Kenangan di masa abu-abu



Dua hari yang lalu aku mendapatkan permintaan pertemanan di akun facebook
ku, biasanya mereka adalah teman-teman ODOP yang semoga akan akrab
pula tidak hanya di grup WA saja. Jadi ku terima saja tanpa berpikir
dua kali. Dan ucapan terima kasih muncul di akun messenger ku.
Setelah beberapa pertanyaan aku mulai penasaran dengan lawan bicara
ku dan setelah ku stalking akun facebooknya, yuhuuu aku mengenalinya
kami punya kenangan saat putih abu-abu masih melekat erat layaknya
perekat burung kala pemburu menaruh perangkap di dahan ranting pohon
jambu, menjerat burung yang tak berhati-hati kala hinggap saat
menukik turun.
Ciee penasaran ya sama kenangan yang ku maksud? Baiklah akan kuceritakan
meski kalian tidak memaksa.
Kami dipertemukan dalam satu kelas yang sama Xf, badan nya yang berpostur
tinggi besar dibarengi dengan tingkah nakalnya (masih ala remaja sih,
tapi untuk ukuran anak baru itu sudah terlewat berani) aku tak mau
bermain-main dengannya,tak mau ambil resiko tepatnya.
Hal yang begitu kuingat adalah ketika kami ujian semesteran, dengan mata
pelajaran fisika dan entah kebetulan macam apa paket ku sama dengan
paket soal miliknya. Aku tidak tergolong murid pintar namun
setidaknya paham materi yang diajarkan itu pun dengan kekuatan penuh
mengulang-ulang rumus yang sama disertai begadang malam sebelumnya,
sayangnya aku tidak cukup berani untuk membuat contekan (anak baik
yahh, hhii). 
Aku adalah siswi yang duduk terdekat dengannya dan dengan patuh memberikan semua jawaban
yang setengah hati ku kerjakan kepadanya. Penurut dan begitu
takut, terpojok seperti halnya yang terjadi pada tikus curut yang
tersudut dengan kucing kampung siap menerkam tanpa ampun.
Dan sudah menjadi rahasia kelas bahwa semua jawabannya sama persis dengan
milikku. Akir dari cerita ini sungguh membuatku haru karena aku harus
mengulang ulangan ku karena nilai ku tak masuk batas minimun,
sedangkan dia mendapat nilai bagus. Tahukah kalian apa yang terjadi
padanya?
Dia mendekatiku saat sedang berusaha menyelesaikan soal-soal, “Nomer
berapa yang tidak mampu kau kerjakan? Biar kusuruh yang lain untuk
mengerjakannya”
Aku menggeleng menolak bantuannya, lucu bukan? niat tulusnya membantuku
terbentur keahliannya mengolah rumus dan meski harus memaksa yang
lain untuk mengerjakannya setidaknya niat nya tulus.
Beranda facebooknya penuh dengan foto-foto touring dengan teman-temannya,
terlihat tak segarang dulu dan sedikit manis. Oke kawan, kenangan SMA
ku tak kan mudah terlupa meski kadang terkhayal abu-abu.
Terima kasih telah mengingatku.

10 comments:

Yuk sampaikan dengan santun :D