Gadis Sendu episode tiga belas

5 komentar
klik di sini untuk cerita sebelumnya.


9 tahun yang lalu...
Kak Frans menjadi member yang menyenangkan, dia memberi warna baru dalam ritual kami. Biasanya masing-masing akan tenggelam dalam buku yang dibawa, tapi kini sebelum memulai itu Kak Frans akan mengajak semua member untuk berbagi sedikit cerita dari buku yang mereka bawa. Ada rasa penasaran yang menggelitik ketika salah satu teman kami dengan mata berbinar bercerita detail, tapi aku curiga mereka sedikit melebih-lebihkan.
Dua hari ini Kak Frans tidak datang, yang lain mengusulkan untuk menunggu esok. Jika masih tidak muncul kami baru akan mencari tahu alasannya. Tapi sayangnya aku tidak bisa menunggu.
Bunda Erlin menyambut kedatanganku sore itu dengan raut wajah sedikit heran, “Kenapa tidak datang bersama Ibu?”
Aku mencium takzim punggung tangan beliau, “Alicia dari padang ilalang Bunda, belum pulang ke rumah.”
Baiklah anak manis, ada keperluan apa?”
Bunda, Kak Frans ada?”
Perubahan wajah Bunda semakin membuat perasaanku tak menentu, “Bunda?”
Beliau tersenyum, “Kak Frans sudah bersama keluarga barunya.”
Semoga benar apa yang Bunda Elin katakan, sorot matanya menggambarkan kehilangan yang amat sangat. Kak Frans memang mampu merebut hati siapa saja, tak terkecuali aku.
Meninggalkan panti seperti seolah tak ada alasan lagi untuk kembali memahami ilalang, setahun mengenal Kak Frans sungguh merubah banyak hal. Entah bagaimana reaksi teman-teman mendengar berita yang kubawa ini.
Kak Alisss.....”
Aku berhenti mendengar suara anak kecil memanggilku dari dalam panti, menunggunya berlari mendekat.
Bunda Elin bohong, Kak Frans tidak tinggal dengan keluarga barunya.”
Dahiku mengkerut, menunggu Acil melanjutkan kalimatnya .
Dua hari yang lalu Kak Frans kabur dari panti, dia tidak membawa apa pun termasuk pakaian dan buku-bukunya.”
Napasku tertahan.
Lalu kenapa Bunda harus berbohong?”
Acil juga tidak tahu kak, seperti itu pula yang Bunda katakan kepada kami. Tapi aku tahu yang terjadi karena aku satu kamar dengan Kak Frans, ranjangku berada di sebelah dia.”
Kenapa kau tak mencegahnya?”
Aku justru mau ikut, tapi Kak Frans menolak.”
Apa yang terjadi? Kalian ingin kabur dari panti, apa Bunda tidak lagi seperti dulu?”
Tidak Kak, Bunda terlampau baik hatinya bak malaikat yang mengayomi kami, menjaga dari kerasnya dunia luar.”
Tapi kenapa?”
Kak Frans sakit hati karena tak ada orang tua yang mau mengangkat kami, begitu juga denganku. Kami merasa seburuk-buruknya anak di panti ini.”
Kubiarkan sepeda berdiri di atas penyangganya. Memeluk tubuh kecil yang mulai sesunggukan, sedang belajar bagaimana menularkan harapan seperti yang biasa ibu lakukan dengan pelukan-pelukannya padaku.
Acil, dengar kakak... apa pun yang terjadi kamu tidak boleh meninggalkan panti tanpa terlebih dulu ijin pada Bunda Elin.”
Ia mengangguk dalam dekapanku.
Terkuak sudah kenapa tersirat luka dalam mata bening Bunda Elin.
Kak Frans... kemana pergimu?


Bersambung....

Ciani Limaran
Haloo... selamat bertualang bersama memo-memo yang tersaji dari sudut pandang seorang muslimah.

Related Posts

There is no other posts in this category.

5 komentar

  1. yah, semoga kak frans baik-baik saja diluar sana

    BalasHapus
  2. ternyata latar belakang kehidupan Frans seperti itu

    BalasHapus
  3. Frans engkau harus kuat seperti aku hehe

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  5. Wuih...lsma gs walking blog mbk ciani....udah eps.13...hmmm ..perlu back nih biar nyambung...kisahnya

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email