apa

Jabatan Gagah di Divisi RCO

Tetiba panggung yang awalnya gelap gulita memancarkan cahaya yang menyorot satu titik. Berdirilah dengan anggun tuan putri dengan senyum manisnya.

Taraaa... itu saya, hhaaa.

Baiklah... itu hanya pendahuluan. Terserah saya mau jadi apa aja kan?

Termasuk memegang jabatan penting dalam salah satu program ODOP yang selalu keren ini.

Reading Challenge Odop adalah program dimana membiasakan para anggota untuk membaca setiap harinya. Tujuan utama bukan banyaknya lembar yang telah dibaca namun seberapa kita mampu menyerap makna dari buku yang dibaca.

Keren kan?

Nah... asyiknya lagi. Grup ini adalah grup terhening. Semacam perpustakaan yang minim suara. Tidak boleh ada percakapan di luar zona buku.

Bukan itu saja. Jika biasanya kita hanya bisa membaca blurb untuk memutuskan membeli buku atau tidak di sini kita bisa membaca kutipan-kutipan terbaik dari isi buku, beragam buku, banyak sekali. Dari berbagai genre.

Mau apa lagi?

Bertebaran ebook yang tinggal bilang minta tema apa, nanti tinggal unduh.

Banyak banget pokoknya.
Semua anggota antusias mengikuti program ini, beberapa yang gugur mungkin hanya lupa laporan yang bukan berarti mereka tidak membaca, yah, kebiasaan melaporkan bacaan belum umum. Wajar jika lupa.

Tantangan yang diberikan setiap tingkatnya juga bukan sesuatu yang sulit. Basic penulis yang sudah tertanam pasti mudah menyelesaikannya.

Tidak ada rintangan berarti dalam RCO. Semua aman terkendali.

Ada yang penasaran apa aja tugas penanggung jawab RCO?

Cuma rekap laporan harian, ngasih tantangan, terus mengantar ke pintu gerbang anggota yang tidak menuntaskan syarat.

Itu aja. Mudah kan?

So, siapa mau mengisi jabatan gagah di RCO selanjutnya?

Sesederhana Itupun Susah

Membaca buku asing? Aha.


Saya langsung menuju rak kayu setinggi kurang lebih dua meter di perpustakaan. Banyak buku berjajar, warna-warni seperti pelangi. Pilih lalu pulang.

Iyup, saya pilih buku cerita untuk anak-anak. Ga sembarang pilih loh, nih 3 alasannya :
1. Bukunya tipis, jadi ga kehabisan waktu buat nyleseinnya, hhaa.
2. Banyak gambar  yang otomatis sedikit tulisan, hhaa.
3. Nah, ini alesannya agak bener. Saya penasaran aja sama cerita anak. Ternyata ga ada perbedaan cerita anak di indonesia dengan di luar. Sederhana.

Tapi ya itu... sesederhana itu saja ga bisa buat, hikss... sederhana di sini tidak sembarang sederhana ternyata.

Menulis cerita anak sama seperti menulis novel. Mendalami karakter tokoh. Jadi ya harus berpikir layaknya anak kecil, ga perlu blibet pakai diksi yang tinggi. Metafora segala macem. Muter-muter ga jelas ujungnya. Satu kalimat aja bisa satu paragraf nulisnya, hhiii.. ga gitu.

Cerita anak, dalam satu kalimat bahkan dilarang terlalu panjang. Iya, kan yang bakal baca anak-anak. Kalaupun orang tua, mereka juga bacain untuk anaknya kan? Puyeng deh klo disodorin tulisan panjang yang entah dimana ujungnya buat ketemu titik, hhee.

Ya begitulah... setiap karya ada ilmunya. Dan ilmu itu harus dicari, dipelajari, ditekuni baru bisa jadi ahli. Setuju gengs??

#RCO
#OneDayOnePost

Kata Tuhanku

Ada manusia yang sedang merasa tersudut, segala usaha untuk mencari solusi terbentur keadaan, tak ada jalan lain kecuali meminta pertolon...