Ketika Diri Diremehkan

Sudah menjadi kewajiban untuk melewati pemeriksaan di security sebelum meninggalkan pabrik, iya, pihak pabrik harus benar-benar yakin bahwa pekerjanya tidak bermain curang. Begitupun denganku. Tak ada masalah, namun yang mengganjal justru kedekatanku dengan para petugas security. Iya, antara kami sudah saling menyimpan nomor telepon sehingga bisa melihat cerita apa yang dibagikan lewat whatsapp.

Setelah pemeriksaan selesai, lembut tangan petugas meninju bahuku sembari berucap, "Gayamu nduk sok nulis segala."

Aku yang biasanya akan menanggapi cengengesan seketika bungkam, mengangguk sekilas kemudian berlalu. Sepanjang perjalanan otakku yang sudah panas kembali diajak berpikir keras.

Memangnya kenapa kalau menulis? Bukankah menulis tak memandang kasta? Lalu salah jika sebagai buruh pabrik menuangkan ide ke dalam kata-kata?

Jujur, aku mulai berpikir. Benarkah semua yang kulakukan tak ada gunanya?

Mudah nyatanya memanggil kembali ingatan bertahun silam kala diri masih memakai putih abu-abu.

Riang kaki melangkah menuju perpustakaan, bukan sok-sok an karena anak ipa dan guru tak dapat mengajar namun ada satu komputer yang boleh di pakai umum di sana, serunya lagi terhubung dengan jaringan internet. Mau lihat apa? Saat itu facebook menjadi sosial media yang tengah naik daun.

Aku sibuk bercerita tentang pendakian pertama di gunung merapi, kegiatan pertama pula yang diadakan oleh pecinta alam sekolah di tahun itu. Temanku berbinar melihat koleksi foto-foto yang sebagian sudah diunggah di facebook. Semua indah hingga pak guru datang dan mendekati kami. Tak ada larangan juga tentang keberadaan kami di perpustakaan dengan alasan yang sudah kusampaikan tadi.

Baliau ikut masuk ke dalam obrolan kami, kemudian merespons, "Ahh, yang bener mba? Masak kamu bisa muncak?"

Uiihh, ga terima dong akhirnya kutunjukkan foto padanya ketika tersenyum di puncak garuda.

Beliau masih mengelak, yah, mungkin penglihatan beliau sudah tak sebaik kami. Aku menenangkan diri, mencoba berdamai dengan segala penilaian fisik yang beliau jabarkan.

Terngiang senior saat menyemangati kami, bukan sebab fisik semata, kekuatan mentallah yang berperan banyak dalam mencapai puncak tangga kesuksesan.

Begitulah, nyatanya tak mudah menerima ketika diri diremehkan. Tunggu, memangnya perjuanganmu untuk siapa? Kenapa mudah sekali patah? Segala akan hancur oleh amarah, saatnya kita berbenah.




5 comments:

  1. Anjing menggonggong kafilah berlalu, anggep aja begitu De Ci..abaikan, aku dulu juga sering diabaikan begitu. Emang bisa? Tinggal pembuktian aja biar yang ngomong begitu langsung bilang, oo ternyata bisa

    ReplyDelete
  2. Tunggu saja pembuktian dari mbak Ciani. Tetap low profile dan semangat berkarya mbak Ci.

    ReplyDelete
  3. Semangat mba, belum tahu mereka, hhee

    ReplyDelete
  4. Sayangnya puncak garuda sekarang udah rata

    ReplyDelete

Yuk sampaikan dengan santun :D