Kenapa Tidak Datang ?



Semilir angin bulan agustus terasa menusuk, ada gigil juga gemeretuk gigi.

"Kenapa tidak datang?" tanya seorang pemuda yang duduk dengan memeluk lutut.

"Untuk menyaksikan kau akan pergi?" lirih suara yang menyimpan pedih meski berusaha sekeras mungkin untuk menutupi.

"Lihat lampion dari kami?" rupanya pemuda itu mencoba untuk mengubah suasana sendu meski terdengar ragu.

"Bagus."

Singkat saja. Ada yang tertahan namun tersangkut hingga tak mampu untuk terucap.

"Ada namamu di sana."

Sedikit kepala gadis sayu itu bergerak, urung untuk mencari tahu kebenaran perkataan lawan bicaranya.

"Tapi rupanya ia tak mau terbang."

"Suatu pertanda."

"Baik."

"Tidak. Jelas buruk."

Suara hewan malam mengambil alih keheningan. Gesekan dedaunan, bunyi kodok turut meramaikan malam yang rupanya melambat untuk beranjak.

"Hatiku tertinggal di sini. Tak mau ia pergi jauh meninggalkan desa ini."

"Aku tak mau terbang bersamamu."

"Kenapa?"

"Jas birumu."

Terjawab semua. Nyatanya pendidikan masih menjadi dinding penghalang.

Setiap perpisahan meninggalkan duka, sedalam apa pun luka yang tercipta semoga waktu turut serta untuk memulihkannya.

Pendar cahaya bulan mulai menghilang, langit tertutup awan. Hening. Suara hewan malam mendominasi, selain gesekan dedaunan dan bunyi kodok tak ada suara lain.

Gunung Api Purba Nglanggeran

Pulang kampung menjadi sesuatu yang begitu dinantikan oleh seorang perantau, begitupun dengan kakak perempuan saya. Maka saat ahad pagi ia bersikeras untuk keluar rumah dan mengunjungi tempat-tempat wisata sebelum kembali dalam hiruk pikuk ibu kota.

Jujur, enggan rasanya beranjak dari rumah mengingat raga masih butuh waktu setelah berjuang dengan demam tinggi juga sakit kepala berhari-hari. Namun tak tega juga jika harapan kakak harus pupus begitu saja. Maka jalan tengah dari masalah ini adalah mencari tempat yang tidak terlalu jauh namun meninggalkan kesan yang mendalam.

Gunung Api Purba Nglanggeran menjadi tujuan kami.

Obyek wisata yang terletak di gunung kidul tersebut dapat ditempuh sekitar satu setengah jam dari rumah dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. Meski ini kali kedua bagi saya namun soal mengingat jalur saya bukan ahlinya. Mengandalkan aplikasi map kami meluncur menuju Gunung Kidul.

Jalur yang kami pilih adalah jalan utama solo-jogja hingga lampu merah prambanan belok kiri. Setelah itu mengikuti petunjuk jalan yang mengarah ke Wonosari. Hingga tak berapa lama jelas tertera arah menuju obyek wisata yang kami tuju pada papan petunjuk jalan.

Mudah sekali, kami hanya mengikuti petunjuk jalan tersebut dan sampai tempat tujuan tanpa tersesat bahkan tanpa meminta bantuan google maps. Luar biasa.

Sesampai di sana, para penunggu basecamp membantu memarkirkan sepeda motor dan memberikan arahan untuk pendaftaran. Semua tertata dan cepat dilakukan. Semua petugas menggunakan seragam, sangat terorganisir.



Setelah melaksanakan shalat dhuhur kami mulai menapaki jalur pendakian yang di sambut dengan bangunan beratap joglo. Awal pendakian info-info seputar Gunung Api Purba terpampang dalam pengumuman berkaca. Petunjuk-petunjuk jelas berdiri di pinggir-pinggir jalur. Semua ajakan untuk menjaga kebersihan, ucapan selamat datang, petunjuk pos berikutnya tertulis rapi dan terangkum dalam bahasa yang anak muda banget.

Mungkin ini dikarenakan pengelola Gunung Api Purba dipegang oleh pemuda di sekitar obyek wisata, mereka sangat tahu apa yang membuat pendaki tertarik bahkan mengulum senyum hanya dengan membaca petunjuk yang kekinian.

Dalam papan pengumuman tertera bahwa pendakian normal hanya satu sampai satu setengah jam namun nyatanya kami menghabiskan waktu hampir dua jam. Tempat-tempat unik yang sengaja diciptakan tak mungkin kami abaikan tanpa terbingkai dalam kamera.


Jalur-jalur unik banyak kami temui seperti jalur sempit yang seolah terbelahnya bukit batu menjadi dua, sangat sempit dan gelap. Ada rasa was-was saat melewatinya untung saja tidak terlalu panjang hingga sinar matahari kembali menerpa wajah. Lorong sempit yang kedua lebih panjang dan dilengkapi dengan tangga yang terbuat dari bambu sebab jalur mendaki. Tak kalah was-was namun tak ada jalur lain lagi.

Berbagai pernak-pernik sengaja di buat untuk menarik pengunjung seperti sarang burung raksasa yang bisa diisi lima orang dewasa, suasana purba yang membakar hewan buruan, terlepas dari itu pemandangan alam gunung kidul yang didominasi oleh bukit-bukit hijau sudah membuat diri tak henti berdecak kagum.


Bendera merah putih berkibar oleh angin di puncak gunung. Suasana yang tak begitu ramai membuat kami tak kesulitan untuk mengabadikan moment. Sempurna sudah perjalanan kali ini terlebih kami menemukan jalur cepat saat menuruni Gunung Api Purba yang hanya 700 mdpl ini, kurang dari tiga puluh menit kami sudah kembali ke basecamp.

Tubuh tidak begitu lelah, hari masih cerah saat akhirnya kami pulang ke rumah. Ratusan foto menyimpan sejuta kenangan dan menjadi saksi bahwa alam Indonesia, anugerah Tuhan yang luar biasa.




Obyek wisata ini tak ada cela, semua diperbaiki seiring waktu, memberikan kenyamanan bagi setiap pengunjung. Tak heran siapa pun yang sudah pernah datang akan kembali untuk mengulang.







Satu lagi yang aku suka saat mendaki yang jarang bahkan tidak ditemui di lain tempat yaitu bertemu dan akhirnya mendapat teman baru saat di jalur pendakian atau di puncak :)

Happy hiking.

Review Salah Profesi

Ijinkan saya garuk-garuk kepala dulu, lalu memijat kening yang mengerut kemudian menutup tab, eh yang terakhir diralat nanti ga jadi nulis lagi.

Menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, fiuuuhhh... masih ada yang ganjel.

Haloo odopers, kalian tentu menyimpan satu kata jika kusebutkan nama seseorang, Aa Gilang. Baru juga mendengar nama tersebut alam bawah sadar teman-teman yang telah lama bercengkrama segera memunculkan sinyal, ini orang kocak banget. Iya ga?

Penggemar Raditya Dika ini memiliki ciri khas kuat dalam setiap tulisannya, bahkan jika itu cerita sedih pun akan terselip humor yang membuat pembaca terbahak atau minimal mengulum senyum. Tapi ketika ada tantangan untuk meniru gaya penulis yang mempengaruhi, Aa tidak mencontoh Raditya Dika, kenapa? Menurut pengakuannya Raditya Dika berbicara tak jauh dari cinta. Jadi mungkin bisa disimpulkan jika Aa bosan membahas cinta, hhaa. Coba buka blognya di awal tahun 2016, ratusan tulisannya tak jauh dari bumbu patah hati dengan ending yang hampir selalu memilukan, wkwkwk, sabar ya Aa.

Nah, inilah kenapa akhirnya saya menjadi pembaca setia tulisan Aa. Ada unsur menghibur  yang menguapkan sebagian lelah kegiatan sehari-hari. Tulisan ringan yang tersirat banyak makna, dibungkus dalam humor agar pembaca tertawa tanpa perlu tahu seberapa menusuk kejadian aslinya.

Dalam tulisan berjudul Salah Profesi ini dibuka dengan lelucon yang menjadi daya tarik dari setiap karya Aa.

Aku adalah seorang guru baru, baru dalam dua hal lebih tepatnya. Baru dipecat sebagai sales produk kecantikan karena tertukar antara pelembab dan balsam.

Kalimat selanjutnya adalah sebuah ungkapan hati kepada pihak lain.

Seolah menjadi sebuah sindiran, seorang pengganguran diangkat menjadi guru kewirausahaan. Rasanya ada yang salah dengan negeri ini, eh yang salah aku deh. So so-an menyalahkan negeri padahal diriku sendiri yang tidak mampu bersaing dalam dunia yang lebih keras dari batu bata.


Saya suka saat segala yang tersimpan dalam dada diucapkan dengan cara yang berbeda, tidak serius hingga tersulut, namun mengangguk dalam senyum sebagai tanda persetujuan.


Kepercayaan diri yang tinggi membuat pembaca harus menggeleng-gelengkan kepalanya, berniat untuk melemparkan batu kepada penulisnya. Simak kalimat berikut,


"Putri Pak, Rasanya saya pernah bertemu bapak sebelumnya." Siswa itu bertanya sambil memamerkan wajah heran.

"Mungkin banyak yang mirip dengan saya," aku membayangkan dia bertemu Nicholas Saputra sebelumnya.



Hhaa... bisa yah timbul pemikiran semacam ini.


Loncatan emosi yang tiba-tiba sebenarnya sedikit membuat pembaca, khususnya saya harus mengulang lagi sebelum memahami maksud yang ingin disampaikan penulis. Tapi ini tidak mengurangi keunikan karya Aa, ending yang tak terduga juga menjadi andalan untuk membuat pembaca tertegun sebab tak pernah memikirkan cerita akan berakhir seperti ini.

Bahasa ringan yang jelas membuat pembaca mudah untuk mengikuti jalan cerita, sisipan humor yang selalu membuat senyum menjadi nilai lebih. Tulisan ini juga tulisan Aa yang lainnya harus dibaca, nikmati setiap kata yang terangkai dan temukan tanganmu menutup mulut jika tidak ingin tawamu mengundang tanya orang lain :)

Terakhir, ini yang membuat ganjel. Apakah review saya bermanfaat? Saya kira iya meski mungkin hanya seujung kuku. Pembaca tidak bisa disamaratakan, ada yang paham tentang segala jenis tulisan, banyak yang hanya membaca untuk mencari hiburan. Bukankah hal yang membuat penulis berbahagia adalah ketika tulisannya dibaca? dan berbahagialah Aa karena tulisanmu memiliki penggemar.