rumahku."

"Ke rumahmu? Memang tak ada pintu dan jendela?"

"Ada dong."

"Nah, berarti sama dengan rumahku. Sudah kubilang tak ada beda."

"Tunggu saja sampai kita di Lembang."

Menurut kalian Lembang berbeda? Ternyata tidak. Pemandangan alam kami punya Tawangmangu di lereng gunung lawu sepaket dengan kesegarannya, Deles Indah di kaki Gunung Merapi, Ketep-Boyolali. Sama. Tapi itu tak kuucapkan, khawatir menyakiti hatinya.

"Bagaimana?"

Aku mengangguk kecil sembari menyeruput perlahan susu cair khas Lembang dalam gelas kardus besar.

"Kita pindah?"

"Kenapa? Tidak suka?"

"Tidak inginkah kita berkeliling Bandung?"

Mataku berbinar, mau... mau... hatiku melonjak girang seperti anak kecil yang mendapatkan sekantong permen warna-warni.

Balaikota Bandung dengan segala rutinitasnya. Jelas teringat bahwa ada taman luas dimana banyak manusia menikmati kerindangannya.

"Eh, ada labirin?"

Dia tersenyum.

Sebenarnya di Jogja atau Solo juga ada tapi tidak di area balaikota.

"Bandung keren tidak?"

Aku mengangguk lagi, susu dari Lembang tadi belum juga habis, besar sekali porsinya.

"Ada sesuatu untukmu, buka setelah di dalam bus."

"Penasaran."

"Kalau tidak nurut, aku tidak jadi memberikannya."

"Oke, deal."

Jarum jam berputar sangat cepat. Detik demi detiknya memperlebar jarak kami. Aku di atas bus kini membuka perlahan bungkusan yang mudah di tebak bahwa buku di dalamnya. Ada dua buku, semuanya masih utuh rapi terbungkus plastik. Mendadak hatiku sesak.

"Gimana? Suka ga?"

Lama kupandangi pesan singkat darinya.

"Kamu nyebelin sih."

"Kenapa? Ga suka? Jelek ya?"

"Harusnya aku buka di Bandung, waktu ada kamu. Kenapa dilarang?"

"Takut kamu ga suka, aku malu."

"Terlanjur, aku sedih nih."

"Loh kok sedih, kenapa?"

"Harusnya ada tanda tangan kamu di buku ini."

Tiga emoticon malu masuk beberapa detik kemudian.

"Apa bedanya aku ketemu penulisnya tapi ga dapet tanda tangannya?"

"Hhii, maaf yah. Tapi memang ini rencanaku."

"Eh, rencana apa?"

"Biar kamu ke Bandung lagi."

Sempurna. Tuhan mengijinkanku bertemu dengan dia tidak hanya di dunia maya namun dalam wujud nyata bahwa benar ada orang seperti dia di bumi. Dan dia adalah pembeda Bandung dengan Solo ataupun Jogja juga kota-kota lainnya.



7 comments:

  1. Hihihihi. Ini fiksi, kisah aslinya lebih so sweeet 😂

    ReplyDelete
  2. Hihihihi. Ini fiksi, kisah aslinya lebih so sweeet 😂

    ReplyDelete
  3. Ciiieeeee
    aku gak mau komentar ah, ntar ganggu..

    ReplyDelete
  4. Emang beda ya kado dari penulis, hmmm

    ReplyDelete
  5. Aiiihh.. Kepo deh sy dengan kisah aslinya..tulis gilang.. Tulis

    ReplyDelete
  6. Cie cieee ....
    Udah terbayang pelaminan kyknya ..
    Eh, ...

    ReplyDelete

Yuk sampaikan dengan santun :D