Ayat Kursi

7 komentar
“Ayolah kak, masak nemenin sepupu sendiri males gitu”

Mimik wajah yang kubuat seperti berpikir keras semakin membuat bocah kecil di hadapanku gemas.

“Ya sudah, sana pulang lagi ke Jakarta”

“Ciee jagoannya ngambek nih?”

“Tau ahh”

Senyumku mengembang, mungkin dalam beberapa tahun lagi bocah ini tak akan merajuk padaku. Usia dewasa akan membuatnya dipenuhi berbagai aktivitas pencarian jati diri terlebih memiliki teman-teman sebaya yang lebih asyik.

“Baiklah, kakak ikut. Tapi berjanjilah satu hal padaku”

Deretan gigi putih rapi ia tampilkan, seolah membaca pikiranku, “Paling kakak mau dianter bersepeda ke Balekambang kan?”

“Oke, Deal”

Sabtu pagi pukul 7 rombongan karang taruna desa Gelbar telah berkumpul di depan kantor kepala desa, sebanyak dua bus akan mengantarkan kami piknik ke Jogja. Sebagai timbal balik atas lelah setelah sukses menjalankan segala program kerja selama setahun yang lalu.

Pukul 9 kami tiba di destinasi pertama, pantai dengan pasir putih dan ombak yang lumayan tinggi. Itulah mengapa penjaga pantai melarang kami untuk berenang. Jadilah kami bermain-main di sepanjang pantai saja. Menyewa motor tiga roda, berselfie ria atau sekedar menikmati air kelapa muda yang menyegarkan. Tak ada kuda disini seperti jika kita berkunjung ke pantai parangtritis.

“Kau mengajak kakak untuk apa?”

“Entahlah, aku merasa bakal terjadi sesuatu disini”

Ahh bicaranya seperti anak dewasa saja, dasar bocah, “Apa maksudmu?”

“Tidak tahu kak”

“Ohh, jadi kau takut?”

“Jangan meledek, aku hanya ingin ditemani”

“Lagian, masih SMP sudah mau gabung sama karang taruna dicuekin kan tuh”

“Kakak apaan coba, tuh Calista baru SD juga ikut kan”

“Ooo, pahamlah aku kau rupanya naksir sama dia. Hey, kulaporkan ayahmu”

“Iisshhh...”

Aku kembali memenuhi memori kamera dengan apapun yang menarik untuk diabadikan, sesekali terdiam menikmati debur ombak yang terdengar indah, semilir angin pantai yang basah juga pemandangan sibuk orang berlalu lalang. 
Hingga tak kusadari bocah kecil itu berlari cepat ke tengah pantai, hey apa yang ia lakukan? Bukankah dilarang untuk berenang? Dasar bocah bandel.

“Lintaaang......”

Ia tak menoleh, hey bocah kau melakukan hal berbahaya. Aku berlari untuk menariknya saat kusadari teman-teman karang taruna panik.

“Ada apa?” tanyaku pada putri

“Calista hilang, kami semua sedang mencarinya”

Kepalaku reflek menoleh ke tengah laut, mencari sosok lintang yang baru sebentar hilang dari pandangan mata. Tidak kutemukan, tenang jangan terbawa keruh suasana. Perlahan aku menelusuri pinggiran pantai, lirih mulutku berdoa untuk keselamatan Lintang, nihil.

Ketakutan menyelimuti seluruh tubuhku, ada rasa cemas hingga membuatku gemetar. Lintang, kamu dimana?

Firasat buruk menghampiri, tentang ucapannya di pinggir pantai tadi, mungkinkah ini? Buru-buru aku menepisnya, tidak boleh berpikir macam-macam. Suasana pantai sangat kacau, beberapa penjaga pantai ikut terjun mencari, mereka dengan pelampung berjalan ke tengah laut, yang lain dianjurkan untuk mencari di sekitar bibir pantai saja.

Ayah Calista beberapa kali mencoba untuk mengikuti penjaga pantai, namun para pemuda karang taruna berhasil menahannya. Hingga beliau terduduk lemas, pasrah terhadap apa pun yang terjadi.

Sungguh aku pun ingin ikut ke tengah laut mencari Lintang, bocah itu tanggung jawabku. Apa yang harus aku katakan pada om dan tante jika terjadi sesuatu padanya? Baiklah aku akan melapor juga.

Baru saja aku akan melapor, tubuh kecil itu muncul dari tengah laut dengan menggendong seseorang di punggungnya. Calista!

Penjaga pantai menurunkan Calista, mengantikan Lintang untuk menggendongnya, sedangkan Lintang sendiri menolak untuk digendong, bocah itu memang berlagak sok dewasa.

Ayah Calista menyambut kedatangan anaknya dengan sukacita, digendong, diciumi, di cek satu persatu bagian tubuh kuyupnya. Setelah Calista mengatakan tidak apa-apa maka barulah Ayahnya berhenti.

“Calista main kemana, Nak?”

“Tadi Calista diajak sama dua orang Yah, mau panggil Ayah mulut Calista di tutup. Calista takut”

“Tenang ya nak, sudah sama ayah sekarang”

Kini, semua orang mengerubungi Lintang, bocah kecil yang juga kuyup itu menceritakan bahwa ia melihat Calista bersama dua orang lelaki dewasa, satunya memakai jubah putih dan berjenggot panjang sedangkan yang satunya ia tak mampu melihat dengan jelas hanya yakin menggunakan sorban yang juga berwarna putih.

Calista saat itu menjawab ingin mencari ayahnya, tapi arah ke tengah laut menimbulkan kecurigaan dalam diri Lintang. Secepat kilat ia melesat menarik lengan Calista tapi kedua lelaki dewasa itu tak mau melepaskan. Dengan keyakinan kuat ia membaca ayat kursi sepenuh jiwa, dan kedua lelaki dewasa itu tak nampak lagi. Barulah tersadar bahwa hampir saja keduanya tergulung ombak jika penjaga pantai tak segera menolong mereka.

Pertanyaan-pertanyaan lain bermunculan, aku terpaksa menghentikan semuanya, tak tega melihat Lintang menggigil seperti itu. Kuajak ia untuk ke kamar mandi, berganti pakaian.

“Hai jagoan, ayat kursi itu apa?”

Bocah tengil itu melongo menatapku, tak bersuara, menepuk pelan keningnya, lalu meninggalkanku yang masih termangu di depan pintu kamar mandi.

Mungkin ayat kursi itu sebuah mantra suci, ahh belajar dari mana bocah kecil itu. Yang aku tahu tentangnya hanya tukang azan di masjid kampung setiap waktu salat tiba. Nanti pasti kupaksa ia untuk menjawabnya.



Pantai Baru – Jogjakarta, 30 Oktober 2016


-------++++-------

Allah, tidak ada lagi Tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar. (2:255)


Ciani Limaran
Haloo... selamat bertualang bersama memo-memo yang tersaji dari sudut pandang seorang muslimah.

Related Posts

7 komentar

  1. Aih..serius ini.nyata??? Aku dari.pantai baru semester kemarin..yang foto kupakai cover fb sebelum ganti...

    BalasHapus
    Balasan
    1. serius kak, minggu kemarin ada korban. anak kecil :(

      Hapus
  2. Pantai mana de? Ih, aku jd inget pernah ngalami sadar nggak sadar, merinding jd nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pantai Baru, Jogjakarta mbak lisaa.. Emang gitu. Penjaga warungnya sendiri bilang klo ad penunggunya.

      Hapus

Posting Komentar